Memuliakan Anak, Menghidupkan Kelas

    SOLO – majalahlarise.com – Sekolah tidak sekadar menjadi tempat untuk menyampaikan materi pelajaran. Lebih dari itu, sekolah perlu menjadi ruang yang mampu memuliakan murid, menghadirkan pembelajaran bermakna, serta menghidupkan setiap proses belajar sesuai dengan kebutuhan dan realitas kehidupan anak.

    Semangat tersebut terus dikembangkan SD Muhammadiyah 1 Solo yang kini memasuki usia ke-91 tahun. Melalui wadah Kelompok Belajar (Kombel), para pendidik secara konsisten merumuskan berbagai strategi untuk meningkatkan mutu pembelajaran sekaligus membangun ekosistem pendidikan yang humanis.

    Staf Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Martono Lanjar Sari, menjelaskan penguatan budaya saling memuliakan menjadi salah satu fokus sekolah selama Agustus 2026. Guru dan murid didorong membangun relasi pembelajaran yang dilandasi sikap saling menghargai.

    “Kita ingin melahirkan suasana kelas yang humanis, relevan, dan benar-benar hadir untuk mendukung tumbuh kembang anak-anak,” ujar Sri Martono Lanjar Sari, Selasa (1/9/2026).

    Menurutnya, pembelajaran yang humanis tidak berhenti pada terciptanya suasana kelas yang nyaman. Materi yang diberikan juga perlu memiliki keterkaitan dengan kehidupan nyata agar anak mampu memahami manfaat ilmu yang dipelajarinya.

    “Sepanjang bulan ini, fokus penuh diarahkan untuk menguatkan sikap saling menghargai antara guru dan murid,” bebernya.

    Pada saat yang sama, materi pelajaran dirancang agar dekat dengan dunia anak. Setiap konsep pembelajaran diupayakan memiliki konteks yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari sehingga proses belajar tidak terasa terpisah dari pengalaman peserta didik.

    “Setiap materi pelajaran selalu kita kaitkan dengan realitas kehidupan nyata anak-anak,” urainya.

    Pendekatan tersebut menjadi bagian dari komitmen sekolah dalam membangun ekosistem belajar yang humanis. Anak tidak hanya diarahkan mengejar capaian akademik, tetapi juga dikembangkan menjadi pribadi yang memiliki karakter, mampu merefleksikan pengalaman belajar, serta memiliki semangat untuk terus belajar sepanjang hayat.

    Dari Ketelan, Surakarta, ikhtiar tersebut terus dirajut melalui penguatan pembelajaran secara bertahap. Kurikulum sekolah dirancang mulai dari tahapan Pra-Berkembang hingga mencapai Tahapan Unggul. Proses tersebut dilakukan dengan memperhatikan perkembangan kompetensi dan kebutuhan peserta didik.

    Penguatan pembelajaran mendalam juga dipadukan dengan pengenalan koding dan kecerdasan artifisial (AI). Integrasi tersebut diarahkan agar peserta didik tidak sekadar mengenal teknologi, tetapi mampu memahami, menggunakan, dan menyikapinya secara bijak sesuai perkembangan zaman.

    Pada tahap akhir, SD Muhammadiyah 1 Solo menargetkan terbentuknya ekosistem pembelajaran yang inovatif, reflektif, dan memberikan dampak lebih luas kepada masyarakat. Satuan pendidikan diharapkan berkembang menjadi pusat praktik baik sekaligus rujukan dalam penguatan etika digital dan inovasi teknologi pendidikan.

    “Optimalisasi pembelajaran mendalam dan asesmen holistik. Penguatan kemitraan dengan orang tua, komunitas, dan dunia kerja. Pengembangan projek koding & AI secara menyeluruh dan berkelanjutan,” pungkasnya.

    Upaya tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang SD Muhammadiyah 1 Solo dalam merespons perubahan dunia pendidikan. Di tengah perkembangan teknologi dan tuntutan kompetensi masa depan, sekolah berupaya memastikan transformasi pembelajaran tetap berpijak pada nilai kemanusiaan: menghargai anak, memahami kebutuhannya, dan memberikan ruang bagi setiap murid untuk tumbuh serta berkembang secara optimal. (Sofyan)


    Baca juga: Bulan Agustus, SD Muhammadiyah 1 Solo Borong 62 Prestasi Tingkat Kota hingga Nasional

    Penekanan tombol sirine oleh Rektor dan Ketua Yayasan Perguruan Slamet Riyadi didampingi Wakil Rektor tandai dibukanya PKKMB 2026.


    1.535 Mahasiswa Baru Ikuti Pembukaan PKKMB UNISRI 2026, Giant Flag Riyadi Muda Berkibar

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta resmi membuka kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2026 di Auditorium UNISRI, Rabu (2/9/2026). Pembukaan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut ditandai dengan pengibaran Giant Flag Riyadi Muda berukuran 20 x 10 meter, sekaligus menjadi momentum awal 1.535 mahasiswa baru memulai perjalanan akademiknya di perguruan tinggi.

    Rektor UNISRI Surakarta, Prof. Dr. Sutoyo, dalam sambutannya menjelaskan PKKMB merupakan perubahan paradigma dari kegiatan OSPEK yang pada masa lalu identik dengan orientasi dan perpeloncoan. 

    "Melalui PKKMB, mahasiswa baru dikenalkan dengan kehidupan kampus secara lebih positif, mulai dari bidang akademik, kemahasiswaan hingga berbagai aktivitas nonakademik," ujar Prof. Dr. Sutoyo.

    Ia menegaskan, selama pelaksanaan PKKMB tidak diperbolehkan adanya kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik, verbal maupun psikologis. Mahasiswa baru akan mendapatkan pembekalan mengenai administrasi, aktivitas kemahasiswaan, layanan kampus hingga peta jalan perkuliahan menuju kelulusan.

    Pengibaran Giant Flag Riyadi Muda berukuran 20 x 10 meter.


    Menurut Prof. Sutoyo, pembekalan tersebut penting agar mahasiswa memiliki arah yang jelas selama menempuh pendidikan. Dengan memahami sistem akademik dan berbagai layanan kampus sejak awal, mahasiswa diharapkan tidak kebingungan dalam menjalani proses perkuliahan.

    Selain akademik, mahasiswa baru juga diingatkan mengenai kedisiplinan dan kerapian. UNISRI memiliki kebijakan maksimal empat tahun untuk menyelesaikan studi. Kebijakan tersebut didukung oleh capaian sejumlah mahasiswa yang mampu menyelesaikan pendidikan sekitar tiga tahun enam bulan.

    “Kami berharap mahasiswa baru mengikuti jejak kakak tingkat yang bisa menyelesaikan studi tepat waktu. Mari kita bersama-sama mengatakan, ‘Saya siap empat tahun lulus’,” tegasnya.

    Sutoyo juga meminta mahasiswa menjaga komunikasi dengan pimpinan fakultas maupun program studi. Menurutnya, mahasiswa merupakan amanah yang dipercayakan orang tua kepada universitas. Karena itu, UNISRI berkomitmen memberikan kenyamanan, keamanan, kepastian studi, serta layanan yang setara kepada seluruh mahasiswa.

    Sementara itu, Ketua Panitia PKKMB UNISRI 2026, Kris Agung, S.Kom., M.Kom., dalam laporannya mengatakan PKKMB menjadi awal perjalanan mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus, bertemu orang-orang baru, menghadapi tantangan, sekaligus menemukan potensi diri.

    “PKKMB menjadi langkah awal untuk memperkenalkan kehidupan perguruan tinggi, baik dari sisi akademik maupun kemahasiswaan, sehingga mahasiswa baru memiliki gambaran dan bekal untuk menjalani masa studi,” jelas Kris Agung.

    PKKMB UNISRI 2026 mengusung tema “Bright Mind, Brave Action, Tumbuh, Berkarya, Berdampak”. Tema tersebut menjadi semangat untuk membentuk mahasiswa yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga berani mengambil langkah serta mewujudkan gagasan melalui tindakan nyata.

    Kegiatan PKKMB diikuti 1.535 mahasiswa baru selama enam hari dan terbagi dalam dua sesi, yakni 2–4 September 2026 serta 7–9 September 2026. Beragam materi disiapkan, antara lain pendidikan tinggi di Indonesia, kegiatan akademik, tata kelola perguruan tinggi, nilai budaya, tata krama dan etika keilmuan, organisasi kemahasiswaan, layanan mahasiswa, personal branding, motivasi, anti-narkoba, wawasan kebangsaan dan bela negara.

    Mahasiswa juga mendapatkan materi mengenai bahaya judi dan pinjaman online serta gerakan green living melalui pengabdian masyarakat bertema urban farming. Rangkaian materi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkembang secara akademik sekaligus memiliki kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.

    Semarak pembukaan PKKMB semakin terasa melalui aksi dan atraksi ketangkasan mahasiswa UKM Taekwondo serta penampilan tarian dari mahasiswa UKM Lokapala. Pengibaran Giant Flag Riyadi Muda berukuran 20 x 10 meter menjadi salah satu momen utama yang menandai dimulainya rangkaian PKKMB 2026.

    Kris Agung mengajak seluruh mahasiswa baru tidak takut mencoba, gagal maupun mengambil kesempatan. Menurutnya, perkuliahan bukan sekadar proses menemukan jawaban, tetapi juga perjalanan untuk mengenali dan mengembangkan diri.

    “Jangan takut mencoba, jangan takut gagal, dan jangan takut mengambil kesempatan. Jadilah pribadi yang mampu memberi arti, terus bertumbuh, berkarya, dan memberikan dampak,” pesannya.

    Dengan semangat “Bright Mind, Brave Action, Tumbuh, Berkarya, Berdampak”, mahasiswa baru Riyadi Muda diharapkan memulai perjalanan perkuliahan dengan pikiran terang, hati terbuka dan keberanian untuk bertindak. Hari pertama PKKMB pun menjadi langkah awal untuk membangun pengalaman sekaligus cerita bermakna selama menempuh pendidikan di UNISRI. (Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, PMI Kota Surakarta Sambut Mahasiswa Sekolah Keperawatan Palang Merah Jepang



    Perkuat Kerja Sama Internasional, PMI Kota Surakarta Sambut Mahasiswa Sekolah Keperawatan Palang Merah Jepang

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta menerima kunjungan delegasi dan mahasiswa Sekolah Keperawatan Palang Merah Jepang atau Japanese Red Cross College of Nursing, Senin (31/8/2026). Kunjungan kerja dan studi banding tersebut berlangsung selama tiga hari dengan agenda utama memperkuat hubungan antar lembaga kemanusiaan sekaligus menjadi ruang pertukaran pengetahuan dan pengalaman di bidang pelayanan kesehatan.

    Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun jejaring dan kerja sama internasional antara PMI Kota Surakarta dengan Palang Merah Jepang. Para mahasiswa dan delegasi dari Jepang mendapatkan kesempatan untuk mengenal secara langsung sistem pelayanan kesehatan dan kegiatan kemanusiaan yang dijalankan PMI Kota Surakarta.

    Selama kunjungan, delegasi diajak meninjau sejumlah fasilitas utama PMI Kota Surakarta. Di antaranya Unit Donor Darah (UDD), fasilitas pelayanan kesehatan, serta Markas PMI Kota Surakarta. Melalui kunjungan lapangan tersebut, para peserta dapat melihat secara langsung aktivitas operasional, pelayanan kepada masyarakat, pengelolaan donor darah, hingga kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana.

    Ketua PMI Kota Surakarta, Sumartono Hadinoto, mengatakan kunjungan tersebut menjadi momentum penting untuk saling belajar antara Indonesia dan Jepang, khususnya dalam bidang pelayanan kesehatan serta kegiatan kemanusiaan.

    "Selama tiga hari ini, kami saling berbagi pengalaman dan sistem pelayanan kesehatan. Kami berharap hasil dari pertukaran ilmu ini dapat diimplementasikan untuk meningkatkan kualitas pelayanan PMI Kota Surakarta. Sebaliknya, kami juga berharap rekan-rekan dari Palang Merah Jepang dapat membawa pulang pengalaman dan pembelajaran positif dari sini," ujar Sumartono.

    Menurutnya, kerja sama internasional tidak hanya berkaitan dengan kunjungan kelembagaan, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk memperoleh perspektif baru dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Perbedaan sistem, karakteristik masyarakat, serta tantangan di masing-masing negara menjadi bahan pembelajaran yang berharga bagi kedua pihak.

    Selain pemaparan materi dan studi lapangan, rangkaian kegiatan diisi diskusi interaktif. Topik yang dibahas antara lain perbedaan tantangan pelayanan kesehatan di Indonesia dan Jepang, pengelolaan relawan, pelayanan donor darah, serta berbagai inovasi yang dapat dikembangkan dalam mendukung kegiatan kemanusiaan.

    Interaksi antara mahasiswa keperawatan Jepang dengan jajaran PMI Kota Surakarta juga memberikan ruang bagi peserta untuk memahami praktik pelayanan kesehatan dari perspektif yang berbeda. Pertukaran pengalaman tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan kunjungan, tetapi dapat berkembang menjadi kerja sama yang lebih berkelanjutan.

    PMI Kota Surakarta juga membuka peluang kerja sama balasan dengan Palang Merah Jepang sebagai bagian dari upaya membangun hubungan kemanusiaan lintas negara. Kerja sama tersebut diharapkan dapat mencakup berbagai bidang yang relevan, mulai dari peningkatan kapasitas sumber daya manusia, pelayanan kesehatan, donor darah, kerelawanan, hingga penanggulangan bencana.

    Kunjungan mahasiswa Sekolah Keperawatan Palang Merah Jepang menjadi momentum bagi PMI Kota Surakarta untuk memperluas wawasan sekaligus memperkenalkan praktik pelayanan kemanusiaan yang dilakukan di tingkat daerah.

    Melalui pertukaran pengalaman tersebut, kedua pihak diharapkan dapat saling mengambil pembelajaran positif dan mengembangkan inovasi pelayanan. Sinergi yang terbangun juga diharapkan terus berlanjut sehingga kerja sama PMI Kota Surakarta dan Palang Merah Jepang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat serta memperkuat kontribusi kedua lembaga dalam bidang kemanusiaan. (Sofyan)


    Baca juga: Bulan Agustus, SD Muhammadiyah 1 Solo Borong 62 Prestasi Tingkat Kota hingga Nasional



    Cegah Stunting dan Pernikahan Dini, Mahasiswa KKN UNS Gelar Program SEHATI di SMPN 2 Ngadirojo

    WONOGIRI – majalahlarise.com – Upaya pencegahan stunting dan pernikahan usia anak terus didorong melalui edukasi sejak usia remaja. Hal tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Kelompok 273 melalui program SEHATI (Sehatkan Generasi, Hindari Stunting dan Pernikahan Dini) di SMP Negeri 2 Ngadirojo, Desa Ngadirojo Lor, Kabupaten Wonogiri, Selasa (21/7/2026).

    Kegiatan tersebut menyasar 126 siswa-siswi kelas IX. Edukasi dirancang secara interaktif agar siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan, tetapi juga memahami hubungan antara pola hidup sehat, kesehatan reproduksi, kesiapan menikah, dan pencegahan stunting.

    Stunting dan pernikahan usia anak masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pencegahan stunting tidak dapat hanya dilakukan ketika seseorang sudah menjadi orang tua. Intervensi perlu dilakukan sejak remaja sebagai calon orang tua di masa depan.

    Melalui program SEHATI, mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 berupaya memperkenalkan pemahaman tersebut kepada siswa SMP. Remaja didorong untuk memiliki kesadaran menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi, menghindari perilaku berisiko, melanjutkan pendidikan, serta mempersiapkan masa depan sebelum memasuki jenjang pernikahan.

    “Pencegahan stunting perlu dimulai dari hulu. Remaja merupakan calon orang tua sehingga mereka perlu dibekali pengetahuan mengenai gizi, kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, dan kesiapan dalam membangun keluarga,” jelas ketua tim KKN UNS Kelompok 273, Benediktus Bagus Nugroho Saputra.

    Hubungkan Stunting dengan Pernikahan Dini

    Program SEHATI mengangkat isu stunting dan pernikahan dini dalam satu rangkaian edukasi. Pendekatan tersebut dilakukan karena kedua persoalan memiliki keterkaitan dengan kesiapan seseorang dalam membangun keluarga.

    Pernikahan pada usia terlalu muda dapat menghadapkan remaja pada berbagai persoalan. Selain belum siap secara psikologis dan ekonomi, remaja juga dapat menghadapi persoalan kesehatan reproduksi, termasuk risiko anemia dan kehamilan berisiko ketika memasuki masa kehamilan pada usia yang belum matang.

    Ketidaksiapan tersebut dapat berpengaruh terhadap kemampuan pasangan muda dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi keluarga. Karena itu, siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya merencanakan masa depan, menyelesaikan pendidikan, serta menunda pernikahan sampai memiliki kesiapan yang memadai.

    Materi juga memberikan perhatian khusus kepada remaja putri. Pencegahan anemia menjadi salah satu bagian penting karena kondisi kesehatan remaja putri berkaitan dengan kesiapan mereka dalam memasuki fase kehidupan berikutnya.

    Gandeng Forum GenRe Kabupaten Wonogiri

    Untuk memperkuat materi dan pendekatan kepada peserta, mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 menggandeng Forum Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Wonogiri.

    Edukasi disampaikan oleh dua figur Duta GenRe Kabupaten Wonogiri 2025, yakni Nazahra Dhafin Shafa, Juara 3 Duta GenRe 2025, dan Monita Pradhipta Salma, Juara Favorit Duta GenRe 2025.

    Kehadiran Duta GenRe diharapkan membuat penyampaian materi lebih dekat dengan karakter peserta yang berada pada usia remaja. Bahasa yang komunikatif dipadukan dengan aktivitas interaktif sehingga siswa tidak hanya menjadi pendengar.

    Sejumlah materi yang diberikan mencakup gizi seimbang, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kesehatan reproduksi, pentingnya pematangan usia pernikahan, serta pencegahan anemia pada remaja putri.

    Peserta juga diberi ruang untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Sesi games interaktif serta diskusi kelompok berhadiah digunakan untuk membangun suasana belajar yang lebih menarik.

    “Pendekatan interaktif kami gunakan agar siswa lebih mudah menerima materi. Kami ingin mereka tidak sekadar mengetahui istilah stunting atau pernikahan dini, tetapi memahami dampaknya dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik untuk masa depan,” ungkap tim pelaksana.

    Siswa Awalnya Pasif, Diatasi dengan Games

    Pelaksanaan kegiatan tidak sepenuhnya berjalan tanpa kendala. Pada awal kegiatan, sebagian siswa masih terlihat pasif dan belum banyak berpartisipasi dalam sesi diskusi.

    Tim KKN kemudian melakukan penyesuaian metode dengan memasukkan games interaktif dan diskusi kelompok yang disertai hadiah. Strategi tersebut secara bertahap mendorong siswa untuk lebih berani menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat.

    Kendala teknis juga muncul pada tahap evaluasi. Tim sebelumnya merencanakan pelaksanaan post-test menggunakan Google Form. Namun, aturan sekolah melarang siswa membawa telepon genggam sehingga evaluasi berbasis perangkat digital tidak dapat dilakukan.

    Kondisi tersebut tidak menghambat evaluasi. Tim KKN UNS segera mengganti metode dengan menggunakan lembar soal cetak secara manual.

    Perubahan metode tersebut memungkinkan seluruh peserta tetap mengikuti evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman mereka setelah memperoleh materi SEHATI.

    102 Siswa Lulus Indikator Keberhasilan

    Hasil evaluasi menunjukkan capaian positif. Dari 126 siswa yang mengikuti kegiatan, nilai rata-rata post-test mencapai 85,24.

    Sebanyak 102 siswa atau 80,95 persen berhasil memperoleh nilai di atas kriteria batas keberhasilan, yakni lebih dari 80. Sementara itu, 10 siswa berhasil mendapatkan nilai sempurna 100.

    Capaian 80,95 persen tersebut melampaui target awal indikator keberhasilan program yang ditetapkan sebesar 80 persen.

    Data tersebut menjadi salah satu indikator bahwa materi yang diberikan melalui program SEHATI dapat dipahami sebagian besar peserta. Metode edukasi yang memadukan penyampaian materi, games, diskusi, dan evaluasi juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan keterlibatan siswa.

    “Dari hasil post-test, rata-rata nilai peserta mencapai 85,24 dan 102 siswa atau 80,95 persen melampaui batas keberhasilan. Capaian ini melebihi target yang ditetapkan sehingga menjadi evaluasi positif bagi pelaksanaan program,” jelas tim KKN UNS Kelompok 273.

    Edukasi sebagai Investasi Generasi Masa Depan

    Program SEHATI tidak diarahkan hanya sebagai kegiatan edukasi satu kali. Mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat menjadi bekal dalam mengambil keputusan terkait kesehatan dan masa depan.

    Remaja diharapkan mampu memahami pentingnya menjaga pola makan bergizi, menerapkan PHBS, mencegah anemia, menjaga kesehatan reproduksi, serta menghindari keputusan menikah pada usia yang belum matang.

    Selain itu, siswa didorong untuk memprioritaskan pendidikan dan pengembangan diri. Penyelesaian pendidikan dipandang sebagai salah satu modal penting bagi remaja untuk mempersiapkan kehidupan keluarga dan masa depan secara lebih baik.

    Dukungan SMP Negeri 2 Ngadirojo menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kolaborasi antara mahasiswa KKN, sekolah, dan Forum GenRe menunjukkan perlunya sinergi berbagai pihak dalam memberikan edukasi kesehatan kepada generasi muda.

    Bagi mahasiswa KKN UNS, keterlibatan remaja dalam program pencegahan stunting menjadi langkah strategis. Edukasi yang diberikan sejak bangku SMP diharapkan dapat membentuk pola pikir dan kebiasaan sehat sebelum mereka memasuki fase dewasa.

    Dengan pemahaman yang lebih baik, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga kesehatan diri, menyelesaikan pendidikan, merencanakan masa depan, serta memiliki kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum membangun keluarga.

    Pada akhirnya, program SEHATI menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 dalam mendukung lahirnya generasi Desa Ngadirojo Lor yang sehat, cerdas, berdaya, dan bebas dari risiko stunting sejak dari hulu. (Sofyan)



    Bulan Agustus, SD Muhammadiyah 1 Solo Borong 62 Prestasi Tingkat Kota hingga Nasional

    SOLO - majalahlarise.com – Sebanyak 62 prestasi berhasil diborong siswa-siswi SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta sepanjang Agustus 2026. Capaian tersebut diraih dalam berbagai bidang, mulai dari olahraga, seni, hingga akademik pada tingkat kota, regional, hingga nasional.

    Pengumuman torehan prestasi itu disampaikan secara resmi dalam upacara bendera di lapangan sekolah, Senin (31/8/2026). Raihan tersebut menjadi bukti konsistensi sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik melalui pembinaan dan latihan berkelanjutan.

    Pembina Upacara sekaligus Staf Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta, Danardono Sri Pamungkas, menjelaskan 62 prestasi tersebut merupakan hasil dari kerja keras siswa yang didukung pembina, guru, dan orang tua.

    “Raihan 62 prestasi ini merupakan buah manis dari ikhtiar tiada henti, disiplin latihan para siswa, serta sinergi solid antara pembina, guru, dan para orang tua,” tegas Danardono.

    Ia menambahkan, capaian tersebut menunjukkan potensi peserta didik berkembang secara merata. Prestasi tidak hanya datang dari satu bidang, tetapi mencakup olahraga, seni, dan kejuaraan akademik.

    Pada cabang bela diri, pesilat cilik Tapak Suci SD Muhammadiyah 1 Ketelan mendominasi perolehan medali emas dalam Kejuaraan Pencak Silat Bupati Cup Sukoharjo 2026. Mereka di antaranya Abrisam Nadzriel Parsa (1D), Lavanya Kineta Arrokhim (2B), Qiana Alova Rengganis (3D), Zaula Rafif Fahima (3C), Shauqi Nurrahman (3A), Dafinah Farzana (4B), Adeeva Nasira Misha (5B), Sakha Narendra (5C), serta Fadia Bellvania (6B).

    Prestasi juga datang dari cabang olahraga roda dan bola. Adzan Arrayyan Ramadhan Arkananta (5D) dan Ananda Arkaisavana (3D) mengoleksi sejumlah medali emas dan perak dalam nomor Skate Cross hingga Slalom. Sementara tim basket sekolah berhasil mengamankan podium dalam ajang 3x3 Solo dan kompetisi tingkat regional Jawa Tengah-DIY.

    Di bidang akademik, Ibrahim Alfarizqi Raharjo (5B) mencatat prestasi gemilang dengan menyapu lima medali emas tingkat nasional pada bidang Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris dalam ajang Academy Berprestasi ID.

    Prestasi akademik lainnya diraih Azizah Nuraini Fatmawati yang meraih emas pada bidang IPA dan Bahasa Indonesia. Florenza Angelica juga menyumbangkan prestasi emas pada bidang IPA dan Akidah Akhlak dalam PESNAS. Sementara Nayla Cadenza meraih prestasi nasional melalui cabang tari kreasi.

    Danardono berharap deretan prestasi tersebut mampu menjadi pemantik semangat bagi seluruh siswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan mempertahankan tradisi juara.

    “Catatan 62 kejuaraan ini menjadi penegas bahwa ruang belajar di sekolah yang saat ini berusia 91 tahun terus menjadi rumah subur bagi setiap talenta anak didik bangsa untuk bertumbuh dan berprestasi yang mendunia dan membanggakan semua orang,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Silaturahmi Keluarga Alumni SMP Manyaran 76 dan Tasyakuran HUT ke-60 Hj. Turyati, Jaga Eksistensi dan Kekompakan Alumni

    Pemberian ucapan selamat HUT ke-60 Hj. Turyati oleh para Alumni SMP Manyaran 76.


    Silaturahmi Keluarga Alumni SMP Manyaran 76 dan Tasyakuran HUT ke-60 Hj. Turyati, Jaga Eksistensi dan Kekompakan Alumni

    WONOGIRI – majalahlarise.com - Semangat menjaga tali silaturahmi dan kekeluargaan mempertemukan keluarga besar Alumni SMP Manyaran 76 di Rumah Makan Sri Boga, Jenggotan, Desa Pagutan, Kecamatan Manyaran, Wonogiri, Senin (31/8/2026). Pertemuan yang digagas HY Supardi bersama Suratno tersebut menjadi momentum mempererat komunikasi sekaligus menjaga eksistensi dan kekompakan alumni.

    Kegiatan yang dimulai pukul 11.00 WIB itu diikuti sejumlah alumni dan keluarga besar SMP Manyaran 76 dari wilayah Manyaran dan sekitarnya. Suasana berlangsung akrab dan penuh kekeluargaan, diwarnai dengan bincang-bincang, mengenang masa sekolah, berbagi cerita, hingga menikmati kebersamaan.

    HY Supardi menyampaikan pertemuan tersebut digelar sebagai upaya mempertahankan ikatan kekeluargaan yang telah terbangun sejak masa sekolah. Menurutnya, kesibukan masing-masing tidak seharusnya menjadi penghalang bagi para alumni untuk tetap berkomunikasi dan bertemu.

    HY Supardi saat menyampaikan sambutan.


    “Pertemuan ini untuk tetap menjaga eksistensi kekeluargaan SMP 76. Silaturahmi seperti ini penting agar hubungan antar teman tetap terjaga,” ujar HY Supardi.

    Momentum silaturahmi tahun ini terasa semakin istimewa karena Alumni 1976 genap memasuki perjalanan 50 tahun sejak kelulusan. Perjalanan setengah abad tersebut menjadi tahun emas yang patut disyukuri sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga persaudaraan yang telah terjalin sejak bangku sekolah.

    Dalam kesempatan tersebut, para alumni juga diajak mendoakan rekan-rekan yang telah meninggal dunia. Doa dipanjatkan agar mereka mendapatkan ampunan, diterima amal ibadahnya, serta memperoleh tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa.

    Ketua Alumni SMP Manyaran 76, H. Suwardi, mengapresiasi terselenggaranya pertemuan tersebut. Ia menilai silaturahmi secara langsung memiliki arti penting untuk mempertahankan kedekatan antar teman, terlebih ketika usia para alumni kini telah memasuki usia lanjut.

    Ketua Alumni SMP Manyaran 76, H. Suwardi, mengapresiasi terselenggaranya pertemuan.


    “Yang paling penting kita tetap menjaga komunikasi dan kebersamaan. Sesibuk apa pun, kalau bisa kita menyempatkan diri bertemu. Komunikasi melalui WhatsApp saja terkadang belum cukup,” kata H. Suwardi.

    Menurutnya, pertemuan tatap muka memberikan ruang bagi para alumni untuk saling berbagi cerita, berdiskusi, sekaligus memberikan dukungan satu sama lain. Ia juga mengenang sejumlah sahabat yang telah berpulang dan dahulu selalu hadir ketika dibutuhkan untuk berdiskusi maupun bertukar pikiran.

    H. Suwardi berharap Alumni 1976 tetap eksis, solid, kondusif, dan tidak mudah terpecah belah. Ia mengajak seluruh anggota untuk terus menjaga komunikasi serta saling mendukung di tengah perjalanan kehidupan yang semakin bertambah usia.

    Acara berlangsung sederhana namun penuh keakraban, diisi suasana santai dan nyanyian bersama diiringi organ tunggal.


    “Kita berharap semua teman tetap sehat, sukses, kompak, dan saling menjaga. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut dan semakin sering dilaksanakan,” tuturnya.

    Selain silaturahmi, kegiatan juga menjadi momentum tasyakuran Hari Ulang Tahun ke-60 Hj. Turyati, istri HY Supardi, yang bertepatan dengan 31 Agustus 2026. Perayaan berlangsung sederhana namun penuh keakraban, diisi suasana santai dan nyanyian bersama diiringi organ tunggal.

    Para alumni memaknai bertambahnya usia bukan sekadar perayaan, tetapi juga sebagai momentum memperbanyak rasa syukur serta mendoakan kesehatan, keselamatan, keberkahan, dan kemudahan dalam menjalani kehidupan.

    Sejumlah alumni dan keluarga yang tercatat hadir antara lain HY Supardi, Suratno, Ny. Yayuk Ngadi, Kusniyati, Agung, Warsini, Sri Wahatin, Sugiyat, H. Suwardi, Sutardi, Marini, Paino, Suciptadi, Suparmi, Sri Widiyatmi, BJ Jatminto, Suyanto, Larso, Katini, Suyoko, Joko Yaryoto, Karyadi, Ismini dari Kepuh, Purwanto dari Mantren, Ngatmin, Wariyatmi, Ny. Katman, serta Welasih.


    Pertemuan ditutup dengan permohonan maaf atas segala kekurangan serta doa bersama agar seluruh keluarga besar Alumni SMP Manyaran 76 senantiasa diberikan kesehatan, keselamatan, kemudahan dalam berbagai urusan, dan keberkahan.

    Silaturahmi tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Pertemuan rutin dan komunikasi yang terus terjaga menjadi modal penting untuk mempertahankan persaudaraan Alumni 1976 hingga masa mendatang. (Sofyan)


    Baca juga: Ketika Usia Bertambah, Jangan Biarkan Makna Hidup Berkurang

    Penarikan mahasiswa KKN dipimpin langsung Rektor UNISRI, Prof. Sutoyo, M.Pd., Senin (31/8/2026).


    Rektor UNISRI Tarik 1.446 Mahasiswa KKN di 11 Kecamatan Sragen

    SRAGEN – majalahlarise.com – Sebanyak 1.446 mahasiswa Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta resmi ditarik setelah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 50 hari di 11 kecamatan Kabupaten Sragen. Penarikan mahasiswa KKN dipimpin langsung Rektor UNISRI, Prof. Sutoyo, M.Pd., Senin (31/8/2026).

    Sebelas kecamatan yang menjadi lokasi pengabdian mahasiswa meliputi Jenar, Plupuh, Mondokan, Gemolong, Gesi, Kalijambe, Sumberlawang, Tangen, Miri, Sukodono, dan Tanon.

    Selama menjalankan KKN, mahasiswa tidak hanya melaksanakan program kerja berbasis keilmuan, tetapi juga terlibat dalam berbagai kegiatan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mahasiswa UNISRI mendapat apresiasi dari pemerintah kecamatan dan masyarakat setempat.

    Camat Gemolong, Nugroho Dwi Wibowo, S.STP., mengapresiasi kontribusi mahasiswa KKN UNISRI selama berada di wilayahnya.

    “Selama 50 hari di sini mahasiswa bisa menjadikan pengalaman berharga untuk diri sendiri dan masyarakat. Kami atas nama masyarakat Gemolong mengucapkan terima kasih karena dengan adanya mahasiswa KKN UNISRI di Gemolong menjadi lebih baik,” ujarnya.


    Menurut Nugroho, kontribusi mahasiswa juga terlihat dalam program Dandan Omah yang digulirkan Pemerintah Kabupaten Sragen. Keterlibatan mahasiswa KKN UNISRI turut mendukung peningkatan capaian Gemolong dalam program tersebut.

    “Terima kasih juga, saat program Dandan Omah Pemkab, mahasiswa KKN turut membantu sehingga Gemolong bisa menorehkan prestasi dari rangking 20 ke rangking 7,” ungkapnya.

    Nugroho berharap hubungan antara mahasiswa UNISRI dengan masyarakat Gemolong tidak berhenti setelah KKN selesai. Ia mengajak mahasiswa tetap menjalin komunikasi dan kembali ke Gemolong untuk berbagai kegiatan pengabdian.

    “Jangan lupakan Gemolong dengan 10 desa dan 4 kelurahan. Silakan kembali lagi untuk mengabdi dan bersilaturahmi,” pesannya.

    Sementara itu, Rektor UNISRI Prof. Sutoyo, M.Pd., menyampaikan KKN menjadi bagian penting dari pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memberikan pengalaman pembelajaran langsung kepada mahasiswa di tengah masyarakat.

    “Melalui KKN ini mahasiswa belajar bersosialisasi, memahami persoalan masyarakat, dan mengaplikasikan ilmu yang didapat di kampus. Kami berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama 50 hari ini bisa menjadi bekal ketika nanti mengabdi di masyarakat luas,” jelasnya.

    Menurut Prof. Sutoyo, interaksi langsung dengan masyarakat memberikan ruang bagi mahasiswa untuk memahami berbagai persoalan secara lebih konkret. Pengalaman tersebut diharapkan membentuk mahasiswa yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga kepekaan sosial dan kemampuan berkolaborasi.

    UNISRI juga menyiapkan tindak lanjut program pengabdian dengan memperluas wilayah pelaksanaan KKN. Setelah program KKN di kawasan Solo Raya, kampus berencana mengembangkan program KKN ke wilayah Jawa Tengah.

    “Setelah program KKN di Solo Raya selesai, kami juga akan memprogramkan KKN Jawa Tengah, agar jangkauan pengabdian UNISRI semakin luas dan manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak masyarakat,” tegas Prof. Sutoyo.

    Penarikan mahasiswa KKN ditandai dengan penyerahan vandel secara simbolis dari Rektor UNISRI kepada perwakilan pemerintah kecamatan. Penyerahan tersebut menjadi bentuk apresiasi dan terima kasih UNISRI atas dukungan pemerintah serta masyarakat selama mahasiswa melaksanakan pengabdian.

    Berakhirnya masa KKN bukan berarti berakhirnya kolaborasi. UNISRI berharap sinergi dengan pemerintah daerah dan masyarakat terus berkembang melalui berbagai program pengabdian, pemberdayaan, dan pendampingan.

    Kolaborasi tersebut diharapkan mampu memberikan dampak berkelanjutan dalam mendorong terwujudnya masyarakat dan desa yang semakin mandiri, berdaya saing, serta sejahtera. (Sofyan)


    Baca juga: Ketika Usia Bertambah, Jangan Biarkan Makna Hidup Berkurang



Top