Desain Interior ISI Surakarta Siapkan Generasi Hadapi Tantangan AI dan Angkat Lokalitas Nusantara ke Global

    Surakarta - majalahlarise.com - Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar Kuliah Umum Desain Interior bertema “Mempersiapkan Generasi Penerus Desain Interior Indonesia Menavigasi Tantangan AI dan Mengangkat Lokalitas Nusantara ke Kancah Global”, Jumat (18/9/2026).

    Kegiatan yang berlangsung pukul 07.30–11.30 WIB di Gedung Sungging Purbangkara, Kampus II ISI Surakarta tersebut menjadi ruang dialog bagi sivitas akademika Desain Interior ISI Surakarta dalam memahami perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi bidang kreatif, termasuk praktik dan pendidikan desain interior.

    Perkembangan teknologi yang berlangsung cepat membuat mahasiswa desain interior perlu memiliki kemampuan lebih dari sekadar menguasai perangkat digital. Kemampuan berpikir kritis, kreatif, adaptif, memahami kebutuhan pengguna, serta mempertahankan nilai dan karakter desain Indonesia menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan ekosistem profesi desain.

    Hadir sebagai narasumber, Lea Aviliani S. Aziz, BFA., HDII., Principal PT. Elenbee Cipta Desain. Pengalaman profesionalnya di bidang desain interior menjadi bekal dalam memberikan perspektif kepada mahasiswa mengenai perkembangan AI dan perubahan proses kerja dalam industri desain.


    “AI bukan hanya teknologi yang mengubah cara desainer bekerja, tetapi juga membawa perubahan pada ekosistem profesi desain. Karena itu, generasi muda perlu memahami dan merespons perkembangan tersebut secara strategis,” menjadi salah satu pokok pembahasan dalam kuliah umum tersebut.

    Dalam diskusi, peserta juga diajak memahami posisi AI sebagai alat bantu dalam proses kreatif. Teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendukung eksplorasi dan pengembangan gagasan, tetapi peran manusia tetap penting dalam memahami konteks, kebutuhan pengguna, budaya, material, konstruksi, hingga membangun konsep desain yang memiliki makna.

    Selain tantangan teknologi, kuliah umum tersebut membahas potensi lokalitas Nusantara sebagai sumber gagasan dalam pengembangan desain interior Indonesia. Kekayaan budaya, tradisi, material, kerajinan, ornamen, serta pengetahuan lokal dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi gagasan desain yang relevan dengan perkembangan zaman sekaligus mampu diperkenalkan ke tingkat global.

    Penggalian lokalitas Nusantara tidak hanya dilakukan dengan menggunakan bentuk atau ornamen tradisional secara literal. Mahasiswa didorong melakukan interpretasi, transformasi, dan inovasi sehingga menghasilkan karya yang memiliki identitas Indonesia sekaligus mampu berdialog dengan perkembangan desain kontemporer.

    Kegiatan dibuka Dekan FSRD ISI Surakarta, Dr. Handriyotopo, M.Sn., dan dihadiri Kaprodi Desain Interior, Putri Sekar Hapsari, S.Sn., M.A. Diskusi dipandu Dr. Dhian Lestari Hastuti, M.Sn. selaku moderator.

    Bagi Program Studi Desain Interior ISI Surakarta, kuliah umum tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai perkembangan praktik profesional sekaligus memperkuat hubungan antara pendidikan tinggi desain dan dinamika industri kreatif.

    Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan memiliki perspektif lebih luas dalam menghadapi transformasi teknologi dan perubahan kebutuhan industri desain interior. Kekayaan lokalitas Nusantara juga diharapkan tidak hanya dipandang sebagai warisan budaya yang perlu dilestarikan, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan kreativitas yang dapat terus dikembangkan melalui pendekatan desain inovatif.

    Desain interior Indonesia ke depan diharapkan mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus mengenali, mengolah, dan memperkenalkan kekayaan lokal Nusantara melalui karya yang relevan bagi masyarakat serta memiliki jangkauan global. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

     

    Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat menjadi imam sekaligus khatib di Masjid Al-Mustaqim.

    4 Cara Mencintai Rasulullah SAW, Tak Cukup dengan Ucapan

    SOLO - majalahlarise.com - Mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW tidak cukup hanya melalui ucapan. Kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga sholat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalawat, hingga peduli kepada sesama.

    Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat menjadi imam sekaligus khatib di Masjid Al-Mustaqim, Jalan MT Haryono No. 50, Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jumat (18/9/2026).

    Dalam khutbahnya, Jatmiko mengingatkan jamaah bahwa Rasulullah SAW diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya tidak berhenti pada pujian dan shalawat, tetapi diwujudkan dengan mengikuti sunnah serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

    “Makna cinta yang sesungguhnya kepada Nabi SAW adalah mengamalkan apa yang diamalkan oleh Rasulullah. Mencintai Nabi SAW adalah ibadah,” kata Jatmiko.

    Jatmiko menyebutkan empat kebiasaan yang dapat menjadi bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah SAW. Pertama, sholat tepat waktu. Menurutnya, ketaatan kepada Allah SWT harus diwujudkan melalui pelaksanaan kewajiban, bukan sekadar menjadi pengetahuan. Kedua, rutin membaca Al-Qur’an. Kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga mendorong umat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

    “Ketiga dengan memperbanyak shalawat. Seperti yang tercantum dalam QS Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

    Keempat, lanjut Jatmiko, peduli kepada sesama. Rasulullah SAW mengajarkan persamaan, persatuan, saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian, serta akhlakul karimah. Nilai-nilai tersebut perlu dihadirkan dalam kehidupan sosial sehingga kecintaan kepada Rasulullah SAW memiliki dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

    Guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo itu menjelaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Mengikuti Rasulullah SAW bukan sekadar mengenang sosok beliau, melainkan berusaha menghadirkan keteladanan beliau dalam hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

    “Sebab, ukuran cinta bukan hanya apa yang keluar dari lisan. Cinta yang sebenarnya adalah ketika keteladanan Rasulullah mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari, dengan peduli agama, manusia, lingkungan hingga sistem,” urainya.

    Khotbah Jumat dimulai pukul 11.40 WIB. Pada awal khutbah, anggota Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya (MPKSDI) Solo itu mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk menghadiri dan melaksanakan ibadah Jumat.

    “Semoga Allah memberikan ridha-Nya terhadap ibadah Jumat yang kita lakukan di siang hari ini, diberikan tambahan berkah sehat fisik, rohani maupun ekonominya,” harapnya.

    Selanjutnya, Jatmiko menyampaikan wasiat takwa kepada jamaah dengan menjalankan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

    Rektor Universitas Sahid Surakarta, Dr. Sri Huning Anwariningsih, S.T., M.Kom., saat membuka pameran mengangkat tema “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” sekaligus menjadi bentuk asesmen pengganti sidang Tugas Akhir.


    Dari Layar Digital ke Ruang Pamer, Karya Mahasiswa DKV Hadirkan Tafsir Visual Budaya Indonesia

    Surakarta - majalahlarise.com - Layar digital menyala di ruang Signature Coffee, STP Sahid Surakarta, Kamis (18/9/2026). Beragam visual budaya Indonesia hadir melalui karya lukisan digital mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sahid Surakarta, Muhammad Praditya Arifian Zein, NIM 2022021027. Pameran tersebut mengangkat tema “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” sekaligus menjadi bentuk asesmen pengganti sidang Tugas Akhir.

    Pameran menjadi bagian penting dari perjalanan akademik Praditya karena karya dan proses kreatifnya dapat disaksikan secara terbuka oleh sivitas akademika. Kegiatan dibuka Rektor Universitas Sahid Surakarta, Dr. Sri Huning Anwariningsih, S.T., M.Kom., serta dihadiri jajaran pimpinan Universitas Sahid Surakarta dan STP Sahid Surakarta bersama seluruh dosen Program Studi DKV Universitas Sahid Surakarta. Melalui pameran tersebut, proses akademik mahasiswa tidak hanya ditampilkan dalam bentuk presentasi, tetapi juga melalui karya visual yang dapat diapresiasi secara langsung.

    Gagasan Praditya berangkat dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia melalui komunikasi visual yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Kereta api, arsitektur Surakarta, dan berbagai unsur budaya dipadukan dalam karya ilustrasi digital. Bentuk, warna, komposisi, karakter, serta teknik ilustrasi digunakan untuk menerjemahkan kekayaan budaya ke dalam bahasa visual generasi masa kini. 


    “Melalui lukisan digital, saya mencoba menghadirkan budaya Indonesia dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan cara masyarakat menikmati karya visual saat ini,” ujar Praditya.

    Karya yang dipamerkan tidak hanya menunjukkan hasil akhir Tugas Akhir, tetapi juga memperlihatkan proses kreatif di balik pembuatannya. Salah satu bagian pameran menampilkan video presentasi dan dokumentasi perjalanan pengerjaan karya, mulai dari pengembangan gagasan, eksplorasi visual, pengerjaan ilustrasi secara digital, hingga penyelesaian karya. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memahami proses pengambilan keputusan visual serta berbagai tahapan yang dilalui mahasiswa dalam menghasilkan sebuah karya desain.

    Pameran juga memberikan pengalaman berbeda dalam pelaksanaan asesmen Tugas Akhir. Karya Praditya tidak hanya dipresentasikan di hadapan tim penguji dalam ruang sidang, tetapi dihadirkan dalam ruang yang memungkinkan sivitas akademika dan pengunjung melihat karya secara langsung. 

    “Pameran ini menjadi ruang untuk menunjukkan karya, gagasan, proses, sekaligus kemampuan komunikasi visual secara lebih utuh,” kata Praditya.

    Dalam konteks pendidikan DKV, kehadiran karya dalam ruang pamer memperlihatkan pentingnya proses kreatif dalam pembelajaran. Kemampuan mahasiswa tidak hanya terlihat dari hasil akhir, tetapi juga dari bagaimana gagasan dikembangkan, masalah desain dihadapi, kemudian diterjemahkan menjadi solusi visual. Pameran tersebut sekaligus membuka ruang pertemuan antara mahasiswa, dosen, pimpinan perguruan tinggi, dan pengunjung dalam satu ruang apresiasi serta evaluasi akademik.

    Pameran Praditya juga memperlihatkan ruang pendidikan desain yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi melalui kekuatan kreatifnya. Sebagai mahasiswa autis, perjalanan akademiknya menjadi bagian dari proses pendidikan yang memberikan ruang bagi keberagaman cara belajar, berekspresi, dan berkarya. Namun, fokus pameran tetap berada pada karya dan pencapaian akademiknya sebagai mahasiswa DKV. Ada gagasan budaya yang diterjemahkan, proses kreatif yang ditampilkan, serta karya yang menjadi bukti perjalanan akademik.

    Pameran “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” menjadi penanda berakhirnya perjalanan Tugas Akhir Muhammad Praditya Arifian Zein sekaligus membuka kemungkinan bagi pengembangan karya selanjutnya. Lukisan digital dapat terus dikembangkan menjadi portofolio, ilustrasi, proyek desain, maupun media komunikasi budaya melalui berbagai platform digital. Dari layar komputer, tablet, telepon pintar hingga ruang pamer, budaya Indonesia menemukan kemungkinan bahasa visual baru. Di Signature Coffee, STP Sahid Surakarta, proses akademik ditutup melalui karya, sementara perjalanan kreatif berikutnya mulai terbuka. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

    Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani membuka kegiatan senam sehat dan lomba lari estafet dalam rangka Dies Natalis ke-28 Universitas Surakarta (UNSA).


    Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

    Solo - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani menghadiri kegiatan senam sehat dan lomba lari estafet dalam rangka Dies Natalis ke-28 Universitas Surakarta (UNSA) di Stadion Sriwedari, Solo, Kamis (17/9/2026).

    Astrid mengatakan kegiatan olahraga tersebut tidak sekadar menjadi sarana menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan. Menurutnya, lomba lari estafet dapat dimaknai sebagai simbol keberlanjutan perjalanan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

    “Estafet ini menjadi simbol bagaimana perjalanan panjang itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. UNSA bisa menjadi sarana perjalanan panjang bagi generasi penerus untuk menjadi calon-calon pemimpin,” kata Astrid dalam sambutannya.

    Menurut Astrid, setiap peserta dalam lomba estafet memiliki peran untuk mencapai tujuan bersama. Nilai tersebut dinilai relevan dengan kehidupan di lingkungan perguruan tinggi sekaligus pembangunan Kota Surakarta.


    “Estafet mengajarkan kekompakan, kerja sama, komunikasi, disiplin dan sportivitas. Nilai-nilai ini juga sejalan dengan semangat membangun Kota Surakarta karena kemajuan kota membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi,” ujarnya.

    Astrid juga mengapresiasi pemilihan Stadion Sriwedari sebagai lokasi kegiatan. Ia menyebut stadion tersebut memiliki sejarah panjang dalam perjalanan olahraga di Indonesia.

    “Pemilihan Stadion Sriwedari ini sangat baik karena punya nilai sejarah panjang terkait olahraga. Dari tempat yang bersejarah ini, semangat estafet generasi juga bisa kita maknai bersama,” tuturnya.

    Lebih lanjut, Astrid menyampaikan tantangan yang dihadapi generasi muda terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya dunia pendidikan menghadapi tantangan globalisasi, kini perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, disinformasi hingga isu perpecahan menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.

    Karena itu, Astrid berharap UNSA terus adaptif dalam menghadapi perubahan zaman dan mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkolaborasi serta menjaga kebersamaan.

    “UNSA harus bisa menghadapi tantangan-tantangan ke depan. Mudah-mudahan selalu adaptif dan terus mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat, Kota Surakarta dan bangsa Indonesia,” katanya.

    Astrid turut menyampaikan ucapan selamat atas Dies Natalis ke-28 UNSA. Tahun ini Dies Natalis UNSA mengusung tema “UNSA Berdaya, Menguatkan Pendidikan, Membangun Kemandirian dan Menjawab Tantangan Bangsa.”

    “Selamat Dies Natalis ke-28 Universitas Surakarta. Tetap semangat, terus bergerak dan terus berkontribusi,” pungkasnya. (Mas Is/ Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Gelar Dialog Konstitusi Bersama MK, Bahas Negara Konstitusional Berkeadilan dan Perlindungan HAM

    Dialog menghadirkan narasumber dari Mahkamah Konstitusi, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H. 


    Fakultas Hukum UNISRI Gelar Dialog Konstitusi Bersama MK, Bahas Negara Konstitusional Berkeadilan dan Perlindungan HAM

    Solo - majalahlarise.com - Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia menggelar Dialog Konstitusi bertema “Negara Konstitusional yang Berkeadilan: Manifestasi Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Melindungi Hak Asasi Manusia”, Jumat (18/9/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Kampus II UNISRI, Ruang Seminar Lantai 7 tersebut diikuti sekitar 200 peserta. Mereka terdiri atas mahasiswa semester 3, 5, dan 7 serta dosen Fakultas Hukum UNISRI.

    Dialog Konstitusi dibuka secara resmi oleh Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya pemahaman terhadap konstitusi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa fakultas hukum yang dipersiapkan menjadi calon penegak hukum.

    “Mahasiswa fakultas hukum harus memahami bahwa konstitusi bukan hanya sekadar teks, tetapi menjadi dasar negara dalam mewujudkan keadilan. Melalui dialog ini diharapkan mahasiswa dapat memahami peran penting Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusi dan melindungi hak asasi warga negara,” ujar Prof. Sutoyo.

    Dekan Fakultas Hukum UNISRI, Dr. Dora Kusumastuti, S.H., M.H., menyampaikan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Fakultas Hukum UNISRI meningkatkan literasi konstitusi di kalangan mahasiswa.

    “Melalui dialog konstitusi ini, mahasiswa diajak untuk memahami lebih dalam bagaimana putusan-putusan MK menjadi instrumen penting dalam mewujudkan negara yang konstitusional dan berkeadilan, terutama dalam konteks perlindungan HAM. Kami berharap kegiatan ini bisa memperkaya wawasan dan membentuk karakter mahasiswa fakultas hukum yang kritis dan berintegritas,” jelasnya.

    Dialog menghadirkan narasumber dari Mahkamah Konstitusi, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H. Materi yang disampaikan membahas peran MK sebagai pengawal konstitusi sekaligus pelindung hak-hak konstitusional warga negara.

    Pembahasan mengenai putusan-putusan MK yang berkaitan dengan perlindungan hak asasi manusia membuat kegiatan berlangsung interaktif. Para mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan pertanyaan dan memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara konstitusi, putusan MK, keadilan, dan perlindungan hak warga negara.

    Melalui Dialog Konstitusi ini, Fakultas Hukum UNISRI berharap hubungan kelembagaan dengan Mahkamah Konstitusi dapat terus diperkuat. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami konstitusi secara lebih kontekstual, sekaligus menumbuhkan kesadaran hukum sebagai bekal menjadi calon penegak hukum di masa depan. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital

     

    Dhimas Pandu Aji Aryanata berhasil meraih Juara II Lomba Nembang Macapat dan Alexander Arrondya Iswara Bumi meraih Juara II pada Lomba Maca Geguritan.


    Prestasi FTBI 2026, SMP Negeri 8 Kota Surakarta Raih Juara II Nembang Macapat dan Geguritan

    Surakarta - majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan peserta didik SMP Negeri 8 Kota Surakarta melalui ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SMP Tingkat Kota Surakarta Tahun 2026.

    Dalam ajang tersebut, SMP Negeri 8 Kota Surakarta berhasil meraih dua Juara II. Prestasi tersebut diraih melalui cabang Lomba Nembang Macapat dan Lomba Maca Geguritan.

    Pada Lomba Nembang Macapat yang berlangsung 20 Agustus 2026 di Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dhimas Pandu Aji Aryanata berhasil meraih Juara II. Sementara itu, Alexander Arrondya Iswara Bumi meraih Juara II pada Lomba Maca Geguritan yang dilaksanakan 24 Agustus 2026 di tempat yang sama.

    Kedua peserta didik tersebut mengikuti perlombaan dengan bimbingan Sri Murwani, S.Pd. Persiapan dan latihan yang dilakukan mampu mengantarkan Dhimas dan Alexander menunjukkan kemampuan terbaik dalam bidang bahasa dan seni budaya Jawa.

    Prestasi tersebut tidak hanya menjadi capaian dalam perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Jawa di kalangan generasi muda.

    Lomba Nembang Macapat dan Maca Geguritan menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, melatih kepercayaan diri, serta mengenal kekayaan budaya daerah.

    Ucapan selamat dan Apresiasi juga  disampaikan keluarga besar SMP Negeri 8 Kota Surakarta oleh Kepala Sekolah Sarjoko, S.Pd.

    “Selamat untuk tim FTBI. Semoga prestasinya membawakan berkah. Depanska jaya, pasti bisa,” ujarnya.

    Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi peserta didik untuk terus mengembangkan potensi dan meraih prestasi di berbagai bidang.

    Capaian Dhimas Pandu Aji Aryanata dan Alexander Arrondya Iswara Bumi sekaligus menunjukkan pentingnya ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan seni serta bahasa daerah.

    Dengan prestasi tersebut, SMP Negeri 8 Kota Surakarta terus mendorong peserta didik untuk berkarya, berprestasi, sekaligus ikut menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Jawa. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital


    Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital


    Oleh:  Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik

    Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri dan Penggiat Literasi Arfzh Ratulisa, serta Komunitas DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    "Kawan, bercerita dengan segala pengalaman nyata dalam proses belajar dan membelajarkan diri akan selalu terasa indah dan menyenangkan sepanjang masa”


           Pemahaman kata dengan beribu makna akan terus menjadi semangat para murid dan mahasiswa dalam proses belajar dan membelajarkan diri, baik di kelas maupun luar kelas. Hal ini sebagai bukti bahwa setiap murid, mahasiswa, guru, dan dosen abad XXI memiliki semangat dan integritas untuk tahu dan lebih banyak tahu melalui proses pembelajaran yang nyata. Dengan berbagai proses dan pengalaman nyata yang dimiliki murid dan mahasiswa dalam berbagai konteks kehidupan akan terus menjadi pelita dan harapan setiap proses untuk bertindak dan berkarya dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Aneka kegiatan yang mendukung proses pembelajaran, baik secara mandiri maupun berkelompok akan memantik semangat untuk terus berliterasi dengan ratulisa dan berbagai ilmu dalam multikonteks kehidupan.

           Peran guru dan dosen abad XXI sebagai fasilitator dan motivator untuk terus belajar dan bersilaturahmi dalam multikonteks pembelajaran sangat kuat sepanjang hayat. Hal ini sebagai bentuk komitmen dan integritas sebagai guru dan dosen abad XXI yang terus mengabdi untuk menyiapkan generasi abad XXI. Proses pembelajaran aktif yang difasilitasi oleh guru dan dosen abad XXI tentu akan menjadi model keteladanan bagi para murid dan mahasiswa di mana pun berada. Kehadiran guru dan dosen abad XXI yang terus dirindukan oleh murid dan mahasiswa dalam berbagai ruang kelas, ruang digital, dan aneka ruang kesemestaan nusantara akan ditunggu dan terus dirindukan sepanjang masa. Oleh karena itu, diperlukan guru dan dosen abad XXI yang harus terus bergerak dan menggerakkan multigenerasi NKRI untuk berliterasi dengan ratulisa, bersilaturahmi, berkomunikasi, berkolaborasi, beraksi, dan berliterasi dengan ratulisa sepanjang masa.

           Guru dan dosen abad XXI harus terus menemani diskusi dan bercerita dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang sangat bervariatif. Variasi model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan aneka model dan ruang-ruang belajar dengan aneka sumber literasi digital dan nondigital yang beragam sangat diharapkan dan diwujudkan di seluruh wilayah NKRI. Kegiatan-kegiatan belajar dan membelajarkan diri yang dilaksankan oleh murid dan mahasiswa dalam multikonteks pembelajaran tentu akan terus memantik semangat bergerak dan menggerakkan semua sendi-sendi kehidupan dalam kebhinekaan untuk mewujudkan mimpi dan imajinasi multigenerasi NKRI. Dengan demikian akan Lahiri multigenarsi NKRI yang cerdas, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif.

           Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang dilaksankan oleh guru dan dosen abad XXI pada jenjang TK, SD, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, Sekolah Vokasi, dan Perguruan Tinggi diharapkan dapat menghasilkan generasi muda Indonesia yang menguasai keterampilan abad XXI, yaitu: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, (4) komunikatif dan enam literasi dasar, yaitu literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerik, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, dan (6) budaya dan kewargaan. Kolaborasi guru dan dosen abad XXI dalam pembalajaran di kelas dan luar kelas era digital dengan aneka model, teknik, dan metode pembelajaran aktif, mendalam, kasus, proyek, dan aneka media digital yang dimanfaatkan tentu akan menghasilkan generasi Indonesia yang unggul, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif. Jangan sampai kalah lulusan Diploma, S-1, S-2, dan S3 dengan lulusan SMK pada era digital. 

           Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, LIterasi, Bahasa, dan Sastra) tanggal 15 September 2026 dalam giat DIKLISA#16 menghadirkan narasumber Mas Deni Setiawan, pelaku bisnis digital Kulintang Batik dari Pengkol, Sragen ternyata dengan kreativitas dan keberaniannya memiliki omset penjualan per hari antara Rp 75 - Rp 100 juta dan per tahun rata-rata Rp 5 miliar - Rp 7 miliar. Mas Deni Setiawan sekitar tahun 2009-2015 bekerja sebagai karyawan pada Yuma Perkasa Group Surakarta yang bergerak dalam bidang penerbit, percetakan, dan perdagangan umum dan ternyata dengan perjuangan dan keberaniannya sepuluh tahun kemudian sudah berekonstruksi mindset menjadi salah satu owner Kulintang Batik yang bergerak dalam bisnis digital Hal ini sebagai bukti bahwa proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus ditumbuhkembangkan menjadi penguatan komunikasi verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat NKRI melalu mata kuliah edupreneur, wirausaha literasi, dan wirausaha digital.

          Buku DIKLISA#5 dan DIKLISA#6 ini diterbitakan atas kolaborasi nyata dalam proses berliterasi dengan Ratulisa dan giat bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) didirikan dan diluncurkan oleh Muhammad Rohmadi Ratulisa pada tanggal 2 Mei 2025 sebagai penggagas dan koordinator dalam multikonteks kegiatannya. Akhirnya pada Jumat, 18 September 2026 secara resmi diluncurkan Buku DIKLISA#5 dan Buku DIKLISA#6 kepada seluruh Masyarakat Indonesia, sesuai tagline DIKLISA: Cerdas, Kreatif untuk Indonesia. Selamat membaca dan memahami hasil karya bersama keluarga besar DIKLISA pada buku DIKLIS#6 yang di tanggan dan gawai Bapak dan Ibu pembaca yang Budiman.

    “Ruang-ruang belajar digital dan nondigital terbuka dan tersedia kapan saja dan di mana saja untuk multigenerasi NKRI tinggal mau atau tidak untuk memanfaatkannya sebagai sumber belajar dalam multikonteks kehidupan”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 18 September 2026

    #Tulisan ini dikembangkan dari Pengantar Buku DIKLISA#6 yang ada ditangan Bapak dan Ibu yang Budiaman#


Top