MoU Fakultas Saintek UNISRI dan Fakultas Pertanian UNSOED Bukan Sekadar Seremonial, tapi Kolaborasi Nyata

    SOLO – majalahlarise.com – Fakultas Sains dan Teknologi (Saintek) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta dan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU), Selasa (30/9/2026). Kegiatan berlangsung di Kampus UNSOED dan menjadi langkah penguatan sinergi kedua perguruan tinggi dalam menghadapi tuntutan kolaborasi, riset, serta hilirisasi hasil penelitian.

    Dekan Fakultas Pertanian UNSOED, Prof. Dr. Ir. Sakhidin, M.P., menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, MoU menjadi bagian dari target strategis Fakultas Pertanian UNSOED dalam memperluas jejaring kerja sama dengan berbagai pihak, baik dunia industri maupun institusi pendidikan.

    “MoU ini adalah target kami untuk memperluas kerja sama. Namun demikian, yang paling penting adalah MoU harus menghasilkan implementasi. Jangan hanya berhenti di atas kertas. Kerja sama harus memberikan manfaat nyata bagi kedua belah pihak,” tegas Prof. Sakhidin.

    Ia menjelaskan, tantangan di bidang pertanian dan pangan semakin kompleks sehingga tidak dapat diselesaikan oleh satu institusi saja. Kolaborasi lintas perguruan tinggi, disiplin ilmu, dan wilayah diperlukan untuk menjawab berbagai persoalan, mulai dari ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga pengembangan teknologi pertanian berkelanjutan.

    “Pertanian dan pangan merupakan persoalan bersama. Karena itu, diperlukan sinergi dan kolaborasi agar berbagai potensi yang dimiliki masing-masing institusi dapat saling melengkapi,” jelasnya.

    Dekan Fakultas Saintek UNISRI, Prof. Dr. Nanik Suhartatik, S.TP., M.P., menyampaikan hal senada. Ia menjelaskan, hubungan kerja sama antara Fakultas Saintek UNISRI dan Fakultas Pertanian UNSOED sebenarnya telah berlangsung sebelum MoU ditandatangani.

    “Implementasi antara Saintek UNISRI dan Fakultas Pertanian UNSOED sebenarnya telah terjalin lama, bahkan sebelum MoU ini ditandatangani. Bentuknya sudah ada, seperti menulis buku bersama, team teaching, penelitian bersama, dan kerja sama pengelolaan jurnal,” ungkap Prof. Nanik.

    Menurutnya, penandatanganan MoU menjadi bentuk formalisasi sekaligus penguatan terhadap berbagai kolaborasi yang telah berjalan. Dengan adanya kesepahaman resmi, kerja sama diharapkan dapat dikembangkan secara lebih terstruktur, berkelanjutan, serta memberikan dampak yang lebih luas bagi sivitas akademika kedua perguruan tinggi.

    “Sudah bukan saatnya lagi kita bersaing secara individual. Di era kolaborasi seperti sekarang, justru kekuatan kolaborasi akan membuat semua pihak semakin kuat dan maju bersama. Prinsipnya adalah collaborate to elevate,” pungkasnya.

    Melalui MoU tersebut, Fakultas Saintek UNISRI dan Fakultas Pertanian UNSOED sepakat mengembangkan kerja sama dalam bidang Tri Dharma Perguruan Tinggi. Ruang lingkupnya meliputi pengembangan pendidikan melalui team teaching dan pertukaran dosen tamu, penelitian kolaboratif serta publikasi ilmiah bersama, pengabdian kepada masyarakat dan pemberdayaan petani.

    Selain itu, kedua fakultas juga akan mengembangkan jurnal ilmiah dan penulisan buku ajar serta membuka peluang pelaksanaan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) bagi mahasiswa.

    Kolaborasi tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen kerja sama, tetapi diwujudkan melalui berbagai program konkret yang melibatkan dosen, mahasiswa, peneliti, serta masyarakat.

    Kerja sama Fakultas Saintek UNISRI dan Fakultas Pertanian UNSOED sekaligus diharapkan menjadi bagian dari penguatan ekosistem kolaborasi antarperguruan tinggi di Jawa Tengah, khususnya dalam menghasilkan inovasi dan solusi di bidang pertanian, teknologi, serta ketahanan pangan nasional. (Sofyan)


    Baca juga: Alumni Smansa Wonogiri Angkatan 1990 Gelar Temu Kangen di Kaliurang

     

    Mahasiswa KKN Mandiri Universitas Veteran Bangun Nusantara bersama masyarakat RT 01 RW 03 Tegalrejo dalam kegiatan sosialisasi pemilahan sampah dan demonstrasi pembuatan insinerator sederhana berbahan batako, Jumat (21/8/2026).


    Mahasiswa KKN Mandiri Univet Bantara Edukasi Warga Tegalrejo melalui Pemilahan Sampah dan Insinerator Sederhana

    SUKOHARJO – majalahlarise.com - Mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) memberikan edukasi pengelolaan sampah rumah tangga kepada masyarakat RT 01 RW 03 Tegalrejo, Desa Lengking, Kecamatan Bulu, Kabupaten Sukoharjo, Jumat (21/8/2026).

    Kegiatan yang menjadi bagian dari Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Tahun 2026 tersebut diisi dengan sosialisasi pemilahan sampah serta pembuatan dan demonstrasi insinerator sederhana berbahan batako.

    Kegiatan dilaksanakan Keke Cahyaningtyas Robbani dan Raakhenita Diva Moninggar di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Nur Ani, S.K.M., M.K.K.K. Sebanyak 20 warga mengikuti rangkaian kegiatan yang berlangsung interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, demonstrasi, serta evaluasi.


    Keke berperan dalam persiapan kegiatan, koordinasi tempat, dan penyampaian materi mengenai pemilahan serta pengelolaan sampah. Sementara Raakhenita bertugas menyiapkan instrumen evaluasi, berkoordinasi dengan narasumber, menyiapkan alat insinerator, dan mendampingi demonstrasi.

    “Kami ingin memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari rumah, terutama melalui pemilahan berdasarkan jenisnya. Dengan pemilahan yang dilakukan sejak dari sumber, sampah dapat dikelola sesuai karakteristiknya,” ujar Keke.

    Materi sosialisasi meliputi jenis-jenis sampah, pentingnya pemilahan sejak dari sumber, penerapan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta dampak pembakaran sampah secara terbuka terhadap kesehatan dan lingkungan.

    Sebelum materi diberikan, peserta mengikuti pre-test untuk mengetahui tingkat pengetahuan awal. Setelah sosialisasi dan demonstrasi selesai, peserta kembali mengikuti post-test sebagai bagian dari evaluasi.


    Sesi berikutnya diisi dengan pembuatan dan demonstrasi insinerator sederhana berbahan batako. Kegiatan tersebut menghadirkan Muhammad Hendardi selaku tenaga ahli di bidang udara sebagai narasumber.

    Muhammad Hendardi menjelaskan prinsip pembakaran, tahapan pembuatan, fungsi, serta cara penggunaan insinerator sederhana berbahan batako. Peserta juga diperkenalkan dengan bahan dan peralatan yang digunakan serta melihat secara langsung proses pembuatan alat tersebut.

    “Pemilahan tetap menjadi bagian penting sebelum sampah masuk ke tahap pengolahan. Tidak semua jenis sampah dapat diolah melalui pembakaran, sehingga masyarakat perlu memahami karakteristik sampah dan pengelolaannya secara tepat,” jelas Muhammad Hendardi.

    Demonstrasi tersebut sekaligus menjadi ruang diskusi bagi masyarakat mengenai permasalahan sampah yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Peserta dapat mengajukan pertanyaan mengenai proses pembakaran dan penggunaan insinerator secara lebih terkendali.



    Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti kegiatan. Dari 20 peserta, nilai rata-rata pre-test tercatat 80,0, kemudian meningkat menjadi 95,0 pada post-test. Dengan demikian, terdapat peningkatan nilai rata-rata sebesar 15 poin.

    Raakhenita mengatakan hasil evaluasi tersebut menjadi salah satu indikator adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan.

    “Melalui evaluasi pre-test dan post-test, kami dapat melihat perubahan pemahaman peserta setelah mengikuti sosialisasi dan demonstrasi. Harapannya, pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam pengelolaan sampah sehari-hari di lingkungan rumah masing-masing,” ujarnya.

    Mahasiswa berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat semakin terbiasa memilah sampah sejak dari rumah dan memiliki kepedulian lebih baik terhadap kebersihan serta kesehatan lingkungan.

    Selain memberikan manfaat kepada masyarakat, kegiatan KKN menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.

    Program tersebut merupakan bagian dari KKN Mandiri Tahun 2026 dengan tema “Univet Berdampak: Sinergi Kampus dan Masyarakat dalam Mengoptimalkan Potensi Lokal dan Produk Unggulan Daerah melalui Inovasi dan Kolaborasi.”

    Melalui kolaborasi mahasiswa, tenaga ahli, dan masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan sekaligus kepedulian terhadap pengelolaan lingkungan, terutama yang dimulai dari tingkat rumah tangga. (Sofyan)

    Para alumni sedang mengikuti game.


    Alumni Smansa Wonogiri Angkatan 1990 Gelar Temu Kangen di Kaliurang

    YOGYAKARTA – majalahlarise.com – Sekitar 40 alumni SMA Negeri 1 Wonogiri (Smansa) angkatan 1990 mengikuti temu kangen di Lov Villa, Kaliurang, Yogyakarta, Sabtu-Minggu (26-27/9/2026). Kegiatan berlangsung hangat dan penuh keakraban melalui berbagai permainan, sharing, olahraga santai, hingga sesi foto bersama.

    Pada hari pertama, para alumni mengikuti sejumlah permainan individu dan kelompok yang mengundang gelak tawa. Di antaranya estafet sarung, tebak kata, serta berbagai game lainnya. Kegiatan tersebut menjadi pembuka temu kangen sekaligus menjadi sarana untuk kembali membangun kedekatan setelah puluhan tahun menyelesaikan pendidikan di bangku SMA.

    Malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan sharing bertema “Mempersiapkan Masa Pensiun” yang disampaikan Sri Wulandari, salah satu alumni. Materi tersebut membahas berbagai hal yang perlu dipersiapkan menjelang masa pensiun, mulai dari aspek finansial, kesehatan, hingga rencana kehidupan setelah memasuki masa pensiun.

    Ketua alumni, Lukito Heri Mulyono, mengatakan temu kangen menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antar lulusan Smansa Wonogiri angkatan 1990. Selain menjaga hubungan pertemanan, pertemuan tersebut juga menjadi ruang untuk saling berbagi informasi yang bermanfaat.

    “Temu kangen ini sebagai bentuk untuk menjalin silaturahmi antar alumni. Selain itu, agenda ini juga bermanfaat untuk saling memberi informasi yang berguna, baik bagi antar alumni maupun kepada orang lain,” ujar Lukito.

    Para alumni yang hadir berasal dari berbagai daerah, di antaranya Jawa Timur, Jakarta, Depok, Yogyakarta, Boyolali, Karanganyar, Solo, Wonogiri, serta sejumlah wilayah lainnya. Kegiatan tersebut terlaksana atas inisiatif dan dukungan Wasino Haryanto, salah satu alumni.

    Memasuki hari kedua, para alumni mengikuti kegiatan jalan pagi dengan menyusuri Desa Sambi, Kaliurang. Lokasi tersebut berjarak sekitar 500 meter dari villa tempat para alumni menginap.

    Kegiatan susur desa dikemas sebagai olahraga santai sekaligus sarana menikmati suasana pedesaan yang masih asri. Kebersamaan semakin terasa ketika para alumni berjalan bersama dan mengabadikan momen melalui foto bersama.

    Salah satu panitia, Herlina Ariningsih, mengatakan temu kangen tersebut diharapkan dapat menghidupkan kembali kenangan ketika para alumni masih duduk di bangku SMA.

    “Temu kangen ini diharapkan mampu menggugah memori akan saat duduk di bangku SMA dulu beserta pernak-perniknya dan menambah penyemangat kebersamaan antar alumni,” tutur Herlina.

    Temu kangen Smansa Wonogiri angkatan 1990 di Kaliurang berlangsung selama dua hari dengan berbagai rangkaian kegiatan. Tidak hanya menjadi ajang bernostalgia, reuni tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan menjaga komunikasi antar lulusan di tengah kesibukan masing-masing. (Sofyan)


    Baca juga: PPL Kelas 2 SD Muhammadiyah PK Banyudono Belajar Seni Payung Lukis di Juwiring

     



    PPL Kelas 2 SD Muhammadiyah PK Banyudono Belajar Seni Payung Lukis di Juwiring

    KLATEN – majalahlarise.com – Sebanyak 112 siswa kelas 2 SD Muhammadiyah PK Banyudono mengikuti Pembelajaran Pengalaman Lapangan (PPL) dengan mengunjungi sentra kerajinan Payung Lukis Ngudi Rahayu, Juwiring, Klaten, Rabu (30/9/2026).

    Kegiatan tersebut didampingi tujuh guru dan dipimpin Ustadzah Maya selaku ketua panitia. Turut mendampingi siswa yakni Ustadz Danang, Ustadzah Muna, Ustadz Nur, Ustadz Habibi, Ustadz Wawan, dan Ustadzah Elsa.

    Dalam kunjungan tersebut, para siswa diperkenalkan secara langsung dengan salah satu kekayaan budaya Indonesia berupa seni payung lukis. Siswa tidak hanya melihat hasil kerajinan, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenai proses pembuatan serta nilai seni dan budaya yang terkandung di dalamnya.

    Rombongan diterima Mas Adam selaku Ketua Paguyuban/Komunitas Payung Lukis Ngudi Rahayu. Para siswa tampak antusias mengikuti kegiatan. Mereka menikmati pembelajaran di luar kelas sekaligus mengenal lebih dekat salah satu warisan budaya yang berkembang di lingkungan sekitar.

    Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, S.Pd., S.Si., MM, menjelaskan pembelajaran perlu diperkaya dengan pengalaman nyata agar siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan budaya bangsa.

    “Pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman secara langsung agar mereka dapat melihat, memahami, dan menghargai kekayaan budaya yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.

    Menurutnya, pengenalan budaya sejak usia dini menjadi bagian penting dalam membangun karakter siswa. Melalui interaksi langsung dengan pelaku budaya, siswa dapat memahami proses sekaligus nilai yang terdapat dalam sebuah karya tradisional.

    “Kami berharap kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya Indonesia. Anak-anak tidak cukup hanya mengenal budaya melalui buku, tetapi juga perlu melihat, merasakan, dan berinteraksi langsung dengan para pelaku budaya,” jelas Pujiono.

    Kegiatan PPL tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang memberikan ruang kepada siswa untuk belajar melalui pengalaman nyata. Selain memperluas wawasan, kegiatan ini juga menjadi sarana menanamkan jiwa nasionalisme serta kepedulian terhadap pelestarian budaya Indonesia.

    Melalui PPL kelas 2, SD Muhammadiyah PK Banyudono berupaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Belajar di kelas untuk memahami, belajar di lapangan untuk mengalami, serta belajar dari budaya untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: LDKO OSIS SMA Veteran 1 Sukoharjo Digelar, Bekali Siswa dengan Karakter Kepemimpinan


    Kegiatan donor darah bersama anggota Kodim 0726/Sukoharjo.


    HUT TNI, SUPELTAS Sukoharjo Sumbang Darah Bersama Anggota Kodim 0726

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Tentara Nasional Indonesia (TNI), Sukoharjo Pelopor Keselamatan Lalu Lintas (SUPELTAS) Kabupaten Sukoharjo menggelar kegiatan donor darah bersama anggota Kodim 0726/Sukoharjo. Rabu (30/9/2026).

    Kegiatan sosial tersebut diikuti sekitar 170 peserta. Mereka berasal dari unsur prajurit TNI, anggota SUPELTAS, serta peserta lainnya yang turut berpartisipasi dalam aksi kemanusiaan tersebut.

    Ketua SUPELTAS Kabupaten Sukoharjo, Ridniar, mengatakan donor darah menjadi salah satu rangkaian kegiatan sosial untuk memperingati HUT TNI. Kegiatan tersebut juga melibatkan jajaran Koramil di wilayah Kabupaten Sukoharjo.

    “Dalam rangka HUT TNI kali ini, kami membuat kejutan dengan kegiatan donor darah yang melibatkan 12 Koramil di Sukoharjo. Masing-masing Koramil mengirimkan dua anggota untuk mengikuti donor darah,” jelas Ridniar.

    Menurut Ridniar, donor darah tidak hanya menjadi bentuk kepedulian sosial, tetapi juga sebagai upaya membantu memenuhi kebutuhan stok darah bagi masyarakat yang membutuhkan.

    “Kami berharap darah yang terkumpul melalui kegiatan ini bisa memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan. Ini merupakan bentuk kepedulian SUPELTAS bersama TNI dalam kegiatan kemanusiaan,” ujarnya.

    Ridniar menambahkan, kegiatan sosial SUPELTAS tidak berhenti pada donor darah. Pihaknya juga menyiapkan aksi sosial berupa pendistribusian air bersih bagi warga yang membutuhkan di wilayah Weru, Sukoharjo.

    “Kemudian rangkaian kegiatan lainnya, kami juga akan melakukan dropping air bersih di Weru, Sukoharjo. Kami masih menunggu koordinasi dari Polres, dan rencananya kurang lebih ada 10 tangki air bersih yang akan dikirimkan,” katanya.

    Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen SUPELTAS Sukoharjo untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan membantu masyarakat yang membutuhkan dukungan.

    Melalui donor darah dan rencana pendistribusian air bersih, momentum HUT TNI diisi dengan kegiatan yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat sinergi antara masyarakat, TNI, dan kepolisian dalam kegiatan kemanusiaan di Kabupaten Sukoharjo. (Sofyan)


    Baca juga: Targetkan 21 Ribu Halaman dalam 2 Tahun, Proyek Digitalisasi Naskah Kuno Keraton Surakarta Resmi Dimulai

    Suasana Wilujengan Pembukaan Kegiatan Digitalisasi Naskah Keraton Surakarta di Bangsal Morokoto (Senin, 28/9/2026)


    Targetkan 21 Ribu Halaman dalam 2 Tahun, Proyek Digitalisasi Naskah Kuno Keraton Surakarta Resmi Dimulai

    SOLO – majalahlarise.com - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa) dan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) dalam proyek digitalisasi koleksi manuskrip Perpustakaan Sasana Pustaka.

    Proyek tersebut termasuk bagian dari Endangered Archives Programme dengan kode 1830 (EAP1830) yang dicanangkan oleh British Library dengan pendanaan dari Arcadia Foundation. 

    Wilujengan atau prosesi selamatan sebagai tanda dibukanya proyek ini berlangsung pada Senin (28/9/2026) di Bangsal Morokoto, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Gusti Kanjeng Ratu Wandansari (Gusti Moeng) hadir langsung untuk membuka proyek EAP ini. 

    Konservator Perpusnas RI sekaligus Koordinator Bidang Preservasi Naskah Manassa, Aris Riyadi, mengatakan proyek tersebut akan berlangsung selama 2 tahun.

    “Jumlah manuskrip yang ditargetkan untuk didigitalisasi dalam proyek ini ada sekitar 210 manuskrip, dengan jumlah total sekitar 21 ribu halaman,” ujar Aris dalam acara wilujengan pembukaan proyek.

    Aris menambahkan proyek ini juga mencakup penyusunan metadata atau katalog serta upaya pelestarian fisik manuskrip agar dapat bertahan dalam jangka panjang. Hasil digitalisasi manuskrip dapat diakses oleh masyarakat di laman EAP British Library. Selain itu back up naskah digital juga akan disimpan di keraton dan Perpusnas RI sebagai archival partner.

    Aris juga mengapresiasi keterbukaan keraton terhadap akses manuskrip yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proyek tersebut. Menurutnya, keraton merupakan salah satu pusat pengetahuan dan kebudayaan sehingga manuskrip yang tersimpan di dalamnya memiliki nilai penting bagi penelitian.

    Asep Yudha Wirajaya selaku Ketua Manassa Komisariat Surakarta menuturkan usai acara wilujengan akan dilangsungkan workshop untuk tim yang terlibat dalam proses digitalisasi dan katalogisasi. Langkah tersebut dilakukan sebagai bentuk persiapan agar output proyek sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan pihak British Library.

    Ketua Pengurus Pusat Manassa, Agus Iswanto berharap melalui proyek digitalisasi ini, masyarakat dapat mengakses berbagai ilmu pengetahuan yang ada dalam manuskrip-manuskrip Keraton Surakarta.

    Suparjo, salah satu pengelola perpustakaan, mengatakan koleksi Sasana Pustaka memiliki beragam tema, mulai dari sejarah, agama, filsafat, kesenian, sastra, arsitektur, pengobatan hingga primbon. Selama ini koleksi tersebut sudah digunakan sebagai sumber penelitian dari berbagai bidang keilmuan. Manuskrip yang telah digitalisasi melalui proyek ini akan lebih mudah dijangkau oleh para peneliti.

    Mekanisme pelaksanaan proyek digitalisasi diawali dengan proses screening manuskrip yang akan menjadi bagian dari proyek. Setelah itu, dilakukan penyusunan metadata atau katalog untuk memudahkan proses pencarian informasi dalam sistem. Tahap berikutnya adalah pemotretan lembar-lembar manuskrip. 

    Sinergi antara Keraton Surakarta Hadiningrat, Manassa, Manassa Komisariat Solo dan Perpusnas RI dalam proyek EAP1830 ini menjadi upaya nyata dalam memperkaya khazanah kebudayaan di Indonesia. Pada pertengahan pelaksanaan proyek, sejumlah pemangku kepentingan direncanakan turut dilibatkan untuk berbagi informasi mengenai perkembangan proyek digitalisasi. Sejumlah peneliti dari berbagai disiplin ilmu juga memanfaatkan koleksi manuskrip untuk penelitian, termasuk penelitian mengenai ramuan jamu, tanaman herbal, serta arsitektur budaya dan bangunan Jawa. Ia juga menyoroti kondisi sebagian manuskrip yang memprihatinkan. Karena itu, selain digitalisasi, pelestarian fisik melalui konservasi dan reparasi diperlukan agar naskah dapat bertahan lebih lama.

    Hasil proyek digitalisasi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu upaya menjaga keberadaan naskah kuno sekaligus memberikan akses pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

    “Istilahnya itu Sastra Lungset Ing Sampiran, artinya ilmu yang berharga tidak akan memiliki nilai apabila hanya disimpan dan tidak disampaikan kepada masyarakat,” ungkap Gusti Moeng setelah acara wilujengan usai.

    Gusti Moeng menambahkan, keberadaan Perpustakaan Sasana Pustaka memiliki sejarah panjang. Perpustakaan tersebut didirikan oleh Sinuhun Pakubuwono X pada 1920. Pada masa itu, koleksi-koleksi yang sebelumnya tersebar dikumpulkan menjadi satu di perpustakaan. Sementara itu, sebagian koleksi yang dianggap sering dibutuhkan masyarakat ditempatkan di Perpustakaan Radya Pustaka pada 1926. Melalui proyek digitalisasi ini, manuskrip yang tersimpan di Keraton Surakarta diharapkan tidak hanya dapat dilestarikan secara fisik, tetapi juga dapat diakses oleh peneliti, akademisi, serta masyarakat yang memiliki ketertarikan pada kebudayaan.


    Penulis: Putri Aulia Nur Fauziah, Lutfia Hardiantari

    Dokumentasi: Rezty Putri Ariana Gunarso

    Editor: Sofyan


    Baca juga: LDKO OSIS SMA Veteran 1 Sukoharjo Digelar, Bekali Siswa dengan Karakter Kepemimpinan

    Wawali Astrid Widayani saat menjadi narasumber Seminar Sekolah Legislatif DPM FHIP × DPM FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) 


    Wawali Astrid Widayani Ajak Mahasiswa Pahami Kebijakan Publik dari Hulu hingga Hilir

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengajak mahasiswa memahami proses kebijakan publik secara utuh, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan dan dampaknya bagi masyarakat. Mahasiswa juga didorong mengambil peran sebagai mitra kritis sekaligus mitra solusi dalam mengawal pembangunan.

    Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi narasumber Seminar Sekolah Legislatif DPM FHIP × DPM FEB Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) bertema “Membedah Kebijakan Publik Indonesia: Analisis Dampak terhadap Ekonomi, Hukum, dan Masyarakat” yang berlangsung di Auditorium Mohammad Djazman UMS, Rabu (30/9/2026).

    Di hadapan mahasiswa, Astrid menjelaskan perbedaan peran eksekutif dan legislatif dalam penyelenggaraan pemerintahan. Kepala daerah bersama jajaran eksekutif menjalankan pemerintahan dan melaksanakan kebijakan. Sementara itu, legislatif memiliki fungsi pembentukan peraturan daerah, anggaran, serta pengawasan.


    “Eksekutif dan legislatif adalah mitra yang sejajar dan saling melengkapi. Dalam pembentukan Perda maupun APBD, keduanya bekerja melalui proses pembahasan hingga persetujuan bersama. Setelah itu, eksekutif menjalankan kebijakan, sementara legislatif menjalankan fungsi pengawasan,” kata Astrid.

    Menurut Astrid, kebijakan publik tidak boleh berhenti sebagai regulasi. Kebijakan perlu diarahkan untuk menyelesaikan persoalan masyarakat dan memberikan dampak nyata melalui regulasi, program maupun penganggaran.

    Astrid kemudian mengajak mahasiswa melihat bagaimana sebuah kebijakan diterjemahkan dalam pemerintahan daerah. Proses tersebut dimulai dari visi dan misi kepala daerah, RPJMD, Renstra, Renja, hingga DPA yang menjadi dasar pelaksanaan program perangkat daerah.

    “Ini yang saya sebut sebagai dapur pemerintah. Ada proses panjang sebelum sebuah program sampai dan dirasakan masyarakat,” ujarnya.

    Menurutnya, hasil akhir dari proses kebijakan dapat dilihat melalui program yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh masyarakat. Di Kota Surakarta, sejumlah program seperti Rumah Siap Kerja, Solo Technopark, dan UMKM Center menjadi bagian dari upaya pemerintah mendukung peningkatan kompetensi, akses dunia kerja, serta pengembangan dan pemasaran usaha masyarakat.

    “Jadi kebijakan itu harus kita lihat ujungnya. Apakah masyarakat bisa merasakan dan memanfaatkan program yang dibuat pemerintah. Itu salah satu ukuran bahwa kebijakan tidak berhenti di atas kertas,” jelas Astrid.

    Astrid juga menyinggung pembelajaran dari banjir yang terjadi di Kota Surakarta pada 15 April 2026. Peristiwa tersebut menjadi bahan evaluasi agar kebijakan pembangunan ke depan semakin berbasis peta risiko.

    Menurut Astrid, persoalan seperti banjir tidak dapat diselesaikan pemerintah sendirian. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat agar penanganan persoalan perkotaan dapat berjalan lebih efektif.

    “Pembangunan yang bermakna itu harus sah secara hukum, mendorong ekonomi, sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat,” katanya.

    Di tengah tantangan fiskal akibat penyesuaian Transfer ke Daerah (TKD), Astrid mengatakan Pemkot Surakarta tetap berupaya menjaga program prioritas. Salah satunya melalui efisiensi internal tanpa membebani masyarakat.

    Ia menjelaskan, arah pembangunan Kota Surakarta perlu bermuara pada peningkatan pendapatan masyarakat, pemerataan kesempatan kerja dan lapangan usaha, peningkatan pelayanan publik, serta penguatan daya saing daerah.

    Karena itu, Astrid meminta mahasiswa tidak hanya mengambil posisi sebagai penilai kebijakan. Mahasiswa memiliki ruang untuk berkontribusi melalui gagasan, kajian, kritik berbasis pengetahuan, serta solusi terhadap persoalan pembangunan.

    “Kalau kita ingin membangun bangsa lebih kuat, teman-teman bukan hanya sebagai penilai, tetapi harus bisa berkontribusi. Mahasiswa adalah mitra kritis sekaligus mitra solusi,” tegasnya.

    Astrid berharap mahasiswa memahami proses regulasi, pembentukan kebijakan hingga pelaksanaan program pemerintah. Pemahaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk memberikan kritik secara konstruktif sekaligus menawarkan solusi yang relevan.

    “Jadilah mahasiswa yang kritis tetapi membangun, punya integritas, dan ikut mengawal kebijakan kota. Kita kawal bersama kebijakan Kota Surakarta demi Surakarta maju dan sejahtera,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: FKIP Univet Bantara Gelar Pembekalan Mahasiswa Program Asistensi Mengajar

⬆
Top