Penyerahan tokoh wayang Puntodewo dari sesepuh Tugiyo kepada Dalang Ki Sutiyo sebagai tanda dimulainya pagelaran.


    Halal Bihalal Keluarga Besar Pageyan Bero Dimeriahkan Pagelaran Wayang Kulit dan Kirab Gunungan

    WONOGIRI – majalahlarise.com - Suasana hangat penuh kebersamaan mewarnai kegiatan Halal Bihalal Keluarga Besar Pageyan Bero Perantauan Tahun 2026 yang digelar di Balai Dusun Pageyan, Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, Minggu (22/3/2026) malam. Acara ini semakin semarak dengan pagelaran wayang kulit oleh Dalang Ki Sutiyo dengan lakon “Pandawa Kumpul”.

    Sebelum pagelaran dimulai, rangkaian kegiatan diawali dengan kirab tumpeng dan gunungan hasil bumi berupa sayuran. Barisan kirab semakin menarik dengan kehadiran tokoh Hanoman di barisan depan yang menjadi simbol semangat dan keberanian. Prosesi dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng oleh tokoh masyarakat yang kemudian diserahkan kepada Kepala Desa Bero Roh Edy Wibowo serta penyerahan tokoh wayang Puntodewo dari sesepuh Tugiyo kepada Dalang Ki Sutiyo sebagai tanda dimulainya pagelaran.

    Tidak hanya itu, para penonton juga disuguhi hiburan seni tari piring yang menambah semarak suasana malam penuh silaturahmi tersebut.

    Dewan Penasehat PKMJ (Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta), HY Supardi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya pagelaran wayang.


    Ketua panitia sekaligus Kepala Dusun Pageyan, Galih, dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menguraikan bahwa kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga, khususnya keluarga besar perantauan.

    “Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang telah membantu terselenggaranya acara ini, baik tenaga, pikiran, maupun materi. Tanpa dukungan semua pihak, acara ini tidak akan berjalan dengan lancar,” ujar Galih.

    Ia juga menuturkan bahwa kegiatan ini merupakan wujud rasa syukur keluarga besar yang diwujudkan melalui tradisi tumpengan dan gunungan, dengan harapan mendapatkan keberkahan rezeki, sandang, dan pangan.

    Kirab tumpeng dan gunungan hasil bumi berupa sayuran.


    “Semoga apa yang menjadi niat baik keluarga besar dapat dikabulkan Allah SWT serta diberikan kelancaran tanpa hambatan,” tambahnya.

    Selain pagelaran budaya, panitia juga menyiapkan kupon undian berhadiah bagi para hadirin, dengan hadiah utama berupa sepeda motor yang semakin menambah antusiasme masyarakat.

    Sementara itu, Dewan Penasehat PKMJ (Paguyuban Keluarga Manyaran Jakarta), HY Supardi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia mengatakan bahwa momentum halal bihalal ini diharapkan dapat terus dilestarikan sebagai ajang memperkuat kebersamaan.


    “Semoga kebersamaan seperti ini tidak hanya terjadi tahun ini, tetapi dapat terus berlanjut di tahun-tahun berikutnya. Yang terpenting adalah menjaga kerukunan dan mempererat silaturahmi antarwarga,” ujar Supardi.

    Ia juga mengungkapkan harapan adanya pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah Manyaran, termasuk rencana pengaspalan jalan yang diharapkan dapat terealisasi pada tahun 2026.

    Pagelaran wayang kulit dengan lakon “Pandawa Kumpul” yang diiringi para sinden menjadi penutup rangkaian acara, sekaligus menjadi simbol kebersamaan, persatuan, dan nilai-nilai luhur budaya Jawa yang terus dijaga oleh masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: ATI Pusat Tunjuk Asri Purwanti Pimpin Tinju Jateng, Targetkan Lompatan Prestasi Nasional

    Adv. Asri Purwanti, SH, MH, CIL, CPM


    ATI Pusat Tunjuk Asri Purwanti Pimpin Tinju Jateng, Targetkan Lompatan Prestasi Nasional

    Jakarta - majalahlarise.com - Pengurus Pusat Asosiasi Tinju Indonesia (ATI) resmi melakukan restrukturisasi kepengurusan di daerah dengan menetapkan pimpinan baru Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Jawa Tengah periode 2026–2031. Keputusan ini tertuang dalam Surat Keputusan Nomor: 01/ATI/SK/III/2026 yang diteken langsung di Jakarta.

    Dalam keputusan tersebut, Adv. Asri Purwanti, SH, MH, CIL, CPM dipercaya menakhodai ATI Jawa Tengah. Penunjukan ini bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan langkah strategis untuk mempercepat pembinaan dan profesionalisasi olahraga tinju di tingkat daerah yang selama ini dinilai belum maksimal.

    ATI secara tegas menempatkan Jawa Tengah sebagai salah satu wilayah prioritas pengembangan. Selama ini, potensi petinju daerah dinilai besar, namun belum sepenuhnya diimbangi dengan sistem pembinaan yang terstruktur, kompetisi berjenjang, serta dukungan manajerial yang kuat.

    Mengacu pada amanat Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional, ATI menegaskan perannya sebagai mitra pemerintah dalam mendorong lahirnya atlet profesional yang mampu bersaing di level nasional hingga internasional. Karena itu, kepengurusan baru dituntut bekerja cepat, terukur, dan berorientasi hasil.

    Plt. Ketua Umum ATI Pusat, Ester Situmorang, menegaskan bahwa pengurus yang telah ditetapkan tidak boleh hanya menjalankan fungsi administratif. Ia meminta agar kepengurusan baru segera menyusun program konkret, mulai dari pembinaan usia dini, peningkatan kualitas pelatih, hingga penyelenggaraan kejuaraan rutin.

    “ATI tidak butuh pengurus simbolik. Yang dibutuhkan adalah kerja nyata, mencetak atlet, dan menghadirkan kompetisi berkualitas,” tegasnya.

    Dalam isi keputusan juga disebutkan bahwa susunan kepengurusan masih terbuka untuk penyempurnaan, dengan catatan harus mendapat persetujuan dari pengurus pusat. Hal ini memberi ruang fleksibilitas bagi Ketua DPW untuk membangun tim yang solid dan profesional.

    Sementara itu, Ketua ATI Jawa Tengah terpilih, Adv. Asri Purwanti, SH, MH, CIL, CPM, menegaskan komitmennya untuk mengembangkan olahraga tinju di wilayah Jawa Tengah agar semakin maju dan diminati masyarakat luas.

    Menurutnya, tinju bukan hanya olahraga prestasi, tetapi juga memiliki manfaat besar bagi kesehatan, mulai dari menjaga kebugaran, meningkatkan stamina, hingga membantu membentuk tubuh yang ideal. Ia ingin menjadikan tinju sebagai olahraga yang dicintai lintas generasi, khususnya kalangan muda.

    “Tinju bukan sekadar olahraga keras, tetapi juga sarana pembinaan fisik, mental, dan disiplin. Ini olahraga yang sangat baik untuk kesehatan sekaligus membuka peluang meraih prestasi, baik di level amatir maupun profesional,” ujarnya.

    Asri menegaskan, pihaknya akan langsung bergerak dengan program nyata, di antaranya memperbanyak penyelenggaraan event dan kejuaraan secara rutin di berbagai daerah agar atlet memiliki jam terbang yang cukup.

    Selain itu, ATI Jawa Tengah juga akan membuka pelatihan bagi wasit dan pelatih guna meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang tinju. Dengan SDM yang kompeten, sistem pembinaan diharapkan berjalan lebih profesional dan berkelanjutan.

    Tak hanya itu, pembinaan usia dini juga akan diperkuat melalui kerja sama dengan sekolah, komunitas olahraga, serta klub-klub tinju di daerah sebagai langkah strategis mencetak regenerasi atlet sejak awal.

    Asri juga menekankan pentingnya sinergi dengan Pengurus Pusat ATI agar pembinaan di daerah selaras dengan program nasional, sekaligus membuka akses bagi atlet Jawa Tengah untuk tampil di kejuaraan tingkat nasional hingga internasional.

    “Kami tidak ingin berjalan sendiri. Kolaborasi dengan ATI Pusat menjadi kunci agar pembinaan atlet memiliki arah yang jelas, dari tingkat daerah hingga ke panggung dunia,” tegasnya.

    Ia optimistis, dengan kerja keras, konsistensi program, serta dukungan berbagai pihak, Jawa Tengah mampu melahirkan petinju-petinju potensial yang tidak hanya berprestasi di tingkat nasional, tetapi juga mampu bersaing di kancah internasional.

    “Target kami jelas, mencetak atlet dari level amatir hingga profesional yang mampu mengharumkan nama daerah dan Indonesia. Ini bukan pekerjaan mudah, tetapi kami siap berjuang mewujudkannya,” pungkasnya.

    Penetapan ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa ATI tengah melakukan pembenahan internal secara serius. Jika diikuti dengan langkah konkret dan terukur, Jawa Tengah berpeluang besar menjadi salah satu lumbung utama petinju profesional Indonesia di masa mendatang. (Ags/ Sofyan)


    Baca juga: Mahasiswa DKV ISI Surakarta Tembus Pameran Internasional di Turki, Karya Poster Dipajang Bersama Desainer Dunia

    Gilbert Gohnarso dan Firah Aniq Imtinansyah (angkatan 2023), Nauril Ni’mah (angkatan 2024), serta Deswinda Auliya Putri (angkatan 2025).


    Mahasiswa DKV ISI Surakarta Tembus Pameran Internasional di Turki, Karya Poster Dipajang Bersama Desainer Dunia

    SOLO – majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Surakarta. Empat mahasiswa berhasil lolos kurasi dalam ajang bergengsi International Poster Exhibition “Akif Wrote, We Visualize II” yang digelar secara daring mulai 12 Maret 2026.

    Pameran internasional ini diikuti oleh 40 desainer dari 21 negara, di antaranya Amerika Serikat, Taiwan, Cina, Palestina, Belarus, Irak, Uruguay, Turki, hingga Korea Utara. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kütahya Dumlupınar University, Faculty of Fine Arts, Turki, dengan menghadirkan karya-karya poster bertema perjuangan dan nilai kebangsaan.

    Empat mahasiswa DKV ISI Surakarta yang berhasil menembus kurasi tersebut adalah Gilbert Gohnarso dan Firah Aniq Imtinansyah (angkatan 2023), Nauril Ni’mah (angkatan 2024), serta Deswinda Auliya Putri (angkatan 2025). Karya poster mereka ditampilkan dalam format A3 dengan mengangkat visual simbolik tokoh Mehmet Akif Ersoy, sosok penting di balik lahirnya lagu kebangsaan Turki, Istiklal Marşı.

    Dalam proses kreatifnya, para mahasiswa mendapatkan pendampingan dari dosen DKV ISI Surakarta, Basnendar Herry Prilosadoso, mulai dari penguatan ide hingga tahap visualisasi desain. Pendampingan ini menjadi bagian penting dalam menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat global.

    Basnendar menyampaikan, keberhasilan mahasiswa dalam ajang ini menjadi bukti kualitas karya yang tidak hanya kuat secara konsep, tetapi juga mampu berbicara di ranah internasional. 

    “Melalui desain poster yang dihasilkan, mahasiswa menunjukkan karya mereka mampu bersaing di tingkat internasional. Kegiatan ini juga menjadi ruang untuk membangun jejaring dengan desainer dan seniman dari berbagai negara,” jelasnya.

    Pameran ini mengangkat tema yang terinspirasi dari Istiklal Marşı, yang tidak hanya dipandang sebagai karya sastra, namun juga merepresentasikan memori kolektif, nilai nasional, serta kesinambungan sejarah bangsa Turki. Melalui pendekatan visual, para desainer dari berbagai negara diajak menerjemahkan nilai-nilai tersebut ke dalam bahasa desain yang beragam.

    Salah satu peserta, Gilbert Gohnarso, menuturkan bahwa karya poster yang dibuat melalui teknik digital merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan bangsa Turki dalam meraih kemerdekaan. “Pencapaian ini menjadi kebanggaan tersendiri, karena karya kami bisa lolos kurasi dan dipamerkan di ajang internasional,” ujarnya.

    Ajang ini sekaligus menjadi wadah kolaborasi global dalam mengubah warisan sastra Mehmet Akif Ersoy menjadi narasi visual yang kuat dan relevan lintas budaya. Keikutsertaan mahasiswa ISI Surakarta diharapkan dapat terus memacu semangat berkarya serta memperluas kontribusi generasi muda Indonesia di kancah seni internasional. (Sofyan)


    Baca juga: Hujan Tak Surutkan Kekhusyukan, Ratusan Jemaah Ikuti Salat Id di Baleharjo Wonogiri

    Ribuan umat Islam memadati Lapangan Kottabarat untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). 


    Ribuan Jamaah Padati Lapangan Kottabarat, Prof. Andri Nirwana Ajak Istikamah Usai Ramadhan

    Solo - majalahlarise.com - Ribuan umat Islam memadati Lapangan Kottabarat untuk melaksanakan Shalat Idul Fitri 1447 H, Jumat (20/3/2026). Bertindak sebagai imam dan khotib, Prof. Andri Nirwana, Guru Besar Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta.

    Sejak pukul 06.00 WIB, jamaah telah memadati lokasi dengan iringan lantunan takbir yang menggema. Lantunan takbir menambah suasana khidmat dan penuh haru. Panitia menyiapkan 12 shaf atau barisan untuk menampung jamaah yang hadir. Kehadiran jamaah kurang lebih berjumlah mencapai sekitar 1.200 orang.

    Dalam khutbahnya, Prof. Andri Nirwana mengajak seluruh jamaah untuk menjaga keistikamahan dalam beribadah setelah bulan Ramadhan. Ia menegaskan bahwa tantangan terbesar umat Islam bukan hanya menjalankan ibadah selama Ramadhan, tetapi bagaimana mempertahankan konsistensi tersebut di bulan-bulan berikutnya. 

    “Pada bulan Ramadhan, ibadah terasa lebih ringan karena setan dibelenggu. Namun, tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga konsistensi ibadah di luar bulan Ramadhan,” ujarnya di hadapan jamaah.

    Ia menjelaskan bahwa salah satu kunci menjaga keistikamahan adalah peran keluarga dalam membentuk kebiasaan ibadah. Menurutnya, keluarga perlu menyusun jadwal rutin, seperti puasa sunnah, salat berjamaah, serta membaca Al-Qur’an agar amalan Ramadhan tetap berlanjut. “Jika kebiasaan ini tidak dibangun dalam keluarga, akan sulit untuk istiqamah, apalagi ketika masing-masing anggota memiliki kesibukan. Dengan perencanaan yang baik, amalan Ramadhan bisa terus berlanjut hingga bertemu Ramadhan berikutnya,” jelasnya.

    Selain itu, Prof. Andri juga menyinggung perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri yang terjadi di tengah masyarakat. Ia mengimbau umat Islam untuk menyikapi perbedaan tersebut dengan bijak dan penuh kedewasaan. Menurutnya, perbedaan tersebut muncul karena perbedaan metode, seperti rukyat dan hisab. Muhammadiyah, misalnya, telah menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang berbasis perhitungan ilmiah dan dapat diprediksi jauh ke depan. 

    “Pada masa Rasulullah, rukyat digunakan karena keterbatasan ilmu pengetahuan. Saat ini, ilmu astronomi sudah berkembang, sehingga penentuan kalender bisa dilakukan secara lebih akurat. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi sumber perpecahan,” tegasnya.

    Ia pun mengingatkan pentingnya menjaga ukhuwah Islamiyah dengan saling menghormati dan memahami perbedaan yang ada.

    Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Lapangan Kottabarat berlangsung tertib, khusyuk, dan penuh kebersamaan. Momentum ini tidak hanya menjadi ajang ibadah, tetapi juga mempererat tali persaudaraan umat Islam. Diharapkan, semangat Ramadhan yang telah dijalani dapat terus terjaga dalam kehidupan sehari-hari, sehingga melahirkan pribadi yang lebih baik dan berdaya bagi umat serta bangsa. (Sofyan)


    Baca juga: Mahasiswa DKV ISI Surakarta Tembus Pameran Internasional di Turki, Karya Poster Dipajang Bersama Desainer Dunia

    Pelaksanaan Salat Idulfitri pada Jumat (20/3/2026) di halaman SD Negeri 1 Baleharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri.


    Hujan Tak Surutkan Kekhusyukan, Ratusan Jemaah Ikuti Salat Id di Baleharjo Wonogiri

    Wonogiri - majalahlarise.com - Pelaksanaan Salat Idulfitri pada Jumat (20/3/2026) di halaman SD Negeri 1 Baleharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, berlangsung khusyuk meskipun sempat diguyur hujan. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Badan Koordinasi Antar Masjid (BKAM) Desa Baleharjo bekerja sama dengan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Baleharjo.

    Bertindak sebagai khatib, Muhamad Arifin, yang juga Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo, menyampaikan khotbah bertema pentingnya menjaga ketakwaan dan istikamah setelah Ramadan.

    Dalam khotbahnya, khatib menegaskan bahwa Idulfitri bukan sekadar momentum kebahagiaan setelah berpuasa, tetapi juga menjadi titik awal untuk mempertahankan kualitas ibadah.

    “Idulfitri adalah hari kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, bukan hanya saat berbuka di dunia, tetapi puncaknya adalah ketika berjumpa dengan Allah Swt. Oleh karena itu, ibadah tidak boleh berhenti setelah Ramadan,” pesannya.

    Ia juga mengingatkan bahwa esensi puasa tidak hanya menahan lapar dan dahaga, melainkan juga menahan diri dari perbuatan maksiat serta menjaga hati dan perilaku sepanjang waktu. Khatib menekankan bahwa orang yang benar-benar bertakwa adalah mereka yang konsisten dalam beribadah, tidak hanya pada bulan Ramadan.

    Selain itu, disampaikan pula pentingnya menjaga istikamah melalui beberapa amalan sederhana, seperti memperbanyak doa, menjaga pergaulan dengan orang saleh, serta membiasakan amal kebaikan secara berkelanjutan meskipun dalam jumlah kecil.

    Ketua BKAM sekaligus PRM Baleharjo, Warijo, mengungkapkan pelaksanaan salat Idulfitri dihadiri sekitar 700 jemaah.

    “Alhamdulillah, sempat turun hujan saat pelaksanaan salat pada rakaat kedua. Namun, jemaah tetap khusyuk dan melanjutkan hingga khotbah, meskipun harus berteduh di lorong teras sekolah dan kantor desa setempat. Jemaah tetap antusias,” ujarnya.

    Warijo juga menyampaikan masyarakat Baleharjo menyikapi perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri dengan penuh kedewasaan.

    “Sebagian masjid di Desa Baleharjo akan melaksanakan salat Idulfitri pada Sabtu, 21 Maret 2026. Masyarakat dapat saling memahami dan menjaga toleransi atas perbedaan tersebut,” tambahnya.

    Pelaksanaan salat Idulfitri ini menjadi momentum kebersamaan sekaligus penguatan nilai toleransi di tengah masyarakat. Selain itu, pesan khotbah yang disampaikan diharapkan menjadi bekal bagi jemaah untuk terus menjaga kualitas ibadah dan istikamah dalam kehidupan sehari-hari. (Sofyan)


    Baca juga: Lima Kunci Negeri yang Berkah, Pesan Khatib Idulfitri di Solo

    Imam dan khatib salat Idulfitri Ustaz Dwi Jatmiko, di Krida Mangkubumen, Banjarsari, Surakarta.


    Lima Kunci Negeri yang Berkah, Pesan Khatib Idulfitri di Solo

    Surakarta — majalahlarise.com - Imam dan khatib salat Idulfitri di Krida Mangkubumen, Banjarsari, Surakarta, Ustaz Dwi Jatmiko, mengingatkan pentingnya menjaga rasa aman sebagai salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. Hal tersebut disampaikan dalam khutbah Idulfitri, Jumat (20/3/2026).

    Dalam khutbahnya, ia menyampaikan rasa aman menjadi fondasi utama bagi hadirnya berbagai nikmat lainnya. “Bayangkan, apalah artinya rumah besar, makanan berlimpah, kendaraan mewah dan segala fasilitas kehidupan lainnya kalau ternyata negeri tempat kita tidak aman,” ujarnya.

    Ia mengajak umat Islam menjadikan momentum bulan Syawal untuk saling menebarkan salam, mempererat ukhuwah, serta saling mendoakan. Menurutnya, hal itu menjadi langkah penting dalam mewujudkan negeri yang thoyyibatun wa rabbun ghafur, yakni negeri yang aman, subur, makmur, serta penuh rida dan ampunan Allah SWT.

    Ustaz Dwi Jatmiko yang juga anggota Korps Mubaligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo menyampaikan apresiasi kepada takmir Masjid Al Mustaqim dan LP2A Mangkubumen. Dalam kesempatan tersebut, ia menguraikan lima kunci utama terwujudnya negeri yang berkah.

    “Kunci pertama adalah adanya ketaatan kepada Allah SWT dengan hadirnya iman dan takwa. Kedua, adanya akhlak mulia serta rasa syukur atas nikmat. Ketiga, hadirnya pemimpin yang adil dan amanah di tengah masyarakat,” tuturnya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan kunci keempat adalah terjalinnya hubungan harmonis antara rakyat dan pemerintah. Sedangkan kunci kelima adalah keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, yang diiringi kemajuan ilmu pengetahuan, baik agama maupun umum, untuk kemaslahatan bersama.

    “Negeri yang subur, aman dari ancaman internal maupun eksternal, serta didukung aparat seperti polisi dan tentara yang berperan sebagai pengayom keamanan dan kesejahteraan masyarakat, menjadi bagian penting dari terwujudnya keberkahan tersebut,” urainya.

    Ia juga mengutip firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-A’raf ayat 96, yang menjelaskan bahwa keberkahan dari langit dan bumi akan diberikan kepada suatu kaum yang beriman dan bertakwa. Sebaliknya, kemaksiatan dapat menjadi sebab tertolaknya keberkahan tersebut.

    “Ayat ini menunjukkan keberkahan dan kemakmuran dapat hilang akibat dosa dan kemaksiatan yang dilakukan manusia,” jelasnya.

    Menutup khutbahnya, ia menyampaikan harapan agar Indonesia menjadi negeri yang gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. “Semoga Indonesia menjadi negeri yang aman, makmur, dan penuh keberkahan,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Jamaah Padati Sholat Idul Fitri 1447 H di Dusun Gunungan, Khotbah Tekankan Ketakwaan Menyeluruh dan Kepedulian Sosial

    Kaum Muslimin dan Muslimat di wilayah Gunungan dan sekitarnya memadati pelaksanaan Sholat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang digelar di Komplek Masjid Al-Barokah, Dusun Gunungan.


    Jamaah Padati Sholat Idul Fitri 1447 H di Dusun Gunungan, Khotbah Tekankan Ketakwaan Menyeluruh dan Kepedulian Sosial

    Wonogiri – majalahlarise.com - Kaum Muslimin dan Muslimat di wilayah Gunungan dan sekitarnya memadati pelaksanaan Sholat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H yang digelar di Komplek Masjid Al-Barokah, Dusun Gunungan, Desa Gunungan Kecamatan Manyaran, Jumat (20/3/2026) pukul 07.00 WIB. Suasana khidmat terasa sejak pagi hari saat jamaah berkumpul untuk menunaikan ibadah bersama yang dipimpin oleh Ustadz Syamsi, S.Pd.I dari Gubuk Qur’an Manyaran.

    Dalam sambutannya, Takmir Masjid Al-Barokah, Wasiman, menyampaikan rasa syukur dan ucapan selamat datang kepada para perantau yang pulang kampung untuk merayakan Idul Fitri. “Kami mengucapkan selamat datang kepada sedulur-sedulur perantauan. Semoga momentum ini menjadi ajang mempererat silaturahmi dan kebersamaan,” tuturnya.

    Ia juga menguraikan laporan pengelolaan zakat fitrah tahun 2026 yang berhasil dihimpun panitia. “Zakat fitrah yang terkumpul berupa beras sebanyak 1 ton 730 kilogram dan seluruhnya telah disalurkan kepada yang berhak menerima,” jelas Wasiman. Selain itu, infak yang terkumpul juga digunakan untuk operasional kegiatan masjid, dengan harapan seluruh amal yang dilakukan diterima oleh Allah SWT.

    jamaah saling bersalaman dan bersilaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah.


    Sementara itu, dalam khotbah Idul Fitri, Ustadz Syamsi mengawali pesannya dengan mengutip Surah Al-Baqarah ayat 85 yang mengingatkan umat agar tidak mengamalkan ajaran Islam secara parsial. “Apakah kalian mengimani sebagian dan mengingkari sebagian yang lain? Tidak ada balasan bagi yang demikian kecuali kehinaan di dunia dan azab di akhirat,” ungkapnya di hadapan jamaah.

    Ia menjelaskan bahwa Islam harus dijalankan secara menyeluruh, tidak hanya dalam ibadah ritual seperti sholat, puasa, dan zakat, tetapi juga mencakup aspek kehidupan lainnya. Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 208, ia mengatakan, “Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan dan jangan mengikuti langkah-langkah setan.” Menurutnya, ketakwaan tidak boleh dipahami secara sempit, melainkan harus hadir dalam seluruh dimensi kehidupan.

    Lebih lanjut, khatib menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai buah dari ketakwaan. “Orang bertakwa tidak mungkin hidup tenang ketika saudaranya kelaparan atau menderita,” ujarnya. Ia menambahkan, ciri orang bertakwa adalah gemar bersedekah, mampu menahan amarah, dan mudah memaafkan, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an.

    Dalam refleksinya, Ustadz Syamsi juga menyinggung kondisi umat Islam saat ini yang dinilai masih menghadapi berbagai tantangan akibat kurangnya persatuan. “Mengapa umat Islam yang jumlahnya besar masih banyak yang tertindas? Salah satunya karena kita terpecah-belah dan kehilangan persatuan,” tuturnya.

    Menutup khotbah, ia mengajak jamaah menjadikan Idul Fitri sebagai momentum kebangkitan diri dan umat. “Marilah kita menjadikan Idul Fitri sebagai saat memperbaiki diri, meningkatkan kepedulian, serta mempererat persatuan umat,” pesannya.

    Usai pelaksanaan sholat, jamaah tidak langsung beranjak pulang, melainkan melanjutkan dengan saling bersalaman dan bersilaturahmi, memperkuat ukhuwah Islamiyah di momen penuh kemenangan tersebut. (Sofyan)


    Baca juga: Superhero Dongeng Religi Warnai Pesantren Kilat, DISPORAPAR Sukoharjo Promosikan Wisata Lewat Cerita Anak


Top