GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
YPT Slamet Riyadi Siapkan Investasi Rp1,8 Miliar, Prodi Informatika UNISRI Hadirkan Laboratorium AI dan Cybersecurity Bertaraf Industri
Surakarta - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang selaras dengan kebutuhan industri digital. Melalui dukungan Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) Slamet Riyadi, disiapkan investasi sebesar Rp1,8 miliar untuk pengembangan laboratorium Program Studi Informatika yang mulai menerima mahasiswa baru pada Tahun Akademik 2026/2027.
Investasi tersebut menjadi langkah strategis dalam membangun ekosistem pembelajaran modern guna mencetak lulusan yang siap kerja, inovatif, dan mampu bersaing di tengah pesatnya transformasi teknologi. Pengembangan laboratorium dilakukan secara bertahap dengan menghadirkan fasilitas bertaraf industri yang mendukung pembelajaran, penelitian, sertifikasi kompetensi, hingga pengembangan inovasi mahasiswa.
Program Studi Informatika UNISRI menawarkan sejumlah bidang unggulan, antara lain Artificial Intelligence (AI), Software Engineering, Data Science, Cybersecurity, Cloud Computing, Internet of Things (IoT), serta pengembangan teknologi digital. Seluruh bidang tersebut didukung laboratorium modern yang dilengkapi komputer berperforma tinggi, server, perangkat jaringan, firewall, perangkat IoT, dan berbagai perangkat lunak yang digunakan di dunia industri.
Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UNISRI, Prof. Dr. Nanik Suhartatik, S.T.P., M.P., menjelaskan investasi tersebut merupakan wujud nyata komitmen YPT Slamet Riyadi dalam menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi.
![]() |
| Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UNISRI, Prof. Dr. Nanik Suhartatik, S.T.P., M.P. |
"Kami ingin menghadirkan Program Studi Informatika yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghasilkan lulusan yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan industri. Dukungan Yayasan melalui pengembangan laboratorium modern ini menjadi modal penting untuk melahirkan talenta digital yang profesional, inovatif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional," ujarnya.
Menurut Prof. Nanik, laboratorium tersebut tidak hanya dimanfaatkan sebagai sarana praktikum, tetapi juga dikembangkan menjadi pusat riset, pengembangan inovasi, sertifikasi kompetensi, inkubasi startup mahasiswa, serta ruang kolaborasi dengan dunia usaha, dunia industri, dan berbagai mitra strategis.
Sementara itu, Ketua Program Studi Informatika UNISRI, Moenawar Kholil, S.Kom., M.Kom., menjelaskan seluruh desain laboratorium dirancang mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan dunia kerja sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan standar industri.
"Kami ingin mahasiswa belajar menggunakan teknologi yang benar-benar digunakan di industri. Sejak semester awal, mahasiswa akan dibiasakan mengembangkan perangkat lunak, membangun sistem berbasis AI, mengelola data, mengembangkan aplikasi, hingga melakukan praktik keamanan siber pada laboratorium yang representatif. Dengan demikian, lulusan Informatika UNISRI diharapkan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menjadi inovator, technopreneur, maupun pengembang solusi digital bagi masyarakat," jelasnya.
Selain didukung fasilitas modern, Program Studi Informatika UNISRI menerapkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) dan Project-Based Learning (PBL) yang disusun bersama akademisi, praktisi, serta pelaku industri. Mahasiswa akan memperoleh pengalaman belajar melalui praktikum, penelitian, magang industri, proyek nyata, hingga berbagai program pengembangan kompetensi yang mendukung kesiapan memasuki dunia kerja.
Melalui investasi senilai Rp1,8 miliar tersebut, UNISRI menegaskan keseriusannya membangun Program Studi Informatika sebagai salah satu program studi unggulan di Fakultas Sains dan Teknologi. Dengan dukungan dosen yang kompeten, kurikulum yang adaptif, serta laboratorium modern bertaraf industri, Program Studi Informatika UNISRI diharapkan menjadi pilihan generasi muda yang ingin berkarier di bidang Artificial Intelligence, Cybersecurity, Software Engineering, Data Science, Cloud Computing, maupun teknologi digital, sekaligus berkontribusi dalam mempercepat transformasi digital Indonesia. (Sofyan)
Baca juga: AIK dan Konseling: Menjaga Akal, Menguatkan Hati di Era Digital
Pendidikan
![]() |
| Pentas Seni yang digelar SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta di Taman Sunan Jogo Kali, Pucangsawit, Jumat (17/7/2026). |
Pentas Seni di Taman Sunan Jogo Kali Tutup MPLS JELAJAH SIMPON 2026, Siswa Tampil Percaya Diri dan Kreatif
SURAKARTA – majalahlarise.com – Suasana penuh semangat, tawa, dan keceriaan mewarnai Pentas Seni yang digelar SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta di Taman Sunan Jogo Kali, Pucangsawit, Jumat (17/7/2026). Kegiatan yang diikuti 268 siswa baru kelas VII ini menjadi puncak rangkaian Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) JELAJAH SIMPON 2026 yang telah berlangsung selama lima hari.
Beragam penampilan seni, mulai dari tari, gerak, hingga atraksi yang dipadukan dengan alunan musik dan lagu, ditampilkan oleh setiap kelompok siswa. Pentas seni tersebut menjadi ajang bagi peserta didik baru untuk menunjukkan kreativitas sekaligus mempererat kebersamaan setelah menjalani masa orientasi di lingkungan sekolah.
Salah satu peserta, Fastanabhan Sky Alkhalifi, siswa kelas VII SDC 4, mengaku senang dapat tampil bersama teman-teman sekelasnya.
"Saya senang bisa tampil satu panggung bersama teman-teman. Kegiatan ini membuat kami semakin akrab dan lebih percaya diri. Momen ini menjadi pengalaman yang menyenangkan di awal masuk sekolah," ujarnya.
Pentas seni tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga dirancang sebagai sarana menggali potensi minat dan bakat siswa. Melalui kegiatan ini, peserta didik didorong untuk berani berekspresi, bekerja sama dalam tim, serta membangun rasa percaya diri sejak awal memasuki jenjang pendidikan di SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta.
Wali Kelas VII SDC 4, Fina Dwi Astuti, menjelaskan penampilan kelasnya mengusung tema "Petualang Fantasi SIMPON", yang menggambarkan perjalanan siswa dalam mengenal lingkungan dan menemukan jati diri.
"Tema ini berfokus pada eksplorasi siswa dalam mencari jati diri. Mereka belajar saling mengenal, bersosialisasi, berinteraksi, dan beradaptasi dengan lingkungan baru. Melalui pentas seni, setiap siswa diberi kesempatan untuk mencoba hal-hal baru sekaligus menggali potensi yang dimiliki," jelasnya.
Menurut Fina, konsep fantasi dipilih untuk menggambarkan kebebasan siswa dalam berimajinasi dan berkreasi. Meskipun terinspirasi dari dunia dongeng, seluruh kreativitas tersebut diwujudkan dalam penampilan nyata yang menunjukkan semangat belajar, keberanian, dan kemampuan bekerja sama.
"Pentas seni menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat, melatih kreativitas, serta meningkatkan kepercayaan diri saat tampil di depan umum. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat kerja sama, toleransi, rasa saling menghargai, dan menumbuhkan rasa memiliki antarsesama teman," tambahnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus menjadi ruang bagi siswa untuk mengekspresikan kemampuan, melestarikan seni dan budaya bangsa, sekaligus membangun karakter yang kreatif, percaya diri, dan memiliki jiwa kebersamaan sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari keluarga besar SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta.
Pentas seni tersebut sekaligus menjadi penutup rangkaian MPLS JELAJAH SIMPON 2026 yang tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk karakter peserta didik baru melalui pengalaman belajar yang menyenangkan, kolaboratif, dan penuh makna. (Sofyan)
Baca juga: AIK dan Konseling: Menjaga Akal, Menguatkan Hati di Era Digital
Artikel Pengembangan Profesi
AIK dan Konseling: Menjaga Akal, Menguatkan Hati di Era Digital
Oleh: Anisa Fitriyana
Guru Bimbingan dan Konseling SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo
![]() |
| Anisa Fitriyana |
Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Berbagai informasi kini dapat diakses dengan cepat, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menjadi bagian dari proses pembelajaran. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak dapat diabaikan. Peserta didik semakin rentan mengalami kecanduan media sosial, cyberbullying, tekanan akademik, hingga kesulitan mengelola emosi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus membentuk karakter serta menjaga kesehatan mental peserta didik.
Di sinilah integrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dengan keilmuan Bimbingan dan Konseling menjadi sangat penting. Salah satu pendekatan yang relevan ialah teknik restrukturisasi kognitif, yaitu teknik yang membantu peserta didik mengenali, mengevaluasi, dan mengubah pola pikir negatif menjadi lebih rasional serta konstruktif. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Perubahan cara berpikir akan semakin bermakna apabila dipadukan dengan nilai-nilai AIK. Nilai kesabaran, syukur, tawakal, husnuzan, dan muhasabah menjadi fondasi spiritual yang memperkuat proses perubahan tersebut. Ketika peserta didik belajar memandang setiap persoalan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang disertai keyakinan kepada Allah Swt., mereka tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga memiliki ketahanan psikologis yang lebih kuat.
Integrasi AIK dalam layanan Bimbingan dan Konseling menjadikan proses pendampingan tidak berhenti pada penyelesaian masalah psikologis semata. Lebih dari itu, layanan konseling mampu membentuk pribadi yang beriman, berakhlak mulia, berpikir positif, serta mampu mengambil keputusan secara bijaksana. Pendekatan ini selaras dengan tujuan pendidikan Muhammadiyah yang berupaya melahirkan insan yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh dalam spiritualitas.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan berkemajuan harus mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan teknologi dan kematangan karakter. Artificial Intelligence dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi nilai-nilai AIK mengajarkan cara memanfaatkan kecerdasan tersebut secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan generasi yang cakap menghadapi perkembangan zaman, tetapi juga memiliki integritas, kesehatan mental, serta kepribadian Islami sebagai bekal membangun masa depan bangsa.
Agar implementasinya semakin optimal, sinergi antara guru, guru Bimbingan dan Konseling, orang tua, dan lingkungan sekolah perlu terus diperkuat. Kolaborasi tersebut akan menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan peserta didik. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara cerdas, beretika, dan bertanggung jawab.
Artikel Pengembangan Profesi
Jumat Kreasi: Dari Bakat Menuju Karakter, dari Potensi Menuju Prestasi
Oleh: Ujang Adhitiar
Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 3 Pedan
![]() |
| Ujang Adhitiar |
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus digitalisasi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Keberhasilan peserta didik masih sering diukur berdasarkan capaian akademik, sementara potensi nonakademik belum memperoleh ruang yang seimbang. Paradigma tersebut perlu diubah karena setiap peserta didik memiliki karakteristik, bakat, dan kemampuan yang berbeda. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang memfasilitasi peserta didik untuk mengenali, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi dirinya.
Salah satu contoh implementasi pendidikan yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah Program Jumat Kreasi di SMP Negeri 3 Pedan. Program ini menjadi salah satu wadah, di samping berbagai program pengembangan diri lainnya, bagi peserta didik untuk menampilkan bakat, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki, baik dalam bidang seni, musik, pidato, tari, maupun keterampilan lainnya. Kehadiran program ini membuktikan bahwa sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang humanis, menyenangkan, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara utuh.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, Program Jumat Kreasi sangat relevan dengan teori Person-Centered yang dikemukakan oleh Carl Rogers. Rogers menjelaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya memiliki kecenderungan untuk berkembang menuju pribadi yang lebih baik apabila memperoleh lingkungan yang penuh penerimaan, penghargaan, empati, dan kepercayaan. Lingkungan seperti inilah yang tercermin dalam pelaksanaan Jumat Kreasi. Peserta didik tidak dipaksa menjadi pribadi yang seragam, melainkan diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sesuai minat, bakat, dan potensinya. Ketika memperoleh apresiasi atas usaha dan karya yang ditampilkan, rasa percaya diri, keberanian, tanggung jawab, serta kemampuan mengaktualisasikan diri akan tumbuh secara alami. Inilah esensi layanan Bimbingan dan Konseling, yaitu membantu individu berkembang secara optimal, bukan sekadar menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dalam ajaran Islam, setiap manusia diciptakan dengan potensi dan kelebihan yang berbeda sebagai amanah dari Allah Swt. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh agar memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Muhammadiyah menegaskan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, spiritual, moral, dan sosial sehingga terbentuk insan yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, bakat yang ditampilkan dalam Program Jumat Kreasi tidak hanya menjadi sarana meraih prestasi, tetapi juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah Swt. serta media untuk menghadirkan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi sesama.
![]() |
| Program Jumat Kreasi di SMP Negeri 3 Pedan. |
Program Jumat Kreasi merupakan bukti bahwa pendidikan yang berkualitas tidak semata-mata berorientasi pada nilai rapor, tetapi juga berupaya memanusiakan manusia melalui pengembangan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik. Integrasi nilai-nilai AIK dengan teori Person-Centered dalam layanan Bimbingan dan Konseling menunjukkan bahwa pembentukan karakter, pengembangan bakat, serta peningkatan rasa percaya diri dapat berjalan secara selaras. Program seperti ini layak menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berpusat pada peserta didik, sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, percaya diri, berakhlak Islami, serta siap menghadapi tantangan kehidupan dan perkembangan zaman.
Artikel Pengembangan Profesi
Layanan BK Berbasis Risalah Akhlak Filosofis: Strategi Tepat Membangun Karakter Unggul
Oleh: Dewi Rahmadina, S.Psi
Guru Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 1 Sukoharjo
![]() |
| Dewi Rahmadina, S.Psi |
Remaja saat ini hidup di era digital yang tidak hanya menyajikan berbagai macam kemudahan, namun juga sarat dengan tantangan dalam pembentukan karakter positif. Remaja dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Ruang digital dapat membantu mereka dalam berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Remaja dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses pendidikan maupun pekerjaan.
Namun selain dampak positif, terdapat sisi negatif dari kemudahan akses digital tersebut. Remaja rentan terpapar hal-hal negatif seperti pornografi, agresifitas, bullying, gaya hidup hedonistik, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Sebuah survei dari Pusat Penelitian Kebijakan BRIN pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 75% remaja di Indonesia terpapar konten digital negatif seperti pornografi, hoaks, dan kekerasan cyber setidaknya sekali dalam sebulan. Fenomena seperti pergaulan bebas, perundungan, hilangnya rasa hormat terhadap orang tua maupun guru, berkata kasar, serta mudah tersulut emosi, merupakan bentuk degradasi moral yang memerlukan perhatian serius oleh berbagai pihak. Permasalahan ini jika tidak ditangani dapat menghambat perkembangan remaja yang tentunya akan berdampak pada masa depannya.
Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak generasi yang berkarakter unggul. Bimbingan dan konseling (BK) yang merupakan salah satu elemen dalam sistem pendidikan juga memiliki peran strategis. Salah satu upaya yang dilakukan guru BK dalam membantu siswa yang terjebak dalam perilaku negatif adalah dengan menerapkan teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Teknik ini bertujuan untuk: mengubah pikiran irasional menjadi rasional, membangun perilaku sehat, dan membantu individu menerima diri secara realistis. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) terbukti dapat dimanfaatkan untuk membantu guru BK dalam mereduksi perilaku negatif siswa.
Agar penerapan teknik ini berhasil maksimal, maka guru BK mengintegrasikan dengan nilai-nilai risalah akhlak. Risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dapat dijadikan nilai rujukan dalam membangun karakter siswa. Tujuan dari risalah akhlak filosofis sendiri adalah (1) membentuk manusia berakhlak mulia. (2) mengembangkan kesadaran ihsan. (3) menjadikan manusia mampu mencapai kebahagiaan hakiki. (4) menjadi pedoman moral yang relevan lintas zaman. Hal ini berkaitan dengan tujuan teknik REBT. Mengintegrasikan risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berarti menyatukan nilai spiritual Islam dengan psikologi kognitif. Pendekatan ini mengubah pemikiran irasional menjadi rasional, dipadukan dengan kesadaran tauhid dan ihsan untuk membentuk karakter yang tangguh dan berorientasi pada kebaikan universal.
Berikut tahapan membangun karakter unggul dalam praktik REBT terintegrasi nilai akhlak filosofis: Pertama (A) (Activating Event): identifikasi permasalahan dalam hidup, misalnya pergaulan bebas. Ke dua (B) (Beliefs): menggali keyakinan irasional, misalnya siswa mempunyai pikiran mengikuti trend agar tidak ketinggalan zaman. Ke tiga (C) (Consequence): konsekuensi berupa perasaan berdosa, hati tidak tenang, perilaku menyimpang. Ke empat (D) (Disputing): merubah keyakinan irasional ini dengan nilai-nilai filosofis dan spiritual Islam, selaras dengan larangan mengenai zina telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat Al-Isra' ayat 32. Artinya: “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Ke lima (E) (Effective New Philosophy): membangun filosofi baru yang rasional dan religius sesuai risalah akhlak dengan mengkaji makna Surat Al-Baqarah Ayat 42 yang artinya “dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.
Penerapan teknik REBT yang selaras dengan nilai-nilai akhlak filosofis akan sangat membantu guru BK dalam membangun karakter positif siswa, apalagi saat ini remaja cenderung mengalami kehampaan spritual. Internalisasi Ihsan, yaitu membiasakan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi perilaku kita akan membuat kita selalu hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selanjutnya praktik perilaku (amal shalih): menerapkan pemikiran rasional tersebut menjadi tindakan nyata, seperti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua hal yang dilarang.
Jika konsep tersebut diterapkan dengan baik maka remaja akan terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang dan akan terbentuk karakter unggul, sehingga generasi muda kita siap meyambut Indonesia emas 2045. Dengan karakter unggul generasi muda akan mampu bersaing di kancah regional maupun global. Penerapan teknik REBT terintegrasi nilai-nilai akhlak filosofis ini memerlukan konsistensi dan komitmen bersama untuk saling peduli. Oleh karena itu kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, baik orang tua, sekolah, maupun masyarakat luas sangat diperlukan.
Jadi tanggung jawab pembentukan karakter unggul bukan hanya peran sekolah, namun juga unsur lain terutama keluarga atau orang tua. Allah berfirman di dalam Al-Quran tepatnya Surat At-Tahrim ayat 6, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga. Menjaga diri dan keluarga dengan cara mengajarkan ilmu agama, mengajak untuk ketaatan terhadap perintah Allah dan melarang keluarga dari perbuatan maksiat. Ketika ada kolaborasi pihak sekolah dan orang tua, maka upaya yang dilakukan oleh guru BK akan berdampak maksimal dan diharapkan melekat dalam diri remaja.
Referensi:
Erford, B. T. (2017). 40 Teknik yang Harus Diketahui Setiap Konselor. Pustaka Pelajar
https://mozaik.inilah.com/quran
Artikel Pengembangan Profesi
Memantik Keberanian Menuliskan Ide Menjadi Karya Ilmiah sebagai Implementasi Berliterasi dengan Ratulisa (Rajin Menulis dan Membaca) Sepanjang Masa untuk Multigenerasi NKRI
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum. |
"Kawan, keberanian untuk menuliskan ide menjadi kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana secara komprehensif merupakan implementasi nyata dalam berkarya untuk multigenerasi NKRI ”
Puji syukur hanya untuk-Nya. Segala nikmat dan rahmat yang harus disyukuri bersama atas semua karunia-Nya. Selamat dan sukses sangat layak disampaikan kepada Saudara Dr. Muhsyanur, M.Pd., M.Psi, M.M. yang telah menyelesaikan buku berjudul: Dari Ide ke Karya Ilmiah: Teknik Praktis Penelitian Kualitatif; Menemukan Masalah, Menyusun Bab, hingga Menulis Referensi yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Akademikus. Kebahagian tidak terbatas sebagai wujud nyata yang diungkapkan dengan kalimat bahagia atas terbitnya buku yang begitu lengkap dan praktis. Buku tersebut akan menjadi sumber literasi alternatif yang mencerahkan wawasan penelitian ilmiah bagi para mahasiswa yang sedang menyiapkan penelitian untuk makalah, artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.
Kehadiran buku ini sangat menginspirasi dan bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa S-1, S-2, S-3, dan pembaca yang budiman. Buku yang terdiri atas xxii halaman romawi, 283 halaman, dan 11 bab benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi para peneliti pemula, khususnya mahasiswa pelajar, mahasiswa S-, S-2, dan S-3 untuk dapat menemukan dan menuliskan ide yang diperoleh berdasarkan pengalaman membaca dan memelajari aneka kasus yang didasarkan pada trianggulasi teori yang telah dibacanya saat menulis karya ilmiah. Sebelas bab yang diawali dengan membuat cakrawala pengetahuan; (1) mengenai penelitian kualitatif; (2) menemukan dan membangun masalah penelitian; (3) menyusun judul penelitian yang kuat; (4) menulis bab 1 pendahuluan secara sistematis; (5) menulis bab 2 kajian teori yang tajam; (6) menulis bab 3 metode penelitian secara praktis; (7) dari data ke narasi sebagai pengantar hasil dan pendahuluan; (8) menulis daftar pustaka dan sitasi; (9) menulis profil penulis, bionarasi, biografi, biodata dan curriculum vitae dalam penulisan akademik; (10) strategi sukses menyelesaikan karya ilmiah; dan (11) penyajian lampiran. Kesebelas bab tersebut benar-benar menjadi panduan dan pedoman inspiratif dan motivatif secara teoretik dan praktik untuk berlatih berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) dalam bentuk karya ilmiah yang nyata.
Salah satu kekurangan pembelajar, peneliti, dan penulis pemula untuk menulis karya ilmiah yaitu keberanian untuk memulai menuliskan ide tanpa takut salah. Oleh karena itu, para pembelajar, peneliti, penulis karya ilmiah teknis dan populer harus dipantik keberaniannya untuk menuliskan ide dan gagasannya secara nyata dalam bentuk tertulis. Apa yang sudah dibaca dan dipahami harus berani diungkapkan dalam kalimat-kalimat nyata sebagai wujud ide karya ilmiah yang dapat dibaca oleh pembaca yang budiman. Salah satu upaya untuk dapat memantik keberanian menuliskan ide secara nyata yaitu dengan berlatih menulis tanpa takut salah dan disalahkan. Dengan demikian akan dapat terbentuk mental meneliti dan menuliskan ide yang dipahami dan direnungkan tersebut menjadi karya ilmiah yang nyata. Hal ini harus dilatih dan dimulai pelan, bertahap, berkesinambungan, dan terus berkelanjutan sebagai wujud nyata berliterasi dengan Ratulisa sepanjang masa.
Keberanian untuk mengakui dengan sadar bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna merupakan modal dasar bagi pembelajar, peneliti, dan penulis untuk berliterasi dengan Ratulisa. Hal ini dibuktikan dan dicontohkan dengan lengkap dan mudah dipahami oleh penulis buku yang hebat luar biasa ini. Kehadiran buku Saudara Muhsyanur ini tentu akan dapat menjadi salah satu pelita yang menyinari dunia bagai para pembelajar, peneliti, dan penulis di seluruh wilayah Indonesia sepanjang masa. Semangat untuk memantik keberanian menuangkan ide dan gagasan harus terus dilatih dan dituliskan menjadi karya ilmiah teknis, seperti artikel jurnal, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk melatih keberanian menuliskan ide menjadi karya ilmiah dapat juga diwujudkan dalam bentuk artikel ilmiah popular yang dipublikasikan dalam media cetak dan online secara bertahap dan berkelanjutan.
Akhirnya dengan bangga dengan penuh kebahagiaan dan senyum 228 (sepenuh hati) disampaikan ucapan selamat dan sukses juoss gandhos poll kepada Saudara Muhsyanur yang telah menerbitkan buku yang sedang dibaca oleh para pembaca yang budiman. Semoga buku tersebut akan terus bermanfaat untuk kemaslahatan umat dan ikut memantik semangat berliterasi dengan Ratulisa bagi seluruh masyarakat NKRI. Dengan demikian kehadiran buku ini dapat menjadi salah satu virus-virus positif literasi ratulisa untuk menyiapkan generasi emas Indonesia yang tangguh mentalnya, melek literasi, kreatif, kritis inovatif, produktif, dan inspiratif sepanjang masa.
#Tulisan ini merupakan pengantar sekaligus ulasan penguatan pada buku yang ditulis oleh Saudara Muhsyanur yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Akademikus#
“Kala senja mulai menuju ke peraduannnya, ide-ide kreatif dan kritis akan terus memantik semangat berkarya sepanjang masa dalam pelukan keheningan istana arfuzh ratulisa sepanjang masa”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Manado, 20 Juli 2026
Artikel Pengembangan Profesi
REFLEKSI AL QURAN DALAM KOLABORASI PENDIDIKAN ANAK
Oleh: Vina Virginia Hendrawati, S.Pd
Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 21 Kota Surakarta
![]() |
| Vina Virginia Hendrawati, S.Pd |
Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah melaksanakan kegiatan yang Bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini bersamaan dengan program pemerintah yang Bernama GAMAS ( Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi tamparan keras bagi fenomena “fatherless house” sebuah kondisi dimana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis. Masyarakat Indonesia masih banyak yang terjebak pada pemikiran yang kolot seperti tugas ayah yang bekerja mencari uang sedang mengasuh anak adalah tugas ibu. Pembagian tugas dalam pengasuhan anak sampai saat ini menjadi perdebatan yang serius. Lantas siapa sih yang berhak dalam pengasuhan anak? Ibu, ayah atau guru di sekolah? Sebelum memberikan jawaban, silahkan pembaca terlebih dahulu merenungi pendapat saya tentang pengasuhan anak.
Apakah Ibu berperan dalam pengasuhan anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali anak kenal selama di rumah. Secara psikologis, ibu adalah sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang , kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu diidentikkan sebagai seorang Madrasatul Ula (sekolah utama) dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual, seperti yang tertuang dalam QS Ali Imran ayat 35
إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Artinya: (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Dari ayat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang ibu harus memiliki visi, agar anaknya kelak menjadi hamba yang shaleh dan bermanfaat bagi agama sejak anak tersebut masih dalam kandungan.
Apakah Bapak hanya bertugas mencari nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga menjadi teladan, pelindung, pendidik serta mitra setara bagi ibu. Ayah dalam kehidupan berumah tangga berperan penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam ayat Al quran bahwasanya Alloh SWT sudah mengukuhkan bahwa tugas ayah sebagai pemimpin, sekaligus benteng pertama dalam membentuk akidah dan mental anak. Al-Qur'an juga mengabadikan keteladanan pengasuhan melalui nasihat Luqman kepada putranya.
Allah Swt. berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman [31]: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya dimulai dari dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menghadirkan komunikasi yang penuh kasih sayang.
Seberapa penting guru dalam mendidik anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan hanya sekedar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua akan membantu memahami kebutuhan anak secara menyeluruh. Sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carls Rogers yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari konseling ini adalah setiap individu memiliki potensi bawaan untuk berkembang, menyembuhkan diri sendiri, dan mencapai aktualisasi diri jika berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan ini, guru yang bertindak sebagai konselor berperan sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami diri mereka sendiri.
Gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah seyogianya tidak dipahami sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan dan karakter. Ayah, ibu, dan guru menjadi benteng utama dalam membimbing anak agar mampu menggunakan kemajuan zaman secara bijaksana.
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...









