Pemateri, Pengawas PAI Kabupaten Wonogiri, Tutik Rijani, memberikan paparan mendalam terkait kebijakan terbaru dunia pendidikan sekaligus penguatan profesionalisme guru.


    Semangat Ramadan Menguat, MGMP PAI SR 03 Matangkan PSTS dan Kupas Kebijakan Terbaru

    Wonogiri – majalahlarise.com - Semangat bulan suci Ramadan terasa kental dalam pertemuan rutin Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam (MGMP PAI) Sub Rayon (SR) 03 yang digelar Rabu, 25 Februari 2026. Bertempat di Aula SMP Negeri 1 Baturetno, kegiatan diikuti puluhan guru PAI tingkat SMP se-SR 03.

    Hadir sebagai pemateri, Pengawas PAI Kabupaten Wonogiri, Tutik Rijani, memberikan paparan mendalam terkait kebijakan terbaru dunia pendidikan sekaligus penguatan profesionalisme guru.

    Kegiatan dibuka Ketua MGMP PAI SR 03, Catur Marwandi, S.Pd.I. Ia menyampaikan pentingnya kesiapan menghadapi Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS). Selain itu, ia menguraikan adanya perubahan capaian pembelajaran yang perlu dipahami bersama agar pelaksanaannya seragam dan sesuai regulasi terbaru.

    “Kesiapan administrasi dan kesamaan persepsi menjadi kunci agar pelaksanaan PSTS berjalan tertib dan terarah,” ujarnya di hadapan peserta.

    Kepala SMP Negeri 1 Baturetno, Cundoko, S.Pd., M.Pd., selaku tuan rumah, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan. Ia mengatakan forum MGMP menjadi ruang strategis untuk memperkuat sinergi dan meningkatkan kompetensi guru PAI dalam mendidik generasi penerus bangsa.

    Turut hadir Koordinator MGMP PAI SR 03 yang baru, Agus Rusdianto, S.Pd dalam sambutannya, ia memperkenalkan diri sekaligus mengajak seluruh anggota menjaga kekompakan dan terus berinovasi dalam pembelajaran.

    Sementara itu, Tutik Rijani mengupas sejumlah kebijakan terbaru, termasuk pembaruan aplikasi tunjangan profesi Guru Pendidikan Agama Islam. Ia mengingatkan pentingnya ketelitian administrasi serta kesiapan guru menyesuaikan diri dengan sistem dan regulasi yang terus berkembang.

    Ia juga memberikan motivasi khusus menyambut Ramadan. Menurutnya, tugas mendidik bukan sekadar kewajiban profesi, melainkan bagian dari ibadah yang bernilai pahala.

    “Di bulan penuh berkah ini, jangan sampai semangat menurun. Ramadan harus menjadi energi spiritual untuk meningkatkan kualitas pengabdian sebagai pendidik,” pesannya.

    Suasana pertemuan berlangsung interaktif. Sesi tanya jawab dimanfaatkan peserta untuk menggali berbagai hal terkait PSTS, capaian pembelajaran, hingga teknis tunjangan profesi.

    Acara ditutup dengan ramah tamah dan diskusi ringan merancang program MGMP ke depan. Pertemuan ini menunjukkan komitmen MGMP PAI SR 03 menjaga profesionalisme serta kualitas pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Kabupaten Wonogiri, sekaligus menjadikan Ramadan sebagai momentum penguatan spiritual dan kinerja guru. (Syarif)


    Baca juga: Sholahudin Siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo Raih Juara 1 LKS TSM Kabupaten 2026, Siap Melaju ke Tingkat Provinsi

    Pembahasan teknis dipimpin Ketua Komisi D, Ida Nursaadah, serta diikuti seluruh anggota Komisi D.


    Mulyadi Anggota DPRD Jateng Usulkan Perbaikan Jalan Provinsi Wonogiri Tuntas Sebelum Lebaran 2026

    Surakarta – majalahlarise.com - Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah menggelar kegiatan Kunjungan Dalam Daerah dalam rangka pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda), Selasa–Rabu (24–25/2/2026). Kunjungan ini bertujuan memperoleh data dan masukan untuk penyusunan Naskah Akademik serta draft Raperda tentang Penyelenggaraan Standarisasi Jalan Provinsi Jawa Tengah.

    Kegiatan diawali Selasa (24/2/2026) pukul 11.00 WIB di Kantor Balai Pengelolaan Jalan (BPJ) Wilayah Surakarta dan dilanjutkan dengan seminar pembahasan teknis. Rombongan dipimpin Ketua Komisi D, Ida Nursaadah, serta diikuti seluruh anggota Komisi D.

    Selain pembahasan regulasi, rombongan juga melakukan peninjauan ruas jalan perbatasan Klaten–Boyolali guna melihat langsung kondisi infrastruktur di lapangan.

    Dalam forum tersebut, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mulyadi, menyampaikan perhatian khusus terhadap kondisi jalan provinsi di Kabupaten Wonogiri. Ia menguraikan Wonogiri memiliki panjang jalan provinsi terpanjang di wilayah Soloraya, mencapai 414 kilometer.

    “Wonogiri itu jalannya paling panjang. Maka perlu perhatian serius, apalagi menjelang Lebaran ketika arus mudik meningkat,” ujar Mulyadi.

    Ia meminta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah segera menuntaskan perbaikan jalan berlubang sebelum Lebaran, khususnya di ruas-ruas yang dinilai cukup parah seperti kawasan perempatan Terminal Pasar Pracimantoro menuju Giriwoyo. Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membahayakan pengguna jalan, terlebih saat arus kendaraan meningkat.

    Mulyadi juga menyinggung titik rawan di kawasan Watu Kelir, perbatasan Sukoharjo, yang memiliki tanjakan dan tikungan cukup ekstrem serta kerap dilalui truk bermuatan pasir. Ia menilai perlu adanya perhatian pada aspek pengaman jalan guna meminimalkan risiko kecelakaan lalu lintas.

    Menanggapi hal tersebut, Ida Nursaadah menyampaikan pentingnya pemetaan kewenangan jalan, baik jalan nasional, provinsi, maupun kabupaten, agar masyarakat memperoleh penjelasan yang tepat. Ia menuturkan kerusakan jalan kerap menjadi sorotan publik tanpa melihat status kewenangannya.

    “Kita perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat terkait kewenangan jalan. Namun jika memang itu jalan provinsi dan kondisinya parah, tentu harus menjadi prioritas penanganan,” kata Ida.

    Ia juga mendukung instruksi Gubernur Jawa Tengah agar H-10 Lebaran seluruh jalan provinsi sudah dalam kondisi bebas lubang. Komisi D, lanjutnya, akan menjalankan fungsi pengawasan dan berkoordinasi dengan dinas terkait apabila menerima laporan dari masyarakat.

    Kunjungan ini menjadi bagian dari upaya Komisi D memperkuat landasan regulasi sekaligus memastikan kualitas infrastruktur jalan provinsi semakin terstandarisasi. Dengan dukungan data teknis dari BPJ Wilayah Surakarta serta masukan lapangan, diharapkan Raperda tentang Penyelenggaraan Standarisasi Jalan Provinsi Jawa Tengah mampu menjawab tantangan kebutuhan infrastruktur yang aman, nyaman, dan mendukung mobilitas masyarakat, terutama menjelang momentum mudik Lebaran 2026. (Sofyan)


    Baca juga: Sholahudin Siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo Raih Juara 1 LKS TSM Kabupaten 2026, Siap Melaju ke Tingkat Provinsi

    Sholahudin Gesang Prasetyo, siswa kelas XII TSM 1 SMK Veteran 1 Sukoharjo saat foto bersama kepala sekolah, Malkan Maliya, S.Pd usai menerima piala dan piagam penghargaan Juara 1 LKS TSM Kabupaten Tahun 2026.


    Sholahudin Siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo Raih Juara 1 LKS TSM Kabupaten 2026, Siap Melaju ke Tingkat Provinsi

    Sukoharjo – majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo. Sholahudin Gesang Prasetyo, siswa kelas XII TSM 1, berhasil meraih Juara 1 Lomba Kompetensi Siswa (LKS) Teknik Sepeda Motor (TSM) tingkat Kabupaten Sukoharjo Tahun 2026.

    Saat ditemui majalahlarise.com, Selasa (24/2/2026), Sholahudin menuturkan keberhasilannya tidak diraih secara instan. Ia mengaku pernah mengikuti ajang LKS pada tahun sebelumnya meski belum berhasil menjadi juara.

    “Untuk sebelumnya di tahun kemarin saya sudah pernah mengikuti lomba LKS yang sama. Karena tahun ini penempatannya di SMK Veteran, awalnya guru memilih kelas 11, tetapi mereka belum berani maju. Akhirnya saya yang dipilih dan diminta belajar lebih giat lagi untuk persiapan LKS tingkat Kabupaten Sukoharjo. Alhamdulillah mendapatkan juara 1 dan sekarang sedang mempersiapkan untuk LKS tingkat provinsi tahun 2026,” ujarnya.

    Dalam kompetisi tersebut, peserta diuji kemampuan teknis seputar teknologi terbaru sepeda motor, meliputi sistem penggerak, mesin, sasis, hingga kelistrikan. Sholahudin menjelaskan tantangan terbesar selama persiapan berasal dari ketersediaan unit praktik.

    “Hambatannya dari unit praktik itu sendiri, kadang tidak sesuai yang diinginkan atau mengalami kerusakan sehingga praktik tidak bisa maksimal,” jelasnya.

    Menghadapi persaingan ketat antar sekolah, ia memilih fokus memperkuat pengalaman dan konsistensi belajar. Pengalaman mengikuti LKS tahun lalu menjadi bekal berharga untuk tampil lebih siap tahun ini.

    “Strateginya terus belajar. Tahun kemarin memang belum juara, tetapi pengalaman itu saya gunakan untuk LKS tahun ini,” katanya.

    Untuk latihan, Sholahudin memanfaatkan waktu pembelajaran bengkel. Dalam satu minggu, ia bisa berlatih dua hingga tiga hari penuh mengikuti jadwal praktik di bengkel sekolah. Lomba tingkat kabupaten sendiri digelar pada 12 Februari 2026.

    Kini, ia bersiap menghadapi LKS tingkat Provinsi Jawa Tengah yang direncanakan berlangsung April 2026. Persiapan difokuskan pada penguatan teori sembari menunggu program praktik kerja lapangan (PKL) di industri.

    “Saya diminta MGMP Sukoharjo untuk PKL di Yamaha selama dua minggu dan di Honda dua minggu. Karena belum mulai PKL, saya fokus memperkuat teori dulu,” ungkapnya.

    Dukungan sekolah dan orang tua menjadi motivasi utama. Ia mengaku pihak sekolah memberikan fasilitas pembelajaran terbaik meski ada beberapa unit praktik yang perlu perbaikan. Sementara orang tua selalu memberikan doa dan dukungan tanpa syarat.

    “Orang tua selalu mendoakan. Menang atau tidak, mereka tetap bangga,” ucapnya.

    Ke depan, Sholahudin bercita-cita melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi dengan mengambil jurusan Teknik Mesin agar kompetensinya semakin meningkat dan peluang kariernya lebih luas.

    Sementara itu, Kepala SMK Veteran 1 Sukoharjo, Malkan Maliya, S.Pd, menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Ia mengatakan prestasi ini menjadi indikator keberhasilan sekolah dalam membekali siswa sesuai standar industri.

    “Dengan prestasi ini menjadi bukti kepada masyarakat bahwa siswa SMK Veteran dipersiapkan menjadi mekanik andal. Kompetensi siswa telah teruji oleh juri dari industri dan mampu menunjukkan yang terbaik di antara sekolah di Sukoharjo,” ujarnya.

    Ia berharap keberhasilan tersebut mampu menginspirasi siswa lain untuk terus mengembangkan potensi dan prestasi. Pihak sekolah juga menyediakan beasiswa administrasi bagi siswa berprestasi yang membawa nama baik sekolah di tingkat kabupaten hingga nasional.

    Prestasi Sholahudin tidak hanya menjadi kebanggaan sekolah, tetapi juga menjadi motivasi bagi siswa kelas XI agar lebih siap menghadapi ajang serupa di masa mendatang. Kini, harapan tertuju pada langkah berikutnya di tingkat provinsi, membawa nama baik sekolah dan Kabupaten Sukoharjo ke level yang lebih tinggi. (Sofyan)


    Baca juga: SMK IPTEK Weru Sukoharjo Berbagi 200 Paket Takjil, Perkuat Pembiasaan Ibadah Siswa di Bulan Ramadan

    Pembagian paket takjil kepada para pengendara motor yang melintas di jalan Bayat Klaten.


    SMK IPTEK Weru Sukoharjo Berbagi 200 Paket Takjil, Perkuat Pembiasaan Ibadah Siswa di Bulan Ramadan

    Sukoharjo – majalahlarise.com - SMK IPTEK Weru Sukoharjo menyelenggarakan kegiatan berbagi takjil kepada para pengendara yang melintas di Jalan Bayat–Klaten, Senin (23/2/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian program Ramadan yang tidak hanya berorientasi pada aksi sosial, tetapi juga pembinaan karakter dan akhlak siswa.

    Ratusan paket takjil dibagikan kepada pengguna jalan menjelang waktu berbuka puasa. Para siswa bersama guru tampak antusias turun langsung ke tepi jalan, menyapa masyarakat dengan ramah sembari menyerahkan paket makanan berbuka.

    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Erpan, S.Pd., menyampaikan kegiatan ini memiliki tujuan utama membangun perbaikan akhlak dan kesadaran beribadah siswa.

    “Tujuan kami untuk perbaikan akhlak dan kesadaran siswa tentang kewajiban beribadah. Di bulan Ramadan ini kami perbanyak pembiasaan ibadah,” ujarnya.


    Ia menguraikan, salah satu program unggulan Ramadan tahun ini adalah pelaksanaan salat tarawih dengan target satu juz setiap malam. Program tersebut sempat mengalami penyesuaian saat pandemi, dari satu juz menjadi setengah juz. Tahun ini, pelaksanaan kembali ditingkatkan menjadi satu juz per malam.

    “Kami mendatangkan para muhafidz atau ustaz dari Solo Raya yang sudah hafal Al-Qur’an. Setiap malam bergantian. Bahkan pada 13 Maret nanti ada tamu spesial, seorang Syekh dari Palestina yang sekaligus akan menggalang dana untuk membantu masyarakat di sana,” jelasnya.

    Program tarawih diikuti seluruh siswa dengan sistem penjadwalan per kelas. Setiap kelas mendapat giliran tiga hingga empat kali selama Ramadan.

    “Kalau full 30 malam tentu berat bagi siswa. Maka kami jadwalkan per kelas. Alhamdulillah tingkat kehadiran mencapai sekitar 80 persen. Bahkan ada kelas yang hanya empat siswa tidak hadir. Bagi kami itu sudah keberhasilan,” ungkap Erpan.

    Selain tarawih, sekolah juga menggelar program takjil keliling di empat titik berbeda. Setelah pembagian di wilayah Bayat sebagai titik barat, kegiatan berlanjut ke Manyaran, Karangdowo, dan Bulu.

    “Total ada empat titik, mewakili barat, selatan, utara, dan timur. Setiap lokasi kami membagikan 150 sampai 200 bungkus nasi. Sumber takjil berasal dari siswa sendiri, sehingga mereka belajar langsung arti berbagi,” katanya.

    Tak hanya berbagi takjil, sekolah juga merencanakan kegiatan bakti sosial ke panti asuhan pada pekan ketiga Ramadan. Kegiatan ini melibatkan OSIS dan guru dengan membawa bingkisan serta kebutuhan pokok sesuai hasil koordinasi sebelumnya dengan pihak panti.

    Di bidang pengembangan potensi, SMK IPTEK Weru juga mengadakan lomba-lomba Ramadan seperti ceramah, cerdas cermat Islami, dan kegiatan keagamaan lainnya pada 11–13 Ramadan. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah mental, keterampilan, sekaligus memetakan potensi siswa di bidang keislaman.

    Erpan berharap seluruh rangkaian kegiatan mampu menumbuhkan empati dan kecintaan siswa terhadap Al-Qur’an.

    “Ramadan adalah bulan Al-Qur’an. Kami ingin menghidupkan malam-malam Ramadan dengan Al-Qur’an. Dari bacaan para hafidz itu, kami ingin tumbuh rasa cinta anak-anak kepada Al-Qur’an,” tuturnya.

    Melalui program sosial dan pembiasaan ibadah yang terstruktur, SMK IPTEK Weru Sukoharjo berupaya membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik dan keterampilan, tetapi juga kuat dalam karakter dan spiritualitas. (Sofyan)


    Baca juga: Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca

    Bu Retno saat memegang lukisan kaca tokoh wayang hasil karyanya.


    Dari Kaca ke Mancanegara, Ketelatenan Bu Retno Bimo Merawat Wayang dalam Balutan Lukisan Kaca

    Wonogiri – majalahlarise.com - Di sudut perbukitan selatan Kabupaten Wonogiri, tepatnya di Kampung Wayang Kepuhsari, Manyaran, denyut tradisi tak pernah benar-benar padam. Di antara suara kuas dan desis halus semprotan cat, lahir karya-karya lukisan kaca wayang yang tak hanya unik, tetapi juga diminati kolektor hingga mancanegara.

    Di Sanggar Seni Wayang Asto Kenyo Art, tokoh-tokoh wayang kulit seolah menemukan rumah baru, bukan lagi di atas kulit kerbau, melainkan menari dalam pantulan kaca dan acrylic yang bening. Setiap garis, setiap warna, menuntut ketelitian dan kecermatan tingkat tinggi agar menghasilkan karya seni berkualitas.

    Pelukis wayang media kaca, bu Retno Bimo akrab disapa menuturkan perjalanan panjangnya saat ditemui majalahlarise.com, Senin (23/2/2026).

    “Awalnya sederhana. Waktu kecil, om saya pelukis kaca. Saya sering melihat prosesnya,” kenangnya.

    Bu Retno tumbuh dalam lingkungan seni. Ia belajar di Sanggar Nimas Art, sanggar milik sang paman di Dusun Kepel, Kepuhsari. Namun, awal perjalanannya justru bukan langsung di kaca.

    “Saya belajar dari wayang beber. Bikin ornamen-ornamen, flora, fauna yang dekoratif. Tujuannya supaya tangan lemas dulu,” ujarnya.

    Media belajarnya pun tak biasa. Ia menggunakan kain menyerupai kanvas dan kertas daluang kertas tradisional dari kulit pohon daluang. Dari sana, kepekaan rasa dan keluwesan tangan mulai terasah.

    Meski di sanggar tersebut juga memproduksi lukisan kaca, Bu Retno tak mendapat pembelajaran khusus. Ketertarikannya tumbuh dari minat dan imajinasi.

    “Saya lihat saja sudah punya greget. Ada keinginan belajar sendiri,” katanya.

    Selepas dari sanggar, ia melanjutkan pendidikan seni rupa. Namun, untuk lukis kaca, ia memilih jalur otodidak. Tahun 2002–2003 menjadi titik awal eksperimen panjangnya.

    Proses itu tak selalu mulus. Kegagalan demi kegagalan pernah ia rasakan. Garis yang tak lurus, warna yang tak menyatu, hingga karya yang belum layak jual menjadi bagian dari perjalanan.

    “Tapi usaha tidak mengkhianati hasil,” ucapnya dengan senyum.

    Seiring waktu, garis yang semula “bengkok-bengkok” mulai rapi. Isian warna semakin halus. Campuran warna yang terus diulang akhirnya menemukan karakter khas.

    Teknik lukis kaca memiliki tantangan tersendiri. Semua dikerjakan secara terbalik. Wayang memang sudah memiliki pakem tokoh tua di kanan, muda di kiri; laki-laki di kanan, perempuan di kiri sehingga arah hadap sudah jelas dalam tradisi Solo dan Yogyakarta. Namun pada lukis wajah realis, tantangannya jauh lebih mendebarkan.

    “Kalau lukis wajah, deg-degannya luar biasa. Mirip atau tidak, baru kelihatan setelah selesai,” tuturnya.

    Bagian wajah harus selesai dalam satu hari. Jika dilanjutkan keesokan harinya, percampuran warna basah dan kering tak akan menyatu sempurna. Risiko gagal pun besar.

    Teknik background juga mengalami evolusi. Dari semprotan manual sederhana, kini ia menggunakan kompresor kecil hingga tabung besar seperti di bengkel. Ukuran dan jenis airbrush menentukan kualitas gradasi dan kesan dua dimensi pada latar.

    Dalam perkembangannya, Bu Retno tak hanya mengerjakan wayang. Ia juga melukis wajah, bunga, hingga tema lain di media kaca maupun acrylic. Acrylic dipilih untuk kebutuhan pengiriman jarak jauh karena lebih aman dibanding kaca.

    Untuk alat, ia menggunakan drawing pen atau rapido teknik berbagai ukuran, cat besi atau cat minyak untuk wayang, serta cat minyak khusus untuk lukis wajah yang tidak cepat kering dan mudah menyatu di media tanpa pori seperti kaca.

    Dari sisi pemasaran, daya tarik utama tetap pada kekuatan karakter wayang. Karya-karyanya tak sekadar pajangan dinding, tetapi juga bisa diaplikasikan pada jendela, pintu, hingga elemen interior rumah.

    Ukuran 40 x 60 cm pernah ia tawarkan di kisaran Rp950 ribu hingga Rp1 juta. Ukuran 50 x 70 cm bisa mencapai Rp1,35 juta hingga Rp1,5 juta. Kini, ia lebih fleksibel menyesuaikan anggaran pemesan, baik dari dalam maupun luar negeri.

    “Yang penting temanya bisa disesuaikan. Medianya juga tidak harus kaca,” ujarnya.

    Namun bagi Bu Retno, lukisan kaca bukan semata urusan jual beli. Ada misi pelestarian yang ia emban. Ia berharap wayang tetap lestari dan diterima lintas kalangan dari dunia pendidikan hingga masyarakat umum.

    Di sanggarnya, ia mengemas lukis kaca dalam paket workshop wisata. Wisatawan domestik maupun mancanegara diajak tak hanya membeli, tetapi juga merasakan proses kreatifnya.

    “Yang awalnya tidak tahu jadi tahu. Yang tidak ingin jadi ingin. Yang tidak butuh jadi merasa perlu,” katanya.

    Di Kampung Wayang Kepuhsari, kaca bukan sekadar media bening. Ia menjadi ruang tafsir baru bagi tradisi. Melalui ketelatenan dan kesabaran, Bu Retno membuktikan wayang mampu menembus batas zaman berkilau, memantul, dan terus hidup dari Wonogiri untuk dunia. (Sofyan)


    Baca juga: Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya

    Suasana kuliah Subuh di Masjid Desa Demangan, Kecamatan Sambi.


    Kuliah Subuh Desa Demangan Boyolali Angkat Tema Ramadhan Berdaya

    Boyolali - majalahlarise.com - Suasana Subuh di Masjid Desa Demangan, Kecamatan Sambi, Kabupaten Boyolali, terasa lebih hidup dan khidmat, Ahad (21/2/2026). Ratusan jamaah memadati saf untuk mengikuti Kuliah Subuh bertema “Ramadhan Berdaya, Tidak Hanya Wacana.”

    Hadir sebagai pemateri, Ustaz Pujiono, Mudir PonpesMU Manafi'ul 'Ulum, yang menyampaikan tausiyah inspiratif tentang pentingnya menjadikan Ramadhan sebagai gerakan nyata, bukan sekadar agenda tahunan. Ia mengajak jamaah memahami puasa sebagai momentum membangun empati dan aksi sosial.

    “Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum membangun kepedulian. Jika setelah Ramadhan kita masih abai pada tetangga yang kesulitan, berarti ada yang belum selesai dengan puasa kita,” ungkapnya di hadapan jamaah.

    Dalam tausiyahnya, Pujiono juga menguraikan agar masjid-masjid di Desa Demangan menjadi pusat pemberdayaan umat. Ia mendorong penguatan gerakan sedekah, optimalisasi zakat, serta penguatan solidaritas sosial sebagai bentuk implementasi nilai Ramadhan yang berdampak nyata di tengah masyarakat.

    Masih menurut Pujiono, kepedulian sosial dapat dimulai dari hal sederhana, seperti membuang sampah pada tempatnya sebagai implementasi larangan berbuat kerusakan di muka bumi sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surah Al-A’raf ayat 56. Ia membacakan ayat tersebut yang berisi pesan agar manusia tidak membuat kerusakan setelah Allah memperbaiki bumi, serta senantiasa berdoa dengan rasa takut dan harap karena rahmat Allah dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.

    “Dari ayat ini, mari kita sebagai umat Islam menunaikan dengan membuang sampah pada tempatnya,” tandasnya.

    Kegiatan berlangsung tertib dan komunikatif, dipandu oleh moderator Abdul Fatah yang mengarahkan jalannya acara sejak awal hingga penutup. Kuliah Subuh ini merupakan sinergi takmir masjid se-Desa Demangan dengan Koordinator Muh. Abdul Jalil dan Sekretaris Suyamto. Adapun narahubung kegiatan adalah Andri Nugroho.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kaur Kesra Sarjono, serta sejumlah tokoh masyarakat seperti H. Rosyidi, Slamet, dan Uswatun Hasanah. Kehadiran para tokoh desa menunjukkan dukungan penuh terhadap gerakan Ramadhan yang lebih membumi dan berdampak.

    Acara ditutup dengan doa dan harapan bersama agar Ramadhan 1447 Hijriah benar-benar menjadi bulan kebangkitan kepedulian sosial di Desa Demangan. Semangat Subuh itu menjadi penanda Ramadhan di Demangan, Sambi, siap berdaya, tidak berhenti pada retorika, tetapi bergerak dalam aksi nyata. (Sofyan)


    Baca juga: Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Falah Sukoharjo Gelar Ramadhan Peduli Palestina, Donasi Terkumpul Rp7,9 Juta



    Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Falah Sukoharjo Gelar Ramadhan Peduli Palestina, Donasi Terkumpul Rp7,9 Juta

    Sukoharjo - majalahlarise.com - Ramadhan adalah momentum terbaik untuk meningkatkan keimanan dan kepedulian. Menghadirkan semangat tersebut, Masjid Al-Falah Madyorejo Rt 01 Rw 07, Jetis Sukoharjo,  menyelenggarakan program Ramadhan Peduli Palestina, sebuah kegiatan dakwah Ramadhan yang dikemas secara hangat, edukatif, dan menyentuh hati, Sabtu (21/2/26)

    Ketua takmir Ir. H. Rudy Setyohadi saat dijumpai  menyampaikan, Program ini diharapkan bisa membangun empaty kepada saudara kita di Palestina. 

    Melalui media Safari menghadirkan cerita-cerita inspiratif, nilai-nilai keislaman, serta edukasi kepedulian terhadap Gaza Palestina dengan pendekatan yang komunikatif dan berkesan, paparnya.

    Memasuki 5 Ramadhan 1447 H jamaah sholat  Isya dan tarawih bersama Syekh Osama Khalil Al Yacaobi dari Palestina.

    Dalam tabligh tersebut Syekh Osama Khalil Al Yacaobi, dengan mengatakan bahwa kondisi saat ini di Indonesia banyak musibah seperti di Aceh, Jawa Barat dan lain sebagainya. Disitu tak luput kejadian yang menimpa warga Gaza sehingga bangunan untuk fasilitas umum luluh lantak, sehingga perlunya pendukung warga Gaza untuk membangun kembali fasilitas yang telah  hancur. "Kali ini bangsa Indonesia sedang membangun rumah sakit di Gaza," tuturnya.

    Tujuan utama mereka bukan sekadar berceramah, melainkan memiliki misi kemanusiaan dan solidaritas yang kuat. "Menyampaikan kondisi terkini di Gaza dan Palestina untuk menggugah simpati, empati, dan memperkuat dukungan moril serta materiil dari masyarakat Indonesia," tambah syekh.

    Melakukan aksi nyata dengan menghimpun donasi melalui lembaga-lembaga filantropi kredibel di Indonesia (seperti LazisMu, ACA, Baznas dll.) untuk bantuan pangan, tenda, paket kesehatan, dan layanan psikologi bagi warga Palestina. Adapun dalam kajian malam seusai salat tarawih dapat mengumpulkan donasi sebesar Rp. 7.918.000,- (Begug SW)


    Baca juga: Kajian KHGT di PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Sambi, Ust Pujiono Uraikan Pentingnya Kesatuan Kalender Islam Global


Top