GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
![]() |
| Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasama penerjunan KKN Univet Bantara Sukoharjo di Wonogiri. |
821 Mahasiswa Univet Bantara Resmi Diterjunkan KKN 2026, 554 Mahasiswa ke 28 Desa di Kabupaten Wonogiri
WONOGIRI - majalahlarise.com – Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo secara resmi menerjunkan 821 mahasiswa terdiri 554 mahasiswa reguler dan 267 mahasiswa non reguler Kuliah Kerja Nyata (KKN). Sebanyak 554 mahasiswa ke 28 desa di Kabupaten Wonogiri sebagai wujud pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Bertempat di Pendopo Kabupaten Wonogiri. Senin (3/8/2026).
Para mahasiswa akan melaksanakan pengabdian selama 45 hari di empat kecamatan, yakni Wuryantoro, Baturetno, Wonogiri, dan Manyaran, dengan mengusung semangat "Univet Berdampak" melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal dan inovasi.
Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Wonogiri yang kembali memberikan kepercayaan kepada Univet untuk melaksanakan KKN di berbagai desa. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di bangku kuliah dalam menyelesaikan berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat.
"Mahasiswa akan belajar berdasarkan kasus yang ada di lapangan untuk mencari solusinya dengan menerapkan seluruh pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari di kampus," ujar Prof. Farida.
Ia menjelaskan, pembelajaran berbasis kasus di lapangan menjadi bagian penting dalam mempersiapkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan zaman sekaligus mampu menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. KKN tidak hanya menjadi media pembelajaran bagi mahasiswa, tetapi juga sarana perguruan tinggi menghadirkan solusi nyata bagi kebutuhan masyarakat.
Prof. Farida juga mengungkapkan hubungan emosional Univet Bantara dengan Kabupaten Wonogiri yang semakin erat. Selain banyak mahasiswa berasal dari Wonogiri, kerja sama kelembagaan dengan pemerintah daerah terus berkembang. Ia optimistis mahasiswa Univet mampu menunjukkan dedikasi, disiplin, dan semangat kerja selama menjalankan pengabdian.
"Insyaallah KKN Univet Bantara akan berbeda. Banyak kepala daerah yang memberikan testimoni bahwa mahasiswa kami memiliki semangat bekerja, disiplin, dan mampu menghadirkan berbagai inovasi di masyarakat," katanya.
Lebih lanjut, Rektor berharap seluruh program KKN mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Ia juga mendorong dosen memanfaatkan momentum KKN untuk mengimplementasikan hasil penelitian sesuai potensi daerah, mulai dari pengembangan sektor peternakan, pertanian, pengelolaan sampah hingga berbagai inovasi yang dapat dipatenkan.
"Kami berharap seluruh kegiatan KKN benar-benar berdampak pada kemajuan masyarakat dan hasil penelitian dosen dapat diterapkan untuk memberdayakan potensi daerah," jelasnya.
Menutup sambutannya, Prof. Farida secara simbolis menyerahkan 554 mahasiswa kepada Pemerintah Kabupaten Wonogiri untuk melaksanakan KKN di 28 desa. Ia berharap sinergi antara Univet Bantara dan Pemerintah Kabupaten Wonogiri terus berkembang serta memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
"Semoga sinergi antara Univet Bantara dengan Kabupaten Wonogiri semakin baik, semakin erat, semakin bermanfaat, dan berdampak bagi masyarakat luas," pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Wonogiri Setyo Sukarno menyampaikan Pemerintah Kabupaten Wonogiri menyambut baik pelaksanaan KKN Univet Bantara Tahun 2026. Dari total 821 mahasiswa peserta KKN Univet, sebanyak 554 mahasiswa ditempatkan di Kabupaten Wonogiri untuk menjalankan pengabdian selama 45 hari.
"Kami menyambut baik diterjunkannya mahasiswa KKN Univet di Kabupaten Wonogiri. Diharapkan sinergi perguruan tinggi dengan masyarakat dapat mengoptimalkan potensi daerah sekaligus menjadi sarana mengembangkan kemampuan mahasiswa," ujar Setyo Sukarno.
Bupati menjelaskan hasil pelaksanaan KKN nantinya akan dievaluasi bersama camat, kepala desa, dan lurah untuk mengukur kontribusi mahasiswa terhadap pembangunan desa. Ia juga memaparkan Kabupaten Wonogiri memiliki luas wilayah sekitar 1.822 kilometer persegi yang terdiri atas 25 kecamatan, 251 desa, dan 43 kelurahan dengan jumlah penduduk sekitar 1.052.154 jiwa. Kondisi geografis yang didominasi kawasan hutan dan perbukitan menghadirkan tantangan, terutama saat musim kemarau ketika sejumlah wilayah mengalami kekurangan air bersih.
Selain itu, Bupati mengajak mahasiswa memahami karakter masyarakat Wonogiri sekaligus menggali berbagai potensi daerah, mulai dari kawasan Lereng Lawu Selatan hingga destinasi wisata Pantai Nampu dan Pantai Klotok yang dinilai memiliki peluang besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
"Jangan malu untuk mengaku warga Wonogiri. Tantangan besar kita adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat berbasis potensi kewilayahan," katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika, sopan santun, dan menghormati norma yang berlaku selama menjalankan KKN. Menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, mahasiswa diharapkan turut berpartisipasi dalam berbagai agenda masyarakat, seperti Turnamen Bola Voli Piala Bupati, Karnaval Budaya, hingga pagelaran wayang kulit di seluruh kecamatan.
"Abdikan kemampuan yang adik-adik miliki untuk memberikan dampak yang baik sehingga tema besar Univet Berdampak benar-benar dapat dirasakan oleh masyarakat," pesannya.
Pada kesempatan tersebut, Kepala LPPM Univet Bantara Dr. Ir. Ahimsa Kandi Sariri, S.P., M.Sc. melaporkan KKN tahun 2026 diikuti sebanyak 821 mahasiswa. Sebanyak 554 mahasiswa ditempatkan di Kabupaten Wonogiri yang tersebar di empat kecamatan yaitu Wuryantoro, Baturetno, Manyaran, Nguntoronadi tersebar di 28 desa. Setiap desa didampingi dua kelompok mahasiswa dengan bimbingan seorang dosen pembimbing lapangan (DPL) agar pelaksanaan program berjalan lebih terarah.
Menurut Ahimsa, KKN tahun ini mengedepankan kolaborasi lintas disiplin ilmu dengan mendorong mahasiswa menghadirkan inovasi yang dapat diterapkan bersama masyarakat melalui pemanfaatan teknologi dan penguatan potensi lokal desa.
"KKN ini menunjukkan mahasiswa akan berkolaborasi dan mengaktualisasikan inovasi yang sudah dimiliki untuk bersama-sama dengan masyarakat membangun desa melalui teknologi maupun potensi lokal yang ada di desa," ujarnya.
Ia berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan arahan pimpinan universitas sebagai bekal dalam menjalankan pengabdian. Dukungan dari pemerintah daerah, masyarakat, dan seluruh pihak juga diharapkan mampu memperlancar pelaksanaan KKN sehingga memberikan manfaat nyata bagi pembangunan desa di Kabupaten Wonogiri. (Sofyan)
Baca juga: PPMI Assalaam Gelar Jalan Sehat Keluarga, Syukuri 44 Tahun Pengabdian untuk Pendidikan Islam
Pendidikan
Mahasiswa DKV ISI Surakarta Hasilkan Beragam Desain Grafis Lewat Magang Berdampak 2026 di Rumah BUMN Solo
SOLO - majalahlarise.com – Tiga mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berhasil menghasilkan berbagai karya desain grafis selama mengikuti Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam) Skema Magang Tahun 2026 di Rumah BUMN Solo. Program yang berlangsung lebih dari empat bulan, mulai 10 Maret hingga 10 Juli 2026, menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan kompetensi desain komunikasi visual secara langsung di dunia kerja sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi kebutuhan publikasi lembaga.
Tiga mahasiswa yang mengikuti program tersebut adalah Naura Fasya Qonita, Widya Astuti, dan Athalya Saffa Nurjaman, seluruhnya merupakan mahasiswa angkatan 2023 DKV FSRD ISI Surakarta. Dalam pelaksanaan magang, masing-masing mahasiswa mendapatkan pendampingan akademik dari dosen pembimbing, yaitu Ana Rosmiati, Handriyotopo, dan Indriati Suci Pravitasari.
Selama menjalani magang, ketiga mahasiswa berperan sebagai desainer grafis yang mendukung berbagai kebutuhan komunikasi visual Rumah BUMN Solo. Mereka terlibat dalam pembuatan desain konten media sosial, poster kegiatan, materi publikasi visual, hingga mendukung dokumentasi dan penyebaran informasi berbagai aktivitas yang diselenggarakan di rumah kreatif yang berlokasi di kawasan Manahan, Solo.
Mentor magang Rumah BUMN Solo, S. Condro Rini, menjelaskan program tersebut merupakan implementasi pembelajaran mahasiswa di dunia kerja melalui pengembangan keterampilan praktis sesuai bidang keilmuan yang dipelajari di kampus.
"Skema magang ini menjadi salah satu bentuk implementasi pembelajaran mahasiswa di dunia kerja melalui pengembangan keterampilan praktis sesuai bidang keilmuan. Kehadiran mahasiswa DKV ISI Surakarta di Rumah BUMN Solo diharapkan mampu memberikan kontribusi positif melalui karya visual yang kreatif, komunikatif, dan informatif," ujarnya.
Melalui berbagai penugasan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman langsung dalam menerapkan strategi komunikasi visual di lingkungan profesional. Mereka tidak hanya mengasah kemampuan teknis desain, tetapi juga memahami bagaimana visual yang efektif mampu membangun citra lembaga serta menyampaikan informasi kepada masyarakat secara menarik dan mudah dipahami.
Selain memberikan pengalaman kerja praktis, Program Mahasiswa Berdampak Skema Magang juga membekali peserta dengan berbagai kompetensi pendukung, seperti profesionalitas, kerja sama tim, tanggung jawab, kedisiplinan, hingga kemampuan beradaptasi terhadap budaya kerja. Bekal tersebut diharapkan menjadi modal penting ketika mahasiswa memasuki industri kreatif setelah menyelesaikan studi.
Kolaborasi antara FSRD ISI Surakarta dan Rumah BUMN Solo menjadi bentuk sinergi antara dunia pendidikan dengan dunia industri dalam mencetak sumber daya manusia yang kreatif, adaptif, dan kompeten. Kerja sama ini juga membuka ruang bagi mahasiswa untuk menghasilkan karya yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi mitra tempat magang.
Salah seorang peserta magang, Athalya Saffa Nurjaman, mengaku program tersebut memberikan pengalaman berharga dalam mengembangkan kemampuan akademik sekaligus profesional.
"Keikutsertaan mahasiswa DKV FSRD ISI Surakarta dalam Program Mahasiswa Berdampak Skema Magang ini menjadi pengalaman yang sangat berharga untuk mendukung pengembangan kemampuan akademik maupun profesional. Program ini juga memperluas wawasan kami mengenai dunia kerja di bidang desain komunikasi visual," tuturnya.
Melalui Program Mahasiswa Berdampak 2026, mahasiswa DKV FSRD ISI Surakarta tidak hanya memperoleh pengalaman belajar di dunia kerja, tetapi juga menunjukkan kontribusi nyata melalui berbagai karya desain grafis yang mendukung aktivitas komunikasi dan publikasi Rumah BUMN Solo. Program ini menjadi bukti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan dunia industri dalam mencetak lulusan yang siap menghadapi tantangan industri kreatif. (Sofyan)
Baca juga: PPMI Assalaam Gelar Jalan Sehat Keluarga, Syukuri 44 Tahun Pengabdian untuk Pendidikan Islam
Berita
![]() |
| Ustaz Dwi Jatmiko, M.Pd., dalam Pengajian Subuh Barokah di Masjid Al Mukarromah, Minggu (2/8/2026). |
Pengajian Subuh Barokah Masjid Al Mukarromah Bahas Lima Fase Manusia dan Bekal Takwa
SOLO - majalahlarise.com – Setiap manusia akan melewati lima fase kehidupan yang menjadi pengingat untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan memperbanyak bekal takwa. Pesan tersebut disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, M.Pd., dalam Pengajian Subuh Barokah di Masjid Al Mukarromah, Minggu (2/8/2026).
Kegiatan diawali dengan doa bersama memohon kepada Allah SWT agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, serta kesembuhan dari segala penyakit. Suasana khusyuk mengiringi pembukaan pengajian sebelum jamaah diajak merenungkan hakikat perjalanan hidup manusia berdasarkan tuntunan Islam.
Mengawali tausiyahnya, Ustaz Dwi Jatmiko mengangkat tema "Lima Fase Manusia, Momentum Memperbanyak Bekal Takwa." Ia menjelaskan bahwa setiap manusia akan melewati lima tahapan kehidupan, yakni fase bayi, anak-anak, pemuda, dewasa, hingga lanjut usia.
"Manusia melewati lima fase kehidupan. Pertama fase bayi, kemudian anak-anak, dilanjutkan fase pemuda yang identik dengan semangat dan produktivitas. Setelah itu memasuki fase dewasa sekitar usia 40 tahun yang menuntut kematangan berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan," jelas Ustaz Dwi Jatmiko.
Ia menambahkan, fase terakhir adalah usia lanjut, yakni di atas 60 tahun. Pada masa tersebut, seseorang diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.
Menurutnya, pembagian fase kehidupan bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan menjadi pengingat agar manusia terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dalam keimanan, akhlak, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
"Semakin bertambah usia, semakin besar pula kewajiban untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian," ujarnya.
Dalam tausiyahnya, ia juga mengingatkan bahwa manusia kerap terlena oleh gemerlap kehidupan dunia. Kesibukan mengejar harta, jabatan, maupun berbagai urusan duniawi sering membuat seseorang merasa memiliki waktu yang panjang, padahal setiap manusia telah memiliki batas usia yang ditetapkan Allah SWT.
Ustaz Dwi Jatmiko kemudian mengutip Surah Al-A'raf ayat 34 yang menjelaskan bahwa setiap umat memiliki batas waktu kehidupan. Apabila ajal telah tiba, tidak seorang pun mampu menundanya ataupun mempercepatnya walau hanya sesaat.
Karena itu, ia mengajak seluruh jamaah menjadikan setiap fase kehidupan sebagai kesempatan memperbanyak amal kebajikan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan tersebut diperkuat melalui Surah Al-Baqarah ayat 197 yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal dalam perjalanan hidup adalah ketakwaan.
"Dengan bekal takwa, seorang Muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan dunia secara bijaksana sekaligus mempersiapkan diri menyongsong kehidupan yang kekal di akhirat," pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: PPMI Assalaam Gelar Jalan Sehat Keluarga, Syukuri 44 Tahun Pengabdian untuk Pendidikan Islam
![]() |
| Jalan Sehat Keluarga dalam rangka memperingati Milad ke-44 Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam. |
PPMI Assalaam Gelar Jalan Sehat Keluarga, Syukuri 44 Tahun Pengabdian untuk Pendidikan Islam
SUKOHARJO - majalahlarise.com – Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam menggelar Jalan Sehat Keluarga dalam rangka memperingati Milad ke-44 pada Ahad (2/8). Kegiatan yang diikuti lebih dari 3.000 peserta ini melibatkan santri, asatidz dan asatidzah, tenaga kependidikan, pegawai, serta keluarga besar PPMI Assalaam sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan panjang pesantren sekaligus mempererat ukhuwah di lingkungan Assalaam.
Jalan sehat menjadi salah satu agenda yang menyemarakkan peringatan milad dengan menghadirkan suasana kebersamaan dan kekeluargaan. Selain mendorong pola hidup sehat, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi bagi seluruh elemen pesantren yang selama ini bersama-sama mengabdikan diri dalam pengembangan pendidikan Islam.
Kepala Humas PPMI Assalaam, Hedonal Rumiyanto, M.Pd., menjelaskan jalan sehat merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Milad ke-44 yang telah dipersiapkan untuk melibatkan seluruh keluarga besar Assalaam.
"Jalan Sehat Keluarga merupakan salah satu rangkaian Milad ke-44 PPMI Assalaam. Selain kegiatan ini, masih ada Apel Akbar, seminar, penganugerahan Assalaam Award, serta berbagai kegiatan lainnya yang menjadi bagian dari peringatan milad tahun ini," ujar Hedonal.
Sekretaris PPMI Assalaam, Ust. Dr. Arkanudin Budiyanto, M.I.Kom., menjelaskan perjalanan 44 tahun PPMI Assalaam menjadi bukti konsistensi seluruh elemen pesantren dalam menghadirkan pendidikan Islam yang berkualitas. Menurutnya, capaian tersebut lahir dari sinergi para pendiri, asatidz dan asatidzah, tenaga kependidikan, para pemangku kepentingan, alumni, serta kepercayaan yang terus diberikan oleh santri dan wali santri selama lebih dari empat dekade.
"Empat puluh empat tahun perjalanan PPMI Assalaam merupakan amanah yang harus terus kami jaga. Kepercayaan masyarakat menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang berkarakter, berwawasan global, namun tetap berpijak pada nilai-nilai luhur pesantren," tutur Arkanudin.
PPMI Assalaam didirikan pada 7 Agustus 1982 oleh KH. Abdullah Marzuki bersama Hj. Siti Aminah Abdullah dan para sahabatnya dengan visi menghadirkan pendidikan Islam modern yang unggul. Berangkat dari keyakinan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu bersaing dengan institusi terbaik, Assalaam terus berkembang menjadi pesantren modern yang memadukan keunggulan akademik, penguatan karakter, serta nilai-nilai kepesantrenan.
Semangat tersebut diwujudkan melalui tema Milad ke-44, "Local Values, Global Standard." Tema ini mencerminkan komitmen PPMI Assalaam untuk terus menjaga nilai-nilai lokal dan tradisi pesantren sebagai fondasi pendidikan, sekaligus menghadirkan layanan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global. Melalui rangkaian kegiatan milad, PPMI Assalaam berharap semangat kebersamaan, pengabdian, dan inovasi terus menguat sehingga pesantren mampu memberikan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. (Sofyan)
Baca juga: SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Perdana 31 Ekstrakurikuler Tahun Ajaran 2026/2027
![]() |
| Murid saat mengikuti ekstrakurikuler sepatu roda. |
SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Perdana 31 Ekstrakurikuler Tahun Ajaran 2026/2027
Solo - majalahlarise.com - SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengawali pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) tahun ajaran 2026/2027 pada Sabtu (1/8/2026). Program pengembangan minat dan bakat tersebut diselenggarakan melalui dua skema, yakni weekend yang dilaksanakan setiap Sabtu dan weekday yang berlangsung setiap Senin–Jumat setelah kegiatan belajar mengajar selesai.
Koordinator Ekstrakurikuler SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Atit Nur Ariyanna, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran ini sekolah menyediakan 31 pilihan ekstrakurikuler yang dapat dipilih murid sesuai minat dan bakatnya. Sebanyak 20 cabang masuk dalam kategori weekend, sedangkan 11 cabang lainnya dilaksanakan pada skema weekday.
"Alhamdulillah, pelaksanaan ekstrakurikuler perdana berjalan dengan lancar. Anak-anak tampak sangat antusias mengikuti kegiatan sesuai bidang yang mereka pilih. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun karakter positif melalui aktivitas yang menyenangkan," ujarnya.
![]() |
| Murid saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler memanah. |
Adapun ekstrakurikuler weekday meliputi Coding Kelas II, III, IV, dan V, Robotik, Musik, Seni Membaca Al-Qur'an, Tari, English Club, Paduan Suara, serta Menggambar.
Sementara itu, ekstrakurikuler weekend terdiri atas Dance Modern, Basket, Public Speaking, Sains Club, Renang Putra, Renang Putri, Badminton, Panahan, Sepatu Roda, Tapak Suci, Fotografi, Cooking, Dokter Kecil, Futsal Kelas II–III, Futsal Kelas IV–V, Futsal Kelas VI, dan Futsal Putri.
Atit menambahkan, proses rekrutmen peserta dilakukan secara terbuka berdasarkan minat dan bakat murid. Sebelum menentukan pilihan, setiap murid diberikan kesempatan berdiskusi bersama orang tua agar ekstrakurikuler yang diikuti sesuai dengan potensi dan ketertarikan masing-masing.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kemuridan SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Muhamad Arifin, mengatakan bahwa penguatan program ekstrakurikuler menjadi salah satu indikator kinerja utama bidang kemuridan pada tahun ajaran 2026/2027. Melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, sekolah menargetkan setiap cabang ekstrakurikuler mampu melahirkan prestasi pada berbagai ajang perlombaan.
"Kami berkomitmen tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga mengembangkan bakat, karakter, dan potensi setiap murid agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berdaya saing, serta berprestasi di berbagai bidang. Melalui ekstrakurikuler inilah kami berharap lahir bibit-bibit juara yang akan mengharumkan nama sekolah pada berbagai kompetisi, baik di tingkat kota, provinsi, maupun nasional," ungkapnya.
Program ekstrakurikuler merupakan bagian dari komitmen SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo dalam memberikan layanan pendidikan yang holistik. Selain membentuk kompetensi akademik, sekolah juga mendorong pengembangan keterampilan, kepemimpinan, kreativitas, sportivitas, dan karakter Islami sehingga setiap murid memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya. (Sofyan)
Baca juga: Penerimaan Tamu Ambalan SMA Veteran 1 Sukoharjo 2026, Bentuk Pramuka Penegak Berkarakter Tangguh
Pendidikan
![]() |
| Ustadz Zaina Ashoml saat menyampaikan materi tausiah dilanjutkan doa bersama. |
PKBM Syifa Surakarta Bersholawat, Awali Tahun Ajaran Baru dengan Doa Cetak Generasi Ulul Albab
Surakarta - majalahlarise.com – PKBM Syifa Surakarta yang beralamat di Jl. Jamsaren No.44, Serengan, Kec. Serengan, Kota Surakarta, menggelar kegiatan Syifa Surakarta Bersholawat sebagai rangkaian pembukaan Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut diikuti orang tua, santri, warga belajar, serta tamu undangan. Suasana berlangsung khidmat melalui rangkaian acara yang meliputi gema musik Islami, sambutan, mahallul qiyam, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mauidhoh hasanah, hingga doa bersama sebagai ikhtiar memohon keberkahan dalam mengawali proses pembelajaran selama satu tahun ke depan.
Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kajian rutin yang sekaligus menjadi pembukaan akademik tahun pelajaran baru. Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun semangat spiritual seluruh warga belajar sebelum memasuki proses pendidikan.
"Kegiatan ini sudah memasuki tahun kedua. Harapan kami, tahun ajaran baru ini menjadi lebih berkah bagi kita semua. Kami juga mohon bimbingan dan doa agar PKBM Syifa semakin membawa manfaat," ujar Puri.
Ia menjelaskan, doa bersama menjadi bagian penting dalam mengawali perjalanan pendidikan agar seluruh proses pembelajaran berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi peserta didik maupun lembaga. Menurutnya, pendidikan tidak hanya dimulai dengan kesiapan akademik, tetapi juga dengan memperkuat ikhtiar spiritual melalui kebersamaan dan doa.
Dalam kesempatan tersebut, Puri juga memperkenalkan PKBM Syifa sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Selain itu, PKBM Syifa mengelola delapan pondok pesantren yang tersebar di wilayah Solo Raya sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis karakter dan nilai-nilai keislaman.
"Kami mengelola delapan pondok pesantren se-Solo Raya. Untuk kegiatan ini kami masih meminta bantuan Pondok Pesantren Al-Muayyad, meskipun beberapa santri kami juga ikut bergabung," jelasnya.
Menurut Puri, kolaborasi dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad masih terus dilakukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan. Kehadiran para santri dari berbagai pondok pesantren di bawah naungan PKBM Syifa menjadi wujud sinergi dalam membangun lingkungan pendidikan yang religius sekaligus memperkuat ukhuwah antarwarga belajar.
Lebih lanjut, Puri menjelaskan tujuan utama pendidikan di PKBM Syifa bukan hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, melainkan juga membentuk karakter yang kuat sehingga mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Harapan kami nanti peserta didik kami itu menjadi lebih cerdas, lebih terampil, dan berakhlak, yang menjadi salah satu tujuan dari pendidikan yang kita laksanakan ke depannya," ungkapnya.
Sementara itu, dalam tausiah yang dilanjutkan doa bersama, Ustadz Zainal Ashom menjelaskan pendidikan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberhasilannya membentuk calon pemimpin yang memiliki akhlak, integritas, dan karakter yang kuat.
Ia menjelaskan Al-Qur'an telah memberikan pedoman mengenai sosok generasi terbaik melalui konsep ulul albab sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran. Generasi ulul albab merupakan insan yang paripurna atau insan kamil yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional.
"Generasi terbaik umat ini adalah generasi ulul albab. Generasi ulul albab ini generasi yang paripurna atau biasa disebut dengan istilah insan kamil," tutur Ustadz Zainal Ashom.
Menurutnya, generasi ulul albab dibentuk melalui kebiasaan berzikir kepada Allah sebagai wujud kecerdasan spiritual, kemampuan berpikir kritis sebagai bentuk kecerdasan intelektual, serta sikap tawaduk dan kebijaksanaan sebagai cerminan kecerdasan emosional. Ketiga aspek tersebut harus ditanamkan sejak dini agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang utuh.
"Menjadi orang-orang yang ahli pikir, ahli zikir, dan orang-orang yang tawaduk, atau menjadi orang-orang yang punya kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional," jelasnya.
Di akhir tausiahnya, Ustadz Zainal Ashom berharap seluruh lembaga pendidikan, termasuk PKBM Syifa Surakarta, terus memperoleh keberkahan dalam menjalankan misinya mencetak generasi ulul albab. Ia meyakini penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam proses pendidikan akan melahirkan generasi berkarakter yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, damai, dan penuh keberkahan.
"Insya Allah, jika kita mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur'an ini, Indonesia akan menjadi Indonesia yang baldatun, dan mudah-mudahan lembaga pendidikan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang ulul albab," pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: Penerimaan Tamu Ambalan SMA Veteran 1 Sukoharjo 2026, Bentuk Pramuka Penegak Berkarakter Tangguh
Artikel Pengembangan Profesi
Simbiosis Mutualisme Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Daerah, Sekolah, dan Kampus dengan Media Cetak dan Digital sebagai Sumber Literasi Ratulisa
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
“Aku menulis berarti aku hidup, aku membaca berarti aku mengerti, dan aku berbagi berarti aku bahagia menyapa dunia dengan rajutan kata”
Perpustakaan memiliki peran penting sebagai sumber informasi, baik cetak dan noncetak bagi pemustaka. Perpustakaan ada di setiap lembaga pemerintah dan nonpemerintah, baik pendidikan dasar, perguruan tinggi, lembaga, dan badan, baik konvensional maupun digital. Berbicara masalah perpustakaan tentu kita tidak dapat melepaskan pada fungsi media cetak dan digital sebagai sumber informasi dan pembelajaran bagi peserta didik dan masyarakat umum agar melek literasi cetak dan digital. Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan kampus harus dapat terjadi symbiosis multualisme dengan media cetak dan digital sebagai sembur literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi multigenerasi Indonesia.
Perpustakaan dan media cetak memiliki fungsi yang hampir sama, yakni menyebarkan informasi, sumber layanan informasi, dan sumber belajar bagi peserta didik dan Masyarakat di seluruh Indonesia. Terkait dengan hal tersebut maka fungsi perpustakaan dan media cetak harus dapat diintegrasikan sebagai bentuk penguatan pusat sumber informasi dan belajar. Selain itu, perpustakaan dan media cetak harus memiliki kerja sama untuk menyebarkan informasi kepada peserta didik dan masyarakat umum secara terintegratif agar tidak mudah tertipu oleh informasi yang tidak valid atau hoaks.
Merujuk paparan di atas, dapat diperhatikan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (https://jdih.perpusnas.go.id/file_peraturan/UU_No._43_Tahun_2007_tentang_Perpustakaan_.pdf) pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya dijelaskan pada ayat (2) bahwa koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Sementara itu, daya dukung perpustakaan adalah pustakawan. Dengan demikian, perpustakaan memiliki fungsi simbiosis mutualisme atara perpustakaan dengan media cetak dan digital sebagai pusat sumber belajar dan informasi bagi seluruh civitas akademika untuk meningkatkan budaya baca bagi masyarakat.
Mendekatkan Perpustakaan dengan Masyarakat, baik di Sekolah dan Kampus
Perpustakaan harus menjadi media pembelajaran dan sumber literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi masyarakat pendidikan di Indonesia. Hal ini dilihat dari peran penting dan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, koleksi, informasi. Oleh karena itu, perpustakaan harus didekatkan kepada masyarakat pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia. Terkait dengan hal tersebut, pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia perpustakaan sebagai pustakawan dan ujung tombak pelayanan perpustakaan harus dioptimalkan. Dengan demikian, kedekatan informasi, lembaga, dan fungsi koleksi serta menginformasikan dapat dijalankan seutuhnya oleh para pustakawan dan staf administrasi di perpustakaan.
Terkait dengan hal tersebut, UU Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (8) menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Sementara itu pada ayat (9) pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Lebih lanjut ayat (10) dijelaskan mengenai bahan perpustakaan adalah semua hasil karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam. Terkait dengan ini para pemustaka adalah peserta didik di sekolah formal dan nonformal. Dijelaskan lebih lanjut pada ayat (11) bahwa masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang atau lembaga yang berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perpustakaan. Merujuk penjelasan di atas, dapat ditegaskan bahwa keberadaan perpustakaan sangat diperlukan oleh pemustaka, peserta didik, dan masyarakat umum sebagai sumber ilmu dan pengetahuan secara berkelanjutan dan sekaligus sebagai media rekreasi baca di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sekolah, dan masyarakat.
Dengan demikian semua instansi yang memiliki perpustakaan, baik jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, maupun lembaga pemerintah dan nonpemerintah harus mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat pendidikan sebagai pusat sumber belajar bagi peserta didik dan masyarakat umum. Kedekatan masyarakat dengan perpustakaan akan sangat berarti untuk meningkatkan dan membiasakan budaya baca masyarakat Indonesia.
Peran Perpustaakan Nasional Republik Indonesia sebagai Rujukan Nasional
Perpustakaan memiliki aneka referensi, koleksi, dan layanan yang bervariasi. Namun demikian, tidak semua perpustakaan memiliki koleksi lengkap dan layanan yang sesuai dengan harapan para pengunjungnya. Oleh karena itu, pemerintah memfungsikan perpustakaan nasional RI sebagai rujukan nasional sebagai pusat sumber belajar dan informasi bagi masyarakat. Dengan demikian, integrasi perpustakaan sebagai sumber informasi bagi peserta didik dan masyarakat umum dapat terealisasi.
Berbicara masalah peran penting perpustakaan sebagai sumber belajar bagi peserta didik dan masyarakat diperlukan simbiosis mutualisme antara perpustakaan dengan media cetak dan perpustakaan nasional RI sebagai rujukan nasional. Selaras dengan pemikiran di atas, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dijelaskan pada bab I pasal 1 ayat (7) perpustakaan nasional adalah lembaga pemerintah non-kenegaraan yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jejaring perpustakaan serta berkedudukan di ibukota negara. Kemudian ayat (8) dijelaskan perpustakaan provinsi adalah perpustakaan daerah yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, dan perpustakaan pelestarian yang berkedudukan di ibukota provinsi. Lebih lanjut dijelaskan pada ayat (9) perpustakaan kabupaten/kota adalah perpustakaan daerah yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan penelitian, dan perpustakaan pelestarian yang berkedudukan di ibukota kabupaten/kota. Merujuk paparan di atas, peran penting perpustakaan nasional sebagai rujukan nasional dan Pembina perpustakaan umum daerah dan pendidikan sangat diperlukan dalam konteks integrasi perpustakaan dengan media cetak sebagai sumber informasi dan sumber belajar bagi peserta didik dengan masyarakat umum.
Masyarakat Harus Cerdas dan Pandai untuk Menjadi Guru di Keluarga
Kekuatan sebuah bangsa bergantung pada kompetensi sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, masyarakat juga berhak untuk menentukan masa depan bangsanya melalui pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, dalam bab II bagian kesatu pasal 5 Ayat (1) UU Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa masyarakat mempunyai hak yang sama untuk: (1) memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan, (2) mengusulkan keanggotaan dewan perpustakaan, (3) mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan, (4) berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan. Selanjutnya pada ayat (2) dijelaskan bahwa masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. Sementara itu, pada ayat (3) dijelaskan bahwa masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelekstual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Dengan demikian, peran penting pemerintah adalah mengoptimalkan kinerja para pustakawan dan melengkapi sarana dan prasarana yang dimiliki untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pustaka ilmiah.
Merujuk paparan tersebut, antara hak dan kewajiban masyarakat terhadap perpustakaan perlu diimbangkan, maka perlu dijelaskan mengenai kewajiban masyarakat. Berdasarkan UU Nomor 43 Tahun 2007 pasa 6 ayat (1) dijelaskan bahwa masyarakat berkewajiban: (1) menjaga dan memelihara kelestarian koleksi perpustakaan, (2) menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno yang dimilikinya dan mendaftarkannya ke perpustakaan nasional, (3) menjaga kelestarian dan keselamatan sumber daya perpustakaan di lingkungannya, (4) mendukung upaya penyediaan fasilitas layanan perpustakaan di lingkungannya, (5) mematuhi seluruh ketentuan dan peraturan dalam pemanfaatan fasilitas perpustakaan, dan (6) menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan lingkungan perpustakaan. Dengan demikian, diperlukan sosialisasi dan pemahaman fungsi perpustakaan kepada masyarakat sebagai sumber belajar dan rekreasi pustaka.
Selaras dengan hal tersebut, pemerintah juga berkewajiban untuk memberikan fasilitas ruang baca kepada seluruh masyarakat. Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 7 ayat (1) yang menjelaskan bahwa pemerintah berkewajiban (1) mengembangkan sistem nasional perpustakaan sebagai upaya mendukung sistem pendidikan nasional, (2) menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, (3) menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air, (4) menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan (translasi), alih aksara (transliterasi), alih suara ke tulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia), (5) menggalakkan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan, (6) meningkatkan kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan, (7) membina dan mengembangkan kompetensi profesionalitas pustakawan, dan tenaga teknis perpustakaan, (8) mengembangkan perpustakaan secara berkelanjutan.
Selaras dengan paparan tersebut, sesuai dengan pasal 8 UU Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota berkewajiban: (1) menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di daerah, (2) menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di wilayah masing-masing, (3) menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, (4) menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan perpustakaan, (5) memfasilitasi penyelenggaraan perpustakaan di daerah, dan (6) menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasarkan kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah di wilayahnya. Dengan demikian, pemerintah pusat dan daerah harus berkerja sama dalam rangka mempromosikan gemar membaca bagi peserta didik dan masyarakat sehingga dapat mewujudkan cita-cita Indonesia untuk masyarakat cerdas dan pandai.
Merujuk paparan di atas, apabila simbiosis mutualisme antara perpustakaan dengan media cetak dan digital dapat terwujud maka setiap masyarakat Indonesia dapat menjadi guru bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya. Persaingan global mengharuskan kita memiliki sumber daya manusia yang unggul dan terampil dalam berbagai bidang sehingga dapat bersaing dan berdaya sanding di tingkat nasional dan internasional. Komitmen orang tua, guru, dosen, masyarakat, dan pemerintah harus dapat menjadi teladan dan contoh untuk terus belajar dan membelajarkan diri untuk terus berliterasi dengan Arfuzh Ratulisa bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) sepanjang masa dengan simbiosis mutualisme sumber literasi cetak dan digital dalam multikonteks kehidupan secara komprehensif dan berkelanjutan.
“Bergerak dan belajar untuk terus ikut serta berpartisipasi dan berliterasi dengan Ratulisa akan dapat mengantarkan diri untuk menjadi manusia hebat yang bermanfaat dan maslahat untuk umat sepanjang hayat”
Istana Arfuzh Ratulisa dan diklisa Surakarta, 1 Agustus 2026
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
Bupati dan wakil bupati Boyolali Agus Irawan dan Dwi Fajar saat berdoa acara slup slupan. Bupati dan Wakil Bupati Boyolali Agus Irawan dan D...











