GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
![]() |
| Murid kelas II SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti pembelajaran luar kelas (outing class) di Batik Puspita Mekar, Kampung Batik Laweyan, Solo. |
82 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Membatik Langsung di Kampung Batik Laweyan
SOLO – majalahlarise.com – Sebanyak 82 murid kelas II SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti pembelajaran luar kelas (outing class) di Batik Puspita Mekar, Kampung Batik Laweyan, Solo, Kamis (15/10/2026). Melalui kegiatan bertema “The Color of Nusantara: The Joy of Learning Batik”, para murid diajak mengenal warisan budaya leluhur sekaligus mempraktikkan seni membatik secara langsung.
Kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar murid, khususnya dalam pembelajaran seni rupa, melalui pengenalan ragam hias, teknik pewarnaan, serta proses pembuatan batik. Dengan terlibat langsung dalam setiap tahapan, murid diharapkan mampu mengembangkan kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya tradisional Indonesia sejak dini.
Guru Seni Rupa Kelas II, Retno Indriyanti, menjelaskan kegiatan outing class dilaksanakan secara berkala setiap semester untuk menghadirkan pengalaman belajar kontekstual yang dekat dengan kehidupan nyata.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperkaya pemahaman murid terkait materi ragam hias dan teknik pewarnaan dalam pembelajaran seni rupa, serta memberikan pengalaman langsung praktik membatik. Melalui langkah ini, kami berharap dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkuat kecintaan anak-anak terhadap budaya tradisional Indonesia,” ujar Retno.
Menurutnya, pembelajaran di luar kelas memberikan kesempatan kepada murid untuk tidak hanya memahami materi melalui penjelasan guru, tetapi juga mencoba sendiri proses berkarya. Pengalaman tersebut menjadi sarana untuk melatih keterampilan, ketelitian, dan keberanian bereksplorasi dalam menghasilkan karya seni.
Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan sejarah dan filosofi batik oleh pengelola Batik Puspita Mekar, Ferry Soeka Rochmadi. Di hadapan para murid, Ferry menceritakan perjalanan Batik Puspita Mekar yang berdiri sejak 1998 sekaligus menjelaskan pentingnya menjaga kelestarian warisan budaya lokal.
Ferry mengajak para murid memahami batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan filosofi. Pengenalan sejak usia sekolah dasar diharapkan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda dalam merawat tradisi membatik.
“Membatik harus dilestarikan, khususnya oleh generasi muda seperti murid SD PK, agar mereka memahami nilai filosofisnya. Proses awal pembuatan batik dimulai dari teknik mengecap. Jika proses pengecapannya tepat, maka hasil pewarnaannya pun akan semakin optimal,” jelas Ferry.
Penjelasan tersebut menjadi bekal bagi para murid sebelum memasuki praktik membatik. Mereka memperoleh gambaran mengenai pentingnya ketepatan dalam setiap tahapan pembuatan batik, mulai dari membentuk motif hingga menghasilkan warna yang menarik.
Memasuki kegiatan inti, para murid dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas murid laki-laki dan perempuan. Setiap murid mendapatkan kesempatan mencoba teknik batik cap menggunakan canting cap berbahan tembaga dan kain mori berukuran 30 x 30 sentimeter.
Dengan arahan pendamping, para murid membubuhkan malam atau lilin batik pada kain menggunakan alat cap. Mereka belajar menempatkan alat secara tepat agar motif terbentuk dengan rapi dan malam dapat melekat dengan baik pada permukaan kain.
Pengalaman tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi anak-anak. Mereka perlu memperhatikan posisi alat, tekanan saat mengecap, serta ketepatan proses agar motif yang dihasilkan sesuai dengan harapan.
Setelah tahap pengecapan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Para murid diberi kebebasan mengombinasikan empat warna, yakni hijau, kuning, biru, dan merah, sesuai kreativitas masing-masing.
Perpaduan warna menjadi bagian yang paling menarik karena setiap murid dapat mengeksplorasi pilihan warna untuk menghasilkan karya dengan karakter berbeda. Mereka juga menyaksikan secara langsung bagaimana warna meresap dan menyebar pada kain.
Tahapan berikutnya meliputi penjemuran dan pencelupan dalam larutan natrium klorida (NaCl) sesuai proses yang diterapkan dalam kegiatan tersebut untuk membantu mempertahankan warna kain. Hasil karya para murid dijadwalkan dikirimkan kembali ke sekolah dalam waktu sepekan agar proses pewarnaan dapat dipastikan mencapai hasil yang maksimal.
Salah satu murid kelas II, Davis Rizky Pramana, mengaku senang mengikuti kegiatan membatik yang menjadi pengalaman pertamanya menggunakan canting cap tembaga dan malam.
“Ini pengalaman pertamaku membatik menggunakan canting cap tembaga dan malam. Kegiatan ini cukup menantang namun sangat menyenangkan. Saat proses pewarnaan, aku merasa takjub melihat warna dapat menyebar secara indah di atas kain,” ungkap Davis.
Pengalaman Davis menggambarkan pembelajaran seni yang tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk merasakan proses, menghadapi tantangan, dan menemukan kegembiraan ketika mencoba keterampilan baru.
Melalui kegiatan outing class di Kampung Batik Laweyan, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berupaya menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan kekayaan budaya di lingkungan sekitar.
Praktik membatik memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal salah satu warisan budaya Indonesia melalui pengalaman langsung. Selain mengasah kreativitas dan keterampilan seni rupa, kegiatan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, serta penghargaan terhadap proses pembuatan karya.
Sekolah berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong murid tumbuh menjadi generasi kreatif dan inovatif sekaligus memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Nusantara.
Pengenalan batik sejak dini diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi penerus yang tidak hanya mengenal kekayaan budaya bangsanya, tetapi juga memiliki keinginan untuk menjaga dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. (Sofyan)
Pendidikan
Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Luncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) untuk Tingkatkan Kompetensi Literasi bagi Mahasiswa, Guru, Dosen, Penggiat Literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah Berbasis Literasi Kasus dan Proyek Nusantara
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri, Penggiat Literasi Arfzh Ratulisa, dan Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
"Kala kabut menyelimuti nusantara, ruang gerak dan cerita baik akan terus menjadi pemantik ide dan gagasan mulia sebagai wujud nyata berliterasi Ratulisa (rajin menulis & membaca) untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat"
Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan Literasi, Bahasa, dan Sastra) dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa telah meluncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) berkolabaorasi dengan mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan masyarkat di Provinsi Sulawesi Tengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung gerakan literasi nasional dan untuk implementasikan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kasus dan proyek literasi nusantara. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak tgl 12 -19 Oktober 2026 yang dilaksakan dengam moda daring, luring, dan analisis kasus secara mendalam, kritis, dan tugas proyek mandiri untuk berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca). Kegiatan tersebut mendapatkan fasilitas seminar kit, 3 buku cetak, dan 11 buku versi digital sebagai sumber literasi untuk menghasilkan satu tulisan sebagai luaran kegiatan yang akan diterbitkan menjadi tulisan bersama dalam Buku Diklisa#8 yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta berkerja sama dengan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Diklisa.
Semua peserta kegiatan pendidikan dan pelatihan (Diklat) GLN serta seminar mengikuti dengan sangat antusias, interaktif, dan kritis dalam berdiskusi untuk menyampaikan pendapat dan gagasan kritisnya. Hal ini tampak dalam giat dengan moda luring, Sabtu, 17 Oktober 2026 yang dilaksanakan di Aula FKIP UNTAD berkolaborasi dengan Unit Akreditasi Nasional dan Internasional LPPMP UNS, Laboratorium Bahasa FKIP UNTAD, Prodi PBSI FKIP UNTAD, Penerbit Yuma Pustaka, Penerbit Bumi Aksara, Lembaga Lolodolina Palu, MGMP Bahasa Indonesia Kota Palu, Keluarga Alumni PBSI FKIP UNTAD, Fakultas Sastra Universitas AlKhairaat (UNISA), Penggadean, UIN Kota Palu, guru-guru, dosen, penggiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat di Sulawesi Tengah.
Kegiatan diklat dan seminar dalam rangka peningkatan kompetensi literasi nusantara digital dan nondigital untuk mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah diawali pengantar oleh Ketua Panitia Seminar sekaligus Ketua Laboratorium FKIP UNTAD, Dr. Ulinsa, M.Hum. kemudian dibuka oleh Dekan FKIP UNTAD, Dr. Jamaludin, M.Si. yang disampaikan oleh Wakil Dekan bidang akademik, Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si yang didampingi Wakil Dekan bidang keuangan, Dr. Darsikin, M.Si.. Kegiatan GLN telah berjalan sangat lancar, menyenangkan, dan membahagiakan semua peserta yang hadir dalam giat tersebut karena diawali dengan penampilan tiga siswa SMP N Palu bimbingan Pak Haji Rasyid dan Pak Supriyadi untuk menampilkan tari selamat datang dengan khas lagu daerah Sulawesi Tengah. Dalam giat tersebut dihadirkan narasumber Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, M. Hum sekaligus sebagai pendiri dan penggiat Komunitas Diklisa dan LeGmbaga Literasi Arfuzh Ratulisa.
![]() |
| Kolaborasi mahasiswa dan dosen PBSI FKIP UNTAD dalam Gerakan Literasi Nusantara (GLN) Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa (Foto koleksi DKOmunitas Diklisa). |
Fokus utama dalam giat tersebut, Rohmadi menegaskan "Guru, dosen, mahasiswa, penggiat literasi, masyarakat abad XXI harus memiliki 3 modal utama, yaitu: (1) niatkan menjadi guru, dosen, mahasiswa, penggiat literasi Ratulisa dan Komunitas Diklisa untuk beribadah; (2) teruslah belajar dan berliterasi Ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang hayat; dan (3) doakan orang tua, guru, dosen, pemimpin, teman sejawat, murid-murid, mahasiswa, sanak famili, handai taulan, dan seluruh masyarakat Indonesia agar sukses dan bahagia dunia akhirat". Selain itu, Rohmadi juga mengajak mahasiswa, guru, dan dosen, penggiat literasi, dan Masyarakat Sulawesi Tengah untuk terus bergerak dan menggerakkan secara aktif, kreatif, inovatif, dan produktif pembelajaran bahasa Indonesia dengan berbasis kasus dan proyek di kelas, luar kelas, digital, dan nondigital serta menghasilkan proyek yang komprehensif merujuk pada aneka kasus yang dianalisis secara kritis dan mendalam. Hal ini dalam rangka untuk mendukung implementasi pembelajaran berbasis metode pembelajaran mendalam (deep learning) di sekolah dasar dan menengah serta pembelajaran berbasis kasus dam proyek di perguruan tinggi.
Narasumber, Muhammad Rohmadi juga memberikan ice breaking “Senam KOLISA (Konsentrasi Literasi Diklisa)” dan semangat untuk selalu cinta dan bangga pada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seluruh masyarakat Indoensia. Semangat dan yel-yel yang diberikan Rohmadi yaitu: “Aku cinta bahasa Indonesia; Aku banga bahasa Indonesia; Bahasa Indonesia luar biasa. Dalam giat tersebut dibahas dan didiskusikan aneka kasus pembelajaran yang terjadi di Sekolah Islam Terpadu, sekolah satu atap, SMP, MTs, SMA, SMK, dan perguruan tinggi secara komprehensif. Beberapa diskusi dan pertanyaan disampaikan oleh beberapa dosen PBSI UNTAD, yaitu Dr. Syamsudin, M.Pd., Dr. Juniati, M. Pd. Yang mendukung program Gerakan Literasi Nusantara Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa. Selain itu, ada juga guru SMP Islam Terpadu, Mutmainah, M. Pd., Melati, S. Pd. yang mendeksripsikan dan menanyakan aneka kasus pembelajaran dan literasi Ratulisa bagi para muridnya. Diskusi yang sangat aktif dan kritis untuk membahas aneka kasus pembelajaran era digital yang dipantik oleh Masrin sebagai moderator giat Diklisa dalam rangka Bulan Bahasa, yang akan diperingati tanggal 28 Oktober 2026.
Akhirnya, giat tersebut ditutup oleh narasumber, Muhammad Rohmadi yang saat ini sebagai pengajar di Program Stusi PBSI FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan mengajak dan meyakinkan kepada mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi di Sulawesi Tengah untuk terus bergerak dan menggerakkan murid dan mahasiswanya untuk terus berliterasi dengan ratulisa, bersama Komunitas Diklisa dengan ikut berpartisipasi aktif dalam melancarkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) sehingga ke depan akan menjadi sosok guru dan dosen abad XXI yang selalu dirindukan oleh umat sepanjang hayat karena ilmu, amal, dan karya nyata bersama Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Diklisa. Pesan Muhammad Rohmadi kepada seluruh mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan seluruh masyarakat di Indonesia, "Teruslah berliterasi dengan Ratulisa bersama Komunitas Diklisa. Membacalah untuk menulis dan menulislah untuk dibaca umat sepanjang hayat"
Puncak giat peluncuran GLN dan Peningkatan Kompetensi Literasi Digital dan Nondigital Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dalam rangka memeringati bulan bahasa akhirnya telah dilaksanakan dengan lancar, sukses, maslahat, dan berkah sehingga dapat menghasilkan satu karya bersama Book Chapter DIKLISA#8 sebagai wujud implementasi pembelajaran berbasis kasus dan proyek DIKLAT dan Seminar Peningkatan Kompetensi Literasi Nusantara yang diadakan oleh Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Ratulisa bersama semua panitia, peserta, Komunias Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Provinsi Sulawesi Tengah, yang terdiri atas mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi Ratulisa, dan masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah.
"Gerakan literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) merupakan upaya nyata Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa untuk ikut serta mencerdaskan, membelajarkan, dan mengantarkan seluruh masyarakat Indonesia untuk terus bersilaturahmi, berliterasi ratulisa, berbagi cerita baik, dan berbahagia sepanjang masa"
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa, Palu, 18 Oktober 2026
Pendidikan
Tim Memoria HIMA DKV ISI Surakarta Lolos Abdidaya 2026, Siap Bersaing di Tingkat Nasional
SURAKARTA – majalahlarise.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (HIMA DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menorehkan prestasi melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026. Tim Memoria berhasil lolos sebagai peserta Abdidaya 2026 melalui program MEMORIA (Memory Exploration and Multimedia Record of Intangible Assets) yang mengembangkan Kampoeng Batik Laweyan menuju Living Heritage Museum berbasis wisata edukasi budaya.
Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi ISI Surakarta. Tim Memoria tercatat sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa tingkat program studi dari ISI Surakarta yang lolos dan mewakili institusi dalam ajang nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Kelolosan Tim Memoria diumumkan pada 5 Oktober 2026 setelah melalui serangkaian program pemberdayaan masyarakat yang memadukan seni, budaya, dan teknologi. Tim ini selanjutnya akan berkompetisi bersama organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam Abdidaya 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan.
Program MEMORIA mengusung pengembangan Kampoeng Batik Laweyan sebagai Living Heritage Museum, yakni destinasi wisata budaya yang mengintegrasikan pelestarian sejarah, warisan budaya, media multimedia, dan wisata edukasi. Program ini dirancang untuk memperkuat identitas kawasan Laweyan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah dan budaya melalui pendekatan kreatif dan inovatif.
Dalam pelaksanaannya, Tim Memoria melibatkan berbagai mitra, di antaranya Forum Kampoeng Batik Laweyan (FBKL), komunitas, serta pemangku kepentingan di wilayah Kota Surakarta. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun program pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga mendukung pengembangan potensi wisata edukasi di kawasan Laweyan.
Ketua Tim PPK Ormawa DKV ISI Surakarta, Rafifah Hafidha Putri Rashikhah, menjelaskan program Memoria dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap potensi sejarah dan budaya Kampoeng Batik Laweyan melalui pengembangan destinasi wisata berbasis edukasi.
“Tim Memoria PPK Ormawa HIMA DKVISKA ini dirancang sebagai bentuk apresiasi atas program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Kampoeng Batik Laweyan sebagai Living Heritage Museum, yaitu destinasi wisata budaya berbasis edukasi melalui pelestarian sejarah dan warisan budaya yang telah diperkuat dengan peluncuran museum kawasan dan desa wisata edukasi budaya,” jelas Rafifah.
Menurutnya, integrasi seni, budaya, dan teknologi menjadi pendekatan penting untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat secara lebih menarik. Pemanfaatan multimedia diharapkan mampu membantu mendokumentasikan, menyampaikan, dan memperluas jangkauan informasi mengenai sejarah serta kekayaan budaya Laweyan.
Keberhasilan Tim Memoria lolos ke tingkat nasional juga memperpanjang capaian HIMA DKV ISI Surakarta dalam mengikuti ajang Abdidaya pada tahun-tahun sebelumnya. Konsistensi tersebut menunjukkan komitmen mahasiswa dalam mengembangkan program pengabdian yang menghubungkan kompetensi akademik dengan kebutuhan masyarakat.
Dosen pembimbing Tim Memoria, Ipung Kurniawan Yunianto, menyampaikan keberhasilan tersebut mencerminkan karakter ISI Surakarta sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kreativitas dan inovasi.
“Tim kami menampilkan praktik terbaik yang sesuai dengan keahlian kami. Ini adalah representasi bagaimana seni dan budaya bisa memberikan kontribusi positif dan membangun peradaban,” jelas Ipung.
Partisipasi dalam Abdidaya 2026 menjadi kesempatan bagi Tim Memoria untuk menunjukkan hasil pengembangan program sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dengan mahasiswa, perguruan tinggi, dan mitra pemberdayaan masyarakat dari berbagai daerah.
Melalui program MEMORIA, HIMA DKV ISI Surakarta berharap pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi teknologi dan pengembangan pariwisata edukatif. Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan sebagai Living Heritage Museum diharapkan menjadi contoh pemanfaatan keilmuan desain komunikasi visual untuk mendukung keberlanjutan budaya sekaligus meningkatkan nilai edukasi dan daya tarik destinasi wisata.
Dengan capaian tersebut, Tim Memoria siap membawa nama ISI Surakarta dalam kompetisi nasional Abdidaya 2026, sekaligus menunjukkan peran mahasiswa dalam menjaga warisan budaya dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.(Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Mahasiswa HI UNISRI saat mengikuti Kuliah Kunjungan Institusi (KKI) di Malaysia. |
Kunjungan Institusi HI UNISRI 2026 ke Malaysia, Mahasiswa Belajar Diplomasi Langsung di KBRI Kuala Lumpur dan IDFR
SURAKARTA – majalahlarise.com – Program Studi Ilmu Hubungan Internasional (HI), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta, menyelenggarakan Kuliah Kunjungan Institusi (KKI) di Malaysia pada 11–15 Oktober 2026. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari praktik diplomasi dan hubungan internasional secara langsung melalui kunjungan ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur dan Institute of Diplomacy and Foreign Relations (IDFR) Malaysia.
Kegiatan yang menjadi bagian dari kurikulum wajib FISIP UNISRI tersebut diikuti 30 mahasiswa, termasuk dua mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi FISIP UNISRI. Rombongan didampingi dua dosen, Agung Yudhistira Nugraha, M.A. dan Qonitah Rohmadiena, M.A., yang juga berperan sebagai Pembimbing Akademik (PA) mahasiswa serta Kepala Laboratorium HI UNISRI.
Kunjungan ini dirancang untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa melalui pengalaman belajar di lingkungan institusi yang berkaitan langsung dengan bidang ilmu hubungan internasional. Mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep dan teori di ruang kuliah, tetapi juga mengenal pelaksanaan diplomasi, pengelolaan hubungan luar negeri, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di bidang diplomatik.
Dalam kunjungan ke KBRI Kuala Lumpur, rombongan UNISRI diterima langsung oleh Atase Pendidikan. Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat tugas dan fungsi perwakilan Indonesia di luar negeri, termasuk perlindungan warga negara Indonesia (WNI) serta peran diplomasi dalam memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Malaysia.
Melalui kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai kompleksitas tugas perwakilan diplomatik Indonesia. Keberadaan KBRI tidak hanya berkaitan dengan komunikasi resmi antarpemerintah, tetapi juga mencakup pelayanan dan perlindungan WNI serta upaya mempererat hubungan Indonesia dengan negara tempat perwakilan bertugas.
Pengalaman ini memberikan konteks nyata bagi mahasiswa dalam memahami peran diplomasi sebagai instrumen penting dalam menjaga kepentingan nasional, membangun kerja sama, dan menyelesaikan berbagai persoalan lintas negara.
Rangkaian KKI berlanjut dengan kunjungan ke Institute of Diplomacy and Foreign Relations (IDFR) Malaysia. Rombongan UNISRI diterima tiga narasumber, yakni YBhg. Dato’ Rus Shazila Osman selaku Acting Director General IDFR; Dato’ Dr. Mohammad Rameez Yahaya selaku Director of the Competency Enhancement Centre (CEC), IDFR; serta Mr. Haris Syarwani Razali selaku Senior Principal Director, Management Services Division, IDFR.
Dalam sesi bersama para narasumber, mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk memperluas pengetahuan mengenai pendidikan diplomatik, peningkatan kompetensi, serta praktik hubungan luar negeri Malaysia. Pertemuan tersebut juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk memahami pentingnya kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi perkembangan dan tantangan diplomasi internasional.
IDFR sebagai institusi yang berkaitan dengan pendidikan dan pengembangan kompetensi diplomatik memberikan perspektif mengenai proses pembelajaran yang dibutuhkan untuk mendukung pelaksanaan tugas-tugas diplomasi. Materi yang diperoleh menjadi bekal bagi mahasiswa dalam memahami hubungan antara penguasaan teori, keterampilan profesional, dan kemampuan beradaptasi dengan dinamika global.
Kuliah Kunjungan Institusi di Malaysia ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi mahasiswa HI UNISRI untuk menghubungkan materi perkuliahan dengan praktik di lapangan. Pengalaman mengunjungi KBRI Kuala Lumpur dan IDFR Malaysia memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai peran institusi negara dalam menjalankan hubungan luar negeri, melindungi kepentingan nasional, serta membangun kerja sama antarnegara.
Selain memperluas wawasan, kegiatan tersebut memberikan pengalaman akademik internasional yang dapat membantu mahasiswa mengembangkan cara pandang lebih luas terhadap isu-isu global. Pemahaman mengenai diplomasi juga menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi peluang dan tantangan karier di bidang hubungan internasional.
Melalui kegiatan ini, Prodi HI FISIP UNISRI terus mendorong proses pembelajaran yang berorientasi internasional dan tidak terbatas pada kegiatan di ruang kelas. Kunjungan institusi di luar negeri menjadi salah satu upaya untuk mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman langsung di lingkungan profesional.
KKI di Malaysia diharapkan dapat memperkuat wawasan global mahasiswa, meningkatkan pemahaman mengenai praktik diplomasi, serta mendukung pengembangan kompetensi yang dibutuhkan dalam bidang hubungan internasional. Dengan pengalaman tersebut, mahasiswa diharapkan semakin siap memahami dinamika global dan berkontribusi dalam berbagai bidang yang berkaitan dengan diplomasi serta hubungan antarnegara. (Sofyan)
Baca juga: Bangun Generasi Qur’ani dan Berkemajuan, SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Baitul Arqam Sarat Makna
Pendidikan
![]() |
| Murid kelas III, IV, dan V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Baitul Arqam. |
Bangun Generasi Qur’ani dan Berkemajuan, SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Baitul Arqam Sarat Makna
SURAKARTA – majalahlarise.com – Sebanyak 229 murid kelas III, IV, dan V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Baitul Arqam selama dua hari, Kamis–Jumat (15–16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi sarana penguatan ideologi Islam, pembentukan karakter Qur’ani, serta penanaman nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan sejak usia dini.
Mengusung tema “Menghidupkan Ideologi Muhammadiyah dan Meneladani Tokoh untuk Pendidikan Berkemajuan di Era Disrupsi”, kegiatan ini dirancang untuk membekali murid dengan fondasi spiritual dan ideologis yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman. Melalui berbagai sesi pembinaan, murid diajak memahami nilai-nilai Islam, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat, Nursalam, menjelaskan Baitul Arqam bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang memberikan pengalaman bermakna bagi murid.
“Program ini merupakan sarana strategis untuk melatih kemandirian para murid, menjadi momentum berharga untuk bermuhasabah diri, sekaligus memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan kaidah tajwid yang benar,” ujar Nursalam dalam sambutan pembukaan.
Untuk memaksimalkan penyampaian materi sesuai dengan perkembangan usia peserta, kegiatan dibagi menjadi dua lokasi. Murid kelas III mengikuti rangkaian kegiatan di Ruang Haji Isa, gedung selatan. Sementara itu, murid kelas IV dan V menempati Ruang Muhtadi di gedung utara.
Pada kelompok kelas III, sesi materi diawali oleh Kak Junianto atau yang akrab disapa Kak Jun. Ia mengajak murid memahami empat pilar kekuatan yang perlu dimiliki seorang anak saleh, meliputi kekuatan fisik, penguasaan ilmu pengetahuan, kemapanan harta, serta keteguhan iman dan akhlak.
Kak Jun juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang. Merujuk hadis riwayat Bukhari, ia menjelaskan dua kenikmatan tersebut kerap dilalaikan manusia. Karena itu, murid diajak menggunakan waktu pada masa pertumbuhan untuk belajar, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan positif yang mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Materi berikutnya disampaikan Kak Ilham dengan pembahasan mengenai pentingnya mendirikan salat secara khusyuk serta membangun kebiasaan membaca dan mencintai Al-Qur’an. Melalui pembinaan ini, murid diharapkan tidak hanya mengenal Al-Qur’an sebagai kitab suci, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam bersikap dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Setiap sesi materi ditutup dengan pengisian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk mengukur pemahaman sekaligus menjadi sarana refleksi mandiri. Suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi tanya jawab dan pembagian *doorprize* kepada murid yang aktif serta menunjukkan antusiasme selama pembelajaran.
Sementara itu, murid kelas IV dan V memperoleh pembinaan bersama Tim Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LTQ) An-Nashru Solo. Dalam sesi tersebut, murid diperkenalkan dengan pola dasar seni membaca Al-Qur’an, khususnya lagu Nahawand.
Tim LTQ An-Nashru Solo membimbing murid mempelajari tiga variasi pola nada, yakni tinggi-rendah, tinggi-sedang-rendah, serta tinggi-rendah-angkat tinggi-rendah. Murid kemudian mendapat kesempatan mempraktikkan pola nada tersebut di depan teman-temannya. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang mendorong keberanian, kepercayaan diri, sekaligus ketertarikan murid terhadap seni membaca Al-Qur’an.
Rangkaian pembinaan di gedung utara dilanjutkan oleh Kak Anas yang membawakan materi tentang kiat menjadi Muslim yang baik di era modern. Ia mengajak murid meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Selain ketakwaan, murid diajak membentuk akhlak mulia, membiasakan diri berbuat baik kepada teman, serta menghindari segala bentuk perundungan (*bullying*), baik melalui perkataan maupun tindakan. Murid juga didorong membangun kebiasaan beribadah sebagai bagian dari pembentukan karakter Muslim yang beriman dan bertanggung jawab.
Salah satu murid kelas III, Kalani Lentera Insani, mengaku antusias mengikuti Baitul Arqam karena menjadi pengalaman pertamanya dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya ketika kelompoknya berhasil meraih juara pertama.
“Alhamdulillah, kelompokku terpilih menjadi juara 1. Sistem penilaian dimulai dari kedatangan peserta, ketertiban melaksanakan ibadah salat dan tadarus Al-Qur’an, kerapian menjaga kebersihan ruangan, skor tertinggi mengerjakan LKPD, dan prosesi penutupan,” ucap Kalani.
Penilaian tersebut mendorong murid untuk menjaga kedisiplinan sejak awal kegiatan, melaksanakan ibadah dengan tertib, membiasakan tadarus Al-Qur’an, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyelesaikan tugas dengan baik. Dengan demikian, nilai-nilai yang dipelajari selama Baitul Arqam dapat diterapkan melalui tindakan nyata.
Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat berharap para murid tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berprestasi, mandiri, berakhlak mulia, serta memiliki pemahaman keislaman yang kuat. Bekal tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan semangat pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan. (Sofyan)
Baca juga: Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3
News
![]() |
| Astrid meninjau langsung kegiatan lapak baca di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). |
Astrid Widayani Dorong Budaya Literasi di Solo, Perpustakaan Keliling Hadirkan Lapak Baca Gratis di Sriwedari
Surakarta – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong penguatan budaya literasi melalui berbagai inovasi yang memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan. Salah satunya melalui perpustakaan keliling berbasis sepeda yang menghadirkan lapak baca gratis di ruang publik, sehingga warga dapat membaca buku di sela aktivitas sehari-hari.
Astrid meninjau langsung kegiatan lapak baca tersebut di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia melihat pemanfaatan ruang publik sebagai tempat belajar alternatif yang terbuka bagi masyarakat sekaligus menjadi cara kreatif untuk menumbuhkan minat baca di luar lingkungan sekolah dan perpustakaan konvensional.
Menurut Astrid, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan fasilitas perpustakaan. Akses terhadap bahan bacaan perlu dibuat lebih dekat, menarik, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat agar membaca tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Literasi harus kita hadirkan sedekat mungkin dengan masyarakat. Jangan sampai buku hanya tersedia di tempat tertentu, tetapi belum menjadi bagian dari keseharian warga. Melalui perpustakaan keliling seperti ini, masyarakat bisa menemukan bacaan di ruang publik, membaca dengan santai, dan mulai membangun kebiasaan membaca dari hal sederhana,” ujar Astrid.
Ia menjelaskan, inovasi perpustakaan keliling memiliki nilai strategis karena mampu menjangkau masyarakat melalui pendekatan yang fleksibel. Dengan menggunakan sepeda sebagai sarana membawa buku, kegiatan membaca dapat hadir di tengah aktivitas warga tanpa harus menunggu mereka datang ke gedung perpustakaan.
Dalam peninjauan tersebut, Astrid melihat lapak baca yang menyediakan puluhan judul buku dari koleksi pribadi penggagasnya, Destyn Ayu Safitri. Buku-buku itu dibawa menggunakan sepeda dan disediakan secara gratis bagi masyarakat yang ingin membaca di kawasan Sriwedari.
Bagi Astrid, kegiatan tersebut menunjukkan penguatan literasi dapat dilakukan melalui kolaborasi dan partisipasi masyarakat. Ruang publik yang selama ini identik dengan rekreasi dan olahraga juga berpotensi menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang inklusif.
“Ruang publik tidak hanya bisa menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas, tetapi juga ruang untuk belajar. Kita perlu terus mendorong munculnya kegiatan kreatif yang membuat masyarakat semakin dekat dengan buku. Ketika aksesnya mudah dan suasananya menyenangkan, membaca bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami,” katanya.
Astrid juga mengingatkan pentingnya literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami, memilah, dan memeriksa kebenaran informasi secara kritis.
Budaya membaca menjadi fondasi untuk memperluas wawasan, membangun daya pikir, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan. Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik.
Ia berharap kegiatan perpustakaan keliling dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi memperluas akses bacaan di Kota Solo. Dukungan komunitas, sekolah, pengelola perpustakaan, dan masyarakat diperlukan agar gerakan literasi berkembang secara berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak kalangan.
“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem literasi yang hidup. Pemerintah, komunitas, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Ukurannya bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia, tetapi bagaimana buku itu bisa diakses, dibaca, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” jelas Astrid.
Melalui penguatan literasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Kota Surakarta berharap tumbuh lingkungan yang mendorong warga untuk terus belajar, memperluas pengetahuan, dan berpikir kritis. Kehadiran perpustakaan keliling berbasis sepeda di ruang publik menjadi salah satu contoh bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Sofyan)
Baca juga: Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3
Pendidikan
![]() |
| Lewat konsep sosialisasi berbasis praktik dan peran reporter cilik, siswa belajar mengamati gejala alam sekaligus mampu menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri. |
Tanggap, Sigap, Berani Bicara! Mahasiswa UNISRI Edukasi Mitigasi Bencana di SDN 2 Sruni Boyolali
BOYOLALI – majalahlarise.com – Meningkatkan kesadaran mitigasi bencana sejak dini menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang tangguh menghadapi potensi bencana alam. Melalui program pengabdian masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta mengajak siswa SDN 2 Sruni, Boyolali, belajar mengenali potensi bencana Gunung Merapi melalui kegiatan edukatif bertema “Tanggap Bencana, Sigap Semua, Berani Bicara”, Senin (13/10).
Kegiatan yang diikuti 36 siswa tersebut dipimpin Diva Restu Fadilah bersama empat anggota tim, yakni Wiwit Kurnia Sari, Aisyah Kurnianti, Ahmad Fauzan, dan Fatwa Aziz Al Hafiz. Mahasiswa semester 3 ini memadukan sosialisasi interaktif dengan pembelajaran berbasis pengalaman atau experience learning agar materi mitigasi bencana lebih mudah dipahami anak-anak.
Berada di kawasan rawan bencana Gunung Merapi, siswa SDN 2 Sruni perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi. Melalui kegiatan ini, para siswa dikenalkan dengan gejala alam yang perlu diwaspadai, pentingnya mengikuti arahan guru dan petugas, serta cara menyampaikan informasi ketika melihat kondisi yang berpotensi membahayakan.
Kepala SDN 2 Sruni, Nur Absah Nirwana, S.Pd., menyambut positif kegiatan yang diinisiasi mahasiswa UNISRI tersebut. Menurutnya, edukasi mitigasi bencana sangat dibutuhkan anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan potensi ancaman bencana alam.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kepedulian mahasiswa UNISRI. Edukasi ini sangat krusial bagi anak-anak kami yang tinggal di kawasan rawan bencana. Dengan penyampaian yang interaktif, anak-anak tidak hanya belajar tentang keselamatan, tetapi juga makin berani dan percaya diri,” ungkapnya.
Dukungan juga disampaikan guru SDN 2 Sruni, Dwi Harsono, S.Pd. Ia berharap kegiatan pengabdian masyarakat yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa tersebut dapat terus berlanjut. Dengan demikian, pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana dapat ditanamkan secara bertahap dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Sementara itu, Diva Restu Fadilah selaku perwakilan tim mahasiswa menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang dengan menggabungkan pengetahuan mitigasi bencana dan keterampilan jurnalistik. Pendekatan ini diharapkan membuat siswa tidak hanya memahami informasi keselamatan, tetapi juga mampu mengamati keadaan di sekitarnya dan menyampaikan informasi secara tepat.
“Kami ingin mengubah kesan mitigasi bencana yang kaku menjadi aktivitas yang mudah dipahami. Lewat konsep sosialisasi berbasis praktik dan peran reporter cilik, siswa belajar mengamati gejala alam sekaligus mampu menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri,” jelas Diva.
Konsep reporter cilik menjadi salah satu pendekatan kreatif dalam kegiatan tersebut. Melalui pengenalan peran sebagai penyampai informasi, siswa didorong untuk berani berbicara, mengungkapkan hasil pengamatan, serta menyampaikan informasi yang mereka ketahui dengan bahasa yang jelas. Keterampilan ini diharapkan membantu anak-anak memahami pentingnya komunikasi ketika menghadapi situasi darurat.
Sepanjang kegiatan, para siswa terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian pembelajaran. Mereka terlibat aktif dalam sosialisasi dan praktik yang diberikan oleh tim mahasiswa. Para siswa juga menyampaikan harapan agar kegiatan edukatif yang menyenangkan seperti ini dapat kembali diselenggarakan pada kesempatan mendatang.
Program pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa UNISRI dan SDN 2 Sruni menunjukkan pentingnya sinergi perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan dasar dalam memperluas pemahaman mitigasi bencana.
Melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, mahasiswa UNISRI berupaya menanamkan tiga nilai penting kepada siswa, yakni tanggap dalam mengenali potensi bahaya, sigap dalam merespons situasi, serta berani berbicara untuk menyampaikan informasi. Pembekalan sejak dini ini diharapkan mendukung terbentuknya generasi yang lebih siap menghadapi risiko bencana sekaligus memiliki kecakapan literasi dan komunikasi.(Sofyan)
Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Ziarah Agung Mbah Kyai Nur Suhud, Rawat Jejak Dakwah Ulama Keraton Kartosura di Nguter SUKOHARJO – majalahlarise.com – Warga Nahdlatul Ulam...








