Penutupan sekaligus penyerahan sertifikat Program Intensive English for Graduates (IEG) pada Senin (19/10/2026). 


    Univet Bantara Bekali 30 Calon Wisudawan dengan Program Intensive English for Graduates

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menyelenggarakan penutupan sekaligus penyerahan sertifikat Program Intensive English for Graduates (IEG) pada Senin (19/10/2026). Program ini dirancang untuk membekali calon wisudawan dengan kompetensi bahasa Inggris guna menghadapi dunia kerja dan lingkungan global.

    Program yang dirancang oleh Tim Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Univet Bantara ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan Pembina Pendidikan dan Perguruan (YPPP) Veteran Sukoharjo. Pelatihan dilaksanakan secara intensif dalam delapan kali pertemuan dengan melibatkan 30 peserta dari enam fakultas dan program studi Pascasarjana.

    IEG memadukan materi Formal English untuk mendukung kesiapan karier, seperti wawancara kerja dan presentasi, serta Informal English sebagai bekal komunikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan internasional.

    Sebagai proyek percontohan (pilot project), program ini membatasi jumlah peserta. Tingginya minat pendaftar bahkan membuat pendaftaran ditutup lebih cepat dari perkiraan. Melalui program tersebut, lulusan Univet Bantara diharapkan memiliki kepercayaan diri lebih tinggi serta kemampuan bahasa Inggris yang dapat langsung diterapkan dalam dunia kerja.

    Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas ketekunan peserta yang telah mengikuti rangkaian pelatihan. Menurutnya, persaingan dunia kerja saat ini menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang dapat dibuktikan, tidak hanya mengandalkan ijazah.

    “Sekarang trennya, lulusan tidak cukup hanya menunjukkan ijazah. Di mana pun bekerja, akan ditanyakan kompetensi apa yang menyertai ijazah itu,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, tuntutan pasar kerja, dunia industri, dan dunia usaha menjadi salah satu alasan Univet Bantara menghadirkan program IEG. Kemampuan bahasa Inggris diharapkan menjadi nilai tambah bagi lulusan ketika memasuki dunia profesional maupun membangun jejaring internasional.

    Prof. Farida juga menyampaikan terima kasih kepada YPPP Veteran Sukoharjo yang telah mendanai seluruh kegiatan tersebut. Dukungan yayasan menjadi bagian penting karena program IEG tidak termasuk dalam anggaran operasional rutin kampus.

    Ke depan, Univet Bantara berupaya mengembangkan layanan sertifikasi kompetensi bahasa Inggris berlisensi dan diakui secara nasional sebagai pendamping ijazah. Tim persiapan telah dibentuk dan rencana tersebut akan ditindaklanjuti setelah pelaksanaan wisuda, termasuk melalui pendirian lembaga penyelenggara sertifikasi profesi.

    “Namun, ilmu jauh lebih penting daripada sekadar pengakuan di atas sertifikat,” tegasnya.

    Rektor juga mengungkapkan kebanggaannya karena peserta IEG berasal dari latar belakang usia dan profesi yang beragam. Selain mahasiswa muda, terdapat peserta Pascasarjana yang telah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan kepala sekolah, tetapi tetap memiliki semangat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

    Menurut Prof. Farida, penguasaan bahasa Inggris menjadi kebutuhan penting untuk memperluas komunikasi dan membangun hubungan di tingkat internasional. Meski demikian, kemampuan berbahasa asing perlu berjalan beriringan dengan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia yang telah mendapat pengakuan sebagai bahasa internasional.

    Ia turut mengapresiasi Ketua Unit Bahasa dan para dosen pengampu yang telah mempersiapkan serta mendampingi peserta selama pelatihan. Farida berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para calon wisudawan untuk terus mengembangkan diri dan berani mengambil peluang.

    “Kalau terlambat, rezekinya sudah diambil orang. Hidup selalu berisiko, jadi kita harus mencari keseimbangan,” tegasnya.

    Sementara itu, Ketua Pembina YPPP Veteran Sukoharjo, Drs. Bambang Margono, M.M., berharap Univet Bantara dapat segera memiliki lembaga sertifikasi kompetensi. Dengan demikian, lulusan tidak hanya membawa ijazah sebagai bukti penyelesaian pendidikan, tetapi juga memiliki dokumen pendukung yang menunjukkan kemampuan profesionalnya.

    Bambang menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan program IEG. Ia mengingatkan agar penutupan pelatihan tidak menjadi akhir dari proses belajar, melainkan titik awal untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan kerja.

    “Ini adalah awal untuk menentukan arah. Kita harus punya kemauan untuk membangun kemampuan,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi akan membantu lulusan menunjukkan kualitas dirinya ketika memasuki dunia kerja. Kemampuan yang dimiliki diharapkan dapat menjadi pembeda sekaligus meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan industri terhadap lulusan Univet Bantara.

    Melalui program IEG, Univet Bantara bersama YPPP Veteran Sukoharjo berupaya memperkuat kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan dunia profesional yang terus berkembang. Penguasaan bahasa Inggris, kepercayaan diri, serta kemauan meningkatkan kompetensi diharapkan menjadi modal bagi para lulusan untuk memperluas peluang karier dan membangun jejaring di tingkat nasional maupun internasional. (Sofyan)


    Baca juga: Masjid Makmur, Kerja Jadi Berkah: RRI Surakarta Gelar Pengajian Syukuran Renovasi Masjid As-Syiar

    Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, menyampaikan pentingnya menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar untuk meraih keberkahan hidup.


    Masjid Makmur, Kerja Jadi Berkah: RRI Surakarta Gelar Pengajian Syukuran Renovasi Masjid As-Syiar

    Solo - majalahlarise.com – Masjid As-Syiar Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta menggelar pengajian dalam rangka tasyakuran selesainya renovasi masjid, Kamis (22/10/2026). Kegiatan bertema “Memakmurkan Masjid, Meningkatkan Kinerja, Meraih Keberkahan RRI Surakarta” ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai spiritual, kebersamaan, dan semangat pengabdian di lingkungan kerja.

    Pengajian tersebut juga bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kegiatan ini dihadiri Kepala LPP RRI Surakarta sekaligus Pembina Masjid As-Syiar, Iwan Martono, Kepala Bagian Tata Usaha Dian Margawati, para ketua tim, pengelola, pegawai RRI Surakarta, peserta magang, serta warga Kestalan.

    Hadir sebagai penceramah, Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, menyampaikan pentingnya menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar untuk meraih keberkahan hidup.

    Menurutnya, keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya harta atau tingginya penghasilan. Keberkahan juga tercermin dari bertambahnya kebaikan dalam diri, keluarga, lingkungan kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.

    “Masjid bukan sekadar tempat bersujud, tetapi juga tempat menumbuhkan kejujuran, kedisiplinan, dan semangat pengabdian. Renovasi masjid hendaknya tidak hanya memperindah bangunan, tetapi juga memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kualitas kinerja,” ujar Dwi Jatmiko.

    Ia menjelaskan, pekerjaan dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang ikhlas, dilaksanakan secara profesional, serta memberikan manfaat bagi orang lain. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam setiap tugas dan tanggung jawab, termasuk dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

    “Ketika pekerjaan dilandasi niat yang ikhlas, dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan manfaat bagi sesama, insyaallah akan menghadirkan keberkahan. Mari memakmurkan Masjid As-Syiar, meningkatkan kinerja, dan menjadikan RRI Surakarta sebagai lingkungan kerja yang amanah, profesional, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” tuturnya.

    Dwi Jatmiko juga mengajak seluruh keluarga besar RRI Surakarta menjadikan masjid sebagai ruang untuk memperkuat keimanan sekaligus membangun karakter positif dalam kehidupan sehari-hari. Semangat beribadah, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan komitmen memberikan pelayanan terbaik.

    Selesainya renovasi Masjid As-Syiar diharapkan tidak hanya menghadirkan kenyamanan dalam beribadah, tetapi juga memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembinaan akhlak dan penguatan silaturahmi. Masjid diharapkan menjadi tempat tumbuhnya karakter yang peduli terhadap agama, sesama manusia, sistem kerja, dan lingkungan.

    Momentum tasyakuran ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga dan memakmurkan masjid setelah renovasi selesai. Kemakmuran masjid tidak hanya diwujudkan melalui kondisi bangunan yang terawat, tetapi juga melalui kegiatan ibadah, pengajian, pembinaan akhlak, serta keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas positif.

    Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Hari Santri Nasional 2026, yakni memperkuat kontribusi umat dalam membangun bangsa. Semangat keagamaan diharapkan menjadi landasan untuk melahirkan pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, keluarga besar RRI Surakarta diharapkan semakin memperkuat hubungan antara nilai spiritual dan profesionalisme kerja. Dengan masjid yang makmur serta lingkungan kerja yang berlandaskan keimanan, kejujuran, dan tanggung jawab, setiap pekerjaan diharapkan menjadi ladang ibadah yang membawa manfaat bagi masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship


    Pembekalan Kontingen Mahrojan Penghela Kwarda HW Boyolali Berlaga di Pemalang

    BOYOLALI - majalahlarise.com – Kwartir Daerah (Kwarda) Hizbul Wathan (HW) Boyolali melepas kontingen Mahrojan Penghela di Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMU) Manafi’ul ‘Ulum, Sambi, Kamis (22/10/2026). Sebanyak 20 peserta didampingi tiga pendamping diberangkatkan untuk mengikuti ajang Mahrojan Penghela di Pemalang pada 23–25 Oktober 2026.

    Pelepasan kontingen dipimpin langsung Ketua Kwarda HW Boyolali, Ustaz Mustamik. Sebelum berangkat, para peserta mendapatkan tausyiah sekaligus pembekalan dari Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum, Ustaz Pujiono, sebagai bekal spiritual dan mental dalam mengikuti kegiatan kepanduan tersebut.

    Dalam pembekalannya, Ustaz Pujiono mengingatkan para peserta agar meluruskan niat, menjaga kedisiplinan, memperkuat persaudaraan, serta senantiasa membawa nama baik daerah dan organisasi selama mengikuti kegiatan di Pemalang.

    Ia mengajak seluruh peserta memaknai keberangkatan tersebut sebagai bagian dari perjuangan yang membutuhkan kesiapan, kesungguhan, dan pengorbanan. Menurutnya, keikutsertaan dalam Mahrojan Penghela tidak sekadar berorientasi pada perlombaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membentuk karakter dan mengamalkan nilai-nilai kepanduan Hizbul Wathan.

    Pembekalan tersebut berlandaskan firman Allah Swt. dalam QS. At-Taubah ayat 41:

    “Infirū khifāfan wa tsiqālan wa jāhidū bi-amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh.”

    Artinya, “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.”

    Ayat tersebut menjadi pengingat bagi para peserta untuk mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Semangat perjuangan hendaknya diwujudkan melalui sikap tangguh, mandiri, disiplin, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi sportivitas.

    Melalui pesan tersebut, kontingen HW Boyolali diharapkan mampu menunjukkan identitas sebagai Pandu Hizbul Wathan yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki adab, tanggung jawab, dan semangat persaudaraan. Sikap tersebut menjadi bekal penting ketika berinteraksi dengan peserta dari daerah lain selama kegiatan berlangsung.

    Rangkaian pelepasan ditutup dengan doa yang dipimpin Ustaz Shodiq, pengasuh PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum. Doa dipanjatkan untuk memohon kelancaran perjalanan, keselamatan seluruh rombongan, serta keberkahan selama mengikuti Mahrojan Penghela di Pemalang.

    Sebelum keberangkatan, rombongan juga memohon doa restu Ramada Bunda agar perjalanan dan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, aman, dan selamat hingga kembali ke Boyolali.

    Keberangkatan kontingen ini menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat berkemajuan di kalangan Pandu Hizbul Wathan. Selain membawa harapan untuk meraih prestasi, para peserta diharapkan mampu menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai kepanduan, mempererat persaudaraan, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

    Dengan semangat “Berjuang dengan iman, melangkah dengan adab, pulang membawa manfaat”, kontingen Mahrojan Penghela Kwarda HW Boyolali bertolak menuju Pemalang dengan harapan dapat mengikuti kegiatan secara optimal dan membawa nama baik daerah serta organisasi.

    Bismillah, perjalanan menuju Pemalang. Semoga seluruh kontingen diberikan keselamatan, kelancaran, dan keberkahan dalam setiap langkah perjuangan. (Sofyan)


    Baca juga: PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship

    Wira meraih medali emas KSNR tingkat nasional di Bogor, Minggu (18/10/2026).


    Prestasi Gemilang! Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Raih Tiga Gelar Juara Olimpiade IPA

    Solo - majalahlarise.com - Prestasi membanggakan ditorehkan Muhammad Wira Adinegara, siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, ia berhasil meraih tiga gelar juara dalam kompetisi sains, yakni medali emas Olimpiade IPA tingkat Kota Surakarta, medali emas Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) tingkat nasional, dan juara III Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Provinsi Jawa Tengah.

    Medali emas Olimpiade IPA diraih Wira dalam kejuaraan Ikatan Kepala Sekolah Swasta (IKSS) tingkat Kota Surakarta yang berlangsung di Sahid Jaya Solo, Selasa (20/10/2026). Sebelumnya, ia meraih medali emas KSNR tingkat nasional di Bogor, Minggu (18/10/2026). Sementara itu, juara III bidang IPA OMI (Olimpiade Madrasah Indonesia) tingkat Provinsi Jawa Tengah diraihnya pada Sabtu (10/10/2026).

    Wira mengakui sederet prestasi tersebut menjadi bukti atas janji yang pernah ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Ia menekuni olimpiade IPA bermula ketika duduk di kelas III sekolah dasar. Saat itu, ia mengikuti kompetisi hingga tingkat provinsi, tetapi belum berhasil meraih kemenangan. Pengalaman tersebut justru menjadi pemicu semangatnya untuk belajar lebih giat. Ketika duduk di kelas IV, Wira kembali mengikuti olimpiade IPA dan berhasil meraih medali emas tingkat nasional. “Awalnya saya merasa tertantang. Setelah mengikuti lomba IPA, saya merasa menemukan passion di bidang ini,” ungkapnya.

    Ketertarikan Wira terhadap IPA tumbuh melalui dukungan guru dan kedua orang tuanya. Ia mengaku semakin menyukai pelajaran tersebut karena dapat menggunakan penalaran untuk memahami berbagai fenomena alam. Baginya, menemukan jawaban atas persoalan sains memberikan kepuasan tersendiri. Sejak kecil, Wira juga gemar melakukan eksperimen sederhana di rumah, salah satunya membuat simulasi gunung meletus. Kedua orang tuanya turut mendukung minat tersebut dengan menyediakan buku-buku dan berbagai sumber belajar.

    Medali emas Olimpiade IPA diraih Wira dalam kejuaraan Ikatan Kepala Sekolah Swasta (IKSS) tingkat Kota Surakarta yang berlangsung di Sahid Jaya Solo, Selasa (20/10/2026).


    Untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade, Wira membiasakan diri belajar secara konsisten sekitar tiga jam sehari khusus untuk materi IPA. Ia juga memiliki strategi berbeda dalam mempelajari setiap cabang ilmu. Untuk materi biologi, ia mencatat kembali materi baru dan mengulanginya. Pada materi fisika, ia memperkuat pemahaman konsep dasar, perhitungan, rumus, dan simbol. Sementara itu, materi kimia dipelajarinya melalui eksperimen langsung atau melalui aplikasi daring.

    Selain belajar mandiri, Wira aktif mencari informasi dari sumber resmi di internet dan membaca ensiklopedia sains. Ia juga mengoleksi buku-buku IPA untuk memperluas pengetahuannya. Menurut Wira, setiap kompetisi memiliki tantangan tersendiri. Dalam KSNR tingkat nasional, misalnya, peserta harus menyelesaikan 32 soal dalam waktu 90 menit. Kompetisi tersebut melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi dan menalar berbagai fenomena. Tantangan berbeda dihadapinya ketika mengikuti OMI tingkat Provinsi Jawa Tengah. Soal yang menggunakan bahasa Arab menuntutnya mempelajari kosakata baru agar dapat memahami pertanyaan dengan baik. 

    Ke depan, Wira menargetkan untuk mengikuti Junior Science Technology Olympiad (JSTO), International Kangaroo Science Competition (IKSC), dan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Ia ingin terus meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas pengalaman berkompetisi di bidang sains. Di balik pencapaian akademiknya, Wira tetap menempatkan keluarga dan ibadah sebagai prioritas. Ia bercita-cita menjadi dokter dan berharap prestasinya dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

    Ayahnya, Sugiyoto, juga memberikan pesan agar Wira mampu menyikapi setiap hasil perlombaan dengan bijak. “Kalah menang dihadapi dan harus melihat ke depan dengan optimistis. Tingkatkan ibadah kepada Allah,” demikian pesan yang menjadi pegangan Wira dalam menjalani proses belajarnya.

    Kepala Sekolah, Muhdiyatmoko, M.Pd. juga mengapresiasi prestasi yang diraih oleh Wira. Ia berpesan agar Wisa terus konsisten dalam belajar dan meriah prestasi. Harapannya prestasi tersebut mampu memotivasi siswa lain untuk belajar dan terus berprestasi. (Sofyan)


    Baca juga: PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship

    Narasumber Arif Priyanto, S.Pd.I., MCP dan Fahrudin, S.Pd., M.Pd., serta dipandu Mochammad Alwi, S.S., M.M.


    PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship

    SURAKARTA - majalahlarise.com – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Syifa Surakarta yang beralamat di Jl. Jamsaren No. 44 Serengan Surakarta mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda melalui workshop bertajuk Prophetic Entrepreneurship. Kegiatan yang digelar di Hotel Sahid Jaya, Solo, Rabu (21/10/2026), 

    Mengusung tema “Membentuk Pemimpin Muda yang Mandiri dan Berakhlak Mulia”, kegiatan ini menghadirkan narasumber Arif Priyanto, S.Pd.I., MCP dan Fahrudin, S.Pd., M.Pd., serta dipandu Mochammad Alwi, S.S., M.M. Materi yang disampaikan menggabungkan pembelajaran kewirausahaan, pengembangan karakter, kepemimpinan, dan pemanfaatan teknologi untuk membangun usaha.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan membekali siswa dengan kemampuan kewirausahaan agar tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi.


    “Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademis, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha. Mereka bisa mulai belajar berbisnis dari hal-hal sederhana, meskipun belum memiliki pengalaman atau kemampuan berwirausaha sebelumnya,” jelasnya.

    Menurut Puri, pengembangan kewirausahaan siswa dapat dimulai dari minat dan hobi masing-masing. Potensi yang dimiliki siswa perlu dikenali dan diarahkan agar dapat berkembang menjadi peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi.

    PKBM Syifa Surakarta juga berkomitmen memberikan pendampingan agar siswa dapat mengembangkan gagasan bisnis secara bertahap. Dengan demikian, pembelajaran yang diperoleh dalam workshop tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Narasumber Arif Priyanto menjelaskan, konsep Prophetic Entrepreneurship mengajarkan kewirausahaan dengan meneladani sifat-sifat Rasulullah. Empat sifat tersebut meliputi siddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, serta fathanah atau cerdas.

    Menurut Arif, nilai-nilai tersebut perlu menjadi fondasi bagi generasi muda ketika mulai membangun dan menjalankan usaha. Keberhasilan dalam berwirausaha tidak semata-mata diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari integritas, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.

    “Anak-anak perlu belajar berwirausaha agar menjadi pribadi yang mandiri. Dalam menjalankan usaha, mereka harus meneladani sifat Rasulullah, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Dengan nilai-nilai tersebut, usaha yang dibangun diharapkan tidak hanya memberikan keberhasilan di dunia, tetapi juga membawa kebaikan untuk akhirat,” jelas Arif.

    Ia berharap pembekalan tersebut dapat mendorong siswa berani memulai usaha dan menerapkan ilmu yang diperoleh. Menurutnya, keberanian untuk mencoba menjadi bagian penting dalam proses belajar kewirausahaan.

    Arif juga mengingatkan perkembangan era digital telah membuka peluang usaha yang semakin luas. Generasi muda dapat memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk, menjangkau konsumen, serta mengembangkan bisnis tanpa harus selalu memiliki modal besar atau tempat usaha fisik.

    Karena itu, siswa didorong untuk segera mengambil langkah nyata sesuai kemampuan masing-masing. Pengalaman yang diperoleh sejak dini akan menjadi bekal untuk mengenali kebutuhan pasar, memahami karakter konsumen, dan meningkatkan keterampilan mengelola usaha.

    Sementara itu, Fahrudin menjelaskan generasi muda saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kondisi tersebut menuntut anak muda untuk mempersiapkan diri, baik dari sisi spiritual, psikologis, karakter, maupun keterampilan.

    Menurutnya, kedekatan dengan Allah, pembentukan karakter, peningkatan kompetensi, serta kejelasan tujuan hidup menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan masa depan.

    Fahrudin mengajak siswa menyusun target kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Perencanaan dapat dimulai dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam satu, dua, hingga tiga tahun ke depan. Target tersebut menjadi panduan agar generasi muda memiliki arah yang jelas dalam mengembangkan potensi dan meraih cita-cita.

    Ia juga menyoroti pentingnya keberanian mengambil tindakan atau take action. Menurutnya, keinginan untuk sukses harus disertai langkah nyata, bukan sekadar menjadi angan-angan atau berhenti pada perkataan.

    “Mulailah dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan mulai sekarang. Jangan hanya memiliki keinginan untuk sukses, tetapi tidak berani memulai. Kita harus berani mengambil tindakan karena dari proses tersebut kita bisa belajar,” jelas Fahrudin.

    Ia menambahkan, keraguan dalam memulai sesuatu sering muncul karena kurangnya keyakinan diri, pengetahuan, atau pengalaman. Oleh sebab itu, generasi muda perlu terus belajar, memperluas wawasan, dan berani mencoba hal-hal baru.

    Menurut Fahrudin, kesalahan dalam proses belajar dapat dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki langkah berikutnya. Sementara itu, keputusan yang tepat dan disertai tindakan konsisten dapat membuka jalan menuju keberhasilan.

    Fahrudin menilai pembekalan kewirausahaan dan kepemimpinan memiliki peran penting dalam membuka wawasan serta mengarahkan potensi generasi muda. Setiap anak memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan, tetapi potensi tersebut memerlukan dukungan, fasilitas, dan pendampingan yang tepat.

    Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengenali kekuatan diri, mengembangkan keterampilan, membangun karakter positif, serta meningkatkan keberanian dalam mengambil keputusan.

    Pembelajaran kewirausahaan juga diharapkan menjadi sarana bagi siswa untuk melatih kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan persoalan. Bekal tersebut tidak hanya berguna ketika membangun bisnis, tetapi juga dalam menghadapi tantangan kehidupan dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

    “Anak-anak memiliki potensi yang besar. Potensi itu perlu digali, diarahkan, difasilitasi, dan didorong melalui pendampingan yang tepat. Dengan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan keberanian bertindak, mereka diharapkan mampu meraih kesuksesan serta memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

    Workshop Prophetic Entrepreneurship yang diselenggarakan PKBM Syifa Surakarta ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga berani berwirausaha, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

    Melalui perpaduan keterampilan bisnis, pemanfaatan teknologi, pembentukan karakter, dan keteladanan Rasulullah, siswa diharapkan mampu mengembangkan usaha sesuai minat dan potensinya serta tumbuh menjadi generasi yang produktif dan berakhlak mulia. (Sofyan)


    Baca juga: DKV ACT 12 Angkat Tema Sinambung, Kenalkan Seni Tradisi melalui Wiyata Njawani di Banjarsari Solo



    PMI Kota Surakarta Gelar Emergency Drilling di TKIU Al Khoir, Kenalkan Edukasi Kebencanaan Sejak Dini

    Surakarta - majalahlarise.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta menggelar kegiatan emergency drilling di Taman Kanak-Kanak Islam Unggulan (TKIU) Al Khoir Surakarta, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini bertujuan mengenalkan edukasi kebencanaan kepada anak-anak sejak usia dini melalui simulasi dan praktik sederhana yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan.

    Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mendapatkan pembelajaran mengenai langkah-langkah dasar menghadapi bencana gempa bumi, banjir, dan kebakaran. Mereka juga diperkenalkan dengan cara memadamkan api serta fungsi dan peran ambulans PMI Kota Surakarta dalam memberikan pelayanan kemanusiaan.

    Sebanyak 168 anak mengikuti kegiatan ini. Peserta terdiri atas kelompok penitipan anak, kelompok bermain, TK A, dan TK B. Melalui simulasi tersebut, anak-anak diajak mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar sekaligus memahami tindakan dasar yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan diri ketika menghadapi situasi darurat.

    Kepala Sekolah TKIU Al Khoir Surakarta, Arumi Martyastuti, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan edukasi kebencanaan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi anak-anak, terutama dalam memahami keselamatan diri dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

    “Harapannya, semoga PMI Kota Surakarta bisa memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat, terutama dalam bidang edukasi. Semoga juga bisa terjalin kerja sama kembali antara PMI Kota Surakarta dengan TKIU Al Khoir untuk pelatihan P3K dan dokter kecil,” ungkap Arumi Martyastuti.

    Arumi berharap, kolaborasi antara PMI Kota Surakarta dan TKIU Al Khoir dapat terus berlanjut melalui program edukasi lainnya. Pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan dokter kecil menjadi salah satu bentuk kerja sama yang diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya menjaga kesehatan, menolong sesama, dan menerapkan perilaku aman dalam kehidupan sehari-hari.

    Edukasi kebencanaan sejak dini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran keselamatan di lingkungan pendidikan. Melalui metode simulasi dan praktik langsung, anak-anak dapat belajar mengenali situasi berbahaya serta memahami respons sederhana yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.

    Selain memberikan pengetahuan, kegiatan emergency drilling juga menjadi sarana untuk membiasakan anak-anak mengikuti arahan ketika menghadapi keadaan darurat. Pendampingan guru dan petugas menjadi bagian penting agar proses pembelajaran berlangsung aman, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

    Melalui kegiatan ini, PMI Kota Surakarta terus mendorong pengenalan kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan diri dan lingkungan sekaligus membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.

    Kerja sama antara PMI dan sekolah menjadi langkah untuk memperluas jangkauan pendidikan kebencanaan di masyarakat. Dengan pembelajaran yang berkelanjutan dan sesuai tahap perkembangan anak, pengetahuan dasar mengenai keselamatan diharapkan dapat menjadi bekal dalam menghadapi berbagai situasi darurat.(Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani dan Abdul Mu’ti Perkuat Sinergi Pendidikan dalam Rakernas VI Dewan Pendidikan 2026

    Prosesi wisudaPoliteknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surakarta. 

    Poltekkes Kemenkes Surakarta Wisuda 1.790 Lulusan, 98 Persen Raih IPK di Atas 3,51

    SURAKARTA - majalahlarise.com – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surakarta mewisuda 1.790 lulusan program Diploma III, Sarjana Terapan, dan Profesi Kesehatan dalam Sidang Terbuka Senat Wisuda Periode II Tahun 2026 di Gedung Edutorium KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (21/10/2026).

    Wisuda tersebut diikuti 365 lulusan profesi, 550 lulusan Sarjana Terapan, dan 875 lulusan Diploma III dari 20 program studi. Capaian akademik para lulusan terbilang membanggakan. Sebanyak 98 persen lulusan meraih IPK di atas 3,51 dengan predikat cumlaude. IPK tertinggi mencapai 4,00, sedangkan tingkat kelulusan tepat waktu tercatat sebesar 98,78 persen.

    Direktur Poltekkes Kemenkes Surakarta, Sudiro, S.Kp., Ners., M.Pd., menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar menjadikan kelulusan sebagai awal perjalanan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

    “Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal pengabdian untuk memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, beretika, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Teruslah belajar, tingkatkan kompetensi, junjung tinggi etika profesi, dan jagalah nama baik almamater,” pesannya.

    Menurut Sudiro, keberhasilan menyelesaikan pendidikan perlu diikuti dengan komitmen untuk terus mengembangkan kemampuan, menjaga integritas, serta menjalankan tanggung jawab sesuai standar profesi. Para lulusan bidang kesehatan diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang kompeten, humanis, dan mengutamakan keselamatan pasien.

    Saat ini, Poltekkes Kemenkes Surakarta memiliki 10 jurusan dengan 20 program studi. Berdasarkan Keputusan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT Nomor 93/SK/BAN-PT/Ak/PT/IV/2026, institusi pendidikan kesehatan tersebut meraih akreditasi Unggul.

    Capaian itu diperkuat dengan akreditasi program studi. Sebanyak 17 program studi atau 85 persen telah memperoleh akreditasi Unggul, sedangkan tiga program studi lainnya mendapatkan akreditasi Baik atau Baik Sekali.

    Prestasi tersebut menjadi gambaran upaya institusi dalam menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kompetensi lulusan, serta memperkuat kualitas penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. Dukungan tenaga pendidik juga menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan akademik. Poltekkes Kemenkes Surakarta memiliki 37 dosen bergelar doktor dan satu guru besar.

    Selain berfokus pada pendidikan, institusi ini aktif menjalankan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah kegiatan yang dikembangkan mencakup penelitian HIV/AIDS dan tuberkulosis (TBC), kolaborasi penelitian bersama Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta program penurunan stunting dan edukasi kesehatan.

    Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan. Melalui penelitian dan pengabdian masyarakat, hasil pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

    Poltekkes Kemenkes Surakarta juga mencatat berbagai prestasi dalam tata kelola kelembagaan dan kemahasiswaan. Sejumlah mahasiswa berhasil menorehkan capaian dalam berbagai ajang, termasuk kompetisi Mahasiswa Berprestasi tingkat nasional.

    Di bidang pengembangan karier, institusi ini turut mencetak lulusan yang mampu bersaing di tingkat internasional. Hingga 2026, sebanyak 58 alumni Poltekkes Kemenkes Surakarta telah berkarier di luar negeri, antara lain di Jepang, Jerman, Belanda, Australia, dan Arab Saudi.

    Capaian tersebut menunjukkan terbukanya peluang bagi lulusan pendidikan kesehatan untuk mengembangkan karier di berbagai negara. Kompetensi profesional, penguasaan keterampilan, kemampuan beradaptasi, dan kepatuhan terhadap standar pelayanan kesehatan menjadi bekal penting dalam menghadapi persaingan dunia kerja.

    Wisuda Periode II Tahun 2026 ini sekaligus menjadi momentum bagi Poltekkes Kemenkes Surakarta untuk memperkuat komitmen dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan berintegritas.

    Para lulusan diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan karier, tetapi juga menjunjung tinggi etika profesi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan, mereka diharapkan ikut meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. (Udin/ Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani dan Abdul Mu’ti Perkuat Sinergi Pendidikan dalam Rakernas VI Dewan Pendidikan 2026

⬆
Top