Khatib dan Imam Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko.


    Orang Tua Diimbau Perkuat Fondasi Religius Generasi Alpha di Era AI

    SOLO – majalahlarise.com – Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat menuntut peran aktif orang tua dalam mendidik Generasi Alpha, yakni anak-anak yang lahir pada 2010 hingga 2024. Penguatan keimanan, ilmu pengetahuan, dan adab dinilai menjadi fondasi penting agar anak mampu memanfaatkan media sosial dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) secara bijak, Jumat (21/8/2026).

    Hal tersebut disampaikan Khatib dan Imam Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, dalam khutbah bertajuk Mendidik Generasi Alpha di Era Media Sosial dan Kecerdasan Buatan yang disampaikan di Lapangan SD Muhammadiyah 1 Solo. Menurutnya, Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sangat dekat dengan internet dan perangkat pintar sehingga membutuhkan pendampingan keluarga yang kuat.

    Guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab kelas 3 tersebut menjelaskan, teknologi memberikan peluang besar bagi anak untuk memperoleh pengetahuan dan mengembangkan kreativitas. Namun, tanpa pendampingan, teknologi juga dapat membawa risiko, mulai dari penyebaran berita bohong, paparan konten tidak pantas hingga penggunaan AI secara tidak tepat.

    “Kehangatan keluarga tidak bisa digantikan oleh secanggih apa pun teknologi. Anak-anak lebih membutuhkan kehadiran orang tua daripada sekadar fasilitas yang lengkap,” ujarnya.

    Dwi Jatmiko mengingatkan, kurangnya perhatian dan kedekatan orang tua dapat membuat anak merasa terasing sehingga berpotensi mencari tempat berbagi atau pelampiasan kepada entitas digital. Ia juga menyoroti adanya kasus tragis anak yang melakukan bunuh diri setelah mendapatkan saran dari mesin AI, yang menurutnya menjadi pengingat penting bagi keluarga agar tidak mengabaikan komunikasi dan pendampingan terhadap anak.

    Untuk membentengi Generasi Alpha dari berbagai risiko di ruang digital, Dwi menyebut tiga fondasi utama yang perlu ditanamkan orang tua. Pertama, memperkuat keimanan agar anak memiliki kesadaran setiap aktivitasnya, termasuk di ruang digital, senantiasa berada dalam pengawasan Allah Swt.

    Kedua, membekali anak dengan ilmu pengetahuan sehingga mampu berpikir kritis dan memilah informasi yang diterima dari internet. Ketiga, menanamkan adab dan etika, termasuk kesantunan dalam berkomunikasi serta bertanggung jawab ketika menggunakan media sosial maupun teknologi AI.

    Dwi juga mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah. Menurut anggota Majelis Pendidikan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Solo tersebut, rumah harus tetap menjadi lingkungan pertama dalam pembentukan karakter dan keimanan anak.

    “Rumah harus tetap menjadi madrasah pertama bagi anak-anak. Media sosial dan kecerdasan buatan hanyalah alat. Keduanya dapat menjadi sarana kebaikan atau pintu kerusakan, bergantung pada cara manusia menggunakannya,” tegasnya.

    Ia mengajak keluarga dan masyarakat membangun pola pendampingan yang lebih dekat dengan anak di tengah perkembangan teknologi. Dengan fondasi iman, ilmu, dan adab yang kuat, Generasi Alpha diharapkan mampu menjadi generasi yang adaptif terhadap perkembangan AI sekaligus tetap memiliki karakter, akhlak, dan tanggung jawab sosial. (Sofyan)


    Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia



    Dari Tembang Jawa ke Busana Menswear, Seniman Pascasarjana ISI Surakarta Hadirkan Kidung Rumeksa Ing Wengi

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Warisan budaya Jawa kembali dihadirkan melalui bentuk seni kontemporer. Muhammad Abdulfattah AS, seniman sekaligus mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menghadirkan enam karya busana menswear yang terinspirasi dari Kidung Rumeksa Ing Wengi dalam fashion show di Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta, Jumat (21/8/2026).

    Enam karya tersebut masing-masing berjudul Ratri Khesema, Atma Shakti, Divya Rakshana, Atma Wibawa, Vahitra Cahya, dan Bija Sancara. Karya-karya itu dikembangkan berdasarkan interpretasi terhadap bait-bait Kidung Rumeksa Ing Wengi, dengan mengangkat gagasan tentang perlindungan, kekuatan, keselamatan, dan dimensi spiritual ke dalam motif, struktur visual, material, serta karakter busana menswear.

    Abdulfattah tidak menerjemahkan tembang Jawa tersebut secara harfiah. Setiap bait dieksplorasi untuk menemukan simbol, karakter, bentuk, dan struktur visual yang kemudian diwujudkan melalui motif tenun dan batik tulis. Motif tenun digunakan sebagai elemen struktural sekaligus identitas visual, sedangkan batik tulis memperkuat simbol dan narasi pada permukaan busana.

    “Kidung Rumeksa Ing Wengi tidak sekadar ditempatkan sebagai objek budaya yang dipelajari, tetapi diterjemahkan dari tembang menjadi bahasa visual melalui tenun, batik tulis, dan busana kontemporer,” demikian gagasan karya Abdulfattah yang tertuang dalam siaran pers.

    Dalam proses penciptaannya, tenun dan batik tulis dipadukan dengan material Toyobo serta organza untuk membangun karakter menswear yang mempertemukan unsur tradisional dengan pendekatan desain kontemporer. Pengembangan karya juga dilengkapi aksesori berupa ikat penutup kepala berbahan Toyobo dan tenun melalui teknik pengikatan manual, serta sandal etnis dengan sistem tali lace-up ankle berbahan kulit sintetis.

    Proses penciptaan dilakukan melalui tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan menggunakan metode penciptaan seni S.P. Gustami. Tahapan tersebut meliputi pengkajian Kidung Rumeksa Ing Wengi, eksplorasi visual dan material, pengembangan motif, perancangan busana, pembuatan tenun dan batik tulis, hingga konstruksi serta penyelesaian detail busana.

    Karya ini juga membawa gagasan alih wahana, yakni memindahkan gagasan dari satu medium ke medium lain. Tembang yang semula hadir melalui medium verbal kemudian diterjemahkan menjadi motif tekstil dan busana. Pendekatan tersebut membuka ruang agar warisan budaya tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi ditafsirkan kembali melalui bahasa seni yang relevan dengan kehidupan kontemporer.

    Pemilihan Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta sebagai lokasi presentasi memberikan konteks tersendiri bagi karya tersebut. Ruang itu menjadi titik temu seni, budaya, desain, dan gagasan spiritual yang menjadi salah satu landasan penciptaan. Melalui fashion show, tubuh manusia, gerak, siluet, material, motif, dan detail busana dipadukan untuk menghadirkan interpretasi visual terhadap Kidung Rumeksa Ing Wengi.

    Melalui enam karya menswear tersebut, Abdulfattah menawarkan cara baru dalam menghidupkan warisan budaya Jawa. Karya ini tidak berhenti pada pelestarian, tetapi berupaya menjadikan warisan budaya sebagai sumber kreativitas yang dapat dikenali, dikenakan, dan diapresiasi melalui pengalaman visual generasi masa kini. (Sofyan)


    Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia



    Daop 6 Yogyakarta Aktif Sosialisasikan Keselamatan Perjalanan Kereta Api di Sekolah Berbagai Wilayah

    YOGYAKARTA - majalahlarise.com - PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta terus memperkuat edukasi keselamatan perjalanan kereta api kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Sosialisasi dilakukan di sejumlah sekolah di wilayah Yogyakarta dan Surakarta sebagai upaya menanamkan budaya keselamatan sejak usia dini.

    Kegiatan sosialisasi digelar di SD Negeri Hargorejo dan SMP Muhammadiyah 1 Wates pada Kamis (20/8), kemudian dilanjutkan di SD Negeri 1 Jetis, SD Negeri Petoran dan SD Kabangan Surakarta pada Jumat (21/8). Kegiatan melibatkan tim Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) wilayah Yogyakarta dan Surakarta, kepala sekolah, dewan guru serta para siswa.

    Dalam sosialisasi tersebut, para siswa mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keamanan dan keselamatan di sekitar jalur maupun perjalanan kereta api. Siswa diingatkan agar tidak bermain atau melakukan aktivitas di sekitar jalur kereta api, sementara guru dan siswa diajak turut menyampaikan pesan keselamatan kepada keluarga serta lingkungan sekitar.

    Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, mengatakan edukasi keselamatan sejak usia sekolah menjadi langkah penting untuk membangun budaya keselamatan di tengah masyarakat.

    “Keselamatan perjalanan kereta api membutuhkan peran serta seluruh masyarakat. Karena itu, kami terus melakukan edukasi ke berbagai lingkungan, termasuk sekolah dasar. Kami ingin menanamkan pemahaman kepada anak-anak sejak dini bahwa jalur kereta api merupakan area yang harus dijaga dan bukan tempat untuk bermain maupun melakukan aktivitas lainnya,” ujar Feni dalam keterangan tertulisnya, Jumat (21/8).


    Menurut Feni, siswa diharapkan tidak hanya memahami pesan keselamatan untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu menjadi penyampai pesan kepada orang tua, saudara dan teman-temannya.

    “Anak-anak adalah generasi penerus sekaligus bagian penting dalam membangun budaya keselamatan. Kami berharap pesan yang disampaikan hari ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan diteruskan kepada orang tua, saudara, maupun teman-temannya. Dengan kepedulian bersama, kita dapat menciptakan perjalanan kereta api yang semakin aman dan selamat,” tambahnya.

    Selain memberikan edukasi keselamatan, KAI Daop 6 Yogyakarta juga menyerahkan bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kepada masing-masing sekolah berupa satu buah speaker aktif. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung sarana dan prasarana sekolah, baik untuk kegiatan pembelajaran maupun aktivitas sekolah lainnya.

    Feni menjelaskan program TJSL merupakan bagian dari komitmen KAI dalam memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

    “Kami berharap bantuan TJSL ini dapat memberikan manfaat bagi sekolah-sekolah yang kami datangi untuk mendukung berbagai aktivitas pendidikan di sekolah. Kami juga berharap hubungan baik antara KAI dengan lingkungan pendidikan dapat terus terjalin, sehingga bersama-sama kita dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat,” jelas Feni.

    Kegiatan berlangsung aman, tertib dan lancar serta mendapat antusiasme dari para guru dan siswa. Melalui kegiatan tersebut, Daop 6 Yogyakarta berharap pemahaman mengenai keselamatan perjalanan kereta api semakin meningkat, terutama di kalangan generasi muda.

    KAI Daop 6 Yogyakarta juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga keselamatan perjalanan kereta api dengan tidak bermain atau beraktivitas di jalur kereta api, tidak meletakkan benda di jalur, serta senantiasa mematuhi rambu dan aturan keselamatan yang berlaku.

    KAI Daop 6 Yogyakarta berkomitmen melanjutkan edukasi keselamatan sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat melalui berbagai program sosial dan lingkungan di wilayah operasionalnya. (Sofyan)


    Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia

    Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. menjajal sepeda motor listrik karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo saat mengunjungi stand teaching factory.


    Menteri Perdagangan Jajal Motor Listrik Karya Siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo, Dorong Generasi Muda Jadi Eksportir

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. menjajal sepeda motor listrik karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo saat mengunjungi stand teaching factory di halaman Auditorium Kampus Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Kamis (20/8/2026). Kunjungan tersebut dilakukan sebelum Mendag mengikuti kuliah tamu di kampus tersebut.

    Dalam kunjungannya, Budi Santoso melihat langsung beragam produk hasil kreativitas dan keterampilan siswa. Ia mendorong mahasiswa Univet Bantara maupun siswa SMK agar tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja, tetapi mampu mempersiapkan diri menjadi wirausaha sekaligus pelaku ekspor. Pemerintah, menurutnya, siap memberikan pelatihan dan pendampingan mulai dari pengembangan produk hingga membuka akses pasar internasional.

    “Kita ajari bagaimana caranya dari ekspor, bagaimana perusahaan mulai dari pelatihan sampai pendampingan produk kalau produknya sudah bagus,” ujar Budi Santoso.

    Produk hasil binaan tersebut juga diarahkan untuk mengikuti Trade Expo Indonesia pada Oktober mendatang. Selain melalui pameran, pemerintah akan membantu mempertemukan pelaku usaha dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri melalui program business matching. Mahasiswa juga diberi kesempatan mendapatkan pengalaman melalui program di Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

    “Kita ingin anak-anak kita lulus langsung menjadi wirausaha, menjadi pengusaha,” tegasnya.

    Sementara itu, Kepala SMK Veteran 1 Sukoharjo, Malkan Maliya, menyampaikan apresiasi atas kesempatan sekolah memamerkan produk karya siswa di hadapan Menteri Perdagangan. Produk yang ditampilkan meliputi motor listrik, suku cadang hasil praktik siswa Teknik Pemesinan, produk aksesori, hingga karya dari konsentrasi keahlian broadcasting.

    “Kami sangat senang sekali bisa memamerkan produk-produk dari SMK, seperti motor listrik, produk spare part dari anak-anak di teknik pemesinan, produk aksesori, dan dari konsentrasi broadcasting,” ujar Malkan Maliya.

    Menurut Malkan, pameran tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan potensi produk karya siswa sekaligus membuka peluang pengembangan pemasaran. Produk yang dihasilkan melalui pembelajaran berbasis praktik dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk yang lebih luas dan memiliki nilai ekonomi.

    Ia berharap kunjungan Menteri Perdagangan dapat membuka peluang dukungan dan kerja sama, terutama dalam pengembangan produk, pemasaran, serta pemenuhan peralatan produksi. “Harapan kami nanti mendapat dukungan dari Bapak Menteri Perdagangan, bagaimana produk-produk ini bisa kami kembangkan untuk dijual lebih luas kepada masyarakat, termasuk dukungan pemasaran dan penyediaan alat-alat agar kami bisa memproduksi lebih banyak,” jelasnya.

    Malkan menambahkan, dukungan tersebut diharapkan semakin memperkuat teaching factory sebagai ruang pembelajaran kewirausahaan bagi siswa. Dengan demikian, siswa tidak hanya memiliki kompetensi sesuai bidang keahlian, tetapi juga memiliki pengalaman menghasilkan produk, mengenal pasar, dan membangun keberanian untuk menjadi wirausaha setelah lulus. (Sofyan)


    Baca juga: UNISRI Gelar Seminar Motivasi untuk Wujudkan SDM Produktif Menuju UNISRI Unggul



    Tim KKN ISI Surakarta Dorong Penguatan Desa Wisata Kemuning melalui Kolaborasi Seni dan Teknologi

    KARANGANYAR - majalahlarise.com - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, selama 27 Juni hingga 27 Agustus 2026. Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Kemuning melalui Kolaborasi Seni dan Teknologi Kearifan Lokal” tersebut diarahkan untuk memperkuat potensi pariwisata, seni, budaya, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

    Desa Kemuning merupakan salah satu desa wisata di lereng barat Gunung Lawu yang memiliki beragam potensi alam dan ekonomi kreatif. Perkebunan teh, wisata buatan, seni tradisi, produk UMKM, hingga berbagai destinasi wisata seperti Mini Zoo Kemuning menjadi modal penting dalam pengembangan desa wisata.

    Melalui program KKN, mahasiswa ISI Surakarta berupaya menghadirkan inovasi yang memadukan seni dan teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal masyarakat. Sejumlah kegiatan dirancang untuk memperkuat identitas sekaligus meningkatkan daya tarik Desa Wisata Kemuning.

    Salah satu program yang dilakukan yakni rebranding Mini Zoo Kemuning melalui pembuatan mural, katalog, dan branding visual. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas destinasi sekaligus memberikan pengalaman visual yang lebih menarik bagi pengunjung.

    Selain itu, Tim KKN ISI Surakarta menciptakan tari ikon Desa Kemuning berjudul “Candra Muning”. Karya tari tersebut menjadi salah satu bentuk penggalian dan pengembangan seni berbasis karakter serta potensi lokal Desa Kemuning.

    Promosi potensi desa juga diperkuat melalui produksi video promosi. Media audiovisual tersebut diarahkan untuk memperkenalkan berbagai potensi Desa Wisata Kemuning kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung strategi promosi berbasis teknologi digital.

    Koordinator KKN ISI Surakarta, Alung Mangku Buana, menjelaskan program yang dilaksanakan disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi masyarakat.

    “Program KKN ini dirancang berdasarkan kebutuhan warga Desa Kemuning. Kami berharap rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik dalam pengembangan pariwisata, pelestarian budaya, penguatan UMKM, maupun peningkatan kreativitas masyarakat secara luas,” ujar Alung Mangku Buana.

    Program pemberdayaan juga menyentuh sektor ekonomi kreatif melalui workshop eco print. Kegiatan ini mengenalkan teknik kriya ramah lingkungan kepada masyarakat dengan memanfaatkan potensi bahan alam di sekitar.

    Melalui eco print, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga berpeluang mengembangkan produk kreatif yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatan bahan-bahan lokal menjadi salah satu pendekatan untuk menciptakan produk yang memiliki karakter khas Desa Kemuning.

    Penguatan branding UMKM turut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan. Tim KKN memberikan pendampingan terkait aspek visual dan promosi agar produk UMKM Desa Kemuning memiliki identitas yang lebih kuat, mudah dikenali, serta berpotensi menjangkau pasar lebih luas.

    Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya citra Desa Kemuning sebagai desa wisata yang kreatif, berbudaya, dan berkelanjutan. Seni dan teknologi ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat potensi yang telah dimiliki masyarakat, bukan menggantikan karakter lokal yang menjadi kekuatan desa.

    Sementara itu, Harun Waskito, selaku penanggung jawab Desa Kemuning, berharap program KKN dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang berkelanjutan antara masyarakat desa dan perguruan tinggi.

    “Kami berharap kerja sama antara Tim KKN dan Desa Kemuning dapat terus terjalin. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendukung pengembangan potensi desa dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Harun Waskito.

    Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pengelola destinasi, dan pelaku UMKM menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pemberdayaan yang tidak berhenti pada pelaksanaan KKN, tetapi dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat.

    Tim KKN ISI Surakarta berharap berbagai program yang telah dilaksanakan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan identitas Desa Wisata Kemuning. Integrasi seni, teknologi, ekonomi kreatif, dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong Desa Kemuning semakin inovatif, inklusif, dan berdaya saing.

    Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan masyarakat melalui pendekatan seni dan kreativitas. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, potensi Desa Kemuning diharapkan dapat terus dirawat, dikembangkan, dan dipromosikan secara berkelanjutan. (Sofyan)


    Baca juga: UNISRI Gelar Seminar Motivasi untuk Wujudkan SDM Produktif Menuju UNISRI Unggul

    Narasumber seminar, Eko Suseno Hendro Riyadi, S.E., M.M., memaparkan materi mengenai penguatan motivasi kerja, strategi meningkatkan produktivitas, serta pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin dinamis. 


    UNISRI Gelar Seminar Motivasi untuk Wujudkan SDM Produktif Menuju UNISRI Unggul

    SOLO - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Seminar Motivasi bertema “Mewujudkan SDM yang Produktif Menuju UNISRI yang Unggul” di Kampus II UNISRI, Ruang Seminar Lantai 7, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat budaya kerja sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.

    Seminar diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas Pembina dan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Slamet Riyadi, pimpinan, dosen, serta tenaga kependidikan di lingkungan UNISRI. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kesamaan semangat dan komitmen seluruh sumber daya manusia dalam mendukung perkembangan institusi.

    Narasumber seminar, Eko Suseno Hendro Riyadi, S.E., M.M., memaparkan materi mengenai penguatan motivasi kerja, strategi meningkatkan produktivitas, serta pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin dinamis. Peserta diajak memahami produktivitas bukan sekadar pencapaian target, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan, membangun kolaborasi, dan terus melakukan pengembangan diri.

    Ketua Pelaksana, Ratna Indriani, S.H., mengatakan seminar tersebut merupakan langkah nyata UNISRI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat fondasi budaya kerja di lingkungan kampus.


    “Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan inspirasi dan strategi praktis kepada seluruh civitas akademika agar dapat meningkatkan produktivitas kerja tanpa mengorbankan kesehatan mental. Selain itu, kami ingin memperkuat nilai-nilai integritas dan kolaborasi sebagai fondasi SDM yang unggul, seiring dengan dinamika perkembangan institusi dan peningkatan mutu layanan pendidikan di UNISRI,” ujar Ratna.

    Kegiatan secara resmi dibuka Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan setiap insan UNISRI memiliki peran penting sebagai penggerak dalam mewujudkan kampus yang unggul dan berdaya saing.

    “SDM yang produktif, berintegritas, dan sehat secara mental adalah kunci utama dalam mewujudkan visi UNISRI. Saya berharap melalui seminar ini, seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan mendapatkan energi baru untuk terus berinovasi dan memberikan layanan pendidikan terbaik bagi mahasiswa dan masyarakat,” tegas Prof. Sutoyo.

    Menurutnya, peningkatan kualitas institusi tidak hanya ditentukan oleh sarana dan program akademik, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankan seluruh proses pendidikan. Karena itu, penguatan motivasi, integritas, produktivitas, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam perjalanan UNISRI menuju institusi pendidikan tinggi yang semakin unggul.

    Melalui seminar motivasi ini, UNISRI berharap seluruh elemen kampus memiliki visi dan semangat yang sama dalam membangun lingkungan kerja yang produktif, sehat, kolaboratif, dan inovatif. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung UNISRI menjadi perguruan tinggi yang adaptif, kompetitif, serta memiliki daya saing tinggi di tengah perkembangan dunia pendidikan. (Sofyan)


    Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia

     

    Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. saat menyampaikan kuliah umum di Univet Bantara Sukoharjo.

    Menteri Perdagangan Dorong Kampus Univet Bantara dan UMKM Cetak Eksportir Muda dari Lokal untuk Global

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. mendorong perguruan tinggi, mahasiswa, UMKM, dan pelaku usaha lokal mengambil peran lebih besar dalam memperkuat pasar domestik sekaligus memperluas ekspor. Hal itu disampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Rabu (20/8/2026).

    Dalam kuliah umum tersebut, Menteri Perdagangan memaparkan tiga fokus utama kebijakan perdagangan nasional, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta program “Dari Lokal untuk Global”. Strategi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pasar Indonesia yang memiliki sekitar 282 juta penduduk sekaligus memperkuat daya saing produk UMKM.

    “Bagaimana kemudian pasar yang besar ini diisi oleh produk-produk dalam negeri? Salah satunya bagaimana kita memberdayakan UMKM dan produk-produk lokal,” ujar Budi Santoso.

    Menurutnya, produk lokal harus memiliki kualitas dan daya saing agar mampu menembus pasar modern maupun pasar internasional. Pemerintah terus mendorong kerja sama dengan retail modern dan industri, sedangkan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendampingan UMKM, pengembangan produk, peningkatan kualitas, pengemasan, hingga pemenuhan standar ekspor.


    “Retail modern hanya menyediakan tempat, menyediakan display untuk produk-produk kita. Kita yang harus bisa membina, termasuk kampus, bagaimana membina UMKM kita agar produknya bisa masuk,” jelasnya.

    Budi Santoso juga menyampaikan pentingnya memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan dengan berbagai negara. Saat ini, Indonesia telah memiliki 25 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan, sementara dua lainnya masih dalam proses ratifikasi dan sejumlah perjanjian masih dalam tahap negosiasi.

    “Sekarang kita sudah mempunyai perjanjian dagang dengan negara lain sebanyak 25 yang sudah implementasi. Kemudian yang sekarang proses ratifikasi ada dua, sisanya masih dalam proses negosiasi,” katanya.

    Ia mencontohkan Amerika Serikat sebagai salah satu pasar penting Indonesia. Menurutnya, perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat menghasilkan surplus yang besar. Produk seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, serta elektronik menjadi komoditas yang banyak diekspor dan berkaitan erat dengan industri manufaktur padat karya.

    “Jadi kita ingin memperbanyak akses pasar kita,” tegasnya.

    Melalui program “Dari Lokal untuk Global”, pemerintah ingin semakin banyak UMKM menjadi eksportir. Kementerian Perdagangan memiliki jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mencari calon pembeli.

    “Kita ingin yang ekspor itu tidak hanya perusahaan besar, tetapi UMKM juga bisa ekspor. Kita harus mempunyai kesempatan yang sama,” katanya.

    Budi Santoso menyebut transaksi program UMKM bisa ekspor pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 134 juta dolar AS. Sementara Januari-Juli tahun berjalan, nilainya telah meningkat menjadi sekitar 330 juta dolar AS.

    Selain UMKM, pemerintah juga mendorong mahasiswa terlibat melalui program “Kampus Ekspor”. Mahasiswa diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi mulai belajar menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sejak masih kuliah.

    “Kita ingin adik-adik nanti setelah lulus tidak mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.

    Mahasiswa tidak harus membuat produk sendiri. Mereka dapat menggandeng UMKM yang memiliki produk potensial, kemudian mendapatkan pendampingan kampus untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.

    “Produknya tidak harus membuat sendiri. Produknya cukup dari UMKM. Adik-adik punya binaan UMKM, kemudian nanti mahasiswa bisa mempunyai binaan UMKM yang siap ekspor,” jelasnya.

    Ia mengingatkan pelaku UMKM agar mempersiapkan kapasitas produksi sebelum memperoleh pesanan ekspor. Menurutnya, mendapatkan buyer bukan akhir dari proses, melainkan harus diikuti kemampuan memenuhi jumlah pesanan dan menjaga konsistensi kualitas.

    “Jangan sampai nanti ketika dapat buyer, tidak bisa produksi. Kadang-kadang UMKM pusing tidak dapat buyer, tetapi ada juga yang pusing karena dapat buyer,” ujarnya.

    Pemerintah juga mengembangkan program “Desa Ekspor” untuk membawa aktivitas ekspor hingga tingkat desa. Dari sekitar 2.600 desa yang telah diidentifikasi memiliki potensi ekonomi, sekitar 700 desa dinilai mempunyai produk potensial untuk ekspor.

    Produk-produk tersebut diarahkan mendapatkan standardisasi, penguatan produksi, serta akses pasar internasional.

    “Jadi kita ingin yang ekspor itu tidak di kota saja, tetapi di desa-desa ekspor,” katanya.

    Budi Santoso juga mengajak mahasiswa yang memiliki minat menjadi pengusaha dan eksportir untuk memulai sejak sekarang. Aktivitas ekspor dinilai dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengalaman praktis sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja.

    “Kalau ada yang punya passion di ekspor atau pengusaha, belajarnya harus sekarang. Harus mulai sekarang,” ujarnya.

    Ia menegaskan program Kampus Ekspor tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan mahasiswa yang benar-benar menjalankan usaha dan melakukan transaksi ekspor.

    “Kami tidak mau program ini hanya menjadi program di atas kertas, tetapi harus ada realisasinya. Harus ada yang benar-benar ekspor,” tegasnya.

    Sementara itu, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., menyambut positif kehadiran Menteri Perdagangan. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum strategis untuk mempertemukan dunia akademik dengan kebijakan perdagangan nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi konkret.

    “Saya berharap kehadiran Bapak Menteri di Universitas Bantara menjadi momentum yang mempertemukan dunia akademik dan kebijakan perdagangan nasional, sehingga berdampak terhadap kemajuan perguruan tinggi dan seluruh instansi yang berada di bawah YPP Veteran,” ujarnya.

    Prof. Farida mengatakan Univet Bantara yang telah berusia 58 tahun terus berkembang dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan menjadi perguruan tinggi dengan sejumlah fakultas dan program studi. Fakultas Ekonomi menjadi salah satu bidang yang memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kebijakan dan praktik perdagangan.

    Univet Bantara, lanjutnya, tidak ingin hanya mencetak lulusan sebagai pencari kerja. Kampus juga diarahkan melahirkan pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur, hingga eksportir muda melalui pembelajaran, kegiatan KKM, pendampingan masyarakat, serta pengembangan UMKM desa binaan.

    “Kami berharap perguruan tinggi yang kami selenggarakan ini tidak hanya menjadi tempat mencetak para calon pencari kerja, tetapi menjadi tempat lahirnya pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur dan syukur-syukur menjadi eksportir muda,” katanya.

    Prof. Farida berharap kunjungan Menteri Perdagangan menjadi awal kolaborasi dalam program Kampus Trainer, pengembangan eksportir muda, pelatihan perdagangan internasional, riset kebijakan perdagangan, serta peluang magang mahasiswa di perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.

    “Kami berharap produk-produk yang hari ini kami pamerkan, baik dari Univet Bantara maupun SMK, mendapatkan pendampingan sehingga mampu mencapai pasar global,” pungkasnya.

    Sebelum kuliah umum, Menteri Perdagangan meninjau sejumlah produk hasil karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo dan hasil penelitian Univet Bantara. Budi Santoso juga mencoba mengendarai motor listrik karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo.

    Kehadiran produk inovatif tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan, riset, industri, dan kebijakan perdagangan. Menteri Perdagangan membuka peluang agar hasil riset dan karya siswa dapat dikembangkan bersama industri sehingga memiliki nilai ekonomi dan berpotensi menembus pasar ekspor. (Sofyan)


    Baca juga: UNS Kembangkan SMARTIN-AJA, Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga Minim Abu, Asap, dan Jelaga


Top