Narasumber Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum saat menyampaikan materi Peninjauan dan Pengembangan Visi, Misi, dan Tujuan (VMT) serta Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE).


    PBSD FKIP Univet Bantara Tinjau VMT dan Kembangkan Kurikulum OBE, Prof Muhammad Rohmadi Dorong Penguatan Digital Humaniora

    Sukoharjo - majalahlarise.com - Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah (PBSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar kegiatan Peninjauan dan Pengembangan Visi, Misi, dan Tujuan (VMT) serta Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) di Margangsa Hotel Surakarta, Senin (29/6/2026). Kegiatan bertema "Mewujudkan Kurikulum yang Relevan, Inovatif, dan Berorientasi pada Capaian Pembelajaran Lulusan" ini menghadirkan narasumber Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

    Kegiatan dihadiri Dekan FKIP Univet Dr. Pranichayudha Rohsulina, M.Pd beserta jajaran pimpinan fakultas, Ketua Program Studi PBSD Tri Widiatmi, S.Pd., M.Pd, dosen PBSD, mahasiswa, alumni, mitra, pengguna lulusan, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Acara dipandu oleh R. Adi Deswijaya, S.S., M.Hum dan menjadi forum strategis untuk menyelaraskan kurikulum dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, kebutuhan dunia kerja, serta kebijakan pendidikan tinggi terkini.

    Kaprodi PBSD FKIP Univet Tri Widiatmi, S.Pd., M.Pd menjelaskan peninjauan dan pengembangan kurikulum dilakukan sebagai langkah evaluatif sekaligus antisipatif terhadap dinamika perkembangan zaman. Menurutnya, kurikulum yang diterapkan harus selalu diperbarui agar mampu menjawab tantangan pembelajaran di masa mendatang dan selaras dengan capaian pembelajaran lulusan (CPL) yang telah ditetapkan.


    "Kurikulum OBE ini untuk tiga sampai empat tahun ke depan harus mampu menunjukkan hal-hal yang sangat penting, terutama terkait perkembangan teknologi dan kebutuhan masa depan," ujarnya.

    Tri Widiatmi menjelaskan pengembangan kurikulum tidak hanya diarahkan untuk memenuhi berbagai standar dan kriteria pendidikan tinggi, tetapi juga untuk memastikan setiap lulusan memiliki kompetensi sesuai profil lulusan yang telah dirumuskan program studi. Mata kuliah yang disusun diharapkan dapat memperkuat kompetensi akademik, keterampilan profesional, serta kemampuan adaptasi mahasiswa terhadap perubahan sosial dan perkembangan teknologi.

    "Kami berharap lulusan nantinya benar-benar mencapai kompetensi yang telah ditetapkan sehingga dapat berpartisipasi dan berkontribusi secara optimal di masyarakat maupun dunia kerja," jelasnya.

    Dalam sambutannya, Tri Widiatmi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan dalam proses penyusunan dan pengembangan kurikulum, mulai dari pimpinan fakultas, dosen, alumni, mitra, hingga pengguna lulusan yang selama ini telah memberikan berbagai masukan konstruktif.

    Sementara itu, Dekan FKIP Univet Dr. Pranichayudha Rohsulina, M.Pd menyampaikan optimisme terhadap keberlanjutan prestasi Prodi PBSD yang selama ini telah meraih predikat unggul. Menurutnya, peninjauan VMT dan kurikulum menjadi bagian penting dalam persiapan akreditasi yang akan dilaksanakan pada tahun 2027, dengan dokumen akreditasi direncanakan mulai diunggah pada akhir tahun 2026.

    "Harapan kami, Prodi PBSD yang sudah unggul ini bisa tetap bertahan di unggul dan peninjauan VMT ini dapat berdampak pada kualitas prodi yang semakin baik," ujarnya.

    Dr. Pranichayudha menilai tantangan yang dihadapi program studi keguruan saat ini semakin kompleks, terutama menurunnya minat generasi muda untuk memilih profesi guru sebagai pilihan karier. Karena itu, perguruan tinggi dituntut menghadirkan inovasi kurikulum yang mampu memberikan kompetensi tambahan sehingga lulusan memiliki peluang karier yang lebih luas.

    "Lulusan Pendidikan Bahasa Jawa tidak harus selalu menjadi guru, tetapi harus memiliki keahlian lain sehingga memiliki peluang karier yang lebih luas," katanya.

    Selain penguatan kompetensi, Dekan FKIP juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya Jawa di lingkungan kampus. Menurutnya, kemampuan berbahasa Jawa, khususnya dalam menerapkan unggah-ungguh, memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter mahasiswa.

    "Ketika siswa bisa berbahasa Jawa yang bagus dan terbiasa menggunakan unggah-ungguh, itu sudah menunjukkan karakternya baik. Harapan saya, semua mahasiswa FKIP bisa berbahasa Jawa dengan lancar," jelasnya.

    Pada sesi pemaparan materi, Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S., M.Hum menjelaskan kurikulum perguruan tinggi harus selalu relevan dengan kebutuhan masyarakat, perkembangan teknologi, serta tuntutan dunia kerja. Keberhasilan suatu program studi, menurutnya, dapat dilihat dari kiprah para alumninya di masyarakat.

    Prof. Rohmadi menjelaskan meningkatnya angka pengangguran sarjana di Indonesia menjadi tantangan serius bagi perguruan tinggi. Oleh karena itu, program studi perlu mengembangkan kompetensi yang adaptif, inovatif, dan memiliki ciri pembeda dibanding perguruan tinggi lainnya.

    "Kalau di bahasa Jawa kita punya inovasi, punya karya yang akhirnya bisa dilihat dunia, tentu akan dicari dan menjadi pembeda," ujarnya.

    Menurut Prof. Rohmadi, Program Studi PBSD memiliki peluang besar untuk mengembangkan konsep digital humaniora sebagai identitas akademik sekaligus kekuatan program studi di era digital. Integrasi digital humaniora dalam kurikulum dinilai dapat memperkuat daya saing lulusan tanpa meninggalkan akar budaya Jawa.

    "Guru dan dosen harus memiliki ciri pembeda. Kalau kita tidak mulai digital, kita akan ditinggal mahasiswa. Digital humanities dapat menjadi salah satu pembeda yang kuat bagi program studi," jelasnya.

    Prof. Rohmadi juga mengingatkan pentingnya penyelarasan capaian pembelajaran lulusan mulai dari tingkat universitas, fakultas, hingga program studi. Menurutnya, seluruh program kerja yang disusun harus mengacu pada instrumen akreditasi terbaru agar setiap kegiatan memiliki luaran yang jelas.

    "Kalau CPL prodi dan fakultas tercapai, berarti sudah mendukung CPL universitas. Karena itu, kebutuhan kekinian, termasuk digital humaniora, harus masuk dalam kurikulum dan mata kuliah yang dikembangkan," tegasnya.

    Lebih lanjut, Prof. Rohmadi menjelaskan setiap program studi wajib memiliki diferensiasi keilmuan yang jelas agar memiliki identitas akademik yang kuat di tengah persaingan perguruan tinggi. Ia juga mendorong penguatan branding program studi melalui promosi digital, jejaring sekolah, pengembangan komunitas, serta implementasi pembelajaran berbasis proyek.

    "Output dari OBE itu proyek. Anak-anak harus menghasilkan sesuatu. Saya selalu membuat pameran di akhir perkuliahan agar karya mahasiswa bisa ditampilkan dan menjadi bagian dari promosi program studi," katanya.

    Prof. Rohmadi menambahkan seluruh aktivitas akademik, mulai dari sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, hingga evaluasi, harus terdokumentasi secara baik sebagai bukti pendukung akreditasi sekaligus sebagai bagian dari sistem penjaminan mutu internal yang berkelanjutan. (Sofyan)


    Baca juga: Grup Riset Linguistik Indonesia FIB UNS Gelar Pelatihan Berorganisasi dan Komunikasi Dakwah bagi Remaja Masjid Al Furqon Karanganyar

    Pelatihan Berorganisasi dan Keterampilan Berkomunikasi dalam Dakwah bagi Remaja Islam Masjid Al Furqon Karanganyar.


    Grup Riset Linguistik Indonesia FIB UNS Gelar Pelatihan Berorganisasi dan Komunikasi Dakwah bagi Remaja Masjid Al Furqon Karanganyar

    SOLO - majalahlarise.com - Grup Riset Linguistik Indonesia Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNS menggelar kegiatan Pelatihan Berorganisasi dan Keterampilan Berkomunikasi dalam Dakwah bagi Remaja Islam Masjid Al Furqon Karanganyar. Kegiatan yang menjadi rangkaian program pengabdian kepada masyarakat tersebut dilaksanakan pada Minggu (28/6/2026) di Rumah Makan SFA, Jaten, Karanganyar.

    Pelatihan ini diselenggarakan sebagai upaya menjawab berbagai tantangan yang dihadapi Remaja Islam Masjid Al Furqon yang belum lama terbentuk. Salah satu persoalan yang dihadapi adalah masih terbatasnya kemampuan anggota dalam mengelola organisasi serta keterampilan berkomunikasi dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah kepada masyarakat, khususnya kalangan remaja.

    Selain penguatan organisasi, pelatihan juga difokuskan pada peningkatan kemampuan berbicara di depan umum, menyusun materi ceramah secara sistematis, serta menyampaikan pesan keagamaan secara menarik, runtut, dan sesuai dengan karakter audiens sebaya. Sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan yang menghadirkan dua narasumber berkompeten, yakni Dr. Henry Yustanto dan Dr. Miftah Nugroho, M.Hum.

    Dalam paparannya, Dr. Henry Yustanto menjelaskan pentingnya perencanaan dalam menjalankan organisasi agar seluruh program dapat berjalan secara efektif dan efisien. 

    "Berorganisasi yang efisien adalah pelaksanaan kerja yang terencana dengan baik. Perencanaan mencakup masalah waktu, tenaga pelaksana, dan waktu penyelesaian pekerjaan. Dengan perencanaan, kita mengetahui hal-hal yang harus dilakukan dan kapan pekerjaan dapat diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Perencanaan menjadi pedoman dan beban tugas yang dapat dikerjakan bersama anggota organisasi lainnya," ujarnya.

    Sementara itu, Dr. Miftah Nugroho, M.Hum menjelaskan kemampuan komunikasi menjadi modal penting dalam kegiatan dakwah. Menurutnya, pesan dakwah akan tersampaikan secara efektif apabila didukung pemahaman komunikasi yang baik. 

    "Pemahaman dasar komunikasi sangat penting dalam berinteraksi di depan publik. Melalui dakwah, berbagai informasi harus tersampaikan dengan baik sehingga dibutuhkan komunikasi yang efektif. Komunikasi melibatkan komunikator dan komunikan dengan sarana untuk menyampaikan pesan dakwah. Maka belajar komunikasi itu penting nggih," jelasnya.

    Melalui kegiatan ini, Grup Riset Linguistik Indonesia FIB UNS berharap para peserta memiliki dasar dan pondasi yang kuat dalam berorganisasi serta mampu menerapkan keterampilan komunikasi secara efektif dalam berbagai kegiatan dakwah di lingkungan masjid. Diharapkan ilmu yang diperoleh selama pelatihan dapat diimplementasikan secara nyata sehingga para remaja mampu menjadi generasi yang religius, berkarakter, dan berperan sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.(Sofyan)


    Baca juga: FIB UNS Gelar Pelatihan Pembuatan Jumputan di Gunungkidul, Dorong Ekonomi Kreatif dan Pelestarian Budaya

    Para peserta latihan menunjukan hasil karya batik jumputan yang telah dibuatnya.


    FIB UNS Gelar Pelatihan Pembuatan Jumputan di Gunungkidul, Dorong Ekonomi Kreatif dan Pelestarian Budaya

    Gunungkidul - majalahlarise.com - Dalam upaya melestarikan warisan budaya sekaligus mendongkrak ekonomi kreatif masyarakat lokal, Riset Grup (RG) Sejarah Kebudayaan Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Pelatihan Pembuatan Jumputan bagi Komunitas Sanggar Seni Tresna Budaya. Kegiatan berlangsung di Kelurahan Kemiri, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (11/6/2026).

    Pelatihan tersebut merupakan bagian dari komitmen FIB UNS dalam memberdayakan masyarakat, khususnya kaum perempuan, melalui pengembangan keterampilan kreatif yang berpotensi meningkatkan kesejahteraan ekonomi keluarga. Kegiatan ini diikuti oleh pengurus Sanggar Seni Tresna Budaya beserta para wali murid yang tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.

    Hadir sebagai narasumber, Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS. Dalam pemaparannya, Dyah menjelaskan kain jumputan tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat.

    Narasumber, Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dosen Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) UNS menjelaskan kain jumputan tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat.


    "Kain jumputan memiliki nilai historis dan estetika yang tinggi, serta proses pembuatannya relatif mudah dipelajari namun memiliki nilai jual yang menjanjikan," ujar Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn.

    Menurutnya, keterampilan membuat kain jumputan dapat dikembangkan menjadi produk ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Selain menjadi sarana pelestarian tradisi, produk tersebut juga berpotensi membuka peluang usaha baru bagi masyarakat desa.

    Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud nyata kontribusi FIB UNS dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi. Melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis budaya, FIB UNS berupaya mendorong terciptanya kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan warisan budaya bangsa.


    Adapun anggota RG Sejarah Kebudayaan FIB UNS yang terlibat dalam kegiatan ini terdiri atas Dr. Yusana Sasanti Dadtun, S.S., M.Hum., Drs. Tundjung Wahadi Sutirto, M.Si., Dr. Asti Kurniawati, S.S., M.Hum., Drs. Supariadi, M.Hum., dan Dr. Hayu Adi Darmarastri, S.S., M.Hum.

    Melalui pelatihan ini, diharapkan masyarakat Kelurahan Kemiri mampu mengembangkan produk kreatif berbasis budaya yang memiliki daya saing, sehingga dapat memperkuat perekonomian lokal secara berkelanjutan sekaligus melestarikan tradisi budaya daerah. (Sofyan)


    Baca juga: Puncak Peringatan HUT Ke-75 IBI Cabang Wonogiri, Ratusan Bidan Perkuat Komitmen Wujudkan Generasi Emas 2045

    Pemilik Pabrik Mie Martani, Edy saat memaparkan sejarah dan proses bisnisnya kepada pengurus dan anggota ASBF saat kunjungan.


    ASBF Wonogiri Gelar Kunjungan Industri ke Mie Martani Jatiroto, Perkuat Daya Saing UMKM

    Wonogiri - majalahlarise.com - Komunitas Asia Small Business Federation (ASBF) Wonogiri kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas pelaku usaha melalui kegiatan kunjungan industri ke pabrik Mie Martani di Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran bagi para anggota untuk menambah wawasan terkait pengelolaan usaha dan pengembangan bisnis UMKM.

    Pabrik Mie Martani milik putra daerah Wonogiri, Edy, dipilih sebagai lokasi kunjungan karena dinilai berhasil mengembangkan usaha kuliner berbasis lokal. Dalam kegiatan tersebut, peserta berkesempatan melihat secara langsung proses produksi mi, sistem pengelolaan usaha, hingga strategi pengembangan bisnis yang diterapkan perusahaan dalam menghadapi persaingan pasar.

    Ketua ASBF Wonogiri, Karsi, menjelaskan kegiatan kunjungan industri dilaksanakan untuk mempererat silaturahmi antarpelaku UMKM sekaligus memperkuat kolaborasi dalam mengembangkan usaha. Menurutnya, berbagi pengalaman dan pengetahuan antar sesama pelaku usaha menjadi modal penting untuk mendorong kemajuan UMKM di Wonogiri.

    "Tujuannya kita adakan kunjungan ke KUB Marta Tirtorejo Jatiroto untuk menjalin silaturahmi antar sesama UMKM, saling berkolaborasi, berbagi ilmu dan pengalaman berbisnis sehingga kita sesama UMKM saling menguatkan dan saling mendukung satu sama lain supaya tumbuh, berkembang, dan maju di bidang usaha masing-masing," ujarnya.

    Ketua ASBF Wonogiri Karsi menyerahkan penghargaan kepada Pemilik Pabrik Mie Martani, Edy.


    Karsi menambahkan, melalui kunjungan ke sesama anggota ASBF yang telah berhasil mengembangkan usahanya, para peserta dapat mempelajari jejak perjalanan bisnis dari nol hingga mencapai kesuksesan. Pengalaman tersebut diharapkan mampu menjadi motivasi bagi anggota lain untuk terus bersemangat menjalankan usahanya.

    "Dengan mengetahui lika-liku perjalanan dalam membangun bisnis, otomatis kita akan menjadi semangat untuk menjalankan bisnis kita masing-masing. Sebagai pebisnis, kita perlu dukungan dan motivasi dari orang lain. Selain mendapatkan pengalaman, melalui kunjungan industri kita juga bisa saling melarisi dan mempromosikan produk-produk sesama UMKM," jelasnya.

    Lebih lanjut, Karsi menyampaikan harapannya agar seluruh UMKM yang tergabung dalam ASBF Wonogiri dapat maju dan sukses bersama. Ia juga mengapresiasi dukungan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Wonogiri yang selama ini selalu mendampingi berbagai kegiatan ASBF.

    "Tujuan kami sebagai pengurus ASBF area Wonogiri supaya UMKM kita bisa maju bareng dan sukses bareng. Setiap kegiatan ASBF, Dinas KUKM, Perdagangan dan Perindustrian selalu mendukung dan mendampingi kami," katanya.

    Sementara itu, Kepala Bidang Dinas Perdagangan dan Koperasi Usaha Kecil Menengah (KUKM) Kabupaten Wonogiri, Dwi Runing, memberikan apresiasi atas inisiatif Komunitas ASBF Wonogiri dalam menyelenggarakan kegiatan tersebut. Menurutnya, kunjungan industri memiliki peran penting dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pelaku UMKM.

    "Kami memberikan apresiasi kepada Komunitas ASBF yang telah menyelenggarakan kegiatan kunjungan industri ini. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena memberikan pengalaman nyata kepada para pelaku usaha dalam mengembangkan bisnisnya," ujarnya.


    Dwi Runing juga menyampaikan terima kasih kepada Edy selaku owner Mie Martani Jatiroto yang telah membuka kesempatan bagi peserta untuk belajar secara langsung di lingkungan usahanya. Ia menilai langkah tersebut menjadi kontribusi nyata dalam mendukung kemajuan UMKM di Kabupaten Wonogiri.

    "Terima kasih kepada Bapak Edy selaku owner Mie Martani Jatiroto yang telah berbagi pengalaman dan pengetahuan kepada para peserta. Apa yang beliau lakukan menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM Wonogiri untuk terus berkembang dan berani meningkatkan kualitas usahanya," jelasnya.

    Suasana kunjungan berlangsung penuh antusias. Para peserta aktif berdiskusi dan menggali pengalaman dari pelaku usaha yang telah sukses mengembangkan bisnisnya. Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara komunitas pelaku usaha, pemerintah daerah, dan dunia industri dalam memperkuat ekosistem UMKM.

    Melalui sinergi tersebut, diharapkan lahir semakin banyak pelaku usaha yang mampu menghasilkan produk berkualitas, membuka lapangan kerja, serta berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian daerah. Komunitas ASBF Wonogiri berharap seluruh peserta memperoleh ilmu, motivasi, dan inspirasi baru untuk terus berinovasi dalam membangun UMKM Wonogiri yang semakin maju, mandiri, dan berdaya saing. (Sofyan)


    Baca juga: Puncak Peringatan HUT Ke-75 IBI Cabang Wonogiri, Ratusan Bidan Perkuat Komitmen Wujudkan Generasi Emas 2045

    Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri FX. Pranata, A.P., M.Hum didampingi pengurus IBI Cabang Wonogiri saar menerbangkan balon tandai puncak perayaan HUT Ke-75 IBI.


    Puncak Peringatan HUT Ke-75 IBI Cabang Wonogiri, Ratusan Bidan Perkuat Komitmen Wujudkan Generasi Emas 2045

    Wonogiri - majalahlarise.com - Ratusan bidan yang tergabung dalam Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Wonogiri mengikuti rangkaian peringatan HUT ke-75 IBI bertajuk Harmoni HUT IBI Ke-75 di Halaman Alun-alun Kabupaten Wonogiri, Minggu (28/6/2026). 

    Kegiatan mengusung tema "Dunia Membutuhkan Lebih dari Sejuta Bidan: Bidan Indonesia Memperkuat Kepemimpinan Bidan dalam Pelayanan Kebidanan Berbasis Hak, Berpusat pada Perempuan dan Anak serta Siap Mengawal Generasi Emas 2045" atau "One Million More Midwives". Beragam kegiatan digelar mulai apel bersama Bupati, senam bersama, fun game, hingga cek kesehatan gratis yang diikuti anggota IBI dan masyarakat.

    Ketua Pengurus IBI Kabupaten Wonogiri Sri Haryanti menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan, jajaran Pemerintah Kabupaten Wonogiri, organisasi profesi, rumah sakit, klinik, sponsor, serta seluruh bidan yang hadir dalam peringatan HUT ke-75 IBI. Menurutnya, dukungan berbagai pihak menjadi kekuatan penting dalam memperkuat profesi bidan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. 

    Senam bersama diikuti ratusan bidan se Wonogiri.


    "Hari ini bukan sekadar perayaan bertambahnya usia organisasi, tetapi juga menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang pengabdian bidan Indonesia dalam menjaga kesehatan ibu, bayi, anak, keluarga, masyarakat, dan seluruh siklus kehidupan," ujarnya.

    Sri Haryanti menjelaskan, peringatan HUT ke-75 IBI menjadi refleksi atas perjalanan panjang pengabdian bidan selama 75 tahun dalam menjaga kesehatan ibu dan anak. Sejak Maret 2026, IBI Wonogiri telah melaksanakan berbagai kegiatan sosial, di antaranya bakti sosial melalui Posko Organisasi Profesi Peduli Perempuan (Opor Bubidan), pelayanan KB serentak bekerja sama dengan DPPKB P3A Kabupaten Wonogiri, pelaksanaan imunisasi bayi, kunjungan kepada bidan senior, hingga ziarah dan tabur bunga di makam para bidan di seluruh wilayah Kabupaten Wonogiri.

    Ia juga memberikan penghargaan kepada seluruh pengurus ranting dan anggota IBI atas dedikasi serta loyalitas yang telah ditunjukkan selama ini. Keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan, menurutnya, tidak lepas dari kekompakan anggota dan dukungan berbagai mitra. 

    "Kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada ketua ranting beserta anggotanya karena atas dedikasi dan loyalitas yang tinggi untuk masyarakat dan IBI, sehingga seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar dan baik," katanya.

    Penyerahan penghargaan kepada pengurus ranting dan anggota IBI atas dedikasi serta loyalitas yang telah ditunjukkan selama ini. 


    Lebih lanjut, Sri Haryanti mengajak seluruh bidan untuk terus memperkuat peran dan kepemimpinan dalam pelayanan kesehatan yang berpusat pada perempuan dan anak. Dengan semangat Satu Juta Lebih Bidan, IBI diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi, mencegah stunting, serta mengatasi anemia pada remaja demi mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045. 

    "Kita harus menjadi garda terdepan dalam upaya menurunkan angka kematian ibu, angka kematian bayi, mencegah stunting, dan mengatasi anemia pada remaja sehingga mempersiapkan Generasi Emas Indonesia tahun 2045," pungkasnya.

    Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno yang diwakili Sekretaris Daerah Kabupaten Wonogiri FX. Pranata, A.P., M.Hum menyampaikan apresiasi atas semangat ratusan anggota IBI Kabupaten Wonogiri yang berkumpul dalam peringatan Hari Bidan Indonesia. Sekda menjelaskan Kabupaten Wonogiri memiliki jumlah penduduk sekitar 1.052.000 jiwa dengan sekitar 200 ribu perempuan usia produktif. Dari jumlah tersebut, anggota IBI Kabupaten Wonogiri tercatat sebanyak 725 orang sehingga masih menjadi tantangan tersendiri dalam memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan ibu dan anak. 

    "Jumlah itu harus disikapi sebagai sebuah tantangan. Ternyata tugas dan kewajiban bapak ibu semuanya yang bertugas sebagai bidan ini adalah tugas yang sangat harus menjangkau seluruh masyarakat ibu usia produktif," ujarnya.

    FX. Pranata memaparkan hingga Mei 2026, dari sekitar 10.000 hingga 11.000 kelahiran setiap tahun di Wonogiri, telah tercatat 3.098 kelahiran. Namun masih ditemukan empat kasus kematian ibu, 62 kasus kematian perinatal, 11 kasus kematian bayi, dan sembilan kasus kematian balita. Angka tersebut dinilai masih cukup tinggi sehingga memerlukan perhatian serius dari seluruh pihak, terutama para bidan. 

    "Bagaimana kita mempersiapkan ibu ketika mulai terjadi kehamilan sampai dengan kelahiran harus kita monitor, harus kita cek, harus kita pantau," jelasnya.

    Sekda menambahkan tugas bidan merupakan pekerjaan mulia sekaligus penuh tantangan karena menyangkut keselamatan ibu dan bayi sejak masa kehamilan hingga persalinan. Pemerintah Kabupaten Wonogiri berharap seluruh bidan terus memperkuat komitmen dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi. 

    "Wonogiri harus menurunkan angka kematian ibu menjadi nol kasus. Kematian bayi menjadi nol kasus, itu juga target kita," tegasnya.

    Pada momentum Hari Bidan Indonesia tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonogiri mengajak seluruh elemen untuk terus bersinergi meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat dan mewujudkan Wonogiri bebas kasus kematian ibu maupun bayi. 

    "Hanya dengan bersama-sama, hanya dengan bersatu padu, hanya dengan bersinergi kita bisa mewujudkannya," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Pelatihan Public Speaking LKP Putra Perwira Bekali Peserta Teknik Tampil Percaya Diri Tanpa Grogi

    Narasumber pelatihan, Chotimah Putri, menyampaikan kepercayaan diri menjadi modal utama dalam public speaking.


    Pelatihan Public Speaking LKP Putra Perwira Bekali Peserta Teknik Tampil Percaya Diri Tanpa Grogi

    Sukoharjo - majalahlarise.com - LKP Putra Perwira Sukoharjo menggelar pelatihan Public Speaking bertajuk "Ngomong di Depan Umum Tanpa Grogi" pada Sabtu (27/6/2026). Kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai kalangan, mulai pelajar, mahasiswa, hingga profesional, dengan tujuan meningkatkan kemampuan komunikasi, membangun rasa percaya diri, serta membekali peserta teknik berbicara efektif di depan umum.

    Narasumber pelatihan, Chotimah Putri, menyampaikan kepercayaan diri menjadi modal utama dalam public speaking. Menurutnya, kemampuan berbicara di depan umum dapat terus diasah melalui kebiasaan dan keberanian mengambil kesempatan tampil. Peserta didorong aktif menjadi pembawa acara, moderator, maupun tampil dalam berbagai kegiatan organisasi dan sekolah. "Terbiasa, bisa karena terbiasa. Jadi kalau punya kesempatan tampil di depan, ambil saja dan jangan malu untuk mencoba," ujar Chotimah Putri.

    Dalam pelatihan tersebut, peserta juga dibekali berbagai teknik mengatasi rasa grogi sebelum tampil. Chotimah menjelaskan, langkah awal yang dapat dilakukan yakni mengatur pernapasan dengan menarik napas dalam-dalam, menahannya beberapa saat, kemudian menghembuskannya perlahan. Selain itu, peserta diajak membangun afirmasi positif agar tidak terjebak dalam pikiran negatif. 

    "Jangan berpikir yang enggak-enggak dulu, tapi tenangkan dulu, tarik napas, hembuskan, lalu tanamkan dalam diri, 'Saya pasti bisa'," jelasnya.

    Lebih lanjut, Chotimah menjelaskan pentingnya menarik perhatian audiens sejak tiga menit pertama. Pembicara dapat menggunakan pertanyaan, fakta menarik, analogi, maupun teknik storytelling agar audiens fokus sebelum materi inti disampaikan. Ia juga menekankan public speaking bukan sekadar berbicara di depan banyak orang, melainkan membangun komunikasi dua arah. 

    Peserta saat praktik public speaking.


    "Mindset-nya harus berbicara dengan banyak orang, bukan berbicara di depan banyak orang. Ketika komunikasi dua arah terbangun, pembicara akan lebih percaya diri dan mampu memberikan yang terbaik," katanya.

    Selain materi mengenai kepercayaan diri, peserta memperoleh pembelajaran tentang penggunaan bahasa tubuh, kontak mata, vokal, intonasi, hingga teknik presentasi yang efektif. Chotimah menerangkan bahasa tubuh positif, senyum, dan kontak mata memiliki peran besar dalam membangun kedekatan dengan audiens. 

    "Ngomong sambil senyum itu sangat powerful. Ketika ditambah eye contact dan body gesture, penyampaian akan terasa lebih hidup," ungkapnya.

    Pada sesi lanjutan, narasumber memaparkan konsep energi 300 persen yang harus dimiliki seorang public speaker, terdiri atas energi untuk diri sendiri, audiens, dan situasi sekitar. Ia juga mengenalkan konsep ethos, logos, dan pathos sebagai tiga unsur penting dalam membangun kredibilitas, logika, serta ikatan emosional dengan audiens. 

    "Seorang public speaker jangan hanya fokus berbicara sendiri, tetapi audiens juga harus diajak berinteraksi agar pesan dapat diterima dengan baik," terangnya.

    Peserta juga mendapatkan materi mengenai teknik body gesture yang tepat saat berbicara di depan umum. Narasumber mengingatkan agar pembicara menghindari kebiasaan menyilangkan tangan, memasukkan tangan ke saku, atau memainkan benda saat presentasi karena dapat menimbulkan kesan kurang percaya diri. "Ketika pengen energinya positif, kita juga harus gerakan tubuh yang positif," ujarnya.


    Sementara itu, salah satu peserta, Sofyan Yuli Antonius, mengaku pelatihan tersebut memberikan banyak wawasan baru terkait dunia public speaking. Menurutnya, evaluasi yang diberikan narasumber membuat peserta mengetahui kekurangan yang masih perlu diperbaiki. 

    "Setelah saya dievaluasi ternyata masih banyak kekurangan yang harus dibenahi di antaranya kontak mata dengan audiens, gestur tubuh, dan posisi diri ketika berada di hadapan audiens," tuturnya.

    Ia menambahkan, meskipun waktu pelatihan berlangsung relatif singkat, materi yang disampaikan sangat bermanfaat, terutama bagi pemula yang ingin mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum. (Sofyan)


    Baca juga: RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo Gelar IHT Pemulasaran Jenazah, Tingkatkan Kompetensi Petugas Sesuai Syariat Islam

    Rektor Unisri Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd menyerahkan penghargaan Bhakti Justisia Unisri kepada Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI periode 2023-2028, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H.


    Dies Natalis ke-46 Unisri, Ketua MK Suhartoyo Ajak Perguruan Tinggi Jaga Konstitusi dan Rawat Keadilan

    Surakarta - majalahlarise.com - Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta menggelar Rapat Terbuka Senat dalam rangka Dies Natalis ke-46 di kampus setempat, Kamis (26/6/2026). Kegiatan yang mengusung tema "Menjaga Konstitusi, Merawat Keadilan: Kolaborasi Mahkamah Konstitusi dan Perguruan Tinggi Dalam Negara Hukum Demokratis" tersebut menghadirkan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) RI periode 2023-2028, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H., sebagai orator ilmiah.

    Dalam laporan tahunan, Rektor Unisri Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd menyampaikan apresiasi kepada seluruh tamu undangan yang hadir, termasuk Ketua MK RI yang memberikan orasi ilmiah sekaligus menerima penghargaan Bhakti Justisia Unisri. Rektor juga mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, dunia usaha, dan berbagai mitra yang selama ini bersinergi dengan Unisri. "Terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah memberikan dukungan dan support dalam acara Dies Natalis Unisri ke-46 ini," ujar Prof. Sutoyo.

    Pada kesempatan tersebut, Rektor memberikan penghargaan kepada para pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Slamet Riyadi dari masa ke masa serta para rektor terdahulu yang dinilai telah meletakkan fondasi kuat bagi perkembangan kampus. Menurutnya, perjalanan Unisri selama 46 tahun tidak terlepas dari dedikasi para pendahulu. 

    "Berkat beliau-beliau inilah yang meletakkan fondasi awal sehingga Unisri sampai saat ini bisa lanjut dan berkembang," katanya.

    Prof. Sutoyo menjelaskan Unisri memiliki visi menjadi universitas berkualitas di tingkat Asia Tenggara berlandaskan nilai Pancasila dan nilai-nilai Slamet Riyadi. Untuk mewujudkan visi tersebut, kampus menerapkan budaya kerja SUPER yang merupakan akronim dari Smart, Unity, Power, Ethics, dan Responsibility. 

    "Budaya SUPER berarti bekerja dengan cerdas dan profesional, bersatu untuk maju, bekerja cepat, tepat dan responsif, berlandaskan nilai Pancasila, serta penuh tanggung jawab," jelasnya.

    Saat ini Unisri memiliki enam fakultas dengan 21 program studi yang terdiri atas 17 program sarjana, tiga program magister, dan satu program profesi. Empat program studi telah meraih akreditasi unggul, yakni PPKn, Administrasi Negara, Ilmu Komunikasi, dan Magister Administrasi Publik. Di bidang akademik, jumlah mahasiswa baru juga mengalami peningkatan signifikan, dari 1.871 mahasiswa pada tahun akademik 2023/2024 menjadi 3.525 mahasiswa pada 2024/2025, serta 2.723 mahasiswa pada 2025/2026. 

    "Kami terus mendorong para dosen untuk melanjutkan studi dan segera menyelesaikan pendidikan agar kualitas sumber daya manusia semakin meningkat," tuturnya.

    Selain capaian akademik, Unisri juga menunjukkan perkembangan di bidang penelitian, publikasi, kerja sama, dan prestasi mahasiswa. Pada tahun akademik 2025/2026, tercatat 150 penelitian internal, berbagai penelitian kolaboratif nasional maupun internasional, serta puluhan publikasi ilmiah bereputasi. Unisri juga telah menjalin ratusan kerja sama dengan perguruan tinggi, dunia industri, pemerintah, dan mitra internasional. 

    "Kerja sama dan prestasi mahasiswa yang terus meningkat menjadi modal penting bagi Unisri untuk terus berkembang dan berdaya saing di tingkat internasional," pungkas Prof. Sutoyo.

    Sementara itu, Ketua Mahkamah Konstitusi RI Dr. Suhartoyo, S.H., M.H., dalam orasi ilmiahnya menjelaskan menjaga konstitusi dan merawat keadilan merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, termasuk perguruan tinggi. Menurutnya, penghargaan Bhakti Justisia yang diterimanya bukan sekadar penghormatan pribadi, melainkan amanah publik untuk terus menjaga integritas lembaga peradilan. 

    "Mahkamah Konstitusi tidak hidup dari pujian, melainkan dari integritas, argumentasi, dan kepercayaan publik," ujarnya.

    Suhartoyo menjelaskan perguruan tinggi tidak cukup hanya membumi dan mengglobal, tetapi juga harus berkonstitusi. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya akal sehat publik, tempat kebebasan akademik dipelihara, sekaligus benteng dari kesewenang-wenangan. "Menjaga konstitusi bukan hanya tugas hakim konstitusi. Menjaga konstitusi adalah tugas kebangsaan," katanya.

    Ia juga menyoroti pentingnya keterlibatan akademisi dalam proses peradilan konstitusi. Kehadiran dosen, peneliti, maupun mahasiswa sebagai ahli, pemohon, atau pengkaji putusan MK dinilai mampu memperkaya argumentasi hukum. "Kampus membantu memastikan agar perdebatan konstitusional tidak jatuh menjadi sekadar pertentangan politik," jelasnya.

    Lebih lanjut, Suhartoyo mengajak seluruh perguruan tinggi memperkuat tiga peran konstitusional kampus, yakni sebagai penjaga akal sehat konstitusional, laboratorium kewargaan, dan mitra peradaban hukum. Kampus juga diharapkan aktif mengawal kualitas legislasi dan mendorong partisipasi publik dalam pembentukan undang-undang. "Tidak semua yang populer itu benar. Tidak semua yang viral itu konstitusional," ungkapnya.

    Mengakhiri orasinya, Suhartoyo menjelaskan tantangan konstitusional masa depan, seperti digitalisasi, kecerdasan buatan, perlindungan data pribadi, hingga disinformasi, membutuhkan kolaborasi erat antara Mahkamah Konstitusi dan perguruan tinggi. 

    "Mahkamah Konstitusi dan perguruan tinggi berada pada jalan pengabdian yang sama, menjaga agar Indonesia tetap menjadi negara hukum yang demokratis dan bermartabat," pungkasnya.

    Pada kesempatan yang sama, Ketua Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Slamet Riyadi, Nuroso Bambang Wasisto Utomo, menyampaikan sejak Januari 2022 yayasan terus melakukan pembenahan melalui penerapan sistem remunerasi, penguatan perencanaan kegiatan, pengawasan yang lebih terstruktur, serta penataan anggaran untuk mendukung peningkatan kualitas institusi. "Dengan meningkatkan kinerja perguruan tinggi, maka diharapkan kinerja institusi juga akan semakin meningkat," ujarnya.

    Ketua LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd juga menyampaikan apresiasi atas perjalanan panjang Unisri yang telah berkontribusi dalam bidang pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada masyarakat selama 46 tahun. Menurutnya, Dies Natalis menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi sekaligus menyusun strategi menghadapi tantangan masa depan. 

    "Dies Natalis ini bukan sekadar perayaan bertambahnya usia, tetapi saat yang tepat untuk mengenang perjalanan yang telah dilalui sekaligus meneguhkan langkah-langkah menghadapi masa depan," ujarnya.

    Rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-46 Unisri juga diisi dengan pemberian penghargaan Bhakti Justisia kepada Ketua MK RI, penandatanganan nota kesepahaman (MoU), pemberian penghargaan, serta berbagai sambutan dari unsur yayasan, Pemerintah Kota Surakarta, dan LLDIKTI Wilayah VI Jawa Tengah. (Sofyan)


    Baca juga: RSUD Ir. Soekarno Sukoharjo Gelar IHT Pemulasaran Jenazah, Tingkatkan Kompetensi Petugas Sesuai Syariat Islam


Top