GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
![]() |
| Suasana Focus Group Discussion (FGD) penyelarasan kurikulum dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) Program Studi Teknik Industri Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo. |
FGD Penyelarasan Kurikulum dengan DUDI, Teknik Industri Univet Bantara Siapkan Lulusan Adaptif dan Siap Kerja
Sukoharjo - majalahlarise.com - Program Studi Teknik Industri Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) menggeliat Focus Group Discussion (FGD) penyelarasan kurikulum dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI) di Hotel Tosan Solo Baru, Jumat (5/6/2026). Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menyusun visi, misi, dan kurikulum yang lebih relevan dengan kebutuhan industri serta perkembangan teknologi yang terus berubah.
FGD dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik Univet Bantara, Ir. Hendramawat Aski Safarizki, S.T., M.T. Dalam sambutannya, ia menjelaskan pentingnya perguruan tinggi melakukan penyesuaian kurikulum agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
“Penyelarasan kurikulum ini merupakan langkah krusial yang harus kita ambil. Kita harus memastikan mahasiswa tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga dibekali kompetensi praktis yang relevan. Sinergi yang kuat dengan DUDI menjadi kunci untuk menghasilkan lulusan keteknikan yang siap kerja dan inovatif,” ujarnya.
![]() |
| Dekan Fakultas Teknik Univet Bantara, Ir. Hendramawat Aski Safarizki, S.T., M.T dan Ketua Program Studi Teknik Industri, Suprapto, S.T., M.Eng. |
Setelah pembukaan, diskusi dan perumusan dokumen dipimpin Ketua Program Studi Teknik Industri, Suprapto, S.T., M.Eng. Ia menjelaskan FGD tersebut bertujuan menyerap berbagai masukan dari praktisi industri, alumni, dan para pemangku kepentingan guna memperkuat kualitas kurikulum.
“Melalui FGD ini, kami berharap dapat menyerap aspirasi dan mengidentifikasi kompetensi spesifik yang saat ini paling dibutuhkan industri. Masukan langsung dari para praktisi akan menjadi fondasi utama bagi kami dalam merumuskan visi, misi, serta menyusun sebaran mata kuliah yang lebih terarah dan aplikatif,” paparnya.
Kegiatan yang dihadiri akademisi, praktisi industri, alumni, dan stakeholder tersebut membahas sejumlah agenda penting, meliputi pembaruan visi dan misi program studi, evaluasi kurikulum, serta penguatan sinergi antara kampus dan DUDI melalui program magang, penelitian bersama, hingga peluang penyerapan tenaga kerja bagi lulusan.
Dalam sesi diskusi, para praktisi industri memberikan berbagai masukan mengenai kompetensi yang harus dimiliki lulusan Teknik Industri di masa depan. Selain penguasaan ilmu keteknikan dan kemampuan pengolahan data berbasis komputer, lulusan juga diharapkan memiliki kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, transformasi digital, serta pemahaman budaya kerja industri.
Praktisi industri juga menekankan pentingnya kemampuan analisis dan penyelesaian masalah berbasis risiko (risk-based thinking), kemampuan komunikasi, literasi, serta keterampilan membangun relasi profesional. Menurut mereka, aspek karakter dan budaya kerja menjadi faktor penting dalam menentukan kesiapan lulusan memasuki dunia industri.
Sementara itu, alumni Teknik Industri turut menyampaikan perlunya penguatan pembelajaran berbasis studi kasus dan data riil dari industri. Mereka menilai pendekatan tersebut dapat membantu mahasiswa memahami kondisi lapangan secara lebih nyata dan mengurangi kesenjangan antara teori yang dipelajari di kampus dengan praktik di dunia kerja.
FGD ini menjadi bentuk komitmen Program Studi Teknik Industri Univet Bantara dalam menjembatani kesenjangan keterampilan antara lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan industri. Dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses penyusunan kurikulum, diharapkan lahir kurikulum yang lebih komprehensif, mutakhir, dan responsif terhadap tantangan industri masa depan.
Melalui kegiatan ini, Program Studi Teknik Industri Univet Bantara menargetkan tersusunnya dokumen visi, misi, dan kurikulum yang siap diimplementasikan pada tahun ajaran mendatang guna mencetak lulusan yang unggul, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu bersaing di dunia kerja dan industri global. (Sofyan)
Kabar Desa
![]() |
| Narasumber Sofyan Yuli Antonius, S.Sos saat foto bersama Lurah Pagutan Sukadi dan peserta pelatihan. |
Pelatihan Literasi di Kelurahan Pagutan Manyaran, Peserta Dibekali Teknik Menulis Berita, Fotografi Jurnalistik dan Pengelolaan Website
Wonogiri - majalahlarise.com - Kelurahan Pagutan, Kecamatan Manyaran, menggelar pelatihan penyusunan berita dan artikel dalam rangka sosialisasi literasi bagi lembaga kemasyarakatan di Aula Kantor Kelurahan Pagutan, Kamis-Jumat (4-5/6/2026). Kegiatan menghadirkan narasumber Sofyan Yuli Antonius, S.Sos., praktisi media online dan pengelola majalahlarise.com. Peserta pelatihan terdiri atas pengurus PKK, kader Posyandu, dan Karang Taruna yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Pada hari kedua, peserta mendapatkan materi teknik wawancara, fotografi jurnalistik, serta pengelolaan website kelurahan. Selain menerima teori, peserta juga mengikuti praktik wawancara dan membuat karya foto jurnalistik untuk mengasah kemampuan peliputan dan penyusunan informasi berbasis fakta.
Dalam pemaparannya, Sofyan Yuli Antonius menjelaskan fotografi jurnalistik merupakan sarana menyampaikan fakta dan informasi kepada publik melalui media visual. Menurutnya, foto jurnalistik harus berdasarkan fakta, mengandung nilai berita, tidak direkayasa, serta mampu menceritakan suatu peristiwa kepada masyarakat.
![]() |
| Peserta saat praktik wawancara untuk penggalian data bahan informasi berita. |
“Foto jurnalistik yang baik tidak hanya indah dipandang, tetapi juga mampu menyampaikan fakta, makna, dan cerita kepada masyarakat. Karena itu setiap foto harus mengandung informasi, emosi, momen, dampak, serta didukung komposisi yang baik,” ujarnya.
Peserta juga dibekali teknik dasar pengambilan gambar, mulai dari penggunaan sudut pengambilan foto (angle), komposisi, hingga variasi jenis pengambilan gambar seperti long shot, medium shot, dan close up untuk memperkaya visual dalam pemberitaan.
Selain fotografi, Sofyan menjelaskan pentingnya website kelurahan sebagai media informasi dan pelayanan publik. Website berfungsi menyebarluaskan informasi pemerintahan, mendukung keterbukaan informasi publik, mempromosikan potensi wilayah dan UMKM, sekaligus menjadi arsip digital kegiatan pemerintahan.
“Website kelurahan harus dikelola secara cepat, akurat, aktual, transparan, dan bertanggung jawab. Setiap kegiatan kelurahan idealnya terdokumentasi dan dipublikasikan sehingga masyarakat dapat memperoleh informasi resmi dengan mudah,” jelasnya.
Materi pengelolaan website juga mencakup pembentukan struktur redaksi, tugas masing-masing pengelola, teknik penulisan berita berbasis unsur 5W+1H, hingga alur publikasi mulai dari peliputan, penulisan, penyuntingan, persetujuan redaksi, hingga unggah ke website.
Salah satu peserta, Agus, mengaku pelatihan tersebut memberikan manfaat besar karena menambah wawasan dan keterampilan dalam menyusun berita yang dapat dipublikasikan melalui website kelurahan.
“Kesan saya sangat berarti sekali karena melalui pelatihan ini kita bisa belajar bagaimana cara menyusun berita maupun artikel yang dapat diakses melalui web dan disebarluaskan kepada masyarakat. Harapan saya, pelatihan ini semakin bermanfaat sehingga peserta bisa menerapkan arahan dari pembimbing dalam menyusun berita atau artikel untuk mensosialisasikan kegiatan masyarakat, termasuk membantu memasarkan produk UMKM dan memperkenalkan kegiatan yang ada di dusun masing-masing,” ujar Agus.
Peserta lainnya, Alzena dari Ngasem, menilai pelatihan berbasis kecerdasan buatan (AI) memberikan pengalaman yang menarik dan membuka wawasan baru mengenai pemanfaatan teknologi dalam proses penulisan artikel.
“Pelatihan penyusunan berita atau artikel berbasis AI ini memberikan pengalaman yang sangat menarik dan bermanfaat bagi saya. Saya memperoleh pemahaman baru tentang bagaimana AI membantu proses penulisan hingga mengembangkan artikel yang lebih terstruktur. Saya berharap pelatihan seperti ini dapat terus diadakan dengan materi yang lebih mendalam dan praktik yang lebih banyak,” katanya.
Desi mengungkapkan materi yang disampaikan mudah dipahami dan aplikatif sehingga meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam menyusun berita untuk berbagai media.
“Pemaparan materi yang diberikan sangat mudah dipahami dan aplikatif. Pelatihan ini meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam menyusun berita. Saya berharap kegiatan edukasi seperti ini dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan agar kemampuan menulis peserta semakin terasah dan bermanfaat untuk menangkal hoaks di masyarakat,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Diyah yang menilai pelatihan tersebut menambah wawasan mengenai teknik penulisan berita yang baik dan sesuai kaidah jurnalistik.
“Saya berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan dan dilengkapi dengan sesi praktik yang lebih mendalam, sehingga peserta semakin terampil dalam menyusun berita yang informatif, akurat, dan berkualitas,” katanya.
Peserta lainnya, Evy Sulistyawati, mengaku memahami pentingnya unsur 5W+1H dalam penulisan berita setelah mengikuti pelatihan tersebut.
“Ternyata menulis berita untuk lembaga kemasyarakatan itu berbeda dengan menulis status media sosial. Harus lugas, datanya jelas, dan angle-nya kena ke warga. Yang paling berkesan saat praktik menentukan judul berita, saya jadi merasakan kalau 5W+1H itu nyawanya berita,” ujarnya.
Sementara itu, Fitri menyampaikan pelatihan membantu peserta meningkatkan kemampuan menulis dan menyampaikan informasi kepada masyarakat secara lebih efektif.
“Manfaat setelah mengikuti pelatihan ini, kita dapat meningkatkan kemampuan menulis dan menyampaikan informasi pada masyarakat. Kami juga mendapat pengetahuan baru tentang cara menyusun berita yang baik dan benar, serta bisa berlatih memanfaatkan media digital sebagai sarana penyebaran informasi,” ujarnya.
Peserta lainnya, Hariyatmi, Shantika, Susi, Sriyatni, dan peserta lain juga mengaku memperoleh manfaat besar dari pelatihan tersebut, terutama dalam mempercepat proses penyusunan berita, memahami penggunaan AI untuk membantu penulisan, serta meningkatkan kemampuan memanfaatkan media digital sebagai sarana penyebaran informasi yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kelurahan Pagutan berharap lahir lebih banyak kontributor informasi dari lingkungan masyarakat yang mampu menyusun berita, mengelola dokumentasi kegiatan, serta mendukung pengembangan website kelurahan sebagai pusat informasi resmi yang transparan dan mudah diakses masyarakat. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Podcast bertajuk “Ruang Perspektif”. |
Podcast “Ruang Perspektif” Jadi Wadah Mahasiswa Desain Interior ISI Surakarta Berbagi Inspirasi dan Prestasi
Surakarta - majalahlarise.com - Program Studi Desain Interior Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melalui Himpunan Mahasiswa Desain Interior menyelenggarakan kegiatan podcast bertajuk “Ruang Perspektif” pada 22, 25, dan 26 Mei 2026 di Gedung 5 Jurusan Desain FSRD ISI Surakarta. Kegiatan ini menjadi media komunikasi dan publikasi mahasiswa untuk berbagi pengalaman, prestasi, serta wawasan mengenai dunia desain interior melalui format diskusi yang santai dan inspiratif.
Ketua Himpunan Mahasiswa Desain Interior, Bintang Akbar, menjelaskan podcast “Ruang Perspektif” dirancang sebagai ruang kreatif bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, pengalaman, dan pencapaian yang dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa lainnya maupun masyarakat luas.
“Kegiatan ini menjadi media komunikasi dan publikasi mahasiswa dalam berbagi pengalaman, prestasi, serta wawasan mengenai dunia desain interior melalui format diskusi santai dan inspiratif,” ujarnya.
Dalam pelaksanaannya, podcast tersebut menghadirkan sejumlah mahasiswa Desain Interior ISI Surakarta sebagai narasumber dengan latar belakang pengalaman yang beragam. Berbagai topik menarik dibahas, mulai dari pengalaman mengikuti program internasional AIMS, keterlibatan dalam proyek desain dan penataan panggung interior, hingga prestasi dalam berbagai kompetisi desain tingkat nasional. Ragam pengalaman tersebut memberikan gambaran nyata mengenai peluang pengembangan diri yang dapat ditempuh mahasiswa selama menempuh pendidikan di bidang desain interior.
Bintang Akbar menjelaskan kehadiran para narasumber diharapkan mampu memberikan motivasi sekaligus inspirasi kepada mahasiswa dan masyarakat mengenai luasnya peluang berkarya di dunia desain interior.
“Melalui cerita dan pengalaman para narasumber, kami berharap mahasiswa semakin termotivasi untuk mengembangkan kompetensi, berani mengambil peluang, dan terus berkarya di bidang desain interior,” katanya.
Selain menjadi sarana berbagi wawasan, podcast “Ruang Perspektif” juga berfungsi sebagai dokumentasi dan publikasi berbagai aktivitas mahasiswa Program Studi Desain Interior ISI Surakarta. Melalui konten digital yang dihasilkan, kegiatan mahasiswa dapat terdokumentasi dengan baik sekaligus menjangkau audiens yang lebih luas. Upaya ini sejalan dengan kebutuhan penguatan citra akademik dan kreativitas mahasiswa di era media digital yang terus berkembang.
Kegiatan podcast ini mendapat dukungan penuh dari dosen pembina, pengurus Himpunan Mahasiswa Desain Interior, serta seluruh panitia pelaksana yang terlibat. Himpunan Mahasiswa Desain Interior berharap kegiatan serupa dapat terus dikembangkan sebagai wadah komunikasi, edukasi, dan promosi karya mahasiswa kepada masyarakat luas. Dengan hadirnya “Ruang Perspektif”, mahasiswa tidak hanya memiliki ruang untuk berbagi pengalaman, tetapi juga kesempatan untuk memperkenalkan potensi dan kreativitas Desain Interior ISI Surakarta kepada publik. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Siti Supeni, S.H., M.Pd., menjelaskan terdapat empat persoalan utama yang masih dihadapi guru sekolah dasar dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis budaya daerah. |
Dosen UNISRI Dampingi Guru SD Se-Kecamatan Banjarsari Terapkan Pendidikan Karakter Berbasis Budaya Jawa Melalui Kurikulum Muatan Lokal
Solo - majalahlarise.com - Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bertopik “Penerapan Pendidikan Karakter Melalui Kurikulum Muatan Lokal Budaya Daerah pada Siswa Sekolah Dasar di Surakarta” yang diikuti komunitas guru SD dari lima gugus se-Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta. Kegiatan yang berlangsung di D'Gondangrejo pada Kamis (4/6/2026) ini menjadi upaya konkret mendukung penguatan pendidikan karakter berbasis budaya Jawa di lingkungan sekolah dasar.
Program PKM tersebut digagas untuk menjawab tantangan implementasi Kurikulum Merdeka yang memberikan ruang luas bagi pengembangan muatan lokal. Di Kecamatan Banjarsari, penguatan karakter siswa melalui kearifan budaya Jawa dinilai penting mengingat Kota Surakarta merupakan salah satu pusat budaya Jawa yang terus berupaya menjaga nilai-nilai lokal di tengah perkembangan global yang semakin dinamis.
Tim PKM UNISRI dipimpin Prof. Dr. Siti Supeni, S.H., M.Pd., dengan anggota Ama Farida Sari, S.Pd., M.Pd., Isra Nur Hanifah, S.Pd., M.Pd., serta mahasiswa Program Studi PPKn, Riyana. Dalam kesempatan tersebut, tim juga menyerahkan media pembelajaran “Artefak Pitutur Budaya Jawa” kepada PGRI Cabang Kecamatan Banjarsari yang diterima langsung Ketua PGRI Banjarsari, Kartono, S.Pd., M.Pd.
Ketua Tim PKM, Prof. Dr. Siti Supeni, S.H., M.Pd., menjelaskan terdapat empat persoalan utama yang masih dihadapi guru sekolah dasar dalam mengembangkan pendidikan karakter berbasis budaya daerah. Persoalan tersebut meliputi belum terimplementasinya kurikulum muatan lokal secara terprogram, rendahnya pemahaman guru mengenai muatan lokal budaya daerah, belum optimalnya kegiatan ekstrakurikuler pendukung, serta minimnya tenaga pelatih maupun praktisi budaya yang dapat membantu sekolah.
Untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, Tim PKM UNISRI menawarkan tiga solusi utama, yakni pendampingan penerapan Kurikulum Muatan Lokal berbasis budaya daerah, penyusunan prosedur pengembangan kurikulum yang praktis digunakan guru, serta pembimbingan penyusunan draft buku panduan kurikulum muatan lokal yang memperhatikan aspek edukatif, rekreatif, dan kompetitif.
“Harapannya guru-guru SD di Banjarsari memiliki acuan yang jelas sehingga nilai-nilai seperti gotong royong, tepa selira, dan unggah-ungguh dapat masuk dalam pembelajaran harian. Artefak Pitutur Budaya Jawa yang kami berikan bisa menjadi media pembelajaran konkret di kelas,” jelas Prof. Dr. Siti Supeni.
Ketua PGRI Cabang Banjarsari, Kartono, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasinya terhadap program pendampingan yang dilakukan UNISRI. Menurutnya, pendidikan karakter berbasis budaya lokal sangat relevan diterapkan di sekolah-sekolah wilayah Banjarsari yang memiliki keberagaman latar belakang peserta didik. “Kami berterima kasih kepada UNISRI. Pendampingan ini membantu guru menerjemahkan budaya Jawa ke dalam RPP dan aktivitas siswa,” ujarnya.
Kegiatan PKM diisi dengan workshop penyusunan modul ajar, praktik penggunaan media Artefak Pitutur Budaya Jawa, serta penyamaan persepsi mengenai indikator capaian pendidikan karakter berbasis budaya. Para peserta juga menyusun rencana tindak lanjut yang akan diterapkan di sekolah masing-masing sebagai bagian dari implementasi hasil pendampingan.
Melalui kegiatan ini, UNISRI menunjukkan komitmennya dalam menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi sekaligus mendukung program Dinas Pendidikan Kota Surakarta untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang berakar kuat pada budaya daerah dan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia. (Sofyan)
Artikel Pengembangan Profesi
Pentingnya Memelihara dan Meningkatkan Kompetensi Dosen Secara Bertahap dan Berkelanjutan di Seluruh Wilayah NKRI
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, komitmen untuk terus bergerak dan menggerakkan gerakan literasi Ratulisa (rajin menulis dan membaca) merupakan upaya partisipasi yang nyata untuk menyiapkan generasi emas NKRI”
Profesi dosen merupakan profesi yang sangat mulia dunia akhirat karena terus berbagi ilmu, hasil penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat secara bertahap dan berkelanjutan. Hal tersebut dapat terwujud apabila semua aktivitas dosen dalam melaksanakan tugas tri dharma perguruan tinggi diniatkan untuk ibadah sepanjang hayat. Sosok dosen harus dapat menjadi teladan yang dicontoh oleh mahasiswa dan masyarakat di seluruh wilayah NKRI. Permasalahan pendapatan atau gaji, sertifikasi dosen, besar, sedang, kecil itu pilihan rasa yang terletak pada hati untuk menerima dengan rasa syukur atas semua rezeki yang diterimanya. Dengan demikian menjadi dosen itu pilihan mulia untuk setiap orang dengan berbagai perspektif dan pertimbangan masing-masing untuk beribadah, mengabdi, dan berbagi ilmu, untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.
Beberapa waktu yang lalu beredar informai rencana pemberlakuan kebijakan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisantek) untuk keberlanjutan tunjangan profesi dosen atau sertifikasi dosen (serdos) harus mengikuti pengembangan diri minimal setahun sekali dengan durasi pelatihan minimal 20 jam pelatihan (JP). Satu JP setara 45 menit. Jadi apabila pelatihan 20 JP dikalikan 45 menit sama dengan 900 menit atau 15 jam. Akhirnya saat rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, kebijakan tersebut sementara dibatalkan oleh Mendiktisaintek sampai dikeluarkan kebijakan penggantinya setelah dilakukan kajian secara mendalam (baca: https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-8516088/mendikti-syarat-kelanjutan-serdos-20-jp-setahun-ditiadakan-sampai). Berdasarkan penjelasan tersebut ternyata telah meresahkan sebagian besar dosen di seluruh wilayah Indonesia. Sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan apabila kebijakan tersebut diberlakukan. Hal ini sebagai wujud komitmen dan pemeliharan serta peningkatan kualitas sosok dosen yang sudah tersertifikasi atau pun belum tersertifikasi.
Terlepas ada atau tidaknya kebijakan untuk peningkatan kompetensi dosen setelah tersertifikasi atau belum tersertifikasi sudah selayaknya dosen abad XXI memang harus terus belajar dan membelajarkan diri sepanjang hayat. Hal ini sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi hardskill dan softskill dosen secara kreatif dan berkelanjutan. Kegiatan pelatihan kompetensi sesuai bidang keahlian dan keilmuan merupakan keniscayaan yang harus dilaksanakan secara rutin untuk mendukung kegiatan tri dharma perguruan tinggi dan akreditasi program studi. Seluruh dosen di Indonesia yang bertugas di perguruan tinggi negeri dan swasta sudah seharusnya melakukan 5M berikut: (1) merencanakan program peningkatan kompetensi diri secara rutin, (2) melaksanakan program peningkatan kompetensi diri, (3) mengevaluasi pelaksanan program peningkatan kompetensi diri, (4) menindaklanjuti kekurangan program peningkatan kompetensi diri, dan (5) merancang proyek keberlanjutan untuk pemeliharaan dan peningkatan kompetensi diri secara bertahap dan berkelanjutan. Apabila dosen dengan kesadaran diri dapat melaksanakan 5M di atas maka akan tetap terjaga dan terpelihara kualitas kompetensi diri dosen secara berkelanjutan.
Dosen yang sudah tersertifikasi atau belum tersertifikasi, memang harus terus melakukan inovasi dan kreativitas melalui tri dharma perguruan tinggi untuk memelihara dan meningkatkan kompetensi dirinya. Misalnya dosen mengikuti pendidikan dan pelatihan (diklat): (1) menulis artikel ilmiah, (2) menulis artikel opini media cetak dan online, (3) menulis proposal penelitian nasional dan internasional, (4) metodologi penelitian kualitatif, (5) metodologi penelitian kuantitatif, (6) metode pembelajaran mendalam, (7) metode pembelajaran berbasis proyek, dan seterusnya. Upaya untuk terus memelihara dan meningkatkan kualitas diri tersebut dapat dilakukan bersama Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa atau Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra); Lembaga Diklat, Lembaga Sertifikasi, asosiasi dosen, asosiasi program studi, dan badan diklat terkait yang menjadi penyelenggara diklat peningkatan kompetensi dosen secara berkelanjutan, dan lembaga-lembaga lain yang relevan.
Akhirnya dosen yang sudah tersertifikasi dan yang belum tersertifikasi sudah seharusnya terus menjaga, memelihara, dan meningkatkan kompetensi hardskill dan softskill secara bertahap dan berkelanjutan. Hal ini sebagai upaya untuk membuat ruang pengembangan diri, peluang, dan tantangan untuk bersaing dan berdaya sanding dengan dosen-dosen lain, baik di tingkat nasional dan internasional. Oleh karena itu dosen harus terlibat secara aktif dalam berbagai kegiatan akademik atau ilmiah yang mendukung tri dharma perguruan tinggi secara bertahap dan menyeluruh. Yakinlah bahwa setiap proses belajar dan membelajarkan diri akan dapat berdampak pada upaya peningkatan kualitas diri dan peningkatan kompetensi dosen abad XXI yang juoss guandhos puoll untuk melahirkan sumber daya manusia yang unggul, tangguh, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif bagi multigenerasi NKRI.
“Dosen sebaiknya terus melakukan evaluasi diri secara berkelanjutan untuk menyiapkan program pemeliharaan dan peningkatan kompetensi diri secara berkelanjutan sehingga memiliki daya saing dan daya sanding secara komprehensif, baik di tingkat nasional maupun internasional”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 5 Juni 2026
Pendidikan
![]() |
| Pertemuan rutin Paguyuban Kepala Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Kecamatan Sambi. |
Paguyuban AUM Sambi Bahas Unique Selling Point, Perkuat Identitas Sekolah Muhammadiyah Hadapi Persaingan Pendidikan
Boyolali - majalahlarise.com - Paguyuban Kepala Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Kecamatan Sambi menggelar pertemuan rutin di Aula SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Babadan, Kamis (4/6/2026). Kegiatan yang diikuti kepala TK/BA, SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK Muhammadiyah se-Kecamatan Sambi tersebut membahas strategi pengembangan sekolah melalui penguatan Unique Selling Point (USP) atau keunggulan khas sekolah sebagai upaya meningkatkan daya saing lembaga pendidikan Muhammadiyah.
Pertemuan diawali dengan sambutan Ketua PCM Sambi, H. Sudiman. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan filosofi pensil sebagai inspirasi bagi para pengelola AUM dalam menjalankan lembaga pendidikan. Menurutnya, setiap bagian dari pensil memiliki makna mendalam yang dapat menjadi pedoman kepemimpinan sekolah.
“Pensil yang lancip menggambarkan visi yang jelas. Sekolah harus memiliki arah dan tujuan yang tegas agar mampu melahirkan generasi unggul. Sedangkan penghapus pada pensil melambangkan akhlak yang baik, yaitu kemampuan untuk memperbaiki kesalahan dan terus melakukan evaluasi diri. Dengan visi yang jelas dan akhlak yang baik, kita dapat menulis jejak-jejak kebaikan bagi umat dan bangsa,” tuturnya.
Ketua Paguyuban AUM Kecamatan Sambi, Yulianto, S.Pd., yang juga Kepala SMK Muhammadiyah 01 Sambi, menjelaskan pentingnya sinergi antar-AUM untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan Muhammadiyah di wilayah Sambi. Menurutnya, kolaborasi yang kuat antar lembaga menjadi modal penting untuk menghadirkan pendidikan yang unggul, berkemajuan, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat.
Pada sesi utama, Ust. Pujiono dari Tim Fasilitator Diklat Kepala Sekolah dan Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan materi mengenai pentingnya membangun Unique Selling Point (USP) sebagai strategi menghadapi persaingan pendidikan yang semakin kompetitif. Ia menjelaskan banyak sekolah memiliki fasilitas, kurikulum, maupun program unggulan yang relatif serupa sehingga diperlukan identitas khas yang membedakan sebuah sekolah dari sekolah lainnya.
“Unique Selling Point adalah alasan utama mengapa orang tua memilih sebuah sekolah. Jika sekolah tidak memiliki pembeda yang jelas, maka akan sulit dikenal dan diminati masyarakat,” jelasnya.
Dalam pemaparannya, Ust. Pujiono menerangkan USP merupakan keunggulan khusus yang tidak mudah ditemukan di tempat lain dan harus benar-benar dirasakan masyarakat. Ia mencontohkan USP berupa sekolah tahfidz berprestasi, sekolah digital dan koding, sekolah berbasis karakter Islami, sekolah ramah anak, sekolah entrepreneur muda, sekolah berbasis lingkungan, maupun sekolah penggerak literasi.
Menurutnya, USP harus memenuhi tiga syarat utama, yakni unik atau memiliki kekhasan yang berbeda dari sekolah lain, bernilai bagi masyarakat serta menjawab kebutuhan orang tua, dan dijalankan secara konsisten sehingga menjadi identitas sekolah yang kuat.
Ia juga mengingatkan sekolah agar tidak berupaya menjual terlalu banyak keunggulan sekaligus. “Ketika sekolah ingin dikenal sebagai sekolah tahfidz, sekolah digital, sekolah olahraga, sekolah seni, sekolah lingkungan, dan sekolah internasional sekaligus, masyarakat justru bingung. Pilih satu atau dua keunggulan utama yang benar-benar kuat, lalu bangun branding secara konsisten,” ujarnya.
Menurut Ust. Pujiono, USP yang kuat akan memudahkan sekolah dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), meningkatkan kepercayaan masyarakat, serta memperkuat citra lembaga pendidikan.
Lebih lanjut, Ust. Pujiono menjelaskan USP harus diwujudkan dalam budaya sekolah, prestasi siswa, pelayanan guru, dan testimoni wali murid. “USP bukan sekadar kata-kata. USP harus hidup dalam keseharian sekolah. Ketika masyarakat mendengar nama sekolah Muhammadiyah, mereka langsung teringat pada keunggulan yang dimiliki sekolah tersebut,” tegasnya.
Pertemuan berlangsung hangat dan interaktif dengan berbagai diskusi mengenai potensi yang dapat dikembangkan menjadi keunggulan khas di masing-masing AUM. Melalui forum Paguyuban Kepala Amal Usaha Muhammadiyah (PKAUM) ini, sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kecamatan Sambi diharapkan semakin mampu memperkuat identitas, meningkatkan mutu layanan pendidikan, serta menjadi pilihan utama masyarakat dalam memperoleh pendidikan yang unggul dan berkemajuan. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Narasumber Ganjar Pranowo (Gubernur Jawa Tengah Periode 2013-2023) saat memaparkan materi seminar nasional. |
SRIPA 2026 UNISRI Hadirkan Ganjar Pranowo, Bahas Optimalisasi Anggaran Transparan untuk Pembangunan Berkelanjutan
Solo - majalahlarise.com - Program Studi Ilmu Administrasi Negara Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Slamet Riyadi Conference on Public Administration (SRIPA) 2026 di Auditorium UNISRI, Kamis (4/6/2026). Seminar nasional tersebut mengangkat tema “Pembangunan Berkelanjutan melalui Optimalisasi Anggaran yang Efektif dan Transparan” dengan menghadirkan sejumlah narasumber kompeten, termasuk Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah Periode 2013-2023. Kegiatan ini menjadi forum akademik untuk membahas tata kelola anggaran yang efisien, akuntabel, dan berorientasi pada pembangunan berkelanjutan.
Tema yang diusung SRIPA 2026 dinilai sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini, terutama di tengah meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap efisiensi APBN dan APBD, transparansi belanja negara, serta pengawasan penggunaan pajak rakyat. Berbagai isu terkait pengadaan barang, perjalanan dinas, hingga program bantuan sosial menjadi perhatian publik sehingga optimalisasi anggaran dipandang sebagai kebutuhan yang mendesak untuk menjamin keberlanjutan pembangunan.
Selain Ganjar Pranowo, seminar nasional ini juga menghadirkan Prof. Dr. Winarti, M.Si., Guru Besar Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, H. Adhe Eliana, S.E., Wakil Bupati Karanganyar, serta Hanum Ashtya Vianti selaku Ketua Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara UNISRI. Kehadiran para narasumber dari kalangan akademisi, pemerintahan, dan mahasiswa diharapkan mampu memberikan perspektif yang komprehensif terkait pengelolaan anggaran publik.
Ketua Pelaksana SRIPA 2026, Dinda Puspita, menjelaskan bahwa SRIPA merupakan wadah bagi mahasiswa, akademisi, dan praktisi untuk bertukar gagasan sekaligus merumuskan solusi terhadap berbagai tantangan pembangunan bangsa.
“Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat mendorong lahirnya pemikiran inovatif yang mampu menjawab dinamika kebijakan publik,” ujarnya.
Dinda juga menyampaikan apresiasi kepada pimpinan universitas, fakultas, program studi, sponsor, narasumber, serta seluruh panitia yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.
“Kami berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat memberikan manfaat besar, memperluas wawasan, memperkuat jejaring akademik, serta menjadi sarana pengembangan kapasitas bagi seluruh peserta,” katanya.
Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama UNISRI, Dr. Joko Pramono, S.Sos., M.Si. Dalam sambutannya, ia menjelaskan pentingnya tema yang diangkat pada SRIPA 2026. “Tema ini menjadi sangat penting dan aktual pada saat ini. Ini merupakan strategi bagaimana mengelola dana. Efisiensi penggunaan anggaran menjadi penting sekaligus evaluasi terhadap implementasi anggaran kita. Misalnya isu APBN untuk pengadaan hewan kurban, perjalanan dinas ke luar negeri, bagaimana ini terkait dengan optimalisasi anggaran. Sangat penting semoga bisa mencari narasi-narasi yang berkaitan dengan optimalisasi anggaran pembangunan berkelanjutan,” paparnya.
Sementara itu, Dekan FISIP UNISRI, Dr. Herning Suryo Sarjono, M.Si., mengapresiasi konsistensi mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Negara dalam menyelenggarakan SRIPA setiap tahun. Menurutnya, kegiatan tersebut telah menjadi ruang ilmiah yang strategis untuk mengasah daya kritis mahasiswa dalam mengkaji berbagai isu kebijakan publik sekaligus memperkuat budaya akademik di lingkungan kampus.
Melalui SRIPA 2026, UNISRI berharap lahir berbagai rekomendasi dan gagasan konstruktif yang dapat mendukung terciptanya tata kelola anggaran yang lebih efektif, transparan, dan bertanggung jawab guna mewujudkan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...











