Murid berprestasi Kelas IX saat foto bersama usai menerima penghargaan yang diserahkan oleh kepala sekolah Herni Budiati, S.Pd., M.Pd.


    Pelepasan 251 Murid SMPN 7 Surakarta Tahun Ajaran 2025/2026, Siap Wujudkan Harapan dan Hadapi Tantangan Masa Depan

    Surakarta - majalahlarise.com - SMP Negeri 7 Surakarta menggelar Pelepasan Murid Kelas IX Tahun Ajaran 2025/2026 dengan tema “Wujudkan Harapan, Hadapi Tantangan Masa Depan” di Tirtonadi Convention Hall, Surakarta, Rabu (10/6/2026). Acara berlangsung meriah dan penuh haru dengan diikuti 251 murid kelas IX yang telah menyelesaikan pendidikan selama tiga tahun di SMPN 7 Surakarta.

    Kegiatan diawali dengan prosesi kirab panji-panji SMPN 7 Surakarta yang dilanjutkan dengan masuknya 251 murid kelas IX mengenakan busana kebaya dan jas. Suasana khidmat mewarnai jalannya acara saat para siswa memasuki ruang utama didampingi dewan guru dan jajaran sekolah. Selain prosesi pelepasan, acara juga diisi laporan kelulusan, pemberian penghargaan kepada siswa berprestasi, penampilan seni budaya, hingga sesi dokumentasi bersama seluruh angkatan.

    Dalam laporan kelulusan disampaikan seluruh murid kelas IX SMPN 7 Surakarta yang berjumlah 251 siswa dinyatakan lulus 100 persen. Sekolah juga memberikan apresiasi kepada para siswa yang berhasil meraih prestasi di bidang akademik maupun non-akademik selama menempuh pendidikan. Momentum tersebut menjadi bentuk penghargaan atas kerja keras siswa sekaligus motivasi untuk terus berprestasi pada jenjang pendidikan berikutnya.

    Kepala SMPN 7 Surakarta, Herni Budiati, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi kepada panitia, dewan guru, tenaga kependidikan, dan komite sekolah yang telah bersinergi menyukseskan kegiatan pelepasan. Ia menjelaskan guru memiliki peran lebih dari sekadar mengajar, tetapi juga mendampingi dan membentuk karakter peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

    “Guru hadir bukan hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi orang tua di sekolah yang mendidik karakter, kedisiplinan, dan etika siswa. Semua dilakukan dengan harapan anak-anak tumbuh menjadi generasi yang berakhlak dan siap menghadapi masa depan,” ujarnya.

    Kepada para lulusan, Herni berpesan agar senantiasa menjaga nama baik almamater di mana pun berada. Menurutnya, status sebagai alumni tidak memutus hubungan dengan sekolah, melainkan menjadi bagian dari keluarga besar SMPN 7 Surakarta yang harus terus mengharumkan nama sekolah melalui prestasi dan perilaku yang baik.

    “Anak-anakku, meskipun telah lulus dan menjadi alumni, kalian tetap membawa nama baik SMPN 7 Surakarta. Teruslah berjuang meraih cita-cita dan jadilah kebanggaan sekolah, keluarga, serta masyarakat,” katanya.

    Prosesi pelepasan semakin bermakna dengan penyerahan siswa secara simbolis dari pihak sekolah kepada orang tua yang dilakukan oleh Kepala Sekolah Herni Budiati bersama Ketua Komite SMPN 7 Surakarta, Suharso, S.H., M.M. Penyerahan tersebut menjadi simbol berakhirnya masa pendidikan siswa di tingkat SMP sekaligus awal perjalanan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

    Ketua Komite SMPN 7 Surakarta, Suharso, S.H., M.M., menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru dan tenaga kependidikan atas dedikasi dalam mendidik siswa selama tiga tahun terakhir. Ia mengajak para lulusan untuk terus menggantungkan cita-cita setinggi langit dan tidak pernah berhenti belajar.

    “Teruslah mengejar cita-cita dan jangan pernah berhenti belajar. Tetaplah berbakti kepada orang tua, hormat kepada guru, karena doa dan restu merekalah yang akan mengantarkan kalian menuju kesuksesan,” ujar Suharso.

    Beragam penampilan seni turut memeriahkan acara, mulai dari Tari Soyong, vokal solo oleh Ananda Cinta Alentia, hingga pertunjukan musik tradisi dan karawitan. Momen paling mengharukan terjadi saat para siswa mempersembahkan lagu khusus sebagai ungkapan terima kasih kepada guru dan orang tua yang selama ini mendampingi perjalanan pendidikan mereka. 

    Acara kemudian ditutup dengan pembagian doorprize bagi tamu undangan dan sesi foto bersama seluruh angkatan sebagai kenang-kenangan sebelum para lulusan melangkah menuju masa depan yang lebih luas dan penuh tantangan. (Sofyan)


    Baca juga: AKSES 2026 Fakultas Ekonomi Univet Bantara Sukoharjo Gelar Lomba Fotografi Smartphone, SMKN 3 Sukoharjo Raih Juara Pertama

    Para juara lomba saat foto bersama usai penyerahan piala penghargaan.


    AKSES 2026 Fakultas Ekonomi Univet Bantara Sukoharjo Gelar Lomba Fotografi Smartphone, SMKN 3 Sukoharjo Raih Juara Pertama

    Sukoharjo - majalahlarise.com - Kelompok Studi Penalaran dan Penulisan Fakultas Ekonomi Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menyelenggarakan AKSES 2026 (Ajang Kewirausahaan, Seni, dan Smartphone Photography 6th) dengan menggelar Lomba Fotografi Smartphone bertema “Lensa Taman Sekolah: Abadikan Keindahan, Ciptakan Cerita!”, Rabu (10/6/2026). Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3 kampus tersebut diikuti siswa SMA dan SMK dari berbagai daerah yang mempresentasikan karya fotografi mereka di hadapan dewan juri.

    Dekan Fakultas Ekonomi Univet Bantara, Gustita Arnawati Putri, S.E., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta dan guru pendamping yang telah berpartisipasi dalam AKSES yang kini memasuki penyelenggaraan tahun keenam. Ia menjelaskan kegiatan tersebut merupakan agenda tahunan Fakultas Ekonomi sejak 2020 yang secara konsisten menjadi wadah pengembangan bakat dan kreativitas pelajar di bidang fotografi. 

    “AKSES ini merupakan acara tahunan rutin dari Fakultas Ekonomi yang dimulai pada tahun 2020. Syukurlah sekarang sudah memasuki penyelenggaraan yang keenam. Intinya kami ingin mengeksplorasi bakat adik-adik yang memang memiliki minat di bidang fotografi,” ujarnya.

    Menurut Gustita, selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada peserta untuk memperoleh masukan langsung dari dewan juri yang berpengalaman. Ia berharap setiap peserta dapat meningkatkan kualitas karya fotografi melalui kritik dan saran yang membangun. 

    “Harapannya nanti dewan juri bisa memberi masukan kepada peserta, misalnya gambarnya sudah bagus tetapi masih ada sedikit yang perlu diperbaiki sehingga bisa memberi nilai lebih pada karya adik-adik semua,” katanya.

    Ketua Panitia AKSES SMA-SMK 2026, Annisa Nur Safitri, menjelaskan tema yang diusung mengajak peserta memandang sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan ruang tumbuhnya ide, karakter, dan keberanian generasi muda. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada kemenangan, tetapi juga menjadi wadah bagi siswa untuk menampilkan gagasan kreatif dan inovatif. 

    “Melalui kegiatan ini bukan hanya tentang menang atau kalah dalam kompetisi, tetapi menjadi ruang bagi teman-teman siswa SMA dan SMK untuk berani menyuarakan gagasan dan membangun ide langsung di hadapan publik,” jelasnya.

    Annisa berharap AKSES 2026 mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki kepedulian sosial serta mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. 

    Sementara itu, dewan juri Sofyan Yuli Antonius menjelaskan penilaian lomba meliputi aspek ide, kreativitas, komposisi dan teknik, estetika atau keindahan, caption atau pesan yang disampaikan, serta kemampuan presentasi peserta. 

    Berdasarkan hasil penilaian, juara pertama diraih SMKN 3 Sukoharjo (Tim Lensa Smakta), juara kedua SMKN Jenawi (Tim AFD WPC), juara ketiga SMKN Jenawi (Tim INAFA WPC), dan juara favorit diraih SMK Muhammadiyah 4 Surakarta (Tim Copy and Paste). (Sofyan)


    Baca juga: Pasar Murah Amigo di Desa Bero Manyaran Wonogiri Diserbu Warga, Sediakan Sembako dan Pakaian Harga Terjangkau

    Amanah Umat dan Kepekaan Negara: Hikmah dari Kasus Rekening Masjid


    Oleh: Budhi Hartanto, ST, MSi

    Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Ekonomi FEB Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya


    Budhi Hartanto, ST, MSi



           Masjid tidak hanya dibangun dari batu dan semen. Ia berdiri di atas kepercayaan. Dari sedekah umat, dari niat ibadah, dari harapan akan pahala jariyah yang terus mengalir. Karena itu, ketika dana masjid tersendat, yang terganggu bukan sekadar pembangunan fisik. Yang terusik adalah rasa aman, rasa percaya, dan rasa tenang dalam beribadah.

           Kasus yang dialami Ustadz Das'ad Latif pada tahun 2025 memberi pelajaran berharga. Saat ia hendak menarik dana pembangunan masjid yang dihimpun dari ceramah, rekeningnya justru diblokir karena dianggap tidak aktif (dormant) (Detik.com, 2025). Dalam logika sistem keuangan, hal ini dapat dipahami. Namun dalam perspektif umat, peristiwa ini menghadirkan kegelisahan. Mengapa dana untuk rumah Allah bisa terhambat?

           Pemerintah, melalui PPATK, menjalankan fungsi pengawasan untuk menjaga sistem keuangan dari penyalahgunaan (OECD, 2010). Ini adalah ikhtiar menjaga kemaslahatan yang lebih luas. Namun dalam Islam, setiap kebijakan tidak hanya diukur dari benar secara aturan tetapi juga dari dampaknya bagi umat. Di sinilah kebijakan membutuhkan kebijaksanaan.

           Dalam pandangan Max Weber (1978), birokrasi modern bekerja secara rasional dan seragam. Semua diperlakukan sama. Namun kehidupan umat tidak selalu bisa disederhanakan dalam rumus yang sama. Rekening masjid bukan sekadar rekening biasa. Ia adalah amanah umat yang memiliki dimensi ibadah. Ketika pendekatan yang seragam diterapkan tanpa kepekaan konteks, maka yang muncul adalah jarak antara sistem dan rasa.

           Sebagaimana dijelaskan March (1991), kebijakan sering kali terlalu bertumpu pada prosedur baku (exploitation), sementara pemahaman terhadap konteks (exploration) kurang mendapat perhatian. Akibatnya, kebijakan yang dimaksudkan untuk menjaga justru dapat dirasakan sebagai menyulitkan. Dampak itu nyata. Ketika rekening masjid diblokir, publik tidak memaknainya sebagai prosedur administratif tetapi sebagai gangguan terhadap aktivitas ibadah. Persepsi ini bahkan tetap bertahan meskipun rekening tersebut telah dibuka kembali setelah verifikasi (Kumparan.com, 2025). Di titik ini, kita belajar bahwa kepercayaan adalah fondasi utama. Tanpa kepercayaan, kebijakan akan kehilangan maknanya.

           Dalam perspektif pembelajaran organisasi, Argote (2013) menegaskan bahwa kebijakan hanya akan efektif jika dipahami dan diterima oleh masyarakat. Sementara itu, OECD (2021) menunjukkan bahwa kepercayaan publik merupakan kunci keberhasilan tata kelola. 

           Dalam perspektif Muhammadiyah, sebagaimana sering disampaikan oleh Anwar Abbas, tata kelola umat harus berpijak pada prinsip keadilan dan kemaslahatan. Negara memang perlu hadir menjaga sistem, tetapi kehadiran itu tidak boleh mengurangi kepercayaan publik yang menjadi fondasi kehidupan sosial (CNN Indonesia, 2024; Kompas.com, 2024). Inilah prinsip penting dalam membangun kebijakan yang tidak hanya kuat secara sistem, tetapi juga kokoh secara moral. 

           Di sinilah nilai tajdid menjadi sangat relevan. Tajdid bukan sekadar pembaruan teknis tetapi pembaruan cara pandang, menghadirkan kembali ruh keadilan, empati, dan kemaslahatan dalam setiap kebijakan. Negara tidak cukup hanya bekerja dengan sistem tetapi juga harus hadir dengan rasa.

           Kasus ini menjadi pelajaran bersama. Negara perlu menghadirkan kebijakan yang lebih adil dan membawa kemaslahatan bagi umat dengan mempertimbangkan karakter khusus rekening sosial-keagamaan. Proses verifikasi harus dibuat lebih sederhana dan responsif agar tidak menghambat aktivitas ibadah.

           Di sisi lain, pengelola masjid juga perlu meningkatkan tata kelola keuangan sebagai bagian dari amanah. Menjaga transparansi dan keaktifan rekening adalah bagian dari tanggung jawab yang tidak bisa diabaikan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa menjaga amanah bukan hanya tugas individu, tetapi tanggung jawab bersama dalam kehidupan berbangsa. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya" (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini mengingatkan bahwa amanah harus dijaga dalam setiap lini kehidupan, baik oleh umat maupun oleh negara. 

           Pada akhirnya, kita tidak sedang mempertentangkan regulasi dan ibadah. Kita justru sedang mencari titik temu agar keduanya berjalan seiring. Sistem yang kuat harus hadir dengan kepekaan dan ibadah yang khusyuk membutuhkan dukungan sistem yang adil. Karena di balik setiap rekening masjid, ada kepercayaan umat yang dititipkan. Dan menjaga kepercayaan adalah bagian dari menjaga amanah.

    Daftar Rujukan :

    1. Argote, L. (2013). Organizational Learning. Springer.

    2. March, J. G. (1991). Organization Science, 2(1).

    3. OECD. (2010). Money Laundering Handbook.

    4. OECD. (2021). Government at a Glance.

    5. Weber, M. (1978). Economy and Society.

    6. Detik.com. (2025). Rekening Das’ad Latif diblokir PPATK.

    7. Kumparan.com. (2025). Rekening kembali aktif setelah verifikasi.

    8. CNN Indonesia. (2024). Pernyataan Anwar Abbas tentang keadilan ekonomi.

    9. Kompas.com. (2024). Kritik Anwar Abbas terhadap kebijakan publik.

    Murid kelas I dan II mengikuti pelatihan bahasa Inggris yang dikemas secara edukatif dan interaktif.


    Jeda PSAT, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Profesi bersama Native Speaker

    SURAKARTA — majalahlarise.com - Suasana berbeda tampak di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo, Selasa (9/6/2026). Sebanyak 167 murid kelas I dan II mengikuti pelatihan bahasa Inggris yang dikemas secara edukatif dan interaktif untuk mengisi waktu jeda setelah Penilaian Sumatif Akhir Tahun (PSAT).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Haji Isa tersebut mengangkat te ygma “What I Wanna Be When I Grow Up”. Para murid diajak mengenal berbagai jenis pekerjaan (occupations) melalui metode belajar yang menyenangkan dan komunikatif.

    Koordinator International Class Program (ICP), Gedis Wiranur Putri, menjelaskan bahwa tema profesi dipilih untuk memperluas wawasan murid sejak usia dini sekaligus menumbuhkan semangat meraih cita-cita.

    “Melalui materi ini, para murid tidak hanya belajar kosakata bahasa Inggris, tetapi juga mengenal berbagai profesi dan peran sosialnya di lingkungan sekitar. Harapannya, mereka memiliki gambaran tentang cita-cita dan semakin termotivasi untuk belajar,” ujarnya.

    Untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih autentik, sekolah mendatangkan native speaker asal Uzbekistan, Mr. Abrorjon Numonov. Kehadiran penutur asli tersebut membuat para murid tampak antusias mengikuti setiap sesi pembelajaran.

    Mereka belajar menirukan pelafalan (pronunciation) dan intonasi bahasa Inggris secara langsung. Selain itu, para murid juga aktif menjawab pertanyaan sederhana menggunakan bahasa Inggris.

    Suasana semakin meriah saat memasuki sesi permainan edukatif. Setiap kelompok yang terdiri atas sepuluh murid diajak bermain gim menyusun huruf acak hingga membentuk nama profesi tertentu.

    Aktivitas berbasis gamifikasi tersebut dirancang untuk melatih ketelitian, kerja sama tim, sekaligus memperkuat kemampuan mengingat kosakata (spelling) yang baru dipelajari.

    Salah satu murid kelas II, Zukhrufy Kupuara Hadid, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.

    “Belajarnya seru karena bisa sambil bermain gim. Jadi tidak bosan setelah selesai PSAT. Tadi juga senang bisa belajar langsung dengan native speaker,” katanya dengan antusias.

    Menurut Gedis, kegiatan ini merupakan bagian dari program pembiasaan bahasa asing yang terus dikembangkan sekolah. SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berkomitmen menghadirkan pembelajaran kreatif agar murid merasa senang dan tertarik mempelajari hal-hal baru.

    “Kami berharap pengalaman belajar bersama penutur asli ini dapat meningkatkan rasa percaya diri murid sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa asing sejak dini,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Pasar Murah Amigo di Desa Bero Manyaran Wonogiri Diserbu Warga, Sediakan Sembako dan Pakaian Harga Terjangkau


    Flayer Bola Volly Tawangsari Volly Ball Club.


    Tumpukan Bola Volly Tawangsari Volly Ball Club Akan Segera Digelar, Berikut Tujuan dan Daftar Tim Pesertanya

    WONOGIRI – majalahlarise.com - Generasi Muda-Mudi Tawangsari akan menggelar Tumpukan Bola Volly Tawangsari Volly Ball Club (TIVOC) pada 13-14 Juni 2024. Kegiatan tersebut akan berlangsung di Gelora Bendo Growong, Lingkungan Tawangsari, Kelurahan Pagutan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri.

    Turnamen ini akan mempertemukan delapan tim dari berbagai lingkungan di wilayah Kelurahan Pagutan dan sekitarnya. Selain menjadi ajang kompetisi olahraga, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat hubungan sosial antar warga.

    Ketua Panitia sekaligus Ketua Karangtaruna Lingkungan Tawangsari, Bagas Panjerrino, mengatakan bahwa penyelenggaraan turnamen merupakan bagian dari upaya pemuda setempat dalam menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya generasi muda.

    "Turnamen ini kami selenggarakan sebagai ajang silaturahmi warga antar lingkungan. Kami juga ingin mendorong produktivitas masyarakat melalui kegiatan positif yang melibatkan partisipasi pemuda dan warga secara luas," kata Bagas.

    Menurut dia, olahraga menjadi salah satu sarana efektif untuk membangun kebersamaan sekaligus menumbuhkan semangat sportivitas di tengah masyarakat. Karena itu, pihaknya berharap kegiatan tersebut mendapat dukungan dari seluruh elemen masyarakat.

    Selain menghadirkan pertandingan yang kompetitif, kegiatan ini juga diharapkan menjadi ruang interaksi antar warga yang selama ini terjalin melalui berbagai kegiatan kemasyarakatan di lingkungan setempat.

    Panitia menargetkan turnamen tersebut tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga mampu melahirkan semangat kebersamaan dan memperkuat hubungan sosial antar lingkungan di wilayah Kelurahan Pagutan.

    Melalui kegiatan yang digagas oleh Generasi Muda-Mudi Tawangsari ini, masyarakat diharapkan dapat terus menjaga budaya gotong royong serta mengembangkan aktivitas positif yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

    Daftar Tim Peserta Tumpukan Bola Volly Tawangsari Volly Ball Club 2024:

    - Tawangsari

    - Jenggotan

    - Tawangrejo

    - Bakalan

    - Trukan

    - Bendo

    - Benowo

    - Pagutan


    Penulis: Rizki Maulana

    Editor: Sofyan


    Baca juga: Pasar Murah Amigo di Desa Bero Manyaran Wonogiri Diserbu Warga, Sediakan Sembako dan Pakaian Harga Terjangkau

    Masyarakat desa Bero Manyaran antusias kunjungi bazar murah Amigo Sambang Desa.


    Pasar Murah Amigo di Desa Bero Manyaran Wonogiri Diserbu Warga, Sediakan Sembako dan Pakaian Harga Terjangkau

    Wonogiri - majalahlarise.com - Kegiatan Amigo Sambang Desa melalui program Bazar Murah yang digelar di Balai Desa Bero, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Selasa (9/6/2026), mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00 hingga 14.00 WIB tersebut menyediakan berbagai kebutuhan pokok, busana, sepatu, serta perlengkapan rumah tangga dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan harga pasar.

    Berbagai produk yang ditawarkan dalam bazar murah tersebut antara lain kaos mulai Rp25.000, celana mulai Rp35.000, daster mulai Rp30.000, tas wanita mulai Rp55.000, serta setelan anak mulai Rp35.000. Selain itu tersedia pula kebutuhan pokok seperti minyak goreng, gula, mie instan, sabun cuci piring, dan sabun mandi yang menjadi kebutuhan sehari-hari masyarakat.

    Kepala Desa Bero, Roh Edy Wibowo, mengapresiasi penyelenggaraan pasar murah yang dinilai mampu membantu warga memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang lebih ringan. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan manfaat langsung karena masyarakat dapat memperoleh berbagai kebutuhan dalam satu lokasi dengan harga yang lebih terjangkau.

    "pasar murah ini bisa membantu masyarakat di sekitar lingkungan Desa Bero untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Di sini ada sembako, kemudian juga ada pakaian, jadi mereka bisa membeli kebutuhan dengan harga yang lebih murah,” ujarnya.

    Edy menjelaskan, kerja sama antara Pemerintah Desa Bero dan Amigo diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pasar murah saja. Berbagai program desa ke depan dapat dikolaborasikan dengan pihak manajemen Amigo guna memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.

    “Mereka siap mendukung kegiatan-kegiatan desa, baik melalui bazar maupun bentuk dukungan lainnya,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Edy berharap semakin banyak pelaku usaha dari berbagai sektor yang bersedia bekerja sama dengan pemerintah desa untuk mendukung kesejahteraan masyarakat. Ia menilai sinergi antara desa dan dunia usaha dapat menjadi langkah positif dalam meningkatkan pelayanan serta kenyamanan warga. 

    “Harapan kami ada usaha-usaha lain dari berbagai bidang yang bisa berkolaborasi dengan desa. Kalau itu demi kesejahteraan dan kenyamanan masyarakat, kami siap bekerja sama,” katanya.

    Sementara itu, Manajer Amigo Pedan, Hartono, menjelaskan kegiatan pasar murah merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang bertujuan membantu masyarakat menghadapi kondisi ekonomi yang masih menantang. Melalui program tersebut, Amigo menyediakan berbagai kebutuhan pokok dan pakaian dengan harga lebih murah agar dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. 

    “Tujuan kami berkolaborasi dengan pemerintah desa adalah ikut mendukung visi dan misi pemerintah desa agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” ujarnya.

    Selain sembako murah, Amigo juga menghadirkan berbagai kebutuhan menjelang tahun ajaran baru seperti pakaian dan sepatu sekolah dengan harga terjangkau. Hartono menyebutkan produk-produk tersebut dipilih untuk membantu meringankan beban pengeluaran masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anak usia sekolah. 

    “Kami membawa koleksi tahun ajaran baru dengan kualitas baik dan harga yang terjangkau untuk masyarakat,” katanya.

    Menurut Hartono, program pasar murah Amigo di Wonogiri telah dilaksanakan di tiga lokasi, yakni Pracimantoro, Wonogiri Kota, dan Manyaran. Kegiatan ini telah berjalan sekitar satu tahun sejak pertama kali diluncurkan di Kabupaten Klaten pada Juli tahun lalu. 

    “Dengan kondisi ekonomi seperti saat ini, kami ingin menunjukkan bahwa keberadaan Amigo bukan hanya untuk mencari keuntungan, tetapi juga dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Workshop Anti-Bullying PPG Univet Bantara Sukoharjo, Bekali Calon Guru Ciptakan Sekolah Aman dan Bebas Perundungan

    Narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd mengajak mahasiswa calon guru memahami pentingnya pendidikan karakter dan peradaban dalam membangun lingkungan belajar yang sehat. 


    Workshop Anti-Bullying PPG Univet Bantara Sukoharjo, Bekali Calon Guru Ciptakan Sekolah Aman dan Bebas Perundungan

    Sukoharjo - majalahlarise.com - Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Surakarta menggelar Workshop Kampanye Anti-Bullying bertema “Berteman Tanpa Perundungan, Kuliah Jadi Menyenangkan” di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3, Selasa (9/6/2026). Kegiatan yang diikuti sekitar 160 mahasiswa PPG tersebut menghadirkan narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd dari Universitas Muhammadiyah Surakarta dan bertujuan membekali calon guru dengan pemahaman tentang pencegahan perundungan di lingkungan pendidikan.

    Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum, saat membuka kegiatan menjelaskan dampak bullying dapat menghancurkan masa depan seseorang. Oleh karena itu, calon guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi peserta didik. 

    “Kegiatan ini memberikan bekal kepada Anda yang nanti akan menjadi guru tentang pentingnya selalu memastikan peserta didiknya aman dan tidak mengalami bullying,” ujarnya. 

    Ia juga mengingatkan para guru dan dosen agar tidak menjadi pelaku perundungan maupun kekerasan terhadap peserta didik karena relasi kuasa yang dimiliki pendidik harus digunakan secara bijaksana.

    Farida Nugrahani menjelaskan kampus telah membentuk Komite Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT) sebagai upaya menciptakan lingkungan akademik yang aman. Komite tersebut bertugas menerima laporan, melakukan investigasi, memberikan rekomendasi sanksi kepada pelaku, serta mendampingi korban. 


    “Saya sebagai pimpinan universitas menjamin dan mengupayakan di kampus ini tidak ada kekerasan. Jika ada laporan, tim akan terjun ke lapangan dan memprosesnya sesuai aturan,” katanya. 

    Ia berharap para calon guru mampu menjadi teladan dalam membangun karakter generasi penerus bangsa. “Silakan bentuk calon pemimpin bangsa ini dengan karakter yang baik. Anda harus mampu menjadi contoh supaya siswa mengikuti perilaku Anda,” tambahnya.

    Koordinator PPG Univet Bantara, Dr. Mukti Widayati, dalam laporannya menjelaskan workshop ini dirancang untuk memberikan wawasan mengenai bentuk-bentuk bullying, dampaknya bagi korban, serta strategi pencegahannya. Menurutnya, pemahaman tersebut sangat penting dimiliki mahasiswa yang kelak akan menjadi guru profesional.

    “Dalam kegiatan ini nanti teman-teman akan mendapatkan wawasan tentang bullying, dampak bullying, dan strategi bagaimana pencegahannya,” ujarnya.

    Dr. Mukti Widayati berharap ilmu yang diperoleh tidak berhenti pada teori, tetapi diterapkan saat praktik lapangan maupun ketika menjadi guru di sekolah. “Kehidupan ini tidak berhenti pada teori saja, tetapi saya mohon nanti teman-teman bisa mengimplementasikan ketika menjadi guru profesional dan mulai menerapkannya di sekolah tempat teman-teman PPL,” ujarnya 

    Ia juga mengungkapkan rangkaian kampanye anti-bullying telah diawali dengan lomba pembuatan poster yang melibatkan mahasiswa PPG sebagai bentuk edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat.

    Ketua Pembina YPPP Veteran Sukoharjo, Drs. Bambang Margono, MM, menjelaskan perundungan tidak selalu berbentuk kekerasan fisik. Menurutnya, satu kata kasar di grup WhatsApp, candaan yang mempermalukan teman, hingga penyebaran video tanpa izin dapat meninggalkan luka yang mendalam bagi korban. Ia bahkan mengisahkan pengalaman pribadinya yang pernah dihina, direndahkan, dan dikucilkan karena kondisi fisiknya. “Luka yang paling dalam justru luka yang tidak kelihatan,” ujarnya.

    Bambang Margono mengajak seluruh peserta untuk mengenali berbagai bentuk bullying, berani berbicara ketika menjadi korban atau saksi, serta menjadi teman yang membela, bukan sekadar menonton. Ia berharap ilmu yang diperoleh dalam workshop dapat menjadi gerakan nyata untuk menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dan nyaman bagi semua. “Katakan pada diri sendiri bahwa Sekolah tanpa bullying, dimulai dari saya,” pesannya.

    Sementara itu, narasumber Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd mengajak mahasiswa calon guru memahami pentingnya pendidikan karakter dan peradaban dalam membangun lingkungan belajar yang sehat. Menurutnya, calon guru tidak hanya berperan sebagai pendidik, tetapi juga harus mampu memahami posisi peserta didik agar tercipta hubungan yang sehat antara guru dan siswa. 

    “Sebagai calon guru nanti yang menghadap siswa, pembicaraan kita adalah bagaimana adik-adik menjadi guru dan bagaimana adik-adik menjadi murid,” ujarnya.

    Dalam paparannya, Sutrisna menjelaskan praktik perundungan sering terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Ia mencontohkan kebiasaan memberi julukan kepada teman berdasarkan kondisi fisik, seperti menyebut “gemuk” atau “pincang”, yang selama ini dianggap sebagai candaan biasa. Padahal, tindakan tersebut dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan trauma bagi korban. 

    “Ternyata apa yang saya lakukan dulu itu membuat teman tidak nyaman. Memanggil teman dengan julukan tertentu sebenarnya adalah bagian dari merundungi teman-teman kita,” jelasnya.

    Karena itu, Sutrisna mengajak para calon guru untuk membangun hubungan yang baik tanpa menyakiti perasaan orang lain. Ia menilai masih banyak praktik perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan sehingga diperlukan komitmen bersama untuk menciptakan budaya saling menghormati dan menghargai. 

    “Mari kita mulai sadar, kita membangun hubungan yang baik tanpa membuat teman kita tidak nyaman. Sebagai pelajar maupun sebagai guru, kita mempunyai semangat untuk membuat lingkungan yang lebih baik dan menciptakan hubungan yang baik di sekolah,” harapannya.

    Melalui workshop ini, para peserta diharapkan menjadi agen perubahan dalam mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari perundungan. (Sofyan)


    Baca juga: Kunjungan Dekan Fakultas Pertanian Univet Bantara Sukoharjo ke Jepang Perkuat Program Magang Internasional dan Mitra Industri


Top