R. Adi Deswijaya, S.S., M.Hum., dosen Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Univet Bantara Sukoharjo, menyampaikan materi "Nilai-Nilai Filosofis Karawitan, Tari Dolalak, dan Macapat" kepada guru-guru SLB.


    Karawitan, Dolalak, dan Macapat Perkuat Muatan Lokal Guru SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah

    Solo - majalahlarise.com – Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Provinsi Jawa Tengah menunjuk dosen Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Daerah FKIP Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, R. Adi Deswijaya, S.S., M.Hum., sebagai narasumber kegiatan Muatan Lokal bertema "Mengenal Seni Budaya Lokal (Karawitan, Tari Dolalak, dan Macapat)" di Aula SLB Negeri Sukoharjo, Kamis (9/7/2026). 

    Kegiatan ini menjadi bagian dari implementasi Program Kerja Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII Tahun 2026 untuk memperkuat kurikulum muatan lokal pada pendidikan khusus sekaligus meningkatkan kompetensi guru SLB dalam mengajarkan Bahasa Jawa dan seni budaya daerah.

    Mewakili Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Kasi SMA dan SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Edi Purwanto, S.E., M.M., membuka kegiatan sekaligus menjelaskan sosialisasi muatan lokal Bahasa Jawa merupakan agenda rutin tahunan yang telah dianggarkan dalam DPA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII. Program tersebut bertujuan memperkuat implementasi pembelajaran Bahasa Jawa dan budaya Jawa pada jenjang Sekolah Luar Biasa (SLB).

    Mewakili Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Kasi SMA dan SLB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Edi Purwanto, S.E., M.M., memberi sambutan sekaligus membuka kegiatan.


    "Kegiatan sosialisasi muatan lokal Bahasa Jawa ini dalam rangka meningkatkan pengetahuan Bapak dan Ibu Guru agar nantinya dalam penyampaian muatan lokal Bahasa Jawa akan terus meningkat dan semakin hebat," ujar Edi Purwanto.

    Ia berharap para guru mampu menanamkan kecintaan terhadap Bahasa Jawa beserta nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya kepada peserta didik berkebutuhan khusus, mulai dari adat istiadat, kebiasaan masyarakat Jawa Tengah hingga karya sastra daerah seperti geguritan.

    "Harapan kita, semua harus terus nguri-uri muatan lokal Bahasa Jawa agar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan kita, baik dalam bermasyarakat maupun dalam bernegara," tuturnya.

    Dalam sesi utama, R. Adi Deswijaya menyampaikan materi mengenai seni budaya Jawa yang meliputi karawitan, Tari Dolalak, dan tembang macapat. Materi dirancang sederhana dan aplikatif sehingga mudah diterapkan guru dalam proses pembelajaran di SLB sesuai karakteristik peserta didik.



    "Materi yang saya sampaikan bisa menjadi bekal bagi guru di SLB, terutama untuk membuat macapat secara sederhana dan memahami nilai-nilai filosofis yang ada dalam karawitan, Tari Dolalak, serta macapat," jelasnya.

    Selain praktik penyusunan tembang Pocung sederhana, peserta juga diajak memahami nilai-nilai filosofis yang terkandung dalam ketiga warisan budaya tersebut. Menurut Adi Deswijaya, seni tradisi memiliki peran penting sebagai media pendidikan karakter.

    "Seni tradisi bukan sekadar hiburan, tetapi menjadi sarana menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, toleransi, dan spiritualitas kepada generasi muda," ungkapnya.

    Pada materi karawitan, Adi Deswijaya menjelaskan setiap instrumen gamelan memiliki fungsi berbeda namun saling melengkapi hingga menghasilkan harmoni. Filosofi tersebut mengajarkan pentingnya kerja sama, pengendalian diri, empati, kesabaran, serta penghargaan terhadap sesama.

    "Karawitan mengajarkan manusia untuk hidup selaras, memiliki rasa empati, bersabar, dan selalu mengedepankan rasa dalam setiap tindakan," katanya.

    Sementara itu, materi Tari Dolalak mengulas sejarah kesenian khas Purworejo yang berkembang dari masa kolonial menjadi seni pertunjukan sarat pesan perjuangan, kritik sosial, dan nilai religius. Gerakan, kostum, hingga syair pengiring mencerminkan keberanian, gotong royong, penghormatan terhadap martabat manusia, serta hubungan manusia dengan Tuhan.

    "Keindahan Tari Dolalak lahir dari kebersamaan, sementara gerakannya mencerminkan semangat pantang menyerah dan penghormatan terhadap martabat manusia," tutur Adi Deswijaya.

    Pada pembahasan tembang macapat, peserta dikenalkan makna filosofis setiap jenis tembang yang menggambarkan perjalanan hidup manusia sejak dalam kandungan hingga akhir kehidupan. Tembang Maskumambang, Mijil, Sinom, Asmaradana, Pangkur, hingga Pocung memuat pesan moral tentang pendidikan, cinta kasih, tanggung jawab, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kesadaran spiritual.

    "Macapat menjadi media pembelajaran nilai-nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun melalui syair dan tembang," ujarnya.

    Adi Deswijaya menjelaskan pelestarian seni budaya lokal perlu dimulai dari dunia pendidikan agar nilai-nilai luhur tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya, termasuk kepada peserta didik berkebutuhan khusus di SLB.

    "Pelestarian seni budaya lokal harus dimulai dari dunia pendidikan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya," tegasnya.

    Menutup kegiatan, Adi Deswijaya berharap materi yang telah diberikan dapat menjadi bekal bagi guru dalam mengembangkan pembelajaran muatan lokal yang lebih kreatif, bermakna, dan sesuai kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

    "Harapan saya, materi ini dapat menjadi bekal bagi para guru SLB untuk diimplementasikan kepada anak didik ABK dan semakin menambah wawasan para guru," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional

    Perguruan Tinggi dan Ekonomi Kreatif: Mengapa Pelaku Ekraf Perlu Saling Merapat ke Kampus? 

    Sebuah ajakan untuk membangun kolaborasi, bukan sekadar seminar


    Oleh: Agung Wijanarko, S.Sos, MM.

    Dosen Prodi Akuntansi Universitas Amikom Yogyakarta

    Email: agungwijanarko@amikom.ac.id


    Agung Wijanarko, S.Sos, MM



    Potensi Ekraf Indonesia

           Tonggak Ekraf makin bergulir sejak tahun 2019, dimana pemerintah mengesahkan Undang-Undang (UU) No 24 Tahun 2019 dan Peraturan Pemerintah (PP) No.24 Tahun 2022, sebagai payung hukum resmi bagi pengelolaan dan pengembangan ekonomi kreatif di Indonesia. Turunannya berdasar UU dan PP ini banyak Kabupaten/Kota menetapkan peraturan daerah (Perda) yang menjadi payung kebijakan dan program ekonomi kreatif (Ekraf) setempat (seperti kuliner, kriya, fesyen, seni pertunjukan dll).

           Kontribusi Ekraf terhadap ekonomi nasional pada tahun 2025 menurut Ketua Badan Pusat Statistik, nilai Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif Indonesia mencapai sekitar Rp 1.757,87 triliun hingga Rp1.797,87 triliun. Sektor ini tumbuh sebesar 6,86% melampaui pertumbuhan ekonomi nasional serta sukses menyerap 27,4 juta tenaga kerja dengan nilai ekspor menembus USD 26,68 miliar. Dengan penyumbang terbesar dari sub sektor kuliner, diikuti televisi/radio, fashion, pengembang aplikasi dan dan. Dan angka pertumbuhan 20,73% (Rp. 310 triliun) dan serapan tenaga kerja (6,24 juta) paling besar ada di provinsi Jawa Barat. Sementara di provinsi dan kabupaten/kota lain potensi Ekraf-nya belum tergarap secara optimal. 

    Perguruan Tinggi dan wajah Ekraf kita

           Menimbang Ekraf yang belum tergarap secara optimal, perlu upaya lebih serius sinkronisasi simpul-simpul Ekraf untuk menciptakan sinergi, salah satu adalah peran Kampus-Perguruan Tinggi (PT). Di Indonesia terdapat 4.500 kampus yang tersebar diberbagai Kabupaten/Kota, dengan sekitar 2.840 di antaranya berada di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Dalam kontek ini ada beberapa alasan mengapa PT harus berperan aktif menjadi penggerak dalam pengembangan Ekraf, pertama, menjawab tantangan eksistensial atas keilmuan yang dikembangkan, dimana PT memiliki tanggung jawab sosial kepada masyarakat pada umumnya atas ilmu yang diajarkan. Kedua, kewajiban PT untuk berkontribusi dengan membuat penelitian mereka lebih relevan dengan permasalahan publik, Ekraf khususnya yang erat hubungannya dengan karya berbasis kapasitas intelektual. Dan yang ketiga, berupa kontribusi langsung berupa pendampingan dan pemberdayaan komunitas untuk meningkatkan kualitas Ekraf setempat, atau utamanya menumbuhkan semangat kewirausahaan dan inovasi. 

           Wajah ekonomi kreatif Indonesia saat ini penuh dengan ide tetapi sering berjalan tanpa dukungan peta-jalan yang kuat. Demikian halnya dengan persoalan klasik yang ada, seperti lemahnya permodalan, perlindungan hak cipta, lemahnya literasi digital dan akses pasar internasional. Dan pelaku Ekraf kita harus bersaing di pasar domestik melawan produk ekraf negara lain (diantaranya fenomena Anime Jepang dan produk turunannya, K-Wave dengan beragam varian produknya dari Korea Selatan). Indonesia punya keragaman modal yang sama besarnya seperti: budaya, kerajinan, kuliner, musik, film, hingga talenta digital muda yang terus tumbuh. Ini adalah wajah nyata ekonomi kreatif Indonesia.

    Universitas Generasi ke Empat yang Berdampak

           Bahwa PT di era bangkitnya kelompok kreatif (creative class) semakin dituntut peran sosialnya, paradigma baru ini “tidak hanya mengubah cara pengetahuan diciptakan dan dibagikan, tetapi juga bagaimana pendekatan ini mendefinisikan kembali hubungan antara universitas, industri, pemerintah, dan masyarakat” (Bogers, M. & Steinbuch, M., 2023). PT generasi ke 4 mewakili pergeseran ke model quadruple helix, selain universitas, industri, dan pemerintah yaitu ada masyarakat yang memainkan peran sentral dalam penciptaan pengetahuan dan inovasi. Maka PT dengan minimal empat modal yang dimilikinya (a) talenta dan kurikulum, b) riset dan inovasi. c) inkubasi dan pendampingan bisnis. d) jaringan dan advokasi kebijakan) sangat relevan bagi pelaku ekonomi kreatif.

           Dengan kata lain, PT harus semakin membaur dengan masyarakat, dengan modal diatas PT dapat menjadi jembatan yang berdampak sosial lebih luas, dengan cara mendengar langsung apa yang benar-benar dibutuhkan komunitas kreatif, bukan menyusun program dari atas meja tanpa mengenal denyut lapangan. Demikian halnya dengan para pelaku ekraf harus mau terbuka dan menyeberang, dan cara-pandang terbuka seperti ini harus semakin digalakan. Ekraf Indonesia tidak akan tumbuh hanya dari semangat individu yang bekerja sendiri-sendiri. Sudah saatnya jembatan itu benar-benar dibangun dan dilewati dari dua arah. Karenanya dukungan ekosistem berupa proses kreatif, riset, inovasi dari PT sangat diharapkan pelaku Ekraf. PT dengan laboratorium, ahli desain, dosen-dosen periset banyak yang karyanya berhenti di jurnal, dan ada ribuan mahasiswa dengan energi serta keterampilan digital yang mencari tempat untuk dipraktikkan. Dua dunia ini sebenarnya saling membutuhkan namun terlalu sering berjalan di jembatan yang terpisah.


    Daftar pustaka:

    https://ekraf.go.id/ 

    John Howkins, The Creative Economy: How People Make Money from Ideas (Newbigin, 2010)

    https://en.wikipedia.org/wiki/Creative_economy_(economic_system)

    https://pslh.ugm.ac.id/ekonomi-oranye/

    Felipe Buitrago Restrepo & Iván Duque Márquez, The Orange Economy – an Infinite Opportunity ( Publication code: IDB-MG-165 , 2013)

    https://www.bps.go.id/id/news/2025/11/17/805/bps--ekonomi-kreatif-serap-tenaga-kerja-27-4-juta-tahun-2025.html

    https://ekraf.go.id/publication/sensus-ekonomi-2026-jadi-momentum-pemetaan-kekuatan

    https://kemdiktisaintek.go.id/library/book/statistik-pendidikan-tinggi-2025

    https://pure.tue.nl/ws/portalfiles/portal/325584780/BOGERS_STEINBUCH_2023_HMR_Fourth_Generation_University.pdf


    Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nursalam, menyampaikan arahan saat membuka Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027 yang mengusung tema "Menuju Sekolah Unggul Berkemajuan" di Ruang Haji Isa, Kamis (9/7/2026).


    SD Muhammadiyah PK Solo Mantapkan Rebranding, Usung Tagline Baru "Pelopor Keunggulan Berkemajuan"

    Solo - majalahlarise.com – SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengawali Rapat Kerja Tahun Ajaran 2026/2027 dengan meneguhkan arah baru pengembangan sekolah melalui program rebranding. Kegiatan yang digelar di Ruang Haji Isa, Kamis (9/7/2026), diikuti 50 guru dan tenaga kependidikan dengan mengusung tema "Menuju Sekolah Unggul Berkemajuan".

    Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nursalam, menjelaskan keberhasilan sekolah tidak hanya ditentukan oleh program-program unggulan, tetapi juga oleh budaya kerja yang solid, penuh keikhlasan, dan saling mendukung antara seluruh warga sekolah.

    "Kita harus membangun lingkungan kerja yang saling mendukung, memiliki empati, serta menyelesaikan setiap persoalan dengan tuntas. Dengan kebersamaan dan keikhlasan, insyaallah sekolah akan terus berkembang," ujar Nursalam.

    Dalam rapat kerja tersebut, Nursalam memaparkan hasil analisis SWOT sekolah sebagai dasar penyusunan strategi pengembangan jangka menengah. Analisis itu menjadi pijakan lahirnya konsep rebranding yang dirancang untuk memperkuat identitas SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo sebagai sekolah Islam berkemajuan yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

    Salah satu agenda utama ialah peluncuran tagline baru, "Pelopor Keunggulan Berkemajuan" (Pioneering Progressive Excellence). Tagline tersebut menjadi simbol komitmen sekolah untuk menjadi pelopor dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas, inovatif, dan tetap berlandaskan nilai-nilai Islam Berkemajuan.

    Menurut Nursalam, kata "Pelopor" mencerminkan semangat sekolah untuk terus menjadi yang terdepan dalam melahirkan inovasi pendidikan. Sementara "Keunggulan" menggambarkan komitmen menghadirkan layanan pendidikan terbaik pada aspek akademik, pembentukan karakter, hingga pengembangan potensi peserta didik. Adapun "Berkemajuan" menegaskan setiap inovasi yang dilakukan tetap berpijak pada nilai-nilai tajdid Muhammadiyah, yakni terus berkembang tanpa meninggalkan jati diri keislaman.

    Sebagai implementasi rebranding, sekolah menetapkan enam pilar keunggulan yang menjadi fokus pengembangan hingga Tahun Ajaran 2028/2029. Enam pilar tersebut meliputi penguatan akademik, performa peserta didik, ibadah, karakter, kompetensi pendidik, serta kompetensi tenaga kependidikan.

    Seluruh program akan diukur melalui Key Performance Indicator (KPI) sehingga setiap target dapat dipantau secara objektif dan berkelanjutan. Langkah ini diharapkan mampu mendorong peningkatan mutu layanan pendidikan secara sistematis sekaligus memperkuat budaya kerja berbasis kinerja.

    Melalui rebranding tersebut, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo optimistis semakin memperkuat posisinya sebagai sekolah unggul yang menjadi rujukan pendidikan Islam berkemajuan. Sekolah juga berkomitmen menghadirkan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik, orang tua, dan masyarakat luas. (Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional




     

    Suasana kebersamaan guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 5 Surakarta usai mengikuti workshop yang dilanjutkan dengan pembagian tugas serta penetapan jam mengajar Tahun Pelajaran 2026/2027.


    SMP Muliska Gelar Workshop Pembelajaran, Bangun Semangat Guru Melalui Rasa Syukur

    Solo - majalahlarise.com – SMP Muhammadiyah 5 Surakarta (Muliska) mengawali persiapan Tahun Pelajaran 2026/2027 dengan menggelar Workshop Pembelajaran di Aula Lantai 3 sekolah, Rabu (8/7/2026). Kegiatan ini diikuti seluruh guru dan karyawan sebagai langkah memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus meningkatkan komitmen memberikan layanan pendidikan terbaik kepada peserta didik.

    Workshop dibuka Kepala SMP Muhammadiyah 5 Surakarta, Parwanto, S.Pd. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh guru membangun semangat kebersamaan, meningkatkan profesionalisme, serta terus berinovasi menghadapi dinamika dunia pendidikan. Menurutnya, kesiapan guru menjadi kunci utama dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas dan bermakna.

    "Workshop ini menjadi momentum menyatukan visi seluruh guru agar semakin siap menyambut tahun pelajaran baru dengan semangat melayani, berinovasi, dan terus meningkatkan kualitas pembelajaran di SMP Muliska," ujarnya.

    Narasumber workshop, Pujiono, yang merupakan Tim Diksuspala dan Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah sekaligus Ketua FGM Kabupaten Boyolali, menyampaikan materi bertajuk "Bersyukur Menjadi Guru Muliska." Ia menjelaskan profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah mulia yang memiliki peran strategis dalam membentuk generasi berkarakter, unggul, dan berkemajuan.

    Menurut Pujiono, rasa syukur merupakan fondasi penting dalam menjalankan tugas sebagai pendidik. Guru yang bersyukur akan mengajar dengan hati, melayani secara ikhlas, serta memiliki motivasi untuk terus belajar, berinovasi, dan menjadi teladan bagi peserta didik.

    "Guru yang hebat bukan hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu menginspirasi. Ketika seorang guru mensyukuri profesinya, maka energi positif akan terpancar dalam setiap proses pembelajaran," kata Pujiono.

    Workshop berlangsung interaktif melalui diskusi mengenai strategi pembelajaran yang efektif, penguatan budaya mutu sekolah, serta peningkatan kolaborasi antarguru dalam mewujudkan sekolah Muhammadiyah yang unggul. Para peserta juga saling berbagi pengalaman dan gagasan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di lingkungan sekolah.

    Setelah workshop selesai, kegiatan dilanjutkan dengan pembagian tugas dan penetapan jam mengajar bagi seluruh guru sebagai bagian dari persiapan menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027. Melalui kegiatan ini, SMP Muliska berharap seluruh pendidik memiliki semangat baru untuk terus berkarya, melayani dengan sepenuh hati, serta menghadirkan pembelajaran yang inspiratif dan bermakna bagi seluruh siswa. (Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional

     

    Sebanyak 90 guru SD se-Kecamatan Karangpandan saat foto bersama disela-sela mengikuti pendampingan implementasi Deep Learning yang diselenggarakan PGSD FKIP UNISRI Surakarta di Aula SD Negeri 01 Karangpandan.


    90 Guru SD Dilatih Terapkan Deep Learning, PGSD UNISRI Dorong Pembelajaran Lebih Bermakna

    Karanganyar - majalahlarise.com – Sebanyak 90 guru kelas III, IV, dan V sekolah dasar mengikuti pendampingan implementasi Deep Learning yang diselenggarakan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta di Aula SD Negeri 01 Karangpandan, Kabupaten Karanganyar, Selasa (7/7/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kompetensi guru dalam menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik.

    Program pengabdian kepada masyarakat tersebut diikuti 90 guru, 27 kepala sekolah, serta tiga pengawas sekolah se-Kecamatan Karangpandan. Pendampingan dirancang agar para guru tidak hanya memahami konsep Deep Learning secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses pembelajaran di kelas.

    Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Kecamatan Karangpandan, Sri Hastuti, S.Pd., M.Pd., mengapresiasi kolaborasi antara UNISRI dan sekolah dasar dalam mendukung transformasi pendidikan.

    "Guru memiliki peran sentral dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna. Pendampingan seperti ini diharapkan mampu menggeser pola pembelajaran yang masih berorientasi pada hafalan menuju pembelajaran yang kontekstual, reflektif, dan berpusat pada peserta didik," ujarnya.

    Ketua Program Studi PGSD FKIP UNISRI, Mukhlis Mustofa, S.Pd., M.Pd., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat yang memberikan dampak nyata bagi peningkatan mutu pendidikan dasar.

    "Kami ingin guru tidak hanya memahami konsep pembelajaran mendalam secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya dalam proses belajar mengajar sehingga peserta didik berkembang menjadi individu yang kritis, kreatif, mampu berkolaborasi, dan terampil memecahkan masalah," kata Mukhlis.

    Sebagai bentuk komitmen memperkuat sinergi antara perguruan tinggi dan sekolah, kegiatan juga dirangkai dengan penandatanganan Implementasi Kerja Sama (IA) antara PGSD FKIP UNISRI dan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Karangpandan. Kerja sama ini menjadi landasan pelaksanaan berbagai program peningkatan kompetensi guru secara berkelanjutan.

    Pada sesi utama, peserta memperoleh materi mengenai arah kebijakan pembelajaran mendalam dalam transformasi pendidikan nasional. Materi disampaikan Dr. Jumanto, S.Pd., M.Pd., yang menjelaskan Deep Learning merupakan perubahan paradigma pembelajaran dengan menempatkan pemahaman konsep sebagai tujuan utama.

    "Pendekatan Pembelajaran Mendalam bukan menambah beban guru. Sebaliknya, pendekatan ini memberi ruang agar peserta didik benar-benar memahami konsep secara utuh. Guru menjadi kunci keberhasilannya karena perubahan kebijakan hanya akan berdampak apabila terjadi perubahan praktik pembelajaran di kelas," jelasnya.

    Materi berikutnya disampaikan Dr. Anggit Grahito Wicaksono, S.Pd., M.Pd., yang mengulas pentingnya integrasi literasi dan numerasi melalui pembelajaran berbasis persoalan nyata sehingga peserta didik mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan bernalar.

    Setelah sesi bersama, peserta dibagi menjadi tiga kelas paralel berdasarkan jenjang yang diampu. Para dosen PGSD FKIP UNISRI mendampingi guru melalui diskusi, praktik penyusunan perangkat ajar, simulasi pembelajaran, hingga konsultasi penerapan Deep Learning di kelas.

    Beragam materi aplikatif diberikan, mulai dari literasi Al-Qur'an, joyful learning, pembelajaran berbasis kearifan lokal, game-based learning, literasi mitigasi bencana, pengembangan bahan ajar berbasis lingkungan, literasi membaca cepat, literasi statistika, hingga pengembangan media kreatif pembelajaran.

    Melalui pendampingan tersebut, guru memperoleh pengalaman langsung menyusun rancangan pembelajaran yang lebih kontekstual sesuai karakteristik peserta didik. PGSD FKIP UNISRI berharap program serupa terus diperluas ke berbagai daerah sebagai kontribusi nyata perguruan tinggi dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar dan menyiapkan generasi yang kritis, kreatif, kolaboratif, serta adaptif menghadapi tantangan abad ke-21. (Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional

    Kepala Seksi Manajemen dan Peningkatan Mutu Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dimas Teguh Saputra, memberikan materi kebijakan implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Coding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) kepada SD Muhammadiyah 1 Solo di Red Chilies Hotel, Kamis (9/7/2026).


    SD Muhammadiyah 1 Solo Jadi Sekolah Model Pembelajaran Mendalam dan AI

    Solo - majalahlarise.com – SD Muhammadiyah 1 Solo resmi ditetapkan sebagai salah satu sekolah model implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Coding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Penetapan ini menjadi prestasi membanggakan karena sekolah di bawah binaan Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta tersebut dipercaya menjadi sekolah percontohan dalam pengembangan pembelajaran berbasis teknologi di tingkat nasional maupun daerah.

    Apresiasi atas pencapaian tersebut disampaikan Kepala Seksi Manajemen dan Peningkatan Mutu Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dimas Teguh Saputra, saat memberikan materi mengenai kebijakan sekolah model PM dan KKA di Red Chilies Hotel lantai V, Kamis (9/7/2026).

    "Ini luar biasa. Ada ratusan sekolah yang tersebar di Indonesia, tetapi salah satu yang terpilih adalah SD Muhammadiyah 1 Ketelan Solo," ujar Dimas.

    Menurutnya, penunjukan SD Muhammadiyah 1 Solo sebagai sekolah model merupakan bentuk kepercayaan sekaligus amanah besar. Sekolah yang berdiri sejak 1935 ini diharapkan menjadi pionir sekaligus center of excellence bagi sekolah-sekolah lain dalam mengembangkan pembelajaran mendalam, coding, dan kecerdasan artifisial.

    Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Sri Sayekti, SD Muhammadiyah 1 Solo akan menjadi rujukan bagi sekolah-sekolah di Kota Surakarta maupun daerah lain yang ingin mempelajari implementasi Pembelajaran Mendalam serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam proses belajar mengajar.

    "Ketika sekolah-sekolah lain di Kota Surakarta ingin belajar mengenai penerapan deep learning, coding, dan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence), mereka bisa datang langsung ke SD Muhammadiyah 1 Ketelan," jelas Dimas.

    Ia mengakui, status sebagai sekolah model membawa tantangan besar. Transformasi pendidikan berbasis digital membutuhkan kesiapan sarana prasarana, penguatan kompetensi guru, serta kolaborasi seluruh warga sekolah agar implementasi program dapat berjalan optimal.

    Karena itu, Dinas Pendidikan Kota Surakarta menyatakan siap memberikan pendampingan dan dukungan secara berkelanjutan agar SD Muhammadiyah 1 Solo mampu menjalankan peran sebagai sekolah rujukan.

    "Kami dari Dinas Pendidikan memberikan support penuh kepada keluarga besar guru, tenaga pendidik, staf, karyawan, hingga kepala sekolah. Kami berharap semuanya tetap semangat dan optimis dalam melaksanakan tugas mulia ini. Kami yakin sekolah ini bisa menjadi model yang baik di Surakarta," tegas Dimas.

    Penetapan sebagai sekolah model PM dan KKA diharapkan semakin memperkuat posisi SD Muhammadiyah 1 Solo sebagai sekolah yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus mampu melahirkan peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, serta siap menghadapi tantangan era digital. (Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional

    Peserta Jambore Yatim Dhuafa mengikuti berbagai permainan kelompok dan outbound yang dirancang untuk melatih kerja sama, kepemimpinan, serta membangun rasa percaya diri.


    Jambore Yatim Dhuafa Solo Raya 2026 Hadirkan Edukasi, Keceriaan, dan Kepedulian di Alam Terbuka

    Karanganyar - majalahlarise.com – Sebanyak 60 anak yatim dan dhuafa dari Sukoharjo, Solo, dan Wonogiri mengikuti Wonderful Muharram Jambore Yatim Dhuafa Solo Raya 2026 yang digelar LAZIS Jateng Sukoharjo bersama LAZIS Jateng Solo, LAZIS Jateng Wonogiri, para mitra, donatur, dan relawan di Kampoeng Karet, Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, selama dua hari, 7–8 Juli 2026.

    Mengusung tema "Muharram Ceria, Hadirkan Senyuman dan Kebahagiaan di Hari Libur Sekolah", kegiatan ini menjadi momentum memuliakan anak yatim dan dhuafa melalui rangkaian aktivitas edukatif, pembinaan karakter, serta rekreasi yang dikemas dalam konsep camping education.

    Peserta tidak hanya menikmati suasana alam terbuka, tetapi juga mengikuti berbagai kegiatan yang dirancang untuk membangun karakter, meningkatkan kemandirian, serta memperkuat nilai-nilai keislaman. Beragam aktivitas seperti fun games, outbound, kajian Islam, pembinaan karakter, salat berjamaah, qiyamul lail, murojaah Al-Qur'an, api unggun, malam keakraban, renungan malam hingga pembagian santunan dan bingkisan menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta.

    Pimpinan Kantor LAZIS Jateng Sukoharjo, Muhamad Romadhon, A.Md.M., S.Ak., menjelaskan Jambore Yatim Dhuafa tidak sekadar memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang mampu membentuk kepribadian anak-anak.

    Pembagian santunan dan bingkisan.


    "Kami ingin anak-anak tidak hanya menerima santunan dan bingkisan saja, tetapi juga memperoleh pengalaman yang membangun kepercayaan diri, menumbuhkan semangat belajar, mempererat ukhuwah, serta menghadirkan kebahagiaan di momen Muharram yang bertepatan dengan liburan sekolah. Mereka adalah generasi yang harus kita dampingi bersama agar tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia dan islami," ujarnya.

    Menurut Romadhon, kolaborasi antara lembaga zakat, relawan, donatur, komunitas, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi anak-anak yatim dan dhuafa. Sinergi tersebut menunjukkan kepedulian sosial dapat diwujudkan melalui program yang menyenangkan sekaligus memberikan nilai pendidikan.

    Selain membangun keceriaan, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat ukhuwah antar peserta dari berbagai daerah di Solo Raya. Interaksi selama dua hari diharapkan mampu menumbuhkan rasa percaya diri, semangat kebersamaan, dan motivasi untuk terus belajar serta meraih cita-cita.

    Melalui semangat "Teladani Nabi, Cintai Yatim", LAZIS Jateng mengajak masyarakat untuk terus menumbuhkan budaya berbagi, memperkuat kepedulian sosial, dan menghadirkan pendampingan berkelanjutan bagi anak-anak yatim dan dhuafa.

    Panitia berharap kegiatan Wonderful Muharram Jambore Yatim Dhuafa Solo Raya 2026 mampu meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh peserta. Tidak hanya berupa santunan, tetapi juga pengalaman, motivasi, serta kenangan indah yang menjadi bekal dalam menatap masa depan.

    LAZIS Jateng juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh donatur, dermawan, mitra, dan relawan yang telah berpartisipasi menyukseskan program Jambore Anak Yatim dan Dhuafa se-Solo Raya. Dukungan tersebut menjadi wujud nyata gotong royong dalam menghadirkan senyum, harapan, dan kebahagiaan bagi anak-anak yang membutuhkan perhatian dan kasih sayang. (Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Jalin MoU dengan UiTM Johor Malaysia, Perkuat Jejaring Akademik Internasional


Top