GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
Tim Dosen UNISRI Lejitkan Potensi Desa Digital Lewat “Mlese Smart Gateway” bagi Pengrajin Lurik
KLATEN - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat bertajuk “Mlese Smart Gateway”. Program bertema “Integrasi Potensi Desa Digital Berwawasan Bela Negara melalui Penguatan Kelembagaan pada Komunitas Informasi Masyarakat Pengrajin Lurik” ini digelar di Desa Mlese, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Rabu (15/7/2026).
Kegiatan dipimpin Ketua Tim Pengabdian, Prof. Anita Trisiana, bersama anggota tim Linda Oktaviani dan Nabila P. Program diikuti Kepala Desa Mlese, perangkat desa, serta Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Pengrajin Lurik Desa Mlese sebagai mitra utama. Kegiatan menjadi bagian implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat, dengan menghubungkan inovasi akademik dan kebutuhan riil masyarakat desa.
Prof. Anita Trisiana menjelaskan, Mlese Smart Gateway dirancang sebagai pintu masuk pengembangan desa digital melalui pemanfaatan teknologi informasi untuk memperkuat promosi, penyebaran informasi, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya para pengrajin lurik.
“Mlese Smart Gateway adalah ikhtiar kami mengintegrasikan potensi lokal Desa Mlese, khususnya para pengrajin lurik, dengan pemanfaatan teknologi digital sebagai sarana promosi, informasi, dan pemberdayaan masyarakat. Kami ingin penguatan Komunitas Informasi Masyarakat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi digital, memperluas jejaring pemasaran, sekaligus memperkuat identitas budaya lokal agar mampu bersaing di era digital tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur bangsa,” jelas Prof. Anita Trisiana.
Selain meningkatkan kemampuan digital masyarakat, program ini mengedepankan nilai Bela Negara sebagai landasan pengembangan desa. Transformasi digital diharapkan berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal sehingga para pengrajin lurik tidak hanya memperoleh manfaat ekonomi, tetapi juga menjadi duta pelestari budaya Indonesia.
Selama kegiatan, peserta memperoleh materi mengenai penguatan kelembagaan Komunitas Informasi Masyarakat, literasi digital, strategi pemasaran berbasis teknologi, diskusi interaktif, pendampingan langsung, hingga penyusunan rencana tindak lanjut agar program mampu berjalan secara berkelanjutan.
Prof. Anita menambahkan, sinergi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pembangunan desa digital yang mandiri dan berdaya saing.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ini adalah awal dari kolaborasi berkelanjutan antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam membangun desa yang inovatif, mandiri, berdaya saing, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan,” ujarnya.
Tim pengabdian UNISRI juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Desa Mlese beserta seluruh mitra yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan. Melalui Mlese Smart Gateway, UNISRI menegaskan komitmennya mendampingi desa-desa binaan menjadi desa digital yang produktif, berkarakter, sekaligus mampu menjaga identitas budaya dan nilai-nilai kebangsaan di tengah perkembangan teknologi. (Sofyan)
Baca juga: SD Muhammadiyah 1 Solo Deklarasikan Sekolah Anti-Perundungan Saat MPLS
Pendidikan
![]() |
| Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., menutup kegiatan MPLS Ramah dan Nyaman Tahun Ajaran 2026/2027 bersama 224 peserta didik baru di halaman sekolah, Jumat (17/7/2026). |
Lima Hari Penuh Inspirasi, MPLS Ramah dan Nyaman SMP Negeri 2 Giritontro Cetak Awal Generasi Berkarakter dan Berprestasi
WONOGIRI - majalahlarise.com – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di SMP Negeri 2 Giritontro resmi ditutup pada Jumat (17/7/2026). Selama lima hari, mulai 13 hingga 17 Juli 2026, sebanyak 224 peserta didik baru mengikuti rangkaian MPLS Ramah dan Nyaman sebagai bekal awal memasuki dunia pendidikan di jenjang SMP. Penutupan berlangsung meriah dengan penampilan kreativitas siswa yang menampilkan seni, tari, menyanyi, pembacaan puisi, dan berbagai pertunjukan sesuai minat serta bakat.
Kegiatan penutupan dipimpin Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., didampingi seluruh guru dan tenaga kependidikan. Suasana penuh semangat dan kebersamaan mewarnai acara yang menjadi penanda resmi bergabungnya 224 peserta didik baru sebagai keluarga besar SMP Negeri 2 Giritontro.
Dalam sambutannya, Retno Wulandari menjelaskan tema "MPLS Ramah dan Nyaman" menjadi komitmen sekolah untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman, menyenangkan, inklusif, serta bebas dari segala bentuk perundungan dan kekerasan.
"Selama lima hari ini, anak-anak telah mengenal lingkungan sekolah, bapak ibu guru, tata tertib, budaya sekolah, serta nilai-nilai karakter yang menjadi landasan pendidikan di SMP Negeri 2 Giritontro. Kami ingin setiap peserta didik merasa diterima, dihargai, dan bahagia berada di sekolah. MPLS Ramah dan Nyaman bukan sekadar slogan, tetapi menjadi budaya yang akan terus kita bangun bersama. Mulailah perjalanan belajar dengan disiplin, semangat, saling menghormati, berani bermimpi, dan terus mengembangkan potensi yang dimiliki agar kelak menjadi generasi yang berprestasi dan berakhlak mulia," ujar Retno.
Ketua Panitia MPLS, Basuki Okto Gunanto, S.Pd., menjelaskan seluruh rangkaian kegiatan terlaksana sesuai pedoman pemerintah dengan mengedepankan pendidikan karakter, pembentukan budaya positif, serta pengenalan lingkungan sekolah secara edukatif dan menyenangkan.
"Alhamdulillah seluruh kegiatan berjalan dengan lancar, tertib, aman, dan sukses. Seluruh peserta mengikuti setiap materi dengan antusias. MPLS tahun ini dirancang agar peserta didik baru mampu beradaptasi dengan lingkungan sekolah, mengenal budaya belajar, menumbuhkan rasa percaya diri, serta membangun kebersamaan sejak hari pertama mereka menjadi warga SMP Negeri 2 Giritontro," jelas Basuki.
Selama pelaksanaan MPLS, peserta didik mendapatkan berbagai materi yang mendukung pembentukan karakter dan kesiapan belajar. Materi tersebut meliputi pengenalan visi dan misi sekolah, pendidikan keagamaan, cek kesehatan, 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, tata tertib sekolah, pembiasaan karakter, wawasan kebangsaan, pencegahan perundungan, penguatan Profil Pelajar, pengenalan kegiatan intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, hingga motivasi belajar.
Puncak kegiatan ditandai dengan unjuk bakat peserta didik baru yang disambut tepuk tangan meriah dari guru, tenaga kependidikan, dan seluruh siswa. Suasana penuh kegembiraan menjadi penutup indah pelaksanaan MPLS sekaligus menguatkan rasa percaya diri peserta didik untuk memulai perjalanan belajar di lingkungan sekolah yang ramah dan nyaman.
Berakhirnya MPLS menjadi langkah awal bagi 224 peserta didik baru untuk menempuh pendidikan di SMP Negeri 2 Giritontro. Semangat kebersamaan, disiplin, dan karakter positif yang telah ditanamkan selama lima hari diharapkan menjadi bekal dalam mencetak generasi yang cerdas, berkarakter, berprestasi, serta siap menghadapi tantangan masa depan. (Sofyan)
Baca juga: SD Muhammadiyah 1 Solo Deklarasikan Sekolah Anti-Perundungan Saat MPLS
Pendidikan
![]() |
| Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo Sri Sayekti memimpin deklarasi Sekolah Anti-Perundungan bersama 112 murid baru saat kegiatan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 di Solo. |
SD Muhammadiyah 1 Solo Deklarasikan Sekolah Anti-Perundungan Saat MPLS
Solo - majalahlarise.com – SD Muhammadiyah 1 Solo menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah anak, dan bebas dari perundungan melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Komitmen tersebut diwujudkan dengan deklarasi Sekolah Anti-Perundungan (Anti Bullying) yang digelar pada Kamis (16/7/2026) sebagai bagian dari pembentukan karakter murid sejak hari pertama masuk sekolah.
Kegiatan MPLS bertajuk "Belajar Gembira Anti Bully" diikuti 112 murid baru kelas I. Selama MPLS, para murid dikenalkan pada budaya positif sekolah sekaligus diajak memahami pentingnya saling menghargai, menyayangi teman, serta membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Sayekti, menjelaskan MPLS tidak sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi menjadi fondasi awal pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah, anak-anak perlu memahami sekolah sebagai tempat yang aman, menggembirakan, mencerahkan, dan bebas dari segala bentuk perundungan.
"Sejak awal masuk sekolah, anak-anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa sekolah adalah tempat yang aman, menggembirakan, mencerahkan, dan bebas dari segala bentuk perundungan. Setiap siswa harus tumbuh dengan rasa percaya diri, saling menghormati, dan memiliki kepedulian terhadap sesama," ujar Sri Sayekti.
Ia menjelaskan, selama MPLS murid memperoleh pengenalan mengenai program pendidikan, sarana dan prasarana, tata tertib sekolah, serta budaya pembelajaran yang diterapkan di SD Muhammadiyah 1 Solo yang berlokasi di Jalan Kartini Nomor 1, Ketelan, Surakarta. Selain itu, peserta didik juga dikenalkan pada dimensi profil pembelajaran yang meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
"Pembelajaran di sekolah tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk anak-anak yang memiliki integritas, empati, dan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21," jelasnya.
Sebagai bagian dari pembiasaan karakter, murid mengikuti Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Program tersebut diharapkan menjadi kebiasaan positif yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui deklarasi Sekolah Anti-Perundungan, SD Muhammadiyah 1 Solo yang dikenal sebagai Sekolah Model Pembelajaran Mendalam berharap seluruh warga sekolah bersama-sama menjaga budaya yang inklusif, penuh kasih sayang, dan saling menghormati sehingga setiap anak dapat belajar dengan nyaman dan bahagia.
"Kami ingin menghadirkan sekolah yang membuat anak merasa dihargai, diterima, dan bahagia dalam belajar. Tidak ada tempat bagi bullying di sekolah kami," pungkas Sri Sayekti. (Sofyan)
Pendidikan
PETAMU Hari Keempat, Santri PonpesMU Manafi'ul 'Ulum Dibekali Bahaya NAPZA dan Pencegahan Kenakalan Remaja
Boyolali - majalahlarise.com – Memasuki hari keempat Pekan Ta'aruf Manafi'ul 'Ulum (PETAMU) 2026, Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMU) Manafi'ul 'Ulum Sambi menghadirkan sosialisasi tentang bahaya NAPZA dan pencegahan kenakalan remaja. Kegiatan berlangsung pada Kamis (16/7/2026) pukul 09.00–10.30 WIB dengan menghadirkan narasumber dari Polsek Sambi sebagai upaya membekali santri menghadapi berbagai tantangan pergaulan di era modern.
Acara yang dipandu Ketua Panitia PETAMU, Ustadzah Emi, menghadirkan Aipda Eko Santoso dari Polsek Sambi. Dalam paparannya, ia menjelaskan berbagai jenis NAPZA, dampak penyalahgunaannya terhadap kesehatan dan masa depan, serta konsekuensi hukum yang mengancam para pelaku. Selain itu, para santri memperoleh materi mengenai kenakalan remaja, pergaulan bebas, tawuran, hingga pentingnya memilih lingkungan pergaulan yang positif.
Melalui penyampaian yang komunikatif disertai berbagai studi kasus, para santri diajak memahami pentingnya menjaga diri dari penyalahgunaan NAPZA dan perilaku menyimpang sebagai bagian dari ikhtiar menjaga masa depan sekaligus mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Mudir Ponpes Muhammadiyah Manafi'ul 'Ulum, Ust. Pujiono, menjelaskan pembentukan karakter santri tidak cukup hanya melalui pembelajaran agama, tetapi juga perlu didukung edukasi mengenai berbagai tantangan sosial yang dihadapi generasi muda. Menurutnya, kolaborasi dengan Polsek Sambi menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembinaan karakter santri.
"Kami berharap para santri memiliki benteng akidah, akhlak, dan pengetahuan sehingga mampu berkata tidak terhadap NAPZA serta menghindari segala bentuk kenakalan remaja. Santri harus menjadi teladan di tengah masyarakat, berprestasi, dan menjaga nama baik pesantren," ujar Ust. Pujiono.
Sosialisasi tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan PETAMU 2026 yang dirancang untuk membentuk santri baru berkarakter Islami, disiplin, berwawasan luas, serta siap menjalani kehidupan di lingkungan pesantren dengan penuh tanggung jawab. Melalui pembekalan ini, diharapkan para santri mampu menjadi generasi yang tangguh, cerdas, dan memiliki kepedulian terhadap diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. (Sofyan)
Baca juga: SD Muhammadiyah PK Solo Jadi Lokasi Studi Lapangan Diklat Bahasa Jawa Gunungkidul
Pendidikan
SD Muhammadiyah PK Solo Jadi Lokasi Studi Lapangan Diklat Bahasa Jawa Gunungkidul
Solo - majalahlarise.com - Komitmen SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif kembali mendapat pengakuan. Sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan di Jawa Tengah ini dipercaya menjadi lokasi Studi Lapangan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Gunungkidul melalui UPT Balai Pendidikan dan Pelatihan Pegawai, Rabu (15/7/2026), di Ruang Haji Isa. Kegiatan ini diikuti oleh 36 peserta diklat beserta 5 pendamping dari Kabupaten Gunungkidul.
Kunjungan tersebut menjadi ajang berbagi praktik baik pembelajaran Bahasa Jawa sekaligus mempererat kolaborasi antar lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis budaya lokal.
Kepala UPT Balai Pendidikan dan Pelatihan Pegawai BKPPD Kabupaten Gunungkidul, Saryana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa studi lapangan merupakan bagian penting dari proses diklat agar peserta memperoleh pengalaman nyata dari sekolah yang telah berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran.
"Kami ingin peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar langsung mengenai metode, strategi, dan inovasi pembelajaran Bahasa Jawa yang telah diterapkan di sekolah. SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo kami pilih karena merupakan salah satu sekolah unggulan di Jawa Tengah yang memiliki banyak praktik baik untuk dipelajari," ujarnya.
Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nursalam, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolah sebagai lokasi studi lapangan. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi awal terjalinnya kolaborasi yang semakin erat dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Jawa.
"Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dari BKPPD Kabupaten Gunungkidul. Semoga kegiatan ini menjadi sarana saling belajar dan berbagi pengalaman sehingga mampu memberikan manfaat bagi kemajuan pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah masing-masing," tutur Nursalam.
Pada sesi inti, guru Bahasa Jawa SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nurrohmah Manda Noviana, memaparkan materi bertajuk "Pembelajaran Bahasa Jawa yang Aktif, Kontekstual, dan Menyenangkan". Ia menjelaskan bahwa pembelajaran Bahasa Jawa perlu bertransformasi dari sekadar hafalan menjadi pengalaman belajar yang bermakna, sehingga peserta didik terdorong menggunakan bahasa Jawa secara alami dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Manda memperkenalkan berbagai strategi pembelajaran aktif, mulai dari permainan edukatif, bermain peran, diskusi, pembuatan komik, pemanfaatan media digital, hingga penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai pendukung pembelajaran. Pendekatan tersebut dirancang agar siswa lebih aktif, percaya diri, serta mampu memaknai Bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus sarana membangun karakter.
Suasana diskusi berlangsung hidup. Para peserta diklat tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan tantangan pembelajaran Bahasa Jawa di kelas. Beragam ide dan praktik baik pun saling dipertukarkan dalam forum yang berlangsung hangat dan produktif.
Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo kembali menegaskan perannya sebagai sekolah yang tidak hanya berfokus pada peningkatan mutu internal, tetapi juga aktif berbagi inovasi dan pengalaman dengan berbagai institusi pendidikan. Semangat kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya pembelajaran Bahasa Jawa yang lebih aktif, kontekstual, menyenangkan, sekaligus relevan dengan kebutuhan peserta didik di era modern. (Sofyan)
Artikel Pengembangan Profesi
Kampus Harus Siapkan Profil Lulusan Program Studi yang Kompeten dan Siap Kerja Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha dan Industri Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, bergerak dan berkarya merajut cerita dengan kata untuk dikenang sepanjang masa saat senja menuju ke peraduannya”
Indonesia meluluskan lebih dari 1,3 juta calon sarjana (lulusan pendidikan tinggi) setiap tahun. Meskipun angka kelulusan sangat tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat ada sekitar 1 juta lulusan sarjana yang belum terserap oleh lapangan kerja (https://www.google.com/search?q=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&oq=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&gs). Data yang dideskripsikan tersebut merupakan dasar penulis untuk menuliskan kegelisahan dan renungan bagi dosen, pengelola program studi, fakultas, kampus, dan Kemdiktisaintek Republik Indonesia di Indonesia. Perkembangan zaman digital yang terus diwarnai dengan kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi digital lainnya tentu akan menjadi kekhawatiran dan keraguan bagi multigenerasi NKRI. Banyak hal yang sudah disajikan dalam berbagai sumber literasi digital dan nondigital untuk dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Namun demikian, apakah dunia kampus yang melahirkan para sarjana juga sudah menyiapkan berbagai perangkat dan membekali para mahasiswanya dengan aneka keterampilan digital yang diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan industri saat ini.
Berdasarkan data Kemdiktisaintek RI bahwa sarjana yang lulus setiap tahun sekitar 1,3 juta dan sekitar 1 juta menganggur merupakan pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan terkait. Data ini menjadi bahan renungan bagi para pengelola program studi, fakultas, dan rektor pada kampus negeri dan swasta di seluruh wilayah Indonesia. Mengapa demikian? Pertanyaan ini harus dijawab oleh pengelola kampus yang disebut rektor/ketua/direktur. Pertama, bagaimanakah profil lulusan sarjana yang akan dihasilkan? Pertanyaan tersebut merupakan target dan realisasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang harus ditetapkan dan diwujudkan oleh rektor/ketua/direktur sebagai penanggung jawab dan pengelola kampus. Kemudian kedua, Sarjana bidang apa? Misalnya sarjana pendidikan, saintek, sosial humaniora, dan sarjana lainnya itu menjadi CPL yang harus dirumuskan dan diwujudkan oleh seorang pengelola fakultas atau dekan. Kemudian ketiga, sarjana bidang tertentu yang bagaimanakah? CPL program studi dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) tersebut merupakan CPL dna CPMK yang harus direalisasikan oleh dosen pada program studi tersebut. Semua CPL dan CPMK tersebut harus menjadi rujukan dan dikolaborasikan dengan hasil evaluasi kurikulum yang disurvei melalui alumni program studi dan pengguna lulusan. Dengan demikian, peninjauan dan pengembangan kurikulum prodi untuk menyiapkan profil lulusan yang kompeten, siap kerja, melek literasi digital, kreatif, inovatif, berkarakter, siap bersaing dan bersanding dengan tenaga kerja lain di tingkat nasional dan internasional. Para sarjana yang dihasilkan era digital harus didasarkan pada evaluasi kurikulum, pendapat alumni, dan pengguna lulusan program studi yang sudah bekerja sehingga akan dapat disiapkan evaluasi kurikulum secara mikro dna makro sebagai dasar pengembangan kompetensi sarjana yang dihasilkan oleh program studi yang mengelola tersebut.
Perkembangan zaman yang terus bergerak dan didominasi dengan perangkat digital, maka diperlukan persiapan dan pembekalan yang benar-benar sesuai kebutuhan perkembangan zaman dan era digital kekinian. Program studi yang didirikan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia harus mulai bergerak dan berubah mindsetnya untuk adaptif dengan kebutuhan industri dan dunia usaha saat ini. Pemilihan materi, bahan ajar, media, bahan kajian untuk mendukung capaian kompetensi lulusan yang didasarkan pada CPL dan CPMK harus betul-betul diselaraskan dan disesuaikan kebutuhan perkembangan zaman. Program studi saat ini saling berlomba melakukan peninjauan dan mengembangkan kurikulum berbasis Outcame Based Education (OBE) harus benar-benar didasarkan dengan kebutuhan industry dan dunia kerja sesuai dengan perkembangan zaman dan generasi Z saat ini. Oleh karena, gen Z yang yang dihasilkan sebagai sarjana kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan harus benar-benar sarjana yang menguasai 4 keterampilan abad XXI, antara lain: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, dan (4) komunikatif. Selain itu, generasi digital juga harus dibiasakan dan dibekali dengan enam literasi dasar, antara lain literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, (6) budaya & kewargaan. Hal ini sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia, Gerakan Literasi Arfuzh Ratulisa (GELAR) yang dicanangkan oleh Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Surakarta dan Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) yang didirikan oleh Muhammad Rohmadi tanggal 2 Mei 2025 bersamaan peringatan hari Pendidikan Nasional setiap tahun.
Fakta dan data yang terjadi saat ini, rata-rata setiap bulan atau 3 bulan atau 6 bulan sekali kampus-kampus di seluruh wilayah Indonesia meluluskan sarjana melalui wisuda. Sesuai data yang disajikan oleh Kemdiktisaintek RI ternyata belum semua sarjana yang diluluskan perguruan tinggi terserap dalam dunia kerja yang diharapkan. Semua orang tua, mahasiswa, sarjana yang baru lulus ingin bekerja sesuai bidang keahlian dan kompetensi yang dimilikinya setelah lulus wisuda. Hal ini sesuai dengan indikator kinerja utama perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kemdiktisaintek RI antara lain: mengukur kualitas lulusan (bekerja/wirausaha), kompetensi dosen, pengalaman mahasiswa di luar kampus, riset, kemitraan dengan industri, serta kemandirian finansial (Data & Sumber: Kemdiktisaintek RI). Bahan renungan dan harus dipikirkan solusinya, bagaimana menyiapkan sarjana lulusan program studi masing-masing (prodi tempat kita sebagai dosen mengabdi/mengajar) agar dapat menjadi sarjana yang kompeten dan siap bekerja atau berwirausaha dalam dunia usaha dan industri sesuai dengan perkembangan zaman. Ruang-ruang diskusi untuk peningkatan kualitas dosen, mahasiswa, pengelola program studi, fakultas, dan rektorat harus sering dilaksanakan untuk mewujudkan mimpi besar merealisasikan CPL dan CPMK yang dirumuskan program studi, fakultas, dan universitas secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Kesiapan mental dan karakter sebagai sarjana yang kompeten dan memiliki penguasaan kompetensi hardskill dan softskill yang diperlukan pasar kerja dna industri kreatif akan sangat bermanfaat dan memberikan ruang gerak para sarjana untuk terus berkreasi, berinovasi tiada henti sesuai perkembangan zaman. Demikian pula, dosen harus terus memberikan aneka model kasus yang didasarkan pada perkembangan zaman digital dan kekinian sebagai sumber belajar digital dan nondigital. Kemudian upaya untuk meningkatkan kualitas diri para mahasiswa dan calon sarjana era digital harus terus dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek dan dipraktikkan untuk menghasilkan proyek unggulan yang dapat dipamerkan kepada dunia usaha dan industri secara kolaboratif. Upaya untuk membiasakan dan menyelaraskan kebutuhan dunia kerja dan industri maka kerja sama untuk magang, kolaborasi praktisi kerja, dan kolaborasi akademik di kelas dan luar kelas harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Orientasi kurikulum OBE yang dikembangkan oleh semua prodi pada kampus negeri dan swasta di Indonesia semoga bukan sekadar perangkat administrasi untuk memenuhi persyaratan akreditasi, bukan sekadar selebrasi, tetapi harus menjadi rujukan untuk menyiapkan sarjana era digital yang siap berkreasi dan berinovasi tiada henti sepanjang zaman.
Komitmen semua pihak, pemerintah pusat melalui Kemdiktisaintek RI, daerah, rektor/ketua/direktur, dekan, ketua prodi, dosen, tenaga administrasi, pustakawan, praktisi, penggiat literasi, asosiasi program studi, asosiasi dosen, dunia usaha dan dunia industri untuk bersatu, bergerak, dan menyamakan persepsi menjadi jawaban bagi perguruan tinggi agar prodi-prodinya tetap diminati oleh masyarakat dan industri secara berkelanjutan. Dengan demikian tidak akan pernah ada kekhawatiran saat ada wacana prodi-prodi yang tidak diminati oleh masyarakat akan ditutup oleh Kemdiktisaintek RI.
Pengelola kampus, fakultas, dan program studi harus dapat meyakinkan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa prodi-prodi yang dikelola oleh fakultas dan universitas di Indonesia memang layak berdiri tegak, bersaing, bersanding karena memiliki pembeda dan menghasilkan sarjana yang siap bekerja dan bersaing pada dunia usaha dan industri era digital. Apabila prodi-prodi yang dikelola memang sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha maka dengan kesadaran mandiri program studi, fakultas, dan perguruan tinggi untuk menutup dan mengganti prodi baru yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar sesuai dengan perkembangan zaman.
“Komitmen untuk terus ikut serta bergerak dan memantik semangat multigenerasi Indonesia untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bersama Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) merupakan langkah nyata untuk wujudkan mimpi dna imajinasi hidup sekali mati sekali harus bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat”
Istana Arfuzh ratulisa dan Diklisa Yogyakarta, 16 Juli 2026
Pendidikan
![]() |
| Peserta MPLS mengikuti kegiatan Gotasiru (Goresan Tangan Siswa Baru) dengan membuat poster, karikatur, puisi, maupun cerpen menggunakan peralatan masing-masing. |
MPLS Ramah SMP Negeri 1 Wuryantoro Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Cinta Lingkungan kepada 190 Siswa Baru
Wonogiri - majalahlarise.com – SMP Negeri 1 Wuryantoro menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 selama lima hari, Senin (13/7/2026) hingga Jumat (17/7/2026), dengan melibatkan 190 peserta didik baru. Kegiatan mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang menempatkan MPLS sebagai pengalaman belajar pertama di sekolah untuk menumbuhkan karakter, memperkuat profil lulusan, sekaligus membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bermakna, dan menggembirakan.
Kepala SMP Negeri 1 Wuryantoro, Is Budiyarti, S.Pd., menjelaskan konsep MPLS Ramah merupakan komitmen sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan (bullying), intoleransi, maupun tindakan diskriminatif. Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang memberikan rasa aman, nyaman, bahagia, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.
"MPLS Ramah mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Kegiatan pertama bagi murid yang diterima di satuan pendidikan bertujuan menumbuhkan dan memperkuat karakter serta profil lulusan melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang membuat murid merasa aman, nyaman, bahagia, dan senang. Hubungan guru dan murid dibangun dengan kasih sayang sehingga tercipta iklim sekolah yang positif," ujar Is Budiyarti.
Ia menambahkan, konsep ramah diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni ramah anak, ramah lingkungan, dan ramah budaya. Seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan suasana belajar yang saling menghargai sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal tanpa rasa takut maupun tekanan.
Sebagai implementasi konsep tersebut, sekolah mengawali MPLS dengan sosialisasi kepada peserta didik dan orang tua, pengenalan Wiyata Mandala yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah, penyusunan kesepakatan bersama mengenai hak dan kewajiban seluruh warga sekolah, serta pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) sebagai fondasi pembentukan karakter siswa sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah.
![]() |
| Pelatihan Tata Upacara Bendera dan Baris berbaris bersama Koramil Wuryantoro. |
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Tri Pujihastuti, S.Pd., menjelaskan MPLS tidak hanya mengenalkan lingkungan fisik sekolah, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara peserta didik dengan guru serta warga sekolah. Dengan cara itu, siswa baru diharapkan lebih cepat beradaptasi dan memiliki rasa memiliki terhadap sekolah.
"Program kami membangun sekolah yang nyaman dan aman. Semaksimal mungkin kami melayani anak-anak supaya mereka berada di SMP Negeri 1 Wuryantoro merasa nyaman dan aman. Kami juga mengenalkan guru, staf, kepala sekolah, serta lingkungan sekolah agar mereka lebih dekat dan cepat beradaptasi," jelas perempuan yang akrab disapa Tri Puji.
Selama lima hari, sekolah telah menyusun jadwal kegiatan secara sistematis. Hari pertama diisi dengan penjelasan perlengkapan MPLS, upacara pembukaan, pengecekan peserta, pengenalan kurikulum dan mata pelajaran, tata tertib sekolah, kesepakatan bersama, pembiasaan budaya sekolah, pengenalan prestasi sekolah, hingga materi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Seluruh kegiatan dipusatkan di lapangan upacara, aula, dan ruang kelas.
![]() |
| Peserta MPLS mengikuti edukasi Gemar Menabung bekerja sama dengan Bank Jateng. |
Memasuki hari kedua, peserta memperoleh materi mengenai Mars SMP Negeri 1 Wuryantoro, visi dan misi sekolah, profil lulusan, pendidikan karakter, bela negara, cinta tanah air, serta materi Sekolah Aman dan Nyaman. Materi tersebut bertujuan menumbuhkan rasa bangga terhadap sekolah sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan kedisiplinan sejak dini.
Hari ketiga diisi dengan apel pagi, nuansa keagamaan, Senam Anak Indonesia Hebat, pelatihan Tata Upacara Bendera (TUB) bersama Koramil Wuryantoro, kegiatan MPLS Resik dan Indah melalui aksi pilah sampah serta cinta lingkungan, kemudian dilanjutkan edukasi Gemar Menabung bekerja sama dengan Bank Jateng. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membangun budaya hidup hemat dan literasi keuangan.
Pada hari keempat, peserta mengikuti kegiatan Gotasiru (Goresan Tangan Siswa Baru) dengan membuat poster, karikatur, puisi, maupun cerpen menggunakan peralatan masing-masing. Kreativitas siswa kemudian ditampilkan dalam unjuk bakat yang diakhiri dengan refleksi seluruh rangkaian kegiatan MPLS.
![]() |
| Siswa mengikuti kegiatan MPLS Resik dan Indah melalui aksi pilah sampah serta cinta lingkungan. |
Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat (17/7/2026) dengan tema "Indah" (Pilah Sampah dan Cinta Lingkungan). Peserta mengikuti apel pagi, Senam Anak Indonesia Hebat, demonstrasi ekstrakurikuler, upacara penutupan, dan kegiatan perpisahan bertajuk "Sayonara". Selain itu, siswa diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif seperti menggambar, membuat cap tangan pada banner sebagai simbol kebersamaan, gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, berkebun, serta demonstrasi kelistrikan.
Pada penutupan MPLS, sekolah juga menyampaikan pesan motivasi melalui materi "Coba Ingat Nasihat Saya" yang berisi tiga nilai utama, yaitu berani, disiplin, dan berakhlak. Siswa didorong berani bermimpi, berani mencoba, berani bertanya, serta berani memperbaiki kesalahan. Mereka juga diingatkan pentingnya disiplin karena bakat tanpa disiplin tidak akan menghasilkan prestasi, sedangkan ilmu yang disertai akhlak akan membawa keberkahan dalam kehidupan.
Tri Puji menegaskan tujuan utama MPLS bukan sekadar memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi membentuk karakter peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, seluruh siswa baru merupakan aset sekolah yang harus dibimbing menjadi generasi unggul.
"Kami berharap anak-anak menjadi pribadi yang tangguh, cinta NKRI, memiliki etika dan budi pekerti yang baik, serta mempunyai tujuan hidup dan cita-cita. Mereka adalah aset kami. Dengan segala daya upaya, kami berharap dapat membimbing dan mencintai anak-anak sebagai calon penerus bangsa," pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...









