GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
UNS Kembangkan SMARTIN-AJA, Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga Minim Abu, Asap, dan Jelaga
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Tim peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan SMARTIN-AJA (Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga) untuk membantu pengelolaan sampah rumah tangga di Dukuh Kebakan, Desa Sapen. Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pembakaran sampah secara terbuka yang berpotensi menghasilkan abu terbang, asap, dan jelaga serta mengganggu kualitas lingkungan permukiman.
SMARTIN-AJA memadukan teknologi pembakaran terkendali dengan wet scrubber untuk menangkap gas hasil pembakaran. Air yang digunakan untuk menangkap abu, asap, dan jelaga selanjutnya diproses melalui tahapan sedimentasi dan filtrasi serta pengendalian kualitas sebelum digunakan kembali atau dialirkan sesuai ketentuan.
Pengembangan teknologi tersebut dilakukan secara bertahap melalui pengujian lapangan. Instalasi unit utama selesai pada 31 Juli 2026, kemudian pengujian dilaksanakan hingga 14 Agustus 2026 dengan sejumlah penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi setiap tahapan.
Pada pengujian awal, pembakaran telah berhasil dilakukan, tetapi durasinya masih cukup panjang. Kemampuan sistem dalam menyaring asap dan jelaga juga masih perlu ditingkatkan. Perbaikan dilakukan pada sistem pembakaran maupun wet scrubber.
![]() |
| SMARTIN-AJA (Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga) untuk membantu pengelolaan sampah rumah tangga. |
Memasuki pengujian tahap keempat, kinerja SMARTIN-AJA menunjukkan perkembangan. Durasi pembakaran menjadi lebih singkat dan asap serta jelaga dapat ditangkap secara signifikan. Berdasarkan hasil pengujian awal, kapasitas yang terukur mencapai sekitar 30 kilogram sampah basah per jam.
“Hasil ini masih merupakan pengujian awal dan akan kami evaluasi lebih lanjut. Target pengembangan berikutnya kapasitas optimal dapat mencapai sekitar 50 kilogram per jam,” jelas tim peneliti.
Burner Diganti, Sistem Wet Scrubber Disempurnakan
Hasil uji lapangan mendorong tim melakukan sejumlah penyesuaian teknologi. Kompor berbahan bakar oli diganti menggunakan burner berbahan bakar gas bertekanan tinggi yang dilengkapi blower.
Penggantian tersebut dilakukan untuk meningkatkan suplai oksigen sehingga proses pembakaran dapat berlangsung lebih cepat dan lebih sempurna. Tim juga melakukan penyesuaian konfigurasi nosel semprot dan tekanan air pada wet scrubber untuk meningkatkan kemampuan menangkap asap serta jelaga.
Selain aspek teknologi, keberadaan fasilitas di tengah kawasan permukiman menjadi perhatian tersendiri. Tim kemudian melengkapi area pengolahan dengan mural agar bangunan lebih menyatu dengan lingkungan dan mengurangi kesan kumuh.
Pengembangan SMARTIN-AJA juga tidak berhenti pada pembangunan perangkat. Tim membangun tata kelola pengolahan sampah berbasis masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Dadi Berkah. Kelompok tersebut diharapkan menjadi penggerak kegiatan edukasi, pengumpulan, pemilahan, hingga pengelolaan sampah secara terorganisasi.
Kolaborasi Statistika, Informatika, dan Seni Rupa
Inovasi SMARTIN-AJA merupakan hasil kolaborasi lintas bidang di UNS. Getut Pramesti dari Pendidikan Matematika FKIP UNS berperan dalam pengukuran dan analisis optimasi.
Sementara itu, Ristu Saptono, Bambang Widoyono, dan Brilyan Hendrasuryawan dari Informatika FATISDA UNS menangani pengembangan sistem, analisis kinerja, rencana penerapan Internet of Things (IoT), serta sistem informasi.
Aspek mural dan estetika fasilitas didukung Sigit Purnomo Adi dari Seni Rupa FSRD UNS.
Tim peneliti juga memperoleh dukungan teknis dari Agus Hermawan, Thomas Apriyanto, Jepri Nur Sasongko, Agus Safitri, Surono, dan Agus Sukasno. Perangkat desa, pengurus RW dan RT, warga, Karang Taruna, serta mahasiswa UNS turut berkontribusi dalam pembangunan fasilitas dan penguatan pengelolaan masyarakat.
SMARTIN-AJA dikembangkan melalui Skema Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Sebelas Maret berdasarkan Nomor 461/UN27.22/PT.01.03/2026. Inovasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memperoleh penghargaan maupun pengakuan eksternal.
Ke depan, tim menargetkan peningkatan kapasitas hingga sekitar 50 kilogram per jam. Sistem juga diarahkan untuk diperluas ke Desa Sapen dan wilayah sekitar melalui model SMART-HUB.
“Pengembangan teknologi ini tidak hanya berorientasi pada alat, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengelola sampah secara terorganisasi. Edukasi, pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan perlu berjalan bersama agar teknologi dapat memberikan manfaat berkelanjutan,” ujar tim peneliti.
Melalui pendekatan tersebut, SMARTIN-AJA diharapkan mendukung peningkatan kualitas pendidikan warga melalui SDG 4, memperkuat kolaborasi masyarakat untuk mencapai tujuan pembangunan melalui SDG 17, serta berkontribusi pada upaya menekan dampak lingkungan dan perubahan iklim melalui SDG 13.
SMARTIN-AJA menjadi contoh pendekatan pengelolaan sampah yang menggabungkan teknologi pembakaran terkendali, wet scrubber, pengolahan air, estetika fasilitas, serta tata kelola berbasis masyarakat. Pengembangan dan evaluasi lanjutan masih diperlukan untuk memastikan kinerja sistem sekaligus memenuhi aspek lingkungan dan ketentuan yang berlaku.(Sofyan)
Pendidikan
24 Tahun INDONUSA Meneguhkan Perjalanan, Menyambut Transformasi, Menghadirkan Dampak
SURAKARTA - majalahlarise.com - Politeknik Indonusa Surakarta merayakan Dies Natalis ke-24 dengan penuh semangat kebersamaan dan optimisme menyambut transformasi kelembagaan. Perayaan yang berlangsung Rabu (19/8/2026) di Ballroom Sabha Kencana, Gedung C Kampus 1 Politeknik Indonusa Surakarta, mengusung tema “Bertransformasi Menjadi Universitas Unggul dan Berdampak.”
Dies Natalis ke-24 menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan perjalanan Indonusa selama 24 tahun sekaligus meneguhkan langkah menuju perguruan tinggi yang semakin unggul, adaptif, inovatif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Perayaan tersebut dihadiri berbagai unsur yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan dan pengembangan Politeknik Indonusa Surakarta, mulai dari pemerintah, dunia industri, mitra kerja sama, sivitas akademika, hingga insan media. Kehadiran para stakeholder memperlihatkan kuatnya jejaring kolaborasi yang dibangun Indonusa dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi.
Salah satu agenda utama Dies Natalis adalah orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A. Orasi tersebut mengajak sivitas akademika memahami kembali posisi dan peran pendidikan tinggi di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
Prof. Eko Indrajit memberikan perspektif mengenai pentingnya perguruan tinggi beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta perubahan sosial. Pemikiran tersebut menjadi refleksi bagi Indonusa dalam mempersiapkan transformasi kelembagaan sekaligus memperluas manfaat pendidikan tinggi.
“Perguruan tinggi harus mampu membaca perubahan dan mempersiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan zaman. Transformasi tidak cukup hanya dilakukan pada aspek kelembagaan, tetapi juga harus menyentuh budaya akademik, teknologi, inovasi, dan kolaborasi,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut.
Di penghujung orasi, Prof. Eko Indrajit turut menyampaikan doa dan harapan untuk perjalanan Politeknik Indonusa Surakarta ke depan. Suasana perayaan kemudian semakin hangat ketika Prof. Eko Indrajit secara spontan berduet menyanyi bersama penyanyi legendaris Indonesia, Lisa A. Riyanto.
Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari para tamu undangan. Momen itu sekaligus menghadirkan suasana kekeluargaan di tengah rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-24.
Kemeriahan perayaan juga ditandai dengan berbagai ucapan selamat dan apresiasi dari sejumlah tokoh. Dukungan dan doa untuk kemajuan Politeknik Indonusa Surakarta antara lain disampaikan artis Acha Septriasa serta politikus Sekar Tandjung.
Berbagai ucapan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap perjalanan Indonusa agar terus berkembang, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta memberikan kontribusi semakin luas bagi pendidikan, dunia industri, dan masyarakat.
Direktur Politeknik Indonusa Surakarta menyampaikan, usia 24 tahun bukan sekadar angka perjalanan institusi. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali berbagai capaian sekaligus menyiapkan langkah strategis menuju masa depan.
“Usia 24 tahun menjadi momentum untuk melakukan refleksi atas perjalanan yang sudah dilalui sekaligus mempersiapkan langkah yang lebih besar. Transformasi menuju universitas bukan sekadar perubahan status kelembagaan, tetapi transformasi menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi tersebut mencakup penguatan budaya akademik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan inovasi, tata kelola, perluasan kolaborasi, hingga peningkatan kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Tema “Bertransformasi Menjadi Universitas Unggul dan Berdampak” pun menjadi penegasan arah perjalanan Indonusa. Transformasi tidak hanya diarahkan untuk membangun institusi yang unggul secara akademik, tetapi juga perguruan tinggi yang mampu menghadirkan solusi dan dampak nyata.
Dengan memasuki usia ke-24, Politeknik Indonusa Surakarta meneguhkan komitmen untuk terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Perjalanan panjang yang telah dilalui menjadi modal untuk menyambut babak baru sebagai institusi pendidikan tinggi yang semakin unggul, adaptif, kolaboratif, dan berdampak bagi masyarakat serta pembangunan bangsa. (Sofyan)
Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
Pendidikan
![]() |
| Ratusan siswa SMP Negeri 2 Giritontro tampil membawa beragam kreativitas, mulai dari pendidikan, kerohanian, seni, budaya, olahraga hingga kreasi inovatif yang sukses mencuri perhatian masyarakat. |
Seni Jaranan dan Batik Carnival SMP Negeri 2 Giritontro Curi Perhatian di Karnaval HUT RI ke-81
WONOGIRI - majalahlarise.com - Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026), berlangsung meriah. Ratusan siswa SMP Negeri 2 Giritontro tampil membawa beragam kreativitas, mulai dari pendidikan, kerohanian, seni, budaya, olahraga hingga kreasi inovatif yang sukses mencuri perhatian masyarakat.
Barisan SMP Negeri 2 Giritontro tidak sekadar mengikuti iring-iringan karnaval. Para siswa menampilkan berbagai potensi yang dikembangkan di lingkungan sekolah. Beragam kostum dan atribut menghiasi barisan siswa yang tampil kompak dan penuh percaya diri hingga tiba di depan panggung utama.
Salah satu penampilan yang menjadi magnet perhatian masyarakat yakni Batik Carnival. Busana yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti plastik dan kertas, yang diolah menjadi kostum bernuansa batik.
![]() |
| Batik Carnival. Busana yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti plastik dan kertas, yang diolah menjadi kostum bernuansa batik. |
Kostum tersebut tampil mencolok dengan desain yang unik. Para siswa yang menjadi pemeran berjalan percaya diri memperlihatkan detail busana hasil karya mereka. Kreativitas itu membuat sejumlah penonton mengabadikan penampilan melalui kamera telepon seluler, bahkan mengajak para pemeran berfoto bersama.
Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan dalam karnaval menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membangun karakter.
“Karnaval kali ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga bagaimana mereka mampu memanfaatkan barang bekas menjadi sebuah karya yang menarik dan memiliki nilai,” ujar Retno.
Menurut Retno, Batik Carnival menunjukkan pembelajaran dapat diwujudkan dalam bentuk karya nyata. Siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teori, tetapi juga belajar merancang, membuat karya, bekerja sama, bertanggung jawab serta berani menampilkan hasil kreativitasnya di hadapan masyarakat.
Selain Batik Carnival, penampilan seni jaranan juga menjadi salah satu daya tarik SMP Negeri 2 Giritontro. Puluhan siswa tampil penuh semangat di depan panggung utama membawakan kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal.
Jaranan dipilih sebagai media untuk mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah. Melalui penampilan tersebut, siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam mempelajari, mengembangkan dan melestarikan seni tradisional.
![]() |
| Penampilan seni jaranan juga menjadi salah satu daya tarik SMP Negeri 2 Giritontro. |
Suasana semakin semarak ketika siswa menampilkan seni oklik atau kotekan. Irama khas yang dihasilkan membuat kawasan sekitar panggung utama semakin hidup. Penampilan jaranan dan oklik disaksikan Forkopimcam Giritontro, tamu undangan serta masyarakat.
Koordinator Lapangan SMP Negeri 2 Giritontro, Marsudhi Wibowo, S.H., menjelaskan beragam penampilan tersebut memiliki tujuan utama memberikan ruang kepada siswa untuk berkarya sekaligus memperkuat kebersamaan.
“Selain beragam yang ditampilkan, ujungnya tetap satu, yaitu bagaimana anak-anak dapat menunjukkan kreativitas, kekompakan dan potensi yang mereka miliki. Kami ingin mereka berani tampil, percaya diri dan mampu memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat,” ungkap Marsudhi.
Ia menambahkan, keterlibatan siswa dalam karnaval memberikan pengalaman pembelajaran di luar kelas. Mereka belajar bekerja sama, disiplin, bertanggung jawab serta menghargai budaya yang berkembang di masyarakat.
Penampilan SMP Negeri 2 Giritontro memperlihatkan perpaduan antara kreativitas, seni tradisional, pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Batik Carnival menjadi bukti kreativitas siswa dalam mengolah bahan bekas menjadi busana bernilai estetika. Sementara jaranan dan oklik menjadi representasi kecintaan terhadap budaya lokal yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.
Kehadiran para siswa dalam Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro akhirnya tidak sekadar menjadi bagian dari pawai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut berubah menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan potensi, kreativitas dan keberanian tampil di ruang publik.
Dari jaranan hingga Batik Carnival, dari oklik hingga berbagai atribut pendidikan dan kerohanian, siswa SMP Negeri 2 Giritontro membawa pesan penting: kreativitas, budaya dan kepedulian lingkungan dapat berjalan bersama untuk melahirkan generasi muda yang percaya diri dan berkarakter. (Syarif)
Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
Pendidikan
Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Amalia menggelar kegiatan gelar karya sekaligus penutupan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW), Jumat (14/8/2026). Bertempat di SFA Gentan. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Shiboriku, Untukmu Indonesia” dengan menampilkan karya peserta berupa busana berbahan kain shibori hasil kreativitas mereka sendiri.
Gelar karya dikemas dalam bentuk fashion show. Peserta tidak hanya membuat kain shibori, tetapi juga mengolahnya menjadi produk fesyen melalui proses pemotongan menggunakan metode zero waste, menjahit, hingga memperagakan hasil karya mereka di hadapan tamu undangan.
Kegiatan diikuti seluruh peserta program PKW dan dihadiri orang tua peserta, instruktur kewirausahaan, instruktur keterampilan, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi peserta untuk menunjukkan hasil pembelajaran sekaligus kesiapan memasuki dunia usaha.
![]() |
| Apresiasi diberikan kepada peserta berprestasi melalui penyerahan piala untuk sejumlah kategori, antara lain desain terbaik, kualitas jahitan terbaik, dan peragaan busana terbaik. |
Pimpinan LKP Amalia, Hani Safitri, M.M., menjelaskan peserta telah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran program PKW. Sebanyak 250 jam pelajaran (JPL) telah ditempuh peserta dengan metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).
“Pembelajaran program PKW sudah selesai dan 250 JPL sudah terpenuhi. Peserta juga telah melalui evaluasi akhir. Saatnya mereka memulai rintisan usaha dengan memanfaatkan keterampilan yang sudah diperoleh selama mengikuti program,” jelas Hani Safitri.
Menurutnya, program tersebut tidak berhenti pada pemberian keterampilan membuat produk. Peserta juga diarahkan untuk memiliki kemampuan mengembangkan dan memasarkan produk secara mandiri.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan dukungan berupa mesin jahit portabel serta bahan untuk memulai rintisan usaha. Peserta juga diarahkan memanfaatkan toko online di marketplace Gampang Go serta media sosial masing-masing sebagai sarana pemasaran produk.
![]() |
| Penyerahan alat dan bahan untuk rintisan usaha kepada peserta. |
“Peserta memiliki kesempatan untuk menjual produk yang mereka buat melalui toko online maupun media sosial. Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama program dapat berkembang menjadi usaha yang memberikan manfaat secara ekonomi,” ungkapnya.
Selain gelar karya, rangkaian kegiatan diisi laporan pelaksanaan program, sambutan sekaligus penutupan program PKW oleh Purnomo Budi Santoso, S.M., selaku Penelaah Ahli Kebijakan, serta penyerahan alat dan bahan untuk rintisan usaha kepada peserta.
Apresiasi juga diberikan kepada peserta berprestasi melalui penyerahan piala untuk sejumlah kategori, antara lain desain terbaik, kualitas jahitan terbaik, dan peragaan busana terbaik.
Kegiatan penutupan tersebut menjadi penanda berakhirnya proses pembelajaran sekaligus awal bagi peserta untuk mengimplementasikan keterampilan yang telah diperoleh. Melalui dukungan peralatan, bahan usaha, dan akses pemasaran digital, peserta diharapkan mampu mengembangkan produk kreatif serta membangun rintisan usaha secara berkelanjutan. (Sofyan)
Baca juga: Pawai Budaya dan Pembangunan Meriahkan HUT ke-81 RI di Manyaran
Pendidikan, Pojok Griya
![]() |
| Atraksi unggulan tari Laskar Tani SMP Negeri 2 Manyaran dalam Pawai Budaya. |
Drumband Gema Swara Esperoma dan Tari Laskar Tani SMP Negeri 2 Manyaran Meriahkan Pawai Budaya
WONOGIRI - majalahlarise.com - SMP Negeri 2 Manyaran turut ambil bagian dalam Pawai Budaya Kecamatan Manyaran yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang dipusatkan di depan Kantor Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, berlangsung meriah dengan menampilkan beragam potensi seni dan budaya masyarakat.
Dalam pawai tersebut, SMP Negeri 2 Manyaran menghadirkan dua atraksi unggulan, yakni Drumband Gema Swara Esperoma dan Tari Laskar Tani. Keduanya menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menunjukkan kreativitas siswa dalam mengembangkan seni, budaya, dan kemampuan tampil di tengah masyarakat.
Drumband Gema Swara Esperoma tampil penuh semangat dan kekompakan. Para siswa berjalan mengikuti rute pawai sambil memainkan berbagai alat musik drumband. Irama musik yang dinamis turut membangun suasana semarak dan menghibur masyarakat yang menyaksikan rangkaian Pawai Budaya Kecamatan Manyaran.
![]() |
| Drumband Gema Swara Esperoma tampil melewati panggung kehormatan. |
Tidak kalah menarik, Tari Laskar Tani tampil dengan konsep yang mengangkat kehidupan masyarakat agraris. Para penari mengenakan busana bernuansa merah serta membawa caping sebagai properti pertunjukan. Perpaduan gerak tari, busana, dan properti tersebut menggambarkan semangat para petani sekaligus memperkuat pesan pelestarian budaya lokal.
Kepala SMP Negeri 2 Manyaran, Dra. Siti Khumaidah Hidayati, menyampaikan keikutsertaan sekolah dalam Pawai Budaya menjadi momentum penting bagi siswa untuk mengembangkan karakter dan kreativitas.
“Keikutsertaan SMP Negeri 2 Manyaran dalam Pawai Budaya Kecamatan Manyaran menjadi momentum bagi para siswa untuk mengembangkan karakter, kreativitas, kerja sama, serta keberanian tampil di hadapan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan seni dan budaya tidak hanya memberikan ruang bagi siswa untuk berekspresi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar kelas. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengenal, menghargai, dan mencintai kekayaan budaya bangsa.
“Kegiatan seni dan budaya juga menjadi sarana pembelajaran di luar kelas yang mendorong siswa untuk mengenal dan mencintai kekayaan budaya bangsa,” jelasnya.
Pawai Budaya Kecamatan Manyaran tahun ini mengusung semangat “Merayakan budaya, memperkuat persatuan, menggapai Indonesia maju.” Pesan tersebut selaras dengan semangat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang mengajak seluruh masyarakat menjaga keberagaman sekaligus memperkuat persatuan.
Melalui penampilan Gema Swara Esperoma dan Tari Laskar Tani, SMP Negeri 2 Manyaran turut menyampaikan pesan “Bangga budaya, bangga Indonesia!” Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh dalam diri generasi muda sebagai penerus bangsa sekaligus pelestari budaya Indonesia.
Keikutsertaan siswa SMP Negeri 2 Manyaran dalam Pawai Budaya juga menunjukkan peran sekolah dalam memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik untuk berkolaborasi, disiplin, percaya diri, serta berinteraksi dengan masyarakat. Seni dan budaya pun menjadi media strategis untuk menanamkan nilai kebersamaan dan kecintaan terhadap Indonesia. (Sofyan)
Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81
Pendidikan
![]() |
| Agus Widarnarko, S.E., (Danar Superhero Gatutkaca) sebagai narasumber saat mendongeng. |
MPLS Sekolah Rakyat Sukoharjo Bersama Danar Superhero Gatutkaca, Siswa Diajak Santun, Stop Bullying, dan Kenali Wisata Daerah
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo berlangsung edukatif dan menyenangkan. Para siswa jenjang SD mendapatkan pembekalan mengenai sopan santun, literasi, pencegahan bullying, bahaya jajanan berisiko, hingga pengenalan destinasi wisata Kabupaten Sukoharjo melalui kegiatan mendongeng.
Kegiatan yang berlangsung Selasa (18/8/2026) pukul 09.30–11.30 WIB di Gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo, Gabahan, Jombor, Kecamatan Bendosari, tersebut menghadirkan Tim Literasi Gatutkaca Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan bersama tim literasi dengan menghadirkan Agus Widarnarko, S.E., (Danar Superhero Gatutkaca) sebagai narasumber.
Melalui metode dongeng wisata, para siswa diajak belajar dengan cara yang dekat dengan dunia anak. Tokoh Gatutkaca digunakan sebagai bagian dari penyampaian pesan mengenai pentingnya memiliki adab, bersikap sopan dan santun, menghargai teman, serta menghindari tindakan bullying di lingkungan sekolah.
Selain pendidikan karakter, siswa juga dikenalkan dengan potensi wisata yang ada di Kabupaten Sukoharjo. Informasi mengenai destinasi wisata tersebut disampaikan secara ringan agar siswa memiliki pengetahuan mengenai daerahnya sendiri sekaligus tumbuh rasa bangga terhadap potensi wisata lokal.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo, Subkhi Widiyatmoko, S.Pd., M.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran tim dari Disporapar memberikan pengalaman berbeda bagi siswa karena pembelajaran dikemas dalam bentuk hiburan sekaligus edukasi.
“Kami senang sekali anak-anak SD mendapatkan hiburan dan semangat dari kakak-kakak super hero dari Disporapar. Selain mendapatkan pengetahuan tentang adab sopan santun dan stop bullying, mereka juga mendapatkan informasi tentang wisata di Sukoharjo,” ujar Subkhi.
Subkhi menambahkan, pengenalan destinasi wisata kepada siswa menjadi bagian menarik karena para peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari berbagai wilayah di kawasan Surakarta. Karena itu, pihak sekolah berencana mengajak siswa mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Sukoharjo ketika memasuki masa liburan.
“Kami akan mengajak wisata ke lokasi Sukoharjo jika nanti liburan. Mereka datang dari wilayah yang jauh dan dari berbagai daerah di sekitar Surakarta, sehingga kami ingin mereka juga mengenal wisata Sukoharjo,” jelasnya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa antara lain dikenalkan dengan destinasi wisata Batu Seribu serta sejumlah objek wisata yang berada di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya. Penyampaian materi melalui dongeng diharapkan membuat pesan pendidikan karakter dan pengenalan wisata lebih mudah diterima anak-anak.
Kegiatan MPLS ini sekaligus menjadi ruang bagi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo untuk memperkenalkan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan menyenangkan. Pesan untuk menjaga sopan santun, menghormati sesama, menghentikan bullying, serta memilih jajanan yang aman diharapkan dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui kolaborasi sekolah dengan Tim Literasi Gatutkaca Disporapar Sukoharjo, kegiatan MPLS tidak sekadar menjadi pengenalan lingkungan sekolah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun karakter siswa sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap potensi wisata daerah sejak usia dini. (Sofyan)
Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81
News
![]() |
| Kontingen dari MI Al-Kahfi Manyaran saat menyerahkan karangan bunga kepada Camat Manyaran diterima ibu Toto Tri Mulyarto. |
Pawai Budaya dan Pembangunan Meriahkan HUT ke-81 RI di Manyaran
WONOGIRI - majalahlarise.com - Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, menggelar Pawai Budaya dan Pembangunan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026). Kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah desa/kelurahan, organisasi kemasyarakatan, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Pawai menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Manyaran. Berdasarkan surat Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan RI Kecamatan Manyaran Nomor B/015/PAN-HUT-81/VIII/2026 tertanggal 10 Agustus 2026, peserta dibagi dalam dua kategori keberangkatan untuk menjaga ketertiban dan kelancaran kegiatan.
Kategori pertama yang terdiri atas Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD) diberangkatkan dari Lapangan Karanglor mulai pukul 08.00 WIB. Sementara kategori kedua yang meliputi SMP, SMA/SMK, desa/kelurahan, dan peserta umum diberangkatkan dari halaman SMP Negeri 1 Manyaran sekitar pukul 09.00 WIB.
![]() |
| Kontingen MI Al-Kahfi Manyaran mengenakan pakaian bertema wayang orang dan kostum batik karnival. |
Peserta kemudian mengikuti rute yang telah ditentukan hingga finis di depan Puskesmas Manyaran. Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta diarahkan untuk membubarkan diri menuju arah utara.
Kegiatan tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat dan lembaga di Kecamatan Manyaran. Di antaranya Forkopimcam, DPRD, PKK, Dharma Wanita, KUA, Puskesmas, unsur pendidikan, satuan pendidikan tingkat SMA hingga SD, pemerintah desa/kelurahan, tokoh masyarakat, serta panitia HUT Kemerdekaan RI ke-81.
Camat Manyaran, Toto Tri Mulyarto, menjelaskan Pawai Budaya dan Pembangunan digelar sebagai sarana menggairahkan masyarakat dalam mengisi kemerdekaan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengingat kembali jasa dan perjuangan para pahlawan dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
![]() |
| Camat Manyaran Toto Tri Mulyarto beserta tamu undangan saat berada di panggung kehormatan. |
“Ini menjadi satu semangat kepada masyarakat untuk mengekspresikan bagaimana mereka merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dengan berbagai ide, kreasi, dan gagasan,” ujar Toto Tri Mulyarto.
Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam mengikuti pawai mencerminkan semangat gotong royong dan kreativitas warga. Berbagai tampilan yang disuguhkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa syukur sekaligus kecintaan terhadap bangsa dan negara.
Selain aspek budaya dan kreativitas, pawai juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat. Kegiatan yang melibatkan banyak warga tersebut memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus mengembangkan usaha.
“Di samping itu juga memberikan kesempatan, satu sarana bagi UMKM yang ada di sini untuk berdaya guna dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Panitia juga menerapkan sejumlah tata tertib untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib. Peserta diperbolehkan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan batas maksimal kendaraan truk engkel. Kendaraan tidak diperbolehkan menggunakan knalpot brong. Peserta juga dilarang membawa atau menggunakan petasan maupun benda sejenis yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Setiap kontingen diwajibkan menampilkan atraksi di depan panggung kehormatan yang berada di depan Kantor Kecamatan Manyaran dengan durasi maksimal lima menit. Sebelum memasuki panggung kehormatan, peserta menyampaikan narasi mengenai nama kontingen, jumlah peserta, tema yang diusung, serta informasi pendukung lainnya.
Ketentuan tersebut membuat Pawai Budaya dan Pembangunan tidak sekadar menjadi kegiatan hiburan, tetapi juga menjadi ruang kreativitas, edukasi, kebersamaan, dan penguatan semangat nasionalisme masyarakat Manyaran dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Sofyan)
Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...

















