Pameran karya mebel dan aksesoris interior hasil kreativitas dosen dan mahasiswa. 


    Desain Interior ISI Surakarta Hadirkan Karya Mebel dan Aksesoris di Tahir Solo Museum

    Surakarta - majalahlarise.com - Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berkolaborasi dalam Soft Launching Tahir Solo Museum, Sabtu (25/7/2026), dengan menghadirkan pameran karya mebel dan aksesoris interior hasil kreativitas dosen dan mahasiswa. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi seni dengan institusi budaya dalam menghadirkan ruang publik yang edukatif, inspiratif, dan bernilai estetika tinggi.

    Tahir Solo Museum hadir sebagai salah satu destinasi budaya dan edukasi baru di Kota Surakarta yang berfungsi sebagai ruang pembelajaran, apresiasi seni, sekaligus pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Kehadiran karya-karya Desain Interior ISI Surakarta di museum ini memperkuat identitas ruang sekaligus menunjukkan peran aktif perguruan tinggi seni dalam mendukung pembangunan ekosistem budaya dan desain di Indonesia.

    Dosen Program Studi Desain Interior ISI Surakarta, Dr. Dhian Lestari Hastuti, M.Sn, menjelaskan kolaborasi tersebut menghadirkan berbagai karya mebel dan aksesoris interior yang dirancang secara khusus dengan mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, kenyamanan, serta keselarasan dengan karakter ruang museum.


    "Setiap karya merupakan hasil eksplorasi desain yang memadukan kreativitas, inovasi, serta nilai-nilai budaya lokal sebagai ciri khas pendidikan desain di ISI Surakarta," jelas Dr. Dhian Lestari Hastuti, M.Sn.

    Ia menambahkan, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam proyek tersebut merupakan implementasi pembelajaran berbasis praktik (project-based learning). Melalui pendekatan ini, proses akademik tidak hanya menghasilkan karya di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

    "Kolaborasi ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kompetensi desain pada proyek nyata sekaligus berkontribusi dalam pengembangan ruang budaya yang memiliki fungsi sosial dan edukatif," tambahnya.

    Program Studi Desain Interior ISI Surakarta berharap kerja sama semacam ini dapat terus berkembang sehingga membuka lebih banyak peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan institusi budaya dalam menghasilkan karya desain yang berkualitas dan inovatif.

    Partisipasi dalam Soft Launching Tahir Solo Museum menjadi bukti komitmen ISI Surakarta untuk terus berkontribusi dalam pengembangan seni, desain, dan budaya Indonesia melalui karya-karya yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga memberikan manfaat sosial serta edukatif bagi masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: UNISRI Gelar Capacity Building dan Amazing Race, Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Kolaboratif

     


    UNISRI Gelar Capacity Building dan Amazing Race, Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Kolaboratif

    SEMARANG - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar kegiatan Capacity Building dan Amazing Race 2026 di Dusun Semilir, Semarang, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan yang diikuti Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) Slamet Riyadi, pimpinan universitas, dosen, dan tenaga kependidikan ini mengusung tema "Membangun Budaya Kerja Profesional dan Kolaboratif Menuju UNISRI Unggul" sebagai upaya memperkuat sinergi dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.

    Kegiatan dikemas dalam suasana santai namun sarat makna melalui berbagai agenda yang mendorong kerja sama tim, komunikasi, dan kepemimpinan. Para peserta mengikuti Fun Amazing Race Game yang menguji kekompakan, strategi, dan kolaborasi, dilanjutkan dengan materi Leadership sebagai bekal menghadapi tantangan pengelolaan perguruan tinggi yang semakin dinamis.

    Wakil Ketua Panitia, Kris Agung, S.Kom., M.Kom., menjelaskan kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang penyegaran, tetapi juga momentum memperkuat budaya kerja yang profesional dan berintegritas.

    "Melalui capacity building ini kita tidak hanya refreshing, tetapi juga mengasah kembali nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan kolaborasi. Karena untuk menjadi UNISRI yang unggul, kita harus kuat dari dalam," jelas Kris Agung.

    Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd., saat membuka acara menyampaikan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor utama yang menentukan kemajuan sebuah institusi pendidikan tinggi. Menurutnya, keberhasilan UNISRI tidak hanya bergantung pada fasilitas maupun program yang dimiliki, tetapi juga pada kekuatan budaya kerja seluruh civitas akademika.

    "UNISRI unggul tidak bisa hanya ditopang oleh fasilitas atau program. Yang paling utama adalah manusianya. Melalui kegiatan ini saya ingin kita semua memperkuat budaya kerja yang profesional, saling menghargai, dan kolaboratif. Mari kita bangun UNISRI bersama-sama, dari YPT, pimpinan, dosen, hingga tenaga kependidikan. Kita satu tim untuk memajukan UNISRI," tegas Prof. Sutoyo.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme seluruh peserta yang aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari permainan kolaboratif hingga sesi kepemimpinan. Semangat kebersamaan tersebut diharapkan menjadi modal penting dalam memperkuat tata kelola universitas.

    Melalui kegiatan Capacity Building dan Amazing Race 2026 ini, UNISRI berharap tercipta iklim kerja yang semakin solid, inovatif, dan produktif. Sinergi antara YPT, pimpinan universitas, dosen, serta tenaga kependidikan diharapkan mampu meningkatkan daya saing UNISRI di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen UNISRI dalam membangun perguruan tinggi yang unggul tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga memiliki budaya organisasi yang kuat sebagai fondasi menuju universitas berkarakter dan berdaya saing. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Eny Idayati, S.Pd., M.Pd, Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menyerahkan sertifikat dan bantuan alat rintisan usaha secara simbolis kepada Mutiara Cantika, Mutoharoh Faisah, dan Faradina Dian. 

    .

    PKBM Syifa Surakarta Tutup Short Pastry Class 2026, Siapkan Wirausaha Kuliner Mandiri

    SOLO - majalahlarise.com – PKBM Syifa Surakarta yang beralamat di Jalan Jamsaren No. 44, Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, resmi menutup rangkaian Pelatihan Mandiri Short Pastry Class 2026 bertema "Kreatif, Terampil, dan Siap Berwirausaha" di kampus PKBM Syifa Surakarta, Sabtu (25/7/2026). Penutupan ini menandai berakhirnya program peningkatan keterampilan tata boga yang membekali peserta dengan kemampuan membuat aneka produk short pastry sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sebagai bekal menciptakan peluang usaha mandiri.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan pelatihan tetap dapat terlaksana meski menghadapi kendala pendanaan dari Direktorat. Menurutnya, penyelenggara berkomitmen memberikan pembelajaran terbaik dengan menghadirkan instruktur berpengalaman di bidang pemasaran, manajemen usaha, pengembangan media sosial, serta dukungan dari Persatuan Koki Indonesia (ICA) Jawa Tengah. 

    "Harapan kami, setelah kegiatan ini teman-teman tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi bisa langsung bergabung dengan Syifa Berdaya agar usahanya terus berkembang," ujarnya.

    Puri menjelaskan, pendampingan kepada peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Seluruh alumni akan difasilitasi melalui komunitas Syifa Berdaya yang memberikan pendampingan lanjutan, mulai dari pengurusan PIRT, sertifikasi halal, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), hingga peningkatan kualitas kemasan produk. Selain itu, PKBM Syifa juga membuka akses permodalan melalui kerja sama dengan BRI, BNI, dan Koperasi Bunda sesuai ketentuan yang berlaku. 

    "Semoga nanti kita bisa berkembang bersama menjadi lebih baik dan bermanfaat," tuturnya.


    Ketua Penyelenggara, Hartanto, melaporkan pelatihan diikuti sekitar 10 peserta selama kurang lebih satu bulan dengan delapan kali pertemuan. Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teori dan praktik secara langsung, mulai dari pengenalan bahan, penggunaan peralatan, teknik pembuatan adonan, proses pemanggangan, hingga penyajian produk. Peserta juga dibekali kemampuan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) sebagai bekal mengembangkan usaha. 

    "Para peserta tidak hanya belajar membuat produk soft pastry, tetapi juga memahami cara menghitung HPP sehingga memiliki bekal untuk berwirausaha dan bergabung dalam UMKM, khususnya di bidang kuliner," jelasnya.

    Hartanto mengapresiasi para instruktur yang telah membimbing peserta hingga menunjukkan peningkatan keterampilan pada setiap pertemuan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan pelatihan. 


    "Kami menyadari pelaksanaan pelatihan ini masih memiliki kekurangan. Karena itu, kami terbuka terhadap setiap masukan sebagai bahan evaluasi agar penyelenggaraan pelatihan pada tahun mendatang dapat berlangsung lebih baik," katanya.

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Eny Idayati, S.Pd., M.Pd., yang menutup kegiatan tersebut mengajak peserta memanfaatkan keterampilan yang diperoleh menjadi peluang usaha. Ia menilai sektor kuliner memiliki prospek besar karena Kota Solo dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diraih melalui profesi sebagai pegawai, tetapi juga dapat dicapai melalui kewirausahaan yang didukung karakter ulet, kreatif, inovatif, disiplin, serta mampu membaca kebutuhan pasar. 

    "Kesuksesan itu adalah hak semua orang yang mau berusaha. Kalau ingin menjadi wirausaha, harus punya jiwa wirausaha, yaitu ulet, kreatif, berinovasi, kerja keras, disiplin, dan mampu mengikuti kebutuhan pasar," ujarnya.

    Di akhir sambutannya, Eny mengajak seluruh peserta terus mengembangkan ilmu yang telah diperoleh agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Ia juga memberikan apresiasi kepada para instruktur yang telah mendampingi peserta selama pelatihan. 

    "Atas nama Dinas Pendidikan kami mengucapkan selamat kepada seluruh peserta. Tolong ilmu yang diperoleh dikembangkan, jangan berhenti di sini. Hidup itu pilihan, pilih sukses atau pilih sengsara. Kalau memilih sukses, mulailah hari ini dengan bekerja keras dan jangan mudah menyerah," tuturnya.

    Salah seorang peserta, Riski Agustina, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti pelatihan. Selain mendapatkan pengetahuan baru tentang dasar-dasar pembuatan pastry, ia juga memiliki kesempatan memperluas relasi dengan sesama peserta. 

    "Kesan saya mengikuti kegiatan ini, saya merasa senang karena mendapat ilmu baru dan juga kenalan baru. Ilmu yang kami dapatkan sangat bermanfaat untuk ke depannya," ujarnya. 

    Riski berharap materi pelatihan terus dikembangkan dengan variasi yang lebih beragam, praktik yang lebih banyak, serta durasi pelatihan yang lebih panjang. Ia pun berencana mulai merintis usaha kuliner secara bertahap. 

    "Ke depannya kami akan mencoba membuat usaha mulai dari kecil, sedikit demi sedikit, semoga bisa berkembang," katanya.

    Dengan berakhirnya pelatihan ini, PKBM Syifa Surakarta kembali menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan nonformal yang berkomitmen mengembangkan keterampilan masyarakat melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha. Diharapkan kompetensi yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai bekal pribadi, tetapi berkembang menjadi usaha yang produktif, membuka lapangan kerja, dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: Mahasiswa DKV ISI Surakarta Rancang Maskot Media Sosial Museum dan Galeri SBY*ANI Pacitan



    Mahasiswa DKV ISI Surakarta Rancang Maskot Media Sosial Museum dan Galeri SBY*ANI Pacitan

    PACITAN - majalahlarise.com – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta berhasil merancang maskot untuk media sosial Museum dan Galeri SBY*ANI Pacitan melalui Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam). Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas visual museum sekaligus meningkatkan daya tarik komunikasi digital kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

    Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam) skema magang tersebut diikuti oleh dua mahasiswa DKV ISI Surakarta, yakni Tunjung Norma Sidhi Hastuty dan Firah Aniq Imtinansyah, yang menjalani magang selama empat bulan, mulai 13 Mei hingga 13 Agustus 2026. Selama magang, keduanya terlibat dalam berbagai pekerjaan desain visual, termasuk mengelola akun Instagram @sahabatmuseum_ sebagai media promosi dan edukasi Museum dan Galeri SBY*ANI.

    Dalam proses perancangan identitas visual, Tunjung dan Firah, di bawah bimbingan mentor Ristian Winda A. dan Ratih Nur Imamah, mengembangkan maskot yang diharapkan mampu menghadirkan citra museum yang lebih akrab, komunikatif, dan mudah diingat masyarakat. Proses kreatif tersebut diawali dengan riset, wawancara, pengajuan konsep kepada direktur museum, hingga digitalisasi desain menggunakan aplikasi Adobe Illustrator.

    Mahasiswa DKV ISI Surakarta, Tunjung Norma Sidhi Hastuty, menjelaskan proses tersebut memberikan pengalaman baru dalam menerjemahkan nilai-nilai museum ke dalam bentuk visual yang menarik.

    "Saya mendapatkan tantangan dalam mengemas narasi museum menjadi bentuk visual dengan nuansa yang lebih ceria dan informal. Proses ini memberikan pengalaman berharga karena kami harus mampu menerjemahkan nilai dan cerita museum menjadi karakter yang dekat dengan masyarakat," jelas Tunjung.

    Hasil perancangan tersebut pertama kali diperkenalkan kepada publik pada Grand Final Lomba Bercerita "Untuk Bumi Kita" yang digelar di Museum dan Galeri SBY*ANI pada 24 Mei 2026. Pada kesempatan itu, maskot tidak hanya ditampilkan dalam media digital, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk fisik sebagai elemen pendukung estetika panggung.

    Maskot tersebut merupakan personifikasi burung elang yang dipadukan dengan atribut khas Kabupaten Pacitan, berupa baju blarang dan kain lilit bermotif flamboyan berwarna biru. Karakter itu diberi nama "Sani", yang merupakan gabungan nama dua tokoh inspirasi berdirinya museum, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ani Yudhoyono.

    Dosen pembimbing, Anung Rachman, menjelaskan keterlibatan mahasiswa dalam Program Mahasiswa Berdampak membuktikan bahwa keilmuan Desain Komunikasi Visual tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun identitas lembaga.

    "Keterlibatan mahasiswa dalam Program Mahasiswa Berdampak skema magang ini menunjukkan bahwa DKV tidak hanya berorientasi pada aspek estetika, tetapi juga mampu menghasilkan perancangan strategis dalam membangun identitas sebagai bentuk komunikasi visual sebuah institusi," jelas Anung.

    Melalui program magang tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman profesional secara langsung di dunia kerja sekaligus memahami pentingnya desain komunikasi visual dalam membangun identitas, citra, dan strategi komunikasi sebuah institusi budaya. Kehadiran maskot "Sani" diharapkan mampu memperkuat branding Museum dan Galeri SBY*ANI serta menjadi media edukasi yang lebih menarik bagi masyarakat luas, terutama generasi muda yang aktif memanfaatkan media sosial. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital

    Sebanyak 100 UMKM terpilih mengikuti Program Semarang RISE 2026 bertema "Digital & Market Acceleration" yang digelar di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Semarang pada 21–22 Juli 2026.


    Semarang RISE 2026 Perkuat Daya Saing 100 UMKM Lewat Akselerasi Digital dan Akses Pasar

    Semarang - majalahlarise.com – Program Semarang RISE 2026 (Revitalize, Innovate, Scale, Empower) terus memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui akselerasi digital dan perluasan akses pasar. Sebanyak 100 UMKM terpilih mengikuti Pertemuan ke-3 bertema "Digital & Market Acceleration" yang digelar di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Semarang pada 21–22 Juli 2026 sebagai bagian dari program inkubasi bisnis selama 90 hari.

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Kota Semarang bersama Asia Small Business Federation (ASBF) Regional Jawa Tengah, ASBF Solo Raya, dan DnA Entrepreneur Academy ini terbagi dalam dua sesi. Pada 21 Juli diikuti 50 pelaku UMKM sektor kuliner, sedangkan 22 Juli diikuti 50 UMKM sektor craft. Program tersebut dirancang untuk mempersiapkan UMKM agar mampu naik kelas, memasuki pasar modern, hingga menembus pasar global.

    Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi "Digital Presence yang Menjual, Bukan Sekadar Posting" dari praktisi digital marketing sekaligus Chief Operating Area ASBF, Angga Prasetyo. Materi berfokus pada strategi membangun kepercayaan pasar, meningkatkan konversi melalui konten yang tepat, serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung produktivitas pemasaran digital. Selain teori, peserta juga mendapat pendampingan mengoptimalkan profil bisnis digital agar lebih profesional dan kompetitif di marketplace maupun media sosial.

    "Di era digital, konsumen membeli karena percaya. Konten bukan sekadar ramai dilihat, tetapi harus mampu mengubah perhatian menjadi transaksi. AI hadir sebagai alat bantu agar UMKM dapat bekerja lebih cepat, lebih efektif, dan lebih konsisten," jelas Angga Prasetyo.


    Sesi berikutnya menghadirkan Anastasia Dhevi Retnaningrum, S.H., trader ekspor, Direktur PT Sri Subagya Berkah Abadi, Ketua DPD Go Export Solo, Affiliate TikTok Shop dan Shopee, sekaligus Trainer DnA Entrepreneur. Melalui materi "Strategi Akses Pasar & Buyer Mapping", peserta dibimbing memahami pentingnya menentukan target pasar sebelum memasarkan produk. Materi meliputi penyusunan buyer persona, strategi memilih pasar B2B maupun retail, hingga pengenalan peluang ekspor. Setiap peserta juga menyusun Target Market Map sebagai panduan pengembangan bisnis pasca program inkubasi.

    "Produk yang baik belum tentu langsung diterima pasar. Yang paling penting adalah mengetahui siapa pembelinya, kebutuhan mereka, serta bagaimana cara menjangkaunya secara tepat. Ketika target pasar sudah jelas, strategi pemasaran akan menjadi jauh lebih efektif," ungkap Anastasia Dhevi Retnaningrum.

    Project Manager Semarang RISE 2026, Arman Hadi, menjelaskan program tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan, melainkan pendampingan bisnis secara bertahap agar UMKM berkembang secara berkelanjutan.

    "Semarang RISE 2026 adalah program pendampingan bagi UMKM yang telah memiliki kesiapan untuk berkembang lebih cepat. Kami membangun fondasi usaha mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi, peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, hingga membuka akses kepada buyer, investor, dan peluang ekspor. Harapannya, peserta tidak hanya bertambah pengetahuan, tetapi benar-benar mengalami peningkatan kapasitas dan pasar," jelas Arman.

    Sementara itu, Project Manager 2 Semarang RISE 2026, Ika Rosyada Fitriati, menyampaikan setiap tahapan pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan riil pelaku UMKM sehingga materi yang diberikan bersifat aplikatif dan relevan.

    "Kami ingin menghadirkan proses pembelajaran yang aplikatif dan relevan. Oleh karena itu, para pemateri yang hadir merupakan praktisi yang telah memiliki pengalaman langsung di bidang digital marketing, perdagangan, dan ekspor. Semarang RISE menjadi ruang kolaborasi agar UMKM Kota Semarang dapat tumbuh lebih adaptif, inovatif, dan memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional maupun internasional," tutur Ika.

    Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas bisnis, akademisi, dan praktisi, Semarang RISE 2026 menghadirkan ekosistem pendampingan yang mempertemukan peserta dengan mentor, pelaku usaha, serta jejaring bisnis yang membuka peluang kemitraan dan ekspor. Program ini diharapkan mampu melahirkan UMKM yang tidak hanya kuat dalam pemasaran digital, tetapi juga siap menjadi bagian dari rantai pasok nasional dan global.

    Mengusung semangat "Revitalize. Innovate. Scale. Empower.", Semarang RISE 2026 menegaskan komitmennya untuk mendorong UMKM Kota Semarang bertumbuh lebih adaptif, inovatif, berdaya saing tinggi, serta mampu menembus pasar internasional melalui kolaborasi dan penguatan kapasitas usaha. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital

    Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.

    Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.


    “Kawan, merajut kata untuk membentuk teks merupakan langkah nyata saat menuangkan ide dan gagasan yang dapat disampaikan kepada pembaca di seluruh wilayah Indonesia sepanjang masa”


           Alhamdulillah, segala puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis untuk terus berliterasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa bersama kawan-kawan Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) . Ucapan selamat dan sukses luar biasa disampaikan untuk para penulis buku berjudul Bahasa Indonesia Inspiratif: Memahami Teks Melalui Seni, Budaya, dan Sastra yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta. Selamat dan sukses untuk para penulis yang hebat luar biasa, antara lain Saudara; Zuhad, Carrine Irawan K, Cahyo Hasanudin, dan Tutut Septia Wati yang hebat luar biasa. Para penulis tersebut telah berjuang untuk menyelesaikan tulisan yang dibukukan dan diabadikan untuk teladan dan rujukan belajar bahasa Indonesia berbasis seni, budaya, dan sastra bagi seluruh multigenerasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). 

           Buku yang ditulis tersebut merupakan wujud keteladanan untuk mengimplementasikan gerakan literasi ratulisa bagi seluruh multigenerasi NKRI yang belajar pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Komitmen untuk belajar berbasis teks, koteks, dan konteks merupakan modal dasar untuk dapat belajar bahasa pada ranah struktural dan fungsional. Belajar bahasa Indonesia berbasis linguistik struktural artinya pembelajar harus memahami teks bahasa Indonesia berbasis struktural. Oleh karena itu, pembelajar bahasa harus memahami linguistik secara diadik, yakni bentuk dan fungsinya. Hal ini diperkuat dan didukung dengan pemahaman linguistik struktural, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Kemudian proses belajar bahasa yang terapan dapat didukung dengan memahami ranah linguistik fungsional. Proses belajar bahasa secara fungsional harus diperkuat dengan pemahaman secara triadik, yakni bentuk, fungsi, dan konteks. Hal ini sebagai penguatan proses belajar linguistik fungsional, seperti: pragmatik, sosiolinguistik, sosiopragmatik, religiopragmatik, neurolinguistik, psikopragmatik, linguistik historis komparatif, dan linguistik terapan lainnya yang mendukung penguatan sumber literasi digital dan nondigital bagi pembelajar bahasa Indonesia berbasis seni, budaya, dan sastra.

           Belajar dan membelajarkan bahasa Indonesia berbasis seni, budaya, dan sastra harus dapat dideskripsikan dalam tiga pilar utama, yaitu pilar seni, budaya, dan sastra. Ketiga pilar tersebut akan menjadi dasar penguatan belajar bahasa secara komprehensif. Hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, pilar seni. Seni merupakan aneka sajian bentuk rupa, suara, dan seni lainnya untuk dikomunikasikan secara verbal dan nonverbal kepada para penikmat seni. Oleh karena itu, seni rupa, musik, patung, dan seni-seni lainnya akan dapat menjadi objek dan media nonverbal untuk menjadi media pembelajaran bahasa Indonesia secara verbal atau teks secara komprehensif dan berkelanjutan. Kedua, pilar budaya. Aspek-aspek budaya akan dapat menjadi dasar moral dan etika berbahasa bagi penggunaan bahasa Indonesia secara formal dan nonformal bagi multigenerasi NKRI. Pilar budaya tersebut akan sangat bermanfaat sebagai reportoar budaya yang menjadi daya dukung dan penguatan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketiga, pilar sastra. Sastra merupakan ruang untuk berkreasi dengan teks melalui rajutan kata dengan segala keindahan rasa dan pilihan diksi untuk menyampaikan maksud dan tujuan tuturan dalam berbahasa kepada lawan tutur. Dengan demikian ketiga pilar tersebut, seni, budaya, dan sastra menjadi kebutuhan mendasar untuk dasar dan pengayaan reportoar berbahasa Indonesia khususnya proses belajar teks, koteks, dan konteks dalam berbahasa secara verbal dan nonverbal.

           Buku yang disajikan dengan xii halaman romawi dan 412 halaman isi, serta terdiri atas 6 bab, antara lain: (1) Aku dan sekitarku; (2) Imajinasiku tanpa batas; (3) Panduan Praktis Kehidupanku; (4) Indahnya Nasihat dan Rima; (5) Fakta, Berita, dan Gagasan; (6) Inspirasi untuk Maju. Keenam bab tersebut ditambah subbab pembahasan dan dideskripsikan secara lengkap dengan aneka sajian dan deskripsi yang sangat memotivasi dan menginspirasi multigenerasi NKRI secara lengkap dan berkelanjutan. Akhirnya, selamat menikmati dan menjelajahi literasi yang menyenangkan berbasis Buku Bahasa Indonesia Inspiratif yang ada dibaca Bapak, Ibu, dan Saudara sebagai pembaca buku yang baik hati, budiman, dan juos gandhos poll. Komitmen guru, dosen, penggiat literasi, mahasiswa, dan murid untuk terus belajar dan membelajarkan diri dengan ratulisa merupakan Upaya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

           Akhirnya tulisan yang disajikan oleh keempat penulis dalam buku tersebut sangat layak dan penting untuk menjadi bacaan alternatif sebagai sumber literasi bagi pembelajar bahasa Indonesia pada jenjang sekolah dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Komitmen para penulis untuk dapat menyajikan ide-ide cemerlang sebagai wujud implementasi gerakan literasi Arfuzh Ratulisa (rajin menulis dan membaca), Diklisa (Dialog Pendidikan Literasi, Bahasa, dan Sastra) secara teoretik dan praktik. Belajar dan membelajarkan diri sepanjang masa untuk dapat memantik rasa cinta dan bangga menggunakan bahasa Indonesia merupakan wujud nyata dan target yang diimplikasikan dalam buku yang ditulis dengan penuh simpati dan empati kepada multigenerasi NKRI.  

    #Tulisan ini merupakan pengantar dan ulasan buku yang ditulis oleh Zuhad, Carrine Irawan K, Cahyo Hasanudin, dan Tutut Septia Wati# berjudul Bahasa Indonesia Inspiratif: Memahami Teks Melalui Seni, Budaya, dan Sastra yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta#  

    “Bergerak dan menggerakkan multigenerasi NKRI untuk terus mencintai dan membanggakan penggunaan bahasa Indonesia yang benar, baik, dan santun merupakan implementasi gerakan literasi Ratulisa yang berbasis pembelajaran seni, budaya, dan sastra dalam berbagai perspektif yang menyenangkan untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 24 Juli 2026

     

    Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali, Pujiono, S.Si., M.M., sebagai narasumber parenting.


    MIM Munggur dan RA Perwanida Gelar Parenting, Perkuat Sinergi Madrasah, Guru, dan Orang Tua

    BOYOLALI - majalahlarise.com – MI Muhammadiyah (MIM) Munggur bersama RA Perwanida Munggur menggelar kegiatan Awalussanah dan Parenting bertema "Sinergitas Madrasah, Guru dan Orang Tua, Tangan Bergandeng, Hati Selaras" pada Kamis (23/7/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan MIM Munggur, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali ini diikuti seluruh wali murid RA Perwanida dan MIM Munggur sebagai upaya memperkuat kolaborasi antara madrasah, guru, dan orang tua dalam membentuk generasi Qurani, cerdas, serta berakhlak mulia.

    Kegiatan menghadirkan Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali, Pujiono, S.Si., M.M., sebagai narasumber parenting. Dalam pemaparannya, ia menjelaskan keberhasilan pendidikan anak tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada sekolah. Menurutnya, orang tua dan guru harus memiliki visi yang sama, membangun komunikasi yang intensif, serta menghadirkan keteladanan yang selaras di rumah maupun di sekolah.

    "Anak-anak membutuhkan keteladanan yang sama antara rumah dan sekolah. Ketika orang tua dan guru berjalan seiring, insyaallah akan lahir generasi yang berilmu, beradab, dan berprestasi," ujar Pujiono.

    Kepala MIM Munggur, Istanti, S.Pd., mengapresiasi tingginya antusiasme para wali murid yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia menjelaskan parenting menjadi sarana penting untuk menyamakan persepsi antara keluarga dan madrasah dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak. Dengan adanya kesamaan visi, berbagai program pendidikan di madrasah diharapkan memperoleh dukungan penuh dari orang tua sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.


    "Parenting ini menjadi momentum yang sangat penting untuk mempererat komunikasi antara madrasah dengan orang tua. Kami berharap seluruh program yang dirancang madrasah dapat berjalan dengan baik karena didukung oleh keluarga di rumah," tutur Istanti.

    Senada dengan itu, Kepala RA Perwanida Munggur, Salis Rahmiyati, S.Pd., menjelaskan pembentukan karakter anak sejak usia dini memerlukan sinergi yang kuat antara lembaga pendidikan dan keluarga. Menurutnya, pendidikan karakter akan lebih efektif apabila nilai-nilai yang ditanamkan di sekolah juga diterapkan secara konsisten di lingkungan rumah.

    "Sinergi antara orang tua dan lembaga pendidikan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter anak sejak usia dini. Kolaborasi yang baik akan menjadi bekal penting bagi tumbuh kembang anak di masa depan," kata Salis Rahmiyati.

    Kegiatan berlangsung hangat dan penuh semangat. Para wali murid aktif mengikuti sesi penyampaian materi hingga diskusi interaktif bersama narasumber. Ketua Komite MIM Munggur, Paiman, turut hadir dan mengikuti seluruh rangkaian acara sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan mutu pendidikan di RA Perwanida maupun MIM Munggur.

    Melalui kegiatan Awalussanah dan Parenting ini, MIM Munggur dan RA Perwanida berharap terjalin kerja sama yang semakin erat antara madrasah, guru, komite, dan orang tua. Sinergi tersebut diharapkan mampu melahirkan generasi Qurani yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia sebagai bekal menghadapi tantangan masa depan. (Sofyan)

    Baca juga: Mahasiswa DKV ISI Surakarta Gelar Workshop Gantungan Kunci Clay, Asah Kreativitas Siswa SLB YPAC


Top