Narasumber drg. Mamik Pratiwi Yekti menguraikan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. 


    SMP Negeri 2 Manyaran Gelar TOT Kesehatan Gigi dan Mulut, Cetak Agen Perubahan Remaja Sehat

    Wonogiri – majalahlarise.com – SMP Negeri 2 Manyaran menggelar kegiatan Training of Trainer (TOT) Kesehatan Gigi dan Mulut sebagai upaya membentuk generasi remaja sehat dan tangguh. Kegiatan ini menjadi langkah strategis dalam menanamkan kesadaran sejak dini, dimulai dari hal kecil namun krusial, yakni menjaga kesehatan gigi dan mulut. Kegiatan diikuti oleh perwakilan siswa kelas 7 dan kelas 8 yang dipersiapkan sebagai agen perubahan di lingkungan sekolah.

    Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Manyaran Dra. Siti Khumaidah Hidayati menyampaikan, program ini dirancang tidak sekadar memberikan pemahaman, namun juga membangun peran aktif siswa dalam menyebarkan edukasi kesehatan kepada teman sebaya. 

    “Kami berharap peserta yang mengikuti TOT ini mampu menjadi agen perubahan. Dari memahami proses menjaga kesehatan gigi dan mulut, kemudian mampu menerapkan pada diri sendiri, hingga menyebarkan ilmunya kepada teman-temannya melalui pembelajaran antar teman,” ujarnya.

    Kegiatan menghadirkan narasumber drg. Mamik Pratiwi Yekti dari Puskesmas Kecamatan Manyaran yang memberikan materi secara komprehensif. Dalam paparannya, drg. Mamik menguraikan pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut sebagai bagian dari kesehatan tubuh secara keseluruhan. Ia juga mengingatkan, kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi dengan benar dan rutin dapat mencegah berbagai masalah kesehatan di masa depan.

    “Perawatan gigi dan mulut tidak bisa dianggap sepele. Jika tidak dijaga sejak dini, dampaknya bisa memengaruhi kesehatan tubuh secara menyeluruh. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memahami cara merawat gigi yang benar dan menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari,” jelasnya.

    Menariknya, kegiatan ini tidak hanya berupa sosialisasi, tetapi juga dilengkapi dengan demonstrasi praktik menyikat gigi yang benar serta sesi diskusi dan tanya jawab. Para siswa tampak antusias mengikuti setiap tahapan kegiatan, mulai dari pemaparan materi hingga praktik langsung yang dipandu oleh narasumber.

    Melalui kegiatan ini, sekolah berharap terbentuk budaya hidup sehat di kalangan siswa yang berkelanjutan. Dengan pendekatan pembelajaran antar teman, pengetahuan yang diperoleh tidak berhenti pada peserta TOT, tetapi dapat menyebar lebih luas di lingkungan sekolah, sehingga mampu menciptakan generasi remaja yang sehat, peduli, dan tangguh. (Sofyan)


    Baca juga: Bangun Budaya Siaga Sejak Dini, SMP N 2 Giritontro Gelar Simulasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 Secara Komprehensif

    Narasumber M. Cholidi Asadil Alam, S.I.Kom., M.I.Kom., M.E. (Aktor Utama Ketika Cinta Bertasbih) tema Inspirasi Semangat Halal dalam Penyiapan Produk Go Global.


    Seminar ICMI Sukoharjo Dorong UMKM Go Global, Hadirkan Tokoh Inspiratif dan Strategi Ekspor

    Sukoharjo – majalahlarise.com - Seminar bertajuk Prospek UMKM Sukoharjo Go Global diselenggarakan di Convention Hall Hotel Brother, Bundaran Pandawa Solo Baru, Sabtu (25/4/2026), menjadi momentum strategis dalam mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk menembus pasar internasional. 

    Kegiatan ini diinisiasi oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia bersama Bank Jateng Syariah dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. Singgih Purnomo, M.M. tema Mengapa harus berbisnis? Dr. R. Djayendra Dewa, S.E., M.M tema Saatnya ICMI bersama UMKM Go Global. Dr. Slamet Sulistiono, S.E., M.M. tema Dukungan Bank Syariah Memperkuat UMKM. M. Cholidi Asadil Alam, S.I.Kom., M.I.Kom., M.E. (Aktor Utama Ketika Cinta Bertasbih) tema Inspirasi Semangat Halal dalam Penyiapan Produk Go Global.

    Seminar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi ilmu, tetapi juga ajang silaturahmi dan penguatan jejaring antar pelaku usaha, organisasi, serta lembaga keuangan dalam menghadapi persaingan global yang semakin dinamis.

    Ketua panitia Chaniago menyampaikan kegiatan ini digelar sebagai upaya mendorong pelaku UMKM agar mampu beradaptasi dengan perubahan pasar global yang semakin kompetitif. Ia menguraikan, transformasi usaha menjadi kebutuhan mendesak, mulai dari peningkatan kualitas produk, penguatan branding, hingga strategi ekspansi pasar internasional. 

    Para peserta menerima doorprize.


    “Kami meyakini kolaborasi antara organisasi pengusaha, dunia usaha, dan lembaga keuangan syariah akan menjadi kekuatan strategis dalam mendorong UMKM naik kelas dan menembus pasar global,” ujarnya. 

    Ia juga mengakui adanya keterbatasan dalam persiapan kegiatan, namun tetap berharap seminar ini mampu memberikan manfaat nyata serta menjadi awal kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan.

    Dalam sambutan yang dibacakan perwakilan Dinas Koperasi UKM dan Perdagangan Kabupaten Sukoharjo, disampaikan peran strategis UMKM sebagai tulang punggung perekonomian daerah. Selain menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, UMKM juga menjadi penopang stabilitas ekonomi masyarakat. Narasumber menguraikan tantangan ke depan yang semakin kompleks, seiring terbukanya akses pasar global yang menuntut standar kualitas tinggi. 

    “UMKM harus mampu beradaptasi, meningkatkan daya saing, serta melakukan ekspansi pasar hingga tingkat internasional melalui pemenuhan standar, penguatan manajemen, dan optimalisasi teknologi informasi,” disampaikan dalam sambutan tersebut. Pemerintah daerah terus berkomitmen mendorong pengembangan UMKM melalui peningkatan kapasitas SDM, fasilitasi perizinan, akses pembiayaan, hingga promosi di tingkat nasional dan internasional.

    Para narasumber saat foto bersama panitia penyelenggara.


    Paparan Prof. Dr. Singgih Purnomo menjelaskan pentingnya semangat kewirausahaan yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga dilandasi nilai spiritual dan keteladanan. Ia menguraikan perjalanan Nabi Muhammad sebagai pedagang sukses sejak usia muda hingga mampu menjangkau pasar mancanegara menjadi inspirasi utama dalam membangun bisnis. Ia juga membagikan pengalaman pribadinya memulai usaha di usia 32 tahun yang berkembang dari skala kecil hingga memiliki berbagai unit usaha dan lembaga pendidikan. 

    “Pada saat kita memulai usaha, awalnya terasa sulit, tetapi setelah dijalankan banyak peluang yang datang dengan sendirinya,” ujarnya. Ia menambahkan, keberhasilan usaha sangat ditentukan oleh kejujuran dan integritas, sebagaimana dicontohkan oleh Abdul Rahman bin Auf. “Kalau kita berbisnis dengan jujur dan tidak menipu, justru itulah yang membuat usaha kita bisa bertahan dan membawa keberkahan,” jelasnya.

    Sementara itu, Dr. R. Djayendra Dewa menguraikan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat UMKM naik kelas. Ia menyampaikan telah dilakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk jaringan pemerintah pusat, guna memastikan program penguatan UMKM dapat berjalan secara konkret dan terukur. 

    “Apa yang kita sampaikan pada pagi hari ini bukan main-main, tetapi insya Allah menjadi berita gembira bagi kita semua, bagi pelaku UMKM untuk go global,” ujarnya. 

    Ia menjelaskan, terdapat tiga kunci utama keberhasilan UMKM, yaitu memahami cara, berani mencoba, dan konsisten hingga berhasil. Ia juga menguraikan rencana ke depan berupa pemetaan dan klasterisasi UMKM, kurasi produk untuk ekspor, hingga pengiriman pelaku usaha ke luar negeri pada bulan September sebagai langkah nyata go international. 

    “Yang pertama harus tahu caranya, yang kedua harus mau mencoba, dan yang ketiga terus mencoba sampai berhasil,” jelasnya.

    Paparan Dr. Slamet Sulistiono menyoroti kondisi ekonomi yang sedang melambat sehingga menuntut pelaku usaha untuk lebih adaptif dan strategis. Ia menguraikan indikator perbankan seperti meningkatnya kehati-hatian dalam penyaluran kredit sebagai sinyal bahwa dunia usaha menghadapi tantangan serius. Dalam kondisi tersebut, ia mendorong UMKM untuk tidak hanya mengandalkan pasar domestik, tetapi mulai melirik pasar global yang memiliki potensi pertumbuhan tinggi, seperti kawasan Afrika. 

    “Kalau Indonesia sedang kurang bergairah, maka coba kita tengok wilayah lain. Jangan hanya melihat pasar lokal, tapi lihat dunia yang lebih luas,” ujarnya. 

    Ia juga menjelaskan pentingnya mentalitas entrepreneur yang kuat, disiplin, serta berbasis nilai spiritual. “UMKM itu tulang punggung ekonomi, tapi harus kreatif, kolaboratif, dan jangan terjebak pinjol. Kalau niat usaha untuk menyalurkan rezeki, maka akan terbuka peluang yang lebih besar,” jelasnya.

    Inspirasi kuat juga disampaikan oleh M. Cholidi Asadil Alam yang mengangkat kisah tokoh Azam dalam film Ketika Cinta Bertasbih. Ia menguraikan karakter Azam sebagai simbol perjuangan, tanggung jawab, dan pengorbanan demi keluarga. 

    “Azam itu sengaja tidak diluluskan setiap semester agar tetap bisa bertahan dan membantu keluarganya. Ini bentuk pengorbanan dan tanggung jawab,” tuturnya. 

    Ia juga membagikan perjalanan kariernya sebagai aktor yang memilih jalan dakwah dengan prinsip kuat dalam menjaga nilai-nilai Islam. “Saya ini aktor yang berdakwah. Tidak semua film saya ambil, karena saya punya prinsip menjaga nilai-nilai Islam,” jelasnya. 

    Selain itu, ia menguraikan kiprahnya sebagai akademisi dan pelaku usaha kuliner yang menunjukkan pentingnya manajemen waktu, pendidikan, serta konsistensi dalam berwirausaha. “Menjadi entrepreneur itu memberikan dua hal, merdeka secara waktu dan merdeka secara finansial,” ungkapnya.

    Melalui seminar ini, peserta mendapatkan berbagai manfaat, mulai dari peningkatan wawasan bisnis, strategi pemasaran terkini, ide usaha kreatif, hingga peluang memperluas jaringan relasi. Selain itu, peserta juga memperoleh insight praktis yang dapat langsung diterapkan dalam pengembangan usaha, termasuk tips meningkatkan penjualan dan keuntungan di tengah persaingan global. 

    Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan lahir sinergi dan kolaborasi nyata antar pemangku kepentingan dalam mendorong UMKM Sukoharjo menjadi lebih unggul, mandiri, dan berdaya saing global, sekaligus mampu menembus pasar ekspor secara berkelanjutan. (Sofyan)


    Baca juga: Bangun Budaya Siaga Sejak Dini, SMP N 2 Giritontro Gelar Simulasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 Secara Komprehensif

    Siswa dilatih mengenai prosedur tanggap darurat, mulai dari teknik evakuasi, pertolongan pertama, hingga koordinasi di lapangan. 


    Bangun Budaya Siaga Sejak Dini, SMP N 2 Giritontro Gelar Simulasi Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026 Secara Komprehensif

    WONOGIRI – majalahlarise.com - Dalam rangka memperingati Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional 2026, SMP Negeri 2 Giritontro menggelar kegiatan edukasi dan simulasi penanggulangan bencana secara menyeluruh pada Sabtu (23/4/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah ini diikuti ratusan siswa, guru, serta tenaga kependidikan dengan penuh antusias. Momentum ini menjadi upaya nyata membangun budaya sadar bencana sejak dini, mengingat wilayah selatan Wonogiri yang berdekatan dengan kawasan rawan gempa di pesisir selatan.

    Kegiatan diawali dengan apel pembukaan yang menekankan pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana. Para siswa kemudian mendapatkan materi edukasi tentang berbagai jenis bencana alam, langkah penyelamatan diri, serta teknik evakuasi yang benar. Penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar mudah dipahami, sebelum dilanjutkan dengan simulasi lapangan yang dirancang menyerupai kondisi darurat sebenarnya.

    Pembimbing Palang Merah Remaja (PMR), Basuki Okto, S.Pd., menguraikan kegiatan ini telah dipersiapkan secara matang melalui pembekalan khusus kepada anggota PMR. Mereka dilatih mengenai prosedur tanggap darurat, mulai dari teknik evakuasi, pertolongan pertama, hingga koordinasi di lapangan. 

    “Kami ingin anak-anak PMR benar-benar siap menjadi penggerak saat terjadi simulasi maupun dalam kondisi nyata. Mereka kami latih untuk sigap, tanggap, dan mampu membantu teman-temannya,” katanya.

    Puncak kegiatan ditandai dengan dibunyikannya sirine sebagai tanda dimulainya simulasi bencana. Suasana sekolah seketika berubah tegang, menggambarkan kondisi riil saat bencana terjadi. Meski demikian, proses evakuasi berjalan tertib berkat arahan guru dan kesigapan anggota PMR. Para siswa diarahkan menuju titik kumpul melalui jalur evakuasi yang telah ditentukan, sementara tim PMR juga memperagakan penanganan korban luka ringan sebagai bagian dari latihan keterampilan pertolongan pertama.

    Kepala sekolah, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi nyata imbauan pemerintah dalam membangun budaya sadar bencana di lingkungan pendidikan.

    “Kegiatan ini sangat penting dan relevan dengan kondisi wilayah kami. Edukasi seperti ini menjadi bekal berharga bagi siswa agar lebih siap menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, khususnya gempa bumi. Harapan kami, ilmu yang diperoleh tidak hanya berhenti di sekolah, tetapi juga diterapkan di lingkungan keluarga dan masyarakat,” tuturnya.

    Ia juga berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan, sehingga kesiapsiagaan menjadi bagian dari karakter siswa. Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 2 Giritontro tidak hanya memperingati momentum nasional, tetapi juga menanamkan nilai kepedulian, keberanian, serta keterampilan hidup yang penting bagi generasi muda. Dengan kesiapsiagaan yang terlatih, risiko dan dampak bencana diharapkan dapat diminimalisir, sekaligus mewujudkan lingkungan sekolah yang tangguh dan responsif terhadap situasi darurat. (Sofyan)


    Baca juga: Dua Dekade “24 Jam Menari” ISI Surakarta, Ruang Tanpa Batas Menembus Medan Budaya

    Ketua Pelaksana Eko Supendi saat menjelaskan pelaksanaan 24 jam menari saat konferensi pers.


    Dua Dekade “24 Jam Menari” ISI Surakarta, Ruang Tanpa Batas Menembus Medan Budaya

    Surakarta — majalahlarise.com - Perayaan Hari Tari Dunia melalui helatan “24 Jam Menari” yang digelar oleh Institut Seni Indonesia Surakarta kembali hadir dengan semangat yang terus menyala. Tahun 2026 menjadi momentum istimewa karena menandai dua dekade perjalanan event yang telah menjelma sebagai ikon perayaan seni tari berskala nasional hingga internasional. Mengusung tema “Tanpa Batas: Menembus Medan Budaya”, kegiatan ini menghadirkan ruang terbuka bagi penari, koreografer, akademisi, hingga masyarakat untuk saling berbagi gagasan, pengalaman, serta memperluas kemungkinan kolaborasi lintas budaya.

    Ketua Umum panitia, Prof. Maryono, dalam jumpa pers. Jumat (24/4/2026) menyampaikan kegiatan ini tidak sekadar menjadi perayaan, tetapi juga momentum refleksi akademis tentang posisi tari dalam perspektif antropologis dan sosiologis.

    “Kegiatan seni tari yang melibatkan pengalaman lintas daerah hingga mancanegara menjadi bagian penting dalam memperkuat eksistensi seni pertunjukan Indonesia,” tuturnya. 

    Ia juga menguraikan perjalanan panjang seni tari yang terus berkembang dari masa ASKI hingga menjadi ISI Surakarta, serta pengalaman tampil di berbagai negara sebagai bagian dari proses pembesaran panggung seni tari Indonesia. “Pengalaman saya untuk menjadi penari cukup luas karena saya sudah tampil di Eropa, Asia, dan berbagai daerah. Itu menjadi bagian dari proses bagaimana tari berkembang menjadi pertunjukan yang lebih besar,” ujarnya.

    Rangkaian acara tahun ini berlangsung selama 24 jam non-stop dengan beragam agenda, mulai dari opening, festival pertunjukan, sajian tari dari keraton, hingga orasi budaya oleh Sardono W Kusumo. Selain itu, digelar pula Dance Department Summit Meeting yang diikuti perguruan tinggi seni dari dalam dan luar negeri, bazar industri kreatif, serta penampilan lebih dari 100 kelompok seni dari 24 kota di Indonesia dan mancanegara. Salah satu kurator seni yang terlibat adalah Matthew Isaac Cohen dari Jerman, yang turut menjaga kualitas artistik pertunjukan.

    Ketua Program Studi Seni Tari, Nandang Wisnu Pamenang, menguraikan bahwa kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan peran perguruan tinggi seni dalam menjawab tantangan zaman. “Program ini tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga bagian dari upaya peningkatan Indikator Kinerja Utama perguruan tinggi serta kontribusi terhadap SDGs,” jelasnya. 

    Ia menambahkan, summit meeting menjadi forum strategis untuk membahas kurikulum, kerja sama, hingga kesiapan lulusan agar mampu bersaing di dunia industri. “Kami berharap dukungan berbagai pihak, termasuk media, dapat membantu menyebarluaskan semangat 24 Jam Menari sehingga mampu memberi dampak nyata bagi perkembangan seni dan generasi muda,” imbuhnya.

    Sementara itu, Ketua Pelaksana Eko Supendi menjelaskan setiap tahun kegiatan ini menghadirkan dua format utama, yakni festival dan aksi menari selama 24 jam non-stop. Tahun ini, sembilan penari terpilih dari berbagai daerah hingga internasional akan menantang ketahanan fisik dan mental mereka. “Pada intinya dari tahun ke tahun ada dua model bentuk pertunjukan, yaitu festival dan menari 24 jam non-stop. Dua agenda ini selalu dipertunjukkan setiap tahun,” katanya. 

    Pertunjukan akan tersebar di berbagai titik seperti pendopo, teater kecil, teater besar, hingga teater terbuka. Ia juga menyebut persiapan telah mencapai 95 persen dengan dukungan lebih dari 500 personel. “Kami melibatkan lebih dari 500 tim dan ini menjadi perhelatan yang sangat luar biasa, bahkan bisa dikatakan satu-satunya di dunia,” ungkapnya.

    Dari sisi pelaku seni, pengalaman personal menjadi warna tersendiri dalam perhelatan ini. Adif Mahendra mengisahkan perjalanan panjangnya sejak hanya menjadi penonton hingga akhirnya terlibat langsung sebagai penari. 

    “Saya dulu hanya mengagumi penari 24 jam non-stop, tidak pernah terpikir bisa menjadi bagian dari itu,” tuturnya. 

    Ia menyampaikan partisipasinya bukan sekadar performa, melainkan bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada para guru dan keluarga. “Menjadi penari 24 jam ini adalah cara saya berterima kasih kepada orang tua, dosen, guru, dan semua yang telah memberi pelajaran hidup, sekaligus wujud syukur kepada Tuhan,” ujarnya.

    Hal serupa disampaikan Sekar Tri Kusuma yang merasa keterlibatannya sebagai bagian dari perjalanan pulang ke dunia yang telah lama ia kenal. “Terus terang saya senang sekali, luar biasa, bersyukur, dan tidak menyangka bisa terlibat dalam perjalanan besar 24 Jam Menari ini. Rasanya seperti pulang ke rumah sendiri,” ungkapnya. 

    Ia menjelaskan persiapan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya fisik tetapi juga mental dan spiritual melalui latihan rutin hingga meditasi. Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya menyelesaikan pertunjukan, tetapi bagaimana memberikan kontribusi setelahnya bagi perkembangan seni dan ekonomi kreatif.

    Dengan semangat tanpa batas, dua dekade “24 Jam Menari” ISI Surakarta membuktikan bahwa seni tari memiliki daya hidup yang kuat sebagai media komunikasi lintas budaya. Lebih dari sekadar pertunjukan, kegiatan ini menjadi ruang dialog global yang merayakan keberagaman dalam harmoni gerak, sekaligus memperkuat jejaring budaya dan membuka cakrawala baru bagi masyarakat dalam memahami seni pertunjukan. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar PAI Makin Interaktif dengan Layar Sentuh IFP

     

    Narasumber Sofyan Yuli Antonius saat menjelaskan tentang teknik dubber.

    Workshop Dubbing, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Univet Bantara Sukoharjo Dilatih Ciptakan Karakter Suara Profesional

    Sukoharjo – majalahlarise.com - Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo menggelar workshop bertajuk “Menciptakan Jiwa dalam Suara, Teknik Dubber Membentuk Karakter Tokoh” pada Rabu (22/4/2026) di Gedung D FISH Univet Bantara Sukoharjo.

    Kegiatan tersebut menghadirkan praktisi media radio dan voice over, Sofyan Yuli Antonius sebagai narasumber. Workshop ini menjadi bagian dari penguatan kompetensi mahasiswa dalam mata kuliah pilihan yaitu produksi siaran radio sekaligus menjawab kebutuhan industri kreatif berbasis audio yang terus berkembang.

    Wakil Dekan FISH sekaligus dosen pengampu mata kuliah produksi siaran radio, Henny Sri Kusumawati, S.Sos, M.Ikom menyampaikan kegiatan ini dirancang untuk membuka wawasan mahasiswa terhadap peluang karier di bidang dubbing dan voice over.

    “Kami sebagai pengampu mata kuliah produksi siaran radio mencoba mencari peluang-peluang dalam dunia radio yang berkembang sangat kompetitif. Mahasiswa perlu dipersiapkan agar lebih siap, percaya diri, dan mampu melihat peluang, termasuk di balik layar atau dapur produksi audio,” tuturnya.

    Narasumber Sofyan Yuli Antonius saat foto bersama peserta workshop dubber.


    Ia menguraikan, dunia dubbing dan produksi suara saat ini memiliki potensi besar, seiring meningkatnya kebutuhan konten digital seperti film, animasi, iklan, hingga media sosial.

    “Peluang di dunia dubbing masih sangat terbuka. Mahasiswa tidak hanya belajar teknis siaran, tetapi juga diarahkan untuk mampu menciptakan konten kreatif yang inovatif dan menarik,” jelasnya.

    Lebih lanjut, Henny menuturkan bahwa workshop ini menitikberatkan pada penguatan soft skill mahasiswa, khususnya dalam mengenali karakter suara sebagai identitas diri.

    “Kami ingin mahasiswa mampu mengenali potensi suara dan karakter dirinya secara lebih mendalam. Tidak sekadar instan, tetapi melalui proses penghayatan, latihan vokal, teknik napas, serta konsentrasi agar mampu menciptakan jiwa dalam setiap karakter,” ungkapnya.

    Menurutnya, proses pembentukan karakter suara membutuhkan latihan berkelanjutan dan penghayatan yang kuat, bukan sekadar meniru suara.

    “Kalau hanya mengikuti tren instan, hasilnya hanya di permukaan. Dalam workshop ini mahasiswa diajak masuk lebih dalam, memahami jiwa karakter, lalu menampilkannya melalui suara,” tambahnya.

    Sebagai target luaran, pihak kampus mentargetkan  capaian bagi peserta workshop. “Kami menargetkan setiap mahasiswa minimal memiliki lima karakter penokohan yang bisa mereka kuasai. Ini menjadi bekal penting untuk produksi karya audio maupun konten kreatif ke depan,” imbuhnya.

    Sementara itu, dalam sesi materi, Sofyan Yuli Antonius menguraikan secara komprehensif konsep dasar hingga praktik dubbing. Ia menyampaikan dubbing merupakan proses penting dalam industri audiovisual.

    “Dubbing adalah proses mengisi atau mengganti suara tokoh dalam media audiovisual sesuai karakter dan cerita. Seorang dubber bukan hanya berbicara, tetapi harus mampu menyampaikan emosi, pesan, dan identitas tokoh,” jelasnya.

    Ia menjelaskan, kekuatan utama seorang dubber terletak pada kemampuannya menghidupkan karakter melalui suara.

    “Suara adalah identitas karakter. Tanpa suara yang tepat, karakter akan terasa kosong. Dubber pada dasarnya adalah aktor yang bermain lewat suara,” katanya.

    Dalam pemaparan materi, peserta dikenalkan berbagai unsur pembentuk karakter suara, meliputi pitch (tinggi rendah suara), tone (warna suara), tempo (cepat lambat), artikulasi, serta penghayatan emosi.

    Selain itu, Sofyan juga menguraikan teknik dasar dubbing yang harus dikuasai, antara lain memahami naskah, menentukan karakter suara, menggunakan teknik pernapasan yang tepat, serta kemampuan sinkronisasi dengan gerak bibir atau lip sync.

    “Latihan menjadi kunci utama. Setiap rekaman harus dievaluasi agar kualitas suara semakin berkembang,” ujarnya.

    Menurut Sofyan, kemampuan dubbing tidak hanya bermanfaat untuk industri media, tetapi juga meningkatkan keterampilan komunikasi.

    “Belajar dubbing bisa meningkatkan public speaking, kepercayaan diri, serta kreativitas. Ini sangat relevan dengan kebutuhan industri saat ini,” tuturnya.

    Ia menambahkan, peluang karier di bidang voice over semakin luas, mulai dari pengisi suara iklan, film, animasi, hingga konten digital.

    “Kunci menjadi dubber adalah memadukan suara, emosi, dan imajinasi. Suara bukan sekadar bunyi, tetapi jiwa dari sebuah karakter,” pungkasnya.

    Melalui workshop ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi Univet Bantara diharapkan mampu mengembangkan potensi diri secara maksimal, serta siap bersaing di industri kreatif, khususnya dalam bidang produksi audio dan konten digital yang terus berkembang pesat. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar PAI Makin Interaktif dengan Layar Sentuh IFP

    Siswa saat belajar PAI menggunakan layar sentuh.


    Belajar PAI Makin Interaktif dengan Layar Sentuh IFP

    SOLO – majalahlarise.com - Pemanfaatan Interactive Flat Panel (IFP) di ruang kelas kian mendorong terciptanya pembelajaran yang interaktif, kolaboratif, menggembirakan dan berkemajuan, Rabu (22/4/2026). 

    Integrasi teknologi seperti IFP dalam pembelajaran bisa menjadi salah satu kunci dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar. Dengan dukungan perangkat yang interaktif, diharapkan anak didik tidak hanya lebih memahami materi, tetapi mampu lebih aktif dan mandiri dalam belajar.

    Hal tersebut terlihat dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah model SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarrta, salah satunya guru Pendidikan Agama Islam (PAI), Dwi Jatmiko di kelas III. 

    Dalam kesempatan itu, Jatmiko menggunakan alat peraga manual dan layer sentuh IFP tentang QS At-Tin yang menjelaskan penciptaan manusia dan pentingnya iman serta amal baik.

    “Anak-anak mengaku lebih antusias belajar PAI dan Bahasa Arab karena materi disajikan secara visual dan interaktif,” ujarnya.

    IFP memudahkan guru baik guru kelas atau guru mata pelajaran dalam mengakses berbagai sumber belajar dalam satu perangkat, mulai dari video, simulasi, hingga materi presentasi yang terintegrasi.

    Penggunaan IFP Smart TV juga mendukung penanaman nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang disajikan secara menarik dan interaktif lebih mudah diingat dan dipraktikkan oleh siswa. 

    Nilai seperti kejujuran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dapat ditanamkan melalui media visual dan aktivitas langsung. 

    “Dengan demikian, pembelajaran PAI dengan media IFP Smart TV mampu meningkatkan pemahaman, keterlibatan, dan pembentukan karakter peserta didik,” imbuhnya.

    Anak-anak yang bersekolah di Jalan Kartini ini bisa menyentuh, menulis, atau menggeser objek langsung di layar IFP ini. 

    “Jadi ada keterlibatan langsung dari anak-anak. Terkadang anak-anak sudah tahu lebih dulu terkait fitur atau tren permainan edukasi di IFP dan mengajukan ke guru untuk dicoba di kelas,” bebernya.

    Salah satu siswa, Arsakha Zakir Alghifari Kelas 3D, mengaku bahwa pembelajaran dengan IFP membuat proses belajar menjadi lebih menyenangkan dan interaktif.

    “Belajar dengan IFP lebih menyenangkan dan membantu untuk menjawab soal PAI dan Bahasa Arab,” ungkapnya. (Sofyan)


    Baca juga: Ibu Kita R.A. Kartini Sebagai Inspirator dan Motivator Gerakan Literasi Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA untuk Multigenerasi NKRI

    Ibu Kita R.A. Kartini Sebagai Inspirator dan Motivator Gerakan Literasi Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA untuk Multigenerasi NKRI


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    "Kawan, cerita tentang kita akan abadi selamanya saat tetap ada yang menulis dan menceritakannya kepada multigenerasi Indonesia sepanjang masa”


           Setiap tahun, tanggal 21 April selalu diperingati sebagai Hari Ibu Kita Kartini. Siapakah Ibu Kita Kartini? Silahkan Simak lagu dengan judul “Ibu Kita Kartini” Cipt. W.R. Supratman dengan lirik sebagai berikut: //Ibu kita kartini/Putri sejati/Putri Indonesia/Harum Namanya//Ibu kita kartini/Pendekar bangsa/Pendekar kaumnya/Untuk Merdeka//Reff://Wahai ibu kita kartini/Putri yang mulia/Sungguh besar cita-citanya/Bagi Indonesia//Ibu kita kartini/Putri jauh hari/Putri yang berjasa/Se Indonesia//Reff: Wahai ibu kita kartini/Putri yang mulia/Sungguh besar cita-citanya/Bagi Indonesia// Lagu ini dapat disimak pada kanal youtube berikut: https://www.youtube.com/watch?v=girAGw9uMPo. Ibu R.A. Kartini dilahirkan tanggal 21 April 1879 dan meninggal tanggal 17 September 1904 sebagai inspirator dan motivator multigenerasi NKRI dengan bukunya yang berjudul “Habis Gelap Tebitlah Terang”. Dengan mengenali R.A. Kartini maka setiap tahun, tanggal 21 April saat memeringati bersama seluruh masyarakat Indoensia akan tahu hal penting dan keteladanan R.A Kartini yang dapat diberikan kepada multigenerasi NKRI.

           Orang tua, guru, dosen, penggiat literasi, peneliti, wartawan, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat harus bergotong-royong untuk menyiapkan generasi muda Indonesia abad XXI. Generasi abad XXI harus terus dipantik dan disemangati untuk mengikuti jejak R.A Kartini seperti penjelasan di atas. Peran guru dan dosen, orang tua, dan masyarakat untuk memantik multigenerasi NKRI berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca). Selain itu, para penggerak literasi dalam Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) untuk terus menjadi pengerak literasi bersama Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa. Gerakan literasi Arfuzh Ratulisa dan Diklisa diharapkan dapat menjadi virus-virus positif bagi multigenerasi NKRI agar terus bergerak dan menggerakkan aneka kreativitas dan produktivitas untuk menghasilkan karya-karya inovatif yang dapat memantik semangat masyarakat NKRI untuk terus bekerja dan berkarya bagi multigenerasi NKRI sepanjang masa.

           R.A. Kartini akan selalau di hati multigenerasi NKRI. R.A. Kartini akan terus menjadi pemantik belajar, bersilaturahmi, berliterasi dengan Ratulisa bagi multigenerasi NKRI. Semangat belajar bagi multigenerasi harus dilatih dan dipantik dengan aneka model, kasus, dan proyek yang dapat dijadikan sebagai motivator dan inspirator. Semangati dan kuatkan komitmen multigenerasi NKRI dengan menceritakan sejarah, kisah, profil, dan semua giat literasi R.A. Kartini yang dapat dijadikan teladan, inpsirator, dan motivator. Kekuatan hati dan pikiran menjadi satu kekuatan yang tidak terkalahkan apabila dilaksanakan dengan 5N: (1) Niatkan untuk ibadah; (2) Nilai-nilai religi harus menjadi pedoman; (3) Nilai-nilai pendidkan harus diprioritaskan; (4) nilai-nilai sosial harus diutamakan; (4) Nilai-nilai kebersamaan, kegotongroyongan, dan kebhinekaan harus menjadi pilar penyangga bagi multigenerasi NKRI. Kelima dasar 5N tersebut harus dapat ditanamkan dan disosialisasikan secara cetak dan digital bagi multigenerasi NKRI.

           Ibu kita R.A. Kartini harus selalu dijadikan sebagai inspirator dan motivator dalam berbagai giat dan aktivitas litersi khususnya Gerakan Literasi Arfuazh Ratulisa (GELAR) dan Komunitas DIKLISA untuk multigenerasi NKRI. Semangat untuk terus menggerakkan semangat berliterasi ratulisa, belajar berkreasi, dan berinovasi tiada henti. Nilai-nilai motivasi yang diajarkan oleh R.A Kartini harus dipahami dan mengerti oleh seluruh masyarakat NKRI. Hal ini sebagai penguat gerakan literasi Arfuzh Ratulisa, DIKLISA, dan menyiapkan sumber daya manusia yang unggul, tangguh, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif. Komitmen untuk terus menanamkan nilai-nilai pendidikan, sosial, religi, kegotongroyongan, silaturahmi, dan kebhinekaan untuk seluruh masyarakat yang tersebar di 38 provinsi.

           Peran orang tua sebagai guru pertama bagi multigenerasi NKRI harus dapat memberikan nilai-nilai dasar pendidikan karakter kejujuran, integritas, dan komitmen bagi seluruh anak-anak NKRI. Sikap baik dan santun yang berlandasakan nilai-nilai luhur budaya nasional harus menjadi akar budaya dan kearifan lokal yang ditanamkan kepada seluruh anak-anak NKRI. Komitmen untuk terus belajar dan membelajarkan diri untuk berliterasi bersama Arfuzh Ratulisa dan Diklisa tentu akan menjadi pemantik dan semangat orang tua memotivasi anak-anaknya. Proses belajar yang melibatkan semua unsur alam, seni, budaya, rasa, karsa, dan religi akan dapat menyibak jendela dunia sebagai pelita dan harapan seluruh anak-anak NKRI. Hal inilah yang menjadi keteladanan literasi kesemestaaan Ibu kita R.A. Kartini dalam bukunya “Habis Gelap Terbitlah Terang” sebagai kumpulan surat-surat literasi pendidikan dan gerakan motivatif dan inspiratif ratulisa (menulis dan membaca) sepanjang masa.

           Peran guru dan dosen abad XXI untuk dapat menyebarkan virus-virus positif Ibu kita R.A. Kartini melalui nilai-nilai pendidikan literasi bagi multigenerasi NKRI. Buku berjudul "Habis Gelap Terbitlah Terang" merupakan kumpulan surat-surat R.A. Kartini yang ditujukan kepada sahabat-sahabatnya yang tinggal di Eropa. Buku tersebut diterbitkan tahun 1911 yang diberi judul Door Duisternis tot Licht dengan penulis/editor J.H. Abendanon. R.A. Kartini menyampaikan pesan-pesan pemikiran visioner mengenai pendidikan, kesetaraan gender, dan emansipasi wanita di Indonesia. Hal pokok yang harus disadari oleh para wanita Indonesia bahwa wanita boleh berpartisipasi dalam karier dan emansipasi wanita mengikuti jejak R.A. Kartini tetapi jangan lupa hakkat dan kodrat wanita tertinggi dan mulia adalah berbakti, mendampingi, mendoakan terbaik kepada suami dan menyiapkan anak-anak sebagai generasi NKRI yang baik, cerdas, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratf. Dengan demikian cerita motivatif dan inspiratif Ibu kita R.A. Kartini akan terus menjadi kekuatan multigenerasi NKRI untuk terus berkreasi, berinovasi tiada henti untuk meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia.

           Saudara-saudaraku, keluarga besar Arfuzh Ratulisa, Diklisa, dan seluruh masyarakat NKRI marilah kita terus mengingat, mengenang, dan meneladani Ibu kita R.A. Kartini sebagai kekuatan hati dan pikiran yang terus memotivasi dan menginspirasi multigenerasi NKRI. Bersemangat untuk belajar dan membelajarkan diri sepanjang masa akan terus menjadi kuasa untuk bersilaturahmi, berliterasi dengan Arfuzh Ratulisa bersama Komunitas Diklisa, berbagi ilmu, berbagi rasa, untuk ciptakan bahagia sepanjang masa bersama anak-anak Indonesia di seluruh wilayah NKRI.

    “Bercritalah dengan rasa Bahagia untuk dapat menciptakan bahagiamu sebagai wujud mimpi dan imajinasimu yang nyata sepanjang masa”


    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa, 22 April 2026


Top