Warga dusun Gunungan saat mengikuti doa bersama pada malam tirakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.


    Tirakatan HUT ke-81 RI, Warga Dusun Gunungan Diajak Perkuat Kerukunan dan Gotong Royong

    WONOGIRI – majalahlarise.com – Warga Dusun Gunungan, Desa Gunungan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, berkumpul di balai dusun mengikuti malam tirakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Minggu malam (16/8/2026). Kegiatan berlangsung sederhana dengan suasana khidmat dan penuh kebersamaan.

    Rangkaian acara diawali sambutan Kepala Dusun Gunungan, Niki Utami, dilanjutkan doa bersama seluruh warga. Sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan dan kecintaan kepada bangsa Indonesia, warga juga menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

    Dalam sambutannya, Niki Utami mengajak masyarakat memaknai kemerdekaan tidak hanya sebagai peristiwa sejarah, tetapi juga sebagai semangat untuk menghadapi tantangan kehidupan saat ini. Menurutnya, perjuangan masyarakat masa kini memiliki bentuk yang berbeda dibandingkan perjuangan para pendahulu yang mengangkat senjata melawan penjajah.

    “Kalau dahulu kita berperang melawan penjajah dengan senjata, sekarang kita harus berjuang melawan kemiskinan, kehancuran, dan berbagai hal negatif yang ada di lingkungan kita,” ujar Niki Utami.

    Ia mengajak seluruh warga menjadikan semangat kemerdekaan sebagai motivasi untuk bersama-sama membangun kehidupan masyarakat yang aman, makmur, tenteram, dan harmonis. Semangat perjuangan, menurutnya, dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan, saling membantu, serta menjaga hubungan baik antar warga.

    Niki juga berharap malam tirakatan menjadi momentum mempererat persaudaraan masyarakat Dusun Gunungan, terutama melalui kebersamaan di tingkat RT. Para ketua RT dan seluruh warga diharapkan terus membangun komunikasi serta menjaga kerukunan dalam kehidupan bermasyarakat.

    “Mudah-mudahan dengan kegiatan seperti ini persaudaraan kita semakin bertambah dan warga dari masing-masing RT semakin rukun,” katanya.

    Selain menyampaikan pesan kebangsaan, Niki Utami memberikan apresiasi kepada seluruh warga yang telah mendukung pelaksanaan malam tirakatan. Dukungan tersebut diberikan dalam berbagai bentuk, mulai dari dana, tenaga, hingga pemikiran.

    Menurut Niki, partisipasi masyarakat menjadi salah satu kunci sehingga kegiatan dapat terlaksana dengan lancar. Ia berharap semangat kebersamaan dan gotong royong tidak berhenti pada peringatan HUT Kemerdekaan, tetapi terus tumbuh dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.

    Malam tirakatan tersebut menjadi ruang refleksi bagi warga Dusun Gunungan untuk mengenang jasa para pahlawan sekaligus memperkuat komitmen bersama dalam mengisi kemerdekaan. Kebersamaan, kerukunan, komunikasi, dan gotong royong menjadi modal penting dalam membangun kehidupan masyarakat yang semakin sejahtera. (Sofyan)


    Baca juga: KJNI Surakarta Bentangkan Bendera Merah Putih dan Teladani Semangat Perjuangan Slamet Riyadi

    Kegiatan Renungan dan Ulang Janji.


    Menyalakan Semangat, Menguatkan Pengabdian, Kwarran Eromoko Gelar Rangkaian HUT Pramuka ke-65

    Wonogiri – majalahlarise.com – Gerakan Pramuka Kwartir Ranting (Kwarran) Eromoko, Kabupaten Wonogiri, menggelar rangkaian kegiatan memperingati Hari Pramuka ke-65 Tahun 2026 selama tiga hari, 13–15 Agustus 2026. Mengusung semangat “Menyalakan Semangat, Menguatkan Pengabdian”, kegiatan dikemas melalui Renungan dan Ulang Janji, sarasehan, upacara peringatan Hari Pramuka, hingga Giat Pramuka Peduli.

    Rangkaian kegiatan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi dirancang sebagai momentum memperkuat komitmen terhadap Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka sekaligus meningkatkan soliditas seluruh unsur Gerakan Pramuka di Kecamatan Eromoko.

    Kegiatan diawali Renungan dan Ulang Janji pada Kamis (13/8/2026) malam di halaman Kantor Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan (Korwilcam Bidik) Eromoko. Sebanyak 130 pembina Pramuka mengikuti prosesi yang berlangsung khidmat mulai pukul 20.00 WIB.

    Kegiatan sarasehan.


    Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Pembimbing Ranting (Ka Mabiran) Eromoko Nurochmadi, S.IP., jajaran Mabiran dari Korwilcam Bidik, Polsek, dan Koramil, pengurus serta Andalan Kwarran, Dewan Kerja Ranting, Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Ka Mabigus), serta pembina putra dan putri dari pangkalan se-Kecamatan Eromoko. Ketua Kwarran periode sebelumnya, Parwanto, S.Pd., M.Pd., juga hadir sebagai Dewan Kehormatan.

    Dalam suasana diterangi cahaya lilin dan senter, peserta mengikrarkan kembali Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka. Prosesi tersebut menjadi ruang refleksi untuk mengingat kembali tanggung jawab, nilai moral, serta semangat pengabdian yang melekat pada setiap anggota Gerakan Pramuka.

    Ka Mabiran Eromoko, Nurochmadi, S.IP., mengingatkan agar Dasa Darma tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Nilai-nilai dalam Dasa Darma harus diamalkan. Sebagai contoh, Dasa Darma yang pertama, yaitu Takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berarti kita harus berpegang teguh pada iman kepada Tuhan. Kemudian yang kesepuluh, Suci dalam pikiran, perkataan, dan perbuatan, berarti kita harus ikhlas. Jika bekerja kita anggap sebagai ibadah, insyaallah akan mudah dan berkah,” jelas Nurochmadi.

    Setelah Renungan dan Ulang Janji, kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan di Aula Sanggar Pramuka Kwarran Eromoko. Sarasehan menjadi ruang bertukar pengalaman, gagasan, evaluasi, sekaligus mempererat silaturahmi antar unsur Gerakan Pramuka.

    Ketua Kwarran Eromoko, Dede Yunianto Basuki, M.Pd., menyampaikan sarasehan memiliki peran penting dalam menyatukan langkah seluruh jajaran kepramukaan.

    “Sarasehan ini bukan sekadar acara untuk duduk bersama, tetapi menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, mengenang perjalanan, menyampaikan gagasan, mempererat silaturahmi, sekaligus membangun semangat bersama untuk memajukan Gerakan Pramuka dan juga pendidikan di Eromoko,” ujar Dede.

    Suasana sarasehan semakin hangat dengan penyampaian pengalaman dan masukan dari Ketua Kwarran periode sebelumnya. Kegiatan kemudian ditutup dengan pemotongan tumpeng oleh Ka Mabiran yang diserahkan kepada Ka Kwarran sebagai simbol syukur, kebersamaan, kesinambungan, dan regenerasi kepemimpinan Gerakan Pramuka Eromoko.

    Upacara HUT Pramuka Diikuti Lebih dari 500 Peserta

    Puncak peringatan Hari Pramuka ke-65 tingkat Kwarran Eromoko dilaksanakan Jumat (14/8/2026) di halaman SMP Negeri 1 Eromoko. Upacara diikuti lebih dari 500 anggota Gerakan Pramuka yang berasal dari berbagai pangkalan se-Kecamatan Eromoko.

    Camat Eromoko selaku Ka Mabiran bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan sambutan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. 


    Peserta terdiri atas unsur Mabiran, Muspika, Korwilcambidik, pengurus dan Andalan Kwarran, Ka Mabigus, pembina Gugus Depan, serta Pramuka Siaga dan Penggalang.

    Camat Eromoko selaku Ka Mabiran bertindak sebagai pembina upacara dan membacakan sambutan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno. Dalam amanat tersebut, Gerakan Pramuka didorong terus memperkuat karakter, kedisiplinan, kepemimpinan, dan kepedulian sosial melalui pengamalan Tri Satya dan Dasa Darma.

    Peringatan Hari Pramuka ke-65 juga menjadi momentum memperkuat kontribusi Gerakan Pramuka dalam mendukung swasembada pangan serta pembangunan sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.

    Sementara itu, Korwilcam Bidik Eromoko, Asih Subekti, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasi terhadap semangat para pembina dan jajaran Gerakan Pramuka di tengah padatnya aktivitas.

    “Di tengah gempuran tugas dan kegiatan yang luar biasa di minggu-minggu ini, Kakak-kakak semua tetap semangat dan berhasil menyelesaikannya dengan baik, sesuai dengan jargon kita, ‘Eromoko!!! Pasti Bisa!!!’,” ungkap Asih.

    Tutup Rangkaian dengan Pramuka Peduli

    Semangat pengabdian kemudian diwujudkan melalui Giat Pramuka Peduli pada Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini diikuti Ka Mabigus beserta perwakilan pembina putra dan putri dari setiap pangkalan se-Kecamatan Eromoko.

    Penyaluran bantuan air bersih.

    Aksi kepedulian diwujudkan melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan di kawasan Terminal dan Pasar Eromoko serta penyaluran bantuan air bersih bagi masyarakat di wilayah yang mulai mengalami krisis air bersih, di antaranya Desa Tempurharjo dan Desa Basuhan.

    Kegiatan tersebut menunjukkan implementasi nilai gotong royong dan kepedulian sosial dalam Gerakan Pramuka. Semangat Hari Pramuka tidak berhenti di lapangan upacara, tetapi diterjemahkan menjadi aksi yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

    Melalui seluruh rangkaian kegiatan, Kwarran Eromoko berharap semakin kuat sinergi antara Mabiran, Muspika, Korwilcambidik, Kwarran, Mabigus, pembina Gugus Depan, serta seluruh anggota Gerakan Pramuka.


    Rangkaian HUT Pramuka ke-65 Kwarran Eromoko sekaligus menjadi perjalanan reflektif: dimulai dari meneguhkan janji, memperkuat kebersamaan, menggelorakan semangat melalui upacara, dan ditutup dengan aksi nyata kepedulian kepada masyarakat.

    Dengan semangat “Menyalakan Semangat, Menguatkan Pengabdian”, Gerakan Pramuka Kwarran Eromoko berkomitmen terus memperkuat pembinaan generasi muda agar berkarakter, mandiri, disiplin, bertanggung jawab, peduli terhadap lingkungan, serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa. (Sofyan)


    Baca juga: KJNI Surakarta Bentangkan Bendera Merah Putih dan Teladani Semangat Perjuangan Slamet Riyadi

    Penyerahan Desain Jembatan oleh Ibu Rida kepada Bapak Kamto.


    Penerapan Jembatan Bambu Modular Univet Bantara Dongkrak Akses Petani Desa Purwosari

    Wonogiri – majalahlarise.com – Hilirisasi hasil pertanian tidak hanya berkaitan dengan pengolahan produk, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang mampu memperlancar jalur logistik dari lahan produksi menuju pasar. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menerapkan teknologi Jembatan Bambu Modular Berbasis Rangka Batang Cremona bagi Kelompok Tani Timun Mas di Desa Purwosari, Kabupaten Wonogiri.

    Program tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menghadirkan teknologi tepat guna yang dapat menyelesaikan persoalan aksesibilitas masyarakat sekaligus mendukung peningkatan produktivitas dan perekonomian petani.

    Kegiatan ini memperoleh pendanaan penuh dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026 melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.

    Tim ahli Univet Bantara diketuai Rida Handiana Devi, S.S.T., M.Sc., M.T., dosen Teknik Sipil, bersama anggota Ir. Iwan Ristanto, S.T., M.T., dan Rahmatul Ahya, S.T., M.M. Program tersebut juga melibatkan mahasiswa dalam berbagai tahapan kegiatan.

    Atasi Kendala Akses Lahan Pertanian

    Desa Purwosari merupakan wilayah agraris dengan kondisi topografi bergelombang yang didominasi lahan pertanian kering dan tadah hujan. Kelompok Tani Timun Mas menjadi salah satu kelompok masyarakat yang aktif mengembangkan komoditas hortikultura.

    .

    Lokasi penelitian untuk proyek jembatan di Desa Purwosari, Wonogiri.


    Aktivitas pengukuran lapangan oleh Bapak Edi Priyanto, S.T.


    Namun, aktivitas petani selama ini menghadapi persoalan akses transportasi, terutama ketika musim hujan. Sejumlah lahan produksi terpisah oleh alur sungai dan saluran irigasi sehingga menyulitkan mobilitas petani maupun pengangkutan hasil panen.

    Sebelum jembatan dibangun, petani harus menggunakan titian bambu darurat yang licin atau mengambil jalur alternatif dengan jarak lebih jauh. Kondisi tersebut berdampak terhadap biaya angkut, waktu distribusi, hingga kualitas komoditas pertanian.

    “Hadirnya jembatan modular ini dirancang secara khusus untuk memotong rantai logistik yang panjang tersebut, menurunkan biaya angkut, sekaligus menjamin keselamatan petani saat beraktivitas di sawah,” jelas Rida Handiana Devi.

    Menurutnya, persoalan infrastruktur sederhana di tingkat desa dapat memberikan dampak cukup besar terhadap efisiensi kegiatan pertanian. Karena itu, teknologi yang diterapkan tidak hanya mempertimbangkan kekuatan struktur, tetapi juga kemudahan pembangunan dan pemeliharaan oleh masyarakat.

    Manfaatkan Material Lokal

    Jembatan yang dikembangkan memiliki panjang total 13 meter dengan bentang rangka utama 8 meter. Lebar dek lintasan mencapai 1,8 meter, sedangkan tinggi lengkung puncak sekitar 2 meter.

    Material utama memanfaatkan potensi lokal berupa bambu petung atau bambu ori pilihan yang sebelumnya melalui proses pengawetan atau preservasi. Pemanfaatan material lokal menjadi bagian penting dalam konsep teknologi tepat guna yang dikembangkan tim Univet Bantara.

    Inovasi lainnya terdapat pada sistem sambungan. Jembatan menggunakan pelat baja ringan dengan ketebalan 6 milimeter serta baut-mur mekanis tipe knock-down.

    Sistem tersebut membuat komponen jembatan dapat dirakit, dibongkar, maupun diganti secara modular. Dengan demikian, masyarakat tidak bergantung pada alat berat ketika melakukan perawatan atau penggantian bagian tertentu.

    Rangka Cremona Tingkatkan Efisiensi Struktur

    Dari sisi rekayasa struktur, jembatan menggunakan konfigurasi rangka batang Cremona berbentuk lengkung atau arch-truss. Sistem tersebut dirancang untuk mendistribusikan beban melalui gaya aksial tarik dan tekan pada elemen rangka.

    Idealisasi geometri rangka batang Cremona, bentang 8 m


    Berdasarkan simulasi awal dengan beban sebesar 5,5 kPa, lendutan maksimum di tengah bentang tercatat sekitar 10,64 milimeter. Hasil tersebut menunjukkan performa struktur yang dirancang untuk mendukung aktivitas mobilitas masyarakat, termasuk pejalan kaki, sepeda motor, serta gerobak pengangkut hasil pertanian.

    Penerapan teknologi ini juga tidak berhenti pada pembangunan fisik. Tim PPM Univet Bantara melakukan pengukuran lapangan, penyusunan desain, persiapan material, hingga pendampingan dalam proses penerapan teknologi.

    Keterlibatan warga menjadi bagian penting karena jembatan dirancang dengan prinsip mudah dirakit dan dirawat. Model tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur.

    Hilirisasi Riset untuk Masyarakat

    Keberhasilan penerapan Jembatan Bambu Modular di Desa Purwosari menunjukkan potensi hilirisasi hasil riset perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.

    Persiapan material; pasir, kerikil, semen dan tulangan untuk membuat jembatan.


    Teknologi yang lahir dari lingkungan akademik tidak berhenti pada konsep atau hasil penelitian, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk memperbaiki akses produksi, memperlancar distribusi, dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.

    Bagi Kelompok Tani Timun Mas, keberadaan jembatan diharapkan mampu memangkas waktu dan jarak tempuh pengangkutan hasil pertanian. Akses yang lebih baik juga membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan efisiensi kegiatan produksi dan distribusi.

    Sinergi antara dosen, mahasiswa, kelompok tani, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program tersebut. Semangat gotong royong dipadukan dengan pendekatan rekayasa teknik sipil menghasilkan infrastruktur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan sumber daya lokal.

    Program ini sekaligus menjadi contoh bagaimana teknologi tepat guna dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah. Konsep jembatan modular berbahan bambu tersebut diharapkan dapat direplikasi di wilayah agraris lain yang memiliki persoalan serupa, sehingga hasil riset perguruan tinggi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. (Sofyan)



    Sokong Makan Bergizi Gratis, UMKM Tempe Wonogiri Modernisasi Produksi Pakai Mesin Pengupas Kedelai

    WONOGIRI – majalahlarise.com – Upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai dilakukan dari tingkat pelaku usaha mikro. UMKM Tempe Cap “Melati” di Desa Purwosari, Kecamatan Wonogiri, melakukan modernisasi proses produksi melalui penerapan mesin pengupas kedelai untuk meningkatkan kapasitas, efisiensi, dan kesinambungan pasokan tempe sebagai sumber protein nabati.

    Modernisasi tersebut merupakan bagian dari penerapan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang dilakukan tim dosen Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara), terdiri atas Ir. Mathilda Sri Lestari, ST, M.Sc, Dr. Ir. Darsini, ST, M.Si, dan Nur Ani, S.KM, M.K.K.K. Program ini mendapat dukungan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia.

    UMKM Tempe Cap “Melati” memiliki peran strategis sebagai pemasok tempe untuk kebutuhan MBG di wilayah Pondok Pesantren Al Huda Wonogiri. Meningkatnya kebutuhan pasokan setiap pekan membuat pelaku usaha harus mampu menjaga volume produksi sekaligus mempertahankan kualitas dan ketepatan waktu pengiriman.

    Mesin pengupas kedelai.


    Penerapan mesin pengupas kedelai untuk meningkatkan kapasitas, efisiensi, dan kesinambungan pasokan tempe.


    Tempe dipilih sebagai salah satu sumber protein nabati yang penting untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi. Karena itu, keberadaan produsen tempe lokal tidak hanya berkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari rantai pasok pangan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi peserta didik.

    Sebelum mendapatkan intervensi teknologi, proses produksi UMKM Tempe Cap “Melati” masih mengandalkan peralatan sederhana. Salah satu pekerjaan yang membutuhkan tenaga dan waktu cukup besar adalah proses pelepasan kulit kedelai setelah perebusan.

    Pekerja harus melakukan pengupasan secara manual menggunakan alat nonmesin. Proses tersebut membuat produktivitas terbatas karena sangat bergantung pada tenaga fisik pekerja. Ketika permintaan meningkat, kondisi ini berpotensi menjadi kendala dalam memenuhi kebutuhan produksi.

    “Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah proses pengupasan kulit kedelai yang masih dilakukan secara manual. Penerapan mesin diharapkan mampu membantu meningkatkan kapasitas produksi sekaligus mengurangi beban kerja operator,” jelas Ir. Mathilda Sri Lestari, ST, M.Sc, salah satu anggota tim dosen Univet Bantara.

    Alat non mesin untuk mengelupas kulit kedelai yang saat ini digunakan oleh mitra.


    Penerapan mesin pengupas kedelai kemudian diuji untuk mengetahui tingkat efektivitasnya dibandingkan metode manual. Hasil pengujian menunjukkan peningkatan kinerja yang cukup signifikan.

    Untuk memproses 2,5 kilogram kedelai, mesin hanya membutuhkan waktu sekitar 54,22 detik, sedangkan metode manual memerlukan waktu 96,66 detik. Artinya, penggunaan mesin mampu menghemat waktu proses sekitar 43,92 persen.

    Dari sisi kapasitas, produksi yang sebelumnya mencapai sekitar 93,10 kilogram per jam dengan metode manual meningkat menjadi 166 kilogram per jam setelah menggunakan mesin. Produktivitas kerja juga meningkat sekitar 78,71 persen, menjadi 2,77 kilogram per menit.

    Efisiensi juga terlihat pada proses pembilasan kulit ari kedelai yang dapat dilakukan dengan waktu sekitar 2,65 menit per kilogram. Capaian tersebut menunjukkan teknologi tepat guna dapat menjadi solusi konkret bagi UMKM dalam menghadapi peningkatan permintaan produksi.

    Dr. Ir. Darsini, ST, M.Si menjelaskan penerapan teknologi tidak semata-mata ditujukan untuk menggantikan tenaga manusia, tetapi membantu pelaku UMKM meningkatkan kemampuan produksi.

    “Teknologi tepat guna harus mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Dalam konteks UMKM Tempe Cap ‘Melati’, teknologi digunakan untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi waktu, dan kemampuan memenuhi permintaan pasar yang semakin besar,” ujarnya.

    Modernisasi ini sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pelaku UMKM. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui pengembangan serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi lapangan, sedangkan UMKM menjadi mitra dalam proses hilirisasi inovasi agar manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

    Bagi UMKM Tempe Cap “Melati”, penggunaan mesin pengupas kedelai menjadi tahapan penting untuk meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengabaikan kualitas produk. Efisiensi pada tahap pengupasan diharapkan membuat keseluruhan alur produksi lebih terukur sehingga kebutuhan pasokan tempe untuk program MBG dapat dipenuhi secara lebih konsisten.

    Nur Ani, S.KM, M.K.K.K menambahkan peningkatan kapasitas produksi perlu berjalan seiring dengan perhatian terhadap kebersihan dan mutu pangan.

    “Peningkatan produksi harus tetap diikuti penerapan proses kerja yang higienis. Dengan produksi yang lebih efektif dan pengelolaan yang baik, UMKM memiliki peluang lebih besar untuk menjaga kualitas produk sekaligus memenuhi kebutuhan pangan bergizi,” jelasnya.

    Penerapan mesin tersebut menjadi contoh kecil dari upaya memperkuat rantai pasok pangan berbasis masyarakat. Dari sebuah UMKM di Desa Purwosari, inovasi teknologi diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang lebih luas, yakni memastikan ketersediaan pangan sumber protein bagi masyarakat, termasuk mendukung pelaksanaan MBG.

    Ke depan, sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku UMKM diharapkan terus dikembangkan. Tidak hanya melalui bantuan peralatan, tetapi juga pendampingan pengoperasian, pemeliharaan mesin, peningkatan standar produksi, penguatan manajemen usaha, hingga pengembangan pasar.

    Dengan modernisasi produksi tersebut, UMKM Tempe Cap “Melati” tidak sekadar meningkatkan kemampuan usahanya. Langkah ini menjadi bagian dari gerakan memperkuat UMKM pangan lokal agar semakin produktif, adaptif terhadap kebutuhan pasar, dan mampu mengambil peran dalam menyediakan pangan bergizi bagi generasi muda. (Sofyan)


    MU Orsen-V secara resmi dibuka Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Ust. Pujiono, S.Pd., S.Si., M.M.


    MU Orsen-V Dibuka, Wujudkan Panca Daya Santri PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi

    BOYOLALI - majalahlarise.com - Semangat sportivitas, kebersamaan, dan pembentukan karakter santri mewarnai pembukaan MU Orsen-V (Olahraga dan Seni) Pondok Pesantren Muhammadiyah Manafi’ul ‘Ulum Sambi di Aula SMA Muhammadiyah Manafi’ul ‘Ulum, Jumat (14/8/2026). Kegiatan ini menjadi ruang bagi santri untuk mengembangkan potensi sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Panca Karsa menuju Panca Daya Santri.

    MU Orsen-V secara resmi dibuka Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Ust. Pujiono, S.Pd., S.Si., M.M. Dalam sambutannya, ia mengingatkan santri agar tidak memaknai kegiatan tersebut sebatas kompetisi untuk menentukan pemenang dan pecundang.

    “MU Orsen adalah ruang untuk belajar menjadi manusia yang sportif, disiplin, percaya diri, bertanggung jawab, dan mampu menghargai orang lain,” pesan Pujiono di hadapan para santri.

    Menurutnya, perbedaan tim maupun strategi dalam pertandingan tidak boleh menghilangkan semangat persaudaraan. Santri harus mampu bertanding secara sungguh-sungguh, menerima hasil pertandingan dengan lapang dada, serta tetap menjaga ukhuwah.

    “Boleh berbeda tim, tetapi kita tetap satu pondok. Boleh berbeda strategi, tetapi kita tetap bersaudara. Boleh mengejar kemenangan, tetapi persaudaraan harus tetap menjadi pemenang,” tegasnya.

    MU Orsen-V menjadi bagian dari strategi pendidikan PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi dalam mengoptimalkan Panca Karsa sebagai fondasi pembentukan Panca Daya Santri.

    Panca Karsa tersebut meliputi Keimanan, Keislaman, Keilmuan, Kebahasaan, dan Keterampilan. Kelima aspek tersebut diarahkan tidak hanya menjadi konsep dalam pendidikan pesantren, tetapi berkembang menjadi kekuatan yang melekat dalam diri setiap santri.

    Keimanan dan keislaman menjadi fondasi spiritual dan akhlak. Keilmuan membangun budaya belajar serta kemampuan berpikir. Kebahasaan membekali santri dengan kemampuan komunikasi, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. Sementara keterampilan diarahkan untuk membangun kreativitas, kemandirian, kepemimpinan, serta kesiapan menghadapi kehidupan.

    “Panca Karsa ini kita optimalkan menjadi Panca Daya Santri. Harapannya, seluruh proses pendidikan di PonpesMU tidak hanya menghasilkan santri yang memahami ilmu agama, tetapi juga memiliki daya iman, daya ilmu, daya bahasa, daya keterampilan, dan daya kepemimpinan,” jelas Pujiono.

    Muara pendidikan tersebut diwujudkan melalui Profil Tri Karya Output Santri, yakni Siap Kuliah, Siap Kerja, dan Siap Dakwah. Dengan konsep tersebut, santri diharapkan memiliki kesiapan melanjutkan pendidikan tinggi, memasuki dunia kerja, sekaligus membawa bekal keislaman untuk berkontribusi dan berdakwah di tengah masyarakat.

    Pujiono menyebut olahraga dan seni dapat menjadi laboratorium kehidupan bagi santri. Dalam pertandingan maupun perlombaan, santri belajar mengikuti aturan, membangun kerja sama, menyusun strategi, menghadapi kemenangan dan kekalahan, serta melakukan evaluasi.

    “Kelak kalian akan meninggalkan pondok ini. Mungkin tidak semua akan menjadi atlet. Tetapi semoga kalian menjadi manusia yang sehat, tangguh, disiplin, sportif, bertanggung jawab, dan siap menjadi pemimpin di tengah masyarakat,” ujarnya.

    Ia juga mengingatkan seluruh peserta untuk menjaga nama baik pesantren dengan menghindari keributan, saling mengejek, kecurangan, maupun permusuhan selama kegiatan berlangsung.

    Sementara itu, Ketua Panitia MU Orsen-V, Habib Umar, bersama jajaran panitia telah mempersiapkan berbagai cabang kegiatan sebagai wadah pengembangan potensi santri. Tidak hanya olahraga, MU Orsen-V juga menghadirkan sejumlah ajang seni dan keagamaan, seperti pidato, tahfiz, memanah, dan berbagai perlombaan lainnya.

    Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga terlihat dari jajaran pimpinan satuan pendidikan. Kepala SMP Muhammadiyah Manafi’ul ‘Ulum Ahmad Yasin, S.Th.I., M.P.I., dan Kepala SMA Muhammadiyah Manafi’ul ‘Ulum Ari Rosmawati, S.Pd., turut mendampingi Mudir dalam pembukaan MU Orsen-V.

    Organisasi pelajar di lingkungan pesantren juga mengambil peran dalam pelaksanaan kegiatan. PRM IPM turut mendukung penyelenggaraan kegiatan dengan Ikbal Nabawi sebagai ketua.

    Pembukaan MU Orsen-V menjadi momentum untuk meneguhkan komitmen PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi dalam membangun santri yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat dalam iman, berakhlak, memiliki keterampilan, mampu berbahasa, sportif, mandiri, serta memiliki jiwa kepemimpinan.

    Dari Panca Karsa menuju Panca Daya, dari Panca Daya menuju Tri Karya: Santri PonpesMU, Siap Kuliah, Siap Kerja, Siap Dakwah. (Sofyan)


    Baca juga: SMPN 4 Polokarto Gelar Karnaval Kreativitas Peduli Lingkungan dari Limbah Plastik

    Para peserta tampil mengenakan beragam kostum kreatif hasil pemanfaatan limbah plastik.


    SMPN 4 Polokarto Gelar Karnaval Kreativitas Peduli Lingkungan dari Limbah Plastik

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, SMP Negeri 4 Polokarto menggelar Karnaval Kreativitas Peduli Lingkungan dengan memanfaatkan limbah plastik sebagai bahan utama kostum, Jumat (15/8/2026).

    Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 siswa SMP Negeri 4 Polokarto. Para peserta tampil mengenakan beragam kostum kreatif hasil pemanfaatan limbah plastik, kemudian berjalan keliling wilayah Bakaran dan sekitarnya.

    Karnaval tidak sekadar menjadi kegiatan untuk memeriahkan momentum kemerdekaan, tetapi juga menjadi sarana edukasi lingkungan sekaligus ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas. Pemanfaatan limbah plastik diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran siswa mengenai pentingnya mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah.

    Kepala SMP Negeri 4 Polokarto, Sugeng Yuli Irianto, S.Pd., menjelaskan kegiatan tersebut dirancang untuk mengajak siswa memiliki kepedulian terhadap lingkungan melalui cara yang kreatif dan menyenangkan.

    “Kegiatan karnaval dengan mengenakan kostum dari limbah plastik ini bertujuan untuk mengurangi dan mendaur ulang limbah, menggali kreativitas anak, sekaligus mengajak mereka ikut peduli terhadap lingkungan,” jelas Sugeng.

    Menurutnya, keterlibatan ratusan siswa dalam kegiatan tersebut menjadi momentum untuk menanamkan nilai-nilai positif sejak di lingkungan sekolah. Siswa tidak hanya diajak memahami persoalan sampah secara teori, tetapi juga mempraktikkannya melalui karya dan kegiatan nyata.

    Berbagai kostum berbahan limbah plastik yang dikenakan siswa menunjukkan kreativitas dalam mengolah material yang selama ini dianggap sebagai sampah menjadi sesuatu yang memiliki nilai estetika. Kegiatan tersebut sekaligus memperkuat pesan kemerdekaan melalui semangat berkarya, kebersamaan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

    Waka Kesiswaan SMP Negeri 4 Polokarto sekaligus panitia kegiatan, Dwi Setia Yuliawan, S.Pd., menyampaikan kegiatan karnaval menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di lingkungan sekolah.

    Karnaval berlangsung meriah ketika para siswa berjalan bersama menyusuri wilayah Bakaran dan sekitarnya. Kehadiran peserta dengan kostum unik dari limbah plastik menarik perhatian masyarakat sekaligus menyampaikan pesan penting mengenai perlunya menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.

    Melalui kegiatan tersebut, SMP Negeri 4 Polokarto berharap semangat kemerdekaan dapat diwujudkan tidak hanya melalui perayaan, tetapi juga melalui tindakan nyata generasi muda dalam berkreativitas dan menjaga lingkungan. (Sofyan)


    Baca juga: KJNI Surakarta Bentangkan Bendera Merah Putih dan Teladani Semangat Perjuangan Slamet Riyadi

    Siswa saat mengikuti lomba student smart.

    Gelorakan Kemerdekaan, 479 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Ikuti Lomba Edukatif hingga Life Skill

    Solo - majalahlarise.com - Semangat menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia mulai terasa di SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo. Sebanyak 479 murid mengikuti semarak lomba kemerdekaan di lingkungan sekolah, Jumat (14/8/2026).

    Mengusung tema “Anak Indonesia Hebat, Sehat, dan Berprestasi”, kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi ajang kompetisi antarmurid. Beragam perlombaan dirancang sebagai sarana edukasi untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, karakter, kebugaran, serta semangat nasionalisme murid.

    Sejak pukul 07.30 WIB, murid kelas I hingga VI tampak antusias mengikuti berbagai perlombaan yang digelar di halaman dan ruang-ruang kelas. Suasana sekolah semakin semarak dengan dekorasi bernuansa merah putih, diiringi tepuk tangan, sorak penyemangat, dan keceriaan para murid.

    Ketua panitia penyelenggara, Ayu Retnoningsih Rahayu Sunarsih, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menghadirkan hiburan yang edukatif sekaligus menanamkan nilai-nilai perjuangan dan kebersamaan kepada murid.

    “Selain menjadi sarana hiburan yang edukatif, kegiatan ini bertujuan memupuk gotong royong, menumbuhkan semangat nasionalisme, serta mengenang perjuangan para pahlawan. Tiga belas lomba yang dihadirkan sangat bervariasi untuk mengasah berbagai aspek kecerdasan anak, mulai dari seni, keagamaan, hingga ketangkasan fisik,” jelasnya.

    Sebanyak 13 cabang lomba dikelompokkan ke dalam empat kategori, yakni seni dan kreativitas, keagamaan, ketangkasan fisik, serta keterampilan hidup atau life skill.

    Pada kategori seni dan kreativitas, murid menuangkan imajinasi dan bakat melalui lomba mewarnai, menggambar, menyanyi, membaca puisi, mendongeng, serta menghias kelas. Khusus lomba menghias kelas, seluruh murid dilibatkan untuk membangun kerja sama dan kekompakan dalam menciptakan lingkungan kelas yang menarik.

    Sementara itu, kategori keagamaan diisi dengan lomba hafalan doa sehari-hari dan hafalan Juz Amma. Melalui kegiatan tersebut, semangat perayaan kemerdekaan dipadukan dengan penguatan karakter religius dan pembiasaan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

    Keseruan juga terlihat pada kategori ketangkasan fisik dan life skill. Murid mengikuti lomba estafet karet, student smart, dan Senam Anak Indonesia Hebat. Sementara untuk melatih kemandirian dan keterampilan sehari-hari, panitia menghadirkan lomba melipat baju dan menyetrika baju.

    Lomba life skill tersebut menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian karena murid ditantang menyelesaikan aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka dituntut teliti, rapi, mandiri, dan berhati-hati dalam menyelesaikan setiap tahapan.

    Salah satu murid kelas III, Naura Rania Muchtar, mengaku senang mendapat kesempatan mengikuti lomba melipat baju.

    “Awalnya aku merasa gugup karena harus praktik mengancingkan seragam di hadapan peserta yang lain. Tapi aku langsung teringat pesan Mama untuk tidak terburu-buru saat mengaitkan kancing ke dalam lubang baju,” ujarnya.

    Untuk memastikan kompetisi berlangsung sesuai tahap perkembangan murid, sistem penilaian dibedakan berdasarkan jenjang kelas. Kategori kelas bawah mencakup kelas I–III, sedangkan kategori kelas atas mencakup kelas IV–VI.

    Panitia menyiapkan tiga bingkisan dan piagam penghargaan bagi para juara pada masing-masing kategori di setiap cabang perlombaan. Skema tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman berkompetisi sekaligus apresiasi atas keberanian, kreativitas, dan usaha murid.

    Rangkaian perayaan HUT ke-81 RI di SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo selanjutnya akan ditutup pada Senin (17/8/2026) melalui upacara bendera peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan dilanjutkan dengan pengumuman para pemenang lomba semarak kemerdekaan.

    Melalui rangkaian kegiatan tersebut, semangat kemerdekaan tidak hanya dirayakan melalui perlombaan, tetapi juga dihidupkan melalui pengalaman belajar yang menyenangkan. Murid diajak memahami bahwa menjadi anak Indonesia yang hebat berarti berani berkarya, mampu bekerja sama, mandiri, sehat, serta memiliki semangat untuk terus berprestasi. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga Sukoroyom Kulon Giritontro Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat


Top