Mahasiswa HI UNISRI saat mengikuti Kuliah Kunjungan Institusi (KKI) di Malaysia.

    Kunjungan Institusi HI UNISRI 2026 ke Malaysia, Mahasiswa Belajar Diplomasi Langsung di KBRI Kuala Lumpur dan IDFR

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, menyelenggarakan Kuliah Kunjungan Institusi (KKI) di Malaysia pada 11–15 Oktober 2026. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari praktik diplomasi dan hubungan internasional secara langsung melalui kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dan Institute of Diplomacy and Foreign Relations (IDFR) Malaysia.

    Kegiatan yang menjadi bagian dari kurikulum wajib FISIP UNISRI tersebut diikuti 30 mahasiswa, termasuk dua mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNISRI. Rombongan didampingi dua dosen, Agung Yudhistira Nugraha, M.A. dan Qonitah Rohmadiena, M.A., yang juga berperan sebagai Pembimbing Akademik (PA) mahasiswa serta Kepala Laboratorium HI UNISRI.

    Kunjungan ini dirancang untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa melalui pengalaman belajar di lingkungan institusi yang berkaitan langsung dengan bidang ilmu hubungan internasional. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan teori di ruang kuliah, tetapi juga mengenal pelaksanaan diplomasi, pengelolaan hubungan luar negeri, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang diplomatik.

    Dalam kunjungan ke KBRI Kuala Lumpur, rombongan UNISRI diterima langsung oleh Atase Pendidikan. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat tugas dan fungsi perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk perlindungan warga negara Indonesia (WNI) serta peran diplomasi dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia.

    Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kompleksitas tugas perwakilan diplomatik Indonesia. Keberadaan KBRI tidak hanya berkaitan dengan komunikasi resmi antarpemerintah, tetapi juga mencakup pelayanan dan perlindungan WNI serta upaya mempererat hubungan Indonesia dengan negara tempat perwakilan bertugas.

    Pengalaman ini memberikan konteks nyata bagi mahasiswa dalam memahami peran diplomasi sebagai instrumen penting dalam menjaga kepentingan nasional, membangun kerja sama, dan menyelesaikan berbagai persoalan lintas negara.

    Rangkaian KKI berlanjut dengan kunjungan ke Institute of Diplomacy and Foreign Relations (IDFR) Malaysia. Rombongan UNISRI diterima tiga narasumber, yakni YBhg. Dato’ Rus Shazila Osman selaku Acting Director General IDFR; Dato’ Dr. Mohammad Rameez Yahaya selaku Director of the Competency Enhancement Centre (CEC), IDFR; serta Mr. Haris Syarwani Razali selaku Senior Principal Director, Management Services Division, IDFR.

    Dalam sesi bersama para narasumber, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai pendidikan diplomatik, peningkatan kompetensi, serta praktik hubungan luar negeri Malaysia. Pertemuan tersebut juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perkembangan dan tantangan diplomasi internasional.

    IDFR sebagai institusi yang berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan kompetensi diplomatik memberikan perspektif mengenai proses pembelajaran yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas diplomasi. Materi yang diperoleh menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memahami hubungan antara penguasaan teori, keterampilan profesional, dan kemampuan beradaptasi dengan dinamika global.

    Kuliah Kunjungan Institusi di Malaysia ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa HI UNISRI untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan praktik di lapangan. Pengalaman mengunjungi KBRI Kuala Lumpur dan IDFR Malaysia memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai peran institusi negara dalam menjalankan hubungan luar negeri, melindungi kepentingan nasional, serta membangun kerja sama antarnegara.

    Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut memberikan pengalaman akademik internasional yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan cara pandang lebih luas terhadap isu-isu global. Pemahaman mengenai diplomasi juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi peluang dan tantangan karier di bidang hubungan internasional.

    Melalui kegiatan ini, Prodi HI FISIP UNISRI terus mendorong proses pembelajaran yang berorientasi internasional dan tidak terbatas pada kegiatan di ruang kelas. Kunjungan institusi di luar negeri menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman langsung di lingkungan profesional.

    KKI di Malaysia diharapkan dapat memperkuat wawasan global mahasiswa, meningkatkan pemahaman mengenai praktik diplomasi, serta mendukung pengembangan kompetensi yang dibutuhkan dalam bidang hubungan internasional. Dengan pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan semakin siap memahami dinamika global dan berkontribusi dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan diplomasi serta hubungan antarnegara. (Sofyan)


    Baca juga: Bangun Generasi Qur’ani dan Berkemajuan, SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Baitul Arqam Sarat Makna

    Murid kelas III, IV, dan V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Baitul Arqam.


    Bangun Generasi Qur’ani dan Berkemajuan, SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Baitul Arqam Sarat Makna

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Sebanyak 229 murid kelas III, IV, dan V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Baitul Arqam selama dua hari, Kamis–Jumat (15–16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi sarana penguatan ideologi Islam, pembentukan karakter Qur’ani, serta penanaman nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan sejak usia dini.

    Mengusung tema “Menghidupkan Ideologi Muhammadiyah dan Meneladani Tokoh untuk Pendidikan Berkemajuan di Era Disrupsi”, kegiatan ini dirancang untuk membekali murid dengan fondasi spiritual dan ideologis yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman. Melalui berbagai sesi pembinaan, murid diajak memahami nilai-nilai Islam, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

    Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat, Nursalam, menjelaskan Baitul Arqam bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang memberikan pengalaman bermakna bagi murid.

    “Program ini merupakan sarana strategis untuk melatih kemandirian para murid, menjadi momentum berharga untuk bermuhasabah diri, sekaligus memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan kaidah tajwid yang benar,” ujar Nursalam dalam sambutan pembukaan.

    Untuk memaksimalkan penyampaian materi sesuai dengan perkembangan usia peserta, kegiatan dibagi menjadi dua lokasi. Murid kelas III mengikuti rangkaian kegiatan di Ruang Haji Isa, gedung selatan. Sementara itu, murid kelas IV dan V menempati Ruang Muhtadi di gedung utara.

    Pada kelompok kelas III, sesi materi diawali oleh Kak Junianto atau yang akrab disapa Kak Jun. Ia mengajak murid memahami empat pilar kekuatan yang perlu dimiliki seorang anak saleh, meliputi kekuatan fisik, penguasaan ilmu pengetahuan, kemapanan harta, serta keteguhan iman dan akhlak.

    Kak Jun juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang. Merujuk hadis riwayat Bukhari, ia menjelaskan dua kenikmatan tersebut kerap dilalaikan manusia. Karena itu, murid diajak menggunakan waktu pada masa pertumbuhan untuk belajar, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan positif yang mendekatkan diri kepada Allah Swt.

    Materi berikutnya disampaikan Kak Ilham dengan pembahasan mengenai pentingnya mendirikan salat secara khusyuk serta membangun kebiasaan membaca dan mencintai Al-Qur’an. Melalui pembinaan ini, murid diharapkan tidak hanya mengenal Al-Qur’an sebagai kitab suci, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam bersikap dan menjalani kehidupan sehari-hari.

    Setiap sesi materi ditutup dengan pengisian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk mengukur pemahaman sekaligus menjadi sarana refleksi mandiri. Suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi tanya jawab dan pembagian *doorprize* kepada murid yang aktif serta menunjukkan antusiasme selama pembelajaran.

    Sementara itu, murid kelas IV dan V memperoleh pembinaan bersama Tim Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LTQ) An-Nashru Solo. Dalam sesi tersebut, murid diperkenalkan dengan pola dasar seni membaca Al-Qur’an, khususnya lagu Nahawand.

    Tim LTQ An-Nashru Solo membimbing murid mempelajari tiga variasi pola nada, yakni tinggi-rendah, tinggi-sedang-rendah, serta tinggi-rendah-angkat tinggi-rendah. Murid kemudian mendapat kesempatan mempraktikkan pola nada tersebut di depan teman-temannya. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang mendorong keberanian, kepercayaan diri, sekaligus ketertarikan murid terhadap seni membaca Al-Qur’an.

    Rangkaian pembinaan di gedung utara dilanjutkan oleh Kak Anas yang membawakan materi tentang kiat menjadi Muslim yang baik di era modern. Ia mengajak murid meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

    Selain ketakwaan, murid diajak membentuk akhlak mulia, membiasakan diri berbuat baik kepada teman, serta menghindari segala bentuk perundungan (*bullying*), baik melalui perkataan maupun tindakan. Murid juga didorong membangun kebiasaan beribadah sebagai bagian dari pembentukan karakter Muslim yang beriman dan bertanggung jawab.

    Salah satu murid kelas III, Kalani Lentera Insani, mengaku antusias mengikuti Baitul Arqam karena menjadi pengalaman pertamanya dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya ketika kelompoknya berhasil meraih juara pertama.

    “Alhamdulillah, kelompokku terpilih menjadi juara 1. Sistem penilaian dimulai dari kedatangan peserta, ketertiban melaksanakan ibadah salat dan tadarus Al-Qur’an, kerapian menjaga kebersihan ruangan, skor tertinggi mengerjakan LKPD, dan prosesi penutupan,” ucap Kalani.

    Penilaian tersebut mendorong murid untuk menjaga kedisiplinan sejak awal kegiatan, melaksanakan ibadah dengan tertib, membiasakan tadarus Al-Qur’an, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyelesaikan tugas dengan baik. Dengan demikian, nilai-nilai yang dipelajari selama Baitul Arqam dapat diterapkan melalui tindakan nyata.

    Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat berharap para murid tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berprestasi, mandiri, berakhlak mulia, serta memiliki pemahaman keislaman yang kuat. Bekal tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan semangat pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan. (Sofyan)


    Baca juga: Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3

    Astrid meninjau langsung kegiatan lapak baca di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). 


    Astrid Widayani Dorong Budaya Literasi di Solo, Perpustakaan Keliling Hadirkan Lapak Baca Gratis di Sriwedari

    Surakarta – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong penguatan budaya literasi melalui berbagai inovasi yang memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan. Salah satunya melalui perpustakaan keliling berbasis sepeda yang menghadirkan lapak baca gratis di ruang publik, sehingga warga dapat membaca buku di sela aktivitas sehari-hari.

    Astrid meninjau langsung kegiatan lapak baca tersebut di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia melihat pemanfaatan ruang publik sebagai tempat belajar alternatif yang terbuka bagi masyarakat sekaligus menjadi cara kreatif untuk menumbuhkan minat baca di luar lingkungan sekolah dan perpustakaan konvensional.

    Menurut Astrid, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan fasilitas perpustakaan. Akses terhadap bahan bacaan perlu dibuat lebih dekat, menarik, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat agar membaca tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

    “Literasi harus kita hadirkan sedekat mungkin dengan masyarakat. Jangan sampai buku hanya tersedia di tempat tertentu, tetapi belum menjadi bagian dari keseharian warga. Melalui perpustakaan keliling seperti ini, masyarakat bisa menemukan bacaan di ruang publik, membaca dengan santai, dan mulai membangun kebiasaan membaca dari hal sederhana,” ujar Astrid.

    Ia menjelaskan, inovasi perpustakaan keliling memiliki nilai strategis karena mampu menjangkau masyarakat melalui pendekatan yang fleksibel. Dengan menggunakan sepeda sebagai sarana membawa buku, kegiatan membaca dapat hadir di tengah aktivitas warga tanpa harus menunggu mereka datang ke gedung perpustakaan.

    Dalam peninjauan tersebut, Astrid melihat lapak baca yang menyediakan puluhan judul buku dari koleksi pribadi penggagasnya, Destyn Ayu Safitri. Buku-buku itu dibawa menggunakan sepeda dan disediakan secara gratis bagi masyarakat yang ingin membaca di kawasan Sriwedari.

    Bagi Astrid, kegiatan tersebut menunjukkan penguatan literasi dapat dilakukan melalui kolaborasi dan partisipasi masyarakat. Ruang publik yang selama ini identik dengan rekreasi dan olahraga juga berpotensi menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang inklusif.

    “Ruang publik tidak hanya bisa menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas, tetapi juga ruang untuk belajar. Kita perlu terus mendorong munculnya kegiatan kreatif yang membuat masyarakat semakin dekat dengan buku. Ketika aksesnya mudah dan suasananya menyenangkan, membaca bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami,” katanya.

    Astrid juga mengingatkan pentingnya literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami, memilah, dan memeriksa kebenaran informasi secara kritis.

    Budaya membaca menjadi fondasi untuk memperluas wawasan, membangun daya pikir, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan. Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik.

    Ia berharap kegiatan perpustakaan keliling dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi memperluas akses bacaan di Kota Solo. Dukungan komunitas, sekolah, pengelola perpustakaan, dan masyarakat diperlukan agar gerakan literasi berkembang secara berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak kalangan.

    “Yang ingin kita bangun adalah ekosistem literasi yang hidup. Pemerintah, komunitas, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Ukurannya bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia, tetapi bagaimana buku itu bisa diakses, dibaca, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” jelas Astrid.

    Melalui penguatan literasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Kota Surakarta berharap tumbuh lingkungan yang mendorong warga untuk terus belajar, memperluas pengetahuan, dan berpikir kritis. Kehadiran perpustakaan keliling berbasis sepeda di ruang publik menjadi salah satu contoh bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Sofyan)


    Baca juga: Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3

    Lewat konsep sosialisasi berbasis praktik dan peran reporter cilik, siswa belajar mengamati gejala alam sekaligus mampu menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri.


    Tanggap, Sigap, Berani Bicara! Mahasiswa UNISRI Edukasi Mitigasi Bencana di SDN 2 Sruni Boyolali

    BOYOLALI – majalahlarise.com – Meningkatkan kesadaran mitigasi bencana sejak dini menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang tangguh menghadapi potensi bencana alam. Melalui program pengabdian masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta mengajak siswa SDN 2 Sruni, Boyolali, belajar mengenali potensi bencana Gunung Merapi melalui kegiatan edukatif bertema “Tanggap Bencana, Sigap Semua, Berani Bicara”, Senin (13/10).

    Kegiatan yang diikuti 36 siswa tersebut dipimpin Diva Restu Fadilah bersama empat anggota tim, yakni Wiwit Kurnia Sari, Aisyah Kurnianti, Ahmad Fauzan, dan Fatwa Aziz Al Hafiz. Mahasiswa semester 3 ini memadukan sosialisasi interaktif dengan pembelajaran berbasis pengalaman atau experience learning agar materi mitigasi bencana lebih mudah dipahami anak-anak.

    Berada di kawasan rawan bencana Gunung Merapi, siswa SDN 2 Sruni perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi. Melalui kegiatan ini, para siswa dikenalkan dengan gejala alam yang perlu diwaspadai, pentingnya mengikuti arahan guru dan petugas, serta cara menyampaikan informasi ketika melihat kondisi yang berpotensi membahayakan.

    Kepala SDN 2 Sruni, Nur Absah Nirwana, S.Pd., menyambut positif kegiatan yang diinisiasi mahasiswa UNISRI tersebut. Menurutnya, edukasi mitigasi bencana sangat dibutuhkan anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan potensi ancaman bencana alam.

    “Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kepedulian mahasiswa UNISRI. Edukasi ini sangat krusial bagi anak-anak kami yang tinggal di kawasan rawan bencana. Dengan penyampaian yang interaktif, anak-anak tidak hanya belajar tentang keselamatan, tetapi juga makin berani dan percaya diri,” ungkapnya.

    Dukungan juga disampaikan guru SDN 2 Sruni, Dwi Harsono, S.Pd. Ia berharap kegiatan pengabdian masyarakat yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa tersebut dapat terus berlanjut. Dengan demikian, pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana dapat ditanamkan secara bertahap dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.

    Sementara itu, Diva Restu Fadilah selaku perwakilan tim mahasiswa menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang dengan menggabungkan pengetahuan mitigasi bencana dan keterampilan jurnalistik. Pendekatan ini diharapkan membuat siswa tidak hanya memahami informasi keselamatan, tetapi juga mampu mengamati keadaan di sekitarnya dan menyampaikan informasi secara tepat.

    “Kami ingin mengubah kesan mitigasi bencana yang kaku menjadi aktivitas yang mudah dipahami. Lewat konsep sosialisasi berbasis praktik dan peran reporter cilik, siswa belajar mengamati gejala alam sekaligus mampu menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri,” jelas Diva.

    Konsep reporter cilik menjadi salah satu pendekatan kreatif dalam kegiatan tersebut. Melalui pengenalan peran sebagai penyampai informasi, siswa didorong untuk berani berbicara, mengungkapkan hasil pengamatan, serta menyampaikan informasi yang mereka ketahui dengan bahasa yang jelas. Keterampilan ini diharapkan membantu anak-anak memahami pentingnya komunikasi ketika menghadapi situasi darurat.

    Sepanjang kegiatan, para siswa terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian pembelajaran. Mereka terlibat aktif dalam sosialisasi dan praktik yang diberikan oleh tim mahasiswa. Para siswa juga menyampaikan harapan agar kegiatan edukatif yang menyenangkan seperti ini dapat kembali diselenggarakan pada kesempatan mendatang.

    Program pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa UNISRI dan SDN 2 Sruni menunjukkan pentingnya sinergi perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan dasar dalam memperluas pemahaman mitigasi bencana.

    Melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, mahasiswa UNISRI berupaya menanamkan tiga nilai penting kepada siswa, yakni tanggap dalam mengenali potensi bahaya, sigap dalam merespons situasi, serta berani berbicara untuk menyampaikan informasi. Pembekalan sejak dini ini diharapkan mendukung terbentuknya generasi yang lebih siap menghadapi risiko bencana sekaligus memiliki kecakapan literasi dan komunikasi.(Sofyan)


    Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot


    Pujiono Bakar Semangat Kepala Sekolah Muhammadiyah Wonogiri, Strategi SPMB Jadi Kunci Kemajuan Sekolah

    WONOGIRI – majalahlarise.com – Ustadz Pujiono, S.Si., S.Pd., M.M., membakar semangat kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Wonogiri melalui pemaparan strategi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang efektif, kreatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Ia mengajak setiap sekolah membangun kepercayaan masyarakat melalui peningkatan mutu pendidikan, pelayanan, serta program unggulan yang nyata.

    Pesan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kepala Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Wonogiri yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonogiri, Sabtu (17/10/2026).

    Kegiatan bertema “Manajemen Hebat, Sekolah-Madrasah Maju Pesat” tersebut berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Budi Hartoyo, di depan SMAN 1 Wonogiri, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Rakor ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi sekaligus meningkatkan profesionalisme pengelola sekolah Muhammadiyah dalam menghadapi persaingan dunia pendidikan yang semakin kompetitif.

    Pujiono yang merupakan anggota Tim Diksuspala dan Penjaminan Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan, keberhasilan SPMB tidak cukup hanya mengandalkan pemasangan spanduk, penyebaran brosur, atau promosi menjelang tahun ajaran baru. Sekolah perlu membangun reputasi melalui kualitas pembelajaran, pelayanan yang memuaskan, program unggulan, serta karakter peserta didik yang mencerminkan keberhasilan pendidikan.

    “SPMB bukan pekerjaan musiman yang baru dimulai ketika pendaftaran dibuka. SPMB adalah hasil dari kerja panjang membangun mutu, pelayanan, komunikasi, dan kepercayaan masyarakat,” menjadi pesan penting dalam pemaparan strategi penerimaan murid baru tersebut.

    Menurut Pujiono, penerimaan murid baru harus menjadi bagian dari strategi pengembangan sekolah secara menyeluruh. Setiap unsur sekolah memiliki peran dalam membangun citra positif lembaga pendidikan di tengah masyarakat.

    Kepala sekolah berperan sebagai penggerak utama dalam merumuskan kebijakan dan mengembangkan keunggulan lembaga. Guru menjadi duta sekolah melalui kualitas pembelajaran dan pendampingan peserta didik. Sementara itu, tenaga kependidikan perlu memberikan pelayanan terbaik, sedangkan siswa dan orang tua dapat turut memperkenalkan sekolah melalui pengalaman positif yang mereka rasakan.

    Ia juga mengajak para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah untuk berani melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan SPMB. Apabila jumlah pendaftar belum memenuhi target, sekolah perlu mencari penyebabnya secara objektif, bukan sekadar menyalahkan persaingan atau kondisi masyarakat.

    Evaluasi tersebut dapat dilakukan dengan membenahi program pendidikan, memperkuat keunggulan sekolah, meningkatkan kualitas layanan, serta membangun komunikasi yang lebih dekat dengan calon wali murid. Dengan demikian, strategi penerimaan murid baru tidak hanya berorientasi pada jumlah pendaftar, tetapi juga pada keberlanjutan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan.

    Pujiono memaparkan tiga langkah penting dalam strategi SPMB, yakni membuat masyarakat mengenal sekolah, membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, dan mendorong masyarakat memilih sekolah tersebut. Ketiga langkah ini membutuhkan kerja nyata, konsistensi, serta kolaborasi seluruh warga sekolah.

    Sekolah perlu memetakan potensi calon murid, mengenali kebutuhan orang tua, merancang program yang relevan, dan menyampaikan keunggulan lembaga secara jelas. Komunikasi yang baik juga harus diimbangi bukti nyata berupa kualitas pendidikan, lingkungan belajar yang kondusif, pembinaan karakter, serta pelayanan yang profesional.

    Dalam kegiatan tersebut, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Wonogiri, Prof. Agus Wahyu Triatmo, M.Ag., bersama Sekretaris Drs. Teguh, turut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Wonogiri.

    Melalui rakor ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Wonogiri mendorong seluruh kepala sekolah dan madrasah untuk memperkuat tata kelola profesional, meningkatkan mutu pendidikan, serta membangun kolaborasi dan sinergi antar lembaga.

    Hasil rakor diharapkan tidak berhenti pada diskusi dan motivasi, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret di masing-masing sekolah. Langkah tersebut mencakup pemetaan potensi calon murid, penyusunan program unggulan, penguatan identitas dan citra sekolah, peningkatan pelayanan kepada wali murid, serta evaluasi capaian SPMB secara berkala.

    Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya dikenal karena nama besarnya. Kepercayaan masyarakat perlu dibangun melalui mutu pendidikan, keunggulan program, pelayanan yang baik, dan pembentukan akhlak peserta didik.

    Dengan semangat “Manajemen Hebat, Sekolah-Madrasah Maju Pesat”, para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Wonogiri diharapkan semakin siap menghadirkan lembaga pendidikan yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot




    Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menggelar pameran internasional Typefest #3 pada 22–24 Oktober 2026. Mengusung tema “Non-Latin”, pameran ini mengundang seniman dan desainer dari sekitar 30 negara untuk mengeksplorasi keberagaman aksara sebagai bagian dari ekspresi seni, identitas budaya, dan perkembangan desain komunikasi visual.

    Pameran yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali sejak 2022 ini akan berlangsung selama tiga hari di Pendopo Ageng GPH Djojokusumo, Kampus Kentingan, ISI Surakarta. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi seniman, desainer, mahasiswa, dosen, dan praktisi untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun jejaring kreatif pada tingkat internasional.

    Tema “Non-Latin” dipilih untuk mengajak para peserta mengeksplorasi, menghidupkan kembali, serta menghubungkan aksara lokal dengan kehidupan masyarakat masa kini. Pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan visual huruf, tetapi juga menggali nilai sejarah, pemikiran, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.

    Ketua Pelaksana Typefest #3, Ipung Kurniawan Yunianto, yang juga dosen DKV FSRD ISI Surakarta, menjelaskan tema tersebut menjadi upaya untuk membuka perspektif masyarakat terhadap keberagaman sistem penulisan di dunia.

    “Intinya, dengan tema ‘Non-Latin’, kami ingin mendobrak pandangan bahwa alfabet Latin merupakan standar universal dalam sistem penulisan. Sekaligus, kami ingin merayakan keberagaman aksara dunia sebagai bentuk ekspresi budaya yang setara dan layak untuk terus hidup serta berkembang,” ungkap Ipung.

    Pameran ini membuka kesempatan bagi peserta dari berbagai negara untuk mengirimkan karya melalui jalur *open call* maupun undangan. Karya yang ditampilkan mencakup beragam bentuk eksplorasi, mulai dari tipografi, lettering, karya tiga dimensi (3D), digital, eksperimental, hingga media lainnya.

    Melalui keragaman karya tersebut, Typefest #3 diharapkan dapat mempertemukan karakter visual, pendekatan kreatif, serta gagasan dari para pelaku desain lintas negara. Pertemuan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman mengenai perkembangan tipografi dan aksara dalam konteks seni, desain, serta kebudayaan.

    Selain menjadi ruang apresiasi karya, kegiatan ini juga diarahkan sebagai media promosi dan publikasi Program Studi DKV FSRD ISI Surakarta kepada masyarakat internasional. Melalui partisipasi peserta dari berbagai negara, pameran ini membuka peluang kolaborasi sekaligus memperluas jejaring akademik dan profesional di bidang desain komunikasi visual.

    Untuk memperkaya pengalaman pengunjung, penyelenggara turut menghadirkan sejumlah agenda pendukung berupa lokakarya (workshop) dan diskusi (talkshow) selama tiga hari pelaksanaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, membahas proses kreatif, serta mendiskusikan peran aksara dalam perkembangan desain dan kehidupan masyarakat kontemporer.

    Melalui Typefest #3 bertema “Non-Latin”, DKV FSRD ISI Surakarta mengajak masyarakat melihat aksara bukan sekadar perangkat untuk menyampaikan bahasa, melainkan juga warisan budaya yang menyimpan sejarah, pemikiran, dan identitas suatu masyarakat. Keberagaman aksara dunia diharapkan terus mendapat ruang untuk dikenali, dikembangkan, dan dihidupkan melalui karya seni serta desain komunikasi visual. (Sofyan)


    Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot


    Dra. Rusmiyah, M.Si memimpin DPC GWS Kota Surakarta periode 2026-2031.


    Rusmiyah Pimpin DPC GWS Kota Surakarta 2026–2031, Perkuat Pemberdayaan Perempuan

    SURAKARTA – majalahlarise.com - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Wanita Sejahtera (DPC GWS) Kota Surakarta menggelar pelantikan dan pengukuhan ketua serta pengurus periode 2026–2031 di Kusuma Sahid Prince Hotel, Jumat (16/10/2026). Mengusung tema “Women Support Women, Kebersamaan, Kemandirian, Pengabdian Wanita untuk Mewujudkan Organisasi GWS yang Solid, Peduli, dan Bermanfaat untuk Masyarakat”, kepengurusan baru diharapkan mampu memperkuat solidaritas perempuan, meningkatkan kemandirian, serta memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat.

    Dra. Rusmiyah, M.Si yang dipercaya memimpin DPC GWS Kota Surakarta menyampaikan, jabatan ketua merupakan amanah sekaligus tanggung jawab besar untuk membangkitkan organisasi agar semakin dikenal masyarakat luas. Ia menyebut GWS sebagai organisasi berskala nasional yang telah berdiri selama puluhan tahun, diperkirakan mencapai 45 hingga 50 tahun berdasarkan sejarahnya.

    “Bagi saya, terpilih sebagai ketua GWS merupakan amanah yang besar. Ada tugas berat untuk mengangkat GWS agar lebih dikenal masyarakat. Saya memiliki semangat untuk menghidupkan kembali organisasi ini bersama 27 pengurus yang telah bergabung,” ungkap Rusmiyah.

    Menurutnya, GWS membawa semangat women support women, yakni perempuan saling mendukung, menguatkan, dan membantu agar mampu berdaya guna serta memberikan manfaat bagi orang lain. Semangat tersebut menjadi landasan bagi pengurus dalam menyusun program yang berorientasi pada peningkatan kapasitas anggota dan pemberdayaan perempuan.

    Pada tahap awal kepemimpinannya, Rusmiyah memprioritaskan program capacity buildingatau peningkatan kapasitas anggota. Program ini mencakup penguatan kemampuan administrasi, pengelolaan keuangan melalui pembukuan sederhana, serta pemahaman etika berorganisasi.

    Ia menjelaskan, penguatan kemampuan dasar tersebut penting untuk membangun fondasi organisasi yang kokoh. Dengan pemahaman yang baik mengenai administrasi, keuangan, dan etika berorganisasi, setiap anggota diharapkan mampu menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya serta bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.

    Rusmiyah juga berharap seluruh pengurus dapat terlibat aktif dan membangun solidaritas dalam menjalankan roda organisasi. Ia mengibaratkan GWS sebagai sebuah perahu yang membutuhkan kerja sama seluruh awak agar dapat berlayar menuju tujuan.

    “Organisasi ini ibarat sebuah perahu. Saya sebagai nakhoda harus bisa menyusun perencanaan dan melakukan evaluasi. Namun, untuk menjalankan program, diperlukan kerja nyata dan sinergi seluruh pengurus. Kita harus bergerak bersama agar GWS semakin solid dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.

    Sementara itu, Ketua DPW GWS Jawa Tengah, Hj. Dina Ali Hanafia, dalam sambutannya seusai melantik dan mengukuhkan pengurus DPC GWS Kota Surakarta meminta ketua terpilih segera membentuk kepengurusan hingga tingkat ranting. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan organisasi sekaligus menghidupkan kegiatan GWS di tengah masyarakat.

    Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus sebelumnya atas pengabdian yang telah diberikan. Kepengurusan baru diharapkan dapat melanjutkan hal-hal positif sekaligus menghadirkan program yang lebih aktif, terarah, dan sesuai kebutuhan masyarakat.

    Dina mendorong DPC GWS Kota Surakarta membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, khususnya instansi yang menangani pemberdayaan perempuan. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah dapat membuka peluang pelaksanaan program yang lebih luas, sebagaimana telah dilakukan GWS di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.

    “Ketua yang baru dilantik saya harapkan segera membentuk kepengurusan sampai tingkat ranting. Organisasi harus bergerak dan hadir di tengah masyarakat. Kami juga berharap GWS Kota Surakarta dapat menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, terutama instansi yang menangani pemberdayaan perempuan,” tuturnya.

    Ia menjelaskan, GWS merupakan organisasi sosial yang menjalankan kegiatan secara mandiri tanpa mengandalkan bantuan dana dari DPP maupun pihak lain. Karena itu, kesederhanaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial perlu menjadi prinsip dalam menjalankan organisasi.

    Menurut Dina, GWS memiliki peran strategis dalam membantu perempuan, khususnya di tingkat akar rumput, agar semakin mandiri dan mampu mengembangkan keterampilan. Pemberdayaan tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha serta membantu meningkatkan perekonomian keluarga, termasuk bagi perempuan yang menjalankan aktivitas produktif dari rumah.

    Lebih lanjut, ia meminta pengurus DPC GWS Kota Surakarta segera menyusun dan menjalankan program kerja, membentuk ranting di tingkat kecamatan, serta mengadakan pelatihan yang bermanfaat bagi masyarakat. DPW GWS Jawa Tengah juga membuka peluang koordinasi untuk mendukung kegiatan melalui penyediaan narasumber maupun pendampingan program.

    Dina berharap kepengurusan baru tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menghadirkan program nyata dan berkelanjutan. Melalui kegiatan yang terarah, GWS diharapkan semakin dipercaya pemerintah daerah dan masyarakat, sekaligus memperluas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan serta penguatan ekonomi keluarga.

    Pelantikan dan pengukuhan pengurus DPC GWS Kota Surakarta periode 2026–2031 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun organisasi yang solid, mandiri, dan peduli. Dengan semangat women support women, GWS diharapkan menjadi ruang bagi perempuan untuk saling mendukung, mengembangkan potensi, serta berkontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (Sofyan)


⬆
Top