Bu Retno saat memegang lukisan kaca tokoh wayang hasil karyanya.


    Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca

    Wonogiri – majalahlarise.com - Di sudut perbukitan selatan Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Kampung Wayang Kepuhsari, Manyaran, denyut tradisi tak pernah benar-benar padam. Di antara suara kuas dan desis halus semprotan cat, lahir karya-karya lukisan kaca wayang yang tak hanya unik, tetapi juga diminati kolektor hingga mancanegara.

    Di Sanggar Seni Wayang Asto Kenyo Art, tokoh-tokoh wayang kulit seolah menemukan rumah baru, bukan lagi di atas kulit kerbau, melainkan menari dalam pantulan kaca dan acrylic yang bening. Setiap garis, setiap warna, menuntut ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi agar menghasilkan karya seni berkualitas.

    Pelukis wayang media kaca, bu Retno Bimo akrab disapa menuturkan perjalanan panjangnya saat ditemui majalahlarise.com, Senin (23/2/2026).

    “Awalnya sederhana. Waktu kecil, om saya pelukis kaca. Saya sering melihat prosesnya,” kenangnya.

    Bu Retno tumbuh dalam lingkungan seni. Ia belajar di Sanggar Nimas Art, sanggar milik sang paman di Dusun Kepel, Kepuhsari. Namun, awal perjalanannya justru bukan langsung di kaca.

    “Saya belajar dari wayang beber. Bikin ornamen-ornamen, flora, fauna yang dekoratif. Tujuannya supaya tangan lemas dulu,” ujarnya.

    Media belajarnya pun tak biasa. Ia menggunakan kain menyerupai kanvas dan kertas daluang kertas tradisional dari kulit pohon daluang. Dari sana, kepekaan rasa dan keluwesan tangan mulai terasah.

    Meski di sanggar tersebut juga memproduksi lukisan kaca, Bu Retno tak mendapat pembelajaran khusus. Ketertarikannya tumbuh dari minat dan imajinasi.

    “Saya lihat saja sudah punya greget. Ada keinginan belajar sendiri,” katanya.

    Selepas dari sanggar, ia melanjutkan pendidikan seni rupa. Namun, untuk lukis kaca, ia memilih jalur otodidak. Tahun 2002–2003 menjadi titik awal eksperimen panjangnya.

    Proses itu tak selalu mulus. Kegagalan demi kegagalan pernah ia rasakan. Garis yang tak lurus, warna yang tak menyatu, hingga karya yang belum layak jual menjadi bagian dari perjalanan.

    “Tapi usaha tidak mengkhianati hasil,” ucapnya dengan senyum.

    Seiring waktu, garis yang semula “bengkok-bengkok” mulai rapi. Isian warna semakin halus. Campuran warna yang terus diulang akhirnya menemukan karakter khas.

    Teknik lukis kaca memiliki tantangan tersendiri. Semua dikerjakan secara terbalik. Wayang memang sudah memiliki pakem tokoh tua di kanan, muda di kiri; laki-laki di kanan, perempuan di kiri sehingga arah hadap sudah jelas dalam tradisi Solo dan Yogyakarta. Namun pada lukis wajah realis, tantangannya jauh lebih mendebarkan.

    “Kalau lukis wajah, deg-degannya luar biasa. Mirip atau tidak, baru kelihatan setelah selesai,” tuturnya.

    Bagian wajah harus selesai dalam satu hari. Jika dilanjutkan keesokan harinya, percampuran warna basah dan kering tak akan menyatu sempurna. Risiko gagal pun besar.

    Teknik background juga mengalami evolusi. Dari semprotan manual sederhana, kini ia menggunakan kompresor kecil hingga tabung besar seperti di bengkel. Ukuran dan jenis airbrush menentukan kualitas gradasi dan kesan dua dimensi pada latar.

    Dalam perkembangannya, Bu Retno tak hanya mengerjakan wayang. Ia juga melukis wajah, bunga, hingga tema lain di media kaca maupun acrylic. Acrylic dipilih untuk kebutuhan pengiriman jarak jauh karena lebih aman dibanding kaca.

    Untuk alat, ia menggunakan drawing pen atau rapido teknik berbagai ukuran, cat besi atau cat minyak untuk wayang, serta cat minyak khusus untuk lukis wajah yang tidak cepat kering dan mudah menyatu di media tanpa pori seperti kaca.

    Dari sisi pemasaran, daya tarik utama tetap pada kekuatan karakter wayang. Karya-karyanya tak sekadar pajangan dinding, tetapi juga bisa diaplikasikan pada jendela, pintu, hingga elemen interior rumah.

    Ukuran 40 x 60 cm pernah ia tawarkan di kisaran Rp950 ribu hingga Rp1 juta. Ukuran 50 x 70 cm bisa mencapai Rp1,35 juta hingga Rp1,5 juta. Kini, ia lebih fleksibel menyesuaikan anggaran pemesan, baik dari dalam maupun luar negeri.

    “Yang penting temanya bisa disesuaikan. Medianya juga tidak harus kaca,” ujarnya.

    Namun bagi Bu Retno, lukisan kaca bukan semata urusan jual beli. Ada misi pelestarian yang ia emban. Ia berharap wayang tetap lestari dan diterima lintas kalangan dari dunia pendidikan hingga masyarakat umum.

    Di sanggarnya, ia mengemas lukis kaca dalam paket workshop wisata. Wisatawan domestik maupun mancanegara diajak tak hanya membeli, tetapi juga merasakan proses kreatifnya.

    “Yang awalnya tidak tahu jadi tahu. Yang tidak ingin jadi ingin. Yang tidak butuh jadi merasa perlu,” katanya.

    Di Kampung Wayang Kepuhsari, kaca bukan sekadar media bening. Ia menjadi ruang tafsir baru bagi tradisi. Melalui ketelatenan dan kesabaran, Bu Retno membuktikan wayang mampu menembus batas zaman berkilau, memantul, dan terus hidup dari Wonogiri untuk dunia. (Sofyan)


    Baca juga: Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya

    Suasana kuliah Subuh di Masjid Desa Demangan, Kecamatan Sambi.


    Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya

    Boyolali - majalahlarise.com - Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, terasa lebih hidup dan khidmat, Ahad (21/2/2026). Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya, Tidak Hanya Wacana.”

    Hadir sebagai pemateri, Ustaz Pujiono, Mudir PonpesMU Manafi'ul 'Ulum, yang menyampaikan tausiyah inspiratif tentang pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai gerakan nyata, bukan sekadar agenda tahunan. Ia mengajak jamaah memahami puasa sebagai momentum membangun empati dan aksi sosial.

    “Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membangun kepedulian. Jika setelah Ramadhan kita masih abai pada tetangga yang kesulitan, berarti ada yang belum selesai dengan puasa kita,” ungkapnya di hadapan jamaah.

    Dalam tausiyahnya, Pujiono juga menguraikan agar masjid-masjid di Desa Demangan menjadi pusat pemberdayaan umat. Ia mendorong penguatan gerakan sedekah, optimalisasi zakat, serta penguatan solidaritas sosial sebagai bentuk implementasi nilai Ramadhan yang berdampak nyata di tengah masyarakat.

    Masih menurut Pujiono, kepedulian sosial dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya sebagai implementasi larangan berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56. Ia membacakan ayat tersebut yang berisi pesan agar manusia tidak membuat kerusakan setelah Allah memperbaiki bumi, serta senantiasa berdoa dengan rasa takut dan harap karena rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

    “Dari ayat ini, mari kita sebagai umat Islam menunaikan dengan membuang sampah pada tempatnya,” tandasnya.

    Kegiatan berlangsung tertib dan komunikatif, dipandu oleh moderator Abdul Fatah yang mengarahkan jalannya acara sejak awal hingga penutup. Kuliah Subuh ini merupakan sinergi takmir masjid se-Desa Demangan dengan Koordinator Muh. Abdul Jalil dan Sekretaris Suyamto. Adapun narahubung kegiatan adalah Andri Nugroho.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kaur Kesra Sarjono, serta sejumlah tokoh masyarakat seperti H. Rosyidi, Slamet, dan Uswatun Hasanah. Kehadiran para tokoh desa menunjukkan dukungan penuh terhadap gerakan Ramadhan yang lebih membumi dan berdampak.

    Acara ditutup dengan doa dan harapan bersama agar Ramadhan 1447 Hijriah benar-benar menjadi bulan kebangkitan kepedulian sosial di Desa Demangan. Semangat Subuh itu menjadi penanda Ramadhan di Demangan, Sambi, siap berdaya, tidak berhenti pada retorika, tetapi bergerak dalam aksi nyata. (Sofyan)


    Baca juga: Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Falah Sukoharjo Gelar Ramadhan Peduli Palestina, Donasi Terkumpul Rp7,9 Juta



    Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Falah Sukoharjo Gelar Ramadhan Peduli Palestina, Donasi Terkumpul Rp7,9 Juta

    Sukoharjo - majalahlarise.com - Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meningkatkan keimanan dan kepedulian. Menghadirkan semangat tersebut, Masjid Al-Falah Madyorejo Rt 01 Rw 07, Jetis Sukoharjo,  menyelenggarakan program Ramadhan Peduli Palestina, sebuah kegiatan dakwah Ramadhan yang dikemas secara hangat, edukatif, dan menyentuh hati, Sabtu (21/2/26)

    Ketua takmir Ir. H. Rudy Setyohadi saat dijumpai  menyampaikan, Program ini diharapkan bisa membangun empaty kepada saudara kita di Palestina. 

    Melalui media Safari menghadirkan cerita-cerita inspiratif, nilai-nilai keislaman, serta edukasi kepedulian terhadap Gaza Palestina dengan pendekatan yang komunikatif dan berkesan, paparnya.

    Memasuki 5 Ramadhan 1447 H jamaah sholat  Isya dan tarawih bersama Syekh Osama Khalil Al Yacaobi dari Palestina.

    Dalam tabligh tersebut Syekh Osama Khalil Al Yacaobi, dengan mengatakan bahwa kondisi saat ini di Indonesia banyak musibah seperti di Aceh, Jawa Barat dan lain sebagainya. Disitu tak luput kejadian yang menimpa warga Gaza sehingga bangunan untuk fasilitas umum luluh lantak, sehingga perlunya pendukung warga Gaza untuk membangun kembali fasilitas yang telah  hancur. "Kali ini bangsa Indonesia sedang membangun rumah sakit di Gaza," tuturnya.

    Tujuan utama mereka bukan sekadar berceramah, melainkan memiliki misi kemanusiaan dan solidaritas yang kuat. "Menyampaikan kondisi terkini di Gaza dan Palestina untuk menggugah simpati, empati, dan memperkuat dukungan moril serta materiil dari masyarakat Indonesia," tambah syekh.

    Melakukan aksi nyata dengan menghimpun donasi melalui lembaga-lembaga filantropi kredibel di Indonesia (seperti LazisMu, ACA, Baznas dll.) untuk bantuan pangan, tenda, paket kesehatan, dan layanan psikologi bagi warga Palestina. Adapun dalam kajian malam seusai salat tarawih dapat mengumpulkan donasi sebesar Rp. 7.918.000,- (Begug SW)


    Baca juga: Kajian KHGT di PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Ust Pujiono Uraikan Pentingnya Kesatuan Kalender Islam Global

    Kajian dan Sosialisasi KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) menghadirkan Mudir Ponpes, Ustadz Pujiono, aktif mengkaji isu falak dan kalender Islam kontemporer.


    Kajian KHGT di PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Ust Pujiono Uraikan Pentingnya Kesatuan Kalender Islam Global

    Boyolali - majalahlarise.com - PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi menggelar Kajian dan Sosialisasi KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) di Aula Masjid At-Taqwa, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan menghadirkan Mudir Ponpes, Ustadz Pujiono, yang aktif mengkaji isu falak dan kalender Islam kontemporer.

    Kegiatan diikuti seluruh civitas akademika PonpesMU serta para guru dari TK Aisyiyah PK Sambi, SD MPK Sambi, SMP Muhammadiyah 14, dan SMA Muhammadiyah PK Boyolali. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala TK PK Aisyiyah Ibu Mulyati, Kepala SMP Muhammadiyah 14 Ust Ahmad Yasin, Kepala SMA Muhammadiyah PK Boyolali Ustadzah Ari Rosmawati, serta guru SD Muhammadiyah PK Sambi. Kehadiran lintas jenjang pendidikan ini menunjukkan komitmen bersama dalam memahami perkembangan wacana kalender Islam secara ilmiah dan persyarikatan.

    Acara diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh santri PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum, Sultan Agil Muzaki. Qiro’ah yang khidmat menghadirkan suasana religius sekaligus meneguhkan pembahasan KHGT berangkat dari semangat kembali pada tuntunan syariat.

    Dalam pemaparannya, Ustadz Pujiono menjelaskan KHGT merupakan ikhtiar ijtihad kontemporer untuk mewujudkan kesatuan penanggalan Hijriyah secara global. Ia menyampaikan umat Islam memerlukan sistem kalender yang unifikatif, berbasis sains, dan dapat diterapkan secara internasional sebagaimana kalender Masehi.

    “Kalender Hijriyah bukan sekadar penanda ibadah, tetapi simbol peradaban. Ketika umat Islam bersatu dalam sistem waktu, kesatuan itu berdampak pada ukhuwah dan tata kelola ibadah yang lebih teratur,” ujar Ustadz Pujiono.

    Ia juga menguraikan dasar astronomis perhitungan kalender, mulai konsep ijtimak (konjungsi), kriteria visibilitas hilal, hingga pentingnya pendekatan hisab hakiki kontemporer dalam menjawab tantangan zaman modern. Menurutnya, literasi ilmu falak perlu diperkuat di lingkungan pendidikan Muhammadiyah agar generasi muda melek sains dan kokoh dalam manhaj tarjih.

    Sesi berlangsung interaktif. Para guru dan peserta menyimak dengan penuh perhatian penjelasan mengenai KHGT, potensi perbedaan dengan metode rukyat lokal, serta implikasi terhadap penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.

    Kajian ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan literasi kalender Islam di lingkungan pendidikan Muhammadiyah kawasan Sambi dan sekitarnya. Melalui sosialisasi berkelanjutan, civitas akademika tidak hanya menjadi pengguna kalender, melainkan memahami filosofi, landasan syar’i, dan argumentasi ilmiahnya.

    Kegiatan ditutup dengan sholat Dhuhur berjamaah dan doa bersama memohon petunjuk serta persatuan umat Islam dalam mengelola waktu sebagai bagian dari amanah peradaban. (Sofyan)


    Baca juga: Puasa Ramadan Mampu Meningkatkan Takwa Sosial

    Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko menyampaikan khotbah Jumat.


    Puasa Ramadan Mampu Meningkatkan Takwa Sosial

    SOLO - majalahlarise.com - Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko menyampaikan khotbah Jumat di masjid Asy Syi’ar komplek Radio Republik Indonesia (RRI), Kestelan, Banjarsari, Solo pada Jumat (20/2/2026). 

    Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema Puasa Ramadan mampu meningkatkan takwa sosial dengan peduli agama, sistem, manusia dan lingkungan serta pentingnya menjadi hamba Allah yang senantiasa menunaikan salat.

    Jatmiko menjelaskan ada keistimewaan sedekah di bulan Ramadan. “Sedekah adalah amalan sederhana dengan keutamaan luar biasa. Berkaitan dengan sedekah yang diganjar 700 kali lipat. Mari kita lebih peduli kaum papa nan nestapa dan pra Sejahtera, fakir miskin, anak jalanan, janda miskin, duda miskin,” ujarnya.

    Allah SWT terus melipatgandakan pahala kebaikan sampai 700 kali lipat atau lebih bagi siapa yang Dia kehendaki sesuai tingkat keimanan dan keikhlasan hati yang berinfak.

    Saat Ramadan tiba amal perbuatan baik mendapatkan pahala yang berlipat ganda, selain daripada membaca Al Quran sebelum dan sesudah salat wajib dan sunnah, berdzikir dan bersedekah.

    “Kita lihat QS Al-Baqarah ayat 261, Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui,” urai guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo itu. 

    Puasa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan kesempatan da momentum untuk meningkatkan ketakwaan sosial. Ketakwaan sosial berarti memiliki rasa peduli dan tanggung jawab terhadap sesama manusia. 

    “Barang siapa memberi buka orang yang puasa maka mendapat pahala sebanyak pahala orang puasa tersebut,” tegasnya, sambil tersenyum.

    Sabda Rasulullah SAW yang artinya: Telah datang bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad).

    “Salah satu cara untuk meningkatkan ketakwaan sosial selama Ramadan adalah dengan berbagi rezeki kepada orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti zakat, infak, sedekah, dan memberikan makanan buka puasa,” beber, anggota Majelis Pembinaan dan Kader Sumber Daya Insani PDM Kota Solo. (Sofyan)


    Baca juga: Prodi Terfavorit, DKV ISI Surakarta Buka Daya Tampung Terbanyak Lewat Jalur SNBP 2026

    Pentingnya Pendidikan sebagai Investasi Jangka Panjang bagi Multigenerasi NKRI

    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.


    "Kawan, kalau ingin pandai ya belajar, kalau ingin bermartabat ya sekolah atau kuliah, dan kalau ingin sukses ya belajar, berusaha, berdoa, dan tawakal kepada_Nya”


           Pendidikan itu penting bagi multigenerasi NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sebagai calon generasi emas dan pemimpin masa depan Indonesia. Pendidikan pra sekolah didapatkan pada ranah keluarga yang difasilitasi langsung oleh bapak, ibu, dan Saudara-Saudaranya di rumah dan masyarakat. Pendidikan parasekolah ini sangat penting bagi multigenerasi NKRI sebagai calon generasi emas dan pemimpin masa depan NKRI yang harus disiapkan dengan sungguh-sungguh. Pentingnya pendidikan prasekolah pada ranah keluarga ini harus dapat meletakkan pondasi dasar bagi multigenerasi NKRI antara lain: (1) karakter baik, (2) sikap sopan dan santun, (3) budi pekerti luhur, (4) disiplin dan rajin belajar, (5) kreativitas, (6) komunikasi yang baik dan santun, dan (7) taat beragama. Tujuh hal tersebut harus benar-benar ditanamkan benar-benar kepada multigenerasi NKRI oleh kedua orang tua dan Saudara di rumah dan masyarakat sebagai modal dasar menuju jenjang pendidikan sekolah TK, SD, SMP/MTs, SMA/MA, SMK, dan perguruan tinggi. Komitmen keluarga untuk menanamkan tujuh pilar pondasi dasar pendidikan anak-anak Indonesia tersebut harus ditanamkan dan diajarkan kepada calon bapak dan ibu saat pranikah sehingga benar-benar siap untuk menyiapkan generasi emas, berkarakter, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif pada saat sudah memiliki anak di masa depan.

           Pendidikan sangat penting bagi masyarakat NKRI karena pendidikan merupakan investasi jangka panjang, meningkatkan derajat dan martabat manusia, mengentaskan kemiskinan di Indonesia. Cermati dan lihat diri kita sendiri yang berjuang untuk sekolah atau kuliah dan masyarakat sekitar kita sebagai kasus percontohan dengan pendidikan dapat keluar dari ranah kemiskinan dan lebih bermartabat secara bertahap dan berkelanjutan. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya menjadi program prioritas keluarga dan pemerintah daerah serta pemerintah pusat. Mengapa harus ada kolaborasi antara keluarga dan pemerintah untuk dapat mewujudkan pendidikan untuk seluruh masyarakat NKRI dikarenakan belum semua keluarga mampu untuk memenuhi pembiayaan pendidikan bagi anak-anaknya sampai lulus SMA atau SMK bahkan menjadi sarjana yang siap kerja. Oleh karena itu, pentingnya pendidikan dasar 9 tahun mulai jenjang TK, SD, SMP/MTs, SMA/MA, SMK ini harus benar-benar dapat diwujudkan dengan skema pendidikan gratis, baik negeri dan swasta. Artinya, semua pembiayaan pendidikan dasar dan pendidikan tinggi harus dapat dibiayai gratis oleh negara. Dengan demikian, apabila proses pendidikan dan penanaman hardskill dan softskill dapat dilaksanakan dengan baik maka diyakini akan mengahasilkan generasi masa depan yang unggul, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif. Bagi pemerintah daerah dan pusat yang selama ini sudah menggratiskan pembiayaan pendidikan dasar dan menengah diucapkan terima kasih dan sungguh program prorakyat yang hebat luar biasa. Semoga dapat ditingkatkan jumlah siswa dan mahasiswa yang menerima pendidikan gratis jenjang sekolah dasar dan Pendidikan tinggi di seluruh wilayah NKRI pada era pemerintahan Bapak Presiden Prabowo dan Wakil Presiden, Bapak Gibran Rakabuming Raka. Apabila ini terwujud maka sujud Syukur terus dipanjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa sepanjang masa.

           Pendidikan gratis untuk pendidikan dasar, menengah, dan Pendidikan tinggi di seluruh Indonesia harus dapat dievaluasi apakah sudah semua terlaksana apa belum? Apabila belum harus diidentifikasi kendala dan daya dukung apa yang harus dapat diberikan oleh pemerintah pusat dan daerah. Apabila dana pendidikan yang menjadi permasalahan maka harus dicari solusi kolaborasi antarpemerintah dengan dunia usaha dan dunia industri serta masyarakat untuk dapat menyediakan pembiayaan pendidikan gratis pada pendidikan dasar, menengah, dan Pendidikan tinggi dari Sabang sampai Merauke. Hal ini sangat penting dikarenakan pendidikan merupakan kebutuhan multigenerasi NKRI yang harus dipenuhi sesuai dengan UUD 1945. 

           Selama ini pemerintah sudah menjalankan berbagai program beasiswa pendidikan gratis untuk Pendidikan dasar, menengah, dan tinggi harus terus dilanjutkan dan diperluas cakupan sasaran yang menerima beasiswa tersebut sehingga dapat menghasilkan lulusan SMA, SMK, sarjana, dan sederajat bagi seluruh masyarakat NKRI. Apabila pemerintah memiliki program pendidikan wajib lulus SMA, SMK, dan sarjana untuk seluruh anak Indonesia dengan biaya gratis dari pemerintah tentu ini akan sangat luar biasa untuk generasi emas masa depan. Progam unggulan ini seharusnya menjadi program prioritas pemerintah pusat dan daerah secara bertahap beriringan dengan program peningkatan makan bergizi gratis bagi seluruh anak Indonesia yang sedang berjalan dengan baik. Apabila ada kekurangan di berbagai wilayah semga segera ditindaklanjuti dengan perbaikan yang maksimal oleh yang berweang berdasarkan hasil evaluasi secara periodik. Dengan demikian, benear-benar akan terwujud SDM Indonesia yang berkarakter, unggul, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif.

           Berdasarkan hasil penelusuran data Kemendikdasmen RI untuk semester ganjil tahun ajaran 2025/2026, total peserta didik di Indonesia mencapai lebih dari 52 juta siswa yang tersebar di 443.703 sekolah dari jenjang TK hingga SMA/SMK. Jumlah ini terus dipantau, dengan data 2024/2025 tercatat 52,9 juta siswa. Tren ini didukung oleh peningkatan jumlah sekolah dan guru sebagai fasilitator pembelajaran di skeolah. Merujuk pada data Kemendikdasmen RI tersebut maka diperlukan pembiayaan yang sangat besar sehingga harus direncanakan secara cermat dan detail melalui APBN dan APBD secara kolaboratif untuk dapat mencerdaskan kehidupan bangsa Indonesia. Apabila pemerintah melakukan evaluasi bertahap tentu akan dapat ditingkatkan anggaran untuk dpat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) minimal seluruh masyarakat NKRI lulus SMA dan atau SMK sederajat. Kemudian program peningkatan kualitas berikutnya pendidikan sarjana/sederajat untuk seluruh multigenerasi NKRI sebagai calon generasi emas dan pemimpin masa depan NKRI yang siap berkompetisi di Tingkat nasional dan internasional.

           Program peningkatan kualitas SDM Indonesia melalui pendidikan sarjana atau sederajat ini harus menjadi program prioritas bagi pemerintah Indonesia saat ini dan ke depan. Hal ini sebagai upaya untuk dapat menyiapkan SDM Indonesia yang unggul, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif. Apabila pemerintah dapat mewujudkan program satu keluarga satu sarjana sampai bekerja tentu akan dapat menjadi pemantik untuk pengentasan kemiskinan di Indonesia. Hal ini sebagai langkah strategis yang dapat dilakukan oleh pemerintah untuk dapat membekali kompetensi hardskill dan softksill bagi seluruh masyarakat NKRI. Semua program pemerintah yang dilaksanakan saat ini tentu sudah dipertimbangkan dan dianggarkan dengan hitungan yang tepat sasaran. Namun demikian perlu dilakukan kajian ulang bagaimana upaya meningkatkan SDM Indonesia melalui pendidikan untuk dapat melakukan percepatan pembangunan pada sektor yang lainnya di masa yang akan datang. 

           Program pendidikan sarjana untuk satu keluarga diharapkan dapat menjadi investasi keluarga, pemerintah pusat dan daerah untuk jangka panjang yang berdaya saing dan berdaya sanding pada abd XXI. Apabila materi disimpan akan mengalami penyusutan tetapi apabila ilmu/pendidikan disebarluaskan dan diajarkan dengan benar dapat menjadi modal dasar bagi multigenerasi NKRI untuk dapat mengelola dan meningkatkan kuantitas dan kualitas materi/pendidikan yang dimilikinya. Artinya pentingnya pendidikan bagi multigenerasi NKRI dapat menjadi bekal peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang berkarakter, unggul, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif untuk masa depan sebagai calon generasi emas Indonesia 2045 yang akan datang. 

           Wahai orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, pusat, guru, dosen, penggiat literasi Arfuzh Ratulisa, Komunitas Dilaog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra (DIKISA), dan seluruh elemen pendidikan terkait marilah kita sosialisasikan dan didorong program pendidikan SMA, SMK, dan sarjana /sederajat untuk multigenerasi NKRI dapat terwujud secara bertahap dan berkelanjutan. Teruslah berliterasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sebagai modal dasar untuk dapat mencerdaskan kehidupan multigenerasi NKRI dan membangun keabadian sepanjang masa melalui tulisan di media cetak dan online. Membacalah untuk menulis dan menulislah untuk dibaca umat sepanjang hayat. Jadilah seperti bintang, bulan, dan matahari yang selalu menyinari bumi, baik tampak maupun tidak tampak oleh manusia. Selamat berkarya untuk nusantara sepanjang masa.

    “Semoga program satu keluarga satu lulusan sarjana atau sederajat langsung bekerja dapat terwujud dan menjadi program prioritas pemerintah Bapak Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka secara bertahap dan berkelanjutan bagi multigenerasi NKRI”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Pontianak Kalimantan Barat, 20 Februari 2026





    Salah satu kegiatan mahasiswa Prodi DKV ISI Surakarta di CFD Slamet Riyadi Solo beberapa waktu yang lalu.


    Prodi Terfavorit, DKV ISI Surakarta Buka Daya Tampung Terbanyak Lewat Jalur SNBP 2026

    SURAKARTA – majalahlarise.com - Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Seni Indonesia Surakarta kembali menjadi prodi dengan daya tampung tertinggi pada jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026. Pada tahun ini, Prodi S1 Desain Komunikasi Visual membuka kuota sebanyak 72 mahasiswa, tertinggi dibandingkan seluruh program studi jenjang S1 maupun D4 di kampus seni tersebut.

    Tingginya daya tampung tersebut tidak lepas dari status DKV sebagai prodi terfavorit dengan jumlah peminat yang konsisten tinggi dalam beberapa tahun terakhir. Capaian prestasi mahasiswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik, turut memperkuat reputasi prodi ini. Berbagai program yang digelar di tingkat prodi dirancang untuk mendukung minat dan bakat mahasiswa sehingga mampu meraih prestasi di level lokal, nasional, hingga internasional.

    Selain DKV dengan kuota 72 mahasiswa, daya tampung SNBP 2026 di ISI Surakarta dari yang tertinggi hingga terendah yakni S1 Film dan Televisi (60), S1 Tari (52), S1 Fotografi (48), S1 Seni Karawitan (44), S1 Desain Interior (44), D4 Desain Mode Batik (36), S1 Etnomusikologi (32), S1 Seni Murni (32), S1 Kriya (28), S1 Seni Pedalangan (20), S1 Teater (16), D4 Animasi (16), S1 Desain Produk Industri (12), S1 Arsitektur (12), S1 Koreografi Inkuiri (10), D4 Tata Kelola Seni (10), S1 Bisnis Musik (10), S1 Seni Intermedia (10), D4 Senjata Tradisional Keris (10), dan D4 Destinasi Pariwisata (10).

    Bagi calon pendaftar yang ingin melanjutkan studi di ISI Surakarta, jalur SNBP 2026 menjadi salah satu pilihan seleksi masuk. Informasi resmi terkait daya tampung masing-masing prodi diumumkan melalui kanal media sosial resmi kampus, termasuk Instagram, sehingga memudahkan calon mahasiswa mengakses informasi secara terbuka.

    Dalam mekanismenya, sejumlah prodi menerapkan ketentuan portofolio sesuai rumpun keilmuan. Rumpun Portofolio Seni Rupa, Desain, dan Kriya mencakup S1 Kriya, S1 Seni Murni, S1 Desain Interior, S1 Desain Produk Industri, S1 Desain Komunikasi Visual, S1 Arsitektur, S1 Desain Mode Batik, serta D4 Animasi. Selain itu terdapat rumpun portofolio lain seperti Seni Karawitan, Seni Pedalangan, Tari, Etnomusikologi, Teater, Film dan Televisi, serta Fotografi. Sementara beberapa prodi seperti S1 Koreografi Inkuiri, D4 Tata Kelola Seni, S1 Bisnis Musik, S1 Seni Intermedia, D4 Senjata Tradisional Keris, dan D4 Destinasi Pariwisata tidak mensyaratkan portofolio.

    Kepala Program Studi DKV, M. Harun Rosyid Ridlo, menyampaikan jalur SNBP diharapkan mampu menjaring calon mahasiswa yang sesuai kompetensi dan minat bidang desain komunikasi visual.

    “Melalui jalur SNBP 2026, kami berharap memperoleh mahasiswa yang benar-benar memiliki kesiapan akademik dan potensi kreatif sehingga dapat menjalani perkuliahan dengan lancar dan lulus tepat waktu,” ujarnya.

    Dengan daya tampung terbesar pada jalur SNBP 2026, Prodi DKV ISI Surakarta kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu program studi unggulan dan paling diminati di lingkungan kampus seni di Jawa Tengah tersebut. (Sofyan)

    Baca juga: Pengajian Umum Jum’at Berkah Ramadan 1447 H di Manyaran, Bupati Wonogiri Ajak Perkuat Iman dan Ukhuwah


Top