Jumat Kreasi: Dari Bakat Menuju Karakter, dari Potensi Menuju Prestasi


    Oleh: Ujang Adhitiar

    Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 3 Pedan


    Ujang Adhitiar


           Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus digitalisasi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Keberhasilan peserta didik masih sering diukur berdasarkan capaian akademik, sementara potensi nonakademik belum memperoleh ruang yang seimbang. Paradigma tersebut perlu diubah karena setiap peserta didik memiliki karakteristik, bakat, dan kemampuan yang berbeda. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang memfasilitasi peserta didik untuk mengenali, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi dirinya.

           Salah satu contoh implementasi pendidikan yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah Program Jumat Kreasi di SMP Negeri 3 Pedan. Program ini menjadi salah satu wadah, di samping berbagai program pengembangan diri lainnya, bagi peserta didik untuk menampilkan bakat, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki, baik dalam bidang seni, musik, pidato, tari, maupun keterampilan lainnya. Kehadiran program ini membuktikan bahwa sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang humanis, menyenangkan, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara utuh.

           Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, Program Jumat Kreasi sangat relevan dengan teori Person-Centered yang dikemukakan oleh Carl Rogers. Rogers menjelaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya memiliki kecenderungan untuk berkembang menuju pribadi yang lebih baik apabila memperoleh lingkungan yang penuh penerimaan, penghargaan, empati, dan kepercayaan. Lingkungan seperti inilah yang tercermin dalam pelaksanaan Jumat Kreasi. Peserta didik tidak dipaksa menjadi pribadi yang seragam, melainkan diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sesuai minat, bakat, dan potensinya. Ketika memperoleh apresiasi atas usaha dan karya yang ditampilkan, rasa percaya diri, keberanian, tanggung jawab, serta kemampuan mengaktualisasikan diri akan tumbuh secara alami. Inilah esensi layanan Bimbingan dan Konseling, yaitu membantu individu berkembang secara optimal, bukan sekadar menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.

          Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dalam ajaran Islam, setiap manusia diciptakan dengan potensi dan kelebihan yang berbeda sebagai amanah dari Allah Swt. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh agar memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Muhammadiyah menegaskan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, spiritual, moral, dan sosial sehingga terbentuk insan yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, bakat yang ditampilkan dalam Program Jumat Kreasi tidak hanya menjadi sarana meraih prestasi, tetapi juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah Swt. serta media untuk menghadirkan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi sesama.


    Program Jumat Kreasi di SMP Negeri 3 Pedan.


           Program Jumat Kreasi merupakan bukti bahwa pendidikan yang berkualitas tidak semata-mata berorientasi pada nilai rapor, tetapi juga berupaya memanusiakan manusia melalui pengembangan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik. Integrasi nilai-nilai AIK dengan teori Person-Centered dalam layanan Bimbingan dan Konseling menunjukkan bahwa pembentukan karakter, pengembangan bakat, serta peningkatan rasa percaya diri dapat berjalan secara selaras. Program seperti ini layak menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berpusat pada peserta didik, sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, percaya diri, berakhlak Islami, serta siap menghadapi tantangan kehidupan dan perkembangan zaman.

    Layanan BK Berbasis Risalah Akhlak Filosofis: Strategi Tepat Membangun Karakter Unggul


    Oleh: Dewi Rahmadina, S.Psi

    Guru Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 1 Sukoharjo


    Dewi Rahmadina, S.Psi


           Remaja saat ini hidup di era digital yang tidak hanya menyajikan berbagai macam kemudahan, namun juga sarat dengan tantangan dalam pembentukan karakter positif. Remaja dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Ruang digital dapat membantu mereka dalam berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Remaja dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses pendidikan maupun pekerjaan.

           Namun selain dampak positif, terdapat sisi negatif dari kemudahan akses digital tersebut. Remaja rentan terpapar hal-hal negatif seperti pornografi, agresifitas, bullying, gaya hidup hedonistik, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Sebuah survei dari Pusat Penelitian Kebijakan BRIN pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 75% remaja di Indonesia terpapar konten digital negatif seperti pornografi, hoaks, dan kekerasan cyber setidaknya sekali dalam sebulan. Fenomena seperti pergaulan bebas, perundungan, hilangnya rasa hormat terhadap orang tua maupun guru, berkata kasar, serta mudah tersulut emosi, merupakan bentuk degradasi moral yang memerlukan perhatian serius oleh berbagai pihak. Permasalahan ini jika tidak ditangani dapat menghambat perkembangan remaja yang tentunya akan berdampak pada masa depannya.

           Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak generasi yang berkarakter unggul. Bimbingan dan konseling (BK) yang merupakan salah satu elemen dalam sistem pendidikan juga memiliki peran strategis. Salah satu upaya yang dilakukan guru BK dalam membantu siswa yang terjebak dalam perilaku negatif adalah dengan menerapkan teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Teknik ini bertujuan untuk: mengubah pikiran irasional menjadi rasional, membangun perilaku sehat, dan membantu individu menerima diri secara realistis. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) terbukti dapat dimanfaatkan untuk membantu guru BK dalam mereduksi perilaku negatif siswa. 

           Agar penerapan teknik ini berhasil maksimal, maka guru BK mengintegrasikan dengan nilai-nilai risalah akhlak. Risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dapat dijadikan nilai rujukan dalam membangun karakter siswa. Tujuan dari risalah akhlak filosofis sendiri adalah (1) membentuk manusia berakhlak mulia. (2) mengembangkan kesadaran ihsan. (3) menjadikan manusia mampu mencapai kebahagiaan hakiki. (4) menjadi pedoman moral yang relevan lintas zaman. Hal ini berkaitan dengan tujuan teknik REBT. Mengintegrasikan risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berarti menyatukan nilai spiritual Islam dengan psikologi kognitif. Pendekatan ini mengubah pemikiran irasional menjadi rasional, dipadukan dengan kesadaran tauhid dan ihsan untuk membentuk karakter yang tangguh dan berorientasi pada kebaikan universal.

           Berikut tahapan membangun karakter unggul dalam praktik REBT terintegrasi nilai akhlak filosofis: Pertama (A) (Activating Event): identifikasi permasalahan dalam hidup, misalnya pergaulan bebas. Ke dua (B) (Beliefs): menggali keyakinan irasional, misalnya siswa mempunyai pikiran mengikuti trend agar tidak ketinggalan zaman. Ke tiga (C) (Consequence): konsekuensi berupa perasaan berdosa, hati tidak tenang, perilaku menyimpang. Ke empat (D) (Disputing): merubah keyakinan irasional ini dengan nilai-nilai filosofis dan spiritual Islam, selaras dengan larangan mengenai zina telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat Al-Isra' ayat 32. Artinya: “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Ke lima (E) (Effective New Philosophy): membangun filosofi baru yang rasional dan religius sesuai risalah akhlak dengan mengkaji makna Surat Al-Baqarah Ayat 42 yang artinya “dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.

           Penerapan teknik REBT yang selaras dengan nilai-nilai akhlak filosofis akan sangat membantu guru BK dalam membangun karakter positif siswa, apalagi saat ini remaja cenderung mengalami kehampaan spritual. Internalisasi Ihsan, yaitu membiasakan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi perilaku kita akan membuat kita selalu hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selanjutnya praktik perilaku (amal shalih): menerapkan pemikiran rasional tersebut menjadi tindakan nyata, seperti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua hal yang dilarang.

           Jika konsep tersebut diterapkan dengan baik maka remaja akan terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang dan akan terbentuk karakter unggul, sehingga generasi muda kita siap meyambut Indonesia emas 2045. Dengan karakter unggul generasi muda akan mampu bersaing di kancah regional maupun global. Penerapan teknik REBT terintegrasi nilai-nilai akhlak filosofis ini memerlukan konsistensi dan komitmen bersama untuk saling peduli. Oleh karena itu kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, baik orang tua, sekolah, maupun masyarakat luas sangat diperlukan. 

           Jadi tanggung jawab pembentukan karakter unggul bukan hanya peran sekolah, namun juga unsur lain terutama keluarga atau orang tua. Allah berfirman di dalam Al-Quran tepatnya Surat At-Tahrim ayat 6, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga. Menjaga diri dan keluarga dengan cara mengajarkan ilmu agama, mengajak untuk ketaatan terhadap perintah Allah dan melarang keluarga dari perbuatan maksiat. Ketika ada kolaborasi pihak sekolah dan orang tua, maka upaya yang dilakukan oleh guru BK akan berdampak maksimal dan diharapkan melekat dalam diri remaja. 


    Referensi:

    Erford, B. T. (2017). 40 Teknik yang Harus Diketahui Setiap Konselor. Pustaka Pelajar

    https://muhammadiyah.or.id/2020/12/risalah-akhlak-muhammadiyah-merujuk-kepada-semangat-beramal-dan-mengabdi/

    https://mozaik.inilah.com/quran 






    Memantik Keberanian Menuliskan Ide Menjadi Karya Ilmiah sebagai Implementasi Berliterasi dengan Ratulisa (Rajin Menulis dan Membaca) Sepanjang Masa untuk Multigenerasi NKRI


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.


    "Kawan, keberanian untuk menuliskan ide menjadi kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana secara komprehensif merupakan implementasi nyata dalam berkarya untuk multigenerasi NKRI ”


         Puji syukur hanya untuk-Nya. Segala nikmat dan rahmat yang harus disyukuri bersama atas semua karunia-Nya. Selamat dan sukses sangat layak disampaikan kepada Saudara Dr. Muhsyanur, M.Pd., M.Psi, M.M. yang telah menyelesaikan buku berjudul: Dari Ide ke Karya Ilmiah: Teknik Praktis Penelitian Kualitatif; Menemukan Masalah, Menyusun Bab, hingga Menulis Referensi yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Akademikus. Kebahagian tidak terbatas sebagai wujud nyata yang diungkapkan dengan kalimat bahagia atas terbitnya buku yang begitu lengkap dan praktis. Buku tersebut akan menjadi sumber literasi alternatif yang mencerahkan wawasan penelitian ilmiah bagi para mahasiswa yang sedang menyiapkan penelitian untuk makalah, artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.

           Kehadiran buku ini sangat menginspirasi dan bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa S-1, S-2, S-3, dan pembaca yang budiman. Buku yang terdiri atas xxii halaman romawi, 283 halaman, dan 11 bab benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi para peneliti pemula, khususnya mahasiswa pelajar, mahasiswa S-, S-2, dan S-3 untuk dapat menemukan dan menuliskan ide yang diperoleh berdasarkan pengalaman membaca dan memelajari aneka kasus yang didasarkan pada trianggulasi teori yang telah dibacanya saat menulis karya ilmiah. Sebelas bab yang diawali dengan membuat cakrawala pengetahuan; (1) mengenai penelitian kualitatif; (2) menemukan dan membangun masalah penelitian; (3) menyusun judul penelitian yang kuat; (4) menulis bab 1 pendahuluan secara sistematis; (5) menulis bab 2 kajian teori yang tajam; (6) menulis bab 3 metode penelitian secara praktis; (7) dari data ke narasi sebagai pengantar hasil dan pendahuluan; (8) menulis daftar pustaka dan sitasi; (9) menulis profil penulis, bionarasi, biografi, biodata dan curriculum vitae dalam penulisan akademik; (10) strategi sukses menyelesaikan karya ilmiah; dan (11) penyajian lampiran. Kesebelas bab tersebut benar-benar menjadi panduan dan pedoman inspiratif dan motivatif secara teoretik dan praktik untuk berlatih berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) dalam bentuk karya ilmiah yang nyata.

           Salah satu kekurangan pembelajar, peneliti, dan penulis pemula untuk menulis karya ilmiah yaitu keberanian untuk memulai menuliskan ide tanpa takut salah. Oleh karena itu, para pembelajar, peneliti, penulis karya ilmiah teknis dan populer harus dipantik keberaniannya untuk menuliskan ide dan gagasannya secara nyata dalam bentuk tertulis. Apa yang sudah dibaca dan dipahami harus berani diungkapkan dalam kalimat-kalimat nyata sebagai wujud ide karya ilmiah yang dapat dibaca oleh pembaca yang budiman. Salah satu upaya untuk dapat memantik keberanian menuliskan ide secara nyata yaitu dengan berlatih menulis tanpa takut salah dan disalahkan. Dengan demikian akan dapat terbentuk mental meneliti dan menuliskan ide yang dipahami dan direnungkan tersebut menjadi karya ilmiah yang nyata. Hal ini harus dilatih dan dimulai pelan, bertahap, berkesinambungan, dan terus berkelanjutan sebagai wujud nyata berliterasi dengan Ratulisa sepanjang masa.

           Keberanian untuk mengakui dengan sadar bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna merupakan modal dasar bagi pembelajar, peneliti, dan penulis untuk berliterasi dengan Ratulisa. Hal ini dibuktikan dan dicontohkan dengan lengkap dan mudah dipahami oleh penulis buku yang hebat luar biasa ini. Kehadiran buku Saudara Muhsyanur ini tentu akan dapat menjadi salah satu pelita yang menyinari dunia bagai para pembelajar, peneliti, dan penulis di seluruh wilayah Indonesia sepanjang masa. Semangat untuk memantik keberanian menuangkan ide dan gagasan harus terus dilatih dan dituliskan menjadi karya ilmiah teknis, seperti artikel jurnal, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk melatih keberanian menuliskan ide menjadi karya ilmiah dapat juga diwujudkan dalam bentuk artikel ilmiah popular yang dipublikasikan dalam media cetak dan online secara bertahap dan berkelanjutan.

           Akhirnya dengan bangga dengan penuh kebahagiaan dan senyum 228 (sepenuh hati) disampaikan ucapan selamat dan sukses juoss gandhos poll kepada Saudara Muhsyanur yang telah menerbitkan buku yang sedang dibaca oleh para pembaca yang budiman. Semoga buku tersebut akan terus bermanfaat untuk kemaslahatan umat dan ikut memantik semangat berliterasi dengan Ratulisa bagi seluruh masyarakat NKRI. Dengan demikian kehadiran buku ini dapat menjadi salah satu virus-virus positif literasi ratulisa untuk menyiapkan generasi emas Indonesia yang tangguh mentalnya, melek literasi, kreatif, kritis inovatif, produktif, dan inspiratif sepanjang masa.

    #Tulisan ini merupakan pengantar sekaligus ulasan penguatan pada buku yang ditulis oleh Saudara Muhsyanur yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Akademikus# 


    “Kala senja mulai menuju ke peraduannnya, ide-ide kreatif dan kritis akan terus memantik semangat berkarya sepanjang masa dalam pelukan keheningan istana arfuzh ratulisa sepanjang masa”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Manado, 20 Juli 2026

    REFLEKSI AL QURAN DALAM KOLABORASI PENDIDIKAN ANAK


    Oleh: Vina Virginia Hendrawati, S.Pd

    Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 21 Kota Surakarta


    Vina Virginia Hendrawati, S.Pd



           Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah melaksanakan kegiatan yang Bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini bersamaan dengan program pemerintah yang Bernama GAMAS ( Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi tamparan keras bagi fenomena “fatherless house” sebuah kondisi dimana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis. Masyarakat Indonesia masih banyak yang terjebak pada pemikiran yang kolot seperti tugas ayah yang bekerja mencari uang sedang mengasuh anak adalah tugas ibu. Pembagian tugas dalam pengasuhan anak sampai saat ini menjadi perdebatan yang serius. Lantas siapa sih yang berhak dalam pengasuhan anak? Ibu, ayah atau guru di sekolah? Sebelum memberikan jawaban, silahkan pembaca terlebih dahulu merenungi pendapat saya tentang pengasuhan anak.

           Apakah Ibu berperan dalam pengasuhan anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali anak kenal selama di rumah. Secara psikologis, ibu adalah sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang , kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu diidentikkan sebagai seorang Madrasatul Ula (sekolah utama) dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual, seperti yang tertuang dalam QS Ali Imran ayat 35

    إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

    Artinya: (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

    Dari ayat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang ibu harus memiliki visi, agar anaknya kelak menjadi hamba yang shaleh dan bermanfaat bagi agama sejak anak tersebut masih dalam kandungan.  

           Apakah Bapak hanya bertugas mencari nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga menjadi teladan, pelindung, pendidik serta mitra setara bagi ibu. Ayah dalam kehidupan berumah tangga berperan penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam ayat Al quran bahwasanya Alloh SWT sudah mengukuhkan bahwa tugas ayah sebagai pemimpin, sekaligus benteng pertama dalam membentuk akidah dan mental anak. Al-Qur'an juga mengabadikan keteladanan pengasuhan melalui nasihat Luqman kepada putranya.

     Allah Swt. berfirman:

    "Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman [31]: 13).

    Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya dimulai dari dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menghadirkan komunikasi yang penuh kasih sayang. 

          Seberapa penting guru dalam mendidik anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan hanya sekedar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua akan membantu memahami kebutuhan anak secara menyeluruh. Sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carls Rogers yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari konseling ini adalah setiap individu memiliki potensi bawaan untuk berkembang, menyembuhkan diri sendiri, dan mencapai aktualisasi diri jika berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan ini, guru yang bertindak sebagai konselor berperan sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami diri mereka sendiri. 

          Gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah seyogianya tidak dipahami sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan dan karakter. Ayah, ibu, dan guru menjadi benteng utama dalam membimbing anak agar mampu menggunakan kemajuan zaman secara bijaksana.



    Pembangunan masjid yang berdiri di kawasan yang dahulu dikenal sebagai kampung lokalisasi di Kampung Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, kini memasuki tahap finishing.


    Masjid di Eks Kampung Lokalisasi Solo Masuki Tahap Finishing, Panitia Ajak Masyarakat Titip Amal Jariyah

    SOLO - majalahlarise.com – Sebuah masjid yang berdiri di kawasan yang dahulu dikenal sebagai kampung lokalisasi di Kampung Cinderejo Lor, Kelurahan Gilingan, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, kini memasuki tahap finishing. Pembangunan rumah ibadah yang telah berlangsung lebih dari satu tahun itu menjadi simbol transformasi lingkungan sekaligus harapan baru bagi masyarakat setempat.

    Masjid yang dibangun melalui swadaya masyarakat dan dukungan para donatur tersebut sempat mengalami penghentian pembangunan selama beberapa bulan akibat keterbatasan dana. Namun, berkat semangat warga dan kepedulian para dermawan, proses pembangunan kembali dilanjutkan dan kini terus dikebut agar segera dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ibadah.

    Koordinator Pelaksana Pembangunan Masjid, Mbah Wono, menjelaskan perjalanan pembangunan masjid tidaklah mudah. Meski sempat terhenti, panitia tetap optimistis rumah ibadah itu dapat segera diselesaikan.

    "Alhamdulillah saat ini sudah dimulai kembali pembangunan masjidnya. Kami bersyukur karena masih banyak masyarakat yang peduli dan ikut membantu sehingga pembangunan bisa berlanjut," ujar Mbah Wono.

    Menurutnya, keberadaan masjid bukan sekadar menjadi tempat melaksanakan salat berjemaah. Lebih dari itu, masjid diharapkan menjadi pusat pembinaan keagamaan, pendidikan, dan kegiatan sosial yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat Cinderejo Lor.

    Saat ini, panitia masih membutuhkan dukungan untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan tahap akhir, di antaranya pemasangan keramik, pintu, mimbar, plafon, serta pengadaan perlengkapan ibadah. Karena itu, masyarakat luas diajak ikut berpartisipasi melalui sedekah pembangunan masjid.

    "Kami berharap ada para donatur yang ikut bergabung bersedekah agar masjid segera selesai dan siap digunakan masyarakat. Setiap bantuan yang diberikan akan menjadi bagian dari amal jariyah yang manfaatnya terus mengalir," kata Mbah Wono.

    Ia mengajak masyarakat memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai investasi amal jangka panjang. Menurutnya, setiap aktivitas ibadah, pembelajaran Al-Qur'an, maupun kegiatan dakwah yang berlangsung di masjid nantinya akan menjadi pahala yang terus mengalir bagi siapa saja yang ikut berkontribusi dalam pembangunannya.

    "Bayangkan, setiap orang yang salat di sini, setiap anak yang mengaji di sini, insyaallah pahalanya juga mengalir kepada kita yang ikut membangun. Ini kesempatan membuat sejarah sekaligus meninggalkan amal terbaik," tambahnya.

    Ke depan, masjid ini direncanakan tidak hanya menjadi tempat pelaksanaan salat lima waktu, tetapi juga pusat kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPQ), kajian keislaman, pembinaan generasi muda, hingga berbagai program pemberdayaan masyarakat.

    Pembangunan masjid di kawasan yang dahulu identik dengan lokalisasi tersebut menjadi bukti perubahan sosial yang nyata. Kehadiran rumah ibadah ini diharapkan mampu menghadirkan suasana religius sekaligus memperkuat kehidupan sosial masyarakat di Cinderejo Lor.

    Panitia masih membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam penyelesaian pembangunan masjid melalui koordinator lapangan. Dukungan sekecil apa pun diharapkan dapat mempercepat rampungnya pembangunan sehingga masjid segera dapat dimanfaatkan sebagai pusat ibadah dan pembinaan umat. (Riya/Sofyan)


    Baca juga: Keteladanan: Fondasi Sukses yang Terlupakan dalam Pendidikan Kita

    Pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) Tahun Akademik 2025/2026. 


    UNISRI Perkuat Budaya Mutu melalui Audit Mutu Internal SPMI Tahun Akademik 2025/2026

    SOLO - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam mewujudkan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan melalui pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI) Tahun Akademik 2025/2026. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 15–17 Juli 2026, ini menjadi bagian penting dalam implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) untuk memastikan seluruh proses akademik dan tata kelola berjalan sesuai standar mutu yang telah ditetapkan.

    Audit Mutu Internal dipimpin Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) UNISRI, Dr. Bambang Widarno, S.E., M.M. Pelaksanaan audit melibatkan berbagai unit kerja di tingkat fakultas maupun universitas sebagai auditee, meliputi dekan, wakil dekan, kepala tata usaha, kepala subbagian akademik, kepala subbagian keuangan, KPMF, biro skripsi, biro magang, ketua program studi, sekretaris program studi, hingga KPMP.

    Dr. Bambang Widarno menjelaskan AMI merupakan instrumen strategis untuk mengukur kesesuaian pelaksanaan kegiatan akademik dan nonakademik dengan standar mutu internal yang telah ditetapkan universitas.

    "Audit Mutu Internal merupakan instrumen penting untuk memastikan setiap proses di UNISRI berjalan sesuai dengan standar mutu internal yang telah ditetapkan. Para auditee diminta menyiapkan dokumen dan bukti pendukung melalui aplikasi SIDITA, menyediakan data yang diperlukan auditor, serta berkoordinasi aktif dengan tim auditor maupun Lembaga Penjaminan Mutu," jelas Dr. Bambang.

    Ia menerangkan, penggunaan aplikasi SIDITA menjadi salah satu inovasi dalam pelaksanaan audit karena mampu mempermudah proses pengumpulan dokumen, pelacakan temuan, hingga tindak lanjut hasil audit secara transparan dan akuntabel. Sistem digital tersebut diharapkan mampu meningkatkan efektivitas pelaksanaan SPMI di seluruh unit kerja.

    Menurut Dr. Bambang, Audit Mutu Internal tidak hanya bertujuan memenuhi kewajiban administratif, tetapi menjadi sarana evaluasi untuk mendorong budaya mutu di lingkungan kampus.

    "Harapan kami dengan adanya Audit Mutu Internal ini adalah teridentifikasinya kekuatan dan area yang perlu ditingkatkan di setiap unit. Temuan audit akan menjadi dasar penyusunan rencana tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas layanan akademik, tata kelola, dan pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Dengan demikian, UNISRI dapat terus bergerak menuju perguruan tinggi yang unggul, berdaya saing, dan dipercaya masyarakat," tambahnya.

    Melalui pelaksanaan AMI Tahun Akademik 2025/2026, UNISRI menegaskan komitmennya untuk menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan secara sistematis, terukur, dan berkelanjutan sesuai visi universitas. Lembaga Penjaminan Mutu UNISRI terus mengawal implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal melalui berbagai program, termasuk Audit Mutu Internal yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun akademik sebagai upaya menumbuhkan budaya mutu di seluruh civitas akademika. (Sofyan)


    Baca juga: Keteladanan: Fondasi Sukses yang Terlupakan dalam Pendidikan Kita

    Kuliah Subuh Muhammadiyah Gajahan bertema "Melepas Luka, Mengobati Hati" di TK ABA Patang Puluhan RT 02/RW 04, Gajahan, Solo, Minggu (19/7/2026).


    Ustaz Dwi Jatmiko: Melepas Luka dan Mengobati Hati dengan Mendekat kepada Allah

    Solo - majalahlarise.com – Luka hati tidak selalu tampak, tetapi dapat membekas dalam waktu yang lama. Karena itu, setiap muslim diajak mendekatkan diri kepada Allah SWT sebagai jalan untuk menyembuhkan luka batin melalui doa, istigfar, salat malam, dan memaafkan. Pesan tersebut disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, dalam Kuliah Subuh Muhammadiyah Gajahan bertema "Melepas Luka, Mengobati Hati" di TK ABA Patang Puluhan RT 02/RW 04, Gajahan, Solo, Minggu (19/7/2026).

    Dalam tausiahnya, Ustaz Dwi Jatmiko mengutip firman Allah SWT dalam Surah An-Nur ayat 22 yang mengajarkan pentingnya memaafkan dan berlapang dada. Menurutnya, setiap orang hampir pasti pernah mengalami pengalaman pahit, seperti dikhianati, diremehkan, ditinggalkan, atau disakiti oleh orang yang paling dipercaya. Meski peristiwa itu telah berlalu, luka batin sering kali masih tersisa dan memengaruhi kehidupan seseorang.

    "Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kamu ingin Allah mengampunimu?" kutipnya dari Surah An-Nur ayat 22.

    Anggota Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo itu menjelaskan, Allah telah memberikan tuntunan kepada orang-orang beriman agar senantiasa mencari wasilah atau jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya sebagaimana termaktub dalam Surah Al-Ma'idah ayat 35.

    "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan carilah wasilah (jalan) untuk mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah di jalan-Nya agar kamu beruntung," ujarnya mengutip ayat Al-Qur'an.

    Menurut Dwi Jatmiko, luka fisik mungkin dapat sembuh dalam hitungan hari atau minggu, tetapi luka hati bisa bertahan bertahun-tahun apabila tidak diobati dengan pendekatan spiritual. Karena itu, ia mengajak jemaah untuk tidak tenggelam dalam kesedihan, melainkan terus memperkuat hubungan dengan Allah SWT.

    "Jika hari ini hati masih terasa sakit, jangan menyalahkan diri sendiri. Teruslah mendekat kepada Allah, ceritakan semua kesedihan dalam doa, perbanyak istigfar, dan belajarlah memaafkan sedikit demi sedikit," tuturnya.

    Ia juga mengingatkan keutamaan qiyamul lail atau salat malam sebagaimana dijelaskan dalam Surah Adz-Dzariyat ayat 17–18 dan Surah As-Sajdah ayat 16. Menurutnya, orang-orang yang rela meninggalkan kenyamanan tidur demi bermunajat kepada Allah akan memperoleh ketenangan hati dan kekuatan spiritual untuk menghadapi berbagai ujian kehidupan.

    Menutup tausiahnya, anggota Korps Mubalig Solo itu memberikan motivasi kepada seluruh jemaah agar tidak menyimpan luka sendirian. "Keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah meninggalkan kehangatan selimut bukan karena terpaksa, tetapi karena hati mereka telah merasakan manisnya iman saat bermunajat kepada Allah. Luka yang kau sembunyikan, yakinlah Allah yang menyembuhkan," ungkapnya. (Sofyan)


    Baca juga: BK Berbasis AIK, Solusi Tepat Menanggulangi Bullying


Top