Dhimas Pandu Aji Aryanata saat meraih juara 1 lomba MAPSI cabang adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah.


    Dari Suara Adzan hingga Panggung Seni, Dua Mimpi Besar Dhimas Pandu Aji Aryanata Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta 

    Surakarta - majalahlarise.com - Suara adzan bagi Dhimas Pandu Aji Aryanata bukan sekadar penanda masuknya waktu salat. Dari lantunan kalimat-kalimat penuh makna itu, tumbuh sebuah perjalanan panjang yang membawanya dari latihan sederhana di rumah hingga menjadi juara adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah.

    Siswa kelas 7F SMP Negeri 8 Surakarta itu mulai mengenal dan menekuni adzan sejak duduk di kelas 4 SD. Tidak ada pelatih khusus yang mendampinginya. Di tengah masa pandemi Covid-19, ketika sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, Arya begitu nama panggilannya justru menemukan ruang untuk mengasah kemampuan.

    YouTube menjadi salah satu gurunya.

    Ia menyimak berbagai lantunan adzan, kemudian mencoba menirukan suara, irama, hingga tekniknya. Salah satu lantunan yang menjadi referensinya adalah adzan Syekh Syabah. Dari sana, Arya belajar sedikit demi sedikit. Tidak sekali dua kali, tetapi berulang-ulang.

    Latihan pun menjadi rutinitas. Pagi dan sore hari, suara Arya digunakan untuk berlatih. Ia belajar mengatur napas, menjaga kestabilan suara, sekaligus memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi agar kualitas vokalnya tetap terjaga.

    “Kalau latihan biasanya dua kali sehari, pagi dan sore,” ujarnya.

    Kerja keras itu kemudian menemukan panggungnya.

    Pada 2024, ketika masih duduk di kelas 4 SD, Arya mengikuti lomba MAPSI cabang adzan. Ia berhasil melaju hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Kota Magelang. Hasilnya, ia meraih juara harapan II.

    Bagi sebagian orang, capaian tersebut mungkin menjadi sebuah akhir. Bagi Dhimas, justru menjadi awal untuk berlatih lebih keras.

    Setahun berikutnya, ketika duduk di kelas 5 SD, ia kembali mengikuti kompetisi adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kudus. Kali ini hasilnya meningkat. Dhimas berhasil meraih juara II.

    Ia belum puas. Pada 2025, saat kelas 6 SD, Arya kembali berada di arena yang sama. Pengalaman dua tahun sebelumnya menjadi bekal. Ia tampil dengan persiapan lebih matang dan berhasil meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah.

    Prestasi itu tidak membuatnya berhenti. Setelah memasuki SMP Negeri 8 Surakarta, semangat berkompetisinya tetap menyala. Ia kembali mengikuti perlombaan mocopat berhasil masuk 20 besar.

    Bagi Arya, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan dan menemukan bagian yang masih harus diperbaiki.

    Menariknya, kemampuan adzan tersebut tidak berhenti di panggung perlombaan. Dhimas juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mulai dipercaya menjadi muadzin di masjid.

    Pada minggu pertama, ia mendapat kesempatan mengumandangkan adzan salat Jumat di Masjid Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Pada minggu kedua dan keempat, ia mengisi adzan di Masjid Nuraini, Mojosongo.

    Di tempat-tempat itulah suara yang dahulu dilatih seorang diri di rumah kini didengar oleh jamaah.

    Dukungan keluarga dan sekolah menjadi energi tersendiri bagi Dhimas. Putra pasangan Endah Sarianti, S.Pd. dan Aji Pamungkas, A.Md. tersebut mendapatkan dorongan dari orang tua dan guru untuk terus berkembang.

    Namun, dunia Arya ternyata tidak hanya berisi lantunan adzan.

    Di balik sosok yang tekun berlatih vokal, terdapat anak muda yang juga memiliki kecintaan kuat terhadap seni tradisional.

    Ketertarikan itu pula yang menjadi salah satu alasan Arya memilih SMP Negeri 8 Surakarta. Ia melihat perkembangan seni di sekolah tersebut sangat maju. Lingkungan itu membuatnya semakin dekat dengan dunia yang sudah akrab dalam keluarganya.

    Sosok guru bernama Radhian menjadi salah satu figur yang menginspirasinya. Guru yang juga seorang dalang tersebut membuat Arya memiliki cita-cita baru yaitu menjadi dalang.

    Darah seni memang tidak asing dalam keluarganya. Sang kakek dikenal sebagai sosok yang dituakan di lingkungan seni. Ibunya pernah menekuni seni tari dan bahkan memiliki pengalaman tampil hingga Eropa. Sementara sang kakak aktif berkesenian dan berlatih di Sanggar Gedung Kuning serta Sanggar Minang Padang.

    Bagi Arya, seni bukan sekadar kegiatan tambahan. Seni menjadi bagian dari kehidupan yang ingin terus ia pelajari.

    Dhimas Pandu Aji Aryanata saat tampil memerankan tokoh Bagong.


    Ia mulai memberi perhatian lebih pada karawitan dan tari. Sejumlah pengalaman tampil pun telah dirasakannya. Ia pernah membawakan Tari Eko Prawiro dan tari Bagong dalam berbagai kegiatan, termasuk di Sanggar Gedung Kuning, Graha Wisata, lingkungan SMP Negeri 8 Surakarta, hingga Loji Gandrung.

    Di atas panggung, Arya menemukan kegembiraan yang berbeda. Jika melalui adzan ia belajar mengolah suara dan membangun keberanian, melalui seni ia belajar mengenal budaya sekaligus menjaga warisan leluhur.

    Ia memiliki harapan sederhana, tetapi penting: semakin banyak anak muda yang mencintai seni tradisional.

    Menurutnya, tari dan karawitan harus tetap hidup meski zaman terus berubah. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, kemudian mengembangkan kesenian daerah dengan cara mereka sendiri.

    Lebih jauh, Arya memiliki sebuah gagasan untuk sekolahnya. Ia berharap suatu saat SMP Negeri 8 Surakarta dapat berkembang menjadi sekolah yang memiliki kekhususan di bidang seni, seperti halnya Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang menjadi wadah pengembangan atlet.

    “Semoga semakin banyak generasi muda yang mencintai seni tradisional, terutama tari dan karawitan,” harapnya.

    Di usianya yang masih belia, Arya sudah memiliki dua mimpi besar yang mungkin terdengar jauh, tetapi justru menjadi kompas dalam langkahnya.

    Ia ingin menjadi muadzin di Masjidil Haram. Di saat yang sama, ia juga ingin menjadi dalang.

    Dua cita-cita itu seolah berasal dari dua dunia berbeda. Yang satu lahir dari suara adzan dan kecintaan terhadap kehidupan religi. Yang lain tumbuh dari panggung seni, gamelan, tari, wayang, dan tradisi keluarga.

    Namun bagi Arya, keduanya memiliki benang merah yang sama yaitu latihan, ketekunan, keberanian untuk tampil, dan kecintaan terhadap apa yang dijalaninya.

    Perjalanan Arya masih panjang. Ia baru mengawali masa SMP. Masih ada banyak kompetisi, panggung seni, latihan, kegagalan, dan kesempatan yang akan datang.

    Tetapi satu hal sudah terlihat sejak sekarang. Arya tidak sedang sekadar mengejar piala.

    Ia sedang membangun dirinya sendiri dengan suara adzan di satu sisi, dan seni tradisional di sisi lainnya.

    Dari latihan sederhana di rumah, ia belajar mengejar prestasi. Dari panggung perlombaan, ia belajar percaya diri. Dari keluarga dan guru, ia belajar arti dukungan. Dan dari seni tradisional, ia belajar mencintai akar budayanya.

    Kelak, entah suara adzannya bergema di Masjidil Haram atau namanya dikenal sebagai seorang dalang, perjalanan itu akan selalu bermula dari seorang anak yang memilih untuk terus berlatih ketika kesempatan belum tentu datang. Dan Arya memilih untuk tidak berhenti bermimpi. (Sofyan)


    Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan



    Tanamkan Keimanan, SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar Shalat Istisqa

    Boyolali - majalahlarise.com - Menanamkan keimanan dan membangun sikap tawakal kepada Allah SWT, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menggelar Shalat Istisqa di lapangan sekolah, Jumat (4/9/2026). Sebanyak 583 siswa kelas 1 hingga 6 bersama guru dan karyawan mengikuti ibadah tersebut dengan tertib dan khusyuk.

    Kegiatan Shalat Istisqa menjadi bagian dari pembelajaran keagamaan yang mengajak siswa memahami sikap seorang muslim ketika menghadapi persoalan, kesulitan, maupun musibah. Para siswa tidak hanya diajak menjalankan ibadah, tetapi juga memahami pentingnya memperbanyak doa, istighfar, introspeksi diri, dan berserah diri kepada Allah SWT.

    Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, S.Si., MM, mengatakan Shalat Istisqa menjadi momentum bagi warga sekolah untuk kembali menguatkan keimanan, terutama di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

    “Kita sebagai orang beriman, jika ada masalah atau musibah, maka kita kembali dan bersandar kepada Allah. Termasuk ketika menghadapi kekeringan yang terjadi di beberapa kecamatan di wilayah Boyolali Utara,” tutur Pujiono.

    Menurut Pujiono, pelaksanaan Shalat Istisqa tidak sebatas ritual memohon turunnya hujan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pendidikan karakter dan spiritual bagi siswa agar memiliki kesadaran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.

    Ia juga mengajak seluruh warga sekolah mendoakan masyarakat yang tengah menghadapi bencana ekologis, termasuk kebakaran hutan di Kalimantan. Doa bersama tersebut diharapkan menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar spiritual.

    “Mari kita berdoa agar hujan yang Allah turunkan menjadi rahmat, keberkahan, dan membawa kebaikan bagi kehidupan manusia serta lingkungan,” imbuhnya.

    Dalam pelaksanaan Shalat Istisqa, Ust. Zumaro, S.Pd.I, Guru Mata Pelajaran Al Islam SD Muhammadiyah PK Banyudono, bertindak sebagai imam. Sementara itu, khutbah disampaikan Ust. Habibi, yang juga merupakan Guru Mata Pelajaran Al Islam, dengan tema “Perkuat Iman di Saat Bencana Ekologis.”

    Dalam khutbahnya, Ust. Habibi mengingatkan siswa dan seluruh warga sekolah agar berbagai fenomena alam tidak hanya dipandang sebagai sebuah peristiwa, tetapi juga menjadi bahan renungan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    Menurutnya, kondisi bencana ekologis juga menjadi pengingat bagi manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia memiliki tanggung jawab untuk tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.

    Ia mengajak seluruh peserta memperkuat iman, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, serta senantiasa memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

    Sementara itu, Muhammad Zumaro selaku koordinator kegiatan memberikan penjelasan mengenai teknis dan tata cara pelaksanaan Shalat Istisqa. Penjelasan tersebut diberikan agar siswa memahami proses pelaksanaan ibadah sekaligus mengetahui makna di balik setiap rangkaian kegiatan.

    Bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang berbeda. Mereka dapat mempraktikkan secara langsung ibadah yang sebelumnya dipelajari melalui pembelajaran Al Islam di kelas.

    Kegiatan berlangsung penuh khidmat. Selain menjadi sarana memohon turunnya hujan, Shalat Istisqa juga menjadi media pembelajaran tentang ketauhidan, kepedulian terhadap lingkungan, kesadaran menghadapi bencana, serta sikap tawakal.

    Melalui kegiatan tersebut, SD Muhammadiyah PK Banyudono berupaya memastikan nilai-nilai keimanan tidak berhenti pada pemahaman teori di ruang kelas. Nilai tersebut dihidupkan melalui praktik ibadah dan kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.

    Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam membentuk generasi yang sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (Sofyan)


    Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan

    Talkshow menghadirkan Djoko Santoso, Branch Manager GRSB Solo – PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI), dengan Mey Merliyana sebagai moderator. 


    CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan

    Surakarta - majalahlarise.com — Upaya membangun ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan menjadi perhatian dalam talkshow “CSR Inklusi – Dukungan terhadap Kreativitas dan Ekosistem Seni Disabilitas” yang digelar Forkesi Surakarta, Sabtu (5/9/2026).

    Talkshow menghadirkan Djoko Santoso, Branch Manager GRSB Solo – PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI), dengan Mey Merliyana sebagai moderator. Diskusi mengangkat tema “Mendorong dunia usaha untuk hadir, berkolaborasi, dan ikut membangun ekosistem seni disabilitas yang berkelanjutan.”

    Forum tersebut mendorong perubahan cara pandang dunia usaha terhadap program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dukungan kepada penyandang disabilitas diharapkan tidak berhenti pada bantuan sosial maupun kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi program pemberdayaan yang memiliki dampak jangka panjang.

    Penanda tanganan MoU GRSB-RTI & FORKESI u/CSR Inklusif.


    Dalam diskusi, seni dan musik dinilai memiliki potensi besar sebagai media ekspresi, pendidikan, stimulasi, sekaligus pengembangan potensi penyandang disabilitas. Karena itu, dukungan terhadap kreativitas penyandang disabilitas perlu dirancang secara terstruktur melalui instruktur profesional, kurikulum, pendampingan, assessment, evaluasi, serta pengukuran outcome.

    Djoko Santoso mengatakan kolaborasi lintas sektor penting dilakukan agar anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk mengembangkan potensi serta kreativitas.

    “Yang kita bangun bukan sekadar sebuah kegiatan, tetapi sebuah ekosistem. Dari penerima manfaat, kita ingin melihat mereka tumbuh menjadi individu yang memiliki karya, kesempatan tampil, dan bahkan mampu menjadi bagian dari ekonomi kreatif,” ujar Djoko Santoso.

    Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dapat menjadi salah satu penggerak terbentuknya ekosistem seni yang memberikan ruang lebih luas bagi talenta penyandang disabilitas. Dukungan tersebut dapat diarahkan pada program yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan sesaat.

    Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, sekolah, rumah sakit, komunitas disabilitas, dan lembaga profesional menjadi salah satu kunci yang dibahas dalam talkshow. Sinergi berbagai pihak diharapkan mampu membuka lebih banyak akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.

    Momentum tersebut juga diharapkan melahirkan lebih banyak inisiatif serta kemitraan nyata yang memberikan kesempatan kepada talenta disabilitas untuk tampil, mengembangkan karya, dan membangun masa depan yang lebih mandiri.

    Tentang PT Rhythm Therapy Indonesia

    PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI) merupakan lembaga yang mengembangkan pendekatan berbasis musik dan rhythm untuk mendukung pengembangan potensi, kreativitas, dan kemampuan anak berkebutuhan khusus serta menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan inklusi. (Mas Is/ Sofyan)


    Baca juga: Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer



    Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Kisah Mahabharata yang selama ini lekat dengan pertunjukan wayang kulit Jawa hadir dalam wajah berbeda melalui pameran seni rupa bertajuk “Ketika Bayang Menjelma Rupa: Adaptasi Wayang Kulit Kisah Mahabharata”. Pameran hasil riset Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) tersebut menghadirkan 17 karya seni rupa hasil eksplorasi dosen dan mahasiswa.

    Pameran berlangsung di Solo is Solo Space Lantai 2, Jalan Gatot Subroto Nomor 46, Kemlayan, Solo, pada 4–7 September 2026. Pameran dibuka pada Jumat (4/9/2026), gratis dan terbuka untuk masyarakat umum.

    Pameran ini menjadi luaran kegiatan riset Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang mengeksplorasi kekayaan narasi, karakter, simbol, lakon, serta nilai filosofis wayang kulit melalui pendekatan seni rupa kontemporer.

    Sebanyak 17 karya yang dipamerkan tidak sekadar menampilkan kembali bentuk wayang kulit secara literal. Para periset melakukan proses deformasi, stilasi, dan reinterpretasi terhadap simbol, warna, gerak, serta narasi Mahabharata sehingga menghasilkan karya dalam medium lukis, mixmedia dengan keramik, hingga grafis.

    Dosen sekaligus salah satu periset, Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn., menjelaskan gagasan utama pameran berangkat dari upaya melihat kembali wayang kulit melalui perspektif seni rupa.

    “Wayang selama ini kita kenal sebagai bayang yang hadir di balik kelir. Melalui riset ini, kami mencoba membawa bayang tersebut menjadi rupa yang dapat dilihat, disentuh, diruang, dan dialami secara langsung melalui karya seni rupa,” ujarnya.

    Menurutnya, proses penciptaan tidak diarahkan untuk membuat duplikasi tokoh wayang. Sebaliknya, karakter dan nilai yang terkandung dalam kisah Mahabharata menjadi sumber gagasan untuk melahirkan interpretasi visual baru.

    “Kami tidak sekadar meniru bentuk wayang. Yang kami eksplorasi adalah bagaimana karakter, simbol, warna, gerak, dan nilai filosofisnya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa seni rupa kontemporer,” jelasnya.

    Kisah Mahabharata sendiri memiliki posisi penting dalam tradisi pewayangan Jawa. Tokoh-tokoh seperti Pandawa, Kurawa, Kresna, hingga Punokawan menghadirkan persoalan yang tidak lekang oleh waktu, mulai dari dharma, konflik, kekuasaan, pengorbanan, hingga persoalan kemanusiaan.

    Nilai-nilai tersebut menjadi ruang eksplorasi bagi dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam Grup Penciptaan Seni FSRD UNS. Mereka mencoba melihat bagaimana narasi klasik dapat terus dibaca dan ditafsirkan dalam konteks kehidupan serta perkembangan seni rupa masa kini.

    “Mahabharata memiliki narasi yang sangat kaya. Di dalamnya ada konflik, pilihan moral, persoalan kekuasaan, hubungan antarmanusia, dan berbagai nilai kehidupan. Kekayaan itulah yang kami tafsirkan kembali menjadi karya visual,” tambahnya.

    Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam proses riset dan penciptaan karya. Para mahasiswa tidak hanya menjadi pendukung teknis, tetapi turut melakukan eksplorasi gagasan dan menerjemahkan hasil kajian terhadap wayang kulit dan Mahabharata ke dalam karya masing-masing.

    Pameran tersebut diselenggarakan oleh Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang melibatkan dosen Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn., Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum., Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dan Fika Khoirun Nisa, S.Pd., M.Sn. Sementara mahasiswa yang terlibat yakni Rangga Mas Syahid, Nurohman, Putri Nur Rizky, dan Nawla Najwan Rafida.

    Melalui pameran “Ketika Bayang Menjelma Rupa”, tradisi wayang kulit tidak ditempatkan sebagai artefak budaya yang berhenti pada masa lalu. Wayang justru menjadi sumber inspirasi yang terus dapat dikembangkan melalui eksperimentasi artistik.

    Pameran ini sekaligus menunjukkan bagaimana riset penciptaan seni di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, penelitian, pendidikan, dan kreativitas. Narasi Mahabharata yang telah hidup berabad-abad mendapatkan kemungkinan baru untuk dibaca melalui medium dan perspektif seni rupa kontemporer.

    Bagi masyarakat, khususnya pencinta seni, budaya, dan wayang, pameran ini menjadi kesempatan untuk melihat Mahabharata dari sudut pandang berbeda. Bayang yang selama ini berada di balik kelir kini menjelma menjadi rupa yang hadir secara langsung di ruang pamer. (Sofyan)


    Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital

    IHT menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Drs. Joko Purwanto, M.Pd., sebagai narasumber. 


    IHT Pemantapan Kokurikuler, SMP Negeri 2 Giritontro Perkuat Implementasi 8 Dimensi Profil Lulusan


    Wonogiri - majalahlarise.com - SMP Negeri 2 Giritontro terus memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus pembentukan karakter peserta didik melalui penguatan program kokurikuler. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) Pemantapan Program Kokurikuler yang digelar Sabtu (5/9/2026) di Ruang Media SMP Negeri 2 Giritontro.

    IHT menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Drs. Joko Purwanto, M.Pd., sebagai narasumber. Kegiatan diikuti puluhan guru SMP Negeri 2 Giritontro yang mengikuti pemaparan materi, diskusi, dan pendalaman program secara serius serta interaktif.

    Kegiatan dibuka Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Retno menjelaskan IHT menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan pemahaman guru mengenai pelaksanaan program kokurikuler di satuan pendidikan.

    Menurut Retno, kokurikuler memiliki peran strategis dalam mendukung pembelajaran intrakurikuler. Melalui kegiatan kokurikuler, pengalaman belajar peserta didik diharapkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi berkembang pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Melalui IHT ini diharapkan seluruh guru memiliki pemahaman yang sama mengenai program kokurikuler, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Dengan demikian, program yang disusun benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,” ungkap Retno.


    Ia menambahkan, IHT juga menjadi ruang bagi guru untuk melakukan refleksi terhadap program yang selama ini dijalankan. Hasil refleksi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya program kokurikuler yang lebih terarah, kontekstual, kolaboratif, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

    Perkuat 8 Dimensi Profil Lulusan

    Dalam pemaparannya, Joko Purwanto memberikan penguatan mengenai pemantapan program kokurikuler dan keterkaitannya dengan 8 dimensi profil lulusan.

    Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

    Joko menjelaskan, kokurikuler tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan tambahan di luar pembelajaran. Program tersebut perlu dirancang secara sistematis agar mampu memperkuat kompetensi sekaligus karakter peserta didik.

    “Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang perlu dirancang secara terarah. Pemantapan kokurikuler harus diarahkan agar kegiatan yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas dan memberikan dampak nyata terhadap perkembangan peserta didik,” jelas Joko.

    Menurutnya, delapan dimensi profil lulusan perlu diintegrasikan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan kokurikuler dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran ke berbagai situasi nyata.

    Peserta didik dapat belajar bekerja sama, memecahkan masalah, berkomunikasi, menghasilkan gagasan kreatif, bertanggung jawab, sekaligus mengembangkan kemandirian melalui pengalaman langsung.

    “Delapan dimensi profil lulusan harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan,” tambahnya.

    Jembatani Pembelajaran dengan Kehidupan Nyata

    Joko juga menekankan pentingnya merancang kokurikuler sebagai sarana untuk memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

    Kegiatan kokurikuler yang dirancang secara relevan dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di kelas dan kehidupan nyata. Karena itu, guru perlu menghadirkan aktivitas yang menarik, kontekstual, kolaboratif, sekaligus memberikan ruang kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif.

    “Guru perlu memastikan kegiatan kokurikuler tidak hanya selesai sebagai sebuah kegiatan, tetapi memiliki proses dan pengalaman belajar yang dapat dirasakan serta memberikan dampak bagi peserta didik,” paparnya.

    Dalam sesi IHT, para guru juga memperoleh kesempatan berdiskusi mengenai berbagai persoalan dan tantangan dalam implementasi program kokurikuler di sekolah. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.

    Suasana kegiatan berlangsung serius, tetapi tetap interaktif. Puluhan guru SMP Negeri 2 Giritontro tampak antusias mengikuti pemaparan materi dan berdiskusi hingga kegiatan berakhir.

    Melalui IHT Pemantapan Program Kokurikuler tersebut, SMP Negeri 2 Giritontro berharap seluruh guru semakin siap menyusun dan melaksanakan kegiatan kokurikuler yang terarah, efektif, kontekstual, dan berdampak terhadap perkembangan peserta didik.

    Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis sekolah dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk lulusan yang beriman dan bertakwa, memiliki jiwa kewargaan, mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, mandiri, sehat, serta komunikatif. (Sofyan)


    Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital



    Tim Memoria PPK Ormawa DKV ISI Surakarta Ajak PKK Laweyan Kreasi Pin dari Kain Perca

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Limbah kain perca tak selalu berakhir sebagai sampah. Di tangan kreatif, potongan kain sisa produksi dapat diolah menjadi kerajinan bernilai guna sekaligus berpotensi memiliki nilai jual. Semangat inilah yang dibawa Tim Memoria PPK Ormawa HIMA DKV ISI Surakarta dalam Workshop Kreasi Pin dari Kain Perca bersama Pokja 2 TP PKK Kelurahan Laweyan, Minggu (30/8/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Batik Halus Puspa Kencana, Sekretariat FPKBL, tersebut diikuti 20 anggota PKK yang berasal dari 10 RT di Kelurahan Laweyan, Surakarta. Workshop menjadi ruang belajar bersama bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan sekaligus mengenal peluang pemanfaatan limbah kain perca menjadi produk kreatif.

    Setelah pembukaan, peserta langsung mengikuti praktik menghias pin yang telah dipersiapkan sebelumnya. Beragam bahan dekorasi disediakan untuk mempercantik pin, mulai dari manik-manik, pita, renda hingga stiker. Peserta bebas mengeksplorasi kreativitas masing-masing dalam memadukan bahan dan menghasilkan desain pin yang menarik.

    Ketua PKK Kelurahan Laweyan, Yuyun D Atmawijaya, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, keterampilan membuat kerajinan sederhana dapat terus dikembangkan dan berpotensi menjadi kegiatan produktif bagi anggota PKK.

    “Saya senang kalau ibu-ibu bisa mencoba membuat sendiri, karena keterampilan seperti ini bisa terus dikembangkan. Kalau produknya sudah bagus, bahkan bisa memiliki nilai jual,” ujar Yuyun.»

    Selama proses praktik, anggota Tim Memoria bersama pendamping turut membantu peserta yang mengalami kesulitan dalam menghias pin. Untuk memudahkan proses pengerjaan, bahan-bahan dekorasi juga telah dipisahkan ke dalam beberapa wadah sehingga peserta dapat memilih dan mengambil bahan sesuai kebutuhan.

    Ketua Tim PPK Ormawa HIMA DKV ISI Surakarta, Rafifah Hafidha Putri Rashika, mengatakan pendampingan dilakukan agar seluruh peserta dapat mengikuti praktik dengan nyaman dan menyelesaikan karya masing-masing.

    “Tim Memoria dan pendamping turut membantu peserta selama proses menghias. Bahan dekorasi juga sudah kami pisahkan ke dalam beberapa wadah agar lebih mudah digunakan,” ungkap Rafifah.

    Antusiasme peserta terlihat dari proses pengerjaan yang berlangsung aktif. Mereka mencoba memadukan berbagai ornamen untuk menciptakan pin dengan karakter masing-masing. Tak hanya menghasilkan karya, kegiatan tersebut juga menjadi kesempatan bagi anggota PKK untuk saling berbagi pengalaman dan mengembangkan ide kreatif.

    Seluruh peserta berhasil menyelesaikan karya pin yang dibuat. Workshop kemudian ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi sekaligus penanda berakhirnya kegiatan kolaboratif antara Tim Memoria PPK Ormawa HIMA DKV ISI Surakarta dan Pokja 2 TP PKK Kelurahan Laweyan.

    Kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali workshop. Keterampilan mengolah kain perca menjadi produk kreatif dapat terus dikembangkan sehingga memiliki manfaat lebih luas, baik sebagai aktivitas produktif maupun peluang pengembangan usaha berbasis kreativitas dan pemanfaatan limbah. (Sofyan)


    Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital

    Magang siswa SMK PGRI Sukoharjo di pabrik jamu CV Bisma Sehat Nguter, Sukoharjo, mendapatkan bimbingan langsung dari akademisi Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo, Bambang Eka Purnama.


    Sinergi Pendidikan dan Kesehatan, Siswa Magang di Bisma Sehat Dibimbing Akademisi Poltekkes Bhakti Mulia

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Program magang industri menjadi salah satu sarana penting bagi siswa sekolah menengah kejuruan (SMK) untuk mengasah kompetensi sekaligus mengenal dunia kerja secara langsung. Hal tersebut terlihat dalam kegiatan magang siswa SMK PGRI Sukoharjo di pabrik jamu CV Bisma Sehat Nguter, Sukoharjo, yang mendapatkan bimbingan langsung dari akademisi Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo, Bambang Eka Purnama.

    Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi siswa untuk menghubungkan teori yang diperoleh di bangku sekolah dengan praktik di dunia industri. Dalam sesi mentoring, siswa mendapatkan pembekalan mengenai alur operasional, pemanfaatan teknologi informasi dalam sistem kesehatan, hingga pentingnya memberikan pelayanan prima atau service excellence kepada masyarakat.

    Selain kompetensi di bidang kerja, siswa juga mendapatkan pembekalan mengenai pemanfaatan teknologi digital. Mereka diarahkan menggunakan gadget dan media sosial secara produktif, termasuk belajar membuat konten yang ramah SEO serta mengenal pemasaran digital melalui program afiliasi (affiliate marketing).

    Bambang Eka Purnama menjelaskan, kegiatan magang seharusnya tidak hanya dipandang sebagai kewajiban akademik untuk memenuhi persyaratan kelulusan. Lebih dari itu, magang menjadi kesempatan bagi siswa untuk membangun pengalaman dan portofolio keterampilan sebelum memasuki dunia kerja.

    "Magang bukan sekadar memenuhi syarat kelulusan, melainkan kesempatan emas bagi siswa untuk membangun portofolio keterampilan nyata, mengasah mental kerja, dan memahami standar operasional industri kesehatan secara langsung," ujar Bambang.

    Menurutnya, perkembangan teknologi memberikan peluang luas bagi generasi muda untuk mengembangkan keterampilan sekaligus memperoleh penghasilan melalui aktivitas digital. Gadget dan media sosial, kata Bambang, perlu diarahkan untuk kegiatan yang produktif dan konstruktif.

    "Kalau gadget dan media sosial dimanfaatkan dengan baik, siswa bisa belajar menghasilkan karya, membangun personal branding, menjadi konten kreator, sekaligus mengenal peluang penghasilan melalui afiliasi. Jadi teknologi jangan hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk belajar dan berkarya," jelasnya.

    Menghubungkan Dunia Pendidikan dan Industri

    CV Bisma Sehat Nguter sebagai industri jamu lokal turut memberikan ruang pembelajaran bagi siswa melalui program magang. Lingkungan industri memberikan kesempatan kepada peserta untuk memahami secara langsung bagaimana sebuah unit usaha menjalankan proses kerja dengan memperhatikan kedisiplinan, tanggung jawab, kualitas pelayanan, dan standar operasional.

    Kolaborasi tersebut mempertemukan tiga unsur penting, yakni dunia pendidikan kejuruan melalui SMK PGRI Sukoharjo, pendidikan kesehatan melalui Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo, serta dunia industri melalui CV Bisma Sehat Nguter.

    Sinergi tersebut diharapkan mampu memberikan pengalaman yang lebih komprehensif kepada siswa. Tidak hanya menguasai keterampilan teknis, peserta magang juga dibekali kemampuan komunikasi, etika profesional, literasi digital, serta kemampuan memanfaatkan media sosial untuk mendukung pengembangan diri.

    Bambang menambahkan, siswa vokasi perlu mulai membangun portofolio sejak masih berada di bangku sekolah. Portofolio tersebut dapat berupa dokumentasi kegiatan, karya konten digital, pengalaman praktik, hingga kemampuan pemasaran melalui media sosial.

    Membangun Generasi Vokasi yang Adaptif

    Program magang ini diharapkan mampu membentuk lulusan SMK yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan industri. Kemampuan menjadi konten kreator dan afiliator menjadi tambahan keterampilan yang dapat dikembangkan siswa di tengah pertumbuhan ekonomi digital.

    Kolaborasi antara CV Bisma Sehat Nguter, Poltekkes Bhakti Mulia Sukoharjo, dan SMK PGRI Sukoharjo sekaligus menjadi contoh pentingnya keterhubungan antara pendidikan dan dunia industri. Pengalaman langsung di tempat kerja memberikan kesempatan kepada siswa untuk memahami standar profesional sekaligus mengembangkan karakter kerja.

    Melalui sinergi tersebut, siswa diharapkan memiliki bekal lebih kuat ketika memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan. Mereka tidak hanya memiliki kompetensi sesuai bidang keahlian, tetapi juga mampu memanfaatkan teknologi digital secara kreatif, produktif, dan bertanggung jawab.

    Langkah kolaboratif ini turut memperkuat upaya pengembangan pendidikan vokasi di Sukoharjo agar semakin relevan dengan kebutuhan industri, perkembangan teknologi, serta dinamika dunia kerja yang terus berubah. (Sofyan)


    Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital


Top