Talkshow Festival Literasi Nasional 2026 yang digelar Nyalanesia menghadirkan Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani.


    Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani Ajak Generasi Muda Perkuat Budaya Membaca dan Menulis di Festival Literasi Nasional 2026

    Solo - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengajak generasi muda memperkuat budaya membaca dan menulis dalam Talkshow Festival Literasi Nasional 2026 yang digelar Nyalanesia di Emerald Ballroom Paragon Hotel Solo, Sabtu (23/5/2026).

    Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta yang terdiri atas siswa, guru, kepala sekolah, pegiat literasi, hingga pemerhati pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia. Suasana talkshow berlangsung hangat dan interaktif dengan pembahasan mengenai pentingnya literasi di tengah perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

    Dalam paparannya, Astrid menjelaskan literasi menjadi fondasi penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Menurutnya, budaya membaca dan menulis harus terus diperkuat agar masyarakat mampu berpikir kritis dan tidak mudah terpengaruh arus informasi yang bergerak cepat.


    “Literasi bukan hanya soal membaca tulisan, tetapi bagaimana seseorang memahami informasi, berpikir kritis, lalu mampu menuangkannya kembali menjadi gagasan maupun karya yang bermanfaat,” ujarnya.

    Astrid mengatakan kemampuan menulis tidak hadir secara instan, melainkan dibangun melalui kebiasaan membaca, keberanian mencoba, dan konsistensi belajar. Karena itu, ia mendorong para pelajar mulai menulis dari hal-hal sederhana yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

    “Menulis itu soal keberanian memulai. Tidak perlu menunggu sempurna. Tulis saja dulu apa yang ada dalam pikiran dan pengalaman kita,” katanya.

    Dalam kesempatan itu, Astrid juga membagikan sejumlah tips agar lebih produktif menulis, salah satunya dengan membiasakan membaca setiap hari untuk memperkaya wawasan dan sudut pandang. Ia juga menyarankan para pelajar memiliki jurnal atau catatan harian sebagai latihan menuangkan ide dalam bentuk tulisan.

    “Kalau ingin menjadi penulis, maka harus akrab dengan buku dan tulisan. Luangkan waktu membaca setiap hari walaupun hanya beberapa halaman,” ujarnya.

    Astrid turut mengajak guru dan kepala sekolah menjadi penggerak budaya literasi di lingkungan pendidikan. Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan generasi muda yang gemar membaca, berani berpendapat, dan produktif menghasilkan karya.

    “Anak-anak harus diberi ruang untuk berani berpendapat dan berkarya. Jangan hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis melalui literasi,” katanya.

    Ia juga menilai perkembangan teknologi digital dapat menjadi peluang besar untuk memperkuat budaya literasi apabila dimanfaatkan secara positif. Generasi muda didorong tidak hanya menjadi pengguna media sosial, tetapi juga mampu menghasilkan konten edukatif dan inspiratif melalui tulisan maupun karya kreatif lainnya.

    Festival Literasi Nasional 2026 menjadi ajang bertemunya pegiat pendidikan dan literasi dari berbagai daerah untuk berbagi pengalaman, inovasi, serta gagasan dalam meningkatkan budaya membaca dan menulis di Indonesia. Kegiatan tersebut diramaikan dengan talkshow inspiratif, diskusi pendidikan, pameran karya literasi, hingga sesi motivasi bagi pelajar dan tenaga pendidik.

    Dalam talkshow tersebut, Astrid juga membagikan pengalaman pribadinya dalam proses menulis hingga berhasil menerbitkan buku The Untold Story Astrid Widayani. Ia mengaku proses penulisan dilakukan di tengah kesibukannya sebagai pejabat publik.

    Menurutnya, setiap orang memiliki cerita hidup yang unik dan dapat menjadi inspirasi jika dituangkan dalam sebuah tulisan.

    “Bangsa yang besar adalah bangsa yang masyarakatnya gemar membaca dan menulis. Karena dari literasi lahir pemikiran besar, inovasi, dan perubahan untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (Is/ Sofyan)


    Baca juga: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang Gelar Kampanye Bahaya Pernikahan Dini di Tambakrejo untuk Tekan Dispensasi Nikah

    Kampanye sosial bertajuk “Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan, Ekonomi, dan Pendidikan” di Aula Kantor Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang.


    Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Semarang Gelar Kampanye Bahaya Pernikahan Dini di Tambakrejo untuk Tekan Dispensasi Nikah

    Semarang - majalahlarise.com - Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Universitas Semarang menggelar kampanye sosial bertajuk “Dampak Pernikahan Dini Terhadap Kesehatan, Ekonomi, dan Pendidikan” di Aula Kantor Kelurahan Tambakrejo, Kecamatan Gayamsari, Kota Semarang, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan ini diikuti puluhan remaja sebagai upaya meningkatkan kesadaran terkait risiko pernikahan usia anak sekaligus menekan angka dispensasi nikah di Kota Semarang.

    Kegiatan tersebut merupakan implementasi mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas yang diampu Dr. Yulianto Budi Setiawan, S.Sos., M.Si. Seminar dihadiri perangkat kelurahan, karang taruna, tokoh masyarakat, serta para remaja di Kelurahan Tambakrejo.

    Ketua LPMK Tambakrejo, Sapto Wahono mengapresiasi kegiatan edukatif yang digagas mahasiswa Ilmu Komunikasi USM tersebut. Ia menjelaskan kesiapan mental menjadi faktor utama sebelum seseorang memutuskan menikah.

    “Saat kalian berpikir untuk menikah, yang pertama kali harus kalian pertanyakan kepada diri sendiri adalah: apakah mental kalian sudah benar-benar siap? Karena pernikahan bukan sekadar ritual, melainkan sebuah komitmen panjang yang menuntut kematangan jiwa,” ujar Sapto Wahono.

    Seminar menghadirkan narasumber dari PKBI Kota Semarang, yakni Muhammad Taufik Hilmawan, Devita Uzlah Sibarani, serta pemateri internal mahasiswa, Della Letelay.

    Dalam pemaparannya, PKBI Kota Semarang mencatat terdapat 125 perkara dispensasi nikah di Kota Semarang sepanjang 2024 dan sebanyak 116 perkara dikabulkan. Mayoritas pemohon dispensasi nikah masih berstatus pelajar SMP dan SMA.

    Devita Uzlah Sibarani menjelaskan pernikahan dini memiliki dampak serius terhadap kesehatan reproduksi remaja. Risiko yang muncul di antaranya anemia, preeklamsia, hingga meningkatnya angka kematian ibu dan bayi.

    Sementara itu, Muhammad Taufik Hilmawan menyampaikan pernikahan usia anak juga berpengaruh terhadap masa depan pendidikan dan ekonomi remaja. Menurutnya, pernikahan dini berpotensi menyebabkan putus sekolah dan terbatasnya peluang kerja.

    “Remaja perlu memahami bahwa pernikahan usia anak dapat membatasi kesempatan mereka untuk berkembang, baik dari sisi pendidikan maupun ekonomi,” kata Muhammad Taufik Hilmawan.

    Pemateri internal, Della Letelay, turut mengingatkan pentingnya kesiapan mental dan finansial sebelum menikah. Ia menyebut pernikahan merupakan keputusan besar yang tidak perlu dipercepat tanpa persiapan matang.

    Dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Gender dan Minoritas, Dr. Yulianto Budi Setiawan menjelaskan kegiatan tersebut menjadi bagian dari literasi masyarakat yang dilakukan mahasiswa agar mampu memberikan dampak nyata di lingkungan sekitar.

    “Kegiatan ini merupakan bagian dari literasi masyarakat dengan harapan dapat memberi manfaat dan meningkatkan kesadaran remaja di Kelurahan Tambakrejo terkait bahaya pernikahan dini,” jelas Dr. Yulianto Budi Setiawan.

    Ketua Karang Taruna Tambakrejo, Eva Riska Yulanda berharap seminar tersebut mampu mengubah pola pikir remaja agar lebih fokus mengejar pendidikan dan masa depan.

    “Saya sangat bersyukur adanya kegiatan seperti ini. Semoga teman-teman remaja semakin terbuka pikirannya tentang bahaya pernikahan dini dan berani mengejar mimpi terlebih dahulu,” ungkapnya.

    Peserta seminar memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut. Mereka mengaku memperoleh wawasan baru mengenai pentingnya kematangan mental, emosional, serta kesiapan ekonomi sebelum memasuki jenjang pernikahan. 

    Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi (FTIK) Universitas Semarang melalui Jurusan Ilmu Komunikasi terus berkomitmen mencetak mahasiswa yang adaptif, kreatif, dan peka terhadap isu sosial di masyarakat. Melalui pembelajaran berbasis praktik dan pengabdian masyarakat, mahasiswa didorong aktif terlibat dalam kampanye edukatif, riset sosial, hingga kegiatan komunikasi publik yang berdampak bagi lingkungan sekitar. (Sofyan)


    Baca juga: SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar Kajian Fiqih Qurban dan Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban

    Kajian Fiqih Qurban dan Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban.


    SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar Kajian Fiqih Qurban dan Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban

    Boyolali - majalahlarise.com - Menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, SD Muhammadiyah Program Khusus Banyudono bekerja sama dengan JULEHA Boyolali menggelar Kajian Fiqih Qurban dan Pelatihan Penyembelihan Hewan Qurban yang terbuka untuk umum, Sabtu (23/5/2026) di Aula SD Muhammadiyah PK Banyudono.

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar sekolah dalam memberikan edukasi kepada masyarakat terkait tata cara pelaksanaan qurban yang sesuai syariat Islam. Antusiasme peserta terlihat dari banyaknya takmir masjid dan masyarakat yang hadir mengikuti kajian sekaligus praktik penyembelihan secara langsung.

    Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono saat dihubungi Redaksi melalui pesan singkat menjelaskan momentum Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah ritual semata, namun juga sebagai sarana pembelajaran tentang keikhlasan, kepedulian, serta pentingnya menjalankan syariat Islam dengan benar.

    “Melalui kegiatan ini kami berharap masyarakat semakin memahami fiqih qurban dan tata cara penyembelihan halal sesuai tuntunan Islam,” ujarnya.

    Kajian menghadirkan narasumber Wahid Sudarsono yang menyampaikan materi tentang syarat hewan qurban, adab penyembelihan, hingga praktik penyembelihan halal yang baik dan benar sesuai syariat Islam.

    Praktik penyembelihan halal yang baik dan benar sesuai syariat Islam.


    Ketua panitia, Habibi menjelaskan kegiatan tersebut diberikan secara gratis sebagai bentuk pelayanan dakwah dan edukasi kepada masyarakat menjelang Hari Raya Idul Adha.

    “Selain mendapatkan materi teori, peserta juga memperoleh pengalaman praktik langsung penyembelihan hewan qurban sehingga diharapkan mampu menerapkannya di lingkungan masjid dan masyarakat masing-masing,” jelasnya.

    Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah PK Banyudono kembali menunjukkan komitmennya sebagai sekolah Islam berkarakter yang tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, namun juga penguatan syiar Islam dan edukasi keislaman di tengah masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: Guru SD Muhammadiyah 1 Solo Lulus Pelatihan Pendamping PPH, Siap Dampingi UMKM Urus Sertifikasi Halal

    Guru SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, Dwi Jatmiko MPd berhasil memperoleh sertifikat kelulusan Pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (PPH).


    Guru SD Muhammadiyah 1 Solo Lulus Pelatihan Pendamping PPH, Siap Dampingi UMKM Urus Sertifikasi Halal

    Solo - majalahlarise.com - Guru SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, Dwi Jatmiko MPd berhasil memperoleh sertifikat kelulusan Pelatihan Pendamping Proses Produk Halal (PPH) setelah mengikuti rangkaian pelatihan dan praktik yang diselenggarakan Halal Center UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jawa Timur. Pelatihan berlangsung secara daring pada 15-16 Mei 2026 selama 20 jam pelajaran.

    Guru Pendidikan Agama Islam di sekolah yang berdiri sejak 1935 tersebut menjelaskan pelatihan Pendamping PPH menjadi bagian penting dalam mendukung implementasi Undang-Undang Jaminan Produk Halal (UU JPH) guna memperkuat ekosistem industri halal nasional.

    Menurut Dwi Jatmiko MPd, masih banyak pelaku usaha, khususnya Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), menghadapi berbagai kendala dalam memperoleh sertifikat halal. Kendala tersebut mulai dari keterbatasan pemahaman mengenai proses dan persyaratan sertifikasi halal hingga persoalan biaya serta sumber daya manusia.

    “Namun dalam pelaksanaannya, banyak pelaku usaha, khususnya UMKM, masih menghadapi berbagai tantangan untuk memperoleh sertifikat halal,” ujarnya, Sabtu (23/5/2026).

    Ia menjelaskan kehadiran Pendamping Proses Produk Halal menjadi solusi strategis untuk membantu pelaku usaha dalam menjalani proses sertifikasi halal. Pendamping PPH memiliki peran sebagai penghubung antara pelaku usaha, Lembaga Pemeriksa Halal (LPH), dan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH).

    “Pendamping PPH merupakan individu yang telah mengikuti pelatihan dan memiliki sertifikat kompetensi untuk mendampingi pelaku usaha dalam proses sertifikasi halal serta menjadi penghubung antara pelaku usaha, LPH, dan BPJPH,” jelasnya.

    Dalam pelatihan tersebut, peserta mendapatkan materi komprehensif meliputi kebijakan dan regulasi Jaminan Produk Halal, ketentuan syariat Islam terkait produk halal, hingga aspek fikih sebagai landasan penjaminan produk halal di Indonesia.

    Selain itu, peserta juga dibekali materi mengenai proses pendampingan PPH, identifikasi bahan baku dan bahan tambahan, alur produksi sesuai standar halal, hingga verifikasi dan validasi dokumen untuk memastikan kesesuaian proses halal pada pelaku usaha.

    “Di era transformasi digital, pelatihan juga menitikberatkan pada digitalisasi dan dokumentasi PPH,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha 2026 Punya Nilai Sama, Akademisi UNS: Rela Berkorban demi Bangsa

    Penyematan samir kepada perwakilan siswa kejar paket oleh Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dra. Hesti Dwi Saptaningtyas, MT.


    PKBM Syifa Surakarta Gelar Akhirussanah 2026, Tekankan Penguatan Karakter dan Pengembangan Potensi Lulusan

    Solo - majalahlarise.com - PKBM Syifa Surakarta yang beralamat di Jalan Jamsaren No. 44 Surakarta kembali menggelar kegiatan Akhirussanah Tahun 2026 sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan dan pencapaian peserta didik pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Kegiatan yang berlangsung di Pose In Hotel Solo, Sabtu (23/5/2026), berjalan khidmat dan penuh kebersamaan dengan dihadiri peserta didik, orang tua, tutor, pengurus PKBM, serta tamu undangan dari Dinas Pendidikan Kota Surakarta.

    Akhirussanah tahun ini mengusung tema “Menguatkan Karakter, Mengasah Potensi, Menjadi Versi Terbaik”. Tema tersebut menjadi wujud komitmen PKBM Syifa Surakarta dalam membentuk lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, akhlak baik, serta kemampuan menghadapi tantangan kehidupan di masa depan. Suasana haru dan rasa syukur tampak mewarnai prosesi akhirussanah sebagai penutup perjalanan pendidikan peserta didik sebelum melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi maupun memasuki dunia kerja.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, SE, MM menjelaskan kegiatan akhirussanah bukan sekadar seremoni kelulusan, melainkan bentuk penghargaan atas proses belajar, perjuangan, dan perkembangan karakter peserta didik selama menempuh pendidikan di PKBM Syifa Surakarta. Menurutnya, setiap peserta didik memiliki perjalanan dan tantangan berbeda hingga akhirnya mampu menyelesaikan pendidikan kesetaraan dengan baik.


    “Melalui kegiatan ini kami ingin memberikan penghargaan kepada seluruh peserta didik yang telah berjuang menyelesaikan pendidikan. Kami berharap seluruh lulusan mampu menjadi pribadi yang percaya diri, terus berkembang, serta mampu memberikan kontribusi positif di lingkungan masyarakat,” tuturnya.

    Puri juga menjelaskan PKBM Syifa Surakarta terus berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan nonformal yang berkualitas, inklusif, dan berorientasi pada masa depan peserta didik. Pendidikan kesetaraan dinilai menjadi solusi bagi masyarakat yang membutuhkan alternatif pendidikan fleksibel tanpa mengurangi kualitas pembelajaran maupun pembentukan karakter.

    Pada Tahun Pelajaran 2025/2026, jumlah peserta didik yang dinyatakan lulus mencapai 197 orang. Rinciannya, Paket A setara SD sebanyak 123 peserta didik, Paket B setara SMP sebanyak 28 peserta didik, dan Paket C setara SMA sebanyak 46 peserta didik. Jumlah tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan yang diselenggarakan PKBM Syifa Surakarta.


    Selain menjadi ajang apresiasi, kegiatan akhirussanah juga bertujuan menumbuhkan rasa percaya diri dan motivasi lulusan untuk melanjutkan pendidikan maupun karier, mempererat hubungan antara peserta didik, orang tua, tutor, dan keluarga besar PKBM Syifa, serta menjadi momentum refleksi terhadap proses pembelajaran dan pencapaian peserta didik. Nilai karakter, akhlak, dan semangat belajar sepanjang hayat juga menjadi pesan utama dalam kegiatan tersebut.

    Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta yang diwakili Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dra. Hesti Dwi Saptaningtyas, MT, turut memberikan pembekalan kepada para siswa. Dalam sambutannya, Hesti menjelaskan kelulusan bukan akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal memasuki kehidupan yang sesungguhnya dengan tantangan yang lebih besar.

    “Perjuangan kalian untuk menyelesaikan pendidikan di tengah berbagai dinamika hidup adalah bukti nyata dari sebuah komitmen yang luar biasa. Kalian harus bangga karena telah mampu menyelesaikan proses pendidikan dengan baik,” ujarnya di hadapan peserta didik dan orang tua.

    Hesti juga mengingatkan pentingnya membangun karakter kuat di tengah perkembangan zaman yang semakin kompleks. Menurutnya, kecerdasan intelektual harus berjalan seimbang dengan kejujuran, disiplin, kerja keras, tanggung jawab, dan akhlak yang baik agar para lulusan mampu bersaing sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.


    “Tunjukkan kepada dunia bahwa lulusan PKBM Syifa Surakarta adalah lulusan yang kompeten, tangguh, dan siap berkontribusi. Teruslah belajar karena belajar adalah proses seumur hidup,” ujarnya.

    Sementara itu, perwakilan orang tua siswa, Ustadz Amir Ma'ruf menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya melihat anak-anak mampu menyelesaikan pendidikan melalui jalur pendidikan kesetaraan. Ia menilai PKBM Syifa Surakarta berhasil menghadirkan sistem pendidikan yang fleksibel dan adaptif sesuai kebutuhan peserta didik.

    “Kami sangat menghargai fleksibilitas pemahaman dan bimbingan yang diberikan oleh PKBM Syifa. Sistem pembelajaran yang adaptif di sini telah memberikan ruang bagi anak-anak kami untuk tetap bisa menuntaskan pendidikan tanpa kehilangan kesempatan untuk mengembangkan potensi diri,” jelasnya.

    Dalam pesannya kepada para lulusan, Ustadz Amir meminta siswa tetap percaya diri dan tidak minder karena menempuh pendidikan melalui jalur kesetaraan. Menurutnya, pendidikan kesetaraan justru mengajarkan semangat belajar tanpa mengenal batas ruang, waktu, dan usia.

    “Jangan pernah merasa kecil hati karena menempuh jalur Paket C. Justru di tempat ini kalian belajar bahwa belajar itu tidak mengenal batas waktu, jarak maupun ruang,” katanya.

    Narasumber pembekalan, Arif Priyanto, turut memberikan motivasi kepada para lulusan mengenai pentingnya karakter dalam kehidupan. Dalam materinya bertajuk “Menguatkan Karakter, Mengasah Potensi, Menjadi Versi Terbaik”, Arif menerangkan kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kepintaran akademik, tetapi juga konsistensi dalam menjaga perilaku baik dan kemampuan memperbaiki diri ketika melakukan kesalahan.

    “Ijazah bisa robek atau hancur, tetapi karakter yang diberikan sekolah seperti disiplin akan tetap abadi. Dengan karakter itulah akan lahir generasi yang kuat dalam berpikir, kuat mentalnya, dan kuat menghadapi kehidupan,” jelasnya.

    Arif juga mengingatkan pentingnya kemampuan dasar seperti berhitung dan berpikir logis di tengah perkembangan sistem pendidikan saat ini. Ia berharap para lulusan tidak hanya mengejar kelulusan administratif, tetapi benar-benar memiliki kemampuan dan karakter yang dapat menjadi bekal menjalani kehidupan di masa depan.

    Sementara itu, Putra Solo 2 2025, Rizky Surya Saputra turut menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta didik PKBM Syifa yang telah berhasil menyelesaikan pendidikan mereka. Ia berharap ilmu yang diperoleh selama belajar dapat memberikan manfaat serta menjadi bekal untuk menata masa depan yang lebih baik.

    “Selamat kepada para peserta didik PKBM Syifa yang telah melewati pendidikannya. Semoga ilmu yang mereka dapatkan bisa bermanfaat,” ujarnya.

    Ia juga berharap para lulusan mampu mengembangkan karier sesuai bidang dan potensi masing-masing sehingga dapat terus berkembang dan meraih kesuksesan di masa mendatang. (Sofyan)


    Baca juga: Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha 2026 Punya Nilai Sama, Akademisi UNS: Rela Berkorban demi Bangsa

    Talkshow di RRI Jumat (22/5/2026). Dari kiri: Rizal Fahlevi, Prof. Bani Sujadi, Alif Al-Hilal Ahmad, Rianna Wati.


    Hari Kebangkitan Nasional dan Idul Adha 2026 Punya Nilai Sama, Akademisi UNS: Rela Berkorban demi Bangsa

    Solo - majalahlarise.com - Momentum Hari Kebangkitan Nasional dan Hari Raya Kurban dinilai memiliki kesamaan nilai luhur berupa pengorbanan, persatuan, dan keikhlasan dalam mencapai tujuan bersama. Hal itu mengemuka dalam talkshow budaya bertema “Kebangkitan Nasional dan Hari Raya Kurban” yang digelar di RRI Solo, Jumat (22/5/2026). Diskusi dipandu Rizal Fahlevi dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Bani Sudardi, Alif Al-Hilal Ahmad, dan Rianna Wati.

    Dalam diskusi tersebut, para akademisi menjelaskan Kebangkitan Nasional maupun Hari Raya Kurban sama-sama mengajarkan pentingnya rela berkorban demi cita-cita besar bangsa dan nilai kemanusiaan. Prof. Dr. Bani Sudardi membuka pembahasan dengan menelusuri sejarah panjang peradaban Nusantara sejak abad ke-7.

    “Kita sudah melalui perjalanan yang panjang. Pada abad ke-7, kita sudah memiliki Kerajaan Kalingga, Sriwijaya yang menguasai maritim, Mataram Kuno dengan Candi Borobudur dan Prambanan yang keindahannya sampai sekarang tidak ada tandingannya. Itu kalau boleh saya sebut sebagai kebangkitan awal bangsa-bangsa di Nusantara,” paparnya.

    Menurutnya, semangat kebangkitan tidak lepas dari pengorbanan dan kesadaran kolektif masyarakat. Ia mengaitkan hal tersebut dengan filosofi Jawa “Jer Basuki Mawa Beya” yang berarti setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan.

    “Untuk mencapai basuki, keselamatan, keuntungan, kemerdekaan itu diperlukan biaya. Biaya tidak selalu uang, tetapi juga kesadaran dan kemauan,” jelasnya.

    Prof. Bani juga menghubungkan filosofi tersebut dengan makna Hari Raya Kurban. Menurutnya, kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi simbol kesediaan mengorbankan sesuatu demi tujuan yang benar.

    “Kita tahunya kurban itu menyembelih binatang. Tapi sebenarnya filosofinya adalah rela mengorbankan apa pun untuk mencapai tujuan atau cita-cita yang benar. Momentum Kebangkitan Nasional adalah momentum rela berkorban,” ujarnya.

    Sementara itu, Dosen Sastra Arab FIB UNS, Alif Al-Hilal Ahmad, menjelaskan makna kurban dari sudut pandang bahasa dan tradisi Islam. Ia menyebut kata kurban berasal dari bahasa Arab “qaruba” yang berarti mendekatkan diri kepada Allah SWT.

    “Kurban itu akar katanya dari bahasa Arab qaruba artinya usaha untuk mendekatkan diri. Jadi awal cerita kurban bukan dari Nabi Ibrahim dan Ismail, tapi jauh sebelumnya, dari zaman putra-putrinya Nabi Adam, yaitu Habil dan Qabil,” terang Alif.

    Ia menjelaskan Habil mempersembahkan domba terbaiknya, sedangkan Qabil justru memberikan hasil tanaman yang buruk. Pengorbanan Habil kemudian diterima oleh Allah SWT karena dilakukan dengan ketulusan.

    Alif juga mengulas kisah Nabi Ibrahim AS sebagai simbol pengorbanan tertinggi. “Nabi Ibrahim pernah berkata kepada Allah: ‘Ya Allah, jangankan disuruh menyembelih semua hewan peliharaanku, seumpama Engkau beri saya putra dan Engkau perintahkan menyembelihnya, saya korbankan sebagai bukti bahwa saya benar-benar hamba-Mu.’ Akhirnya Allah memberikan putra bernama Ismail, dan pada usia 11-12 tahun, Allah memerintahkan penyembelihan itu,” tuturnya.

    Pada kesempatan yang sama, Dosen Sastra Indonesia FIB UNS, Rianna Wati, menjelaskan bahasa dan sastra memiliki peran besar dalam perjuangan bangsa Indonesia. Menurutnya, Bahasa Indonesia menjadi alat pemersatu masyarakat dari berbagai daerah.

    “Bahasa Indonesia muncul seiring dengan berdirinya negara kita. Bahasa itulah yang kemudian mempersatukan berbagai wilayah di Indonesia. Sastra sebagai budaya yang menggunakan media bahasa menjadi alat perjuangan dan perlawanan para cendekiawan pada saat itu,” ujar Rianna.

    Ia menambahkan para sastrawan masa perjuangan menggunakan karya sastra sebagai media menyampaikan semangat pengorbanan dan nasionalisme. “Sastrawan tidak seperti tentara yang punya senjata beneran, peluru, pistol. Yang mereka gunakan adalah bahasa. Dan bahasa itulah yang menjadi media sastra puisi, cerpen, cerita rakyat yang menggambarkan betapa para sastrawan memasukkan nilai-nilai perjuangan dan pengorbanan,” jelasnya.


    Penulis: Mutia Hesti Istiqomah

    Dokumentasi: Rezty Putri Ariana Gunarso

    Editor: Sofyan


    Baca juga: Kuliah Lapangan Filologi, Mahasiswa Pelajari Konservasi dan Preservasi Arsip di Monumen Pers Nasional

    Koleksi Mesin Ketik di Monumen Pers Nasional. (Dokumentasi oleh Tiara Putri Maharani)


    Kuliah Lapangan Filologi, Mahasiswa Pelajari Konservasi dan Preservasi Arsip di Monumen Pers Nasional

    Surakarta – majalahlarise.com - Teori tanpa praktik ibarat peta tanpa perjalanan. Mahasiswa Filologi dari Program Studi Sastra Indonesia angkatan tahun 2023, Universitas Sebelas Maret, melakukan kuliah lapangan di Monumen Pers Nasional (Monpres) pada Rabu (20/5/2026).

    Meskipun objek studi Filologi berupa naskah kuno, momentum ini menjadi kesempatan mahasiswa untuk melihat langsung proses konservasi dan preservasi arsip koran lama hingga majalah lama yang dilakukan Monumen Pers Nasional. Ruangan untuk melakukan proses tersebut berada di lantai 3 Monumen Pers Nasional yang terletak di Jalan Gajahmada No.59, Surakarta, Jawa Tengah.

    “Secara teknis, perlakuan konservasi koran dan majalah di sini sama dengan konservasi naskah kuno.” Ujar Asep Yudha Wirajaya, dosen Filologi yang turut mendampingi para mahasiswa. 

    Proses Konservasi Arsip

    Konservasi arsip yang dilakukan Monumen Pers Nasional di antaranya: mending, enkapsulasi, dan pembekuan.

    Pembekuan dilakukan untuk mematikan serangga yang dapat merusak bahan kertas. Sebelum dibekukan, koran lama dimasukkan ke dalam plastik dan dilakukan proses vakum untuk membuang udara pada plastik tersebut. Proses pembekuan berlangsung selama 2 minggu di freezer bersuhu -18°C.

    Selain itu mahasiswa diperlihatkan langsung proses mending, yakni cara memperbaiki bentuk fisik arsip yang rapuh, robek, atau berlubang. Dalam proses ini memerlukan bahan utama berupa tisu jepang dan lem CMC yang dilarutkan dengan air akuades. Setelah proses mending, koran lama dikeringkan dengan cara dianginkan di ruangan tertutup.

    Selanjutnya dilakukan proses enkapsulasi, yakni melapisi kedua sisi koran dengan plastik mylar, sejenis plastik transparan yang bebas dari zat asam. Plastik mylar direkatkan dengan double sided tape khusus yang juga bebas dari zat asam. Perlu ketelitian dan presisi yang tinggi pada proses ini agar hasilnya rapi dan tidak kusut.

    Preservasi Arsip

    Upaya untuk melindungi arsip-arsip pers lama terus dilakukan oleh Monumen Pers Nasional, salah satunya dengan proses digitalisasi. Terdapat 4 meja yang dilengkapi dengan kamera, komputer, alas, pengukur, dan color checker dalam ruang digitalisasi untuk memotret arsip-arsip.

    “Dalam sehari, kami di sini memiliki target untuk mendigitalisasikan sebanyak 500 halaman koran. Prioritasnya koleksi koran yang dari segi fisik sudah rapuh.” Ucap Surya, petugas pemandu dari Monpres yang menemani para mahasiswa.

    Koran-koran lama yang telah dialihmediakan dapat diakses oleh pengunjung di komputer ruang koleksi dan laman resmi Monpres di https://mpn.komdigi.go.id/ secara gratis.

    Selain mempelajari perihal preservasi dan konservasi arsip, para mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk menonton sejarah pers dan pendirian Monpres di Ruang Audio Visual, melihat koleksi-koleksi, dan mengunjungi perpustakaan yang terletak di lantai 2.

    Kegiatan kuliah lapangan ke Monumen Pers Nasional ini menjadi media belajar yang bermakna karena memadukan teori dan pangalaman lapangan. Para mahasiswa tidak hanya memaham teknik konservasi dan preservasi arsip secara konseptual yang didapatkannya di dalam kelas, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana ilmu tersebut diterapkan untuk melestarikan arsip-arsip lama. 


    Penulis: Lutfia Hardiantari

    Dokumentasi: Rezty Putri Ariana Gunarso dan Tiara Putri Maharani


    Baca juga: Prodi Ilmu Administrasi Negara UNISRI Terakreditasi Unggul Jadi Rujukan Benchmarking STIA AAN Yogyakarta




Top