GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
![]() |
| Murid kelas III, IV, dan V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Baitul Arqam. |
Bangun Generasi Qur’ani dan Berkemajuan, SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Baitul Arqam Sarat Makna
SURAKARTA – majalahlarise.com – Sebanyak 229 murid kelas III, IV, dan V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Baitul Arqam selama dua hari, Kamis–Jumat (15–16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di lingkungan sekolah tersebut menjadi sarana penguatan ideologi Islam, pembentukan karakter Qur’ani, serta penanaman nilai-nilai pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan sejak usia dini.
Mengusung tema “Menghidupkan Ideologi Muhammadiyah dan Meneladani Tokoh untuk Pendidikan Berkemajuan di Era Disrupsi”, kegiatan ini dirancang untuk membekali murid dengan fondasi spiritual dan ideologis yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman. Melalui berbagai sesi pembinaan, murid diajak memahami nilai-nilai Islam, meningkatkan kualitas ibadah, memperbaiki bacaan Al-Qur’an, serta membiasakan perilaku terpuji dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat, Nursalam, menjelaskan Baitul Arqam bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan bagian dari proses pendidikan karakter yang memberikan pengalaman bermakna bagi murid.
“Program ini merupakan sarana strategis untuk melatih kemandirian para murid, menjadi momentum berharga untuk bermuhasabah diri, sekaligus memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an agar sesuai dengan kaidah tajwid yang benar,” ujar Nursalam dalam sambutan pembukaan.
Untuk memaksimalkan penyampaian materi sesuai dengan perkembangan usia peserta, kegiatan dibagi menjadi dua lokasi. Murid kelas III mengikuti rangkaian kegiatan di Ruang Haji Isa, gedung selatan. Sementara itu, murid kelas IV dan V menempati Ruang Muhtadi di gedung utara.
Pada kelompok kelas III, sesi materi diawali oleh Kak Junianto atau yang akrab disapa Kak Jun. Ia mengajak murid memahami empat pilar kekuatan yang perlu dimiliki seorang anak saleh, meliputi kekuatan fisik, penguasaan ilmu pengetahuan, kemapanan harta, serta keteguhan iman dan akhlak.
Kak Jun juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan nikmat sehat dan waktu luang. Merujuk hadis riwayat Bukhari, ia menjelaskan dua kenikmatan tersebut kerap dilalaikan manusia. Karena itu, murid diajak menggunakan waktu pada masa pertumbuhan untuk belajar, beribadah, dan melakukan berbagai kegiatan positif yang mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Materi berikutnya disampaikan Kak Ilham dengan pembahasan mengenai pentingnya mendirikan salat secara khusyuk serta membangun kebiasaan membaca dan mencintai Al-Qur’an. Melalui pembinaan ini, murid diharapkan tidak hanya mengenal Al-Qur’an sebagai kitab suci, tetapi juga menjadikannya pedoman dalam bersikap dan menjalani kehidupan sehari-hari.
Setiap sesi materi ditutup dengan pengisian Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) untuk mengukur pemahaman sekaligus menjadi sarana refleksi mandiri. Suasana kegiatan semakin interaktif melalui sesi tanya jawab dan pembagian *doorprize* kepada murid yang aktif serta menunjukkan antusiasme selama pembelajaran.
Sementara itu, murid kelas IV dan V memperoleh pembinaan bersama Tim Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LTQ) An-Nashru Solo. Dalam sesi tersebut, murid diperkenalkan dengan pola dasar seni membaca Al-Qur’an, khususnya lagu Nahawand.
Tim LTQ An-Nashru Solo membimbing murid mempelajari tiga variasi pola nada, yakni tinggi-rendah, tinggi-sedang-rendah, serta tinggi-rendah-angkat tinggi-rendah. Murid kemudian mendapat kesempatan mempraktikkan pola nada tersebut di depan teman-temannya. Kegiatan ini menjadi pengalaman belajar yang mendorong keberanian, kepercayaan diri, sekaligus ketertarikan murid terhadap seni membaca Al-Qur’an.
Rangkaian pembinaan di gedung utara dilanjutkan oleh Kak Anas yang membawakan materi tentang kiat menjadi Muslim yang baik di era modern. Ia mengajak murid meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Selain ketakwaan, murid diajak membentuk akhlak mulia, membiasakan diri berbuat baik kepada teman, serta menghindari segala bentuk perundungan (*bullying*), baik melalui perkataan maupun tindakan. Murid juga didorong membangun kebiasaan beribadah sebagai bagian dari pembentukan karakter Muslim yang beriman dan bertanggung jawab.
Salah satu murid kelas III, Kalani Lentera Insani, mengaku antusias mengikuti Baitul Arqam karena menjadi pengalaman pertamanya dalam kegiatan tersebut. Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya ketika kelompoknya berhasil meraih juara pertama.
“Alhamdulillah, kelompokku terpilih menjadi juara 1. Sistem penilaian dimulai dari kedatangan peserta, ketertiban melaksanakan ibadah salat dan tadarus Al-Qur’an, kerapian menjaga kebersihan ruangan, skor tertinggi mengerjakan LKPD, dan prosesi penutupan,” ucap Kalani.
Penilaian tersebut mendorong murid untuk menjaga kedisiplinan sejak awal kegiatan, melaksanakan ibadah dengan tertib, membiasakan tadarus Al-Qur’an, menjaga kebersihan lingkungan, serta menyelesaikan tugas dengan baik. Dengan demikian, nilai-nilai yang dipelajari selama Baitul Arqam dapat diterapkan melalui tindakan nyata.
Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat berharap para murid tumbuh menjadi generasi Qur’ani yang berprestasi, mandiri, berakhlak mulia, serta memiliki pemahaman keislaman yang kuat. Bekal tersebut diharapkan mampu membentuk pribadi yang percaya diri dan siap menghadapi tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan semangat pendidikan Muhammadiyah yang berkemajuan. (Sofyan)
Baca juga: Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3
News
![]() |
| Astrid meninjau langsung kegiatan lapak baca di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). |
Astrid Widayani Dorong Budaya Literasi di Solo, Perpustakaan Keliling Hadirkan Lapak Baca Gratis di Sriwedari
Surakarta – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong penguatan budaya literasi melalui berbagai inovasi yang memudahkan masyarakat mengakses bahan bacaan. Salah satunya melalui perpustakaan keliling berbasis sepeda yang menghadirkan lapak baca gratis di ruang publik, sehingga warga dapat membaca buku di sela aktivitas sehari-hari.
Astrid meninjau langsung kegiatan lapak baca tersebut di kawasan Sriwedari, Solo, Sabtu (17/10/2026). Dalam kunjungan itu, ia melihat pemanfaatan ruang publik sebagai tempat belajar alternatif yang terbuka bagi masyarakat sekaligus menjadi cara kreatif untuk menumbuhkan minat baca di luar lingkungan sekolah dan perpustakaan konvensional.
Menurut Astrid, penguatan literasi tidak cukup hanya dengan menyediakan buku dan fasilitas perpustakaan. Akses terhadap bahan bacaan perlu dibuat lebih dekat, menarik, dan sesuai dengan kebiasaan masyarakat agar membaca tumbuh menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Literasi harus kita hadirkan sedekat mungkin dengan masyarakat. Jangan sampai buku hanya tersedia di tempat tertentu, tetapi belum menjadi bagian dari keseharian warga. Melalui perpustakaan keliling seperti ini, masyarakat bisa menemukan bacaan di ruang publik, membaca dengan santai, dan mulai membangun kebiasaan membaca dari hal sederhana,” ujar Astrid.
Ia menjelaskan, inovasi perpustakaan keliling memiliki nilai strategis karena mampu menjangkau masyarakat melalui pendekatan yang fleksibel. Dengan menggunakan sepeda sebagai sarana membawa buku, kegiatan membaca dapat hadir di tengah aktivitas warga tanpa harus menunggu mereka datang ke gedung perpustakaan.
Dalam peninjauan tersebut, Astrid melihat lapak baca yang menyediakan puluhan judul buku dari koleksi pribadi penggagasnya, Destyn Ayu Safitri. Buku-buku itu dibawa menggunakan sepeda dan disediakan secara gratis bagi masyarakat yang ingin membaca di kawasan Sriwedari.
Bagi Astrid, kegiatan tersebut menunjukkan penguatan literasi dapat dilakukan melalui kolaborasi dan partisipasi masyarakat. Ruang publik yang selama ini identik dengan rekreasi dan olahraga juga berpotensi menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang inklusif.
“Ruang publik tidak hanya bisa menjadi tempat berkumpul dan beraktivitas, tetapi juga ruang untuk belajar. Kita perlu terus mendorong munculnya kegiatan kreatif yang membuat masyarakat semakin dekat dengan buku. Ketika aksesnya mudah dan suasananya menyenangkan, membaca bisa menjadi kebiasaan yang tumbuh secara alami,” katanya.
Astrid juga mengingatkan pentingnya literasi di tengah derasnya arus informasi digital. Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memahami, memilah, dan memeriksa kebenaran informasi secara kritis.
Budaya membaca menjadi fondasi untuk memperluas wawasan, membangun daya pikir, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menyikapi berbagai persoalan. Karena itu, penguatan literasi perlu dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas, hingga ruang publik.
Ia berharap kegiatan perpustakaan keliling dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk berkontribusi memperluas akses bacaan di Kota Solo. Dukungan komunitas, sekolah, pengelola perpustakaan, dan masyarakat diperlukan agar gerakan literasi berkembang secara berkelanjutan serta menjangkau lebih banyak kalangan.
“Yang ingin kita bangun adalah ekosistem literasi yang hidup. Pemerintah, komunitas, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bergerak bersama. Ukurannya bukan hanya berapa banyak buku yang tersedia, tetapi bagaimana buku itu bisa diakses, dibaca, dipahami, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” jelas Astrid.
Melalui penguatan literasi yang melibatkan berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Kota Surakarta berharap tumbuh lingkungan yang mendorong warga untuk terus belajar, memperluas pengetahuan, dan berpikir kritis. Kehadiran perpustakaan keliling berbasis sepeda di ruang publik menjadi salah satu contoh bahwa gerakan literasi dapat dimulai dari langkah sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. (Sofyan)
Baca juga: Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3
Pendidikan
![]() |
| Lewat konsep sosialisasi berbasis praktik dan peran reporter cilik, siswa belajar mengamati gejala alam sekaligus mampu menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri. |
Tanggap, Sigap, Berani Bicara! Mahasiswa UNISRI Edukasi Mitigasi Bencana di SDN 2 Sruni Boyolali
BOYOLALI – majalahlarise.com – Meningkatkan kesadaran mitigasi bencana sejak dini menjadi langkah penting untuk membangun generasi yang tangguh menghadapi potensi bencana alam. Melalui program pengabdian masyarakat, mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta mengajak siswa SDN 2 Sruni, Boyolali, belajar mengenali potensi bencana Gunung Merapi melalui kegiatan edukatif bertema “Tanggap Bencana, Sigap Semua, Berani Bicara”, Senin (13/10).
Kegiatan yang diikuti 36 siswa tersebut dipimpin Diva Restu Fadilah bersama empat anggota tim, yakni Wiwit Kurnia Sari, Aisyah Kurnianti, Ahmad Fauzan, dan Fatwa Aziz Al Hafiz. Mahasiswa semester 3 ini memadukan sosialisasi interaktif dengan pembelajaran berbasis pengalaman atau experience learning agar materi mitigasi bencana lebih mudah dipahami anak-anak.
Berada di kawasan rawan bencana Gunung Merapi, siswa SDN 2 Sruni perlu memiliki pengetahuan dasar mengenai kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan erupsi. Melalui kegiatan ini, para siswa dikenalkan dengan gejala alam yang perlu diwaspadai, pentingnya mengikuti arahan guru dan petugas, serta cara menyampaikan informasi ketika melihat kondisi yang berpotensi membahayakan.
Kepala SDN 2 Sruni, Nur Absah Nirwana, S.Pd., menyambut positif kegiatan yang diinisiasi mahasiswa UNISRI tersebut. Menurutnya, edukasi mitigasi bencana sangat dibutuhkan anak-anak yang tinggal di lingkungan dengan potensi ancaman bencana alam.
“Kami sangat mengapresiasi dan berterima kasih atas kepedulian mahasiswa UNISRI. Edukasi ini sangat krusial bagi anak-anak kami yang tinggal di kawasan rawan bencana. Dengan penyampaian yang interaktif, anak-anak tidak hanya belajar tentang keselamatan, tetapi juga makin berani dan percaya diri,” ungkapnya.
Dukungan juga disampaikan guru SDN 2 Sruni, Dwi Harsono, S.Pd. Ia berharap kegiatan pengabdian masyarakat yang memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada siswa tersebut dapat terus berlanjut. Dengan demikian, pengetahuan mengenai kesiapsiagaan bencana dapat ditanamkan secara bertahap dan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Sementara itu, Diva Restu Fadilah selaku perwakilan tim mahasiswa menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang dengan menggabungkan pengetahuan mitigasi bencana dan keterampilan jurnalistik. Pendekatan ini diharapkan membuat siswa tidak hanya memahami informasi keselamatan, tetapi juga mampu mengamati keadaan di sekitarnya dan menyampaikan informasi secara tepat.
“Kami ingin mengubah kesan mitigasi bencana yang kaku menjadi aktivitas yang mudah dipahami. Lewat konsep sosialisasi berbasis praktik dan peran reporter cilik, siswa belajar mengamati gejala alam sekaligus mampu menceritakannya kembali secara jelas dan percaya diri,” jelas Diva.
Konsep reporter cilik menjadi salah satu pendekatan kreatif dalam kegiatan tersebut. Melalui pengenalan peran sebagai penyampai informasi, siswa didorong untuk berani berbicara, mengungkapkan hasil pengamatan, serta menyampaikan informasi yang mereka ketahui dengan bahasa yang jelas. Keterampilan ini diharapkan membantu anak-anak memahami pentingnya komunikasi ketika menghadapi situasi darurat.
Sepanjang kegiatan, para siswa terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian pembelajaran. Mereka terlibat aktif dalam sosialisasi dan praktik yang diberikan oleh tim mahasiswa. Para siswa juga menyampaikan harapan agar kegiatan edukatif yang menyenangkan seperti ini dapat kembali diselenggarakan pada kesempatan mendatang.
Program pengabdian masyarakat ini menjadi salah satu bentuk pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa UNISRI dan SDN 2 Sruni menunjukkan pentingnya sinergi perguruan tinggi dengan lembaga pendidikan dasar dalam memperluas pemahaman mitigasi bencana.
Melalui pendekatan yang komunikatif dan partisipatif, mahasiswa UNISRI berupaya menanamkan tiga nilai penting kepada siswa, yakni tanggap dalam mengenali potensi bahaya, sigap dalam merespons situasi, serta berani berbicara untuk menyampaikan informasi. Pembekalan sejak dini ini diharapkan mendukung terbentuknya generasi yang lebih siap menghadapi risiko bencana sekaligus memiliki kecakapan literasi dan komunikasi.(Sofyan)
Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot
Pendidikan
Pujiono Bakar Semangat Kepala Sekolah Muhammadiyah Wonogiri, Strategi SPMB Jadi Kunci Kemajuan Sekolah
WONOGIRI – majalahlarise.com – Ustadz Pujiono, S.Si., S.Pd., M.M., membakar semangat kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Wonogiri melalui pemaparan strategi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang efektif, kreatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat. Ia mengajak setiap sekolah membangun kepercayaan masyarakat melalui peningkatan mutu pendidikan, pelayanan, serta program unggulan yang nyata.
Pesan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kepala Sekolah dan Madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Wonogiri yang diselenggarakan Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Wonogiri, Sabtu (17/10/2026).
Kegiatan bertema “Manajemen Hebat, Sekolah-Madrasah Maju Pesat” tersebut berlangsung di Gedung Dakwah Muhammadiyah Budi Hartoyo, di depan SMAN 1 Wonogiri, mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai. Rakor ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi sekaligus meningkatkan profesionalisme pengelola sekolah Muhammadiyah dalam menghadapi persaingan dunia pendidikan yang semakin kompetitif.
Pujiono yang merupakan anggota Tim Diksuspala dan Penjaminan Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjelaskan, keberhasilan SPMB tidak cukup hanya mengandalkan pemasangan spanduk, penyebaran brosur, atau promosi menjelang tahun ajaran baru. Sekolah perlu membangun reputasi melalui kualitas pembelajaran, pelayanan yang memuaskan, program unggulan, serta karakter peserta didik yang mencerminkan keberhasilan pendidikan.
“SPMB bukan pekerjaan musiman yang baru dimulai ketika pendaftaran dibuka. SPMB adalah hasil dari kerja panjang membangun mutu, pelayanan, komunikasi, dan kepercayaan masyarakat,” menjadi pesan penting dalam pemaparan strategi penerimaan murid baru tersebut.
Menurut Pujiono, penerimaan murid baru harus menjadi bagian dari strategi pengembangan sekolah secara menyeluruh. Setiap unsur sekolah memiliki peran dalam membangun citra positif lembaga pendidikan di tengah masyarakat.
Kepala sekolah berperan sebagai penggerak utama dalam merumuskan kebijakan dan mengembangkan keunggulan lembaga. Guru menjadi duta sekolah melalui kualitas pembelajaran dan pendampingan peserta didik. Sementara itu, tenaga kependidikan perlu memberikan pelayanan terbaik, sedangkan siswa dan orang tua dapat turut memperkenalkan sekolah melalui pengalaman positif yang mereka rasakan.
Ia juga mengajak para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah untuk berani melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan SPMB. Apabila jumlah pendaftar belum memenuhi target, sekolah perlu mencari penyebabnya secara objektif, bukan sekadar menyalahkan persaingan atau kondisi masyarakat.
Evaluasi tersebut dapat dilakukan dengan membenahi program pendidikan, memperkuat keunggulan sekolah, meningkatkan kualitas layanan, serta membangun komunikasi yang lebih dekat dengan calon wali murid. Dengan demikian, strategi penerimaan murid baru tidak hanya berorientasi pada jumlah pendaftar, tetapi juga pada keberlanjutan dan peningkatan kualitas lembaga pendidikan.
Pujiono memaparkan tiga langkah penting dalam strategi SPMB, yakni membuat masyarakat mengenal sekolah, membangun kepercayaan masyarakat terhadap sekolah, dan mendorong masyarakat memilih sekolah tersebut. Ketiga langkah ini membutuhkan kerja nyata, konsistensi, serta kolaborasi seluruh warga sekolah.
Sekolah perlu memetakan potensi calon murid, mengenali kebutuhan orang tua, merancang program yang relevan, dan menyampaikan keunggulan lembaga secara jelas. Komunikasi yang baik juga harus diimbangi bukti nyata berupa kualitas pendidikan, lingkungan belajar yang kondusif, pembinaan karakter, serta pelayanan yang profesional.
Dalam kegiatan tersebut, Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Wonogiri, Prof. Agus Wahyu Triatmo, M.Ag., bersama Sekretaris Drs. Teguh, turut menjadi bagian dari upaya memperkuat koordinasi dan pengembangan pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Wonogiri.
Melalui rakor ini, Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Wonogiri mendorong seluruh kepala sekolah dan madrasah untuk memperkuat tata kelola profesional, meningkatkan mutu pendidikan, serta membangun kolaborasi dan sinergi antar lembaga.
Hasil rakor diharapkan tidak berhenti pada diskusi dan motivasi, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret di masing-masing sekolah. Langkah tersebut mencakup pemetaan potensi calon murid, penyusunan program unggulan, penguatan identitas dan citra sekolah, peningkatan pelayanan kepada wali murid, serta evaluasi capaian SPMB secara berkala.
Sekolah Muhammadiyah tidak cukup hanya dikenal karena nama besarnya. Kepercayaan masyarakat perlu dibangun melalui mutu pendidikan, keunggulan program, pelayanan yang baik, dan pembentukan akhlak peserta didik.
Dengan semangat “Manajemen Hebat, Sekolah-Madrasah Maju Pesat”, para kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah se-Kabupaten Wonogiri diharapkan semakin siap menghadirkan lembaga pendidikan yang berkualitas, berdaya saing, dan mampu menjawab kebutuhan masyarakat. (Sofyan)
Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot
Pendidikan
Undang Peserta dari 30 Negara, DKV ISI Surakarta Gelar Pameran Internasional Typefest 3
SURAKARTA – majalahlarise.com – Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menggelar pameran internasional Typefest #3 pada 22–24 Oktober 2026. Mengusung tema “Non-Latin”, pameran ini mengundang seniman dan desainer dari sekitar 30 negara untuk mengeksplorasi keberagaman aksara sebagai bagian dari ekspresi seni, identitas budaya, dan perkembangan desain komunikasi visual.
Pameran yang diselenggarakan setiap dua tahun sekali sejak 2022 ini akan berlangsung selama tiga hari di Pendopo Ageng GPH Djojokusumo, Kampus Kentingan, ISI Surakarta. Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan bagi seniman, desainer, mahasiswa, dosen, dan praktisi untuk memperkenalkan karya sekaligus membangun jejaring kreatif pada tingkat internasional.
Tema “Non-Latin” dipilih untuk mengajak para peserta mengeksplorasi, menghidupkan kembali, serta menghubungkan aksara lokal dengan kehidupan masyarakat masa kini. Pameran ini tidak hanya menampilkan keindahan visual huruf, tetapi juga menggali nilai sejarah, pemikiran, dan identitas budaya yang terkandung di dalamnya.
Ketua Pelaksana Typefest #3, Ipung Kurniawan Yunianto, yang juga dosen DKV FSRD ISI Surakarta, menjelaskan tema tersebut menjadi upaya untuk membuka perspektif masyarakat terhadap keberagaman sistem penulisan di dunia.
“Intinya, dengan tema ‘Non-Latin’, kami ingin mendobrak pandangan bahwa alfabet Latin merupakan standar universal dalam sistem penulisan. Sekaligus, kami ingin merayakan keberagaman aksara dunia sebagai bentuk ekspresi budaya yang setara dan layak untuk terus hidup serta berkembang,” ungkap Ipung.
Pameran ini membuka kesempatan bagi peserta dari berbagai negara untuk mengirimkan karya melalui jalur *open call* maupun undangan. Karya yang ditampilkan mencakup beragam bentuk eksplorasi, mulai dari tipografi, lettering, karya tiga dimensi (3D), digital, eksperimental, hingga media lainnya.
Melalui keragaman karya tersebut, Typefest #3 diharapkan dapat mempertemukan karakter visual, pendekatan kreatif, serta gagasan dari para pelaku desain lintas negara. Pertemuan ini sekaligus menjadi kesempatan untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman mengenai perkembangan tipografi dan aksara dalam konteks seni, desain, serta kebudayaan.
Selain menjadi ruang apresiasi karya, kegiatan ini juga diarahkan sebagai media promosi dan publikasi Program Studi DKV FSRD ISI Surakarta kepada masyarakat internasional. Melalui partisipasi peserta dari berbagai negara, pameran ini membuka peluang kolaborasi sekaligus memperluas jejaring akademik dan profesional di bidang desain komunikasi visual.
Untuk memperkaya pengalaman pengunjung, penyelenggara turut menghadirkan sejumlah agenda pendukung berupa lokakarya (workshop) dan diskusi (talkshow) selama tiga hari pelaksanaan. Kegiatan tersebut menjadi ruang berbagi pengetahuan, membahas proses kreatif, serta mendiskusikan peran aksara dalam perkembangan desain dan kehidupan masyarakat kontemporer.
Melalui Typefest #3 bertema “Non-Latin”, DKV FSRD ISI Surakarta mengajak masyarakat melihat aksara bukan sekadar perangkat untuk menyampaikan bahasa, melainkan juga warisan budaya yang menyimpan sejarah, pemikiran, dan identitas suatu masyarakat. Keberagaman aksara dunia diharapkan terus mendapat ruang untuk dikenali, dikembangkan, dan dihidupkan melalui karya seni serta desain komunikasi visual. (Sofyan)
Baca juga: Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot
Komunitas
![]() |
| Dra. Rusmiyah, M.Si memimpin DPC GWS Kota Surakarta periode 2026-2031. |
Rusmiyah Pimpin DPC GWS Kota Surakarta 2026–2031, Perkuat Pemberdayaan Perempuan
SURAKARTA – majalahlarise.com - Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Wanita Sejahtera (DPC GWS) Kota Surakarta menggelar pelantikan dan pengukuhan ketua serta pengurus periode 2026–2031 di Kusuma Sahid Prince Hotel, Jumat (16/10/2026). Mengusung tema “Women Support Women, Kebersamaan, Kemandirian, Pengabdian Wanita untuk Mewujudkan Organisasi GWS yang Solid, Peduli, dan Bermanfaat untuk Masyarakat”, kepengurusan baru diharapkan mampu memperkuat solidaritas perempuan, meningkatkan kemandirian, serta memperluas kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dra. Rusmiyah, M.Si yang dipercaya memimpin DPC GWS Kota Surakarta menyampaikan, jabatan ketua merupakan amanah sekaligus tanggung jawab besar untuk membangkitkan organisasi agar semakin dikenal masyarakat luas. Ia menyebut GWS sebagai organisasi berskala nasional yang telah berdiri selama puluhan tahun, diperkirakan mencapai 45 hingga 50 tahun berdasarkan sejarahnya.
“Bagi saya, terpilih sebagai ketua GWS merupakan amanah yang besar. Ada tugas berat untuk mengangkat GWS agar lebih dikenal masyarakat. Saya memiliki semangat untuk menghidupkan kembali organisasi ini bersama 27 pengurus yang telah bergabung,” ungkap Rusmiyah.
Menurutnya, GWS membawa semangat women support women, yakni perempuan saling mendukung, menguatkan, dan membantu agar mampu berdaya guna serta memberikan manfaat bagi orang lain. Semangat tersebut menjadi landasan bagi pengurus dalam menyusun program yang berorientasi pada peningkatan kapasitas anggota dan pemberdayaan perempuan.
Pada tahap awal kepemimpinannya, Rusmiyah memprioritaskan program capacity buildingatau peningkatan kapasitas anggota. Program ini mencakup penguatan kemampuan administrasi, pengelolaan keuangan melalui pembukuan sederhana, serta pemahaman etika berorganisasi.
Ia menjelaskan, penguatan kemampuan dasar tersebut penting untuk membangun fondasi organisasi yang kokoh. Dengan pemahaman yang baik mengenai administrasi, keuangan, dan etika berorganisasi, setiap anggota diharapkan mampu menjalankan tugas sesuai tanggung jawabnya serta bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama.
Rusmiyah juga berharap seluruh pengurus dapat terlibat aktif dan membangun solidaritas dalam menjalankan roda organisasi. Ia mengibaratkan GWS sebagai sebuah perahu yang membutuhkan kerja sama seluruh awak agar dapat berlayar menuju tujuan.
“Organisasi ini ibarat sebuah perahu. Saya sebagai nakhoda harus bisa menyusun perencanaan dan melakukan evaluasi. Namun, untuk menjalankan program, diperlukan kerja nyata dan sinergi seluruh pengurus. Kita harus bergerak bersama agar GWS semakin solid dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua DPW GWS Jawa Tengah, Hj. Dina Ali Hanafia, dalam sambutannya seusai melantik dan mengukuhkan pengurus DPC GWS Kota Surakarta meminta ketua terpilih segera membentuk kepengurusan hingga tingkat ranting. Langkah tersebut dinilai penting untuk memperluas jangkauan organisasi sekaligus menghidupkan kegiatan GWS di tengah masyarakat.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada pengurus sebelumnya atas pengabdian yang telah diberikan. Kepengurusan baru diharapkan dapat melanjutkan hal-hal positif sekaligus menghadirkan program yang lebih aktif, terarah, dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Dina mendorong DPC GWS Kota Surakarta membangun kerja sama dengan pemerintah daerah, khususnya instansi yang menangani pemberdayaan perempuan. Menurutnya, kolaborasi dengan pemerintah dapat membuka peluang pelaksanaan program yang lebih luas, sebagaimana telah dilakukan GWS di sejumlah daerah lain di Jawa Tengah.
“Ketua yang baru dilantik saya harapkan segera membentuk kepengurusan sampai tingkat ranting. Organisasi harus bergerak dan hadir di tengah masyarakat. Kami juga berharap GWS Kota Surakarta dapat menjalin kerja sama dengan pemerintah daerah, terutama instansi yang menangani pemberdayaan perempuan,” tuturnya.
Ia menjelaskan, GWS merupakan organisasi sosial yang menjalankan kegiatan secara mandiri tanpa mengandalkan bantuan dana dari DPP maupun pihak lain. Karena itu, kesederhanaan, kebersamaan, dan kepedulian sosial perlu menjadi prinsip dalam menjalankan organisasi.
Menurut Dina, GWS memiliki peran strategis dalam membantu perempuan, khususnya di tingkat akar rumput, agar semakin mandiri dan mampu mengembangkan keterampilan. Pemberdayaan tersebut diharapkan dapat membuka peluang usaha serta membantu meningkatkan perekonomian keluarga, termasuk bagi perempuan yang menjalankan aktivitas produktif dari rumah.
Lebih lanjut, ia meminta pengurus DPC GWS Kota Surakarta segera menyusun dan menjalankan program kerja, membentuk ranting di tingkat kecamatan, serta mengadakan pelatihan yang bermanfaat bagi masyarakat. DPW GWS Jawa Tengah juga membuka peluang koordinasi untuk mendukung kegiatan melalui penyediaan narasumber maupun pendampingan program.
Dina berharap kepengurusan baru tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu menghadirkan program nyata dan berkelanjutan. Melalui kegiatan yang terarah, GWS diharapkan semakin dipercaya pemerintah daerah dan masyarakat, sekaligus memperluas kontribusinya dalam pemberdayaan perempuan serta penguatan ekonomi keluarga.
Pelantikan dan pengukuhan pengurus DPC GWS Kota Surakarta periode 2026–2031 menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama dalam membangun organisasi yang solid, mandiri, dan peduli. Dengan semangat women support women, GWS diharapkan menjadi ruang bagi perempuan untuk saling mendukung, mengembangkan potensi, serta berkontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat. (Sofyan)
Mitra Usaha
![]() |
| Yan Vellia, istri almarhum penyanyi campursari Didi Kempot. |
Yan Vellia Lanjutkan Usaha Teh DK, Bisnis yang Berawal dari Kebiasaan Minum Teh Bersama Didi Kempot
Surakarta - majalahlarise.com – Di balik kesibukannya sebagai penyanyi, Yan Vellia, istri almarhum penyanyi campursari Didi Kempot, terus mengembangkan usaha Teh DK. Bisnis yang berawal dari kebiasaan sederhana menikmati teh setiap pagi bersama sang suami tersebut kini menjadi salah satu sumber penghasilan sekaligus upaya Yan Vellia menjaga produktivitas dan kemandirian ekonomi keluarga.
Saat ditemui majalahlarise.com belum lama ini disela-sela acara Pelantikan Pengurus DPC IWAPI Kota Surakarta, Yan Vellia menceritakan, gagasan usaha Teh DK bermula dari kebiasaan dirinya bersama almarhum Didi Kempot menikmati teh sambil berbincang di meja makan. Momen sederhana itu sering menjadi ruang untuk membicarakan berbagai hal, mulai dari perjalanan karier di dunia musik, rencana mengembangkan genre musik, hingga masa depan dan pendidikan anak-anak mereka.
“Teh itu favorit saya dan Mas Didi setiap pagi. Kalau kami ngobrol di meja makan sambil menyeruput teh, banyak hal yang dibicarakan. Mulai dari rencana perjalanan musik, genre apa lagi yang akan dibuat, sampai anak-anak nanti mau diarahkan ke mana,” tuturnya.
Dari kebiasaan tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan usaha teh. Yan Vellia kemudian membeli bahan teh dari perkebunan di Wonosobo dan mengemasnya dengan merek Teh DK. Nama tersebut menjadi identitas usaha yang tumbuh dari kebiasaan sehari-hari bersama sang suami.
Usaha Teh DK telah berjalan sekitar dua setengah tahun. Setelah Didi Kempot meninggal dunia, Yan Vellia berusaha melanjutkan kehidupan dan memenuhi kebutuhan anak-anaknya yang masih kecil. Ia memilih tetap produktif dengan mengembangkan usaha, tanpa meninggalkan aktivitasnya di dunia musik.
“Kalau ada kesempatan menyanyi, saya tetap menyanyi. Kalau tidak ada kegiatan menyanyi, saya berjualan Teh DK. Jadi, kegiatan usaha ini berjalan berdampingan dengan aktivitas saya sebagai penyanyi,” ungkapnya.
Dalam mengembangkan bisnisnya, Yan Vellia menerapkan sistem distribusi melalui grosir. Setiap tiga bulan, ia mendistribusikan sekitar 200 bal produk Teh DK ke sejumlah grosir. Sekitar setengah bulan kemudian, ia kembali mendatangi grosir untuk memasok produk sesuai kebutuhan.
Pola distribusi tersebut dilakukan untuk menjaga perputaran barang sekaligus menghindari penumpukan stok di tempat penjualan. Baginya, menjalankan usaha tidak cukup hanya dengan menghasilkan produk, tetapi juga membutuhkan pengelolaan distribusi yang teratur dan hubungan baik dengan mitra penjualan.
Selain menjaga ketersediaan produk, Yan Vellia juga memperhatikan konsistensi kualitas dan cita rasa teh. Ia ingin Teh DK dapat memenuhi harapan konsumen sehingga mereka terus menikmati produk tersebut sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Kepada para pecinta teh, Yan Vellia menyampaikan ajakan dengan gaya santai dan humoris. Ia menggunakan ungkapan yang memadukan perasaan patah hati dengan kebiasaan menikmati teh.
“Yen atimu ambyar, mesti kurang ngeteh yo Teh DK,” ujarnya sambil bercanda.
Kalimat tersebut menjadi cara Yan Vellia mendekatkan produk kepada masyarakat melalui ungkapan yang akrab dengan keseharian penggemar musik campursari. Baginya, teh bukan sekadar minuman untuk menemani waktu santai, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan sederhana yang menghadirkan kesegaran.
Di luar aktivitas sebagai penyanyi dan pengusaha, Yan Vellia turut mengapresiasi keberadaan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI). Menurutnya, organisasi tersebut menjadi wadah bagi perempuan pelaku usaha dari berbagai kelompok usia untuk saling mengenal, memperkenalkan produk, serta memperluas peluang pemasaran.
Melalui kegiatan organisasi, para pengusaha perempuan memiliki kesempatan menawarkan produk kepada masyarakat sekaligus membangun jaringan bisnis. Dukungan dan interaksi antarpelaku usaha menjadi salah satu modal untuk terus mengembangkan usaha di tengah persaingan pasar.
Yan Vellia berharap semangat berwirausaha di kalangan perempuan terus tumbuh. Ia ingin semakin banyak perempuan mampu mengembangkan bisnis, memperluas pemasaran, dan meningkatkan kemandirian ekonomi melalui usaha yang dijalankan secara konsisten.
Perjalanan Teh DK memperlihatkan bagaimana kebiasaan sederhana dapat berkembang menjadi peluang usaha. Berawal dari secangkir teh yang menemani percakapan di meja makan, kini Yan Vellia melanjutkan langkah sebagai penyanyi sekaligus pengusaha. Di tengah perubahan kehidupan yang dialaminya, Teh DK menjadi bagian dari ikhtiar untuk terus berkarya dan membangun masa depan keluarga. (Sofyan)
Baca juga: EXPERIA 2026 Jadi Wadah Nyata Kewirausahaan Mahasiswa Manajemen UNISRI
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Ziarah Agung Mbah Kyai Nur Suhud, Rawat Jejak Dakwah Ulama Keraton Kartosura di Nguter SUKOHARJO – majalahlarise.com – Warga Nahdlatul Ulam...







