Murid mengasah kemampuan berpikir, ketangkasan, komunikasi, serta kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama.


    Pererat Silaturahmi Lintas Sekolah, 82 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Unjuk Kolaborasi di Salatiga

    SALATIGA - majalahlarise.com – Sebanyak 82 murid kelas IV SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan field trip edukatif ke SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga dan Saloka Theme Park, Kabupaten Semarang, Kamis (8/10/2026). Kegiatan bertema “Satu Hari, Sejuta Sahabat: Kolaborasi Seru Tanpa Batas” ini menjadi sarana mempererat silaturahmi lintas sekolah sekaligus menumbuhkan karakter mandiri, komunikatif, dan kolaboratif pada diri murid.

    Koordinator tim kelas IV, Atit Nur Ariyanna, menjelaskan kegiatan pembelajaran di luar kelas memberikan kesempatan kepada murid untuk berinteraksi dengan lingkungan baru, melatih keberanian, serta mengembangkan kecerdasan sosial dan emosional.

    “Pembelajaran di luar kelas ini melatih keberanian anak-anak untuk beradaptasi dan berkomunikasi. Kami berharap kolaborasi antarsekolah ini terus berlanjut demi kemajuan bersama,” ungkapnya.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan persahabatan ke SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga. Dalam kunjungan tersebut, murid dari kedua sekolah mengikuti berbagai permainan interaktif yang dirancang untuk membangun keakraban dan melatih kemampuan bekerja sama.

    Pembentukan kelompok dilakukan secara acak menggunakan kartu bergambar hewan. Cara ini membuat suasana lebih cair sekaligus mendorong murid berkenalan dan berkolaborasi dengan teman-teman baru dari sekolah berbeda.

    Dalam sesi fun games, peserta ditantang menyelesaikan lima pos permainan, yakni Clash of Champions (COC) Matematika, memindah cup, sambung kata, angkat bola, dan Trivia Game in English. Setiap permainan mengajak murid mengasah kemampuan berpikir, ketangkasan, komunikasi, serta kerja sama tim untuk mencapai tujuan bersama.

    Keakraban antar murid semakin terasa ketika mereka bersama-sama membuat karya seni kolase berbahan daur ulang. Dengan memanfaatkan botol plastik dan kanvas bekas, setiap kelompok menyusun elemen karya hingga membentuk tulisan “SDM Plus” dan “SDM PK SOLO”.

    Aktivitas tersebut tidak hanya mengembangkan kreativitas, tetapi juga mengenalkan pemanfaatan bahan bekas menjadi karya bernilai seni. Murid belajar berbagi tugas, menghargai gagasan teman, dan menyatukan perbedaan untuk menghasilkan karya bersama.

    Kepala SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, Suharwono, menyambut hangat kunjungan tersebut. Menurutnya, pertemuan lintas sekolah menjadi ruang strategis bagi anak-anak untuk mengembangkan keterampilan bersosialisasi sekaligus memperluas jejaring pertemanan sejak dini.

    “Kami berharap ruang perkenalan ini menjadi pemantik lahirnya persahabatan yang berkelanjutan bagi para siswa di luar momentum kegiatan field trip hari ini,” ujarnya.

    Setelah menyelesaikan rangkaian kegiatan persahabatan di SD Muhammadiyah Plus Kota Salatiga, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Saloka Theme Park di Kabupaten Semarang. Di taman rekreasi tersebut, para murid mengeksplorasi beragam wahana interaktif yang memadukan unsur rekreasi dengan pembelajaran kontekstual.

    Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada murid untuk memperoleh pengalaman belajar di luar lingkungan sekolah. Melalui interaksi langsung dan eksplorasi berbagai wahana, mereka diharapkan dapat memperluas wawasan, melatih kemandirian, serta mengembangkan rasa ingin tahu melalui pengalaman yang menyenangkan.

    Melalui kegiatan field trip ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Surakarta terus berupaya menghadirkan pembelajaran bermakna (meaningfull learning) yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan akademis, tetapi juga pembentukan karakter.

    Pengalaman sehari bersama teman-teman dari sekolah berbeda diharapkan menjadi bekal bagi murid untuk membangun hubungan sosial yang positif, menghargai perbedaan, dan memahami pentingnya kolaborasi dalam kehidupan sehari-hari.(Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Pertanian Univet Bantara Kembali Kirim 12 Mahasiswa Magang ke Jepang

    Frian Abadi dan Savina Dwi Agnezya Wulandari berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Pencak Silat Open Tournament Piala Panglima TNI Tahun 2026.


    Naik Podium di Kejuaraan Pencak Silat Piala Panglima TNI 2026, Dua Mahasiswa DKV ISI Surakarta Raih Medali Emas

    SURAKARTA - majalahlarise.com– Dua mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menorehkan prestasi membanggakan dalam bidang olahraga. Frian Abadi dan Savina Dwi Agnezya Wulandari berhasil meraih medali emas pada Kejuaraan Pencak Silat Open Tournament Piala Panglima TNI Tahun 2026.

    Keduanya merupakan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pencak Silat Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) ISI Surakarta. Kejuaraan tingkat nasional tersebut berlangsung pada 11–13 September 2026 di GOR Indoor Manahan, Surakarta. Dalam kompetisi itu, tim ISI Surakarta berhasil membawa pulang empat medali emas dan tiga medali perunggu untuk kategori dewasa.

    Frian Abadi, mahasiswa angkatan 2025, meraih medali emas pada kategori tanding kelas C dewasa putra. Sementara itu, Savina Dwi Agnezya Wulandari, mahasiswa angkatan 2023, menjadi juara pertama pada kategori tanding kelas C dewasa putri.

    Prestasi tersebut menunjukkan mahasiswa ISI Surakarta mampu mengembangkan potensi di luar bidang akademik. Di tengah kesibukan menempuh pendidikan seni dan desain, keduanya tetap berkomitmen menjalani latihan untuk meraih hasil terbaik dalam kompetisi pencak silat.

    Savina mengungkapkan, persiapan menghadapi kejuaraan dilakukan melalui latihan fisik, penguatan mental, pengaturan pola makan, serta menjaga waktu istirahat. Ia bersama rekan-rekannya menjalani latihan dua hingga tiga kali dalam seminggu untuk menjaga kesiapan menghadapi pertandingan.

    Persiapan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kondisi fisik dan mental agar mampu tampil maksimal di gelanggang. Kedisiplinan menjalani latihan juga membantu atlet menjaga konsistensi selama mengikuti pertandingan.

    Dosen pembimbing sekaligus pembina UKM Pencak Silat ISI Surakarta, Eko Wahyu Prihantoro, menyampaikan keberhasilan para atlet merupakan hasil dari konsistensi dan kerja keras selama masa persiapan.

    "Prestasi ini adalah hasil nyata dari disiplin tinggi, kerja keras, dan dedikasi penuh anak-anak selama masa persiapan di bawah arahan pelatih Asruri Nur Ichsan," ungkap Eko.

    Ia turut memberikan apresiasi atas perjuangan para atlet yang telah membawa nama baik kampus melalui kompetisi olahraga tingkat nasional. Dukungan pembinaan dari pelatih, dosen pembimbing, dan pihak kampus menjadi bagian dari upaya pengembangan potensi mahasiswa, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

    Perolehan medali tim ISI Surakarta dalam kejuaraan tersebut terdiri atas empat medali emas dan tiga medali perunggu. Selain Frian dan Savina, medali emas diraih Aisdiansyah Ardy Ibrahim dari Program Studi Senjata Tradisional Keris pada kategori tanding kelas C dewasa putra dan seni tunggal dewasa.

    Sementara itu, tiga medali perunggu diraih Adi Dwi Permana dari Program Studi Seni Karawitan pada kategori solo kreatif dewasa putra, Fadilla Nanda Pramesinta dari Program Studi Seni Tari pada kategori solo kreatif dewasa putri, serta Ilham Meirizal Pratama dari Program Studi Seni Murni pada kategori tanding kelas D dewasa putra.

    Perwakilan atlet, Frian Abadi, menyampaikan rasa syukur atas pencapaian yang diraih bersama tim. Ia menyebut keberhasilan tersebut merupakan hasil perjuangan bersama sekaligus bentuk kebanggaan terhadap almamater.

    "Mewakili seluruh teman-teman tim, kami sangat bersyukur atas perolehan empat emas dan tiga perunggu ini. Kemenangan ini kami persembahkan untuk almamater tercinta, ISI Surakarta," ucap Frian.

    Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pelatih, dosen pembimbing, serta pihak kampus yang telah memberikan dukungan sejak masa persiapan hingga pertandingan selesai.

    "Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pelatih, dosen pembimbing, serta pihak kampus yang telah memberikan dukungan penuh kepada kami sejak masa persiapan hingga pertandingan selesai. Kompetisi ini sangat kompetitif, dan medali ini memotivasi kami untuk terus berlatih lebih keras lagi ke depannya," ungkap Frian dalam rilis yang dikirim.

    Raihan empat medali emas dan tiga medali perunggu tersebut menjadi pencapaian tim pencak silat ISI Surakarta dalam Kejuaraan Piala Panglima TNI 2026. Prestasi Frian dan Savina sekaligus menjadi bukti mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan di berbagai bidang melalui latihan teratur, kedisiplinan, dan semangat berkompetisi.(Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Pertanian Univet Bantara Kembali Kirim 12 Mahasiswa Magang ke Jepang

    Wakil Rektor II dan Dekan Fakultas Pertanian beserta jajarannya saat mendampingi pamitan pemberangkatan mahasiswa magang internasional ke Jepang.


    Fakultas Pertanian Univet Bantara Kembali Kirim 12 Mahasiswa Magang ke Jepang

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo kembali mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti Program International Internship atau magang internasional di Jepang. Memasuki periode kelima, program ini diikuti 12 mahasiswa yang akan menjalani magang selama 9–11 bulan mulai Oktober 2026 di PT. Mizuho Nourin Co., Ltd., perusahaan yang merupakan bagian dari holding agroindustri Jepang, PT. Yukiguni Maitake Co., Ltd.

    Program yang dilaksanakan pada Oktober 2026 ini diikuti sembilan mahasiswi dan tiga mahasiswa. Kegiatan tersebut terselenggara melalui kerja sama Fakultas Pertanian Univet Bantara dengan Media Global Indonesia (MGI) dan perusahaan agroindustri di Jepang. Kerja sama ini telah terjalin secara berkelanjutan sejak 2018 hingga saat ini.

    Dekan Fakultas Pertanian Univet Bantara, Dr. Novian Wely Asmoro, S.TP., M.Sc., menjelaskan program magang internasional tersebut merupakan bagian dari upaya fakultas dalam memperkuat jejaring internasional dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI). Program ini sekaligus memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengalaman kerja dan pembelajaran langsung di lingkungan industri pertanian Jepang.

    “Melalui program ini, mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan kompetensi profesional, keterampilan teknis, soft skills, kedisiplinan, serta kemampuan beradaptasi dalam lingkungan kerja multikultural,” jelasnya.

    Menurut Novian, pengalaman magang di Jepang juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai penerapan teknologi, budaya kerja, standar profesional, serta pengelolaan industri pertanian modern. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal berharga bagi mahasiswa ketika memasuki dunia kerja setelah menyelesaikan pendidikan.

    Selain meningkatkan kompetensi individu, keberlanjutan program ini menjadi wujud komitmen Fakultas Pertanian Univet Bantara dalam mempersiapkan lulusan yang kompeten, memiliki pengalaman internasional, dan mampu bersaing di tingkat global.

    Kerja sama yang telah berlangsung sejak 2018 tersebut juga menjadi langkah strategis fakultas dalam memperluas akses pembelajaran di luar kampus. Melalui keterlibatan langsung dalam lingkungan industri internasional, mahasiswa diharapkan mampu memahami kebutuhan dunia kerja sekaligus mengembangkan sikap profesional, tanggung jawab, dan kemandirian.

    Fakultas Pertanian Univet Bantara terus mendorong penguatan kompetensi mahasiswa melalui kolaborasi dengan mitra industri, baik di dalam maupun luar negeri. Upaya tersebut sejalan dengan visi fakultas untuk menghasilkan lulusan yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan daya saing sesuai perkembangan sektor pertanian modern.

    Melalui program International Internship ke Jepang, Fakultas Pertanian Univet Bantara meneguhkan komitmennya untuk menguatkan kompetensi, memperluas jejaring, dan mewujudkan lulusan berdaya saing global. (Sofyan)


    Baca juga: Gelar Ujian Public Speaking, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta Kenalkan Sejarah Kota Solo

    Keluarga besar SMP Negeri 2 Giritontro menggelar Sholat Istisqo di halaman sekolah, Jumat (9/10/2026) pagi. 


    Di Tengah Kepungan Kekeringan, SMP Negeri 2 Giritontro Gelar Sholat Istisqo, Ajak Siswa Bermunajat Memohon Turunnya Hujan

    WONOGIRI – majalahlarise.com – Di tengah kondisi kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Wonogiri bagian selatan, keluarga besar SMP Negeri 2 Giritontro menggelar Sholat Istisqo di halaman sekolah, Jumat (9/10/2026) pagi. Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut menjadi ikhtiar spiritual untuk memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat.

    Sholat Istisqo diikuti para siswa, guru, dan warga sekolah dengan penuh kekhusyukan. Melalui ibadah bersama ini, seluruh peserta diajak meningkatkan keimanan, memperbanyak doa dan istigfar, serta menyadari keterbatasan manusia dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, termasuk kekeringan yang berdampak pada pemenuhan kebutuhan air bersih.

    Bertindak sebagai imam Sholat Istisqo, Rosyid Hamdana, S.Pd.I., sedangkan khutbah disampaikan oleh Sukatmo, S.Pd., M.Pd. Dalam khutbahnya, Sukatmo mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istigfar, bertobat, meningkatkan ketakwaan, dan memohon ampunan kepada Allah SWT.

    Ia mengingatkan, istigfar tidak cukup hanya diucapkan melalui lisan, tetapi perlu diwujudkan melalui kesungguhan memperbaiki diri, meningkatkan kualitas ibadah, menjaga hubungan baik antar sesama, serta memperbanyak amal saleh dalam kehidupan sehari-hari.

    Jamaah juga diajak untuk senantiasa berdoa dan bertawakal kepada Allah SWT tanpa meninggalkan ikhtiar dalam menghadapi berbagai persoalan. Melalui Sholat Istisqo, umat Islam diingatkan untuk menumbuhkan sikap rendah hati, menyadari keterbatasan diri, dan menggantungkan harapan kepada Allah SWT sebagai pemberi rahmat dan rezeki.

    Pesan tersebut selaras dengan kandungan Al-Qur'an Surah Nuh ayat 10–12 yang mengisahkan ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah SWT. Ayat-ayat tersebut menghubungkan istigfar dengan turunnya hujan yang melimpah serta bertambahnya karunia Allah kepada manusia.

    Sementara itu, Koordinator kegiatan, Syarif Aminudin, S.Ag., menjelaskan, penyelenggaraan Sholat Istisqo merupakan bentuk ikhtiar bersama untuk memohon pertolongan Allah SWT di tengah kekeringan yang melanda sejumlah wilayah, khususnya Wonogiri bagian selatan dan sekitarnya.

    Menurutnya, kondisi kekeringan menjadi pengingat bagi seluruh warga sekolah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT, memperbanyak doa dan istigfar, sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

    “Melalui kegiatan ini, kami berharap Allah SWT segera menurunkan hujan yang membawa manfaat dan keberkahan bagi masyarakat. Kami juga ingin menanamkan kepada para siswa pentingnya berdoa, berikhtiar, dan memiliki kepedulian sosial ketika lingkungan sekitar sedang menghadapi kesulitan,” ungkap Syarif.

    Lebih lanjut, Syarif menjelaskan, kegiatan Sholat Istisqo tidak hanya menjadi bentuk ibadah bersama, tetapi juga bagian dari pembelajaran kokurikuler PENAMAS (Pendalaman Nilai Agama dan Kemasyarakatan) yang telah dijadwalkan secara rutin setiap Jumat.

    Melalui program tersebut, siswa memperoleh pengalaman langsung dalam menjalankan ibadah dan menerapkan nilai-nilai keagamaan di tengah kehidupan bermasyarakat. Pembelajaran tidak berhenti pada pemahaman teori di dalam kelas, tetapi juga memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenal praktik ibadah sekaligus memahami makna sosial di balik pelaksanaannya.

    Dalam kegiatan ini, siswa dikenalkan pada tata cara pelaksanaan Sholat Istisqo, tujuan disyariatkannya ibadah tersebut, serta pentingnya bertobat, berdoa, dan berserah diri kepada Allah SWT. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat membentuk karakter religius, menumbuhkan kerendahan hati, dan memperkuat kepedulian terhadap sesama.

    Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan positif yang mengintegrasikan pembelajaran dengan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Menurutnya, pendidikan tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga perlu memberikan perhatian terhadap pembentukan karakter, penguatan spiritualitas, kedisiplinan, dan kepedulian sosial peserta didik.

    Ia mengapresiasi pelaksanaan Sholat Istisqo yang memberikan pengalaman berharga bagi siswa dalam memahami dan menjalankan ajaran agama. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan semakin terbiasa beribadah, memiliki kepekaan terhadap persoalan di lingkungan sekitar, serta mampu menerapkan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.

    Dukungan terhadap kegiatan keagamaan ini juga menjadi bagian dari upaya sekolah dalam membangun lingkungan pendidikan yang religius, humanis, dan peduli terhadap kondisi masyarakat.

    Pelaksanaan Sholat Istisqo di SMP Negeri 2 Giritontro menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan seluruh warga sekolah sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa menghadapi persoalan lingkungan membutuhkan perpaduan antara doa, ikhtiar, dan kepedulian bersama.

    Keluarga besar SMP Negeri 2 Giritontro berharap Allah SWT segera menganugerahkan hujan yang bermanfaat, mencukupi kebutuhan air masyarakat, menyuburkan tanah, serta membawa kesejahteraan bagi warga Wonogiri bagian selatan dan sekitarnya.

    Di tengah ujian kekeringan, kegiatan ini menjadi pengingat bagi para siswa untuk terus menjaga harapan melalui doa, pertobatan, usaha nyata, dan semangat saling membantu. Nilai-nilai tersebut diharapkan tidak hanya tumbuh selama kegiatan keagamaan di sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari karakter peserta didik dalam kehidupan bermasyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: LDKI SMA Veteran 1 Sukoharjo Bekali Siswa dengan Kepemimpinan dan Karakter Islami

    Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si., menyematkan tanda peserta saat membuka LDKI (Latihan Dasar Kepemimpinan Islam).


    LDKI SMA Veteran 1 Sukoharjo Bekali Siswa dengan Kepemimpinan dan Karakter Islami

    Sukoharjo – majalahlarise.com – SMA Veteran 1 Sukoharjo menggelar pelantikan anggota LDKI (Latihan Dasar Kepemimpinan Islam) pada Selasa, 6 Oktober hingga Rabu, 7 Oktober 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kepemimpinan sekaligus penguatan karakter dan kerohanian Islam bagi siswa.

    LDKI merupakan organisasi kerohanian Islam yang telah menjadi bagian dari SMA Veteran 1 Sukoharjo sejak awal berdirinya sekolah. Organisasi tersebut aktif menjalankan berbagai kegiatan keislaman, di antaranya peringatan hari besar Islam, Jumat Religius, serta pengelolaan infak setiap hari Jumat.

    Keberadaan LDKI turut mendukung sekolah dalam menjalankan berbagai program keagamaan. Kegiatan organisasi tersebut berada di bawah pembinaan tiga pembina Rohis, yakni Nurul Azizah, M.Pd., Khofifah, S.Ag., M.Ag., dan Dhani Iksan Ramadhani, S.Pd. Ketiganya bersama-sama mendampingi siswa dalam menjalankan sekaligus mengembangkan kegiatan kerohanian Islam di lingkungan sekolah.

    Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si. saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan LDKI.

    Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si., memberikan dukungan terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Dalam arahannya, ia berpesan agar anggota LDKI mampu menjadi teladan bagi teman-temannya, terutama dalam etika, sopan santun, tanggung jawab, dan kedisiplinan.

    “Anak-anak LDKI diharapkan mampu menjadi teladan bagi teman-temannya. Tidak hanya dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga dalam etika, sopan santun, tanggung jawab, dan kedisiplinan,” pesannya.

    Sebanyak 46 siswa mengikuti kegiatan pelantikan LDKI. Peserta terdiri atas sembilan siswa laki-laki dan 37 siswa perempuan. Melalui kegiatan tersebut, anggota LDKI diharapkan mampu menjalankan tugas sesuai sumpah dan janji organisasi serta berperan aktif membantu berbagai kegiatan keagamaan Islam di sekolah.

    Materi yang diberikan dalam kegiatan meliputi kedisiplinan, pembinaan mental, serta pentingnya keterlibatan siswa dalam kegiatan Rohis. Pembekalan tersebut diarahkan untuk membentuk siswa yang memiliki rasa tanggung jawab, mampu bekerja sama, serta memiliki kepedulian terhadap kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah.

    Sementara itu, Waka Kesiswaan SMA Veteran 1 Sukoharjo, Drs. Sukino, menjelaskan kegiatan LDKI dilaksanakan setiap tahun. Pelantikan anggota LDKI digelar setelah rangkaian kegiatan LDKO OSIS selesai dilaksanakan.


    “Kegiatan LDKI dilaksanakan setiap tahun dan pelantikannya setelah rangkaian LDKO OSIS selesai. Jadi, kegiatan kepemimpinan siswa di SMA Veteran 1 Sukoharjo berlangsung secara berkelanjutan. Setelah LDKO OSIS, kemudian dilanjutkan dengan pelantikan LDKI,” jelasnya.

    Sukino menambahkan, seluruh rangkaian kegiatan kepemimpinan siswa pada tahun ini telah selesai dilaksanakan dengan baik dan lancar. Melalui kesinambungan kegiatan tersebut, sekolah berharap siswa memperoleh pengalaman berorganisasi sekaligus memiliki karakter kepemimpinan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Pelantikan LDKI tidak hanya menjadi seremoni pengukuhan anggota baru, tetapi juga menjadi momentum bagi siswa untuk memahami tanggung jawab dalam menjalankan amanah organisasi. Para anggota diharapkan aktif berkontribusi dalam kegiatan keislaman serta mampu menjadi contoh positif bagi siswa lainnya di SMA Veteran 1 Sukoharjo. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Mendalam, Langkah Kecil Menuju Baitullah


    Gelar Ujian Public Speaking, Siswa SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta Kenalkan Sejarah Kota Solo

    Surakarta- majalahlarise.com - Puluhan siswa kelas VII Smart Digital Class (SDC) SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta mengikuti Ujian Program Public Speaking yang dikemas dalam kegiatan outing class di Rumah Budaya Kratonan, Solo, pada 23 dan 24 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berbicara di depan umum sekaligus mengenal sejarah dan budaya Kota Surakarta.

    Dalam kegiatan tersebut, siswa diajak mengunjungi berbagai ruangan yang terdapat di Rumah Budaya Kratonan. Mereka mendapatkan informasi mengenai sejarah dan budaya Kota Surakarta melalui berbagai koleksi yang tersedia.

    Materi yang dipelajari siswa meliputi sejarah politik, revolusi industri, kolonialisme, hingga kebudayaan Jawa. Siswa juga memperoleh wawasan mengenai berbagai bentuk kebudayaan Jawa, seperti seni tari, gamelan, dan bahasa Jawa.

    Suasana pembelajaran di luar sekolah membuat siswa terlihat antusias. Mereka menikmati kunjungan sambil mengikuti rangkaian ujian public speaking dengan suasana yang lebih santai dan nyaman. Kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda karena siswa dapat melihat secara langsung berbagai koleksi dan informasi sejarah yang dipelajari.

    Salah seorang siswa kelas VII SDC 4, Baskarabumi HAJ, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan ujian public speaking di Rumah Budaya Kratonan tidak hanya menyenangkan, tetapi juga memberikan pengetahuan baru mengenai sejarah Kota Surakarta.

    "Saya sangat senang karena bisa mengetahui dan belajar mengenai sejarah Kota Surakarta sambil berekreasi di Rumah Budaya Kratonan," ujarnya.

    Sementara itu, wali kelas VII SDC 4, Fina Dwi Astuti, menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan agar siswa semakin mengenal dan memahami sejarah serta budaya Kota Surakarta.

    "Tujuan kegiatan ini diharapkan siswa mengenal dan memahami sejarah budaya Kota Surakarta. Harapannya, siswa-siswi tetap semangat dalam belajar untuk lebih mengenal budaya Kota Surakarta dan ikut melestarikan kebudayaan di Kota Solo," ungkapnya.

    Melalui kegiatan outing class tersebut, SMP Muhammadiyah 1 Simpon Surakarta tidak hanya mengembangkan kemampuan public speaking siswa, tetapi juga mengajak mereka belajar sejarah dan budaya melalui pengalaman secara langsung. Pembelajaran di luar kelas diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kecintaan terhadap budaya lokal, serta kepedulian siswa terhadap pelestarian warisan budaya Kota Surakarta. (Sofyan)


    Baca juga: Penilaian Kinerja Sekolah SD Muhammadiyah PK Banyudono oleh PCM Banyudono


    Prodi PPKn UNISRI Gelar Seminar Nasional, Bahas Peran Pancasila dalam Menjaga Pertahanan dan Keamanan Indonesia 

    SOLO – majalahlarise.com - Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Seminar Nasional bertajuk “Dari Ideologi ke Aksi: Peran Pancasila dalam Menjaga Pertahanan dan Keamanan Indonesia Masa Kini”. Kegiatan berlangsung di Ruang Auditorium UNISRI, Senin (6/10).

    Seminar nasional tersebut diikuti sekitar 180 peserta yang terdiri atas mahasiswa PPKn UNISRI dan delegasi dari sejumlah perguruan tinggi di Solo Raya, di antaranya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), UNWIDA, UNIVET, Universitas Duta Bangsa (UDB), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

    Ketua Pelaksana Seminar Nasional, Muhammad Dewa Saputra, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi berbagai tantangan pertahanan dan keamanan bangsa.

    “Seminar ini diikuti 180 peserta dari mahasiswa PPKn UNISRI dan delegasi dari berbagai perguruan tinggi di Solo Raya. Kami ingin membangun ruang diskusi akademik mengenai bagaimana Pancasila tidak hanya dipahami sebagai ideologi, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujarnya.

    Seminar menghadirkan tiga narasumber, yakni Kolonel Pnb Alfian Rokhmat K., M.Han., Letkol Inf. Reza Sahputra, S.E., dan Rektor UNISRI Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd. Ketiganya membahas berbagai perspektif mengenai implementasi Pancasila dalam memperkuat ketahanan nasional.

    Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek pertahanan secara militer, tetapi juga mencakup ketahanan ideologi, sosial, budaya, serta kemampuan generasi muda menghadapi berbagai pengaruh yang dapat mengancam persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan geopolitik global, nilai-nilai Pancasila dinilai perlu diterjemahkan dalam bentuk sikap dan tindakan nyata. Generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, menangkal informasi yang dapat memecah belah masyarakat, serta membangun budaya kebangsaan di ruang digital.

    Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama UNISRI, Dr. Joko Pramono, S.Sos., M.Si., mengapresiasi pelaksanaan seminar tersebut. Menurutnya, mahasiswa PPKn memiliki posisi penting sebagai generasi yang akan ikut mengawal keberlanjutan nilai-nilai Pancasila.

    “Di era digital, mahasiswa harus mampu menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam sikap dan tindakan. Persatuan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital,” jelasnya.

    Dekan FKIP UNISRI, Dr. Handayani, mengatakan seminar tersebut menjadi ruang akademik penting untuk memperkuat jati diri mahasiswa PPKn sebagai calon pendidik. Menurutnya, calon guru PPKn memiliki tanggung jawab untuk memahami Pancasila secara utuh sekaligus mampu mengajarkannya melalui keteladanan.

    “Mahasiswa tidak hanya perlu memahami Pancasila sebagai materi ajar, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan. Pertahanan dan keamanan bangsa dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat,” katanya.

    Selain seminar, kegiatan tersebut dimeriahkan pameran hasil karya mahasiswa PPKn. Berbagai karya yang ditampilkan meliputi artikel ilmiah, poster kebangsaan, media pembelajaran PPKn, serta komik edukasi karya mahasiswa.

    Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pemahaman akademik dengan kreativitas mahasiswa. Nilai-nilai Pancasila dikemas melalui berbagai media agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan karakter generasi muda.

    Melalui seminar nasional ini, Prodi PPKn UNISRI berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara dunia akademik dan institusi pertahanan negara. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana menumbuhkan kesadaran bela negara, memperkuat karakter kebangsaan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air di kalangan mahasiswa.

    Dengan demikian, Pancasila tidak berhenti sebagai konsep atau materi pembelajaran, tetapi dapat diwujudkan menjadi aksi nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Mendalam, Langkah Kecil Menuju Baitullah


⬆
Top