,

    Atraksi unggulan tari Laskar Tani SMP Negeri 2 Manyaran dalam Pawai Budaya.


    Drumband Gema Swara Esperoma dan Tari Laskar Tani SMP Negeri 2 Manyaran Meriahkan Pawai Budaya

    WONOGIRI - majalahlarise.com - SMP Negeri 2 Manyaran turut ambil bagian dalam Pawai Budaya Kecamatan Manyaran yang digelar dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026). Kegiatan yang dipusatkan di depan Kantor Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, berlangsung meriah dengan menampilkan beragam potensi seni dan budaya masyarakat.

    Dalam pawai tersebut, SMP Negeri 2 Manyaran menghadirkan dua atraksi unggulan, yakni Drumband Gema Swara Esperoma dan Tari Laskar Tani. Keduanya menjadi daya tarik tersendiri sekaligus menunjukkan kreativitas siswa dalam mengembangkan seni, budaya, dan kemampuan tampil di tengah masyarakat.

    Drumband Gema Swara Esperoma tampil penuh semangat dan kekompakan. Para siswa berjalan mengikuti rute pawai sambil memainkan berbagai alat musik drumband. Irama musik yang dinamis turut membangun suasana semarak dan menghibur masyarakat yang menyaksikan rangkaian Pawai Budaya Kecamatan Manyaran.

    Drumband Gema Swara Esperoma tampil melewati panggung kehormatan.


    Tidak kalah menarik, Tari Laskar Tani tampil dengan konsep yang mengangkat kehidupan masyarakat agraris. Para penari mengenakan busana bernuansa merah serta membawa caping sebagai properti pertunjukan. Perpaduan gerak tari, busana, dan properti tersebut menggambarkan semangat para petani sekaligus memperkuat pesan pelestarian budaya lokal.

    Kepala SMP Negeri 2 Manyaran, Dra. Siti Khumaidah Hidayati, menyampaikan keikutsertaan sekolah dalam Pawai Budaya menjadi momentum penting bagi siswa untuk mengembangkan karakter dan kreativitas.

    “Keikutsertaan SMP Negeri 2 Manyaran dalam Pawai Budaya Kecamatan Manyaran menjadi momentum bagi para siswa untuk mengembangkan karakter, kreativitas, kerja sama, serta keberanian tampil di hadapan masyarakat,” ujarnya.

    Menurutnya, kegiatan seni dan budaya tidak hanya memberikan ruang bagi siswa untuk berekspresi, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran di luar kelas. Melalui kegiatan tersebut, siswa diajak mengenal, menghargai, dan mencintai kekayaan budaya bangsa.

    “Kegiatan seni dan budaya juga menjadi sarana pembelajaran di luar kelas yang mendorong siswa untuk mengenal dan mencintai kekayaan budaya bangsa,” jelasnya.

    Pawai Budaya Kecamatan Manyaran tahun ini mengusung semangat “Merayakan budaya, memperkuat persatuan, menggapai Indonesia maju.” Pesan tersebut selaras dengan semangat peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI yang mengajak seluruh masyarakat menjaga keberagaman sekaligus memperkuat persatuan.

    Melalui penampilan Gema Swara Esperoma dan Tari Laskar Tani, SMP Negeri 2 Manyaran turut menyampaikan pesan “Bangga budaya, bangga Indonesia!” Semangat tersebut diharapkan terus tumbuh dalam diri generasi muda sebagai penerus bangsa sekaligus pelestari budaya Indonesia.

    Keikutsertaan siswa SMP Negeri 2 Manyaran dalam Pawai Budaya juga menunjukkan peran sekolah dalam memberikan pengalaman nyata kepada peserta didik untuk berkolaborasi, disiplin, percaya diri, serta berinteraksi dengan masyarakat. Seni dan budaya pun menjadi media strategis untuk menanamkan nilai kebersamaan dan kecintaan terhadap Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81

    Agus Widarnarko, S.E., (Danar Superhero Gatutkaca) sebagai narasumber saat mendongeng.


    MPLS Sekolah Rakyat Sukoharjo Bersama Danar Superhero Gatutkaca, Siswa Diajak Santun, Stop Bullying, dan Kenali Wisata Daerah

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo berlangsung edukatif dan menyenangkan. Para siswa jenjang SD mendapatkan pembekalan mengenai sopan santun, literasi, pencegahan bullying, bahaya jajanan berisiko, hingga pengenalan destinasi wisata Kabupaten Sukoharjo melalui kegiatan mendongeng.

    Kegiatan yang berlangsung Selasa (18/8/2026) pukul 09.30–11.30 WIB di Gedung Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo, Gabahan, Jombor, Kecamatan Bendosari, tersebut menghadirkan Tim Literasi Gatutkaca Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan bersama tim literasi dengan menghadirkan Agus Widarnarko, S.E., (Danar Superhero Gatutkaca) sebagai narasumber.

    Melalui metode dongeng wisata, para siswa diajak belajar dengan cara yang dekat dengan dunia anak. Tokoh Gatutkaca digunakan sebagai bagian dari penyampaian pesan mengenai pentingnya memiliki adab, bersikap sopan dan santun, menghargai teman, serta menghindari tindakan bullying di lingkungan sekolah.

    Selain pendidikan karakter, siswa juga dikenalkan dengan potensi wisata yang ada di Kabupaten Sukoharjo. Informasi mengenai destinasi wisata tersebut disampaikan secara ringan agar siswa memiliki pengetahuan mengenai daerahnya sendiri sekaligus tumbuh rasa bangga terhadap potensi wisata lokal.


    Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo, Subkhi Widiyatmoko, S.Pd., M.Pd., menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, kehadiran tim dari Disporapar memberikan pengalaman berbeda bagi siswa karena pembelajaran dikemas dalam bentuk hiburan sekaligus edukasi.

    “Kami senang sekali anak-anak SD mendapatkan hiburan dan semangat dari kakak-kakak super hero dari Disporapar. Selain mendapatkan pengetahuan tentang adab sopan santun dan stop bullying, mereka juga mendapatkan informasi tentang wisata di Sukoharjo,” ujar Subkhi.

    Subkhi menambahkan, pengenalan destinasi wisata kepada siswa menjadi bagian menarik karena para peserta didik Sekolah Rakyat berasal dari berbagai wilayah di kawasan Surakarta. Karena itu, pihak sekolah berencana mengajak siswa mengunjungi sejumlah lokasi wisata di Sukoharjo ketika memasuki masa liburan.

    “Kami akan mengajak wisata ke lokasi Sukoharjo jika nanti liburan. Mereka datang dari wilayah yang jauh dan dari berbagai daerah di sekitar Surakarta, sehingga kami ingin mereka juga mengenal wisata Sukoharjo,” jelasnya.

    Dalam kegiatan tersebut, siswa antara lain dikenalkan dengan destinasi wisata Batu Seribu serta sejumlah objek wisata yang berada di wilayah Sukoharjo dan sekitarnya. Penyampaian materi melalui dongeng diharapkan membuat pesan pendidikan karakter dan pengenalan wisata lebih mudah diterima anak-anak.

    Kegiatan MPLS ini sekaligus menjadi ruang bagi Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Sukoharjo untuk memperkenalkan lingkungan belajar yang aman, ramah anak, dan menyenangkan. Pesan untuk menjaga sopan santun, menghormati sesama, menghentikan bullying, serta memilih jajanan yang aman diharapkan dapat diterapkan siswa dalam kehidupan sehari-hari.

    Melalui kolaborasi sekolah dengan Tim Literasi Gatutkaca Disporapar Sukoharjo, kegiatan MPLS tidak sekadar menjadi pengenalan lingkungan sekolah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana membangun karakter siswa sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap potensi wisata daerah sejak usia dini. (Sofyan)


    Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81

    Kontingen dari MI Al-Kahfi Manyaran saat menyerahkan karangan bunga kepada Camat Manyaran diterima ibu Toto Tri Mulyarto.


    Pawai Budaya dan Pembangunan Meriahkan HUT ke-81 RI di Manyaran

    WONOGIRI - majalahlarise.com - Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, menggelar Pawai Budaya dan Pembangunan dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026). Kegiatan berlangsung meriah dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintah desa/kelurahan, organisasi kemasyarakatan, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

    Pawai menjadi salah satu rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Manyaran. Berdasarkan surat Panitia HUT ke-81 Kemerdekaan RI Kecamatan Manyaran Nomor B/015/PAN-HUT-81/VIII/2026 tertanggal 10 Agustus 2026, peserta dibagi dalam dua kategori keberangkatan untuk menjaga ketertiban dan kelancaran kegiatan.

    Kategori pertama yang terdiri atas Kelompok Bermain (KB), Taman Kanak-kanak (TK), dan Sekolah Dasar (SD) diberangkatkan dari Lapangan Karanglor mulai pukul 08.00 WIB. Sementara kategori kedua yang meliputi SMP, SMA/SMK, desa/kelurahan, dan peserta umum diberangkatkan dari halaman SMP Negeri 1 Manyaran sekitar pukul 09.00 WIB.

    Kontingen MI Al-Kahfi Manyaran mengenakan pakaian bertema wayang orang dan kostum batik karnival.


    Peserta kemudian mengikuti rute yang telah ditentukan hingga finis di depan Puskesmas Manyaran. Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta diarahkan untuk membubarkan diri menuju arah utara.

    Kegiatan tersebut diikuti berbagai unsur masyarakat dan lembaga di Kecamatan Manyaran. Di antaranya Forkopimcam, DPRD, PKK, Dharma Wanita, KUA, Puskesmas, unsur pendidikan, satuan pendidikan tingkat SMA hingga SD, pemerintah desa/kelurahan, tokoh masyarakat, serta panitia HUT Kemerdekaan RI ke-81.

    Camat Manyaran, Toto Tri Mulyarto, menjelaskan Pawai Budaya dan Pembangunan digelar sebagai sarana menggairahkan masyarakat dalam mengisi kemerdekaan. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk mengingat kembali jasa dan perjuangan para pahlawan dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

    Camat Manyaran Toto Tri Mulyarto beserta tamu undangan saat berada di panggung kehormatan.


    “Ini menjadi satu semangat kepada masyarakat untuk mengekspresikan bagaimana mereka merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81 dengan berbagai ide, kreasi, dan gagasan,” ujar Toto Tri Mulyarto.

    Menurutnya, antusiasme masyarakat dalam mengikuti pawai mencerminkan semangat gotong royong dan kreativitas warga. Berbagai tampilan yang disuguhkan menjadi ruang bagi masyarakat untuk mengekspresikan rasa syukur sekaligus kecintaan terhadap bangsa dan negara.

    Selain aspek budaya dan kreativitas, pawai juga memiliki dampak ekonomi bagi masyarakat. Kegiatan yang melibatkan banyak warga tersebut memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk memperkenalkan produk sekaligus mengembangkan usaha.

    “Di samping itu juga memberikan kesempatan, satu sarana bagi UMKM yang ada di sini untuk berdaya guna dan meningkatkan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

    Panitia juga menerapkan sejumlah tata tertib untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib. Peserta diperbolehkan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat dengan batas maksimal kendaraan truk engkel. Kendaraan tidak diperbolehkan menggunakan knalpot brong. Peserta juga dilarang membawa atau menggunakan petasan maupun benda sejenis yang dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain.

    Setiap kontingen diwajibkan menampilkan atraksi di depan panggung kehormatan yang berada di depan Kantor Kecamatan Manyaran dengan durasi maksimal lima menit. Sebelum memasuki panggung kehormatan, peserta menyampaikan narasi mengenai nama kontingen, jumlah peserta, tema yang diusung, serta informasi pendukung lainnya.

    Ketentuan tersebut membuat Pawai Budaya dan Pembangunan tidak sekadar menjadi kegiatan hiburan, tetapi juga menjadi ruang kreativitas, edukasi, kebersamaan, dan penguatan semangat nasionalisme masyarakat Manyaran dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81

    Pelaksanaan upacara tahun ini. Seluruh petugas upacara berasal dari kalangan guru. Para guru mengambil peran mulai dari pemimpin upacara, pembaca teks Proklamasi, pembaca Undang-Undang Dasar 1945, pengibar bendera, hingga petugas lainnya.


    Upacara HUT ke-81 RI di SD Muhammadiyah PK Solo, Seluruh Petugas Berasal dari Guru

    Solo - majalahlarise.com - Sebanyak 149 murid kelas V dan VI serta 50 guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di hall sekolah, Senin (17/8/2026).

    Ada hal menarik dalam pelaksanaan upacara tahun ini. Seluruh petugas upacara berasal dari kalangan guru. Para guru mengambil peran mulai dari pemimpin upacara, pembaca teks Proklamasi, pembaca Undang-Undang Dasar 1945, pengibar bendera, hingga petugas lainnya.

    Sementara itu, murid kelas I–IV mengikuti upacara dari rumah melalui siaran langsung kanal YouTube SDMUHPKTV. Skema tersebut memungkinkan seluruh warga sekolah tetap mengikuti momentum peringatan kemerdekaan meskipun berada di tempat yang berbeda.


    Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nursalam, dalam amanatnya mengajak seluruh peserta upacara untuk senantiasa mensyukuri nikmat kemerdekaan yang telah diperjuangkan para pahlawan.

    “Kemerdekaan merupakan anugerah sekaligus amanah dari Allah Swt. Kemerdekaan sebagai anugerah karena tanpa pertolongan dari Allah, tidak akan mungkin perjuangan para pahlawan berhasil meraih kemerdekaan. Sedangkan kemerdekaan juga merupakan amanah, sehingga kita sebagai generasi saat ini wajib mengisinya dengan fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan,” ungkapnya.

    Nursalam juga mengajak seluruh peserta upacara untuk meneladan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyampaikan tiga sikap penting yang perlu terus dibangun. Pertama, berani membela kebenaran dan keadilan. Kedua, senantiasa jujur dalam perkataan dan perbuatan. Ketiga, menampilkan sikap hidup sederhana.

    Menurut Nursalam, nilai-nilai tersebut tidak cukup hanya dikenang dalam momentum peringatan kemerdekaan, tetapi perlu diwujudkan dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat.

    Dalam kesempatan tersebut, Nursalam juga menyampaikan apresiasi dan ucapan selamat atas berbagai prestasi tingkat nasional maupun internasional yang telah diraih murid SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo.

    Menurutnya, berbagai capaian tersebut menjadi salah satu bukti bahwa murid terus berusaha menerapkan nilai-nilai kepahlawanan, terutama keberanian untuk berprestasi, kerja keras, kedisiplinan, dan semangat memberikan yang terbaik.

    Rangkaian upacara kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang 13 cabang lomba semarak HUT ke-81 RI yang telah dilaksanakan pada Jumat (14/8/2026).

    Pengumuman tersebut menjadi penutup rangkaian perayaan HUT ke-81 RI di SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo. Sebelumnya, ratusan murid telah mengikuti berbagai perlombaan yang dirancang untuk mengembangkan kreativitas, keterampilan, kebugaran, kerja sama, serta semangat nasionalisme.

    Melalui peringatan HUT ke-81 RI, sekolah tidak hanya mengajak murid mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga mendorong seluruh warga sekolah untuk mengisi kemerdekaan dengan karya, prestasi, kejujuran, kesederhanaan, dan semangat fastabiqul khairat. (Sofyan)


    Baca juga: BUMDes Jenalas Sragen Hilirisasi Sawo Menjadi Selai, Dongkrak Nilai Ekonomi Desa

    Tim drumband SMPN 2 Manyaran dipercaya sebagai pengiring Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra).


    Drumband SMPN 2 Manyaran Tampil di Upacara HUT ke-81 RI

    MANYARAN – majalahlarise.com – Drumband SMP Negeri 2 Manyaran mendapat amanah untuk turut menyukseskan upacara peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Senin (17/8/2026). Dalam kegiatan tersebut, tim drumband SMPN 2 Manyaran dipercaya sebagai pengiring Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) sekaligus memberikan hiburan bagi tamu undangan dan peserta upacara.

    Penampilan drumband menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian upacara. Para siswa tampil dengan disiplin dan penuh semangat mengiringi langkah Paskibra dalam menjalankan tugas pengibaran Sang Merah Putih. Kekompakan antara pemain alat musik, gerakan baris-berbaris, serta aransemen musik yang dibawakan membuat suasana upacara semakin khidmat dan semarak.

    Tidak hanya mengemban tugas sebagai pengiring Paskibra, drumband SMPN 2 Manyaran juga dipercaya menghibur tamu undangan dan peserta upacara sebelum pelaksanaan upacara penurunan bendera. Penampilan tersebut menjadi ruang bagi para siswa untuk menunjukkan keterampilan, kedisiplinan, kerja sama, sekaligus rasa percaya diri yang selama ini dibangun melalui kegiatan ekstrakurikuler.

    Kepala SMP Negeri 2 Manyaran, Dra. Siti Khumaidah Hidayati, menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Manyaran yang telah memberikan amanah kepada sekolah yang dipimpinnya.

    Tim drumband SMPN 2 Manyaran saat tampil sebelum upacara penurunan bendera.


    “Terima kasih kepada panitia penyelenggara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Manyaran yang telah memberikan amanah dan kepercayaan kepada SMP Negeri 2 Manyaran untuk berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan ini,” ujar Siti Khumaidah Hidayati.

    Menurutnya, kepercayaan tersebut menjadi kesempatan berharga bagi siswa untuk belajar bertanggung jawab sekaligus mengembangkan potensi yang dimiliki. Keterlibatan drumband dalam upacara tingkat kecamatan juga menjadi pengalaman bagi siswa untuk tampil di hadapan masyarakat dalam momentum peringatan kemerdekaan.

    “Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada anak-anak dan bapak ibu guru yang telah mempersiapkan serta melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab. Semoga pengalaman ini menjadi motivasi bagi siswa untuk terus berprestasi dan mengembangkan bakatnya,” jelasnya.

    Ia berharap partisipasi siswa dalam kegiatan tersebut tidak sekadar menjadi penampilan seremonial, tetapi juga menjadi bagian dari proses pendidikan karakter. Melalui latihan rutin dan keterlibatan dalam kegiatan resmi, siswa belajar mengenai kedisiplinan, kekompakan, tanggung jawab, serta menghargai perjuangan para pahlawan.

    Penampilan drumband SMPN 2 Manyaran dalam rangkaian HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Kecamatan Manyaran sekaligus menunjukkan peran sekolah dalam mendukung kegiatan kemasyarakatan. Semangat para siswa menjadi warna tersendiri dalam peringatan kemerdekaan yang berlangsung di Kecamatan Manyaran. (Sofyan)


    Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81

    Tim pengabdi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jenalasku Maju mengembangkan buah sawo menjadi produk selai sekaligus memperkuat manajemen dan pemasaran usaha.


    BUMDes Jenalas Sragen Hilirisasi Sawo Menjadi Selai, Dongkrak Nilai Ekonomi Desa

    SRAGEN – majalahlarise.com – Potensi buah sawo yang melimpah di Desa Jenalas, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, didorong menjadi produk pangan bernilai tambah melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Tim pengabdi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jenalasku Maju mengembangkan buah sawo menjadi produk selai sekaligus memperkuat manajemen dan pemasaran usaha.

    Program tersebut mengusung judul “Penguatan Peran BUMDes Jenalas Sragen dalam Pengelolaan dan Pemasaran Sawo melalui Produksi Selai sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Berkelanjutan Desa.” Kegiatan diarahkan untuk menjawab persoalan produksi dan manajemen usaha BUMDes melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, pelatihan, pendampingan, pengemasan, pembukuan, serta penguatan pemasaran.

    Ketua tim PKM, Dr. Yoto Widodo, M.Si., bertanggung jawab mengoordinasikan seluruh rangkaian kegiatan, menjalin komunikasi dengan BUMDes dan pemangku kepentingan desa, serta memperkuat strategi pemberdayaan masyarakat dan manajemen usaha.

    "Tujuan program dirumuskan untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas BUMDes Jenalas dalam produksi selai sawo melalui penerapan proses pengolahan yang terstandar sehingga dihasilkan produk selai sawo yang berkualitas dan siap dipasarkan," jelasnya.

    Ketua tim PKM, Dr. Yoto Widodo, M.Si saat menyampaikan pelaksana program.

    Pernyataan tersebut menunjukkan program tidak sekadar mengajarkan cara membuat selai, tetapi diarahkan membangun kemampuan BUMDes agar dapat menjalankan unit usaha secara mandiri. Penguatan juga mencakup perencanaan produksi, pengelolaan bahan baku, penetapan harga, pencatatan keuangan, hingga pengaturan sistem pemasaran.

    Potensi Sawo Belum Tergarap Optimal

    Desa Jenalas memiliki sekitar 57 pohon sawo yang tersebar di pekarangan warga. Masa panen berlangsung sekitar Mei hingga Oktober. Produksinya dapat mencapai sekitar 1,5 kuintal per pohon pada periode panen.

    Selama ini buah sawo lebih banyak dikonsumsi rumah tangga, dijual secara individual dalam skala kecil, atau dijual kepada pengepul. Pada periode panen, produksi sekitar 100–200 kilogram sebagian digunakan untuk konsumsi, sebagian dijual di lingkungan sekitar, dan sebagian lainnya masuk ke pasar pengepul.

    Pola tersebut dinilai belum memberikan nilai ekonomi optimal bagi masyarakat maupun BUMDes. Penjualan secara individual juga menyebabkan volume pemasaran tidak kontinu dan harga sangat bergantung pada kondisi pasar serta pengepul.

    BUMDes belum memiliki sistem pengumpulan dan penjualan sawo yang terkoordinasi. Daya simpan buah yang terbatas juga menjadi persoalan ketika produksi meningkat pada musim panen.

    Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan selai sawo. Buah yang sebelumnya cepat mengalami penurunan mutu dapat diolah menjadi produk dengan daya simpan lebih panjang dan memiliki nilai jual berbeda dibandingkan buah segar.

    Aspek teknis produksi menjadi tanggung jawab Dr. Bovi Wira Harsanto, S.TP.. Ia memiliki kompetensi teknologi hasil pertanian dan bertugas menyusun formulasi, proses pengolahan, pengendalian mutu, serta memberikan pelatihan pembuatan dan pengemasan selai.

    “Transfer iptek terkait pembuatan selai sawo melalui pelatihan dan pendampingan teknis merupakan upaya tim pengusul untuk meningkatkan keterampilan BUMDes dalam mengolah buah sawo menjadi produk selai yang berkualitas dan siap dipasarkan," jelasnya.

    Teknologi yang diterapkan menggunakan peralatan skala rumah tangga atau UMKM, seperti panci stainless steel, kompor gas, spatula food grade, serta blender atau chopper.


    Pelatihan dilakukan secara praktik langsung. Peserta mendapatkan materi mengenai karakteristik bahan baku, formulasi, prinsip pengolahan pangan, sortasi, pengolahan, pemasakan, hingga pengemasan sementara.

    Teknologi yang diterapkan menggunakan peralatan skala rumah tangga atau UMKM, seperti panci stainless steel, kompor gas, spatula food grade, serta blender atau chopper. Kapasitas produksi dirancang sekitar 10–15 kilogram sawo segar dalam satu proses produksi.

    Pengemasan Diperkuat agar Siap Pasar

    Selain membuat produk, BUMDes mendapatkan pendampingan pengemasan. Materi meliputi pemilihan kemasan food grade, teknik pengisian dan penutupan, desain kemasan, serta penyusunan label.

    Produk dirancang dalam kemasan botol kaca atau plastik food grade berukuran 100–200 gram. Kapasitas pengemasan ditargetkan mencapai sekitar 50–100 kemasan setiap batch.

    “Desain kemasan yang menarik dan label yang informatif berperan penting dalam meningkatkan daya tarik dan kepercayaan konsumen terhadap produk pangan olahan.”

    Target program pada aspek pengemasan meliputi tersedianya kemasan food grade, desain label lengkap yang memuat nama produk, komposisi, berat bersih dan produsen, serta minimal 50–100 unit produk siap jual.

    Manajemen dan Pemasaran Tidak Ditinggalkan

    Pengembangan unit usaha selai sawo juga membutuhkan tata kelola bisnis yang baik. Karena itu, program memberikan pelatihan manajemen yang mencakup perencanaan produksi, pengelolaan bahan baku, pencatatan keuangan, penetapan harga, perhitungan HPP, dan pemasaran.

    Dr. Joko Suryono, M.Si., anggota tim bidang ilmu komunikasi, mendapatkan tugas memperkuat komunikasi dan pemasaran unit usaha. Ia berperan dalam perancangan strategi komunikasi pemasaran berbasis data, penyusunan materi promosi, serta integrasi komunikasi pemasaran dengan sistem manajemen BUMDes.

    “Sistem manajemen usaha yang baik memungkinkan BUMDes menjalankan unit usaha selai sawo secara lebih efisien dan berorientasi pada keberlanjutan," jelasnya.

    Dengan pembukuan sederhana, pengurus BUMDes diharapkan mampu mengetahui pemasukan, pengeluaran, biaya produksi, HPP, serta harga jual produk. Targetnya, BUMDes memiliki buku kas sederhana dan mampu melakukan pencatatan keuangan secara rutin selama kegiatan.

    Melibatkan Mahasiswa

    Kegiatan PKM juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Irma Dwi Wijayanti dari Ilmu Komunikasi dan Heru Febrianto dari Teknologi Hasil Pertanian.

    Irma membantu pendataan, pembukuan sederhana, monitoring dan evaluasi, penyusunan materi pelatihan, serta komunikasi antara tim pengabdi dan mitra. Heru membantu kegiatan produksi, pengemasan, dokumentasi, pencatatan data produksi dan evaluasi hasil pelatihan.

    Keterlibatan mahasiswa tersebut dapat direkognisi menjadi mata kuliah minimal enam SKS.

    Targetkan Produksi Mandiri

    Program menetapkan indikator capaian yang terukur. BUMDes ditargetkan mampu menghasilkan minimal satu hingga dua varian selai sawo, melakukan sedikitnya dua kali produksi secara mandiri, serta menyusun SOP produksi.


    Proses pembuatan selai sawo.

    Pada aspek pemasaran produk, ditargetkan minimal 50–100 unit selai sawo siap jual. Sementara dari sisi manajemen, BUMDes diharapkan memiliki buku kas sederhana, rekap HPP dan harga jual, serta mampu melakukan pencatatan keuangan secara rutin.

    Program juga menargetkan peningkatan level keberdayaan mitra pada aspek produksi dan manajemen, produk usaha berupa selai sawo, publikasi berita pada media massa elektronik nasional, serta video kegiatan sebagai luaran wajib.

    Dari Buah Pekarangan Menjadi Produk Ekonomi Desa

    Hilirisasi sawo melalui pengembangan selai diharapkan memberikan manfaat langsung kepada pemilik pohon sawo. Buah yang sebelumnya dijual secara individual dapat diserap BUMDes sebagai bahan baku produksi.

    Pemilik pohon sawo dapat memperoleh tambahan pendapatan melalui mekanisme penyerapan buah oleh BUMDes. Masyarakat juga dapat dilibatkan dalam proses produksi, pengemasan maupun pemasaran sehingga membuka peluang peningkatan keterampilan dan kesempatan kerja.

    Teknologi yang diterapkan dirancang sederhana, berbiaya rendah, dan sesuai dengan skala desa. Rangkaian prosesnya meliputi sawo segar, sortasi dan pencucian, pengupasan dan penghalusan, pemasakan terkontrol, selai sawo, pengemasan dan pelabelan, kemudian pencatatan usaha.

    Program ini pada akhirnya diarahkan bukan hanya menghasilkan satu produk baru, melainkan membangun model usaha BUMDes berbasis komoditas lokal. Pengolahan sawo diharapkan dapat mengurangi kehilangan hasil panen saat musim melimpah, meningkatkan nilai tambah, menciptakan sumber pendapatan baru, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Desa Jenalas.

    Dengan demikian, sawo yang selama ini tumbuh di pekarangan warga memiliki peluang untuk naik kelas. Dari komoditas yang sebagian besar dijual segar atau kepada pengepul, sawo diarahkan menjadi produk olahan dengan merek, kemasan, pembukuan dan strategi pemasaran yang dikelola secara kelembagaan melalui BUMDes. (Sofyan)

    Pengibaran bendera merah putih oleh petugas pengerek bendera terdiri atas Dwi Angga Saputra, Cantika Tri Hapsari, dan Bias Rafael Alfarizi.


    Semarak HUT ke-81 RI di Manyaran, 14 Penampilan Seni Meriahkan Pra Upacara

    WONOGIRI - majalahlarise.com - Rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia di Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, berlangsung semarak. Sebanyak 14 penampilan seni dan kreativitas dari lembaga pendidikan serta organisasi guru turut memeriahkan rangkaian kegiatan pra upacara Detik-Detik Proklamasi, Senin (17/8/2026).

    Penampilan pra upacara dibagi dalam dua sesi, yakni pagi dan sore. Beragam kreativitas ditampilkan, mulai dari tari masal, tari kolosal, drum band hingga musikalisasi puisi. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi para pelajar dan pendidik untuk menunjukkan kreativitas sekaligus menumbuhkan semangat nasionalisme melalui seni dan budaya.

    Sesi pagi berlangsung pukul 07.00 hingga 08.30 WIB. Penampilan diawali IGTKI Kecamatan Manyaran melalui Tarian Masal Anak TK “Caca Marica” yang melibatkan sekitar 250 anak. Setelah itu, SD Negeri 1 Manyaran dan SD Negeri 3 Punduhsari menampilkan drum band. SD Negeri 4 Gunungan kemudian menyuguhkan tari masal.

    SD Negeri 4 Gunungan menyuguhkan tari masal.

    Rangkaian penampilan dilanjutkan TK Al Huda Manyaran, SD Negeri 5 Gunungan, SD Negeri 2 Manyaran, TK Pertiwi Manyaran, serta MI Al-Kahfi Manyaran yang masing-masing menampilkan drum band.

    Sementara sesi sore menghadirkan lima penampilan. MTs Negeri Manyaran membuka sesi dengan Tari Kethek Ogleng Kolosal. Selanjutnya, SMP Negeri 2 Manyaran menampilkan drum band, disusul SMP Muhammadiyah Manyaran dengan musikalisasi puisi. SMP Negeri 1 Manyaran kemudian tampil melalui drum band dan rangkaian ditutup SMA Negeri 1 Manyaran dengan Tari Gendro.

    Selain pertunjukan seni, Upacara Detik-Detik Proklamasi tingkat Kecamatan Manyaran dipersiapkan dengan melibatkan unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan, lembaga pendidikan, guru, serta pelajar dari sejumlah sekolah.

    Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Kapten Infantri Budi Utama dari Danramil-11 Manyaran. Perwira Upacara dipercayakan kepada Peltu Sriyanto, sedangkan Komandan Upacara Pelda Joko Adi Prasetyo. Petugas lainnya berasal dari unsur pemerintah kecamatan, sekolah, KUA, TNI, Polri, serta lembaga pendidikan.

    MI Al-Kahfi Manyaran menampilkan drum band.


    Pasukan pengibar bendera merupakan gabungan siswa SMA dan SMK se-Kecamatan Manyaran dari SMA Negeri 1 Manyaran, SMK Veteran Manyaran, dan SMA Muhammadiyah 2 Manyaran. Paskibra dilatih Serka Yoyok Sri Ariyanto, Serka Agus Suranto, Bripka Pandhit, dan Brippol Nico.

    Dalam formasi Paskibra, Danton 1 dipercayakan kepada Rendi Aditya Pratama dan Danton 2 Tiara Dwi Saputri, keduanya dari SMA Negeri 1 Manyaran. Jasmine Arifa Kinanti bertugas sebagai pembawa bendera. Sementara petugas pengerek bendera terdiri atas Dwi Angga Saputra, Cantika Tri Hapsari, dan Bias Rafael Alfarizi.

    Dalam amanatnya yang dibacakan Inspektur Upacara, Bupati Wonogiri Setio Soekarno mengajak masyarakat melanjutkan perjuangan para pahlawan melalui kerja nyata, pengabdian, serta menjaga persatuan dan kesatuan.

    “Sebagai generasi penerus, tugas kita adalah melanjutkan perjuangan segenap pahlawan bangsa untuk mewujudkan cita-cita Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur,” ujar Setio Soekarno.

    Ia juga mengingatkan aparatur negara, perangkat pemerintahan, serta masyarakat agar menempatkan kepentingan negara dan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun golongan. Semangat perjuangan para pahlawan perlu diwujudkan melalui kerja dengan niat tulus dan sepenuh hati.

    Para tamu undangan.


    Menurutnya, perjalanan menuju usia satu abad Indonesia membutuhkan ketekunan dan perjuangan yang panjang. Pembangunan tidak dapat dicapai dalam waktu singkat, tetapi harus dilakukan secara berkelanjutan dengan menjadikan pengalaman masa lalu sebagai evaluasi.

    “Setiap keberhasilan membutuhkan perjuangan dan usaha. Mari kita jadikan masa lalu sebagai evaluasi untuk menuju masa depan yang semakin baik,” katanya.

    Setio Soekarno juga mengajak seluruh elemen masyarakat Wonogiri memperkuat sinergi agar setiap warga memiliki kesempatan yang sama dalam pembangunan. Persatuan dan kesatuan, menurutnya, harus terus dirawat sebagai landasan menuju Wonogiri yang semakin berdaya saing, maju, sejahtera, dan pembangunan berkelanjutan.

    Usai upacara, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, Mulyadi, mengapresiasi antusiasme masyarakat Manyaran dalam mengikuti berbagai kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Menurutnya, semangat warga menjadi wujud kecintaan terhadap bangsa sekaligus menunjukkan kuatnya kebersamaan masyarakat.

    “Kita sebagai warga masyarakat Indonesia mengapresiasi kegiatan di Kecamatan Manyaran yang hari ini masih luar biasa, antusias warga masyarakat untuk memperingati hari kemerdekaan yang ke-81,” ujar Mulyadi.

    Ia berharap semangat gotong royong dan kekompakan yang tumbuh di tengah masyarakat Manyaran terus dipertahankan.

    “Semoga semangat gotong royong, kekompakan yang ada di Manyaran selalu kita jaga bersama,” katanya.

    Semarak peringatan HUT ke-81 RI di Manyaran pun tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Keterlibatan pelajar, guru, pemerintah, TNI, Polri, dan masyarakat memperlihatkan kolaborasi berbagai unsur dalam merawat nasionalisme sekaligus menghidupkan semangat kemerdekaan melalui seni, pendidikan, kebersamaan, dan pengabdian.(Sofyan)


    Baca juga: Kostum Jadul dan Aksi Teatrikal Suradi “Gentong” Pecahkan Gelak Tawa di Malam Tirakatan HUT RI Ke-81


Top