GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Prestasi
Sholahudin Siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo Raih Juara 1 LKS TSM Kabupaten 2026, Siap Melaju ke Tingkat Provinsi
Sukoharjo – majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo. Sholahudin Gesang Prasetyo, siswa kelas XII TSM 1, berhasil meraih Juara 1 Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Teknik Sepeda Motor (TSM) tingkat Kabupaten Sukoharjo Tahun 2026.
Saat ditemui majalahlarise.com, Selasa (24/2/2026), Sholahudin menuturkan keberhasilannya tidak diraih secara instan. Ia mengaku pernah mengikuti ajang LKS pada tahun sebelumnya meski belum berhasil menjadi juara.
“Untuk sebelumnya di tahun kemarin saya sudah pernah mengikuti lomba LKS yang sama. Karena tahun ini penempatannya di SMK Veteran, awalnya guru memilih kelas 11, tetapi mereka belum berani maju. Akhirnya saya yang dipilih dan diminta belajar lebih giat lagi untuk persiapan LKS tingkat Kabupaten Sukoharjo. Alhamdulillah mendapatkan juara 1 dan sekarang sedang mempersiapkan untuk LKS tingkat provinsi tahun 2026,” ujarnya.
Dalam kompetisi tersebut, peserta diuji kemampuan teknis seputar teknologi terbaru sepeda motor, meliputi sistem penggerak, mesin, sasis, hingga kelistrikan. Sholahudin menjelaskan tantangan terbesar selama persiapan berasal dari ketersediaan unit praktik.
“Hambatannya dari unit praktik itu sendiri, kadang tidak sesuai yang diinginkan atau mengalami kerusakan sehingga praktik tidak bisa maksimal,” jelasnya.
Menghadapi persaingan ketat antar sekolah, ia memilih fokus memperkuat pengalaman dan konsistensi belajar. Pengalaman mengikuti LKS tahun lalu menjadi bekal berharga untuk tampil lebih siap tahun ini.
“Strateginya terus belajar. Tahun kemarin memang belum juara, tetapi pengalaman itu saya gunakan untuk LKS tahun ini,” katanya.
Untuk latihan, Sholahudin memanfaatkan waktu pembelajaran bengkel. Dalam satu minggu, ia bisa berlatih dua hingga tiga hari penuh mengikuti jadwal praktik di bengkel sekolah. Lomba tingkat kabupaten sendiri digelar pada 12 Februari 2026.
Kini, ia bersiap menghadapi LKS tingkat Provinsi Jawa Tengah yang direncanakan berlangsung April 2026. Persiapan difokuskan pada penguatan teori sembari menunggu program praktik kerja lapangan (PKL) di industri.
“Saya diminta MGMP Sukoharjo untuk PKL di Yamaha selama dua minggu dan di Honda dua minggu. Karena belum mulai PKL, saya fokus memperkuat teori dulu,” ungkapnya.
Dukungan sekolah dan orang tua menjadi motivasi utama. Ia mengaku pihak sekolah memberikan fasilitas pembelajaran terbaik meski ada beberapa unit praktik yang perlu perbaikan. Sementara orang tua selalu memberikan doa dan dukungan tanpa syarat.
“Orang tua selalu mendoakan. Menang atau tidak, mereka tetap bangga,” ucapnya.
Ke depan, Sholahudin bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Teknik Mesin agar kompetensinya semakin meningkat dan peluang kariernya lebih luas.
Sementara itu, Kepala SMK Veteran 1 Sukoharjo, Malkan Maliya, S.Pd, menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Ia mengatakan prestasi ini menjadi indikator keberhasilan sekolah dalam membekali siswa sesuai standar industri.
“Dengan prestasi ini menjadi bukti kepada masyarakat bahwa siswa SMK Veteran dipersiapkan menjadi mekanik andal. Kompetensi siswa telah teruji oleh juri dari industri dan mampu menunjukkan yang terbaik di antara sekolah di Sukoharjo,” ujarnya.
Ia berharap keberhasilan tersebut mampu menginspirasi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi dan prestasi. Pihak sekolah juga menyediakan beasiswa administrasi bagi siswa berprestasi yang membawa nama baik sekolah di tingkat kabupaten hingga nasional.
Prestasi Sholahudin tidak hanya menjadi kebanggaan sekolah, tetapi juga menjadi motivasi bagi siswa kelas XI agar lebih siap menghadapi ajang serupa di masa mendatang. Kini, harapan tertuju pada langkah berikutnya di tingkat provinsi, membawa nama baik sekolah dan Kabupaten Sukoharjo ke level yang lebih tinggi. (Sofyan)
Baca juga: SMK IPTEK Weru Sukoharjo Berbagi 200 Paket Takjil, Perkuat Pembiasaan Ibadah Siswa di Bulan Ramadan
Zona Ramadhan
![]() |
| Pembagian paket takjil kepada para pengendara motor yang melintas di jalan Bayat Klaten. |
SMK IPTEK Weru Sukoharjo Berbagi 200 Paket Takjil, Perkuat Pembiasaan Ibadah Siswa di Bulan Ramadan
Sukoharjo – majalahlarise.com - SMK IPTEK Weru Sukoharjo menyelenggarakan kegiatan berbagi takjil kepada para pengendara yang melintas di Jalan Bayat–Klaten, Senin (23/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan yang tidak hanya berorientasi pada aksi sosial, tetapi juga pembinaan karakter dan akhlak siswa.
Ratusan paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan menjelang waktu berbuka puasa. Para siswa bersama guru tampak antusias turun langsung ke tepi jalan, menyapa masyarakat dengan ramah sembari menyerahkan paket makanan berbuka.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Erpan, S.Pd., menyampaikan kegiatan ini memiliki tujuan utama membangun perbaikan akhlak dan kesadaran beribadah siswa.
“Tujuan kami untuk perbaikan akhlak dan kesadaran siswa tentang kewajiban beribadah. Di bulan Ramadan ini kami perbanyak pembiasaan ibadah,” ujarnya.
Ia menguraikan, salah satu program unggulan Ramadan tahun ini adalah pelaksanaan salat tarawih dengan target satu juz setiap malam. Program tersebut sempat mengalami penyesuaian saat pandemi, dari satu juz menjadi setengah juz. Tahun ini, pelaksanaan kembali ditingkatkan menjadi satu juz per malam.
“Kami mendatangkan para muhafidz atau ustaz dari Solo Raya yang sudah hafal Al-Qur’an. Setiap malam bergantian. Bahkan pada 13 Maret nanti ada tamu spesial, seorang Syekh dari Palestina yang sekaligus akan menggalang dana untuk membantu masyarakat di sana,” jelasnya.
Program tarawih diikuti seluruh siswa dengan sistem penjadwalan per kelas. Setiap kelas mendapat giliran tiga hingga empat kali selama Ramadan.
“Kalau full 30 malam tentu berat bagi siswa. Maka kami jadwalkan per kelas. Alhamdulillah tingkat kehadiran mencapai sekitar 80 persen. Bahkan ada kelas yang hanya empat siswa tidak hadir. Bagi kami itu sudah keberhasilan,” ungkap Erpan.
Selain tarawih, sekolah juga menggelar program takjil keliling di empat titik berbeda. Setelah pembagian di wilayah Bayat sebagai titik barat, kegiatan berlanjut ke Manyaran, Karangdowo, dan Bulu.
“Total ada empat titik, mewakili barat, selatan, utara, dan timur. Setiap lokasi kami membagikan 150 sampai 200 bungkus nasi. Sumber takjil berasal dari siswa sendiri, sehingga mereka belajar langsung arti berbagi,” katanya.
Tak hanya berbagi takjil, sekolah juga merencanakan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan pada pekan ketiga Ramadan. Kegiatan ini melibatkan OSIS dan guru dengan membawa bingkisan serta kebutuhan pokok sesuai hasil koordinasi sebelumnya dengan pihak panti.
Di bidang pengembangan potensi, SMK IPTEK Weru juga mengadakan lomba-lomba Ramadan seperti ceramah, cerdas cermat Islami, dan kegiatan keagamaan lainnya pada 11–13 Ramadan. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah mental, keterampilan, sekaligus memetakan potensi siswa di bidang keislaman.
Erpan berharap seluruh rangkaian kegiatan mampu menumbuhkan empati dan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an.
“Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Kami ingin menghidupkan malam-malam Ramadan dengan Al-Qur’an. Dari bacaan para hafidz itu, kami ingin tumbuh rasa cinta anak-anak kepada Al-Qur’an,” tuturnya.
Melalui program sosial dan pembiasaan ibadah yang terstruktur, SMK IPTEK Weru Sukoharjo berupaya membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik dan keterampilan, tetapi juga kuat dalam karakter dan spiritualitas. (Sofyan)
Baca juga: Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca
Mitra Usaha
![]() |
| Bu Retno saat memegang lukisan kaca tokoh wayang hasil karyanya. |
Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca
Wonogiri – majalahlarise.com - Di sudut perbukitan selatan Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Kampung Wayang Kepuhsari, Manyaran, denyut tradisi tak pernah benar-benar padam. Di antara suara kuas dan desis halus semprotan cat, lahir karya-karya lukisan kaca wayang yang tak hanya unik, tetapi juga diminati kolektor hingga mancanegara.
Di Sanggar Seni Wayang Asto Kenyo Art, tokoh-tokoh wayang kulit seolah menemukan rumah baru, bukan lagi di atas kulit kerbau, melainkan menari dalam pantulan kaca dan acrylic yang bening. Setiap garis, setiap warna, menuntut ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi agar menghasilkan karya seni berkualitas.
Pelukis wayang media kaca, bu Retno Bimo akrab disapa menuturkan perjalanan panjangnya saat ditemui majalahlarise.com, Senin (23/2/2026).
“Awalnya sederhana. Waktu kecil, om saya pelukis kaca. Saya sering melihat prosesnya,” kenangnya.
Bu Retno tumbuh dalam lingkungan seni. Ia belajar di Sanggar Nimas Art, sanggar milik sang paman di Dusun Kepel, Kepuhsari. Namun, awal perjalanannya justru bukan langsung di kaca.
“Saya belajar dari wayang beber. Bikin ornamen-ornamen, flora, fauna yang dekoratif. Tujuannya supaya tangan lemas dulu,” ujarnya.
Media belajarnya pun tak biasa. Ia menggunakan kain menyerupai kanvas dan kertas daluang kertas tradisional dari kulit pohon daluang. Dari sana, kepekaan rasa dan keluwesan tangan mulai terasah.
Meski di sanggar tersebut juga memproduksi lukisan kaca, Bu Retno tak mendapat pembelajaran khusus. Ketertarikannya tumbuh dari minat dan imajinasi.
“Saya lihat saja sudah punya greget. Ada keinginan belajar sendiri,” katanya.
Selepas dari sanggar, ia melanjutkan pendidikan seni rupa. Namun, untuk lukis kaca, ia memilih jalur otodidak. Tahun 2002–2003 menjadi titik awal eksperimen panjangnya.
Proses itu tak selalu mulus. Kegagalan demi kegagalan pernah ia rasakan. Garis yang tak lurus, warna yang tak menyatu, hingga karya yang belum layak jual menjadi bagian dari perjalanan.
“Tapi usaha tidak mengkhianati hasil,” ucapnya dengan senyum.
Seiring waktu, garis yang semula “bengkok-bengkok” mulai rapi. Isian warna semakin halus. Campuran warna yang terus diulang akhirnya menemukan karakter khas.
Teknik lukis kaca memiliki tantangan tersendiri. Semua dikerjakan secara terbalik. Wayang memang sudah memiliki pakem tokoh tua di kanan, muda di kiri; laki-laki di kanan, perempuan di kiri sehingga arah hadap sudah jelas dalam tradisi Solo dan Yogyakarta. Namun pada lukis wajah realis, tantangannya jauh lebih mendebarkan.
“Kalau lukis wajah, deg-degannya luar biasa. Mirip atau tidak, baru kelihatan setelah selesai,” tuturnya.
Bagian wajah harus selesai dalam satu hari. Jika dilanjutkan keesokan harinya, percampuran warna basah dan kering tak akan menyatu sempurna. Risiko gagal pun besar.
Teknik background juga mengalami evolusi. Dari semprotan manual sederhana, kini ia menggunakan kompresor kecil hingga tabung besar seperti di bengkel. Ukuran dan jenis airbrush menentukan kualitas gradasi dan kesan dua dimensi pada latar.
Dalam perkembangannya, Bu Retno tak hanya mengerjakan wayang. Ia juga melukis wajah, bunga, hingga tema lain di media kaca maupun acrylic. Acrylic dipilih untuk kebutuhan pengiriman jarak jauh karena lebih aman dibanding kaca.
Untuk alat, ia menggunakan drawing pen atau rapido teknik berbagai ukuran, cat besi atau cat minyak untuk wayang, serta cat minyak khusus untuk lukis wajah yang tidak cepat kering dan mudah menyatu di media tanpa pori seperti kaca.
Dari sisi pemasaran, daya tarik utama tetap pada kekuatan karakter wayang. Karya-karyanya tak sekadar pajangan dinding, tetapi juga bisa diaplikasikan pada jendela, pintu, hingga elemen interior rumah.
Ukuran 40 x 60 cm pernah ia tawarkan di kisaran Rp950 ribu hingga Rp1 juta. Ukuran 50 x 70 cm bisa mencapai Rp1,35 juta hingga Rp1,5 juta. Kini, ia lebih fleksibel menyesuaikan anggaran pemesan, baik dari dalam maupun luar negeri.
“Yang penting temanya bisa disesuaikan. Medianya juga tidak harus kaca,” ujarnya.
Namun bagi Bu Retno, lukisan kaca bukan semata urusan jual beli. Ada misi pelestarian yang ia emban. Ia berharap wayang tetap lestari dan diterima lintas kalangan dari dunia pendidikan hingga masyarakat umum.
Di sanggarnya, ia mengemas lukis kaca dalam paket workshop wisata. Wisatawan domestik maupun mancanegara diajak tak hanya membeli, tetapi juga merasakan proses kreatifnya.
“Yang awalnya tidak tahu jadi tahu. Yang tidak ingin jadi ingin. Yang tidak butuh jadi merasa perlu,” katanya.
Di Kampung Wayang Kepuhsari, kaca bukan sekadar media bening. Ia menjadi ruang tafsir baru bagi tradisi. Melalui ketelatenan dan kesabaran, Bu Retno membuktikan wayang mampu menembus batas zaman berkilau, memantul, dan terus hidup dari Wonogiri untuk dunia. (Sofyan)
Baca juga: Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya
Zona Ramadhan
![]() |
| Suasana kuliah Subuh di Masjid Desa Demangan, Kecamatan Sambi. |
Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya
Boyolali - majalahlarise.com - Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, terasa lebih hidup dan khidmat, Ahad (21/2/2026). Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya, Tidak Hanya Wacana.”
Hadir sebagai pemateri, Ustaz Pujiono, Mudir PonpesMU Manafi'ul 'Ulum, yang menyampaikan tausiyah inspiratif tentang pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai gerakan nyata, bukan sekadar agenda tahunan. Ia mengajak jamaah memahami puasa sebagai momentum membangun empati dan aksi sosial.
“Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membangun kepedulian. Jika setelah Ramadhan kita masih abai pada tetangga yang kesulitan, berarti ada yang belum selesai dengan puasa kita,” ungkapnya di hadapan jamaah.
Dalam tausiyahnya, Pujiono juga menguraikan agar masjid-masjid di Desa Demangan menjadi pusat pemberdayaan umat. Ia mendorong penguatan gerakan sedekah, optimalisasi zakat, serta penguatan solidaritas sosial sebagai bentuk implementasi nilai Ramadhan yang berdampak nyata di tengah masyarakat.
Masih menurut Pujiono, kepedulian sosial dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya sebagai implementasi larangan berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56. Ia membacakan ayat tersebut yang berisi pesan agar manusia tidak membuat kerusakan setelah Allah memperbaiki bumi, serta senantiasa berdoa dengan rasa takut dan harap karena rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.
“Dari ayat ini, mari kita sebagai umat Islam menunaikan dengan membuang sampah pada tempatnya,” tandasnya.
Kegiatan berlangsung tertib dan komunikatif, dipandu oleh moderator Abdul Fatah yang mengarahkan jalannya acara sejak awal hingga penutup. Kuliah Subuh ini merupakan sinergi takmir masjid se-Desa Demangan dengan Koordinator Muh. Abdul Jalil dan Sekretaris Suyamto. Adapun narahubung kegiatan adalah Andri Nugroho.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kaur Kesra Sarjono, serta sejumlah tokoh masyarakat seperti H. Rosyidi, Slamet, dan Uswatun Hasanah. Kehadiran para tokoh desa menunjukkan dukungan penuh terhadap gerakan Ramadhan yang lebih membumi dan berdampak.
Acara ditutup dengan doa dan harapan bersama agar Ramadhan 1447 Hijriah benar-benar menjadi bulan kebangkitan kepedulian sosial di Desa Demangan. Semangat Subuh itu menjadi penanda Ramadhan di Demangan, Sambi, siap berdaya, tidak berhenti pada retorika, tetapi bergerak dalam aksi nyata. (Sofyan)
Zona Ramadhan
Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Falah Sukoharjo Gelar Ramadhan Peduli Palestina, Donasi Terkumpul Rp7,9 Juta
Sukoharjo - majalahlarise.com - Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meningkatkan keimanan dan kepedulian. Menghadirkan semangat tersebut, Masjid Al-Falah Madyorejo Rt 01 Rw 07, Jetis Sukoharjo, menyelenggarakan program Ramadhan Peduli Palestina, sebuah kegiatan dakwah Ramadhan yang dikemas secara hangat, edukatif, dan menyentuh hati, Sabtu (21/2/26)
Ketua takmir Ir. H. Rudy Setyohadi saat dijumpai menyampaikan, Program ini diharapkan bisa membangun empaty kepada saudara kita di Palestina.
Melalui media Safari menghadirkan cerita-cerita inspiratif, nilai-nilai keislaman, serta edukasi kepedulian terhadap Gaza Palestina dengan pendekatan yang komunikatif dan berkesan, paparnya.
Memasuki 5 Ramadhan 1447 H jamaah sholat Isya dan tarawih bersama Syekh Osama Khalil Al Yacaobi dari Palestina.
Dalam tabligh tersebut Syekh Osama Khalil Al Yacaobi, dengan mengatakan bahwa kondisi saat ini di Indonesia banyak musibah seperti di Aceh, Jawa Barat dan lain sebagainya. Disitu tak luput kejadian yang menimpa warga Gaza sehingga bangunan untuk fasilitas umum luluh lantak, sehingga perlunya pendukung warga Gaza untuk membangun kembali fasilitas yang telah hancur. "Kali ini bangsa Indonesia sedang membangun rumah sakit di Gaza," tuturnya.
Tujuan utama mereka bukan sekadar berceramah, melainkan memiliki misi kemanusiaan dan solidaritas yang kuat. "Menyampaikan kondisi terkini di Gaza dan Palestina untuk menggugah simpati, empati, dan memperkuat dukungan moril serta materiil dari masyarakat Indonesia," tambah syekh.
Melakukan aksi nyata dengan menghimpun donasi melalui lembaga-lembaga filantropi kredibel di Indonesia (seperti LazisMu, ACA, Baznas dll.) untuk bantuan pangan, tenda, paket kesehatan, dan layanan psikologi bagi warga Palestina. Adapun dalam kajian malam seusai salat tarawih dapat mengumpulkan donasi sebesar Rp. 7.918.000,- (Begug SW)
Pendidikan
![]() |
| Kajian dan Sosialisasi KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) menghadirkan Mudir Ponpes, Ustadz Pujiono, aktif mengkaji isu falak dan kalender Islam kontemporer. |
Kajian KHGT di PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Ust Pujiono Uraikan Pentingnya Kesatuan Kalender Islam Global
Boyolali - majalahlarise.com - PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi menggelar Kajian dan Sosialisasi KHGT (Kalender Hijriyah Global Tunggal) di Aula Masjid At-Taqwa, Sabtu (21/2/2026). Kegiatan menghadirkan Mudir Ponpes, Ustadz Pujiono, yang aktif mengkaji isu falak dan kalender Islam kontemporer.
Kegiatan diikuti seluruh civitas akademika PonpesMU serta para guru dari TK Aisyiyah PK Sambi, SD MPK Sambi, SMP Muhammadiyah 14, dan SMA Muhammadiyah PK Boyolali. Hadir dalam kesempatan tersebut Kepala TK PK Aisyiyah Ibu Mulyati, Kepala SMP Muhammadiyah 14 Ust Ahmad Yasin, Kepala SMA Muhammadiyah PK Boyolali Ustadzah Ari Rosmawati, serta guru SD Muhammadiyah PK Sambi. Kehadiran lintas jenjang pendidikan ini menunjukkan komitmen bersama dalam memahami perkembangan wacana kalender Islam secara ilmiah dan persyarikatan.
Acara diawali lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh santri PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum, Sultan Agil Muzaki. Qiro’ah yang khidmat menghadirkan suasana religius sekaligus meneguhkan pembahasan KHGT berangkat dari semangat kembali pada tuntunan syariat.
Dalam pemaparannya, Ustadz Pujiono menjelaskan KHGT merupakan ikhtiar ijtihad kontemporer untuk mewujudkan kesatuan penanggalan Hijriyah secara global. Ia menyampaikan umat Islam memerlukan sistem kalender yang unifikatif, berbasis sains, dan dapat diterapkan secara internasional sebagaimana kalender Masehi.
“Kalender Hijriyah bukan sekadar penanda ibadah, tetapi simbol peradaban. Ketika umat Islam bersatu dalam sistem waktu, kesatuan itu berdampak pada ukhuwah dan tata kelola ibadah yang lebih teratur,” ujar Ustadz Pujiono.
Ia juga menguraikan dasar astronomis perhitungan kalender, mulai konsep ijtimak (konjungsi), kriteria visibilitas hilal, hingga pentingnya pendekatan hisab hakiki kontemporer dalam menjawab tantangan zaman modern. Menurutnya, literasi ilmu falak perlu diperkuat di lingkungan pendidikan Muhammadiyah agar generasi muda melek sains dan kokoh dalam manhaj tarjih.
Sesi berlangsung interaktif. Para guru dan peserta menyimak dengan penuh perhatian penjelasan mengenai KHGT, potensi perbedaan dengan metode rukyat lokal, serta implikasi terhadap penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah.
Kajian ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan literasi kalender Islam di lingkungan pendidikan Muhammadiyah kawasan Sambi dan sekitarnya. Melalui sosialisasi berkelanjutan, civitas akademika tidak hanya menjadi pengguna kalender, melainkan memahami filosofi, landasan syar’i, dan argumentasi ilmiahnya.
Kegiatan ditutup dengan sholat Dhuhur berjamaah dan doa bersama memohon petunjuk serta persatuan umat Islam dalam mengelola waktu sebagai bagian dari amanah peradaban. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko menyampaikan khotbah Jumat. |
Puasa Ramadan Mampu Meningkatkan Takwa Sosial
SOLO - majalahlarise.com - Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko menyampaikan khotbah Jumat di masjid Asy Syi’ar komplek Radio Republik Indonesia (RRI), Kestelan, Banjarsari, Solo pada Jumat (20/2/2026).
Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema Puasa Ramadan mampu meningkatkan takwa sosial dengan peduli agama, sistem, manusia dan lingkungan serta pentingnya menjadi hamba Allah yang senantiasa menunaikan salat.
Jatmiko menjelaskan ada keistimewaan sedekah di bulan Ramadan. “Sedekah adalah amalan sederhana dengan keutamaan luar biasa. Berkaitan dengan sedekah yang diganjar 700 kali lipat. Mari kita lebih peduli kaum papa nan nestapa dan pra Sejahtera, fakir miskin, anak jalanan, janda miskin, duda miskin,” ujarnya.
Allah SWT terus melipatgandakan pahala kebaikan sampai 700 kali lipat atau lebih bagi siapa yang Dia kehendaki sesuai tingkat keimanan dan keikhlasan hati yang berinfak.
Saat Ramadan tiba amal perbuatan baik mendapatkan pahala yang berlipat ganda, selain daripada membaca Al Quran sebelum dan sesudah salat wajib dan sunnah, berdzikir dan bersedekah.
“Kita lihat QS Al-Baqarah ayat 261, Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui,” urai guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo itu.
Puasa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi merupakan kesempatan da momentum untuk meningkatkan ketakwaan sosial. Ketakwaan sosial berarti memiliki rasa peduli dan tanggung jawab terhadap sesama manusia.
“Barang siapa memberi buka orang yang puasa maka mendapat pahala sebanyak pahala orang puasa tersebut,” tegasnya, sambil tersenyum.
Sabda Rasulullah SAW yang artinya: Telah datang bulan Ramadan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad).
“Salah satu cara untuk meningkatkan ketakwaan sosial selama Ramadan adalah dengan berbagi rezeki kepada orang lain. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti zakat, infak, sedekah, dan memberikan makanan buka puasa,” beber, anggota Majelis Pembinaan dan Kader Sumber Daya Insani PDM Kota Solo. (Sofyan)
Baca juga: Prodi Terfavorit, DKV ISI Surakarta Buka Daya Tampung Terbanyak Lewat Jalur SNBP 2026
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...







